peterdraw

Terbuka Di Ujung Sana

Duduk di tengah ramainya KL Sentral, saya mulai membuka kembali lembaran-lembaran paspor dengan semua cap imigrasinya. Koleksi saya masih sedikit, sejauh ini baru ada tiga negara; Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka. Waktu itu sempat transit di Maldives, tapi ya boro-boro mau dicap, saya ga sempat kemana-mana. Pesawatnya cuma numpang isi ‘bensin’ dan saya cuma numpang melongo lihat pantainya dari jendela.

Perjalanan kali ini, saya kembali ke Malaysia, Kuala Lumpur tepatnya untuk urusan pekerjaan. Pertama kali ke sini dua tahun yang lalu, saat transit dalam perjalanan bersama @kuntawiaji dan @peterdraw ke Sri Lanka. Sebuah negara di Asia Selatan yang ga pernah kepikiran untuk didatangi kalau bukan karena berangkat atas nama @lendabook untuk menerima penghargaan di ajang World Summit Youth Award.

Saya ingat waktu itu dalam pesawat ke KL, @kuntawiaji bertanya ke saya, “gimana pertama kali ke luar negeri?”. Saya kemudian cuma diam tak menjawab sambil tersenyum sok cool. Padahal di dalam hati, sebenarnya norak dan excited luar biasa.

Saya sejak kecil ingin sekali jalan-jalan ke luar negeri, meski tidak tahu caranya. Keluarga saya hidup sederhana, sehingga memang tidak pernah terpikir untuk berharap dari orang tua. Saat masuk kuliah tahun 2010, saya melihat teman-teman maupun senior bisa pergi ke luar negeri gratis dengan berbagai cara, ada yang ikut pertukaran pelajar, konferensi, atau kompetisi. Saya pun mulai mencari cara untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama.

Waktu itu, struggle saya terhitung sulit, karena saya tipe salah jurusan yang tidak terpikir mengandalkan wawasan biologi untuk ikut event-event di bidang sains. Makanya waktu itu, setiap hari saya ke perpustakaan dan mantengin akun informasi seperti @tweetkuliah dan @kampusupdate untuk cari kesempatan yang bisa saya ambil.

Dan akhirnya di tahun ketiga kuliah, kesempatan itu datang. Saya bisa pergi ke luar negeri. Tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

Secara personal, saya menyesal banyak melewatkan kesempatan ke luar negeri saat kuliah. Kuliah adalah waktu terbaik untuk mencari jalan ke berbagai negara, karena kesempatannya ada banyak. Sangat banyak.

Ribuan event berupa kompetisi, konferensi, maupun seminar memfasilitasi mahasiswa untuk traveling ke berbagai negara di seluruh dunia setiap tahunnya. Selain itu, jika kita bicara soal biaya, status mahasiswa sangat memudahkan kita mencari dukungan finansial dari pihak ketiga. Apalagi gerakan, organisasi, ataupun personal yang mendukung pengembangan pemuda makin kesini makin banyak pilihannya.

Saya sendiri pernah berniat memperpanjang satu semester setelah skripsi, khusus untuk mencari kesempatan ke luar negeri sebanyak-banyaknya. Waktu itu, saya sudah bertekad menyelesaikan skripsi di semester yang sama, tapi ingin menunda lulus untuk ikut segala macam yang bisa bikin saya ke luar negeri. Mungkin karena sudah kuliah terlalu lama, ide ini ditolak mentah-mentah oleh Bapak saya.

Sambil melihat kembali halaman identitas paspor, saya yakin bahwa membuat paspor adalah langkah pertama untuk bisa ke luar negeri. Buat saya, traveling ke luar negeri itu harus bisa dilakukan sesegera mungkin. Bukan untuk pamer atau gegayaan di instagram, tapi percaya sama saya, pergi ke luar negeri akan membuka mata kita tentang betapa luasnya dunia.

Berinteraksi dengan mereka yang berbeda negara dan budaya akan memperkaya khazanah bahwa kita adalah bagian dari warga dunia. Forum internasional itu berbeda. Global citizenship semakin jadi keniscayaan: batas-batas geografis antar negara semakin pudar, interaksi antar-budaya semakin cair, dan kesempatan untuk mendunia semakin besar.

Tengok saja bagaimana perusahaan gokil seperti Uber, Airbnb, dan GrabTaxi masuk dan menggoyang sistem ekonomi kita sedemikian rupa. Jika kita tak siap, bukan tak mungkin kita mengambil keputusan yang salah dan merugikan negara kita sendiri.

Jadi buat saya, nasionalisme itu bukan “negeri sendiri aja belum kelar ngapain jalan-jalan ke luar negeri “ atau “ngapain ngabisin duit ke luar negeri kayak Indonesia ga bagus aja“. Mindset ini, tidak sepenuhnya salah, tapi tidak benar juga kalau diartikan sebagai satu-satunya nilai sehingga menihilkan nilai nasionalisme yang lain. Sama seperti slogan cintailah produk Indonesia, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh menggunakan produk dari luar. Yang paling penting adalah, bagaimana kita belajar apa yang ada di luar dan mengaplikasikan dengan konteks yang tepat di negara kita.

Sangat banyak, atau terlalu banyak ide inovasi yang lahir di negara kita karena observasi dari negara-negara yang jauh di luar sana. Perbedaan akan membuat kita melihat dengan sudut pandang baru, dan menciptakan ide dan karya yang baru.

Karenanya, menarik pula melihat metode Pak @rhenaldkasali yang memaksa mahasiswanya untuk ke luar negeri, seperti cerita yang ditulis di buku 30 Paspor di Kelas Professor. Dan langkah pertama yang dilakukan Pak Rhenald di kelasnya, adalah mewajibkan mahasiswa membuat paspor.

Paspor jadi tiket pertama untuk ke luar negeri, dan meskipun kita belum punya rencana mau pergi ke mana, saya sangat menyarankan untuk punya paspor dari sekarang. Buat saya yang tidak pernah berharap orang tau bisa mengajak jalan-jalan ke luar negeri, punya paspor jadi semacam pencapaian tersendiri: saya selangkah lebih dekat untuk bisa ke luar negeri.

Melihat kembali halaman paspor, harusnya lebih banyak anak muda mencari kesempatan untuk pergi dan belajar ke luar negeri. Tidak harus sekolah, kunjungan 2-3 hari akan cukup untuk membuka perubahan yang besar bagi diri sendiri.

Tahun ini, saya punya target untuk bisa ke Eropa atau Amerika. Lewat apa dan caranya bagaimana, saya belum tahu.

Yang pasti, saya tetap membuka mata, telinga, dan rasa. Karena saya tahu dengan usaha dan doa, jalannya akan terbuka di ujung sana.

- KL, 4 Februari 2016