peta hidup

Manusia tidak memiliki peta untuk membantu menelusuri arah kehidupannya.

Karenanya, manusia bebas untuk memilih jalan mana yang akan dia tempuh untuk kehidupannya. Baik dan buruk arah kehidupan yang dia pilih, ingin jadi seperti apa dan bagaimana diri dan kehidupannya, itu tergantung dari keputusannya sendiri.

Maka, sudah sepantasnya mengembara di dalam kehidupan membutuhkan kebijaksanaan yang benar-benar matang.

Meskipun tiada peta yang akan menunjukkan hidupmu akan kemana dan bagaimana, setidaknya manusia memiliki kompas untuk terus berada di jalur yang tepat. Agama dan ilmu yang bermanfaat akan menjadi kompasmu untuk berkelana di dalam kehidupan.

Semoga Allah membantu perjalananmu.

a letter to myself

from my freshly-graduated-self. to my younger-self.
*terinspirasi dari tautan yang dikirim @fadlanmauli*

kata orang, dua puluhan adalah masa yang paling penting dalam satu kehidupan. kebanyakan pilihan yang diambil akan memberikan perubahan permanen. begitu besar perubahan yang mungkin ada, sehingga kita sibuk. kita sibuk mengingatkan diri kita di masa depan. kita sibuk sampai lupa mengingat diri kita di masa lalu. tulisan ini tak seperti a letter to myself yang lain. ini tak untuk kita di masa depan. ini untuk kita di masa lalu–yang beberapa kali kita salahkan, kita permasalahkan.

terima kasih sudah mau belajar. enam tahun sd, tiga tahun smp, tiga tahun sma, empat tahun kuliah. terima kasih sudah mau ikhlas menjalaninya meski sering bertanya-tanya kenapa.

terima kasih sudah mau mencoba banyak hal. ikut macam-macam organisasi (meski jadi penggembira saja), ikut macam-macam lomba (meski jadi penonton saja), bikin macam-macam karya (meski kebanyakan berakhir jadi kerangka saja). kita tak pernah tahu apakah kesempatan seperti itu masih ada.

terima kasih sudah mau pergi jauh dan lama dari rumah. terima kasih sudah mengesampingkan rindu. kita baru bisa lihat seperti apa rumah kita ketika kita berada di luar, kan? 

terima kasih sudah mau mendengarkan kata ibu dan kata ayah. terima kasih sudah mau meruntuhkan tembok sok tahu dan sok pintar. kita boleh berpikir tetapi orang tua adalah yang telah mengalami. 

terima kasih sudah mau berteman–dan menjaga teman. terima kasih untuk tak pernah membiarkan dirimu sendirian. semoga kita tak terhanyut sampai lupa siapa yang menjadikan kita–kita.

terima kasih sudah mau membuat keputusan dan mengambil pilihan. terima kasih sudah mau kuliah di sana. terima kasih sudah mau pakai jilbab. terima kasih sudah mau mengikhlaskan yang bukan untuk kita. terima kasih sudah mau nurut sama Tuhan.

terima kasih sudah mau bermimpi dan berkhayal. kalau bukan karena mimpimu, kita tak punya peta hidup sama sekali hari ini. terima kasih karena sudah membela mimpi.

terima kasih sudah selalu hampir menyerah tapi akhirnya tidak menyerah. terima kasih sudah menghapus kata menyerah dari kamus perjuangan kita. terima kasih sudah melenting setiap terpelanting. semoga setelah ini kita tak perlu jatuh lagi untuk bangkit lagi. lagi dan lagi.

terima kasih sudah mau belajar mencari uang dan mengelola uang. terima kasih sudah mau kerja. setelah ini kita akan melakukannya sendirian–untuk tidak hanya diri sendiri.

terima kasih sudah mau menabung supaya bisa jalan-jalan. terima kasih sudah JJGJ ke tempat-tempat itu. belum tentu nanti punya uang (dan punya waktu) untuk bisa melakukannya lagi. semoga kita masih mau menabung dan JJGJ lagi. 

terima kasih sudah makan macam-macam. dunia memang surga makanan! terima kasih untuk tetap makan yang halal–meski sering kurang sehat. haha. terima kasih sudah membalas dosa dengan lari-lari atau nari-nari.

terima kasih sudah mau baca buku yang kita baca. terima kasih sudah mengaji ayat yang kita kaji. terima kasih sudah menonton film yang kita tonton. terima kasih sudah mendengar lagu yang kita dengar. terima kasih sudah memberi nutrisi yang baik untuk hati dan kepala. semoga menjadikan kita cukup bijak membuat keputusan kapan-kapan.

terima kasih sudah mau menulis. terima kasih sudah menjaga diri agar tak tenggelam dari kehidupan. terima kasih sudah memaksa diri untuk mensyukuri kenyataan, bahkan kegagalan.

terima kasih sudah pernah nakal. terima kasih sudah coba yang salah. sudah kenal kan rasanya. begitu saja ternyata. menjadi orang baik jauh lebih menyenangkan. dan membahagiakan.

terima kasih sudah jatuh hati dan patah hati dan jatuh hati lagi dan patah hati lagi. terima kasih sudah menyiapkan diri untuk saling ditemukan dengan yang tersejati.

terima kasih sudah menjadi diri sendiri. terima kasih untuk kejujuran yang selalu kita menangkan. terima kasih untuk kebenaran yang selalu kita coba hadirkan.

terima kasih sekali lagi.
terima kasih sudah mengingatkan diri kita yang sekarang.
untuk mengingatkan diri kita yang akan datang.

i heart you, dear self.
i know i’m not so good in keeping you. so, don’t lose me.
keep me.