pesta

Mencintaimu, aku membuat pesta sendiri di dalam hati. Musik-musik bersuara kencang. Lantai dansa penuh peluh dan air mata. Anggur menerjang tenggorokan yang tak haus, memabukkan bukan kepalang.

Aku merayakan pesta seorang diri. Undanganku berakhir di bawah pintu kamarmu. Lilin-lilin tak bisa menunggu lebih lama untuk tetap menyala. Minuman mulai dingin, makanan pun sama. Gaun pesta yang kukenakan kusut karena menunggumu yang memang tak akan datang.

Betapa ini adalah pesta paling sepi yang aku rayakan. Tiada yang hadir kecuali air mata di pelupuk mata yang menunggu ditumpahkan.

Aku ingin sekali memanggilmu kekasih, tapi musik yang aku putar dengan kencang sudah lebih dulu memenuhi gendang telinga. Suaraku yang parau akan tak sampai padamu yang tak berada satu ruangan denganku.

Aku sedang merayakan apa sebenarnya?! Mata yang menjamur karena air mata seperti tidak cukup menjadi alasan untuk mengakhiri pesta. Aku bukan gila. Sebab lama-lama, pesta yang sepi ini menjadi ramai di hatiku sendiri.

Dan bila, suatu saat undanganku akhirnya sampai di tanganmu, tulisannya menari di kedua matamu, datanglah. Kumohon jangan pedulikan jam. Pestaku tak akan usai sebelum kau datang.


Suasana pesta gowithepict

Di antara Bandung - Jakarta, 25 April 2015 [12:40]

Gambar dari inlilly.tumblr.com

Perempuan yang Berulang Tahun

Wajah perempuan yang kukasihi terbaring di tempat tidur. Mata perempuan itu tak pernah terbuka selama 6 bulan lamanya. Berbagai selang yang entah memasukkan apa kedalam tubuhnya membuatnya tetap bernyawa untuk sementara.

35 tahun yang lalu aku menangis keras-keras. Udara yang pertama kuhirup di dunia membuat paru-paruku nyeri. Tapi perempuan itu segera mendekapku, meskipun nyeri yang baru saja dirasakannya sejuta banding satu dibandingkan nyeriku.

30 tahun yang lalu aku menangis keras-keras. Aku menangis selama satu jam agar dibelikan mainan. Semua teman sebayaku bermain mobil-mobilan dengan remote control yang diisi baterai. Tapi perempuan itu segera mendekapku dan membuatkanku mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Aku tahu perempuan itu menangis lebih keras dalam batinnya dibanding tangisanku.

18 tahun yang lalu aku berteriak keras-keras. Kumaki semua yang ada dirumah, mengutuk nasib kami yang tak lebih baik dari kucing jalanan yang mengorek sampah. Semua berawal ketika aku minta dibelikan tas sekolah yang baru, tapi perempuan itu memberikan tas selempang dari kain perca yang disatukan dan dijahit dengan tangannya sendiri. Aku tahu dalam hatinya perempuan itu berteriak lebih keras dari teriakanku. Bahkan lebih pilu.

10 tahun yang lalu aku bersorak keras-keras. Kupeluk perempuan itu erat-erat ketika sebuah pemberitahuan mengabarkan sekarang aku resmi punya pekerjaan. Lalu aku berceloteh panjang lebar tentang masa depan, tentang rumah baru dan pakaian yang lebih layak untuk perempuan itu. Perempuan itu menangis keras-keras berterimakasih pada tuhan.

6 tahun yang lalu aku pulang dengan malu-malu. Kubawa wanita paling mirip bidadari didunia. Perempuan itu mengangguk saat kukatakan bidadariku akan kubawa ke pelaminan. Kucium tangan perempuan itu penuh khidmat. Jauh dalam hati perempuan itu doa-doa dipanjatkan silih berganti tanpa henti.

4 tahun yang lalu aku pulang dengan banyak kebahagiaan. Bidadariku kini membawa bidadari lain turun ke dunia. Perempuan itu menimang bidadari kecilku dengan mata penuh cinta. Matanya yang renta penuh air dan berkaca-kaca. Perempuan itu diam-diam memegang perutnya yang seketika dipenuhi rasa sakit, namun ditahannya.

6 bulan yang lalu ponselku berbunyi. Perempuan itu jatuh di kamar mandi. Dadaku berdebar seolah jantung yang berdetak keras akan melompat keluar. Aku berlari ke ruangan dimana tubuhnya sedang dipasangi alat yang bermacam-macam. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, aku ingin membangunkan matanya yang mengatup dengan sangat tenang.

1 jam yang lalu, aku berharap perempuan itu bangun dan mengutukku jadi batu. Aku anakmu yang terkutuk ibu, aku anakmu yang terkutuk! Bangunlah! Cerca, hina aku yang tak meminta ampun saat kau masih bisa tersenyum dan membuatkan ayam gulai kesukaanku. Bangunlah! Hina aku yang tak pernah bersujud di kakimu memohon maaf atas dosa yang tak hingga. Tak pernah berdoa minta dibukakan surga yang jelas-jelas di telapak kakimulah surga berada.

Hari ini seharusnya kita berempat tertawa bahagia. Ah, berlima, ya berlima bersama ayah yang lebih dulu mencicipi surga. Kita akan meniup lilin lalu berdoa, mensyukuri hidupmu yang diperpanjang satu tahun lagi. Tapi pesta kecil-kecilan itu tak bisa kita rayakan lagi, ibu.

5 menit yang lalu surat persetujuan itu kutandatangani. Kulihat petugas medis mencabut satu-persatu peralatan yang menahan nyawamu tetap berada dalam cangkangnya. Maafkan aku ibu. Tak ada pesta untuk kita, ini hadiah yang diberikan oleh anakmu yang kurang ajar, yang sudah tak mampu membayar tagihan rumah sakit. Marahi saja aku dari surga jika sudah sampai ya. Mungkin pesta ulang tahunmu akan dibuat meriah oleh tuhan disana.

Kucium tempat surga itu bersemayam sekali lagi. Kuharap surga yang indah dibuka lebar-lebar bagimu. Amin.


Suasana PESTA gowithepict

Bandar Lampung, 25 April 2015 11.19 WIB

Gambar diambil dari link

3

PESTA

The Black Death was a tragedy for all of the Scandinavian countries, Denmark lost one third of its population, while Norway lost half. The plague was so devastating, the people soon made it into a character of its own.

Pesta comes as the figure of death and illness, in the shape of a hideous, old woman dressed in black, carrying a broom and a rake. She traveled from farm to farm, spreading the plague. If she carried with her the rake, some of the inhabitants would survive, but if she was carrying the broom, everyone in the family would soon die. It is still common to mention Pesta in the context of disease and illness.

Dear Nona Kikuk,


Ada perayaan sore ini. Kuharap kau datang. Atas sibukmu, aku memohon sedikit saja luang. Beberapa jam saja. Aku sudah siapkan pesta untuk kita.

Tenang saja, kujanjikan kau tidak akan merasakan sesak karena pesta akan kita adakan di luar, di taman terbuka. Tak akan hujan, karena aku sudah menghitung-hitung dan menerka-nerka bahwa hari ini hujan tak akan turun. 

Kau pun tak perlu lelah berdiri, sudah kusediakan dua kursi untuk kita duduk bersama. Posisinya ingin bagaimana terserah padamu. Jika berhadapan kau rasa membuat kikukmu menjadi, kau boleh merubahnya menjadi bersisian. Jika dengan begitu kamu masih canggung, ada genggam tanganku yang mungkin saja bisa membantumu melunturkan kekikukkanmu. Itupun kalau kau membutuhkannya. 

Sudah kusediakan meja yang tidak terlalu besar untuk makanan dan camilan kita nanti. Pasta kesukaanmu akan aku suguhkan dengan coklat hangat medium. Perutmu akan dimanjakan oleh menu kita nanti.

Nona, kau tahu, tempat ini adalah tempat terbaik di kota ini untuk menikmati senja. Maka dari itu kupilihkan khusus untukmu pecinta jingga. 

Setelah berganti malam, tak usah takut gelap. Beberapa buah lampu sudah kugantungkan di atas meja kita dengan bantuan dahan pohon sebagai penyangganya. Warna lampunya sengaja kupilih yang tidak terlalu temaram pun benderang, suasana akan terasa hangat. 

Nona Kikuk, bersediakah kau datang? 

Kuharap tak ada kata ‘tidak’ ataupun ‘maaf aku tak bisa’ terlontar dari jawabanmu. Sekali saja, kumohon. Untuk yang terakhir kalipun tak apa. 

Nona, asal kau tahu, untuk ini tak hanya materi yang kusiapkan. Namun juga mental. Melepaskanmu, aku ingin merayakannya dengan hal yang manis. Itu saja.

Sore ini, kau harus datang. Kutunggu.



Kind regards,

Tuan Jahatmu.



Gambar diambil dari sini

Suasana PESTA gowithepict
Kantor, 25 April 2015 14:40 WIB

2

Name: Banshee + Pesta

Alternate Names: Wailing Ghost, Baoban Sidhe, Bean Sidhe, Bean Chaointe, Plague Hag, Plague Spirit

Mythology: Irish Folklore (Banshee), and Scandinavian Folklore (Pesta)

Size: Both are Medium sized

Environment: They can appear anywhere during the night

In Mythika: The handmaiden of the Horseman of Death, Banshees are the spirits of female elves and humans that died in a gruesome way while screaming for their lives, their screams still surround them in a horrid aura of voices and screams. Banshees are greatly feared for their terrifying wails, which cause deafness, blindness and sometimes even instant death depending on the power of the Banshee that wailed. When Banshees show up in an area it is certain that the Horseman of Death isn’t far behind as they are also his messengers and will bring death in the Horseman’s name as he is their creator. Banshee’s screams are rarely outright fatal, but all glass in the area will shatter and that is often the cause of mass death in Urban areas, victims get pierced by the many sharp glass splinters that fly around everywhere.

The Pesta is a variant of banshee that serves the Horseman of Pestilence instead. They appear much like Banshees but they have maws full of horrid teeth instead and they look more monstrous overall. Their wails spread horrid pest and other diseases and everyone that hears their wail will fall ill, that is why Pesta’s are more feared than Banshees. It is believed that Pesta are created from the souls of the poisonous Vish Kanya. Acheri, Aerico and even Papinijuwari are often found at their sides or following their trail of plagues and black death.

It is said that the other two Horsemen also have their own Handmaiden spirits. Nemhain spreads hate, aggression and war with her screams and the Limos screams cause starvation, extreme hunger and famine. But these two variants are unique creatures, and probably end up as bosses.

Link:  https://en.wikipedia.org/wiki/Banshee + https://en.wikipedia.org/wiki/Death_(personification)

Pestaku

Malam ini aku tengah mengadakan pesta
Kau tak perlu datang
Karena undangan untukmu tak kupersiapkan

Pestaku berbeda dengan kebanyakannya
Tak ada iringan musik cepat di dalamnya
Tak terdengar hentakan sepatu pada lantai dansa

Hanya alunan musik sendu
Yang menjadi pengiring dalam pestaku

Semua tentang kita hadir dalam tawa bahagia
Tak satupun yang kulewatkan
Kebahagiaan itu kembali terulang
Begitu jelas dalam ingatan

Pada pesta kali ini tak ada tamu yang datang
Hanya ada aku yang duduk sendirian
Membiarkan diri larut dalam kotak masa lalu
Rindu begitu riuh menyemarakkan pestaku

Di sini…Aku tengah berpesta dengan “kita” di masa lalu

Suasana pesta gowithepict

- Bandung, 25 April 2015, 8.48PM

Foto diambil dari sini

sepetak gerimis yang menggigilkan desember

: hujan

gigil rindu mana yang bisa kutahan, ketika mengingat pertemuan yang hanya sebatas basa-basi aksara; dipaksa menggelepar, dimainkan deru nafas yang sia-sia, juga dada kita yang debarnya ternyata tak seirama. sore itu, secuil senja terlempar dari matamu; kirana yang fasih aku tangkap, melengkapi rentetan bias yang peram di sepanjang bulan desember. tanpa melibatkan pelukan, atau permainan kata-kata yang biasanya kita ramu menjelang malam, ketika dulu aku masih menempati ruang rindu diantara jarak kotaku dan kotamu. sepetak gerimis menyesak di segala ingatan tentangmu.


barangkali aku harus melupakan usia, mengelabuhi inginku tanpa mempertanyakan rahasianya. tanpa jeda, setiap kali malam menidurkan bola merah yang selalu sama, aku juga ingin menyaksikan senja yang sama-sama menyerah ditutup lelah. sesaat, setelah sekali lagi aku menidurkan pertanyaan di kepalamu; yang semoga akan kau bangunkan pada suatu nanti. pertanyaan tentang sepetak gerimis darimu; jarak terjauh antara kita, yang masih diam dipasung waktu.


karena bulan desemberku; ialah gigil paling sunyi yang tak mampu dimeriahkan pesta pora perjalanan, bahkan lipatan senja di arcapada, atau gugur daun renggas di jimbaran, juga deru ombak di pesisir selatan. selalu, aku teringat langkah kakimu yang terburu-buru, meninggalkanku bersama dingin malam dan bising suara kendaraan di tepi sebuah ruang tunggu. sesaat sebelum kepergianmu, kau menitipkan sebaris ingin yang tuntas kuterjemahkan di kaki wukir mahendra dan di puncak tantu pangelaran; sebaris pesan untukmu kutitipkan pada setapak, yang kudoakan lewat ribuan langkah kaki, sebab rinduku hanya mampu menyentuhmu lewat isyarat, yang tak habis diguyurkan hujan.


aku masih tak mampu memelukmu. namun kelak, jika kabar dari jauh itu tiba, akan kumeriahkan sepi yang mengutuk perjalanan dengan puisi, cerita-cerita, juga lagu-lagu yang kau gemari seperti dulu. seperti waktu dimana rinai hujan, masih setia mengetuk mesra kaca jendela dan bermain riang di pelataran. sementara, akan kukabarkan kepadamu rindu yang menggebu, lewat puisi terakhir yang kutulis bersama sepetak gerimis yang menggigilkanku di penghujung bulan desember.


Solo, 31 Desember 2014 (05:07)


*tulisan lama
*foto koleksi pribadi


PESTA gowithepict

Made with Instagram
Dalam sebuah pesta dansa, aku hafal musik yang mengalun akan berakhir di mana. Solmisasi mulai pelan, nadanya mulai mengalun perlahan. Dan kamu, mulai meninggalkan.

Vi tar musikalsk inspirasjon fra Frankrike, mellom-Amerika, Sør-Afrika, Mexico, Arabia og midt-østen, de Baltiske landene, Spania und so weiter - Men! Vi må ikke glemme lille Norge. Og ei heller kunsten. Theodor Kittelsen, som hevdet å ha møtt selveste Pesta, har skildret norske sagn og myter på en måte så du nesten kan høre tonene rakende på døren din… 

Meriahkan Pesta Ulang Tahun Bersama Garudafood

Meriahkan Pesta Ulang Tahun Bersama Garudafood ialah sebuah kata kunci di kontes seo yang paling anyar yang diadakan oleh garudafood. kontes seo ini diselenggarakan sebagai salah satu wujud kesenangan dari Garudafood untuk memperingati acara pesta ultah garudafood di tahun 2011 ini.ajang lomba ini dibuat khusus untuk internet marketer yang ingin bergabung dalam pesta perayaan dari garudafood. ajang kontes seo ini akan menuju final pada 29/07/2011 ini.

External image

Meriahkan Pesta Ulang Tahun Bersama Garudafood itu kata kuci kontes seonya, sementara Garudafood sendiri ialah salah satu company makanan kecil terbesar di Indonesia yang terkenal dengan makanan ringan kacang. Salah satu barang dari Garudafood yang terkenal oleh masyarakat indonesia adalah kacang garuda dan pilus garuda. Karena itulah kita sebagai konsumen produk tesrbut, mari kita berpartisipasi untuk meramaikan ultah dari garudafood dengan berpartisipasi dalam kontes seo Meriahkan Pesta Ulang Tahun Bersama Garudafood.

Norwegian Origin

Sorry guys my family lives in Harstad, Norway apologies if Norse lore pops up more than anything I’ll try to keep it as unbiased as possible. That being said the above image is Pesta, Norway’s personification of death. She would bring a rake if people were to survive the black plague. If she brought the broom everyone in the town would die.