persetujuan

Rapuh

Beberapa minggu terakhir, saya mulai mengevaluasi diri perihal kesiapan menikah.

Pada beberapa kejadian, membuat saya menyadari sesuatu. Bahwa ternyata saya memang belum siap untuk menikah. Sebab menikah tidak hanya butuh kesiapan ilmu, materi, pasangan, atau persetujuan. Lebih dari itu, menikah butuh persiapan mental yang tingkat kesiapannya jauh di atas ekspektasi saya selama ini.

Selama ini saya merasa cukup percaya diri dengan kecerdasan dan pengetahuan, pembelajaran dan kemampuan menyesuaikan diri, serta kesungguhan mencari materi. Saya pikir itu semua cukup. Ternyata tidak.

Attitude saya yang terlalu attach pada segala hal berbau duniawi menjadikan mental saya rapuh. Saya takut ini itu, saya mudah panik oleh ini itu, saya khawatir berlebihan pada ini itu. Saya mengabaikan fakta bahwa Tuhan akan mengatur segalanya. Tanpa sadar, saya menuhankan banyak hal duniawi.

Barangkali itu sebabnya saya tidak pernah merasa cukup dengan diri sendiri, dengan setiap apa yang sudah saya dapatkan, dengan setiap orang yang datang.

Entah pengalaman apa yang saya alami di masa lalu, tapi begitulah mental saya akhirnya terbentuk dengan buruk.

Saya terlambat menyadari bahwa saya punya mental yang begitu rapuh dan hina. Lalu baru memulai menata kembali ketika orang lain sudah begitu matang berdiri.

Yah, saya selalu saja terlambat. Tapi saya tidak pernah bermain-main dengan pembelajaran. Terutama ketika menunggu dan ditunggu menjadi pemicu.


Dalam perjalanan meninggalkan Bandung, 24 Juni 2016

Mungkin ada yang tidak suka bagaimana kamu membawa dirimu sendiri. Pembawaanmu, kata mereka, tidak elok.

Namun sadarilah, menjalani hidupmu, kau tidak perlu persetujuan mereka. Menjadi bahagia, kau bahkan tak perlu izin mereka.

Bagaimana pembawaanmu; caramu membawa dirimu, menurut dirimu sendiri, jauh lebih penting, daripada pendapat mereka yang justru sebenarnya tidak peduli.

—  Tia Setiawati

Diam.

Tak selalu tentang persetujuan atau penolakan. Setiap negara memiliki budaya berbeda, bahkan mengenai diamnya seseorang.

Diam. Bukan berarti tak melakukan apa-apa. Diam adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang memiliki banyak makna.

Diam.
Tentang memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara. Tentang memikirkan keputusan. Tentang penghormatan atas mendengarkan. Hingga tentang melepaskan. Membebaskan dia yang ingin pergi, dan tak ingin diikat lagi.

Diam.
Bukan berarti berhenti memperhatikan. Bukan berarti berhenti peduli.

(Ternyata Komunikasi Lintas Budaya itu menarik)

#opini #lettering #bolpoint #communication

Made with Instagram

.
Pada Akhirnya
.

Kita pernah menghabiskan Sabtu malam bersama. Tanpa aba-aba, tanpa persetujuan, atau pun tanpa janji yang mengikat.
Ya, segala canda dan tawa pernah menjadi hal yang begitu hangatnya.

Hanya percakapan biasa tanpa basa basi yang muluk-muluk pun dianggap romantis.
Ya, kita menyebutnya hanya bertukar pikiran tentang ini-itu tanpa desah napas yang menggebu-gebu.

Pada beberapa debar berikutnya, kita pun mulai saling melukai dengan merindu satu sama lain, rindu yang diam-diam bertekuk lutut pada dada kita masing-masing.
Ya, rasa biasa yang dianggap menjadi bumerang pun mengoyak dengan sayatan lebih dalam.

Pada hati, aku-kamu pernah diam-diam saling tertambat. Serupa ikatan yang hampir saja mencekik, pun menjelma serapah-serapah yang kerap menyiksa.
Ya, pada akhirnya kita kembali asing tak berbentuk yang tak akan mampu dimeriahkan dengan temu peluk.
.
@teh_jeruk
Bekasi, 07112015
.
#tehjeruk

Made with Instagram