penyebrangan

Buka Di Jalan

Matahari tua mulai hilang, lelaki itu pun pasrah.
Sebab jalan sudirman, serupa sungai penyebrangan hewan.
Adzan sayup terdengar tertutup suara sirine ambulan.
Lagi-lagi ia berbuka dijalan.
Dengan teh botolan disamping trotoar.

Lelaki rindu berbuka puasa dirumah.
Rindu hidangan buatan ibu.
Namun apa daya hanya 2 dari 7 hari ia rasakan itu.

oleh: @magerfaker

Gadis dengan Sejuta Senyum yang Tidak Bisa Habis

*Sebuah Cerpen

Saat ini aku melihatnya berlarian di tengah hujan. Kali ini dressnya merah muda, senada dengan payungnya. Tangannya sesekali dia tengadahkan, sekedar mengkonfirmasi–apa rinai yang ia lihat, sama derasnya dengan yang ia rasakan. Lalu ia kembali melanjutkan perjalanan, dan tersenyum.

Beberapa saat lalu, kutemui dirinya terengah-engah. Naik turun tangga, lalu kami kembali bertemu di tempat fotokopi, di sudut barat fakultas, dia merapikan berkasnya. Rasa-rasanya dia sedang riweuh…sedang buru-buru, jemarinya ia ketukkan di atas meja saat petugas fotokopi lambat melayaninya. Kemudian dengan pelayananan yang alakadarnya, wajah super ketus, petugas itu bilang,

“Uang kecil aja sih mbak, nggak ada kembalian.” Sambil menyodorkan dengan kasar. Aku yang menyaksikannya saja ingin mengumpat. Tapi gadis itu tersenyum,

“Nggak ada tuh mas. Yasudah mas bawa dulu saja uang saya. Saya buru-buru.”

“Loh mbak–” lalu dia beralih begitu saja.

Esoknya aku bertemu lagi dengan gadis itu, di bawah jembatan penyebrangan dekat kampus. Lagi-lagi dia sedang tersenyum, membagi beberapa nasi bungkus dengan teman-temannya untuk lansia yang menggelandang disana. Padahal sedang panas terik. Padahal kantong kresek yang dibawa di tangan kanannya itu berat–tampak karena saking masih banyaknya nasi bungkus disitu.

Pernah kutemui juga dia di kantin, sedang berkumpul dengan beberapa sahabatnya. Di bawah kipas angin, kerudungnya tertiup hingga sedikit berkibar. Rupanya dia tak pernah sadar jika sedang kuamati. Sambil menyuap beberapa sendok nasi, ia mendengarkan sahabatnya bercerita, dengan menggebu-gebu. Dia sesekali menimpali dengan tak kalah cerianya. Lagi-lagi kudapati ekspresi yang sama, dia tersenyum.

Pun saat dia jalan pergi ke parkiran…dia hanya terdiam melihat parkir yang tak beraturan. Sepertinya dia sedang berpikir dan menghela nafas. Gadis itu keberatan menggeser motornya sendiri, butuh waktu cukup lama untuk mengeluarkan kendaraan maticnya dari kerumunan motor. Tapi dia tidak buru-buru keluar, jarak dua motor di sebelahnya ada gadis lain yang taksekuat dia. Diletakkannya kembali motor warna merah muda miliknya, dan dia berjalan ke arah sana, membantunya. Ya Tuhan! Gadis ini…lalu dengan sudut bibir yang sama, dia tersenyum setelah semuanya usai.

Kutelusuri dia di sosial media, aku tahu siapa dia setelah dia menjadi pembawa acara di salah satu acara kampus. Kucatat benar namanya! Aku mencoba mengakses akun-akun sosial medianya. Tak ada satupun keluhan di akunnya. Aku tahu dia pasti sembunyi di balik kata bijak. Seolah yang dia punya hanyalah kebahagiaan. Dia kembali memenuhi ruang dan waktu dengan senyumnya itu.

Aku sampai pada satu kesimpulan; orang yang bisa mendengar keluh kesahnya, kesedihannya, menghibur lukanya…pastilah beruntung. Saat gadis itu menunjukkan lemahnya, pastilah orang itu memiliki peran yang kuat di hidupnya. 

Dan itu bukan aku.

Andai dia tahu, aku juga ingin menguatkannya…

Seandainya Gw Jadi Gubernur

Kalo gw jadi Gubernur Banten, program pertama yg bakal gw kerjain adalah membangun jembatan penyebrangan dari depan rumah gw ke depan parkiran Indomaret. Ini akibat seringnya es krim yg gw beli meleleh gara-gara nyebrangnya kelamaan –‘

Selalu ada kemudahan untuk orang yang bersungguh-sungguh. Dalam hal apapun itu. Masalahnya, terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan.
— 

Nazrul Anwar

Keluar dari jebakan bystander

Selasa malam kemaren saya mengalami pengalaman yang unik, sekaligus menegangkan. Sekitar pukul setengah 8 malam saya turun dari Bis Kuning di pemberhentian halte Stasiun UI bersama Dhani, rekan saya sesama Asisten Dosen. Selepas turun dari Bis Kuning, kami berpapasan dengan seorang wanita dengan berpakaian daster hijau berjalan cepat menuru arah sebaliknya. Kami lalu berjalan menuju penyebrangan, sampai kemudian kami menemukan seorang anak kecil berumur sekitar 2/3 tahun terduduk dan menangis histeris di trotoar. Seketika kami bingung, anak siapa ini? Namun, melihat penampilan anak tersebut yang cukup kusam, tidak sulit bagi saya untuk menebak bahwa ibunya adalah wanita berdaster hijau yang kami temui tadi. Tebakan saya terbukti saat ada seorang bapak yang sedang duduk di motornya memberitahu kami bahwa ibu tersebut meninggalkan anaknya disana. 


Sontak saya dan dhani saling melempar pandangan, bingung apa yang harus kami lakukan. Semakin banyak orang yang datang dan bertanya-tanya serupa dengan kami, namun tidak ada yang kongkret mengambil tindakan. Selang beberapa detik, ada seorang lelaki yang memulai mengangkat anak itu, dan bertanya “Mana Ibunya”?”. Anak tersebut tidak berhenti menangis dan tidak menjawab. Anak itu kemudian menunjuk ke arah wanita berdaster hijau itu yang jaraknya tidak begitu jauh apabila dikejar saat itu juga. Namun karena mendengar obrolan dari orang-orang kalau ibu itu terlihat stress lah, memang ingin membuang anaknya lah, lelaki tersebut bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Saya tidak tahan untuk segera mengejar ibu ini, namun tertahan oleh pikiran akan apa yang harus saya katakan pada wanita tersebut. Berbagai pikiran lain-pun muncul, “bagaimana kalau ia membentak saya?”, “bagaimana kalau ia tidak peduli?”, “bagaimana kalau ia memang ingin membuang anaknya dan menyuruh saya yang mengasuhnya?”. Pikiran tersebut menghambat saya untuk bergerak maju, pun juga Dhani. Ketika saya mengajak Dhani untuk mengejar ibu itu, Dhani berpendapat lain. Ia berpendapat bahwa melapor ke satpam lebih baik, dan menambahkan “Kamu tahu mau ngomong apa ke ibu itu?”, “Kalau nanti kita yang disuruh ngasuh anaknya gimana?”.


Saya tahu bahwa saat ini saya adalah kerumunan yang terperangkap dalam fenomena Bystander. Fenomena Bystander, atau bystander effect inilah yang menyebabkan saya enggan untuk mengambil tindakan menghampiri ibunya dan mengembalikan anak itu kepadanya. Kenapa? Hal ini disebabkan terjadinya kerancuan tanggung jawab (diffusion of responsibility). Karena banyak orang yang berada disana, tidak jelas siapa yang sebenarnya harus bertanggungjawab mengambil tindakan. Karena banyak orang yang berada disana, dengan mudah kita bisa melempar tanggungjawab kepada orang lain. Karena banyak orang yang berada disana, kita malu orang akan melihat dan kita akan menjadi center of attention. Ya, saya terjebak diantaranya.

Saya kemudian memberanikan diri. Saya tahu bahwa semakin lama saya berpikir maka semakin jauh ibu tersebut akan pergi. Bagaimana jika ternyata ibu itu bukan orang sekitaran UI dan memang berniat membuang anaknya? Melaporkan kepada satpam justru bukan solusi yang optimal, disaat ada solusi lain yang lebih optimal : mengejar ibunya dan mengembalikan anak itu kepadanya. Saya mempersiapkan diri kalau-kalau nanti ternyata harus membantu ibu-nya. Tidak apa-apa, asal anak itu kembali diasuh oleh ibunya. 


Saya bersama Dhani kemudian berlari mengejar  ibu tersebut. Kami lari sampai ke pertigaan kearah FH dan FISIP. Kami kemudian berpisah, saya kearah FH dan Dhani kearah FISIP. Di FISIP, Dhani kemudian melaporkan hal ini kepada Satpam agar anak tersebut bisa dibawa ditenangkan dulu di pos satpam.

Saya berlari cukup kencang menuju sampai depan FH, tapi tidak juga menemukan ibunya. Saya berhenti sejenak di kerumunan tukang ojek di depan FH dan bertanya apakah mereka tadi melihat wanita memakai daster hijau lewat sini. Mereka mengaku melihatnya berjalan ke lurus arah MUI. Saya hendak berlari kembali sebelum seorang bapak ojek menegur saya, “Biarin aja mas, udah sering dia ninggalin anaknya. Ntar paling diambil lagi”. Saya pun berhenti sejenak, mendengarkan keterangan-keterangan bapak ojek tentang wanita tersebut. Menurutnya, wanita tersebut memiliki empat orang anak, dua  terbesar disuruhnya menjual tisu di sekitaran UI. Suaminya adalah penjual kopi keliling di UI. Menurut bapak Ojek, wanita tersebut sangat sering bertengkar dengan suaminya. Biasanya setelah bertengkar, mereka berdua berpisah. Ketika berpisah, sang ibu membawa serta dua anaknya yang masih kecil. Namun, bila anaknya yang ketiga merengek nangis, ia tidak ragu untuk meninggalkannya di jalan. Menurut penuturan bapak di Stasiun tadi, wanita tadi bahkan menyeret anaknya pada saat menyebrangi halte UI.  

Bapak ojek menceritakan lagi bahwa pasangan tersebut mengalami masalah ekonomi yang cukup berat. Beban mereka ditambah lagi dengan jumlah anak mereka yang banyak.

Saya kemudian sedikit lebih tenang, mendengarkan cerita tukang ojek bahwa nantinya (berdasarkan kebiasaan wanita itu) anak tersebut akan diambil kembali oleh ibunya. Saya kemudian menitipkan pesan kepada bapak ojek, apabila berpapasan dengan ibu tadi, apabila anaknya tidak ada di Stasiun, berarti anaknya ada di pos satpam FPsiko/FISIP.

Saya kemudian menelpon Dhani dan menjelaskan cerita dari tukang ojek tadi. Dhani juga menyampaikan kalau dia sudah memberitahu satpam untuk mengajak anak tersebut ke pos satpam. Saya dan Dhani memutuskan untuk duduk di pos satpam, menunggu kabar dari bapak satpam yang menuju TKP. Ketika bapak satpam balik, Alhamdulillah, anak tersebut sudah diambil kembali oleh ibunya. Case solved, dan kami kembali pulang ke Kober.

Diperjalanan pulang saya mencoba merenung, pelajaran apa yang bisa saya ambil dari pengalaman hari ini. Setidaknya ada dua hal yang bisa saya petik dari pengalaman tadi:
1) Terdapat dua hal yang dibutuhkan untuk keluar dari jebakan by-stander : pengetahuan dan keberanian. Sekedar tahu saja tidak cukup, dibutuhkan juga keberanian dan empati untuk dapat mengeliminasi segala ketakutan dari konsekuensi tindakan yang dilakukan.
2) Mengambil tindakan kebaikan tidak semudah menyerukannya, apalagi ketika tindakan kebaikan tersebut menimbulkan opportunity cost, disisi yang membantu. Apakah kita mau meluangkan waktu untuk membantu disaat  sebenarnya ada hal lain yang akan dilakukan? Dibutuhkan empati yang besar untuk membuat kita bergerak, dan menganggap bahwa biaya yang muncul tidaklah sebesar manfaat yang kita berikan bagi kemanusiaan. Ini juga menjadi catatan buat saya pribadi.


Saat saya menulis cerita ini, ada tindakan yang rasanya masih kurang. Bagaimana mencegah hal tersebut terjadi lagi? Harusnya saya menghampiri ibu tersebut di halte Stasiun UI saat mengambil anaknya dan mengajaknya berbicara, dan mungkin menawarkan sedikit bantuan. Saya tidak tahu apakah ini benar, apakah saya terlalu ikut campur masalah keluarga mereka. Saya hanya ingin membantu. Sekarang saya hanya bisa berharap dan berdoa pada Tuhan, semoga kondisi ekonomi keluarga mereka semakin baik, sehingga kejadian tersebut tidak terjadi lagi. Aamin.

Memilih Berkarya

Sejak lama, saya capek mendengar orang-orang yang dari mulutnya cuma keluar keluhan.

Awalnya saya menyalahkan mereka, tapi pada akhirnya saya menyadari saya tidak punya hak untuk menyalahkan, dan satu-satunya yang bisa disalahkan adalah diri saya sendiri.

Salah saya karena masih terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mereka yang kerjanya cuma mengeluh dan pesimis. Salah saya karena masih membiarkan makian dan ekspresi negatif memenuhi linimasa saya di sosial media. Karena ternyata setelah memperluas jaringan dan bertemu orang-orang baru, setelah memperbarui daftar following di linimasa, ada lebih banyak orang-orang yang tak pernah berhenti membuat perubahan. Ada lebih banyak orang yang terus bertindak nyata dan memilih untuk optimis.

Ah sok-sokan aja lo ngomong tindakan nyata, emangnya lo udah buat apa?

Bacot aja lo ngomongin soal perubahan, ga usah sok pahlawan dah, sekolah/kerja aja yang bener

Dan masih banyak komentar sinis lainnya.

Komentar seperti ini, tidak sedikit saya dengar. Apalagi ketika bersuara lewat sosial media dan ada yang tidak suka.

Jawaban saya? Saya bangga telah melakukan sesuatu.

Meskipun kecil, saya selalu bangga untuk mengatakan bahwa saya memilih berkarya dibanding hanya berkeluh kesah. Saya bangga menuangkan keresahan saya dalam bentuk tulisan, bukan cuma keluhan dan makian. Saya bangga memilih untuk bertindak nyata dibanding diam dan tidak melakukan apa-apa.

Bagi saya, tindakan nyata bisa berbentuk apa pun. Tindakan nyata tidak harus berbentuk project berskala nasional atau berformat gerakan bernama besar yang diikuti ribuan orang. Tindakan sesederhana menolak-plastik-kresek-saat-hanya-belanja-sebotol-minuman-di-Alfamart, menunggu-lampu-merah-meskipun-jalanan-sepi, atau menggunakan-jembatan-penyebrangan-dan-tidak-nyebrang-di-sembarang-jalan-karena-males-naik-tangga adalah tindakan-tindakan kecil yang memberi perubahan nyata.

The key is: do something. Kita harus berbuat sesuatu. Besar kecilnya tak pernah menjadi masalah. Tindakan nyata bukan soal skalanya, tapi perbuatannya.  Jika dikuantifikasi, ini bukan perbedaan antara nilai 1 dan 10, tapi sesimpel perbedaan 0 dan 1. Kita memilih diam, atau mau berbuat sesuatu yang nyata.

It’s not about the number of impact, it’s a simple yes or no.

Kita tidak harus menjadi Al Gore untuk bicara soal perubahan iklim. Kita tidak harus menghabiskan 365 hari dalam setahun di alam liar menjaga hutan dari tangan-tangan setan untuk menyelamatkan lingkungan. Kita tidak harus menjadi Dewi Lestari atau Haruki Murakami untuk mulai berkarya. Kita tidak harus menjadi Kapolri untuk bisa berkontribusi membuat penegakan hukum lebih baik di negara kita.

Kita tidak harus menunggu sampai kita bisa melakukan hal yang besar untuk mau bekerja dan turun tangan.

We don’t have to do big thing, but everyone of us have to do something.

Mari menolak pesimis dan memilih optimis. Mari menolak diam dan memilih berkarya.