penjamin

Rabbi innii lima anzalta ilayya min khairin faqiir.

Tersebutlah do’a Musa ‘alaihi sallam, bermakna Duhai Pencipta, Pemelihara dan Pemberi rizqi terhadapku. Apa-apa yang apabila menimpaku adalah atas kehendak-Mu, sebab Kau-lah Penguasaku; sesungguhnya aku terhadap apa yang Kau turunkan diantara kebaikan amat memerlukan.

“Dari do’a ini,” Ujar Ustadz Salim, “Musa ‘alaihi sallam mengajarkan kita tiga hal penting. Pertama, bahwa hanya Allah yang layak disimpuhi kedermawanan-Nya, ditadahi karunia-Nya, dan diharapi balasan-Nya.”

Sebab berharap kepada makhluq hanyalah kekecewaan, dan meminta padanya hanyalah sebuah kehinaan.

“Kedua,” sambungnya, “ialah adab.” Bahwa meminta dan berdo’a pada Allah tentulah ada adabnya. Bagaimana tidak? Jika kita memohon bantuan kepada manusia saja perlu mengutak-utik kata agar tersusun sesuai harapannya, apalagi jika kita meminta kepada Yang Maha Kuasa atas seluruh ciptaan-Nya?

Demikian Musa, ‘alaihi sallam. Tidak mengatakan, “Ya Allah, berikanlah.. Ya Allah, turunkanlah, sediakanlah..” namun dia merundukkan diri dengan suara kelembutan penanda lemah sebagai fitrahnya. Terucaplah, “Duhai Rabbi; Penciptaku, Penguasaku, Penjamin Rizkiku, Pemeliharaku, dab Pengatur urusanku; sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan di antara kebaikan, amat memerlukan.”

“Dan bagian ketiga,” pungkas ustadz Salim melengkapi ucap indahnya, “ialah Allah dengan ilmu-Nya yang sempurna —lebih mengerti apa yang kita perlukan dan apa yang baik bagi diri ini— daripada pribadi kita sendiri.

Musa memberi tahu, bahwa berdo’a bukanlah memberitahu Allah apa hajat kita.

“Dan berdo’alah,” demikian salah satu kutipan yang saya ambil dari Muhammad Satria, “dengan tidak mendiktenya kepada Allah.” Bersebab Dia adalah Allah, Maha Tahu atas seluruh gemuruh yang gelegar didada hamba-hambaNya.

Dan do’a adalah wujud bincang mesra bersama-Nya, jadi tanpa Musa bekata “Ya Allah, berikanlah padaku makanan.” Maka atas kekuasaan-Nya lah perut Musa akhirnya terisi berkah nikmat tercukupi dan keimanan.

Rabbi, sungguh aku, terhadap apa yang Kau turunkan diantara kebaikan, amat memerlukan.”


—Menyambut Fajar, Avi Zhahira Nida’

“Sometimes, life makes you grow up early. And some people never grow up at all.”
— Matthew Thomas, We Are Not Ourselves

Ketika kita memutuskan untuk hidup, mestilah tercipta sebuah kesadaran bahwa makin tua usia kita, hidup tidak semakin mudah. Hidup adalah ruang dan waktu dengan problematika. Tanpa problem, kita hanya berdiri di tempat.

Maka hidup tanpa masalah, itu mustahil. Namun seorang yang mengira bahwa hidupnya tanpa masalah, justru itulah masalahnya. Sebab bahaya; ada sejuta masalah di depan mata, tapi tidak sadar bahwa itu adalah masalah. Itu namanya, “seseorang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu.”

Oleh karena itulah, menguatkan koneksi dengan langit sangat dibutuhkan manusia. Orang yang banyak masalah tanpa tahu bahwa ada Tuhan yang di atas segalanya, akan merasa hidup rasanya percuma, mending mati saja. Karena tidak ada tempat mengadu, tak punya sandaran, tidak punya penjamin.

Sebaliknya, jika manusia tahu ada Allah yang Mahakuasa menguatkannya melewati segala problematika, dia akan selalu optimistis, langkahnya tiada gemetar. Sebab ia tahu bahwa ada Yang menjamin dia kan bertahan. Mungkin suatu kali ia akan lelah, tapi itu hanya rehat sejenak untuk kemudian menjadi lebih kuat.

Lirih hatinya bukan, “wahai dunia, kenapa masalah darimu sangatlah besar”, melainkan, “wahai masalah, aku yakin bisa melewatimu, aku punya Tuhan yang Mahabesar.”

—  @edgarhamas
Bughats(burung gagak)

Seorang ulama dari Suriah bercerita tentang do'a yang selalu ia lantunkan. Ia selalu mengucapkan do'a seperti berikut ini.

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺭﺯُﻗﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﺮﺯُﻕُ ﺍﻟﺒُﻐَﺎﺙََ

Ya Allah, berilah aku rezeki sebagaimana Engkau memberi rezeki kepada bughats.

Apakah “bughats” itu? Dan bagaimana kisahnya?

“Bughats” anak burung gagak yang baru menetas. Burung gagak ketika mengerami telurnya akan menetas mengeluarkan anak yang disebut “bughats”.

Ketika sudah besar dia menjadi gagak (ghurab). Apa perbedaan antara bughats dan ghurab?

Telah terbukti secara ilmiah, anak burung gagak ketika baru menetas warnanya bukan hitam seperti induknya, karena ia lahir tanpa bulu. Kulitnya berwarna putih. Saat induknya menyaksikanya, ia tidak terima itu anaknya, hingga ia tidak mau memberi makan dan minum, lalu hanya mengintainya dari kejauhan saja.

Anak burung kecil malang yang baru menetas dari telur itu tidak mempunyai kemampuan untuk banyak bergerak, apalagi untuk terbang.

Lalu bagaimana ia makan dan minum…? Allah Yang Maha Pemberi Rezeki yang menanggung rezekinya, karena Dialah yang telah menciptakannya.

Allah menciptakan aroma tertentu yang keluar dari tubuh anak gagak tersebut sehingga mengundang datangnya serangga ke sarangnya. Lalu berbagai macam ulat dan serangga berdatangan sesuai dengan kebutuhan anak gagak dan ia pun memakannya. ماشاءالله Keadaannya terus seperti itu sampai warnanya berubah menjadi hitam, karena bulunya sudah tumbuh.

Ketika itu barulah gagak mengetahui itu anaknya dan ia pun mau memberinya makan sehingga tumbuh dewasa untuk bisa terbang mencari makan sendiri.

Secara otomatis aroma yang keluar dari tubuhnya pun hilang dan serangga tidak berdatangan lagi ke sarangnya.

Dia-lah Allah, Ar Razaq, Yg Maha Penjamin Rezeki.

… نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

…Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia… (QS. Az-Zukhruf: Ayat 32)

Rezekimu akan mendatangimu di mana pun engkau berada, selama engkau menjaga ketakwaanmu kepada Allah, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam:

“Sesungguhnya Malaikat Jibril membisikkan di dalam qalbuku bahwa seseorang tidak akan meninggal sampai sempurna seluruh rezekinya. Ketahuilah, bertaqwalah kepada Allah, dan perindahlah caramu meminta kepada Allah. Jangan sampai keterlambatan datangnya rezeki membuatmu mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya tidak akan didapatkan sesuatu yang ada di sisi Allah kecuali dengan menta'atinya.”

Jadi tidaklah pantas bagi orang-orang yang beriman berebut rezeki dan seringkali tidak mengindahkan halal haramnya rezeki itu dan cara memperolehnya.

Mari introspeksi diri, apakah muamalah dan pekerjaan yang kita lakukan ini sudah sesuai hukum الله atau belum. Mengetahui status hukum perbuatan dulu baru berbuat.

Itulah sikap selayaknya seorang muslim.

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal, sehingga aku tidak memerlukan yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

Oleh sebab itu wahai kaum muslim, janganlah kita takut akan kurangnya rezeki, Allah Subhanahuwata'ala sudah mengatur rezeki. Sadarilah kitalah yang sebenarnya tidak pernah puas dan qanaah (menerima) dalam mensyukuri nakmat. Perbanyaklah bersyukur dan beristiqfar agar kita disayang Allah Subhanahuwata'ala.

Selamat bekerja Semoga hidup kita dicukupkan oleh rezeki yang halalan thoyyiban dan dipenuhi keberkahan didalam mencari karunia Allah Subhanahuwata'ala diatas muka bumi ini

آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين

والله أعلمُ بالـصـواب

Semoga ada manfaatnya Ditulis oleh: Munari Abdillah

Yixing: bro

Jongdae: what bro

Yixing: you know how Ben is short for Benjamin, right bro?

Jongdae: yeah bro why

Yixing: then wouldn’t pen be short for penjamin too bro

Minseok: that’s not how this works

Jongdae: woah bro then wouldn’t ham be short for Hamuel too???

Yixing: fuck yeah bro

Minseok: what the actual fuck

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
“Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!”

“Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !”.

Umar segera bangkit dan berkata :
“Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?”

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
“Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

“Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”

“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat”, ujarnya.

“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.

“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

“Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah”, ujarnya dengan tegas.

“Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.

“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”, tanya Umar.

“Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin”.
“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?”, pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.

“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
“Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

“Salman?” hardik Umar marah.
“Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira… urusan kaumku… menyita… banyak… waktu…”.
”Kupacu… tungganganku… tanpa henti, hingga… ia sekarat di gurun… Terpaksa… kutinggalkan… lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan… di kalangan Muslimin… tak ada lagi ksatria… menepati janji…” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?“

Kemudian Salman menjawab :
” Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian…” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah…, saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..

- Dari grup What’s App PPPA Daarul Qur'an

anonymous asked:

Kak Satria, boleh ga kalau kita meminta hidup yang bahagia sm Allah? Kita boleh meminta apa saja kan sama Allah, tapi bagaimana caranya kita meminta tanpa memaksa? Terimakasih, kak.

Boleh, insya Allah. Malah, kalau kita enggak biasa meminta lewat doa takutnya tergelincir sama kesombongan. Selama yang diminta itu baik, memintalah. Dinukil dari “Lapis-Lapis Keberkahan” nya Ustadz Salim A. Fillah, kisah Nabi Musa di Al-Quran ngajarin tiga nilai penting tentang doa:

Pertama, hanya kepada-Nya kita bisa bersimpuh atas kedermawanan yang mutlak dan terjauh dari kehinaan, kekecewaan juga kenistaan. Kedua, bertatakrama pada-Nya saat berdoa juga perlu diutamakan. Dengan sesama manusia aja kalau mau minta pake tatakrama, sama Allah SWT harus lebih. Nabi Musa merundukkan diri dan berlirih hati dalam doanya, “Duhai Rabbi, Penciptaku, Penguasaku, Penjamin rizqiku, Pemeliharaku, Pengatur urusanku, sungguh aku terhadap apa yang Kau turunkan diantara kebaikan, amat memerlukan”. Indah betul cara Nabi Musa berdoa.

Ketiga, Allah SWT tentu lebih paham apa keperluan kita ketimbang diri kita sendiri. Termasuk tentang makna “hidup bahagia” buat kita kaya gimana. Nabi Musa nunjukin kalau berdoa bukan memberitahu-Nya dan mendaftar apa aja hajat kita, tapi berbincang mesra dengan Allah SWT supaya Ia ridhai semua yang dilimpahkan, diambil atau disimpan untuk kita.

Saya sendiri masih belajar untuk enggak mendikte Allah SWT tentang wujud kebahagiaan yang saya mau. Allah SWT mutlak lebih paham. Cara meminta tanpa keliatan maksa sesederhana dengan bersopan santun, berbicara dengan rendah hati dan membekali diri dengan kelapangan dada. Enggak memaksa artinya kalau enggak dikasih atau dikasihnya bukan yang diminta pun enggak apa-apa kan ya? Makanya, minta kebahagiaan dengan keliatan maksa jadi ciri kefakiran pengetahuan dan kekerdilan kita atas ilmu-Nya yang Maha Luas.

Kita sering simak terjemahan surat Al-Baqarah ayat 216 yang isinya, “…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”. Yakinlah kalau Allah yang Maha Penyayang enggak pernah sekalipun menzalimi makhluk-Nya. Yakinlah kalau Allah yang Maha Cermat enggak pernah sekalipun salah perhitungan tentang kecukupan ciptaan-Nya.

Last but not least, kita juga sering denger ayat 28 di surat Ar-Rad yang isinya luar biasa, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Kunci kebahagiaan adalah ketenteraman dan ketenangan hati. Keduanya enggak pernah jauh dari genggaman-Nya. Maka, berbahagia juga artinya kita enggak pernah menjauhkan diri dari mengingat-Nya lewat beribadah atau gaul bareng orang-orang saleh. Selamat berbahagia. Wallahu a’lam bishawab.