penghalang

Kamu sadar ngga, dalam banyak kesempatan, penghalang terbesar antara dirimu dan keberhasilan adalah diri kamu sendiri. Iya. Rasa malas, suka berleha-leha, hobi menunda-nunda, meremehkan komitmen, lemah kemauan, terlalu sensitif, dan banyak lagi. Akarnya? Kamu memanjakan nafsu dan membiarkan hatimu terkotori sedikit demi sedikit. Ingat, kamu selalu punya pilihan untuk menundukkan nafsu dan mengikuti apa yang hati bersihmu katakan. Kamu bisa mulai detik ini juga. Jangan menunggu sampai Allah yang menamparmu agar kamu sadar.
Tak perlu terburu-buru, selesaikanlah dirimu sendiri dulu. Sebab ragu dan bimbang kelak hanya akan jadi penghalang. Jika hadirmu bersamaku masih diikuti bayang-bayang masa lalu
28 Butir Pengingat tentang “Komitmen terhadap Al Quran”

Dari Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc:

1. Sebaik baiknya liqo adalah ketika hadir bertambah keimanan, bertambah rindunya kepada Allah dan bertambah prestasinya.

2. Jangan sampai sekedar hadir liqo menjadi prestasi.

3. Kader dakwah bisa menjadi ruhul jadid bagi dakwah jika Al Quran akrab dengan mereka.

4. Jangan ada dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktifitas kita.

5. Jangan malas menghafal Quran karena usia.

6.Lihat Surah Azzumar 23 tentang manhaj interaksi dengan Al Quran yang benar.

7. Luaskanlah hati kita untuk menerima Al Quran, yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang. القرآن مأدوبة اللّٰه "Al Quran adalah hidangan Allah “

8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya.

9. Jangan duakan Al Quran, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget.

10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah meyakininya bahwa membacanya mendatangkan keutamaan.

11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir menandingi kenabian ,hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya ( Alhadist ).

12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah terus membacanya setiap hari.

13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga.

14. Waktu membaca Al Quran itu harus definitif, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran ,maka kita tidak akan mendapatkannya.

15. Adukanlah surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka Allah akan
memudahkannya.

16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( perkataan terbaik ), hadist nabi saw tingkatannya hanya hasan ,sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu.

17. Kita sering takjub dengan ciptaan-Nya, namun kita jarang takjub dengan perkataanNya.

18. Siapa yang sering berhubungan dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik.

19. Al Quran itu mudah dihafal karena banyak kata yang sama dan diulang. Kalau kita sudah hafal “fa bi ayyi alai rabbikuma tukadziban ” dalam surah ar-rahhman ,maka ayat yang lain di mana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis. Berinteraksi dengan Al Quran itu harus berulang ulang.

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia tetap mulia , dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah berulang ulang bersama Al Quran bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya.

21. Siapa yang sudah hafal juz 30 ,maka ia sudah punya hidayah untuk menghafal juz 29 , dan seterusnya.

22. Jangan remehkan ketidakhadiran kita bersama ikhwah.

23. Mungkinkah rizqi kita berkurang ,karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firman-Nya ?

24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran kecuali ketika itu kita jauh dengan Allah.

25. Jangan menolak kebaikan untuk mempertahankan kebaikan yang lain.

26. Jangan membenturkan satu amalan dengan amalan yang lain , karena manusia itu mampu melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu.

27 .Siapa yang lelah untuk Allah di dunia ini maka Allah akan mencukupkan lelahnya di akhirat.

28. Siapa yang tidak mau lelah di dunia untuk taat kepada Allah ,maka ia akan merasakan lelah di akhirat .

Tentang suatu hal yang tak selesai

Seorang kawan belum lama ini mengatakan, “Apa yang kau lakukan selama ini, itu seperti bonsai. Kau berusaha menekan perasaanmu seperti bonsai, tetap berukuran kecil tapi terus ada di sana, tak kemanapun.” Mungkin itu adalah sebentuk paranoid, sebab sebelumnya tak pernah aku memikirkan orang lain sedalam itu.

Bagi sebagian orang, cinta mungkin adalah suatu permainan mengenai waktu. Tapi bagiku, ketika Masnawi Rumi tak sekedar kutipan-kutipan indah, ia terlihat begitu sakral. Ketika kau memutuskan untuk mencintai orang lain, kau mesti membunuh egomu hingga kau tak mengenali lagi dirimu sendiri. Itulah jalan Shams Tabrizi dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

Tentang pertemuan-pertemuan singkat itu, penghindaran-penghindaran yang sebenarnya tak perlu, aku perlu untuk meminta maaf kepadamu. Tentu saja tak mungkin aku membenci orang sebaik dirimu, aku hanya berusaha mengalihkan ketidaknyamanan pikiranku ketika aku merasa aman hanya lewat tatapanmu yang teduh. Ketika pertama kali mataku bertemu dengan wajahmu, seluruh semesta hilang dari jiwaku. Aku mengenali Perbendaharaan Tersembunyi melalui ketenangan perilakumu di setiap ruang waktu.

Delusionalkah diriku? Aku tak terlalu mengerti tentang kondisi jiwa seperti ini. Sudah lama aku menenggelamkan diri dalam bacaan mengenai filsafat, teologi, science, ataupun culture. Ketertarikanku terbatas pada kebenaran-kebenaran pasti seperti angka-angka dan matematika atau usaha memahami cara kerja dunia. Percakapan denganmu merusak seluruh perjalanan intelektual dan ruhaniah itu. Tak apa, justru kebenaran akhir adalah ketika eksistensiku melebur bersama dengan yang noneksisten, kemudian kau memberikan pemahaman yang benar mengenai pengetahuan dengan kehadiranmu.

Kapan-kapan aku akan menulis caption khusus untukmu. Kata-kata absurd semacam itu adalah dalih sebenarnya. Sebab kata-kata, sejatinya adalah penghalang untuk mendekati kebenaran sesungguhnya. Kau megajariku bagian itu, kebenaran tampak nyata justru dalam kesunyian bahasa.

Beristirahatlah dari kata-kata Lim, kau tahu betapa manipulatifnya bahasa. Sudah berapa banyak kawanmu yang salah menerjemahkan kebijaksanaanmu? Kau hanya perlu diam sejenak dan mendengarkan.

KITA SAMA-SAMA BELAJAR

Aku dan kamu duduk berdua di sebuah mesjid, dihalangi oleh sebuah penghalang, tidak menghalangi suaramu untuk kudengar, hanya menghalangi wajahku untuk kau pandang. Aku ditemani oleh kakakku , dan kau ditemani oleh guru mengajimu. Aku tahu kita berbicara berempat, namun ini adalah tentang aku dan kamu, mereka hanya mengantar kita, kepada apa yang orang-orang biasa bilang taaruf.

Jawabanmu selalu tak berubah ketika aku menyatakan tentang hal-hal yang tak aku bisa.

“Apakah kau mau, bersama aku yang tak bisa memasak?”

Kau jawab “Tak apa, kita sama-sama belajar”

“Apakah kau mau, bersama aku yang tak paham bagaimana cara mengurus anak?”

Kau jawab “Tak apa, kita sama-sama belajar”

“Apakah kau mau, bersama aku yang tidak mau bersih-bersih?”

Kau jawab “Tak apa, kita sama-sama belajar”

“Apakah kau mau, bersama aku yang tak paham bagaimana cara menjadi istri yang baik.”

Kau jawab “Tak apa, kita sama-sama belajar”

Aku heran, semua kekuranganku, seolah bukan masalah bagimu, seolah semua bisa dipelajari. Apakah kamu benar-benar ingin menjadi suami yang tidak menuntut apapun dari seseorang yang akan jadi istrimu kelak?

Lantas kini bergantian, giliran mu untuk bertanya padaku. Aku sudah menyiapkan diri, bersiap atas jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilemparkan pada cerita taaruf yang kawanku telah lewati.

“fyuuh” Suara hela nafas terdengar dari balik hijab ini.

“Dik, apakah kamu mau, setelah menjadi istriku nanti, kita mendalami agama, dan benar-benar menjalaninya dengan baik? Apakah kamu mau, nanti kau menggunakan kerudung yang panjang dan sangat lebar, menutup auratmu secara sempurna? Apakah kamu mau, nanti kau menjaga setiap perkataanmu dari mengomentari segala hal bahkan yang menjengkelkan sekalipun? Apakah kamu mau, menjaga amarahmu dan bersabar setiap ada masalah apapun bahkan itu berat sekalipun? Apakah kamu mau, tidak hidup bermewah-mewahan karena hata kita banyak disedekahkan? Apakah kamu mau, menjalankan ibadah shalat bahkan tanpa meninggalkan Sunnahnya sekalipun? Apakah kamu mau, selalu membasahi bibir kita dengan membaca ayat-ayat Allah dan juga dzikir kepadanya? Apakah kamu mau, bangun di sisa sepertiga malam untuk meminta ampunan kepada Allah SWT? Apakah kamu mau dik?”

Aku terdiam, aku bingung, entah harus menjawab apa. Tidak ada satupun hal yang dia tanyakan, sering aku kerjakan. Aku masih belum menutup aurat dengan sempurna, aku masih sering membicarakan orang, ibadahku masih sering bolong, bersedekah saja aku belum mau besar-besar, bangun subuh saja sering kesiangan. Aku bingung, aku takut mengecewakan dia yang sudah memperjuangkanku. Aku tak pernah memikirkan, tuntutannya begitu berat. Aku tahu orang menikah itu untuk ibadah, tapi aku tak menyangka seberat ini konsekuensinya. Aku takut, aku tak sanggup berubah lebih baik.

Aku masih diam, aku tidak tahu harus berkata apa. Langit masjid sempat hening beberapa saat. Hingga akhirnya kau memecah keheningan ruang masjid itu.

“Dik, tenang saja, aku pun sama, belum bisa melakukan semuanya. Tapi sungguh aku ingin, pernikahan ini membawa kita menjadi lebih baik, mendekatkan kita pada sang pencipta. Aku tak ingin, pernikahan ini hanya bertujuan untuk mempertahankan kebahagiaan dunia.” Ucapmu

“Lalu bagaimana jika sekarang aku memang belum bisa apapun sama sekali?” Aku bertanya

Kau jawab “Tak apa, kita sama-sama belajar”

Aku diam dalam kagum. Mengagumimu yang mau mengajakku belajar, untuk menjadi lebih baik.

KITA SAMA-SAMA BELAJAR
Bandung, 22 Januari 2017

Hati.

Konsep berbagi luas konteksnya, kali ini Lika mau berbagi catatan dari apa yang Lika dapat dari salah salah satu kajian ICMN (Indonesian Creative Moslem Network). Semoga bukan sekedar catatan, tapi ilmu yang didapat bisa mewujud menjadi amal. #notetomyself

Kenapa sih harus berbagi?

“Apa yang kamu miliki sendiri saat ini, tidak akan ada artinya jika tidak berbagi.” salah satu kalimat dari cuplikan film Kartini yang diperankan mba cantik Dian Sastro. Terlepas dari film yang masih pro kontra, kutipan itu jadi pesan yang rasanya perlu diresapi. Itu alasan kenapa tulisan ini hadir.

Terkadang kita (saya) seringkali tertipu dengan berbagai distraksi yang sering hadir di tengah-tengah kita. Distraksi macem apa? banyak dan macem-macem hal yang bikin saya salah fokus, yang paling mudah dicontohkan misalnya social media. Efek sampingnya beragam, tapi yang paling mudah diidentifikasi jadi lebih sering khawatir dengan sesuatu yang bahkan belum terjadi dan bingung dengan kondisi real yang sedang dihadapi.

Darimana datangnya khawatir dan bingung ini?

Ternyata datangnya dari hati. Sebelum jauh membahas hati, kita kenali dulu apa sih definisi hati ini?. Jika di cek KBBI hati artinya organ badan yang berwarna kemerah-merahan di bagian kanan atas rongga perut, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Jika diterjemahkan dalam bahasa inggris hati itu heart : the organ in your chest that sends the blood around your body (dictionary.cambridge.org) biasa kita sebut jantung. Sedangkan dalam bahasa Al-Quran hati disebut dengan “qalb” qaf,lam,ba sesuatu yang sifatnya mudah terbolak-balik, mudah terombang-ambing. Ibarat sebuah kepingan ringan di atas laut dengan ombak mudah terombang-ambing. Sedangkan makna dari “Qalb” itu sendiri adalah membalikan.

Jadi kita akan bahas “Hati” dengan pengertian yang mana?

Merujuk pada Hadist Rasulullah Saw. “Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu””:Hadis Riwayat Bukhori. Dari hadist tersebut betapa pentingnya yang disebut “qolbu” ini. Malam itu kang Lutfi membahas hati dengan pengertian “qolbu”. Hati yang galau, gelisah, gundah, gulana artinya hati tersebut sedang ditunggangi Nafsu. Nafsu sendiri ada tiga jenis : Nafsu Ammarah Bissu’, Nafsu Lawwamah, Nafsu Mutmainnah.

Nafsu Ammarah Bissu’ merupakan nafsu dorongan untuk survive, seperti hewan. Nafsu ini berbahaya apabila melekat pada hati manusia sebab mengarahkan manusia kepada perbuatan dan perilaku yang bertentangan dengan nilai islam itu sendiri.Firman Allah S.W.T. dalam surat Yusuf.53 : “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena  sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Nafsu amarah tidak dapat dikawal dengan sempurna oleh hati. Jika hati tidak meminta bantuan ilmu, hikmah kebijaksanaan dan akal, hati akan binasa.

Nafsu Lawwamah adalah nafsu yang sudah mengenal baik dan buruk, nafsu yang hadir setelah proses berpikir. Dari sumber lain Nafsu ini mengarahkan pemiliknya untuk menentang kejahatan, tetapi suatu saat jika ia lalai beribadah kepada Allah S.W.T, maka ia akan terjerumus kepada dosa. Orang yang memiliki nafsu lawwamah dapat menyesali perbuatan salah dan berinisiatif untuk kembali ke jalan yang benar.Nafsu lawwamah juga sering memikirkan baik buruk, halal haram, benar salah, berdosa ataupun tidak dalam segala tindakan. Jelas nafsu Lawwamah ini lebih baik dari nafsu amarah bissu’.

Nafsu Mutmainnah adalah  nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu ini mendapat rahmat Allah S.W.T. dan manusia yang mendapatkan nafsu ini akan mendapat ridho Allah. Dalam surat Al-Fajr,27-30 : “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,  dan masuklah ke dalam surga-Ku". Orang yang memiliki nafsu mutmainnah dapat mengawal nafsu syahwat dengan baik dan sentiasa cenderung melakukan kebaikan. Dari sumber lain nafsu ini membuat pemiliknya mudah bersyukur dan qanaah di mana segala kesenangan hidup tidak membuat dia lupa diri, menerima anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang dialami pula tidak menjadikan dirinya gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan yang kuat kepada Allah. Imam Al-Ghazali meletakkan nafsu ini di tahap yang tertinggi dalam kehidupan manusia.

Yang dapat mengontrol atau mengikat hawa nafsu ini hanyalah Aqal. Konsep aqal dalam Al-Qur’an  berasal dari kata al-‘aql. Dengan kekuatan aqal orang mendapatkan ilmu. Selain itu aqal adalah al-hijr, menawan atau mengikat. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti; tali pengikat, penghalang. Al-Qur’an menggunakannya bagi sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa. Orang yang beraqal adalah orang yang mampu mengikat atau mengendalikan hawa nafsunya. Kemampuan seseorang untuk mengikat hawa nafsu, akan menempatkan hawa nafsu pada posisi yang serendah-rendahnya, sehingga hawa nafsu tidak dapat menguasai dirinya. Orang yang tidak mampu menawan hawa nafsunya tidak akan mampu mengendalikan dirinya.

Pada praktiknya nafsu yang bersemayam di hati dengan sifat yang mudah terombang-ambing butuh sesuatu yang sifatnya lebih stabil untuk bersandar, untuk bergantung, jadi ciri khas manusia punya ketergantungan. Jika bukan bergantung pada Allah, maka dipastikan akan bergantung pada selain Allah. Lalu apa bukti kita bergantung pada Allah? misalnya saat dihadapi dengan masalah yang pelik, mencari jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, apa yang kita lakukan sebagai wujud kita bergantung hanya pada Allah?

Bukti bergantungnya kita pada Allah dengan meminta, memohon, berdoa pada Allah. Karena pada hakikatnya memang cuma Allah yang Maha kuasa atas segalanya. Tapi jangan sampai berpikiran sempit, kita mintaa terus kemudian hanya berdiam diri di kamar, tidak melakukan upaya apapun, itu pemahaman yang amat keliru. Begitupun memelihara dan menjaga hati kita, Kang Lutfi bahas salah satu doa favorit Lika di Al-Quran surat Ali-Imran ayat 8 : Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana wahab lana min ladunka rahma innaka anta al-Wahhab “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. Jika ayat ini dibedah, maknanya sungguh luar biasa, short lecture ust.Nouman  pada link ini –> https://www.youtube.com/watch?v=fki-7REDXeY : Ayah of Hope.

Ayat ini salah satu wujud cinta kasih Allah yang melimpah. Rabbana la tuzigh quloobana ba'da ith hadaytana, kata tuzigh dari akar kata zaygh yang artinya bengkok secara tidak sadar, kecenderungan hati manusia yang mudah bengkok, manusia kadang tidak sadar sedang menjauh dari jalan Allah slowly but sure, padahal Allah sudah memberi memberi petunjuk pada hati kita, maka doa ini ada untuk meminta perlindungan pada Allah. Wahab lana min ladunka rahma, Hiba dalam bahasa arab artinya hadiah, Wahab adalah kata kerja yang artinya memberi hadiah yang sangat besar (to give a BIG Gift) the great grant, Ladun artinya sesuatu kepemilikan yang berharga seperti harta karun saking specialnya (some secret mercy from Allah). Innaka anta al-Wahhab , sesungguhnya Allah yang Maha Pemberi, Maha Pemberi ini bukan cuma sekali, dua kali, tapi terus-menerus memberi tidak akan pernah berhenti, maka penting untuk kita pun terus meminta.

Tapi ingat sekali lagi berusaha, berikhtiar itu penting sebagai wujud ibadah kita sama Allah. Karena kita pernah bersaksi buktinya pada Al-Quran surat Al-Araf, 172 : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi(tulang belakang) anak-anak Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. Kita pernah membenarkan bahwa hanya Allah lah Rabb Illah yang patut disembah, maka Allah melengkapi kita dengan modal 4 perkara dalam Hadist Arba'in no.4 : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Maka dari itu kita wajib mengimani hal tersebut karena termasuk iman kepada qada dan qadar. Qadar merupakan ketetapan Allah yang sudah di kukuhkan, termasuk Ajal. Sedangkan Qada merupakan ketetapan Allah yang dikukuhkan berdasarkan ikhtiar makhluk termasuk rezeki, amal, dan bahagia/celaka.

Jadi Lika semakin yakin di Al-Quran itu gak mungkin ada sesuatu yang bertentangan, kan Allah bilang di surat Ar-Rad, 11 : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. Setiap individu punya jalannya masing-masing, mintalah hanya pada Allah, rezeki mah moal patuker, bisa hadir dari arah yang tidak di sangka-sangka syaratnya cuma IMAN dan TAQWA! ga cuma sih itu, long life strungling pastinya, akan di Uji terus sama Allah karena Allah sayang. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Q.S. Al-Araf:96). Apalagi sih yang manusia butuhkan selain keberkahan? karena berkah itu sesuatu yang membuat kita semakin mendekatkan diri pada Allah, apalagi yang dibutuhkan oleh makhluk selain dekat dengan Khaliknya. Cuma kita sering ga sadar aja, balik lagi seperti prolog di awal banyak distraksi yang bikin kita (saya) sering salah fokus.

Semoga setelah kenalan sama Hati dan kecenderungan kita sama Allah, semakin membuat kita sadar kalau kita butuh banget Allah. “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.

Jadi hati kamu bergantung ke siapa?

jangan lupa Allah Maha mengetahui segala isi hati, yuk jujur, minimal sama diri sendiri, tahap awal untuk mulai aware dan menerima petunjuk, petunjuk Allah.


Dago, 10.4.2017
dari catatan kajian ICMN Pusdai ditambahin sedikit dari beberapa sumber yang masih terkait. :)

next pembelajaran yang menarik tentang “Hati” di 2 link lecturenya ust.Nouman reccomended!

https://www.youtube.com/watch?v=US71OPrUoio –> hati kita bergantug ke siapa?

https://www.youtube.com/watch?v=07eqk8ioRLo&t=329s  Battle of 'Heart’ & 'Mind’ | Nouman Ali Khan |

TAHUKAH KITA?

Bahwa ikan yg ribuan tahun lalu menelan Nabi Yunus As itu ternyata masih hidup sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat. hal ini sdh dijelaskan dalam al-Qur'an: andai Yunus itu tidak beristighfar, tentu ia akan tinggal dalam perut ikan tersebut sampai hari kebangkitan..

*taukah anda*….?
bahwa janin semasa dalam kandungan perut ibunya, dia dilihatkan perjalanan hidupnya mulai dr lahir sampai mati, karena itu, terkadang ketika kita berkunjung ke beberapa tempat yang baru, tp seolah tempat tersebut sudah tidak asing bagi kita.

*taukah anda*…..?
di saat bersin, seluruh anggota tubuh kita berhenti berfungsi, seolah mati, ini terjadi dalam hitungan detik, setelah itu berfungsi normal kembali, inilah kenapa dalam islam di sunnahkan membaca alhamdulillah setelah bersin, sebagai ungkapan syukur atas berfungsinya kembali seluruh anggota badan kita.

*taukah anda*…..?
menguap itu bukan tanda bahwa kita mengantuk, tapi itu adalah pertanda bahwa tubuh kita butuh tambahan oksigen

*taukah anda*……?
bahwa memakan kurma dalam jumlah genap itu akan menghasilkan gula darah, karena itu Rasulullah menganjurkan kita untuk memakannya dalam jumlah ganjil, agar berubah menjadi karbohidrat.

*taukah anda*……?
bahwa tepat setelah dikumandangkannya azan itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.

*taukah anda*……?
di mana dosa-dosa kita diletakkan ketika kita shalat?
Nabi Muhammad saw bersabda: “sesungguhnya seorang hamba ketika menunaikan shalat, dia membawa serta semua dosa-dosanya, kemudian dosa-dosa itu d taruh di atas kepala dan kedua pundaknya, maka ketika tiap kali ia ruku’ atau sujud berjatuhanlah dosa-dosa tersebut”.
wahai orang-orang yang biasa tergesa-gesa dalam shalatnya, tenanglah… dan tahanlah lebih lama ruku’ dan sujudmu, agar lebih banyak lagi berguguran dosa-dosamu.

*taukah anda*…….?
diceritakan ada seorang wanita soleha yg meninggal, maka tiap kali penduduk desa ziarah kubur, mereka mencium harumnya mawar dr dalam kubur, kemudian suaminya menjelaskan, bahwa istrinya itu semasa hidup selalu membaca surah al-mulk, setiap mau tidur..
sesungguhnya surat al-mulk itu menyelamatkan dari siksa kubur.

*taukah anda*…….?
ketika kita membaca ayat kursi tiap usai shalat, maka tidak ada penghalang antara kita dan surga kecuali maut.

*taukah anda*…….?
bahwa para malaikat mendoakan kita ketika usai shalat, karena itu jangan terburu untuk beranjak dari posisi duduk shalat kita.

semoga bermanfaat

Kata nanti; selalu menjadi penghalang sejati untuk meraih segala keinginan yang berarti. Serta cita, cinta, dan angan yang terajut melalui mimpi.
—  DJ
berkarya

ada sebuah cerita yang membekas sekali meskipun saya baca berbulan-bulan yang lalu. cerita ini adalah pembuka buku Indiepreneur karya Pandji Pragiwaksono. kurang lebih, kisahnya begini.

suatu hari, Ayah Pandji bertemu koleganya yang adalah warga negara asing–di sebuah restauran dengan nuansa ukir-ukiran jawa. kebetulan, si bule ini kontraktor sekaligus orang properti. dalam percakapan mereka, tersebutlah obrolan tentang ukir-ukiran yang menghiasi sekeliling.

“Kus,” kata si bule, “orang Indonesia itu aneh ya.”
“kenapa anehnya Sir?”
“iya. kalau disuruh bikin ukir-ukiran, bisa rapi sekali, presisi sekali. nggak ada orang lain di belahan dunia lain yang bisa bikin kayak gini. tapi…”
“tapi?”
“tapi kalau disuruh bikin tangga, pasti acak-acakan. anak tangga pertama 20 cm, anak tangga kedua 21 cm, beda-beda ukurannya.”

Ayah Pandji pun menyimpulkan. perbedaan ketepatan dan keindahan ukir-ukiran serta tangga tadi bukanlah karena yang satu orang Jepara dan yang lainnya bukan–melainkan karena yang satu berkarya, dan yang satunya hanya bekerja.

kisah ini (dan seluruh isi buku) menjadi aha momen bagi saya. ternyata, inilah mengapa hasil pekerjaan banyak orang berbeda-beda. bahkan, inilah mengapa hasil pekerjaan saya sendiri masih sering berubah-ubah. kadang masakan saya enak, kadang tidak. kadang menyapu dan mengepel saya bersih, kadang tidak. kadang setrikaan saya rapi, kadang masih lungset.

waktu kecil, Ayah dan Ibu mengajarkan saya untuk tidak pernah minimalis dalam bekerja. kalau kita bisa memberikan pelayanan sesuai dengan yang orang lain minta dan harapkan, pekerjaan kita barulah nol nilainya. kalau kita bisa memberikan yang lebih, yang tidak terduga-duga, barulah itu menjadi sebuah nilai plus. dulu saya mengira bahwa memberikan yang “lebih” tidak ada gunanya bagi saya. padahal ternyata, dengan selalu memberikan yang “lebih”, saya belajar untuk bertumbuh.

sayangnya, banyak orang–terutama anak-anak muda jaman sekarang–yang justru bekerjanya minimalis, alias minus. yang parah, semuanya dibalut dengan alasan tidak sesuai passion. “ini bukan passion saya, jadi wajar aja kalau saya kerjanya hanya ala-ala.”

alhasil, kehadiran orang-orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) ini malah menyusahkan orang lain. saat hasil pekerjaannya diestafetkan, yang ada orang lain menjadi kesal sebab yang diterimanya belum tuntas. kadang-kadang, yang sudah dikerjakan orang sebelumnya tidak bernilai apa-apa, sehingga orang yang menerima harus kembali mengulang dari awal. kalau masalahnya hanya bekerja ulang sih, masih tidak seberapa. yang paling amit-amit, adalah kalau orang yang menerima tadi merasa terdzolimi, lalu mendoakan yang tidak-tidak.

tentu saja ketidakikhlasan itu jadi penghalang bagi orang yang hanya bekerja (dengan ala-ala) untuk menjemput rezekinya. tentu saja kekesalan itu menjadi penghalang baginya untuk berkembang. ternyata orang yang bekerjanya minimalis, tidak hanya merugikan orang lain, tetapi justru merugikan diri sendiri. pantas saja dia tidak maju-maju(?).

kalaulah kita memang tidak menyukai suatu pekerjaan, janganlah kita bekerja ala kadar dengan alasan “ini bukan passion saya”. setidaknya, niatkanlah melakukannya untuk membantu orang lain, memudahkan orang lain, sehingga niscaya hidup kita pun akan dipenuhi dengan kemudahan. apapun pekerjaannya–tidak melulu berkarya adalah milik seniman saja–selalu ada perbedaan antara orang-orang yang bekerja dengan orang-orang yang berkarya. maka, berkaryalah!

banyak anak muda yang tidak sadar bahwa dalam lima tahun pertama dia bekerja, sebenarnya dia sedang belajar tetapi dibayar. mereka kok sebentar-sebentar berhitung, sebentar-sebentar lelah. padahal masa muda adalah masanya belajar, berkarya, bertumbuh–bukan masanya mengeluh.

kita sangat boleh menginsyafi bahwa apa yang kita lakukan tidaklah sesuai dengan passion kita, juga sangat boleh jika kita mencari alternatif bidang pekerjaan yang lebih cocok dengan panggilan jiwa. tapi, kita tidak pernah boleh bekerja hanya ala-ala, apapun yang kita lakukan.

bekerja berarti menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. tetapi berkarya, berarti menyelesaikan pekerjaan sekaligus membuat perubahan. bagi diri sendiri, bekerja berarti mengugurkan kewajiban semata, mengisi waktu (dan kantong) semata. tetapi berkarya, berarti bertumbuh dan berkembang, berarti menjadi makna.

betapa Allah memuliakan perempuan; Allah ciptakan ia dengan mulia, Allah jadikan ia penghalang api neraka bagi orang tuanya semasa kecil, Allah jadikan ia kemuliaan untuk suaminya, pun Allah ciptakan surga di kakinya ketika ia menjadi seorang ibu.
—  tapi apakah kamu mau memuliakan diri sendiri, puan?
Kamu Bermain, Allah Balas Permainan Kamu

Bismillah… ini kisah nyata yang diceritakan seorang ustadz di bincang pranikah beberapa hari yang lalu.

Ada seorang laki-laki dan perempuan yang “katanya” menjalani proses taaruf, tapi kenyataannya dalam proses taaruf ini keduanya melanggar syariat, seperti saling perhatian lewat sms, zina hati dilakukan oleh keduanya sebelum menikah.

Dan H-1 pernikahan, mereka berdua pergi untuk melihat rumah kontrakan yang akan mereka tinggali selepas mereka menikah. Setelah tiba dikontakan yang mereka tuju, mereka masuk kedalam, dan tiba-tiba didalam kontrakan itu ada seekor tikus keluar, sontak langsung membuat si perempuan tadi kaget dan hampir terjatuh tapi ditangkap oleh si laki-laki. Dan disitu pandangan mata terjadi.

Maka benarlah kata Ibnu Qayyim bahwa “pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan keinginan yang semakin menguat dan akhirnya menjadi kebulatan tekad, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya”.

Setelah bertatap mata, mereka berdua jatuh ke perangkap syaitan, mereka berzina. Diperjalanan pulang si laki-laki tidak fokus membawa mobilnya, jantungnya berdegup kencang, keduanya sama-sama merasa berdosa, sama-sama merasa menyesal atas apa yang dilakukannya. Dan karena si laki-laki tidak fokus terjadilah kecelakaan hingga menyebabkan si laki-laki meninggal dunia. Dan si perempuan tadi koma, hingga 6 bulan. Setelah sadar dari komanya, si perempuan tadi heran kenapa tidak ada yang menjenguknya, dan diapun kaget melihat perutnya sudah membesar.

Ini kisah nyata. Alhamdulillah, perempuan tadi sekarang sudah bertaubat, dia merahasiakan identitasnya tapi menyebarkan kisahnya ke semua orang, agar tidak ada yang mengalami hal sama seperti yang dialaminya.


Pelajaran yang bisa diambil apa?

  1. Jangan pernah sok tahu, karena Allah lebih tahu.
  2. Jangan pernah bermain-main dengan apa yang Allah larang.
  3. Jangan berpura-pura baik untuk mendapatkan pasangan baik, karena ketika kamu bermain Allah balas permainan kamu.

Semoga bermanfaat.

Bandung, 12 Januari 2016

WUJUDMU TANDA CINTA-NYA KEPADAMU, MENGAPA DIPERSIA-SIAKAN

Allah amat menyayangimu. Wujudmu adalah bukti wujud-Nya.
Apalah maknanya Dia mewujudkan mu jika Dia membencimu. Renunglah ke dalam dirimu dengan renungan yang sedalam-dalamnya.

Sesungguhnya pada dirimu sudah nyata akan kasih sayang dan cinta-Nya, jika kamu memahami.

“Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mahu melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)?” (Adz-Dzaariyaat: 21)

Dari-Nya engkau datang dan kepada-Nya akan kembali. Engkau tidak akan sesekali memahami akan bahasa cinta jika engkau berpaling dari Wajah-Nya.

“… Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” (Al-Baqarah: 156)

Segala apa yang kau pandang, dengar, rasai dan miliki adalah kosong pada hakikatnya.

Jika engkau memeluk dengan rasa cinta kepada apa yang ada di sekelilingmu itu, engkau akan jauh dari cahaya kasih sayang-Nya.

Nafsu mu adalah penghalang besar untuk diri mu merasai sentuhan belaian-Nya yang amat lemah lembut.

“Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia; Kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia, dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga).” (Ali-‘Imran: 14)

Musibah adalah fitrah kehidupan, ia bagaikan badai dan gelombang di lautan.

Ujian bagaikan cemeti kehidupan, justeru itu ramai yang menyangka Allah menjauhinya, tidak menghiraukannya, malah ada yang berburuk sangka pada-Nya. Renunglah wahai diri dengan cahaya hatimu.

Fahamilah, musibah adalah seruan untuk hamba itu kembali ke dalam dakapan-Nya. Bagaikan cemeti sang pengembala kepada ternakannya, ia agar ternakannya kembali ke kandang.

Kita lalai, angkuh, lupa diri dengan sedikit kelebihan atau melanggar ajaran-Nya. Hadapilah dengan redha, sabar, tenang, bersegeralah bertaubat dan sujud pada-Nya.

Yakinilah, Allah tidak sesekali menzalimi hamba-Nya, Allah amat mencintai dan menyayangi diri mu. Insya Allah pada segala kesulitan itu akan datangnya kerahmatan.

“… dan Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hambaNya.”
(Fussilat: 46)

Wallahu ‘alam.

Semoga bermanfaat.

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Draft

Kalau jodoh harus dijemput, jangan pernah membuat orang yang kamu jemput itu menunggu. Jikapun terpaksa, tak perlu berlama-lama. Karena dia akan sampai pada jodohnya, dengan atau tanpa kamu. Kalau memang dia adalah jodoh kamu, kamu akan membersamainya. Tapi jika dia bukan jodoh kamu, tolong jangan jadi penghalang baginya untuk menemukan jodoh yang lebih tepat daripada kamu. Lakukan apa saja selama itu baik untuk mendapatkannya, tapi jangan pernah memintanya menunggu tanpa kepastian. Menunggu saja sudah melelahkan, apalagi ditambah dengan ketidakpastian. Tentu berkali-kali lebih melelahkan.

Kamu memintaku untuk bersabar atas nama cinta. Kamu harus tahu, tak mau menunggu bukan berarti aku tidak sabar. Aku hanya berusaha untuk bergerak dari satu takdir ke takdir lainnya. Dari seorang kamu ke laki-laki lain, yang semoga jauh lebih baik dan tepat untuk menggenapi hidupku kelak. Lagipula, perempuan yang cerdas harusnya menyadari, bahwa tidak semua laki-laki layak ditunggu untuk menggenapi hidupnya. Dan maaf, laki-laki yang tidak bisa memberi kepastian adalah salah satu golongan laki-laki yang tidak layak untuk ditunggu.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Dan menunggu adalah salah satu bentuknya. Aku juga ingin bilang, cinta itu tanggung jawab. Jadi jangan bicara tentang cinta jika kamu tidak berani untuk mengambil tanggung jawab atas kehidupan dunia akhirat perempuan yang katanya kamu cintai itu. Tanggung jawab yang selayaknya kamu ambil dengan menggenapi hidupnya. Bukan malah menghindar dari tanggungjawab yang kamu bungkus dengan kalimat; tunggu, sampai aku benar-bena siap. Laki-laki yang bertanggung jawab itu memberikan komitmen, bukan sekedar janji. Dan tak ada komitmen yang bisa berdiri kokoh di atas ketidakpastian.

Kamu bilang, cinta itu butuh pengorbanan. Mungkin ada benarnya. Tapi cinta yang tulus, tidak akan pernah menyakiti. Mungkin akan membutuhkan banyak pengorbanan, tapi pengorbanan yang membahagiakan. Bukan pengorbanan yang disesali. Dan tak ada bahagia-bahagianya perempuan yang menunggu laki-laki yang tidak memberi kepastian. Jikapun ada, itu sedikit sekali dibandingkan dengan rasa cemas dan khawatir yang dirasakan. Dan kebahagian yang sedikit itu juga bukan berasal dari proses menunggu, tapi dari proses berharap, yang rentan sekali mendatangkan kecewa.

Memang, tidak semua orang beruntung bisa memiliki orang yang dicintainya, tapi kita selalu bisa mencintai siapa yang sudah kita miliki. Memang, menyenangkan memiliki apa atau siapa yang kita cintai. Tapi kita bukan hanya bisa memulainya dari mencintai, kita juga bisa memulainya dari memiliki. Tak mesti mencintai dulu lalu memiliki. Bisa juga bisa memiliki lantas mencintai. Bahkan seharusnya, mencintai apa yang sudah kita miliki jauh lebih mudah daripada mencintai apa yang belum kita miliki. Dan aku tak mau hidupku jadi lebih rumit hanya karena ketidakpastian darimu. Jadi, selamat tinggal!

***

Kamu tahu, tidak semua perasaan layak untuk diungkapkan. Tapi perasaan selalu butuh pelampiasan agar menimbulkan kelegaan. Pelampiasan yang perlu dijaga agar tetap dalam koridor kebaikan. Seperti dulu, aku pernah melampiaskan segenap perasaanku kepada laki-laki kedua yang berproses denganku sebelum kamu. Laki-laki dengan kriteria selangit tapi tak bisa memberi kepastian itu. Dan sekarang, aku hanya tersenyum malu setelah tadi membaca email yang aku tujukan untuk laki-laki itu. Email yang masih tersimpan rapi dalam folder drafts. Tak pernah aku kirimkan. Well, menyembuhkan luka di hati sendiri, tidak bisa dilakukan dengan melukai perasaan orang lain, bukan? Bahkan jika orang itu adalah orang yang melukai perasaan kita. Semoga aku juga bisa begitu ke kamu; yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan.

©Nazrul Anwar, dalam ‘Genap’

Ada seorang lelaki, yang berkali-kali merasakan jatuh cinta. Dimana dia merantaukan kakinya, di situ dia menemukan cinta. Dia sudah pernah jatuh cinta pada gadis Jawa kala di Solo, gadis Sunda saat di Bandung, gadis Minang waktu dia di Bukittinggi, gadis Aceh sewaktu di Lhokseumawe dan gadis Dayak kala ditugaskan di Tarakan.

Dia menemukan satu rahasia di antara jutaan rahasia di dunia, bahwa kesukuan bukan lah penghalang untuk merasakan resah rusuh di dada yang disebut dengan cinta.

Cinta yang dia temui tidak lantas membuat dia membabi buta mengungkapkan rasa. Karena dia tahu, tak semua rasa harus diungkapkan pada makhluk.
Cinta-cintanya tersebut tidak ditindaklanjutinya melalui jalan pacaran dan juga tidak menuju jalan yang lebih serius. Saat itu dia belum siap.

Siap memang bukan perkara ukuran manusia. Tapi dia belum menemukan “klik” yang membuat hatinya yakin untuk singgah dengan sungguh.

Kini, langkahnya masih berlanjut.
Lantas kemudian, menuju tanah mana kah dia akan menambatkan hati?

Menunggu Kantuk

Terkadang isi kepala lebih egois dari mata. Bekerja lebih keras dari segala saraf dan tidak ada yang benarbenar lelap. Banyak korban jatuh ketika para pemuja malam letih membuat rencana. Waktu istirahat bukanlah lobang dan penghalang. Mereka dingin dan berbahaya. Sebelum berlibur dan hibernasi.

(Daunn Keringg, 2017)

Bukan sakinah yang menjadi tujuan pernikahan. Yang harus kita cari dalam rumah-tangga adalah barakah. Sakinah atau ketenangan itu merupakan buah pernikahan, ketika seorang laki-laki menikah secara sah dengan seorang perempuan. Dan ini merupakan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Maka do’a untuk kedua mempelai pun bukan do’a meraih sakinah, bukan pula do’a untuk memperoleh keharmonisan rumah-tangga. Kedua-keduanya akan hadir mengiringi pernikahan apabila suami-istri saling menegakkan pola hubungan yang baik (mu’asyarah bil ma’ruf), menjaga kewajiban-kewajibannya dan saling ridha di antara mereka.

Lalu apa yang sangat perlu kita perjuangkan dalam pernikahan? Barakah. Apakah barakah itu? Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin menunjukkan bahwa barakah berasal dari kata al-birkah yang bermakna tempat berkumpulnya air. Beliau menerangkan, “Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap. Diambil dari kata al-birkah (ﺍﻠﺑﺮﻜﺔ) yang berarti tempat berkumpulnya air. Dan tabarruk berarti mencari barakah.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan, “Barakah berarti kenikmatan dan tambahan. Sedangkan hakikat barakah adalah kebaikan yang banyak dan terus-menerus yang tidak berhak memiliki sifat tersebut kecuali Allah Tabaraka wa Ta’ala.”

Maka, sesiapa ingin meraih pernikahan yang barakah, ia harus melakukan tabarruk (mencari barakah) kepada yang memiliki kekuasaan penuh terhadap barakah, yakni Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Lalu, apa saja hal-hal yang perlu kita perhatikan agar Allah Ta’ala karuniakan kepada kita pernikahan yang penuh barakah? Apa yang dapat kita lakukan untuk tabarruk (mencari barakah)? Yang pertama, tidak ada jalan untuk meraih barakah kecuali dengan apa-apa yang telah dituntunkan oleh agama ini. Sungguh, tidak ada satu pun perkara yang membawa kepada surga dan mendekatkannya kecuali telah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan kepada kita. Tidak pula ada perkara yang menjauhkan kita dari api neraka, kecuali telah pula Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada kita. Maka, tidaklah patut kita mencari jalan untuk tabarruk, kecuali dengan apa-apa yang telah beliau shallaLlahu ‘alaihi wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam tuntunkan.

Apa hal pertama yang harus kita perhatikan? Niat. Tidak ada yang lebih penting dibandingkan niat ketika seseorang hendak dan sedang menunaikan suatu amalan. Bersebab niat, amalan kecil bernilai sangat besar di sisi Allah Ta’ala dan bahkan dijadikan sebagai teladan terbaik sepanjang masa. Bukankah amalan ashhabul kahfi adalah amalan yang sederhana? Hanya lari dan tidur panjang. Tetapi dua hal itu ditunaikan dalam rangka sesuatu yang paling besar dalam hidup, yakni menyelamatkan iman, menjaga agama, memelihara ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya bersebab niat pula, amalan yang sangat besar dan luar biasa berharga tidak bernilai pahala sama sekali, sedikit pun tidak, bahkan ia menjadi keburukan. Bukankah orang yang pertama kali masuk neraka justru orang yang berjihad di jalan Allah Ta’ala? Tetapi ia melakukan jihadnya bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla, melainkan untuk meraih pujian dari manusia. Padahal seseorang yang mati saat berjihad di jalan Allah dan niatnya semata karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka tidak ada yang diperolehnya kecuali surga tanpa hisab. Tidak ada penghalang baginya untuk langsung masuk surga-Nya Allah Ta’ala, kecuali karena hutang yang belum dibayar. Maka, berhati-hatilah terhadap hutang. Dan pelajaran yang paling berharga adalah tentang niat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya ‘amal perbuatan itu bergantung pada niatnya. Sesungguhnya setiap orang itu mendapat sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka pahala hijrahnya adalah pahala hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsi¬apa berhijrah karena ingin mendapat dunia atau karena wanita yang akan ia nikahi, maka ia hanya akan mendapatkan apa yang dituju.” (HR. Bukhari & Muslim).

Seseorang dapat berhijrah karena ingin mendapatkan wanita yang dicintainya. Sebaliknya, seseorang dapat melakukan pernikahan justru karena ingin memuliakan sunnah dan menyiapkan ladang amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai. Semakin bertambah usia kita, semakin perlu kita berusaha lebih gigih agar amalan-amalan yang kita kerjakan adalah amal shalih yang Allah Ta’ala ridhai. Ini berarti, kita perlu mengilmui agar amal shalih yang kita tunaikan benar-benar Allah ‘Azza wa Jalla ridhai. Dan para ulama menunjukkan bahwa ilmu merupakan salah satu pintu meraih barakah. Tanpa ilmu yang haq, kita tidak dapat mendidik niat, tidak pula mampu melakukan amal shalih maupun ibadah dengan benar sesuai tuntunan.

Sesungguhnya agama ini telah memberi tuntunan tentang bagaimana memulai dan merawat pernikahan. Inilah yang perlu kita ilmui; hal-hal yang patut kita kerjakan dan lebih-lebih urusan-urusan yang wajib kita tunaikan. Kita perlu mempelajari dengan sungguh-sungguh seraya tetap berusaha memperoleh tambahan ilmu. Kadang yang membuat kita kebingungan bagaimana cara melakukan sesuatu dengan baik bukan karena tidaknya ada panduan, bukan pula karena tidak jelasnya petunjuk, tetapi semata karena kita yang tidak mengetahui atau tidak memahami petunjuk yang jelas itu dengan matang.

Ingin berbincang lebih panjang tentang apa saja yang menjadi pintu barakah pernikahan. Tetapi dalam kesempatan yang singkat ini, cukuplah yang ringkas dulu. Semoga ada masa untuk melanjutkan perbincangan.
—  Mohammad Fauzil Adhim

Utk lelaki yang sudah menikah dan akan menikah katakan hal ini pada istrimu:

“Tugasku membawamu ke surga. Tapi tolong bantu aku memuliakan Ibuku. Karena surgaku, ada padanya”


Istri dan calon istri yang baik akan slalu mendukung suami memuliakan Ibunya. Karena suatu saat diapun akan menjadi seorang Ibu & berharap dimuliakan oleh anak-anaknya…

Jangan sebaliknya menjadi penghalang suami berbakti pada Ibunya. Kamu harus tahu, bahwa dalam Islam seorang anak lelaki tetap wajib bertanggung jawab pada Ibunya…Sampai kapanpun.

Jadi adalah sebuah kejahatan luarbiasa dihadapan Allah jika karena ulahmu…Seorang anak menjadi lupa dan tak berbakti pada Ibunya.


Akan sulit membangun kebahagiaan rumah tangga tanpa cinta pada orang tua Khususnya Ibu. Sebaliknya sepasang suami istri yg memiliki kepedulian tinggi pada Ibu dan Ibu mertuanya akan Allah angkat derajatnya, Allah berikan kemudahan dan pertolongan dari segala ujian. Pernikahannya dipenuhi keberkahan dan kebahagiaan.


Dan untuk istri/calon istri saya beri satu info rahasia untukmu…Seorang suami akan semakin mencintaimu, berlipat kali…Jika kamu menunjukan kepedulian dan mendukung suami untuk peduli berbakti pada Ibunya. Dan seorang suami pun akan semakin berkah dan indah hidupnya jika menunjukkan kepedulian kepada orang tua istrinya.
Inilah indahnya Islam…


Jadi Niatkan Pernikahan kita menjadi jalan kebahagiaan bagi orang tua. Bukan sebaliknya, menjadi ajang pelarian…Menjauh dari orang tua.


Sungguh….Tak kan pernah bisa membalas jasa-jasa orang tua kita terutama Ibu. Hanya bisa belajar dan berusaha….

Maaf bukan ingin menggurui, hanya mengajak untuk sama-sama belajar satu hal penting yg mungkin sedang atau akan kita alami.

source text : lupa ini nasehatnya siapa 😁💐 ~ lagi lagi nemu di notes hp.

YANG DILAKUKAN SETELAH PROSESI PERNIKAHAN

>> Apa yang dilakukan pengantin setelah acara akad nikah? Barangkali kita bertanya-tanya tentang “ritual” yang musti ditempuh. Bukankah semuanya telah menjadi sah bagi kedua belah pihak? Ya. Akan tetapi, Rasulullah mengajarkan sunnah-sunnah yang hendaknya dilakukan pengantin setelah akad nikah, agar pernikahan menjadi lebih berkah.

>> Seusai acara akad nikah dan walimah (jika prosesi walimah dilakukan dalam waktu yang bersamaan), hendaknya pengantin laki-laki dan perempuan masuk ke kamar pengantin, berdua saja. Inilah yang disebut “khalwah” yaitu berkumpulnya istri dan suami setelah akad nikah yang sah, disuatu tempat yang memungkinkan bagi keduanya untuk bercengkerama secara leluasa, dan keduanya merasa aman atau terjamin dari datangnya orang lain. Pada mereka berdua tidak ada sesuatu penghalang yang bersifat alami, jasmani atau syari.

>> Setelah mereka berdua, hendaknya melakukan hal berikut:

1. Suami mendoakan istri.
Diantara sunah kenabian adalah, suami mendoakan istri ketika bertemu setelah terjadinya akad.
> Caranya adalah dengan meletakkan tangan kanan suami ke kening istri (ubun-ubun), sembari mendoakan, “ Aku mohob perlindunganmu Ya Allah dari kejahatannya dan kejahatan naluriahnya” (H. R. Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah)
> Secara spiritual, mendoakan istri dengan memegang keningnya memiliki makna pengokohan posisi suami sebagai teladan dalam rumah tangga, karena ia pemimpin dan karena ia mengucapkan doa bagi istrinya terlebih dahulu. Hal ini akan mengukuhkan eksistensi suami dan memberi tanggung jawab moral yang besar, bahwa dirinya dituntut untuk menjadi teladan dalam kebaikan.
> Disisi lain, tuntunan ini memberi penguatan makna bahwa pernikahan yang mereka lakukan dimaksudkan untuk menghimpun kebaikan. Diawali dengan doa permohonan kepada Allah agar menjadi sebuah semangat untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan dijauhkan dari keburukan.

2. Sholat sunah bersama.
> Suami dan istri hendaknya melaksanakan shalat berjamaah dua rekaat, dengan suami sebagai imam. Hal ini membuat awal yang baik dalam kehidupan rumah tangga mereka.
> Diriwayatkan oleh Abu Said, budak Abi Said, ia berkata bahwa ia menikah dan mengundang para sahabat. Kemudian pada sahabat itu mengajarkan kepadanya, “Kalau engkau masuk menemui istrimu, shalatlah bersama dua rakaat, kemudia mohonlah kepada Allah agar dianugerahi kebajikan dan dilindungi dari kejahatan. Setelah itu, terserah engkau dan istrimu”.

3. Hubungan suami istri. Hubungan suami istri tidak mesti dilakukan pada saat pertemuan pertama tersebut. Pada prinsipnya, hubungan suami istri dilakukan ketika sudah ada kesiapan penuh kedua belah pihak.
> Islam menghendaki hubungan suami istri adalah bagian yang utuh dari ibadah, sehingga diperlukan etika dalam menunaikannya. Diantaranya adalah dengan doa yang dibaca suami istri sebelum mereka melakukan hubungan:
“Dengan nama Allah, ya Allag jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan itu dari anugerah yang akan engkau berikan kepada kami”
> Dengan doa ini, menunjukkan bahwa mereka berdua menanfaatkan kenikmatan yang Allah berikan dalam kebaikan. Hubungan yang mereka lakukan bernilai ibadah.“
> Etika yang lain dalam melakukan hubungan suami istri adlah kebebasan dengan tetap menjaga kesopanan. Maksudnya kesopanan disini adalah dilakukan ditempat yang tertutup tanpa ada orang lain yang melihat.
> Pasangan suami istri bebas mengekspresikan kegembiraan dan bersenang-senang antara satu dengan yang lainnya
> Allah berfirman, "Istri-istri kalian itu seperti sawah ladang kalian. Maka, datangilah kadang kalian dari arah manapun yang kalian suka.”.
> Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada ketentuan hubungan suami istri harus seperti ini atau seperti itu, adalah keduanya tidak saling menyakiti.
> Etika berikutnya adalah memulainya dengan sendau gurau dan pendahuluan. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian berhubungan suami istri sebagaimana binatang, tetapi hendaklah didahului dengan pemanasan. Seorang sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah apakah pemanasan itu? Beliau menjawab, ciuman dan cumbu rayu.” (H. R. Dailami)
> Hal ini berkaitan dengan fitrah laki-laki dan perempuan. Hendaklah dalam melaksanakan hubungan suami istri dapat dinikmati bersama, bukan sekedar kewajiban seorang istri melayani suami.

Sekian materi kita hari ini, semoga bermanfaat. (rm)

>> Sumber: Disarikan dari tulisan Ust. Cahyadi Takariyawan.

..::KULIAH SUPERMOM WANNABE::..
Edisi #Merriedbydesign 8 Mei 2015

..Follow us..
> Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
> Twitter: @supermom_w
> Fanpage FB: Supermom Wannabe

Rahasia Hati Sang Ratu Zam zam

Setelah berbulan-bulan menunda membaca buku ini, akhirnya semalam saya kembali membacanya. lalu diberikan beberapa paragraf yang entah mengapa dari sana timbul sesuatu yang menambah keyakinan dan kekuatan dihati saya.

Dan saya ingin mengabadikan beberapa paragraf ini, agar esok atau lusa saya dapat diingatkan dan dikuatkan kembali.

Aku semakin memahami dengan pasti bahwa seiring dengan bertambahnya usiaku, dengan bertambah tinggi dan besar tubuhku, seharusnya aku lebih memperhatikan pakaianku. Hanya saja, kadang-kadang kehidupanku yang penuh dengan pekerjaan berat dan yang selalu menuntutku untuk lebih gesit dan tangkas sering membuatku tak sadar untuk memperhatikan pakaian yang dapat membuatku terhormat, anggun, mulia, serius, dan menjaga jarak dari setiap orang yang bukan mahram. Bahkan, terkadang aku merasa kesusahan untuk mengindahkan akhlak mulia ini.

Namun, setiap kali aku terlihat kesusahan, setiap kali itu pula Sarah memberiku keyakinan untuk selalu berteguh hati.

“Tuan kita, Nabi Ibrahim menginginkan kita untuk tetap berakhlak seperti ini.”

Saat itulah aku mengerti bahwa akhlak dalam berpakaian adalah perintah tegas meskipun disampaikan dengan sangat sopan oleh Sarah. Di perkampungan Nabi Ibrahim bersama dengan umatnya yang berada di lembah ini, tidak seorang lelaki pun yang akan memandangi wanita lain yang bukan mahramnya dengan pandangan sengaja.

Setiap orang berjalan dengan selalu menjaga pandangannya. Tidak ada seorang laki-laki pun yang mengumbar pandangannya dengan kedua matanya terbelalak. Semua orang menjalankan ajaran yang telah disampaikan Nabi Ibrahim. mereka hidup dengan penuh tata krama dan menjaga harga diri keluarganya.

Meskipun demikian, tidaklah akhlak berpakaian ini dijadikan sebagai hal yang berlebih-lebihan. Terlebih lagi memang setiap lelaki mendapati tanggung jawab dan beban pekerjaan yang berbeda dengan kaum perempuan. Setiap pekerjaan telah diatur serta dibagi sesuai keadaan dan kemampuan setiap orang.

Tidak ada yang kaku, memaksa, dan kejam dalam akhlak berpakaian ini. Bahkan, pada masa-masa itu telah dijembatani toleransi dan kehidupan saling tolong di antara sesama umat, baik lelaki maupun perempuan.

Wanita keluarga Nabi Ibrahim selalu menjadi orang yang paling depan memberi contoh ketegasan akhlak berhijab dengan toleransi yang paling sempurna. Dalam berpakaian, kami selalu berhati-hati, lebih menjaga diri daripada umat lainnya.

Aku juga merasakannya bahwa berhijab bukanlah sebuah paksaan yang menindas, bukan pula sebuah pengecualian yang tidak adil. bahkan sebaliknya, dengan mengindahkan akhlak berhijablah kami semakin menjadi orang yang terhormat, yang suci secara jiwa raga dan batin. Dan, Akhlak berhijab ini tiada lain adalah sebuah kehormatan yang memberi arti betapa diriku sangat dihargai.

Dengan akhlak berhijab ini, aku juga mendapatkan pemahaman akan kesesuaian makna antara bentuk pakaian dan hakikat yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya yang terpenting adalah makna di balik hijab itu sendiri, yaitu makna batiniah yang tersimpan di dalamnya.

Hijab itu ibarat kata-kata yang menerangkan hakikat batin di baliknya. Ia ibarat lidah yang mengungkapkan batin seseorang. Lebih dari itu, hijab juga memegang pesan dan makna bahwa ada batasan pada diriku yang tidak boleh dipandang oleh sembarang orang.

Berhijab memiliki makna sebagai jati diri, kekhasan, dan kekhususan. Satu hal yang hanya khusus untuk dirinya, yang tidak boleh diterjang oleh siapa saja, dan juga sebagai makna privasi dan kemerdekaan seorang wanita.

Hijab berarti sebuah identitas. Tanda sebagai kaum wanita mulia dari umat Nabi Ibrahim. Semua orang pun akan mengetahuinya karena ia adalah pembeda, syiar, dan identitas.

Menurutku, hijab itu lebih dari sebatas identitas sebagai umat Nabi Ibrahim. tapi juga sebagai kebanggaan dan kehormatan yang tiada tara. Bagiku, hijab lebih dari itu karena ia memiliki makna dan pesan perjalanan untuk mencapai kesempurnaan derajat dan kemuliaan ruh.

Mungkin ialah pemahamanku tentang hijab yang lebih dikuatkan oleh pengalaman pedihku sebagai wanita yang telah mendapatkan perlakuan keji dan hina. Seseorang tidak bisa dinilai hanya sebatas melihatnya dari luar dan dari kejauhan.

Dalam hal ini, hijab memberikan pesan agar penilaian dan pemahaman akan keutamaan serta kemuliaan seseorang dinilai dari batinnya, dari jiwanya yang terdalam, dan dari ruhnya yang tidak seorang pun bisa melihatnya dengan kasat mata. Kemuliaan akhlak yang tersimpan di balik hijab haruslah didapati dan dimengerti.

Detak hati terketuk pada hijab dan apa-apa yang tersimpan di baliknya. Sebagaimana Allah, yang maujud di balik tirai, tirai, tirai, dan tirai.

Adalah cinta yang ada di balik hijab. Adalah keindahan yang mengajarkan kesabaran dan kelembutan. Di balik hijab, tiada wajah wanita yang tua. Meskipun demikian, hijab itu sendiri hanya akan engkau sukai sepanjang engkau bisa memahami dan merasakannya dengan ruhmu.

Hijab adalah penghalang dan tirai dari pandangan mata, sementara di balik tirai itu ada cinta. Untuk itu, bersabarlah dengan hijab yang dikenakan oleh kekasihmu, agar cintanya tetap segar dan tidak akan layu.

Bersabarlah, karena hijab adalah batasanmu untuk menanti penuh rasa hormat dan segan.

Bagi siapa saja yang mencintai dengan sesungguhnya, pastilah akan rela menantinya.

Bersabarlah~

23.07.16 “Hajar” oleh Sibel Eraslan.

miftahulfikri  asked:

Halo, mbak. Kemarin aku sempat tertohok oleh bahasan teman-temanku soal pacaran. Menurut mereka, ada fase dimana kita "pacaran segan, menikah tak mau" yang mungkin saja sebagian orang pernah mengalaminya. Mereka sudah lelah dengan berpacaran yang hanya memenuhi hasrat pemenuhan lifestyle saja, sekedar biar keren dan dibanggakan, tidak dibilang jomblo, atau cuma bisa sekedar diterima di lingkungan pergaulan. Tetapi bila disarankan menikah, mereka juga tidak siap. Bagaimana pendapat mbak soal ini?

Halo, mas.

Pada suatu masa semua orang pasti akan terseret ke dalam situasi seperti itu; situasi yang tidak mengurung, tapi orang-orang terjebak di dalamnya. Mereka memilih untuk berdiri tepat di tengah-tengah dua pilihan tersebut: tidak ingin maju juga tidak ingin mundur. Karena jika mereka maju (menikah) atau mundur (putus), mereka akan dihadapi dengan “persoalan” baru.

Ketidaksiapan adalah penghalang segalanya. Ada yang masih ingin bermain-main, masih mengisyaratkan ragu, atau takut mengemban tanggung jawab. Sebagai manusia biasa, wajar jika kita merasakan semua hal itu. Tapi sungguh, siapa yang bisa menentukan kesiapan hati, jika bukan kita sendiri? 

Aku rasa, sejentik rasa penyesalan itu pasti akan selalu ada, walau kita telah memutuskan untuk berjalan ke arah yang paling benar sekalipun. Tapi inti dari setiap keputusan adalah kita sadar bahwa kita tidak bisa menggenggam dua hal sekaligus. Apapun yang telah kita pilih, pada masanya itu adalah hal yang paling melegakan kita.

Pada akhirnya, keadaan akan memaksa kita untuk siap. Pada akhirnya, bertahan pada kondisi seperti itu hanya akan membuat kita semakin lelah. Manakah pilihan yang tepat, kita memang tidak pernah tahu itu. Kita akan tahu hanya setelah kita mengalaminya. Tapi jangan pernah merasa kita telah salah memutuskan.

Cepat atau lambat, mau atau tidak mau, semua orang pasti harus memilih.