pendar

Pendaran lilin
External image



Jikalau hari ini tk hujan, mungkin aku tak bisa menikmati kolak buatan mama dengan khusyuk bertiga. Aku, Mama, dan si manis adikku Nisa. Pendaran lilin menghangatkan suasana. Temaramnya membuat kita semakin akrab.

Andar pelas ruas cinzentas, sozinha, quem nunca fez? E a cada passo pensar nas coisas que mudaram e nas que, infelizmente, não aconteceram. Olhar para trás e ver suas pegadas nas areia desaparecendo pelas ondas do mar, que sem hesitação nenhuma, fizeram questão de apagar. Imaginando como seria seu futuro, lamentando pelo passado e com a mais forte das orações desejado que presente melhore. (JulianaMandim)

Rintik Pertama

Kepada kamu yang sering buatku cemburu

Aku sudah tiba di Yogyakarta. Kota yang memancarkan damba, kota yang membawaku kepadamu kali pertama. Di kotamu itu, kujelajahi semesta, ke semua arah yang senantiasa bermuara, ke matamu. Sepasang berbunga manakala menyimakku bercerita. Kubuat jejak, tempat di mana puisi-puisi kita akan berpijak. Kemudian hendak kulayari satu-satu, gemeretak detik di antara detak-detak itu.

Malioboro tidak pernah sepi, sama seperti pikiranku. Bertumpuk-tumpuk hal berebut sisi. Berjubel sampai bingung cara mengemasi. Ajaibnya, kamu selalu mendapatkan ruang, tidak peduli seberapa banyaknya kalut berdesakan. Konon, pertemuan adalah sebuah perayaan. Bagaimana dengan kehilangan? “Aku tidak ingin mengenalnya,” kamu berbisik suatu ketika. Kurasa, melepas dan memiliki hanyalah kesepakatan yang banyak orang buat sendiri. Nyatanya, tidak banyak yang pernah benar-benar mengerti.

Aku tidak tahu terjebak di antara yang mana, yang aku tahu aku bohong jika aku bilang aku tidak butuh kamu saat ini. Aku bilang saat ini bukan nanti. Tetapi dalam kata semenjak, kamu seakan mengarak pendar-pendar nanti yang (sebenarnya) tidak kupercaya pasti. Ya, semenjak kamu mengatakan akan selalu memboncengku nanti, semenjak aku mengatakan aku tidak bisa mengendarai motor sendiri.

Sudah Februari. Sudah hujan. Sudah rindu. Sudah bertemu. Meski saat berada di kotaku, aku sering cemburu. Aku cemburu pada rintik yang sanggup menyentuh tanganmu lebih dulu. Aku cemburu pada rerintik yang kautulis lebih dulu.


Ditulis saat sedang hujan dan cemburu.

Irawati Ningsih
05 Februari 2016

Mercusuar

Jauh kulihat bayang tinggi menjulang
Menembus awan di pekatnya malam.
Deru ombak memecah tiap lekuk karang
Mengaburkan bayang yang kian retak

Lalu angin mengabarkan
Pendar bulan menghilang dibawa bayang
Kepakan burung kian riuh
panik dikepung gelap yang mencekam

Aku masih berdiri,
Meneriaki hitam yang menjauh,

Mataku bulan,
Telingaku karang,

kau biarkanku sepi

#dindingkamarmu

Teluk Sumbang, 23 Januari 2016

Sesekali kepalanya limbung, berdiri, saat tegak, kepalanya mulai bergoyang kanan dan kiri. Ia berdiri, menikmati putaran otak yang membuatnya pusing. Tengkoraknya seperti tidak mampu menahan dentuman keras dari dalam otaknya. Kondisinya, masih belum membaik, mungkin saja, ia memburuk.

Satu pil obat pereda demam ia tenggak bersama air dan endapan kapur. Dengan gelas berwarna merah muda, ia habiskan air kapur dan satu tenggakan memasukkan obat kedalam lambung, kini tinggal tunggu reaksinya. Berbaring lah ia di lantai kayu, persis di depan sebuah televisi, di balik punggung sang pemilik rumah. Pendar lampu putih membuatnya semakin linglung. Beberapa kali ia mengerjapkan mata, beberapa kali juga ia menguap, tak sampai 15 menit, obatnya bereaksi. Ia tak pernah selemah ini, biasanya pil pereda demam yang menyerah padanya. Pun saat ini, hal itu pengecualian, karna yang terjadi adalah sebaliknya.

Satu tarikan dan hembusan, satu pejaman mata, ia tertidur. Dengan posisi tangan menjadi bantalan kepalanya sedang bantal tidur berada di kakinya. Sang pemilik rumah hanya bisa tertawa melihatnya yang tertidur dalam posisi seperti itu.

Belum sempat ia menyambut mimpi, baru saja ia sampai di pintu gerbang, matanya terbuka. Melihat sosok lelaki di daun jendela, tembus pandang, karena itu hanya sebuah kaca yang bening.

Ternyata, ia sempat tertidur akibat reaksi obat. Kini tarian di kepalanya hilang bersamaan dengan kelopak matanya yang terbuka.

Ia hanya seorang teman yang singgah, mencoba bertanya kabar dan bagaimana prosesnya dengan suku asli teluk ini.

“Mari lanjutkan apa yang kemarin kita mulai.” Kata sosok lelaki itu.

Mereka berdua memang sudah bertemu sejak lama, kenal sejak kali pertama ia menapak di teluk ini. Kemarin, pagi-pagi sekali, mereka bertemu, berbicara mengenai sesuatu yang di impikan teluk ini. Dan, ya. Malam ini ia datang untuk menyelesaikan mimpi itu.

Belum habis mimpi itu di babat, seorang lelaki kembali singgah di rumah ini. Kini, mereka berempat, bersama dengan sang pemilik rumah.

Ia yang datang adalah ia yang dulu pergi tanpa pamit. Ia yang pergi, pamit dengan sekelumit tanda tanya, bahkan, dulu itu dianggap sebuah candaan saja.

Ia datang jauh dari tempat dimana ia mencari setitik cahaya matahari. Dimana ia, mencari sesuap nasi.

“Aku datang karena mendengar kabarmu, kudengar bahwa kamu menapakkan lagi kakimu disini.” Ucapnya bersama semilir angin yang meniup dedaunan milik pohon kelapa diluar sana.

Mereka, berdua, adalah orang-orang yang di pertemukan disini, di teluk ini. Mereka berdua, menjadi akrab di tempat ini. Bertukar canda, bertukar tawa, dan saat ini mereka sedang bertukar derita.

Entah, ia hanya duduk, bercerita tentang 6 petualang lainnya yang tak bisa datang kemari. Ia, juga merasa apa yang dirasakan para borneo yang merindukan rimbanya di jelajahi para petualang. Ia pun, ingin, teman-temannya hadir bersama dengannya. Kembali, mengabdi untuk ibu pertiwi di hujung tanah etam. Sungguh, ia tak hanya ingin membawa kabar, ia juga ingin membawa raga teman-temannya kemari.

Bahkan malam pun merindu pada mereka.

Ku tulis ini hanya dengan penerangan cahaya ponselku, dengan satu headset yang menempel di daun telingaku.

Lagi, setiap malam, aku mendengar suara matahari. Beberapa kali, aku membuka catatan harian ku ketika berada di teluk ini, dan hampir di setiap catatan, tertulis nama matahari.

Entah, bahkan jauh sebelum ini, aku begitu yakin. Pun, di tengah jalan, di persimpangan itu, keyakinanku redup. Dan saat lentera ku dapat di tanah ini, persimpanganku tak lagi gelap. Aku pikir, seseorang memang harus berhenti berlari, mengambil sedikit nafas, berjalan pelan, sebelum mengambil ancang-ancang untuk kembali berlari. Tidak, kamu tidak berhenti berlari untuk mencapai garis akhir, hanya saja, terkadang, bila memang tidak mampu maka tidak harus dipaksakan. Bahkan untuk mencapai tujuan, kamu harus berhenti sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan, bukan? Hanya saja, aku pikir, perjalananku yang semula bersamamu kini aku lanjutkan sendirian. Kamu tidak tertinggal di belakang, hanya mungkin, kamu sedang beristirahat lebih lama. Aku yakin, saat aku beristirahat di depan sana, kamu akan menyusulku kembali. Ya bukan? Bukan kah begitu? Aku mohon, jawab saja, “iya.”

semesta merebahkan malam. menutup lembar cerita.
satu hari telah usai, dan akan dibuka lagi cerita esok.
————————————–
Engkau pendar temaram dalam gelap yang menyilaukan nirwana
menyibak petang selaksa peruntuh embun dalam kabut gulita
Engkau hangat dalam tenggelamnya mega di ujung buana
menggiring berputar terpusara dalam bundar samudra
Engkau dingin sisa hujan semalam,
dirindukan pemilik kemarau cinta pun savana ilalang tak bertuan
Engkau dimensi waktu yang tiada pernah ku ketahui denting jarumnya
menunggu malam kembali dalam peraduan, hingga fajar menjelang dan ku dapat bersua.
Engkau getar pertama usai gerimis reda saat tampias diatas genting tersibak jatuh mengguyur siapa saja yang dibawahnya
Engkau melodi nyiur terhempas gelombang dalam , lirih mengalun sendu dalam infrasonik pengaduhan.
Engkaulah ketiadaan yang aku semogakan. Tuan.