pendar

Arti Senyummu

Aku menulis ini, dengan harapan kau bisa membacanya, lalu tersenyum seperti biasa.

Kau mungkin tidak tahu, seberapa kuat arti sepotong senyummu. Ada yang pelan-pelan kubangun dari senyummu, hingga pendar cahaya bulan tak mampu menutup segumpal rindu yang menggantung di depan mataku.

Ada banyak kertas-kertas yang kulontarkan begitu saja, menjadi sebuah kegagalan yang kuterima ketika berharap hati bisa lebih tenang menulis puisi untuk rindu yang tengah bertandang.

Aku harus mengeluarkan semua isi kepalaku hari ini, dan menghancurkan tembok yang kubangun di benakku yang tinggi. Sebab aku mulai kehabisan tempat untuk senyummu.

Aku tidak peduli, jika yang tidak berkepentingan membaca ini, dan kata-kataku, menjadi kata-kata mereka. Mungkin aku harus menerima bahwa yang tengah rindu, tidak hanya aku.

Dan jika esok, aku terlihat sedikit memaksakan diri. Ingatlah bahwa kehilangan senyummu, bisa membuatku sebegitu gila. Maka tersenyumlah lagi untukku, seperti seakan-akan menjadi hari terakhir kita bertemu.

Kau

Kau datang
Menatapku
Membawa serta semilir angin
Yang datang dari kedua matamu

Bibirku bergumam
Bernarasi tentang anggunmu
Bergumam bak penyair jalanan
Memujamu di antara malam;
di sela pendar bintang-bintang

Kau cantik
Bukan karena parasmu
Bukan karena kedua matamu yang bening

Kau cantik
Karena kau adalah kau;
perempuan yang mengikat kepalaku
Bersama serpih-serpih harapan
Yang sedang kususun perlahan-lahan


|| Ruang, 20 Februari 2016, 02.15 ||

A mí me cuesta mucho confiar en la inteligencia de las personas que pasan mucho tiempo en el gimnasio. Claro, no digo que yo sea un divulgador científico o un filósofo empírico, es que, alguien que pasa ejercitando demasiado sus músculos ¿A qué hora tiene pensamientos que lo lleven a sentir curiosidad por otro lado? Bueno, yo no podría estar cuidando todo lo que como ni verme al espejo doce o quince veces al día para creer que mi cuerpo es todo lo que le da valor a mi humanidad. He intentado hablar con los tipos musculosos, igual, no creo que a ellos les interese pensar, imaginar un personaje, hacer una poesía, transferir la mirada hacia las redes del macro cosmos, así como a mí no me interesa el conocimiento de suplementos alimenticios o sentir que poseo autoestima porque la gente mira mis hombros o mi trasero. En fin, en todo caso, claro que es bueno hacer ejercicio de vez en cuando.
—  Memorias de un músico que se convirtió en escritor, Quetzal Noah
Aku titipkan rinduku pada sepanjang jalanan yang kau lewati setiap sore tiba, asap yang mengepul dari setiap kendaraan yang lajunya melawan pendar lampu-lampu kota itu adalah hal-hal yang kubiarkan menumpuk dan tak kunjung kuutarakan, kau tahu, seringkali rindu sepekat itu
Sebuah Alasan Untuk Tidak Menangis Karena Perpisahan

Masih ingat,
ketika itu senja masih lugu, dan daun-daun yang gugur digembala angin muson, menuju musim penghujan–tempat petrichor dihujani pujian.

Sore itu kita bertemu, dan dua cokelat panas membungkam suara kita. Atau sebenarnya, khawatirku yang tak mau bicara. Aku tak bisa membedakan, karena yang kutahu, aku hanya ingin diam dan mencuri aroma tubuhmu tanpa jera, selagi bisa. Sebab memang, jika harus dipaksa bicara, hanya harapan yang akan tersampaikan, dan kutahu, itu tidak akan membuatmu nyaman.

Sore kala itu cukup dingin, dan kain rajut hadiah dariku yang membalut tengkukmu, kuharap bisa menyampaikan hangat, yang mungkin tidak pernah sempat aku berikan. Karena bagaimana jika, sore ini adalah yang terakhir kalinya kita berjumpa? Sebisa mungkin, aku harus siap dengan kemungkinan itu, bukan?

Lalu perlahan, sang surya mati dengan jemawa, diselimuti pendar cahaya, di mata yang terlalu takut menunjukan yang sebenarnya. Senja pergi bersama kesedihan yang tertahan.

“Tak boleh ada airmata untuk sebuah perpisahan”, kata hatiku.

Entah siapa yang pantas dikatakan pergi, kau yang akan menikah dengan seseorang yang kau pilih, atau aku yang tetap menjadi pecundang, bahkan sampai di kesempatan terakhir yang kumiliki. Tapi yang kutahu, cinta seharusnya membahagiakan, bukan? Maka kubiarkan kau bahagia dengan pilihanmu.

“Sampai kapan, kita akan diam begini?”, katamu, membangkukan lamunanku.

“Kau masih ingat awal perkenalan kita?”, tanyaku, terkejut.
“Iya, waktu itu aku masih siswa baru, dan tersesat di koridor sekolah hahaha!”, kau tertawa. “Lalu kamu datang dengan sikapmu yang dingin, menarik tanganku, dan membawaku ke dalam kelas. Waktu itu kamu ketua kelas, kan?”, lanjutmu. Aku hanya bisa tersenyum. Lalu kau terdiam, menatap bias lampu jalan lewat jendela.

“Aku rindu situasi kala itu”, katamu.
“Aku juga rindu, setiap perbincangan kita di atap sekolah”, sahutku.

Seketika itu juga, kau menatap mataku dalam. Ada pertanyaan yang tak dapatku terka di kerut keningmu. Kita sama-sama diam.

Lalu perlahan-lahan kau melepas gelang akar yang pernah kuberikan, dari lenganmu.
“Ini aku kembalikan, maaf, kamu tidak berhasil membuat takdirmu sendiri”. Katamu . “Jaga dirimu baik-baik”. Sambil memakaikan gelang itu di lenganku. “Aku pamit”.

Beberapa tahun yang lalu, di sebuah atap gedung sekolah. Langit begitu cerah kala itu, dan mukaku semerah saga ketika memakaikan gelang akar yang kubuat, di lenganmu.

“Aku akan membuat takdirku sendiri. Kelak, kita akan menikah, dan untuk sementara biarkan gelang ini mengikat nadimu, sampai kamu menjadi takdirku”, aku tersenyum kala itu, dan meninggalkanmu di atap dengan sebuah tanda tanya.

Hari ini,
aku berdiri tepat di hadapanmu. Gaun biru dan kulit putihmu, serupa langit dan awannya. Perlahan tapi pasti, hanya tinggal beberapa langkah lagi, kau akan pergi meninggalkanku dengan sebuah tanda tanya.

“apa kau bahagia?”.

Senyummu merekah, seakan mengajakku untuk ikut bahagia. Dan tanpa disadari, aku menyambut senyummu, tanpa resah. Nyatanya kau berhasil memberiku alasan, untuk tidak menangis karena perpisahan.

Tepat seperti pertemuan terakhir kita, beberapa hari yang lalu. Ketika senja telah ranum, bersama dua cangkir cokelat panas, dan sedikit pandang yang berbalas, kau melepas gelang akar yang pernah kuberikan.

“Ini aku kembalikan, maaf, kamu tidak berhasil membuat takdirmu sendiri”. Katamu . “Jaga dirimu baik-baik”. Sambil memakaikan gelang itu di lenganku. “Aku pamit”.

“Baiklah, tapi berjanjilah kepadaku untuk terakhir kalinya, beri aku satu alasan untuk tidak menangis karena perpisahan”. Aku menahan lenganmu yang hendak beranjak. Kau hanya tersenyum lirih, dan pergi.

Dan senyummu hari ini, mungkin untuk terakhir kalinya. Tapi alasanmu tersenyum, akan menjadi alasanku untuk tidak menangis karena perpisahan.

“Terima kasih, telah menepati janji”, kataku lirih, sebelum akhirnya aku pergi.

andhikahadip
Jakarta, 2016

Kemari, Mendekatlah

Kemari, mendekatlah. Kita rayakan rindu yang mampu kita redam. Jarak berkilometer mampu kita persingkat, dalam doa.

Kemari, mendekatlah. Kita tenggelamkan rindu yang pendar bercahaya. Jarak berkilometer mampu kita hempas karena cinta.

Kemari, mendekatlah. Akan kupenuhi sela jemari tangan kirimu dengan ketulusan tidak meninggalkan. Bertahan mempertahankan, kita masih, kan?

Kemari, mendekatlah. Akan kupenuhi rongga dadamu dengan pahatan namaku yang akan sulit engkau lupakan. Namamu pun begitu, masih memenuhi aliran nadiku.

Kemari, mendekatlah, sedekat detak ke detak. Melalui senyumku akan kupekerjakan jantungmu jauh lebih banyak dari biasa; hingga aku selalu kau hadirkan di setiap debar-debar.

Kemari, mendekatlah. Biarlah setiap titik saling temu, bersatu. Menyusun garis, pematang kenang. Kita titi bersama, sepanjang jalan tercipta, cinta.

Kemari, mendekatlah. Akan aku sajikan setangkup malam dengan binar bintang tumpah ruah, dengan tawaku paling renyah. Kau akan kubuat jatuh berkali-kali, hingga untuk berdiri dan berlari meninggalkanku kau tak kuasa lagi.

Kemari, mendekatlah. Dalam tatap bola matamu, aku kembali bermula, kulihat rumahku. Rimbun oleh teduh pohonmu. Dalam kecup manismu, aku takluk tertekuk.

Kemari, mendekatlah. Dalam hangat dekapmu, aku tak mau kemana-mana. Ada yang menentramkanku di sana; debar merdumu.

Kemari, mendekatlah. Dalam dekapmu, aku melepas kehilangan yang akan kembali lagi bila ruang waktu dan jarak mulai menyesak di antaranya. Maka di pintu hatimu, untuk satu sudut di dalamnya, kujanjikan lukisan hidup. Dengan setiap detik yang kupunya.


Ditulis bersama @aksarannyta

Bandung - Bondowoso, 20 Nopember 2015


Sumber gambar Weheartit

2

Online each month, the Roosevelt Library highlights works of art from its collections that are rarely seen by the public. This month we feature an oil painting of Bab El Khémis in Marrakech, Morocco, by Marius Hubert-Robert.

On January 24, 1943, following the Casablanca Conference, Roosevelt and Churchill traveled to Marrakech, Morocco, where they spent the evening at a large villa occupied by the US Vice-Consul at Marrakech, Kenneth Pendar. Along the way, they passed by the entrance gate to Bab El Khémis, a large marketplace. Later on, FDR and Churchill watched the sunset over the Atlas Mountains from the tower in the nearby Majorelle Gardens, as shown in the photo above.

French artist Marius Hubert-Robert painted the entrance to Bab El Khémis in 1943. Soon after, he presented the painting to President Roosevelt.

Kepalaku sering kali pergi, lebih jauh dari tubuhku. Lalu kembali, membawa seseorang dari masalalu.

Selalu begitu,
seperti pendar langit sore ini. Tak melambai ketika pergi, lalu datang lagi.
Atau genangan yang pergi dari bumi, lalu jatuh lagi.

Jika bagi Tuhan “selamanya”, terlalu lama. Mohon beri aku satu menit lebih lama, untuk menatap wajahnya.

Lalu bunuh lah aku, dengan sesakit-sakitnya mengingat masalalu.

Andar pelas ruas cinzentas, sozinha, quem nunca fez? E a cada passo pensar nas coisas que mudaram e nas que, infelizmente, não aconteceram. Olhar para trás e ver suas pegadas nas areia desaparecendo pelas ondas do mar, que sem hesitação nenhuma, fizeram questão de apagar. Imaginando como seria seu futuro, lamentando pelo passado e com a mais forte das orações desejado que presente melhore. (JulianaMandim)

Bacalah Jika Sempat, Nona

Jatuh cinta,
Kata kerja yang benar benar tak mengenal jam kerja
Jika saya ibaratkan dengan kota, jatuh cinta adalah jakarta, mengapa? Karena ia tak mengenal waktu, pagi dengan rentetan bising klakson kendaraan bermotornya, siang dengan debu-debu nya, sore dengan jingga langit di ufuk barat yang bersaing dengan pekat asap asap pabriknya, dan malam dengan pendar lampu yang tak hitung jumlahnya
Tapi, tetap saja
Jatuh cinta adalah saya, mereka, atau siapa saja yang mati-matian memperjuangkan sesuatu

Hari ini adalah hujan yang turun pada hari ke-4 di jogja. Terhitung sejak saya yang menghitungnya sendiri, dan tulisan ini saya buat ketika menunggu air yang tumpah dari atas menurun intensitasnya tepat detik ini di atas warung burjo samiasih. Saya sebenarnya tak begitu paham, apakah hujan saat ini yang terlambat datang, atau memang terlalu awal. Yang saya tahu, hujan adalah perantara untuk sebagian orang (termasuk saya) dalam berdoa melalui kata-kata, atau sekedar menumpahkan seluruh isi kepalanya yang barangkali kelu untuk diucapkan,
atau memang belum saatnya untuk diucapkan (semoga)

Hari ini adalah tepat kesekian kalinya saya merasakan jatuh cinta, tentu saja dengan cara yang saya rayakan sendiri seperti biasanya.

Oh, hampir lupa
Sebenarnya basa-basi tak begitu penting, karena saya takut untuk menulis sesuatu secara langsung, maafkan saya

…………………………………………………..
Kepada perempuan yang saya maksud, semoga kau ada waktu barang hanya membaca judul tulisanku ini kelak.

Nona, saya tak meminta banyak, cukup kau tahu saja bahwa laki-laki yang menulis ini sedang jatuh cinta kepadamu, jatuh cinta dengan segala yang ada padamu,
Sekali lagi saya tegaskan, saya tak meminta banyak, tak meminta kau untuk benar-benar menyelami tulisaku dalam-dalam, apalagi untuk memintamu membalas apa yang saya maksud.

Nona, saya hanya ingin kau mengerti beberapa hal jika nanti saya mendapat kesempatan.

Pertama, saya ingin mencintaimu lengkap dengan musim hujan ini, sebab saya tak ingin hanya mencintaimu sewaktu cuaca seperti biasa, saya juga ingin mencintaimu saat badai serupa dirimu sewaktu murka nanti

Kedua, saya ingin mencintaimu saat kemarau setelah musim pengujan ini tiba lagi, tak peduli harus menunggu musim kemarau tahun berikutnya lagi. Perlu kau tahu, nona. Laki-laki seperti saya tak mudah jatuh cinta, jadi jika ia mencintai seseorang bagaikan tiga musim, kau harus paham betul bahwa dia benar benar menginginkanmu.

Dan,
Seumpama nanti saya tak pernah mendapat kesempatan itu,
jika saatnya kau butuh sesuatu yang cukup hangat untuk musim hujan tahun ini,
Bicaralah, kau boleh meminjam sepasang pelukku sepanjang malam tanpa perlu membayar sepeserpun, jadi kau tak perlu merasakan gigil menahan cuaca di luar sana. Jika nanti suatu hari saya tak lagi menyapamu untuk menanyakan hal hal yang sungguh tak begitu penting, perlu kau tahu bahwa itu adalah caraku untuk melupakanmu

Selamat beristirahat.