penauts

JASAD dan MASJID

oleh Salim A. Fillah dalam Rajutan Makna. 10/04/2017

“Layang-layang tabang malayang,
Sugi-sugi pamaga baniah.
Elok bak itu rang sumbayang,
Hati suci mukonyo janiah.”

Hajat jasad kepada Masjid, seperti rindu hati kepada dzikir, bagai ikan kepada air. Sebab beribadah berjama’ah adalah pembersih jiwa sekaligus penaut ukhuwah, dua pilar yang diperintahkan Allah untuk menjaga istiqamah, seperti firmanNya, “Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan bersamalah selalu dengan orang-orang benar.” (QS At Taubah: 119)

Dari Masjid pula peradaban bermula, sebagaimana Rasulullah ﷺ menjadikannya bukan hanya sebagai pusat ibadah, melainkan juga pusat pendidikan, pelatihan, kemasyarakatan, pemerintahan, kenegaraan, ketentaraan, kesehatan, kebudayaan, dan kemanusiaan.

“Jiko mangaji dari alif,
Jiko babilang dari aso.
Jiko naiak dari janjang,
Jiko turun dari tanggo.”

Maka kita merindukan pemimpin-pemimpin berbudi yang lahir dari Masjid. Sebagaimana Ranah Minang dahulu menyumbang hampir separuh tokoh pergerakan Nasional dan kemerdekaan. Dari surau-surau tempat para bujang tidur, didikan Shubuh menegakkan juang, kaji Maghrib meluaskan pandang. Maka Nazir Pamuntjak, Agus Salim, Hatta, Sjahrir, HAMKA, hingga Natsir bersumbangsih.

“Kuat rumah karano sandi,
Rusak sandi rumah binaso.
Kuat bangso karano budi,
Rusak budi hancualah bangso.”

Gelora perubahan besar sebuah bangsa, bermula dari perubahan jiwa insan-insannya. Ia tertampak dari akhlaq dan laku yang mewarnai hidup keseharian. Kasih sayang yang subur dalam pergaulan, adalah kekuatan agung bagi kebangkitan ummat dan bangsa.

“Oi, Upiak, rambahlah paku,
Nak tarang jalan ka parak.
Oi, Upiak, ubahlah laku,
Nak sayang urang ka awak.”