pemetik teh

Tulang Punggung

Ayam belum berkokok. Adzan Subuh belum terdengar. Tapi para wanita-wanita teladan itu sudah bangun dan mengerjakan semua pekerjaan seorang ibu rumahtangga.

Usai mentari terbit, mereka berjalan menuju ladang teh, menembus kabut dan hawa dingin yang menyelimuti. Berbekal kain panjang atau karung kain kecil, caping dan sarung tangan, mereka menapakkan kaki menyusuri pinggang gunung.

Ya. Mereka adalah wanita-wanita pemetik teh di kebun teh Batu Jamus ini. Sebagian dari mereka bekerja untuk membantu perekonomian suami yang bekerja serabutan. Bahkan ada yang harus membanting tulang seorang diri demi menghidupi anak-anaknya lantaran suami mereka telah tiada.

Rasa lelah tergambar jelas pada raut wajah mereka, namun wanita-wanita ini tetap memetik pucuk daun teh dengan penuh semangat, sabar dan ikhlas. Berlindung dibalik caping yang setia menemani setiap langkahnya dari satu pohon menuju pohon yang lain.

Sesekali mereka ke tepi jalan, mengumpulkan pucuk teh yang sudah menggunung di punggung mereka. Sembari melepas lelah, mereka menikmati air minum yang telah dibawa. Hanya beberapa menit saja, wanita teladan itu kembali menyusuri perdu-perdu teh untuk melanjutkan tugasnya. Menjelang Ashar barulah mereka bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.

Taukah kalian.? Sekembalinya ke rumah, pekerjaan lain sebagai seorang wanita telah menunggu. Terus seperti itu setiap hari tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal hari libur.

Berbekal rasa sabar dan ikhlas, tanpa mengeluh, tanpa mengenal lelah mereka menjalaninya dengan penuh senyuman. Karena itulah wujud lain dari bersyukur :)

PS. Allah tidak tidur, Allah tidak lengah, Allah menebar rohmatnya. Jangan bosan untuk berdoa dan memohon kepada Allah. Bersyukurlah dengan apa yang dimiliki saat ini. Sabar dan ikhlaslah dengan apa yang harus dihadapi. 


Kebun Teh Batu Jamus - Ngawi, 20.01.2013