pemerintah jepang

Negeri yang Menua

Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.

Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi beberapa tahun silam, kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.

Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.

Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.

Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.

Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.

Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor “kasar”, meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.

Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga “berumur” agaknya sedang mengabarkan sesuatu.

Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.

Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017

Catatan:

Data tentang angka ketergantungan (dependent ratio) saya tulis berdasarkan proyeksi dari PEW Research. Tetapi saya tidak melakukan penelusuran lebih jauh tentang komposisi kelompok dependent yang diproyeksikan di tahun 2050 tersebut karena di penerbangan pulang saya tidak mengakses Wi-Fi, walaupun ada fasilitas Wi-Fi berbayar.
—  Mohammad Fauzil Adhim

PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR'I YANG TERLUPAKAN.

“Kartini” yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.

(LuLu Basmah - diringkas dari berbagai sumber)

Profesi Idaman di Jepang : Ibu Rumah Tangga

Di Jepang ada namanya “Kyoiku mama” (ibu pendidikan) para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak-anak mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya dibawah didikan sang ibu, para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata-rata mereka lulusan S1/S2.

Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.

Salahsatu kemajuan ekonomi Jepang karena ditopang oleh kyoiku mama ini, makanya jangan heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, dan menjaga kebersihan, itu semua hasil didikan para kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk mentransfer ilmu saja.

Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di zaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.

Ryousai: istri yg baik | Kenbo: ibu yang bijaksana

Intinya, menyerukan bahwa wanita peran terhormat sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.

Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negeri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Hal tersebut digalakkan karena sekarang perempuan lebih memilih melajang menjadi wanita karier, sehingga presentasi pertumbuhan penduduk muda usia produktif di negara mereka menurun.

Serta tentu saja kasus kekerasan remaja dan bunuh diri di Jepang pada usia sekolah terus bertambah, karena tidak terpenuhinya kualitas hubungan ibu dan anak yang menunjang pertumbuhan emosi anak.

Jadi, wajar pemerintahan Jepang sangat memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas. Karena kemajuan bangsanya kelak tetap ditopang oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas karakter anak-anak mereka.

Keren kan, “ibu rumah tangga adalah profesi idaman” di Jepang!

***

Meneruskan informasi -yang tidak diketahui siapa penulisnya. Dengan sedikit edit-an :)

Travblog: Tersesatlah!

Sambil nunggu nasi goreng pesenan gue dateng, gue mau cerita pengalaman hidup gue beberapa tahun ke belakang nih, gaes..
Baca ya~

Jadi begini,

Di ulang tahun gue bulan Januari kemarin, gue mendapatkan kado ulang tahun berupa buku dengan judul seperti di atas. Buku ini benar-benar luar biasa menurut gue. Buku itu mengajarkan gue tentang satu hal baru dalam hidup ini.

Tersesatlah. Lalu kemudian pulang sebagai seseorang manusia yang hidup.

Kalian tahu? Orang-orang yang pergi merantau itu ketika kembali ke kampung halamannya, dapat dipastikan ia menjadi sesorang yang sangat berbeda. Orang yang lebih dewasa, lebih kuat, lebih pintar, lebih mampu mengemban tanggung jawab.

Tak perlu rumit-rumit, bagi kalian yang sudah menonton film animasi The Good Dinosaur, kalian akan tahu bahwa tersesat dan jauh dari rumah akan menempamu dari besi berkarat yang tidak berguna, menjadi pedang yang benar-benar siap di bawa ke medan perang.

Buku di atas menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi di perkuliahan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Dalam suatu kelas Pemasaran Internasional, seluruh anak-anak yang mengambil mata kuliah tersebut mendapatkan tugas untu pergi ke luar negeri tanpa boleh didampingi oleh siapa-siapa.

Dengan syarat tidak boleh mengunjungi negara yang serumpun tata bahasanya dengan bahasa Indonesia (Malay,Burnai,Singapur,Timor Leste), tidak boleh mengunjungi negara yang ada salah satu anggota keluarganya tinggal di sana, dan juga dari satu kelas tersebut, tidak boleh ada anak yang mengunjungi negara yang sama dalam kurun satu waktu. Dalam artian, mereka harus benar-benar sendiri di tempat asing.

Ketika semua mahasiswa/i pergi ke seluruh penjuru dunia, mereka ditempa menjadi orang yang cepat tanggap untuk mengambil keputusan. Ada yang terpaksa berpikir cepat agar tidak mati kedinginan di Iceland. Ada yang tertahan di kantor polisi di Jepang dan berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat karena polisi di sana tidak bisa berbahasa inggris. Ada yang tersiksa karena tidak ada internet dan tersesat di tengah badai salju. Tidak bisa berbahasa Inggris tapi diharuskan berkomunikasi. Bahkan ada yang sampai hampir dijodohkan dengan penduduk setempat.

Ketika membaca buku tersebut, gue merenung.

Ternyata benar, tersesat di negara orang itu benar-benar bisa menempamu menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa ke depannya. Kenapa harus di negara orang? Karena ketika kita tersesat di negara orang, kita dipaksa menurunkan harga diri hingga level terendah, berbicara dengan bahasa yang terbata-bata, berusaha mencari informasi dengan susah payah, mengasah otak untuk menyesuaikan hidup di tempat yang berbeda sekali peraturannya. Atau bahkan memutar otak untuk secepatnya menemukan jalan pulang sebelum suhu 0 derajat datang.

Berbeda jika kita pergi mengunjungi daerah-daerah di negara sendiri.

Mungkin kalau masih berkunjung di lingkup negara sendiri, ketika tersesat kita tinggal bertanya saja ke orang-orang lokal tanpa perlu bingung bahasa. Walaupun menggunakan bahasa lokal, namun dapat dipastikan mereka masih mengerti bahasa Indonesia. Lantas jika tersesat dan tidak bisa bertanya, kalian tinggal cari telepon umum. Atau kalau kehabisan uang, kalian bisa mengamen dengan bahan seadanya.

Nah bayangin kalau di negara orang. Kalian kehabisan duit dan memilih mengamen paling-paling berakhir dengan visa yang dicabut di kedutaan karena melakukan kejahatan berupa mencari uang tanpa seizin petugas setempat. Kalau tersesat, kalian tidak bisa menelepon siapa-siapa kecuali kalian mempunyai kartu seluler negara yang bersangkutan. Yang sudah tentu, harganya tidak murah.

.

                                                        ===

.

Perjalanan ke Jepang kemarin benar-benar memberikan pengalaman yang luar biasa buat gue pribadi. Ada banyak hal yang menjadi titik-titik penting apabila mengunjungi negara orang yang sampai sekarang nggak akan pernah gue lupakan. Di tulisan ini, gue ingin berbagi bermacam-macam hal-hal sepele yang ternyata benar-benar bisa menyelamatkan hidup lo ketika mengunjungi negara orang (di sini gue ambil contoh adalah negara, Jepang). Untuk yang ingin backpaker (duit pas-pasan kaya gue) ke luar negeri, beberapa tips nggak penting ini mungkin bisa membantu.

Salah satunya seperti:

  1. Bagaimana cara tercepat mengingat jalan pulang. 
  2. Cara bepergian kemana saja tanpa internet for GPS dan tidak nyasar sama sekali. 
  3. Mendapatkan Tour Guide di suatu tempat geratis tanpa bayar sama sekali. 
  4. Cara makan murah sampai setengah harga. 
  5. Mencari internet gratis. 
  6. Bertanya ke orang hingga orang tersebut langsung mengerti maksud kita. 
  7. Info-info penginapan murah. 
  8. Mendapatkan Tour Guide ke seluruh plosok daerah dan Mall geratis.
  9. Tips-tips singkat mengenai pengajuan visa di kedutaan.
  10. Oleh-oleh murah yang terlihat mahal untuk teman-teman.
  11. Tips-tips biar gak hampir ketinggalan pesawat :((
  12. Dan masih banyak lagi.

Nah hari ini gue akan jelaskan semuanya dari awal-awal sekali.

Walaupun Bapak dan Ibu asli orang Jawa Timuran, gue sendiri adalah orang yang lahir di wilayah Parahyangan.  Dibanding banyak orang yang seumur hidupnya sudah pergi keliling Indonesia, seperti naik gunung, kemping, mengunjungi desa-desa, backpaker ke seluruh penjuru tanah air. Gue ini kagak ada apa-apanya. Seumur hidup, gue itu nggak pernah ke mana-mana, mengunjungi Bali saja belum pernah. Percaya deh :)))

Ke Jogja aja terakhir SMP kemarin. Sisa hidup gue lebih sering dihabiskan di Bandung daripada jalan-jalan ke luar kota. Yang mana itu semua menyebabkan skill gue untuk bertahan hidup benar-benar tumpul abis. Selalu mengandalkan orang lain, sulit menyelesaikan masalah, bingung mengambil keputusan ketika menjadi pemimpin suatu kelompok, dan sulit mengemban tanggung jawab besar.

Dalam arti, gue ditempa sebagai Follower, bukan seorang Leader.

Hingga suatu ketika, Tuhan menjawab seluruh doa-doa gue. Gue dapet rejeki untuk bisa pergi ke Jepang seorang diri. Walaupun di Jepang nanti gue tinggal di rumah kakak, namun saat itu kakak gue sedang mengurus anaknya yang baru lahir, sehingga apabila gue pergi dan jalan-jalan ke luar, gue benar-benar seperti sendirian di negara orang.

Ini adalah kali pertamanya gue pergi jauh meninggalkan Bandung. Jauh dalam artian SANGAT JAUH!!

Gue mulai mencoba mengurus semuanya sendiri, berusaha menjadi orang dewasa tanpa meminta bantuan dari orang tua sama sekali. Untuk pergi ke luar negeri, syarat pertama yang harus kalian punya adalah Visa dan juga tiket pesawat.

.

                                                      ===

.

Ditolak Kedutaan dan Pengalaman buruk di Bandara.

1.      Visa

Visa tidak bisa jalan apabila tiket pesawat belum di beli. Untuk pergi ke negara Jepang sendiri, syarat mendapatkan Visa-nya adalah kalian harus punya yang namanya PENJAMIN di Jepang sana. Penjamin adalah seseorang yang bertanggung jawab dengan hidup kalian apabila nanti kalian sudah sampai di Jepang, penjamin akan memastikan ke pemerintah Jepang bahwa sesampainya di Jepang, kalian nggak akan hidup ngegembel di sana.

Pemerintahan Jepang itu ketat. Pemerintah Jepang paling tidak mau ada orang asing yang menjadi pengemis, gembel, atau seseorang yang terlantar itu hidup di Negaranya.

Kalau dulu Penjamin gue adalah kakak gue sendiri. Lantas kalau tidak punya saudara di sana, kalian harus dapat penjamin dari siapa?

Penjamin bisa didapatkan dari banyak hal, salah satunya adalah Penginapan yang sudah kalian pesan sebelumnya. Entah itu pihak hotel atau pemilik guest house. Yang jelas mereka akan memberikan surat penjamin apabila kalian sudah menjadi salah satu customernya.

Yang lain lagi adalah perkumpulan orang-orang Indonesia di Jepang. Coba sebelum pergi mengunjungi tempat-tempat tertentu, ada baiknya mencari tahu apakah ada komunitas Indonesia di negara/tempat tersebut? Atau juga Universitas yang isinya banyak sekali orang Indonesia.

Jadi intinya adalah, sebelum punya Visa, lo harus punya tiket pesawat, dan sebelum punya tiket pesawat, lo harus punya penginapan terlebih dahulu.

2. Tiket Pesawat

Setelah dapat penginapan. Hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Tiket Pesawat.

Perjalan PP untuk pergi ke salah satu negara Eropa/Asia yang cukup jauh dari Indonesia itu kisaran 8-10 Jt. Dan itu akan bertambah besar apabila kalian berkunjung ke negara tersebut ketika negara tersebut sedang merayakan hari libur nasional. Kalau di Jepang, tiket paling mahal itu biasanya ada di bulan April. Tiketnya bisa tembus 13-14 Juta. Itu karena pada saat bulan April, di Jepang sedang merayakan musim seminya Bunga Sakura.

Apabila kalian memesan tiket dari website. Coba gunakan mode incognito. (di Chrome pencet CTRL+SHIFT+N). Mode incognito adalah suatu opsi yang dapat digunakan untuk menyembunyikan aktifitas browsing seseorang sehingga setiap kunjungan ke sebuah website akan dihitung sebagai kunjungan pertama.

Apa hubungannya dengan tiket murah? Dipercaya jika kalian mengunjungi sebuah situs maskapai berulang-ulang, maka website tersebut akan menampilkan harga tiket yang lebih tinggi seiring dengan kunjungan berulang kalian . Nah, dengan mode incognito, setiap kunjungan kalian akan dianggap sebagai kunjungan pertama, sehingga harga tiket yang ditampilkan diyakini akan lebih murah.

Lantas gimana dong kalau tiket PP suatu maskapai harganya mahal banget?

Apabila duit pas-pasan, saran gue ketika booking pesawat adalah, beli 2 tiket maskapai yang berbeda. Alias beli ketengan.

Contohnya ketika keberangkatan dari Indonesia kalian menggunakan Air Asia, namun ketika pulang dari Jepang, kalian menggunakan Maskapai Garuda. Tiket keberangkatan Garuda atau maskapai lain biasanya lebih mahal jika Maskapai itu meninggalkan kampung halamannya.

Maksudnya apa?

Tiket keberangkatan Garuda ke Jepang adalah 7jt. Tiket pulang Garuda dari Jepang adalah 5jt.

Begitu juga dengan Ana (All Nipon Air Line). Tiket berangkat dari Jepang ke Indo jauh lebih murah daripada tiket kepulangan dari Indo ke Jepang.

Tiket Amsterdam Airline Belanda-Indonesia jauh lebih murah ketimbang Indonesia-Belanda.

Mungkin yang membuat kenapa maskapai nasional ketika keberangkatan itu jauh lebih murah ada hubungannya dengan masalah perpajakan dengan bandara. Atau entahlah, gue juga belum terlalu ngerti dengan masalah ini.

Lha terus, Mbe, kenapa nggak pakai Air As*a aja 2-2nya? Pulang perginya?

Oh oh oh…
Jangan. Jangan. Jangan. Dan Jangan pernah pulang dari luar negeri menggunakan Air As*a. :))

Bukannya gue Suudzon. Bukannya gue menjelek-jelekkan maskapai kesukaan anak kos-kosan ini. Hanya saja pengalaman gue dan teman-teman gue yang sudah pernah pulang dari luar negeri menggunakan maskapai ini ada bagusnya kalian jadikan pelajaran penting. Karena ini bisa menjadi masalah yang sangat fatal buat kalian-kalian yang berduit tipis atau backpackeran.

Tiga tahun yang lalu, karena keuangan gue benar-benar tipis, akhirnya gue memutuskan untuk pulang dari Jepang menggunakan maskapai Air As*a, dan kalian tahu apa yang terjadi di bandara?

Saat itu…

Eh bentar, nasi goreng gue udah dateng.
Lanjut di part berikutnya aja yak..
Bay~

.

.

.

.

Tersesatlah di negara orang, pergilah jauh dari kampung halaman. Maka kau akan mengerti arti indahnya pulang. Dalam ketersesatan, kau akan mengenal dirimu sendiri. Siapa dirimu ketika sendiri, dan siapa dirimu ketika tidak punya siapa-siapa.

-yg punya pengalaman unik di negara orang, share yak! Nanti gue reblog.

Gadget Itu Asyik

Beberapa hari berada di Jepang, ada hal yang sangat berbeda dengan tahun-tahun yang silam. Dulu kemana pun kaki melangkah, akan mudah sekali mata ini menemukan anak-anak muda, orang dewasa maupun lansia yang sedang asyik membaca. Kegiatan yang satu ini memang seolah identik dengan warga Jepang.

Tetapi, itu dulu…

Selama beberapa hari di sana, pemandangan yang dulu membangkitkan kerinduan untuk tumbuhnya budaya literasi di Tanah Air, sekarang rasanya sudah cukup langka. Hanya sekali saya menjumpai seorang laki-laki asyik membaca buku sambil menunggu antre ke toilet sebuah mall di Nagoya. Itu pun usianya sudah terbilang tua, meskipun belum terlalu tua. Kira-kira usia 60-65 tahun.

Bagaimana dengan anak mudanya? Di stasiun Mitetsu (kereta api swasta) maupun Shinkansen, anak-anak muda itu lebih asyik dengan gadget. Baca? Bukan. Lebih banyak akses hiburan seperti anime atau game.

Seorang warga Indonesia keturunan Jepang sempat menuturkan kepada saya bahwa melemahnya minat baca dimulai dari tumbuhnya Warnet di berbagai penjuru negeri. Begitu menyadari gejala ini, pemerintah Jepang segera bertindak membatasi pendirian Warnet. Ada syarat yang sangat ketat. Banyak Warnet ditutup ketika itu dan minat baca pun dapat dijaga agar tidak hancur.

Tahun 2013, ada 518.000 anak yang mengalami kecanduan internet dan memerlukan penanganan berupa fasting internet camp. Mereka puasa internet. Sebuah penanganan yang sangat serius.

Dalam perjalanannya, internet tak lagi diakses melalui Warnet. Melalui segenggam gadget di tangan, anak-anak dapat berselancar menikmati berbagai sajian dunia maya, termasuk anime dan game online. Minat baca pun merosot.

Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak. Seiring meningkatnya akses internet yang tidak produktif dan menurunnya minat baca, ijime (group bullying) semakin semarak. Bahkan tak sedikit anak-anak yang mengalami tekanan mental sangat serius, di antaranya hingga mempunyai ide bunuh diri.

Ada pelajaran yang patut kita renungkan di sini.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Flight GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017
—  Mohammad Fauzil Adhim
Negeri yang Menua

Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.

Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi beberapa tahun silam, kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.

Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.

Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.

Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.

Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.

Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor “kasar”, meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.

Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga “berumur” agaknya sedang mengabarkan sesuatu.

Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.

Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017

Catatan:

Data tentang angka ketergantungan (dependent ratio) saya tulis berdasarkan proyeksi dari PEW Research. Tetapi saya tidak melakukan penelusuran lebih jauh tentang komposisi kelompok dependent yang diproyeksikan di tahun 2050 tersebut karena di penerbangan pulang saya tidak mengakses Wi-Fi, walaupun ada fasilitas Wi-Fi berbayar.
—  Mohammad Fauzil Adhim