pemerintah jepang

PAHLAWAN WANITA BERKERUDUNG SYAR'I YANG TERLUPAKAN.

“Kartini” yang tidak pernah dimunculkan profilnya. Pengaruhnya dalam dunia pendidikan begitu nyata. Bahkan sekaliber Al-Azhar Mesir pun terinpirasi dari tindakan beliau. Dan, point yang tidak kalah penting, pakaian anggun dengan kerudung yang menutup dada itu sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka.. Allahu Akbar..

Syaikhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyyah (1900-1969) adalah salah satu pahlawan wanita milik bangsa Indonesia, yang dengan hijab syar'i-nya tak membatasi segala aktifitas dan semangat perjuangannya.

Rahmah, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang guru, pejuang pendidikan, pendiri sekolah Islam wanita pertama di Indonesia, aktifis kemanusiaan, anggota parlemen wanita RI, dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia.

Ketika Rahmah bersekolah, dengan bercampurnya murid laki-laki dan perempuan dalam kelas yang sama, menjadikan perempuan tidak bebas dalam mengutarakan pendapat dan menggunakan haknya dalam belajar. Ia mengamati banyak masalah perempuan terutama dalam perspektif fiqih tidak dijelaskan secara rinci oleh guru yang notabene laki-laki, sementara murid perempuan enggan bertanya. Kemudian Rahmah mempelajari fiqih lebih dalam kepada Abdul Karim Amrullah di Surau Jembatan Besi, dan tercatat sebagai murid-perempuan pertama yang ikut belajar fiqih, sebagaimana dicatat oleh Hamka.

Setelah itu, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyah Lil Banaat (Perguruan Diniyah Putri) di Padang Panjang sebagai sekolah agama Islam khusus wanita pertama di Indonesia. Ia menginginkan agar perempuan memperoleh pendidikan yang sesuai dengan fitrah mereka dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tekadnya, “Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?”

Rahmah meluaskan penguasaannya dalam beberapa ilmu terapan agar dapat diajarkan pada murid-muridnya. Ia belajar bertenun tradisional, juga secara privat mempelajari olahraga dan senam dengan seorang guru asal Belanda. Selain itu, ia mengikuti kursus kebidanan di beberapa rumah sakit dibimbing beberapa bidan dan dokter hingga mendapat izin membuka praktek sendiri.
Berbagai ilmu lainnya seperti ilmu hayat dan ilmu alam ia pelajari sendiri dari buku. Penguasaan Rahmah dalam berbagai ilmu ini yang ia terapkan di Diniyah Putri dan dilimpahkan semua ilmunya itu kepada murid-murid perempuannya.

Pada 1926, Rahmah juga membuka program pemberantasan buta huruf bagi ibu-ibu rumah tangga yang belum sempat mengenyam pendidikan dan dikenal dengan nama Sekolah Menyesal.

Selama pemerintahan kolonial Belanda, Rahmah menghindari aktifitas di jalur politik untuk melindungi kelangsungan sekolah yang dipimpinnya. Ia memilih tidak bekerja sama dengan pemerintah penjajah. Ketika Belanda menawarkan kepada Rahmah agar Diniyah Putri didaftarkan sebagai lembaga pendidikan terdaftar agar dapat menerima subsidi dari pemerintah, Rahmah menolak, mengungkapkan bahwa Diniyah Putri adalah sekolah milik ummat, dibiayai oleh ummat, dan tidak memerlukan perlindungan selain perlindungan Allah. Menurutnya, subsidi dari pemerintah akan mengakibatkan keleluasaan pemerintah dalam memengaruhi pengelolaan Diniyah Putri.

Kiprah Rahmah di jalur pendidikan membuatnya mendapatkan perhatian luas. Ia duduk dalam kepengurusan Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Pada 1935, ia diundang mengikuti Kongres Perempuan Indonesia di Batavia. Dalam kongres, ia memperjuangkan hijab sebagai kewajiban bagi muslimah dalam menutup aurat ke dalam kebudayaan Indonesia.
Pada April 1940, Rahmah menghadiri undangan Kongres Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Ia dipandang oleh ulama-ulama Aceh sebagai ulama perempuan terkemuka di Sumatera.

Kedatangan tentara Jepang di Minangkabau pada Maret 1942 membawa berbagai perubahan dalam pemerintahan dan mengurangi kualitas hidup penduduk non-Jepang. Selama pendudukan Jepang, Rahmah ikut dalam berbagai kegiatan Anggota Daerah Ibu (ADI) yang bergerak di bidang sosial. Dalam situasi perang, Rahmah bersama para ADI mengumpulkan bantuan makanan dan pakaian bagi penduduk yang kekurangan. Ia memotivasi penduduk yang masih bisa makan untuk menyisihkan beras segenggam setiap kali memasak untuk dibagikan bagi penduduk yang kekurangan makanan. Kepada murid-muridnya, ia menginstruksikan bahwa seluruh taplak meja dan kain pintu yang ada pada Diniyah Putri dijadikan pakaian untuk penduduk.
Selain itu, Rahmah bersama para anggota ADI menentang pengerahan perempuan Indonesia sebagai wanita penghibur untuk tentara Jepang. Tuntutan ini dipenuhi oleh pemerintah Jepang dan tempat prostitusi di kota-kota Sumatera Barat berhasil ditutup.

Terimbas oleh Hajjah Rangkayo Rasuna Said yang terjun ke politik lebih dahulu, dan dengan kondisi Indonesia yang semakin terpuruk oleh penjajah Jepang, akhirnya Rahmah terjun ke dunia politik. Ia bergabung dengan Majelis Islam Tinggi Minangkabau yang berkedudukan di Bukittinggi. Ia menjadi Ketua Hahanokai di Padang Panjang untuk membantu perjuangan perwira yang terhimpun dalam Giyugun (semacam tentara PETA).

Seiring memuncaknya ketegangan di Padang Panjang, Rahmah membawa sekitar 100 orang muridnya mengungsi untuk menyelamatkan mereka dari serbuan tentara Jepang. Selama pengungsian, ia menanggung sendiri semua keperluan murid-muridnya. Ketika terjadi kecelakaan kereta api pada 1944 dan 1945 di Padang Panjang, Rahmah menjadikan bangunan sekolah Diniyah Putri sebagai tempat perawatan korban kecelakaan.
Hal ini membuat Diniyah Putri mendapatkan piagam penghargaan dari pemerintah Jepang. Menjelang berakhirnya pendudukan, Jepang membentuk Cuo Sangi In yang diketuai oleh Muhammad Sjafei dan Rahmah duduk sebagai anggota peninjau.

Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Setelah mendapatkan berita tentang proklamasi kemerdekaan langsung dari Ketua Cuo Sangi In, Muhammad Sjafei, Rahmah segera mengibarkan bendera Merah Putih di halaman perguruan Diniyah Putri. Ia tercatat sebagai orang yang pertama kali mengibarkan bendera Merah Putih di Sumatera Barat. Berita bahwa bendera Merah Putih berkibar di sekolahnya menjalar ke seluruh pelosok daerah.

Ketika Komite Nasional Indonesia terbentuk sebagai hasil sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 22 Agustus 1945, Soekarno yang melihat kiprah Rahmah mengangkatnya sebagai salah seorang anggota.

Pada 5 Oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekrit pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pada 12 Oktober 1945, Rahmah memelopori berdirinya TKR untuk Padang Panjang dan sekitarnya. Ia memanggil dan mengumpulkan bekas anggota Giyugun, mengusahakan logistik dan pembelian beberapa kebutuhan alat senjata dari harta yang dimilikinya. Bersama dengan bekas anggota Hahanokai, Rahmah mengatur dapur umum di kompleks perguran Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota-anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Batalyon Merapi yang dibentuk di Padang Panjang.

Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda kedua, Belanda menangkap sejumlah pemimpin-pemimpin Indonesia di Padang Panjang. Rahmah meninggalkan kota dan bersembunyi di lereng Gunung Singgalang. Namun, ia ditangkap Belanda pada 7 Januari 1949 dan mendekam di tahanan wanita di Padang Panjang. Setelah tujuh hari, ia dibawa ke Padang dan ditahan di sebuah rumah pegawai kepolisian Belanda berkebangsaan Indonesia. Ia melewatkan 3 bulan di Padang sebagai tahanan rumah, sebelum diringankan sebagai tahanan kota selama 5 bulan berikutnya.

Pada Oktober 1949, Rahmah meninggalkan Kota Padang untuk menghadiri undangan Kongres Pendidikan Indonesia di Yogyakarta. Ia baru kembali ke Padang Panjang setelah mengikuti Kongres Muslimin Indonesia di Yogyakarta pada akhir 1949. Rahmah bergabung dengan Partai Islam Masyumi. Dalam pemilu 1955, ia terpilih sebagai anggota Konstituante mewakili Sumatera Tengah. Melalui Konstituante, ia membawa aspirasinya akan pendidikan dan pelajaran agama Islam.

Pada 1956, Imam Besar Al-Azhar, Kairo, Mesir, Abdurrahman Taj, berkunjung ke Indonesia dan atas ajakan Muhammad Natsir, berkunjung untuk melihat keberadaan Diniyah Putri. Imam Besar tersebut mengungkapkan kekagumannya pada Diniyah Putri, sementara Universitas Al-Azhar sendiri saat itu belum memiliki bagian khusus perempuan.

Pada Juni 1957, Rahmah berangkat ke Timur Tengah. Usai menunaikan ibadah haji, ia mengunjungi Mesir memenuhi undangan Imam Besar Al-Azhar. Dalam satu Sidang Senat Luar Biasa, Rahmah mendapat gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, dimana untuk kali pertama Al-Azhar memberikan gelar kehormatan itu pada perempuan.

Hamka mencatat, Diniyah Putri mempengaruhi pimpinan Al-Azhar untuk membuka Kuliyah Qismul Banaat (kampus khusus wanita) di Universitas Al-Azhar. Sejak saat itu Universitas Al-Azhar yang berumur 11 abad membuka kampus khusus wanita, yang diinspirasi dari Diniyah Putri di Indonesia yang baru seumur jagung.

Sebelum kepulangannya ke Indonesia, Rahmah mengunjungi Syria, Lebanon, Jordan, dan Iraq atas undangan para pemimpin negara tersebut.

Sekembalinya dari kunjungan ke berbagai negara di Timur Tengah, Rahmah merasa bahwa Soekarno telah terbawa arus kuat PKI. Ia merasa tidak nyaman berjuang di Jakarta, kemudian memilih kembali pulang ke Padang Panjang. Rahmah melihat bahwa mencurahkan perhatiannya untuk memimpin perguruannya akan lebih bermanfaat daripada duduk di kursi parlemen sebagai anggota DPR yang sudah dikuasai komunis. Ketika terjadi PRRI di Sumatera Tengah akhir 1958, akibat ketidaksetujuan atas sepak terjang Soekarno, Rahmah ikut bergerilya di tengah rimba bersama tokoh-tokoh PRRI dan rakyat yang mendukungnya.

Pada 1964, ia menjalani operasi tumor payudara di RS Pirngadi, Medan. Sejak itu hingga akhir hayatnya, hidupnya didedikasikan kembali sepenuhnya untuk Diniyah Putri.

Tampak pada foto, pahlawan ini mengenakan hijab syar'i dan baju kurung basiba dengan cara yang anggun, elegan dan modern yang menampakkan kecerdasannya dan kemajuannya dalam berpikir.

(LuLu Basmah - diringkas dari berbagai sumber)

Travblog: Tersesatlah!

Sambil nunggu nasi goreng pesenan gue dateng, gue mau cerita pengalaman hidup gue beberapa tahun ke belakang nih, gaes..
Baca ya~

Jadi begini,

Di ulang tahun gue bulan Januari kemarin, gue mendapatkan kado ulang tahun berupa buku dengan judul seperti di atas. Buku ini benar-benar luar biasa menurut gue. Buku itu mengajarkan gue tentang satu hal baru dalam hidup ini.

Tersesatlah. Lalu kemudian pulang sebagai seseorang manusia yang hidup.

Kalian tahu? Orang-orang yang pergi merantau itu ketika kembali ke kampung halamannya, dapat dipastikan ia menjadi sesorang yang sangat berbeda. Orang yang lebih dewasa, lebih kuat, lebih pintar, lebih mampu mengemban tanggung jawab.

Tak perlu rumit-rumit, bagi kalian yang sudah menonton film animasi The Good Dinosaur, kalian akan tahu bahwa tersesat dan jauh dari rumah akan menempamu dari besi berkarat yang tidak berguna, menjadi pedang yang benar-benar siap di bawa ke medan perang.

Buku di atas menceritakan sebuah kisah nyata yang terjadi di perkuliahan Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Dalam suatu kelas Pemasaran Internasional, seluruh anak-anak yang mengambil mata kuliah tersebut mendapatkan tugas untu pergi ke luar negeri tanpa boleh didampingi oleh siapa-siapa.

Dengan syarat tidak boleh mengunjungi negara yang serumpun tata bahasanya dengan bahasa Indonesia (Malay,Burnai,Singapur,Timor Leste), tidak boleh mengunjungi negara yang ada salah satu anggota keluarganya tinggal di sana, dan juga dari satu kelas tersebut, tidak boleh ada anak yang mengunjungi negara yang sama dalam kurun satu waktu. Dalam artian, mereka harus benar-benar sendiri di tempat asing.

Ketika semua mahasiswa/i pergi ke seluruh penjuru dunia, mereka ditempa menjadi orang yang cepat tanggap untuk mengambil keputusan. Ada yang terpaksa berpikir cepat agar tidak mati kedinginan di Iceland. Ada yang tertahan di kantor polisi di Jepang dan berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat karena polisi di sana tidak bisa berbahasa inggris. Ada yang tersiksa karena tidak ada internet dan tersesat di tengah badai salju. Tidak bisa berbahasa Inggris tapi diharuskan berkomunikasi. Bahkan ada yang sampai hampir dijodohkan dengan penduduk setempat.

Ketika membaca buku tersebut, gue merenung.

Ternyata benar, tersesat di negara orang itu benar-benar bisa menempamu menjadi pribadi yang jauh lebih dewasa ke depannya. Kenapa harus di negara orang? Karena ketika kita tersesat di negara orang, kita dipaksa menurunkan harga diri hingga level terendah, berbicara dengan bahasa yang terbata-bata, berusaha mencari informasi dengan susah payah, mengasah otak untuk menyesuaikan hidup di tempat yang berbeda sekali peraturannya. Atau bahkan memutar otak untuk secepatnya menemukan jalan pulang sebelum suhu 0 derajat datang.

Berbeda jika kita pergi mengunjungi daerah-daerah di negara sendiri.

Mungkin kalau masih berkunjung di lingkup negara sendiri, ketika tersesat kita tinggal bertanya saja ke orang-orang lokal tanpa perlu bingung bahasa. Walaupun menggunakan bahasa lokal, namun dapat dipastikan mereka masih mengerti bahasa Indonesia. Lantas jika tersesat dan tidak bisa bertanya, kalian tinggal cari telepon umum. Atau kalau kehabisan uang, kalian bisa mengamen dengan bahan seadanya.

Nah bayangin kalau di negara orang. Kalian kehabisan duit dan memilih mengamen paling-paling berakhir dengan visa yang dicabut di kedutaan karena melakukan kejahatan berupa mencari uang tanpa seizin petugas setempat. Kalau tersesat, kalian tidak bisa menelepon siapa-siapa kecuali kalian mempunyai kartu seluler negara yang bersangkutan. Yang sudah tentu, harganya tidak murah.

.

                                                        ===

.

Perjalanan ke Jepang kemarin benar-benar memberikan pengalaman yang luar biasa buat gue pribadi. Ada banyak hal yang menjadi titik-titik penting apabila mengunjungi negara orang yang sampai sekarang nggak akan pernah gue lupakan. Di tulisan ini, gue ingin berbagi bermacam-macam hal-hal sepele yang ternyata benar-benar bisa menyelamatkan hidup lo ketika mengunjungi negara orang (di sini gue ambil contoh adalah negara, Jepang). Untuk yang ingin backpaker (duit pas-pasan kaya gue) ke luar negeri, beberapa tips nggak penting ini mungkin bisa membantu.

Salah satunya seperti:

  1. Bagaimana cara tercepat mengingat jalan pulang. 
  2. Cara bepergian kemana saja tanpa internet for GPS dan tidak nyasar sama sekali. 
  3. Mendapatkan Tour Guide di suatu tempat geratis tanpa bayar sama sekali. 
  4. Cara makan murah sampai setengah harga. 
  5. Mencari internet gratis. 
  6. Bertanya ke orang hingga orang tersebut langsung mengerti maksud kita. 
  7. Info-info penginapan murah. 
  8. Mendapatkan Tour Guide ke seluruh plosok daerah dan Mall geratis.
  9. Tips-tips singkat mengenai pengajuan visa di kedutaan.
  10. Oleh-oleh murah yang terlihat mahal untuk teman-teman.
  11. Tips-tips biar gak hampir ketinggalan pesawat :((
  12. Dan masih banyak lagi.

Nah hari ini gue akan jelaskan semuanya dari awal-awal sekali.

Walaupun Bapak dan Ibu asli orang Jawa Timuran, gue sendiri adalah orang yang lahir di wilayah Parahyangan.  Dibanding banyak orang yang seumur hidupnya sudah pergi keliling Indonesia, seperti naik gunung, kemping, mengunjungi desa-desa, backpaker ke seluruh penjuru tanah air. Gue ini kagak ada apa-apanya. Seumur hidup, gue itu nggak pernah ke mana-mana, mengunjungi Bali saja belum pernah. Percaya deh :)))

Ke Jogja aja terakhir SMP kemarin. Sisa hidup gue lebih sering dihabiskan di Bandung daripada jalan-jalan ke luar kota. Yang mana itu semua menyebabkan skill gue untuk bertahan hidup benar-benar tumpul abis. Selalu mengandalkan orang lain, sulit menyelesaikan masalah, bingung mengambil keputusan ketika menjadi pemimpin suatu kelompok, dan sulit mengemban tanggung jawab besar.

Dalam arti, gue ditempa sebagai Follower, bukan seorang Leader.

Hingga suatu ketika, Tuhan menjawab seluruh doa-doa gue. Gue dapet rejeki untuk bisa pergi ke Jepang seorang diri. Walaupun di Jepang nanti gue tinggal di rumah kakak, namun saat itu kakak gue sedang mengurus anaknya yang baru lahir, sehingga apabila gue pergi dan jalan-jalan ke luar, gue benar-benar seperti sendirian di negara orang.

Ini adalah kali pertamanya gue pergi jauh meninggalkan Bandung. Jauh dalam artian SANGAT JAUH!!

Gue mulai mencoba mengurus semuanya sendiri, berusaha menjadi orang dewasa tanpa meminta bantuan dari orang tua sama sekali. Untuk pergi ke luar negeri, syarat pertama yang harus kalian punya adalah Visa dan juga tiket pesawat.

.

                                                      ===

.

Ditolak Kedutaan dan Pengalaman buruk di Bandara.

1.      Visa

Visa tidak bisa jalan apabila tiket pesawat belum di beli. Untuk pergi ke negara Jepang sendiri, syarat mendapatkan Visa-nya adalah kalian harus punya yang namanya PENJAMIN di Jepang sana. Penjamin adalah seseorang yang bertanggung jawab dengan hidup kalian apabila nanti kalian sudah sampai di Jepang, penjamin akan memastikan ke pemerintah Jepang bahwa sesampainya di Jepang, kalian nggak akan hidup ngegembel di sana.

Pemerintahan Jepang itu ketat. Pemerintah Jepang paling tidak mau ada orang asing yang menjadi pengemis, gembel, atau seseorang yang terlantar itu hidup di Negaranya.

Kalau dulu Penjamin gue adalah kakak gue sendiri. Lantas kalau tidak punya saudara di sana, kalian harus dapat penjamin dari siapa?

Penjamin bisa didapatkan dari banyak hal, salah satunya adalah Penginapan yang sudah kalian pesan sebelumnya. Entah itu pihak hotel atau pemilik guest house. Yang jelas mereka akan memberikan surat penjamin apabila kalian sudah menjadi salah satu customernya.

Yang lain lagi adalah perkumpulan orang-orang Indonesia di Jepang. Coba sebelum pergi mengunjungi tempat-tempat tertentu, ada baiknya mencari tahu apakah ada komunitas Indonesia di negara/tempat tersebut? Atau juga Universitas yang isinya banyak sekali orang Indonesia.

Jadi intinya adalah, sebelum punya Visa, lo harus punya tiket pesawat, dan sebelum punya tiket pesawat, lo harus punya penginapan terlebih dahulu.

2. Tiket Pesawat

Setelah dapat penginapan. Hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Tiket Pesawat.

Perjalan PP untuk pergi ke salah satu negara Eropa/Asia yang cukup jauh dari Indonesia itu kisaran 8-10 Jt. Dan itu akan bertambah besar apabila kalian berkunjung ke negara tersebut ketika negara tersebut sedang merayakan hari libur nasional. Kalau di Jepang, tiket paling mahal itu biasanya ada di bulan April. Tiketnya bisa tembus 13-14 Juta. Itu karena pada saat bulan April, di Jepang sedang merayakan musim seminya Bunga Sakura.

Apabila kalian memesan tiket dari website. Coba gunakan mode incognito. (di Chrome pencet CTRL+SHIFT+N). Mode incognito adalah suatu opsi yang dapat digunakan untuk menyembunyikan aktifitas browsing seseorang sehingga setiap kunjungan ke sebuah website akan dihitung sebagai kunjungan pertama.

Apa hubungannya dengan tiket murah? Dipercaya jika kalian mengunjungi sebuah situs maskapai berulang-ulang, maka website tersebut akan menampilkan harga tiket yang lebih tinggi seiring dengan kunjungan berulang kalian . Nah, dengan mode incognito, setiap kunjungan kalian akan dianggap sebagai kunjungan pertama, sehingga harga tiket yang ditampilkan diyakini akan lebih murah.

Lantas gimana dong kalau tiket PP suatu maskapai harganya mahal banget?

Apabila duit pas-pasan, saran gue ketika booking pesawat adalah, beli 2 tiket maskapai yang berbeda. Alias beli ketengan.

Contohnya ketika keberangkatan dari Indonesia kalian menggunakan Air Asia, namun ketika pulang dari Jepang, kalian menggunakan Maskapai Garuda. Tiket keberangkatan Garuda atau maskapai lain biasanya lebih mahal jika Maskapai itu meninggalkan kampung halamannya.

Maksudnya apa?

Tiket keberangkatan Garuda ke Jepang adalah 7jt. Tiket pulang Garuda dari Jepang adalah 5jt.

Begitu juga dengan Ana (All Nipon Air Line). Tiket berangkat dari Jepang ke Indo jauh lebih murah daripada tiket kepulangan dari Indo ke Jepang.

Tiket Amsterdam Airline Belanda-Indonesia jauh lebih murah ketimbang Indonesia-Belanda.

Mungkin yang membuat kenapa maskapai nasional ketika keberangkatan itu jauh lebih murah ada hubungannya dengan masalah perpajakan dengan bandara. Atau entahlah, gue juga belum terlalu ngerti dengan masalah ini.

Lha terus, Mbe, kenapa nggak pakai Air As*a aja 2-2nya? Pulang perginya?

Oh oh oh…
Jangan. Jangan. Jangan. Dan Jangan pernah pulang dari luar negeri menggunakan Air As*a. :))

Bukannya gue Suudzon. Bukannya gue menjelek-jelekkan maskapai kesukaan anak kos-kosan ini. Hanya saja pengalaman gue dan teman-teman gue yang sudah pernah pulang dari luar negeri menggunakan maskapai ini ada bagusnya kalian jadikan pelajaran penting. Karena ini bisa menjadi masalah yang sangat fatal buat kalian-kalian yang berduit tipis atau backpackeran.

Tiga tahun yang lalu, karena keuangan gue benar-benar tipis, akhirnya gue memutuskan untuk pulang dari Jepang menggunakan maskapai Air As*a, dan kalian tahu apa yang terjadi di bandara?

Saat itu…

Eh bentar, nasi goreng gue udah dateng.
Lanjut di part berikutnya aja yak..
Bay~

.

.

.

.

Tersesatlah di negara orang, pergilah jauh dari kampung halaman. Maka kau akan mengerti arti indahnya pulang. Dalam ketersesatan, kau akan mengenal dirimu sendiri. Siapa dirimu ketika sendiri, dan siapa dirimu ketika tidak punya siapa-siapa.

-yg punya pengalaman unik di negara orang, share yak! Nanti gue reblog.