pembaharuan

Bukannya Saya Anti

Sekitar 5 tahun yang lalu. Saat itu saya baru benar benar dibukakan mata tentang kesenjangan yang nyata. Tentang bagaimana kekuatan modal yang didukung pemerintah menggerus hidup rakyat kecil yang tidak mampu bersuara. Sederhana, karena mereka bukan “siapa-siapa”

Ya, penggusuran pedagang di stasiun se-Jabodetabek. Yang dilakukan oleh Jonan dkk dgn iming iming untuk merapihkan stasiun. Kami sepakat dgn ide modernitas stasiun. Kami sepakat dgn peningkatan pelayanan kereta api. Kami jg sepakat dgn pembaharuan KAI di sana sini

Namun, yang kami tidak bisa bersepakat adalah menggusur hidup dan pencaharian manusia, tanpa komunikasi dan ganti rugi yang layak. Dan dengan dalih tidak adanya gerai/pemodal besar yang akan menggantikan peran pedagang, alasannya “stasiun akan steril”

Nyatanya sekarang apa? Di foto ini, apa yang kami perjuangkan dgn kawan2 bertahun lalu kejadian, adanya gerai ****mare* di stasiun UI. Sedih sekali rasanya karena masih terpampang nyata di ingatan kami bagaimana penggusuran dgn kekerasan yang dilakukan kepada para pedagang. Bagaimana kawan-kawan kami juga “dihajar” oleh tentara ketika membela pedagang kecil.

Penggusuran tanpa komunikasi yg baik, dilakukan dgn menggunakan militer, serta tidak memberi ganti rugi yg pas? Apakah itu tujuan pemerintah?

Sekali lagi, bukannya saya anti dgn pembaharuan. Saya justru mendukung perubahan. Saya pendukung #SpiritBaru kok. Itu visi perubahan yg saya usung. Namun tolong, wahai para penguasa, jgnlah korbankan rakyat kecil dan rakyat miskin kota demi ambisi pembaharuan yang Anda kejar.

Anda mungkin mendapat dampak sekarang atas kerja kerja kekerasan yang dilakukan. Mungkin Anda bisa punya karir baik, promosi bahkan bisa menjadi MENTERI BERKALI-KALI. Namun pernahkah terlintas di kepala?

“Bagaimana nasib pedagang yg pernah saya gusur?”

Semoga menjadi refleksi bersama, khususnya nasehat bagi diri saya sendiri. Salam

Baru lama
— 

Apa apa yang baru selalu seru, dan semangat pun otomatis diperbaharui. Kita ketemu orang baru, pun otomatis akan ada sifat baru, cerita baru dan pelajaran baru dari kedatangan dan kepergiannya kelak.

Bagaimana dengan orang lama? Tidak lantas otomatis semangatnya akan layu. Orang lama bergerak dalam perubahan yang niscaya, dia akan terus terbaharui sejalan dengan apa yang mereka alami, sehingga setiap harinya dia berubah menjadi sesuatu yang baru, meski tidak kentara kita tahu.

Pembaharuan diri, adalah sesuatu yang pasti. Karena waktu memperjalankan diri untuk terus belajar, dan mengubah kepribadiannya, menjadi lebih baik lagi ( harapannya).

Pernyataan atau tingkah laku yang dikeluarkan oleh orang-orang zaman sekarang yang juga telah dinyatakan dalam Al-Qur'an berabad-abad lalu, seperti homoseksual dan tantangan orang-orang musyrik terhadap Allâh SWT, sebenarnya justru menguatkan Al-Qur'an itu sendiri sebagai kitab wahyu yang relevan di tiap zaman. Bukti bahwa Al-Qur'an bukanlah kitab basi dan tidak perlu pembaharuan macam orang liberal bilang. Toh gagasan merekalah yang sebenarnya basi.
[Semangat Lusuh]
— 

Aku ini manusia Bosanan, yang mudah bosan dengan suatu hal. Setiap hari memutar otak agar hal yang sama tapi memiliki kesan yang beda.

Aku selalu suka sesuatu yang baru. Karena pembaharuan memberi semangat baru. Semangat itu bisa lusuh cuy. Lu kudu nyuci semangat biar tetap terlihat baru. Putar otak nyari detergen apa yang cocok biar kalo nyuci semangat biar kaya baru lagi, buat di pake sehari hari itu semangatnya.

Semangat kaya iman, terus harus diperbaharui, karena kebutuhan kita terus meningkat, iman meningkat karena taat, tahu itu ketaatan yang dengan ilmu. Semangat itu berdiri karena sebuah visi dan misi yang ingin dikejar. Mungkin perlu Napak tilas lagi biar lebih bergairah dan bersemangat menjalani hari hari. Semangat itu ekspresi syukur, semangat itu Citra seorang muslim/ah, semangat itu energi yang harus terus diisi disini : hati

Siapa Dia?

Bisa jadi dia yang tahun lalu begitu kini sudah begono. Bisa jadi dia yang bulan lalu seperti itu, hari ini sudah seperti ono.

Kita tak pernah benar tahu kapan seseorang mendapat pemahaman. Kita tak pernah tahu kapan seseorang benar menemukan pembaharuan pada prinsip hidupnya.

Dia yang kita kenal tempo hari bisa saja menjadi dia yang diluar dugaan saat ini. Setiap orang tumbuh dengan berbagai pemahaman yang Tuhan berikan, meski memang ada yang benar mengambilnya atau sekadar dijadikan tempelan.

Kita tak selalu bisa mengukar siapa dia sekarang hanya dari pengenalan-pengenalan yang terjadi di masa lalu. Jika ingin kembali benar mengenalinya, kita juga harus berbesar hati untuk kembali masuk ke dalam dunianya–yang barangkali, sudah sangat berbada dari dunia yang kita kenali dahulu.

Kenali dia yang sekarang sebagaimana isi kepalanya sekarang, sebagaimana bentuk dunianya sekarang, bukan sekadar dari masa lalunya yang masih mengental dalam ingatan. Setiap orang berhak menjadi dirinya yang lebih baik, begitu pula dia yang dulu kita kenal terlalu banyak ketidakbaikannya.

Jika dia yang sekarang memang telah lebih membaik, apa salahnya mulai belajar menerima kenyataan itu, dan mengubur lebih dalam tentang siapa dia di masa lalu.