peliharaan

Antara 33 ciri-ciri gadis muslimah:



1. Solat tepat waktu
2. Banyak amalan sunat dan bibir basah dengan zikir.
3. Butir bicaranya terselit dengan kalimah seperti bismillah,
4.alhamdulillah, insya-ALLAH, subhanallah, Allahuakhbar dan lain-lain zikir.
5. Tidak mengeluh dengan masalah remeh kehidupan hariannya.
6. Bercakap dengan rendah suara.
7. Lembut dan halus tingkahlakunya.
8. Tuturbicara yang senang didengar tanpa kata lucah atau sumpah seranah.
9. Pakaian longgar tanpa mendedahkan bentuk tubuh.
10. Rambut, leher dada yang sentiasa ditutup dan dijaga dari pandangan lelaki bukan mahram dan mereka bukan Islam.
11. Sukakan kanak-kanak dan kanak-kanak menyukainya.
12. Pandai mengambil hati orang tua.
13. Menghormati dan taat ibubapa.
14. Kesayangan keluarga dan tetangga.
15. Contoh kepada adik-adik dan mencontohi orang tua.
16. Berkuku pendek sentiasa bagi menyempurnakan wudhu.
17. Rambut tak diwarnakan.
18. Banyak dan murah dengan senyuman.
19. Banyak mendengar dari bercakap.
20. Senyuman adalah ketawanya.
21. Tidak ketawa terbahak-bahak.
22. Suaranya tidak lantang dan jarang didengari oleh lelaki bukan mahram.
23. Tidak suka bersiar-siar atau keluar rumah tanpa urusan penting bagi mengelakkan fitnah.
24. Menjauhi kumpulan yang sedang mengumpat dan mengeji supaya tidak dikira bersubahat.
25. Tidak menghebohkan kedukaan hatinya dan menyembunyikan kesedihannya.
26. Menerima dugaan sebagai ujian ALLAH dan kafarah dosanya.
27. Sentiasa berdoa baik untuk keluarga, orang lain dan juga untuk orang yang menganiayanya.
28. Pandai bergaul dengan semua orang tanpa mengira tahap pendidikan dan taraf.
29. Tidak boros dalam berbelanja dan pandai menguruskan kewangannya.
30. Berhati-hati dengan apa yang dimakannya dan menjauhi makanan syubhah.
31. Sayangkan dan kasihan binatang peliharaan seperti kucing, arnab, burung, ikan dan lain-lain.
32. Suka kepada alam sekitar, suka berkebun dan bunga.
33. Menitik-beratkan aurat yang dianggap remeh seperti tumit kaki, kaki, siku dan lengan. Caranya dengan memakai sarung tangan dan sarung kaki.
 

gegara fenomena anak gantengnya ustad nikah umur 17 tahun, fitur explore instagram gue dibanjiri akun-akun (katanya) dakwah pada nyuruh nikah muda, yang di-like entah siapa di list following gue. this is why I do not follow those (katanya) dakwah accounts. baik di line ataupun ig sebagai socmed aktif gue. bukannya mengajak perempuan untuk produktif agar lebih berguna bagi sesama, ini malah kontennya bikin galau dan mendorong perempuan agar buru-buru menikah. meh. apa bedanya akun yang (katanya) dakwah itu sama akun-akun abege labil yang isinya galauin cowok? beda bungkus aja sih. satu pakai bungkus agama, satunya enggak. tapi isinya sama. ngebet pengen berdua-duaan sama lawan jenis.

I mean, yes I believe marriage is completing half of our deen, tapi nikah bukan balapan yang harus diburu-buru kan? kenapa nggak lebih mengarahkan perempuan untuk mengejar pencapaian-pencapaian mereka? karena toh kalau memang yakin dengan takdir Allah, tulang rusuk yang hilang juga akan dipertemukan dengan pemiliknya at the right time, kan? bukannya maksain buru-buru minta dihalalin biar bisa saling pegangan, ciuman, dan ena-ena dengan dalih ibadah. marriage is so much more than making sex halaal.

output gerakan si akun-akun (katanya) dakwah ini bikin jadi banyak perempuan muda ngebet nikah karena ingin segera dihalalkan (duh, tapi kamu kan bukan babi?!?!?) dan ngebet minta dikhitbah. seolah pilihan hidup perempuan muda cuma dua: nikah muda atau pacaran. pacaran (katanya) mendekati zina. jadi daripada dosa mendingan nikah muda.

like… hell-o, man……

picik sekali rasanya kalau para penggerak (apa yang mereka yakini sebagai) dakwah ini berpikir perempuan kalau nggak nikah muda, ya pasti bakal buang-buang waktu dengan pacaran gak ada juntrungan. entah darimana sesat pikir macam ini berawal. mereka kayak lupa perempuan itu adalah madrasah pertama anaknya, yang pastinya seorang perempuan butuh banyak mengeksplor ilmu pengetahuan dan pengalaman supaya anaknya bisa dididik oleh sosok ibu cerdas dan berwawasan luas. jadi apa kalau nggak nikah muda, perempuan pasti akan menghabiskan waktunya cuma buat pacaran? emang otak perempuan isinya cuma lelaki doang?

duh!

gue bisa dibilang super jarang melihat akun (katanya) dakwah yang mendorong perempuan mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya atau memperluas pergaulan sampai ke kancah global sebagai bekal untuk mendidik anak masing-masing di masa depan nanti.

isi akun itu melulu cuma: ayo nikah, ayo halalin aku, ayo kasih aku kepastian…

dengan balutan agama.

buat saya efek yang diciptakan akun-akun (katanya) dakwah ini sama mengerikannya dengan (apa yang mereka yakini sebagai) konspirasi yahudi. sudah banyak perempuan yang “teracuni” untuk ngebet dihalalkan, meskipun bisa jadi secara mental belum siap. padahal anak butuh keluarga harmonis dan orangtua yang tidak labil.

all in all, mau nikah umur berapapun, itu pilihan masing-masing individu. tapi mbok ya janganlah menggencarkan nikah muda dengan cara-cara yang salah. dibalutkan agama dan membuat perempuan jadi galau menunggu pangeran berkuda putih datang meghalalkan (padahal si perempuan bukan babi peliharaan). ujung-ujungnya karena ngebet nikah tapi masih labil, banyak juga yang minta cerai karena nggak kuat menerpa badai rumah tangga. gue baca di artikel pikiran rakyat, angka perceraian di Indonesia bahkan mencapai 1000 per harinya, dan sekitar 40 kasus per jamnya. nggak bisa dipungkiri dari angka sebanyak itu banyak mereka-mereka yang menyesali kelabilan akan kengebetan mereka yang dulu ingin buru-buru minta dihalalkan. contoh masalah yang terjadi akibat fenomena ini adalah masalah keuangan. yes. doo-eet. (sumber: buku The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring)

padahal masa-masa muda itu bisa dipakai dengan melakukan banyak hal di dunia ini. terlalu banyak ilmu pengetahuan, terlalu banyak jenis orang, dan terlalu banyak tempat untuk dieksplor. so please, jangan mendoktrinkan sesat pikir “nikah muda biar lekas halal”. karena kamu bukan babi. eh bukan deng, karena nikah bukan cuma menghalalkan pegangan tangan, ciuman, dan seks. kalau memang sudah siap dengan segala konsekuensinya, oke, itu pilihanmu. tapi gak usah “meracuni” perempuan lain yang merasa belum siap untuk mengikuti jejakmu juga.

karena yang diekspos akun-akun (katanya) dakwah itu juga cuma bagian enaknya nikah muda doang. macam gunung es aja. di bawahnya jelas banyak masalah dan justru malah itu yang esensial tapi nggak pernah dibahas mendalam. entah kenapa. padahal masalah basic seperti problem finansial atau emosi kedua belah pihak yang masih mirip bocah merupakan hal krusial yang penting dibahas kalau mau menikah muda.

jangan berdalih dengan cuma punya modal nekat aja ngelamar dan atau menerima lamaran anak orang. ini pernikahan, bukan mau terjun buat sky diving. nekat doang gak bakal bisa beli susu bayi atau bayar listrik. kecuali situ mau nekat menodong kasir minimarket atau kasir pln buat memenuhi kebutuhan-kebutuhan rumah tangga. yakali banget kan?

buat kamu-kamu yang sudah menikah dalam usia yang terbilang muda: selamat! kamu sungguh sangat berani menempuh hidup baru yang isinya kamu dan pasanganmu (dan juga anak-anak kalian), bukan cuma dirimu sendiri lagi. gue paham, meskipun dua orang yang hidup bersama akan lebih menggandakan masalah daripada satu orang, tapi jelas kebahagiaannya juga berlipat ganda dibandingkan dengan kami-kami yang masih hidup untuk diri sendiri. gue berdoa semoga kalian selalu diberkahi hidup dan pernikahannya.

buat kamu-kamu yang galau-galau pengen dikhitbah: yakinkan hati, beneran udah siap? atau cuma disiap-siapin, padahal sebetulnya cuma pengen bisa punya pasangan halal buat pegangan tangan dan enak-enakan? kalau beneran udah siap, selamat! semoga pangeranmu lekas datang. kalau ternyata belum, ya santai cyin, hidupmu masih panjang. di Pakistan sana, dulu Malala Yousafzai sampai ditembak taliban karena memperjuangkan hak-hak perempuan untuk bersekolah. lah kamu sudah hidup di negara yang tidak mempermasalahkan sekolah bagi anak perempuan, masa galau berkepanjangan hanya karena Allah belum memberi sang pangeran? malu atuh ih sama Malala. padahal akses kamu untuk mendapatkan pendidikan dan memperluas pengetahuan gak sesulit saudara-saudara kita di pakistan. ingat an-nuur 26 laaah. pastinya perempuan cerdas juga untuk lelaki cerdas juga kan?

buat kamu-kamu yang masih ingin mengeksplor banyak tentang dunia sebelum menikah: selamat! anak-anak berhak terlahir dari rahim ibu yang cerdas dan suamimu berhak mendapatkan pasangan hidup yang mampu menopang keutuhan rumah tangga dengan pengetahuan dan pengalamannya.

buat kamu-kamu lainnya yang kebetulan baca tulisan gue sampai disini: ini suara hati gue dan beberapa netizen di ask.fm Om Manampiring yang lelah dengan fakta kalau tren nikah muda tapi modal nekat semakin dikuarkan oleh akun-akun (katanya) dakwah. beberapa dari kalian mungkin nggak setuju dengan opini ini dan beberapa mungkin berpikir “liberal amat sih lu jadi cewek”. it’s okay, kita punya sudut pandang masing-masing. saya hargai pendapat kalian bila berbeda dari saya. and i hope you guys do the same thing too.

depok,
9 agustus 2016

-RRF-

sumber gambar: ask.fm/manampiring
sumber artikel: Pikiran Rakyat Online
sumber buku: The Alpha Girl’s Guide by Henry Manampiring. milik pribadi penulis. worth to read.

#opini

Ada yang harus dijaga, ada yang harus dilepaskan
—  Bukannya peliharaan sekalipun tak pernah suka diikat lehernya? lantas mengapa tak bergegas bebaskan dan jaga dengan sebaik-baiknya menjaga.
WUJUDMU TANDA CINTA-NYA KEPADAMU, MENGAPA DIPERSIA-SIAKAN

Allah amat menyayangimu. Wujudmu adalah bukti wujud-Nya.
Apalah maknanya Dia mewujudkan mu jika Dia membencimu. Renunglah ke dalam dirimu dengan renungan yang sedalam-dalamnya.

Sesungguhnya pada dirimu sudah nyata akan kasih sayang dan cinta-Nya, jika kamu memahami.

“Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mahu melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)?” (Adz-Dzaariyaat: 21)

Dari-Nya engkau datang dan kepada-Nya akan kembali. Engkau tidak akan sesekali memahami akan bahasa cinta jika engkau berpaling dari Wajah-Nya.

“… Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.” (Al-Baqarah: 156)

Segala apa yang kau pandang, dengar, rasai dan miliki adalah kosong pada hakikatnya.

Jika engkau memeluk dengan rasa cinta kepada apa yang ada di sekelilingmu itu, engkau akan jauh dari cahaya kasih sayang-Nya.

Nafsu mu adalah penghalang besar untuk diri mu merasai sentuhan belaian-Nya yang amat lemah lembut.

“Dihiaskan (dan dijadikan indah) kepada manusia; Kesukaan kepada benda-benda yang diingini nafsu, iaitu perempuan-perempuan dan anak-pinak; harta benda yang banyak bertimbun-timbun, dari emas dan perak; kuda peliharaan yang bertanda lagi terlatih; dan binatang-binatang ternak serta kebun-kebun tanaman. Semuanya itu ialah kesenangan hidup di dunia, dan (ingatlah), pada sisi Allah ada tempat kembali yang sebaik-baiknya (iaitu Syurga).” (Ali-‘Imran: 14)

Musibah adalah fitrah kehidupan, ia bagaikan badai dan gelombang di lautan.

Ujian bagaikan cemeti kehidupan, justeru itu ramai yang menyangka Allah menjauhinya, tidak menghiraukannya, malah ada yang berburuk sangka pada-Nya. Renunglah wahai diri dengan cahaya hatimu.

Fahamilah, musibah adalah seruan untuk hamba itu kembali ke dalam dakapan-Nya. Bagaikan cemeti sang pengembala kepada ternakannya, ia agar ternakannya kembali ke kandang.

Kita lalai, angkuh, lupa diri dengan sedikit kelebihan atau melanggar ajaran-Nya. Hadapilah dengan redha, sabar, tenang, bersegeralah bertaubat dan sujud pada-Nya.

Yakinilah, Allah tidak sesekali menzalimi hamba-Nya, Allah amat mencintai dan menyayangi diri mu. Insya Allah pada segala kesulitan itu akan datangnya kerahmatan.

“… dan Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada hamba-hambaNya.”
(Fussilat: 46)

Wallahu ‘alam.

Semoga bermanfaat.

SILA SHARE DAN SEBARKAN

ALLAH saja

Bismillah…
Saya biasanya ga mau menulis sesuatu yg buruk, yg malah berpotensi menyebarkan keburukan itu sendiri.

Berhari-hari saya menahan diri, saat rame org membahas Awkarin beberapa waktu lalu.

Remaja pinter berjilbab dari kota kecil, yg kemudian pindah sekolah ke Jakarta, dan menjadi liar dan murahan kemudian.

Anehnya, keLIARan gadis ini, digemari di kalangan remaja dunia maya,

dan bahkan gadis ini bisa dapat uang banyak dari potensi para followernya.

Disebut-sebut, dari popularitasnya, Awkarin bisa dpt bayaran sampai 25juta perbulan, untuk jasa endorse produk-produk yg segmen-nya adalah remaja.

Wow!
Saya tahan untuk tdk menulis ttg Awkarin saat itu,

krn saya yakin, apa yg akan saya tulis, akan sama saja dgn komentar dan ‘omelan’ emak-emak yg menghiasi Vlog dan akun Sosmed Awkarin.

Tentang moral,
dan tentang agama.

Tapi ternyata..
Beberapa bulan kemudian, Muncul another Awkarin,…Anya Geraldine, alias Nur Amalina Hayati, nama aslinya.

Sama seperti Awkarin, gadis remaja belasan tahun ini jg gemar sekali membagikan video kisah cintanya yg lebih liar dari gaya pacaran Awkarin.

Pertama kali melihat video Anya, saya langsung marah..
Kok bisa!

Kok bisa, saya yg udh menikah 10 tahun.. Belum pernah bulan madu di hotel mewah yg lsg berhadapan dgn kolam renang yg jg ada jacuzzinya

Ini kok anak ingusan belasan tahun, nikah enggak,
pacaran baru hitungan bulan..

Kok sudah bulan madu mewah.. Kok bisa?! Mengapa! :D

Hush!
Salah!
Maksutnya.. Kok bisa.. Remaja begituuuuuuu..

Ini Indonesia kan?
Masih negara dgn muslim terbanyak kan?

Well
Mundur sejenak kebelakang, tahun 2000-an.

Setiap kita, punya zaman.
Waktu Jaman sekolah saya dulu.. Jg ada tokoh sekaliber Awkarin dan Anya,

Jadi FIX, awkarin bukan ‘simbol seks remaja’ pertama..

Hanya saja,
Ada ‘tokoh’
Di jamannya masing-masing,

Dan dengan level perosotan moral yg sama-sama makin menurun.

Saya dulu tumbuh dilingkungan paling berpotensi untuk rusak.

Sejak SD, saya dah biasa ngeliat narkoba.

Temen-temen saya yg nikah karena hamil duluan, sdh ada sejak kelas 4 SD. Bukan sesuatu yg baru melihat anak SD yg centil, hamil dan brenti sekolah.

Orang Balikpapan pasti tau kampung baru.

Di situ saya lahir dan dibesarkan. Di 'Texas'nya Balikpapan.

Sebagai remaja ,
saya jg melewati masa-masa rentan bentrok dengan mamak saya.
Dididik dengan keras.
Kolot.
Saklek.

Alasan kuat untuk menjadi rusak, krn 'bosan’ di rumah, bisa saja.

Terlebih saat SMA, kawan-kawan sekolah saya, Yg rusak moralnya, ga sedikit.

Yg menjual diri demi bisa beli softlense, ada!

Yang rela jadi peliharaan om-om gendut tua, demi bisa bayar biaya nongkrong di kafe, jg ga sedikit. Saya ber-kawan dgn remaja-remaja rusak itu.

Lulus sekolah, dan langsung kerja diperusahaan Australia..

Jg makin meningkatkan potensi saya untuk bisa rusak.

Gadis muda,
Dari kampung miskin, mendadak bergaul dengan org-orang kaya yg ber-pacar dan ber-suami-kan bule-bule berduit.

Peluang bandel..
Agar kehidupan ekonomi membaik, bisa saja..
Karena ditawarkan Didepan mata saya.

Saat itu, saya jg ga jelek-jelek banget, berat badan masih dibawah 50 kilo :D
Masih bisa lah, bikin satu dua bule melirik..

Tapi ternyata tidak !

Pertolongan ALLAH ,
Saya tetap bisa jadi Yana yg apa adanya.

Tidak pernah merokok.
Tidak pernah minum minuman keras.
Tidak pernah mencoba narkoba
Tidak kenal seks bebas.
Padahal saya dikelilingi kehidupan itu.

Bahkan sebaliknya,
Bukannya Rusak, takdir ALLAH , saya malah memBAIK..

1 September 2003, saat akhirnya memutuskan berjilbab..

Saya dan kawan-kawan saya, baru saja pulang dari salah satu tempat hiburan malam paling populer di Balikpapan. Pulang pagi…!!!

Bayang-kan!
Habis pulang pagi..
Langsung berjilbab.

Ya!
Saya berjilbab begitu saja setelahnya.. Dan alhamduliLLAH istiqomah sampai sekarang, dgn terus belajar memperbaiki diri.

Saya memutuskan berjilbab dan mendekat pada ALLAH , karena merasa bosan dengan kehidupan hura-hura saya, yg ternyata.. Ga jadi apa-apa..

Senang..
Nongkrong..
Pulang!

Begitu terus!
Betapa membosankannya..
Apa mau sampai mati?

Begitu saja, cara ALLAH yg Maha Baik memberikan hidayahNya. Menyelamatkan saya dari kerusakan..

Padahal saya berada didalam lingkungan yg rusak dari beragam penjuru..

Mengapa saya bisa seberuntung itu??
Merasakan hidup penuh hura-hura.. Tanpa tersentuh kerusakan??

Apa saya dr keluarga religius? Tidak..!!!!

Apa saya punya amalan banyak?…..Gak!!!!

Jawabannya,
Adalah doa-doa yg dilantunkan mamak saya, hampir di setiap sujud beliau,……
agar ALLAH menjaga saya,
Menjaga semua anak beliau, dari buruknya godaan syetan.

Juga,
Insha ALLAH , karena kerasnya usaha bapak saya yg berkomitmen hanya membawa uang halal masuk kerumah.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski bekerja di kapal (tug boat) penarik tongkang minyak selama puluhan tahun.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski kawan-kawan dan junior beliau dikapal,
Sudah kaya mendadak satu persatu.. karena memper-jual-belikan 'kencingan’ minyak-minyak curian yg pasti tdk akan ter-deteksi perusahaan.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
Karena takut anak-anaknya makan barang haram..

Ya!
Itulah yg insha ALLAH telah menyelamatkan saya dan saudara-saudara saya lainnya..!

Bukan karena saya hebat..
Tapi karena beliau-lah orangtua yg hebat!

Sahabats..
Jaman makin rusak..
Sekeras apapun kita memproteksi internet, agar menjadi internet sehat bagi anak-anak kita..

Sekuat apapun, kita lindungi tontonan anak-anak kita, agar jauh dari tontonan kemaksiatan..

Dunia luar tetap waspada untuk memangsa mereka..

Dunia luar tetap memaksa anak kita mendengar dan melihat hal-hal yg kita tutup-tutupi dan sembunyikan dirumah..

Sehingga..
Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya benar-benar hanya akan mengandalkan pertolongan ALLAH saja..

Agar anak-anak saya kelak,
Mengigit erat sunnah RasuluLLAH dengan gigi gerahamnya,

Erat-se-erat-erat-nya! Agar tak terlepas!

Meski semua orang akan menyebutnya pengecut karena tak mau berbaur dengan kemaksiatan.

Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya akan meminta suami saya, Ayah dari anak-anak saya..

Agar Berusaha keras membawa pulang harta halal saja….. meski sampai mati kelak, kami tetap hanya tinggal dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, karena keterbatasan..
Tak apa!

Semuanya, hanya Agar kelak ALLAH berkenan menguatkan anak-anak kami,

Agar kuat menggenggam panasnya bara api Istiqomah ber-agama.
Ditengah dunia yg semakin tua dan semakin gila.
Ya!

Sungguh,
Sebagai orang tua..

Pertolongan ALLAH saja yg bisa kita andalkan..

Hanya ALLAH saja..
Sungguh hanya ALLAH saja..

Yana Nurliana
(menulis adalah menasehati diri sendiri, saat melihat remaja di negeri ini, sudah mulai kehilangan jati diri)

sumber : dr Lela di grup FIM dejapu

Intra Before Inter

Satu tahun ke belakang, saya melihat, mendengar, merasa, dan mengalami kerumitan hubungan antar manusia. Membuatku berkali-kali ingin menyerah untuk memahami manusia. Membuatku berkali-kali berniat tinggal di Mars seperti Matt Damon (ngga deng). Sesungguhnya, manusia adalah ciptaan yang membingungkan.

Paparan terhadap interaksi dan kontak sosial begitu intens, sejak deretan nama dan wajah dimungkinkan untuk berseliweran dengan massif dan rutin di layar ponsel. Saya menjadi tahu sedang ada di mana si A, saya tahu masalah yang sedang dipusingkan si C, saya tahu ukuran baju si D, saya tahu nama kucing peliharaan si K, saya tahu harga lipstik si F, dan sejumlah pengetahuan lain pun saya peroleh dengan mudah setelah membaca kiriman mereka yang otomatis terlihat di layar ponselku.

Wow, saya mesti merencanakan proyek bersih-bersih bank memori.

Dalam era media sosial ini, sangat  jelas bahwa kemampuan seseorang dalam berhubungan, berinteraksi, berkomunikasi dengan orang lain, sangat diandalkan. Ngga connect, ngga keren. Menurut pencetus teori Multiple Intelligences, Howard Gardner, perlu kecerdasan interpersonal yang baik agar seseorang bisa berelasi dengan baik.

Melihat diriku sendiri yang akhir-akhir ini seperti lelah menghadapi manusia, jengah melihat deretan cerita maya, dan ingin menghindar sebisa mungkin dari perkumpulan manusia, membuatku bertanya, ada apa dengan kemampuan interpersonalku?

Saya mengakui bahwa arus informasi di media sosial yang begitu hebat kadang-kadang menggoyahkan self-esteem (perasaan bahwa diri berharga), mengguncang self-worthiness (perasaan bahwa diri berguna), yang menurut hemat saya, berpeluang menimbulkan penyakit-penyakit hati seperti dengki, dongkol, sulit bersyukur, nyinyir, keinginan untuk pamer, prasangka buruk, dan membanding-bandingkan.

Lalu saya merenung, masalahnya pasti bukan pada dunia ini, tapi pada cara saya memandang dunia. Masalahnya bukan pada orang lain, tapi pada diri saya sendiri. Masalahnya bukan pada lemahnya kemampuan interpersonal, tetapi pada kemampuan intrapersonal saya.

Dalam teori Multiple Intelligence, kecerdasan intrapersonal diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami, mendengarkan, mengelola dan mengendalikan dirinya sendiri. Orang-orang yang cerdas secara intrapersonal ditandai dengan mampu memahami perasaan diri sendiri, memahami situasi yang sedang dihadapi dirinya sendiri, kemampuan mengendalikan diri dan mengarahkan dirinya secara matang terutama ketika menghadapi konflik. 

Apabila menghadapi masalah pelik, ia juga mampu memotivasi dirinya agar segera bangkit dan mendorong diri sendiri mencapai cita-cita atau target diri. Dapat dipastikan, orang-orang yang cerdas secara intrapersonal akan terhindar dari konflik dalam diri, dan sukses menghadapi masa depan yang diperkirakan penuh dengan masalah pelik.

Jadi, kira-kira begini, kadang kita lelah terhadap manusia–dengan segala kerumitannya yang sulit dimengerti, membuat kita ingin menjauh dari perkumpulan. Mungkin itu pertanda bahwa ada ketidakseimbangan dalam diri kita. Kita terlalu fokus pada hubungan keluar, tapi lupa tidak membangun hubungan yang baik dengan diri sendiri.

Jika kita sudah punya kekuatan intrapersonal, saya rasa kita akan lebih mudah menyiasati masalah dan konflik interpersonal. Contoh sederhananya begini, kalau kita sudah kukuh dengan pemahaman bahwa kita diberi kelebihan dalam hal A, kita ngga akan dengki pada orang lain yang diberi kelebihan dalam hal B. Kalau kita sudah memahami tujuan yang ingin kita capai, kita ngga akan mudah goyah saat melihat orang lain berproses mencapai tujuan hidupnya yang mungkin berbeda dengan kita.

Contoh orang dengan kecerdasan intrapersonal tinggi antara lain Oprah Winfrey. Saya selalu kagum dengan caranya berkomunikasi dengan orang lain. Humble and respect. Membaca cerita perjuangannya sebelum menjadi sesukses sekarang membuat saya tercengang. Dan itu tidak akan terjadi jika ia tidak punya kecerdasan intrapersonal yang mumpuni. 

Ya, dalam berinteraksi dengan diri sendiri dan orang lain memang membutuhkan sedikit seni. Saya menganalogikan cara kita memandang orang lain seperti cara kita memandang gugusan bintang. Kita sepakat untuk menggunakan teropong bintang, tidak ada yang menggunakan mikroskop untuk melihat bulan.

Sebaliknya, cara kita memandang diri kita sendiri ibarat cara kita melihat makhluk mikroskopik. Kita sepakat untuk menggunakan mikroskop, tidak menggunakan teropong.

Dalam melihat orang lain, kadang kita terlalu detil. Jika Anda tidak mau pusing, saya sarankan untuk tidak melakukannya. Cukup lihat dari kejauhan, tidak perlu terlalu masuk dalam hidupnya, kecuali Anda diundang ke sana. Gunakan teropong, bukan mikroskop.

Sebaliknya, dalam melihat diri sendiri, kadang kita malah terlalu berjarak, sehingga sering luput dari pandangan kita, kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan diri kita. Kenali diri lebih detil dengan menggunakan mikroskop. Karena dengan mengenal diri lebih jauh itulah kita akan memahami apa yang kita butuhkan, ke mana kita harus pergi, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi hari-hari pemberian Allah sesuai dengan yang Dia harapkan.

Muse

Jujur, aku sebenarnya tidak pernah bercita-cita jadi penulis.  Penulis itu penipu massal.  Penulis fiksi maksudnya, seperti aku sekarang.  Kerjanya menjual mimpi-mimpi yang jadi penyebab utama banyaknya perempuan jaman sekarang yang delusional, berharap akan bertemu laki-laki sempurna seperti di novel-novel tulisan penulis sepertiku.  Membangun ekspektasi mustahil tentang kualitas pasangan.  Ujung-ujungnya, pasangan sendiri saja sampai dibanding-bandingkan dengan tokoh idola fiksi mereka. 

Tokoh rekaanku.  Yang cuma ada di khayalan.  Hasil percampuran setoples kastengels dan belasan cangkir kafein cair.

Terkadang, aku juga sering dituduh bahwa cerita-cerita yang aku tulis itu adalah kisah nyata.  “Kenalin dong, Mbak, sama (isi nama tokoh fiksi laki-laki idola sejagad raya hasil khayalanku yang paling mutakhir), pasti ada orang benerannya kan?  Ada kan?  Ada kan?  Mau dong ketemu aslinya.”

Girls, please, if guys like that exist, I would be too busy fucking them than write about them, don’t you think?

Kalau mereka mau sih.

Tapi masa nggak mau, gue keren gini.  Udah, nggak usah protes.

Anyway, terkait pertanyaan-pertanyaan tentang tokoh nyata itu, aku harus akui, bahwa setiap seniman – penulis tergolong seniman juga kan? – pasti punya muse.   Apa ya bahasa Indonesia-nya muse?  Sumber inspirasi?  Ya itulah pokoknya.

Dalam mitologi Yunani, muse ini merupakan dewi-dewi yang menjadi inspirasi terciptanya karya seni, sains, dan sastra.  Ada sembilan: Clio, Thalia, Erato, Euterpe, Polyhimnia, Calliope, Terpsichore, Urania, dan Melpmene, kesembilannya adalah anak perempuan Zeus dan Mnemosyne.  Dalam kehidupan sekarang, yang menjadi muse seorang seniman tentu bukan lagi dewi-dewi ini – aku saja baru tahu nama-nama dewi-dewi setelah meng-Google – tapi orang yang bikin inspirasi mengalir.  Bisa satu orang, bisa juga semua orang-orang yang kami temui sehari-hari. 

Fashion designer biasanya yang paling kelihatannya muse-nya siapa.  Kate Moss, sering disebut-sebut sebagai muse-nya Marc Jacobs.  Audrey Hepburn menjadi muse Hubert de Givenchy sehingga lahir gaun hitam legendaris yang dipakai Hepburn di film Breakfast at Tiffany’s. Madonna, yes the singer, juga punya peran sebagai muse Jean Paul Gaultier.  Christian Louboutin mengakui Dita von Teese sebagai muse-nya. 

Di dunia film ada Tim Burton yang sepertinya tidak bisa lepas dari Johnny Depp dan Helena Bonham Carter.  Di lukisan, Pablo Picasso menghasilkan karya-karya terbaiknya terinspirasi perempuan simpanannya, Marie-Thérèse Walter.

Tapi penulis jarang sekali menyatakan jelas-jelas siapa muse-nya.  Contohnya Stephen King, di bukunya On Writing, cuma bilang: “Traditionally, the muses were women, but mine’s a guy; I’m afraid we’ll just have to live with that.”  Siapa laki-laki yang dia maksud, tidak pernah diungkapkan.  Dan setahuku, penulis-penulis terkenal lainnya, dari berbagai interview atau artikel yang pernah kubaca, juga tidak pernah membahas muse-nya siapa, biasanya yang mereka ceritakan adalah kebiasaan menulis.  James Joyce menulis sambil tiduran tengkurep dengan menggunakan pensil berwarna biru.  Virginia Woolf menyisihkan dua setengah jam setiap pagi untuk menulis, di atas meja yang dirancang khusus sehingga dia bisa ‘melihat’ karyanya dari dekat dan dari jauh.  Hemingway suka mengetik naskahnya sambil berdiri.  Agatha Christie mengunyah apel di dalam bak mandi sambil menghayal-hayalkan plot pembunuhan yang akan ia tulis.  Dewi Lestari pernah menyewa kamar kos dan menulis di situ dari pagi sampai sore saat menyelesaikan Perahu Kertas.

Most writers talk about their writing habits, but rarely – if never – about their muse

Me?  Aku tidak punya meja yang dirancang khusus, tidak menulis sambil berdiri karena bok pegel kali, tidak juga mengunyah apel di bak mandi (mending mengunyah yang lain), atau sampai menyewa kamar kos.  Tidak ada yang unik tentang ritual menulisku.  Raia Risjad cuma bangun jam tujuh setiap Sabtu pagi, ada yang bikinin kopi dan toast, kemudian sarapan di atas tempat tidur sambil menuangkan apa pun ide yang di kepala ke laptop.  That’s it.  Bahkan sebelum mandi, aku bisa melahirkan belasan halaman.

But here I am, jam sebelas pagi, hampir setengah dua belas sebenarnya, duduk di depan laptop, dan halaman Word ini masih putih bersih.  Cuma ada cursor yang berkedip-kedip menunggu digerakkan dari tadi.  Dari jam tujuh pagi tadi.

Lebih tepatnya, sejak dua puluh empat bulan yang lalu.  Waktu si mas-mas pembuat kopi dan toast itu meninggalkan rumah ini.

Aku bisa membayangkan sebalnya wajah Alam jika mendengar aku menyebutnya mas-mas.

In fact, Alam is far from the image of the so-called ‘mas-mas’.  Tubuhnya tinggi, bahkan saat aku mengenakan hak tujuh sentimeter, kepalaku hanya sampai di ujung bibirnya.  Kulitnya cerah, cenderung putih, yang membuat pipinya selalu kelihatan sangat memerah setiap dia kepanasan di luar, dan wajahnya selalu kesal setiap aku meledeknya: “Mbak, blush on-nya bagus, mereknya apa?”  Rambutnya ikal, selalu dipotong pendek sempurna.  Sempurna buat diacak-acak dan dijambak sedikit tiap aku sedang gemes.  Dan bibir tipisnya selalu mencetus pelan dengan suaranya yang dalam: “Raia, aku ini laki-laki, bukan kucing peliharaan.  Seneng banget sih ngacak-ngacak.”

*a teaser for my upcoming story entitled Muse, to be published later this year ;)

Waktu Bersama

Percakapan-percakapan denganmu selalu tak pernah berakhir titik. Selalu saja kurindukan meski terkadang hanya ada percakapan basa-basi lalu pergi terlelap.

Bicara denganmu selalu membuat kita melihat dunia yang berbeda, dunia kita. Hanya ada kamu dan aku di dunia yang sangat luas milik kita. Meski terkadang hanya menemui tembok-tembok pantai yang terasa aneh.

Berjalan begitu saja tanpa menemui penat meski kadang sering muncul tanda bosan “apa yang akan kita bicarakan?” Itu bukan tanda bosan menurutku, itu karena kita terlalu selektif memilih topik percakapan yang akan dibahas dengan waktu yang sangat terbatas yang kita miliki.

Betapa aku ingin menghentikan laju waktu disaat itu. Kala tawa dan suara menjadi sajian istimewa.

Bicara tentang petualanganmu, tentang taman-taman tanpa nama, tentang peliharaan, tentang film, tentang es krim, tentang purnama dan hujan.

Datanglah lagi, sesering yang kita mau. Selagi masih bisa kita miliki waktu bersama, karena suatu ketika nanti tak akan pernah bisa. Mendengar bicaramu, tawamu, kesahmu dan teriakmu. Berjalan di dunia kita masing-masing, kau dan aku membagi bumi menjadi dua, kamu di siang aku di malam.

—Ririnsetya

Repost : June 16, 2013 at 02:15am

Belajar Dewasa dari Anak - Anak

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. 

Agaknya benar pepatah yang sering saya dengar ini. Dunia yang sangat cepat berubah terkadang membawa manusia pada “bentuk bentuk” baru. Kemajuan teknologi dan informasi memang sangat membantu pekerjaan harian. Namun disisi lain pun ternyata perlahan membentuk kepribadian. Deras dan bebasnya arus informasi seakan menjadi katalisator untuk kita dewasa secara biologis namun tidak secara psikologis dan berpikir. Kita dewasa secara parsial bukan integral (menyeluruh). 

Saya tidak percaya kedewasaan itu adalah karakter bawaan dari lahir, buat saya kedewasaan itu seutuhnya dibentuk dari pilihan dalam diri, dipengaruhi dari lingkungan sekitar dan pengalaman hidup. Lucunya lagi, terkadang kita dikalahkan oleh anak - anak dengan sikap dan kebijaksanaan mereka yang melebihi orang yang lebih dewasa (secara usia). Ya, kalah telak bahkan. Karena anak - anak bersikap secara sederhana dan apa adanya. Mereka belum bertumbuh menjadi makhluk kompleks yang bernama manusia dewasa dengan segala kerumitan ego, untung-rugi dan cara berpikir. 

Seorang teman saya yang kebetulan berprofesi sebagai guru TK bercerita. Jumat lalu, tangannya digigit seorang anak. Sampai memar kebiruan. Ketika dia tanya kenapa, si anak jawab sambil berurai air mata, 

“aku kan sedang bermain dengan kamu”.

 Jadi, mereka memang sebelumnya pura-pura menirukan binatang. Dan si anak tiba - tiba mencoba menirukan anjing (ini tidak aneh, karena anak anak familiar dengan binatang peliharaan yang disekitar mereka eg : kucing,anjing,burung,kelinci,dll). Si anak lalu tiba - tiba berpura - pura gigit teman saya, yang ternyata malah kekencengan. Teman saya memaafkan si anak, tapi teman saya mengatakan bahwa dia  tetap harus cerita ke ibu si anak. Si anak marah besar, takut, dan menangis kencang. Lalu teman saya mendudukan dia di pangkuannya, dipeluk si anak dan mereka berdialog. 

Dari percakapan mereka muncul sebuah kisah. Dalam bisik-bisik di pojok ruang, si anak mengatakan ibunya tidak pernah memeluk, mencium, bermain, atau berbicara dengannya. Berbicara tentang ibunya berarti berbicara tentang makian dan pukulan. Teman saya mengusap air mata si anak. Dia berjanji tak memberitahu Ibunya perihal insiden “gigitan” itu. 

Sepulang sekolah, teman saya konfirmasi kebenaran cerita si anak ke si pengasuh anak. Kisahnya berlanjut lebih panjang. Dan mengiris hati siapa saja yang punya hati. Dan teman saya seketika lupa luka memar gigitannya. Bocah lelaki 4 tahun yang baru saja menggigitnya ini adalah bocah yang selalu tersenyum paling lebar dan tertawa paling awal jika ada hal-hal menyenangkan terjadi di kelas. Dia suka sekali berkelakar dan mengajak bercanda kepada siapa saja. Siapa sangka? Anak kecil seperti itu bisa bertingkah seperti orang dewasa. Tegar dan menyembunyikan masalah-masalah besar yang dihadapinya pada teman-temannya. Hebatnya lagi, dia hanyalah seorang anak kecil polos dan apa adanya. 

Seringnya, kita yang lebih dewasa secara usia hidup daripada dewasa dalam bersikap dan berpikir. Seringnya, mereka yang dikatakan dewasa hidup dalam kepura - puraan drama yang tak perlu, berprilaku bagai bangsawan dan bergaya hidup seperti kelas atas agar dipandang hebat. Padahal di usia kita keatas, yang sulit adalah menjadi apa adanya, tetap bersikap sederhana, dan hidup penuh makna lebih dari sekedar hidupnya orang rata - rata. 

NB : Foto diambil tahun 2013, ketika saya mendongeng dengan boneka tangan ( saat pada roadshow FLAC ) kepada anak - anak TK. Berkeringat mengerenyitkan dahi membahasakan apa itu korupsi dan perilaku korupsi yang mulai harus dihindari sejak anak - anak. 

Sayang beribu sayang, selama dikampus hanya beberapa kali mencurahkan “berinteraksi” dengan anak - anak. Karena medan juang saya lebih banyak di jalan dan kebijakan publik. 

Tapi, terima kasih telah mengajarkan kembali apa arti kesederhanaan dan menjadi apa adanya. Ini bukan tentang saya yang memberi kisah, tapi saya yang kembali belajar kisah kehidupan. 

Fenomena “anak muda“

narik nafas dulu..

BismiLLAH..

*

Saya biasanya ga mau menulis sesuatu yg buruk, yg malah berpotensi menyebarkan keburukan itu sendiri.

Berhari-hari saya menahan diri, saat rame org membahas Awkarin beberapa waktu lalu.

Remaja pinter berjilbab dari kota kecil, yg kemudian pindah sekolah ke Jakarta, dan menjadi liar dan murahan kemudian.

Anehnya, keLIARan gadis ini, digemari di kalangan remaja dunia maya,

dan bahkan gadis ini bisa dapat uang banyak dari potensi para followernya.

Disebut-sebut, dari popularitasnya, Awkarin bisa dpt bayaran sampai 25juta perbulan, untuk jasa endorse produk-produk yg segmen-nya adalah remaja.

Wow!

*

Saya tahan untuk tdk menulis ttg Awkarin saat itu,

krn saya yakin, apa yg akan saya tulis, akan sama saja dgn komentar dan ‘omelan’ emak-emak yg menghiasi Vlog dan akun Sosmed Awkarin.

Tentang moral,
dan tentang agama.

*

Tapi ternyata..

Beberapa bulan kemudian, Muncul another Awkarin,

Anya Geraldine, alias Nur Amalina Hayati, nama aslinya.

Sama seperti Awkarin, gadis remaja belasan tahun ini jg gemar sekali membagikan video kisah cintanya yg lebih liar dari gaya pacaran Awkarin.

Pertama kali melihat video Anya, saya langsung marah..

Kok bisa!

Kok bisa, saya yg udh menikah 10 tahun.. Belum pernah bulan madu di hotel mewah yg lsg berhadapan dgn kolam renang yg jg ada jacuzzinya

Ini kok anak ingusan belasan tahun, nikah enggak,
pacaran baru hitungan bulan..

Kok sudah bulan madu mewah..

Kok bisa?! Mengapa! :D

Hush!

Salah!

Maksutnya.. Kok bisa.. Remaja begituuuuuuu..

Ini Indonesia kan?
Masih negara dgn muslim terbanyak kan?

*

Well

Mundur sejenak kebelakang, tahun 2000-an.

Setiap kita, punya zaman.

*

Waktu Jaman sekolah saya dulu.. Jg ada tokoh sekaliber Awkarin dan Anya,

Jadi FIX, awkarin bukan 'simbol seks remaja’ pertama..

Hanya saja,
Ada 'tokoh’
Di jamannya masing-masing,

Dan dengan level perosotan moral yg sama-sama makin menurun.

*

Saya dulu tumbuh dilingkungan paling berpotensi untuk rusak.

Sejak SD, saya dah biasa ngeliat narkoba.

Temen-temen saya yg nikah karena hamil duluan, sdh ada sejak kelas 4 SD. Bukan sesuatu yg baru melihat anak SD yg centil, hamil dan brenti sekolah.

Orang Balikpapan pasti tau kampung baru.

Di situ saya lahir dan dibesarkan.

Di 'Texas'nya Balikpapan.

Sebagai remaja ,
saya jg melewati masa-masa rentan bentrok dengan mamak saya.

Dididik dengan keras.
Kolot.
Saklek.

Alasan kuat untuk menjadi rusak, krn 'bosan’ di rumah, bisa saja.

Terlebih saat SMA, kawan-kawan sekolah saya, Yg rusak moralnya, ga sedikit.

Yg menjual diri demi bisa beli softlense, ada!

Yang rela jadi peliharaan om-om gendut tua, demi bisa bayar biaya nongkrong di kafe, jg ga sedikit.

Saya ber-kawan dgn remaja-remaja rusak itu.

*

Lulus sekolah, dan langsung kerja diperusahaan Australia..

Jg makin meningkatkan potensi saya untuk bisa rusak.

Gadis muda,
Dari kampung miskin,

mendadak bergaul dengan org-orang kaya yg ber-pacar dan ber-suami-kan bule-bule berduit.

Peluang bandel..
Agar kehidupan ekonomi membaik, bisa saja..

Karena ditawarkan Didepan mata saya.

Saat itu, saya jg ga jelek-jelek banget, berat badan masih dibawah 50 kilo :D

Masih bisa lah, bikin satu dua bule melirik..

Tapi ternyata tidak !

Pertolongan ALLAH ,

Saya tetap bisa jadi Yana yg apa adanya.

Tidak pernah merokok.
Tidak pernah minum minuman keras.
Tidak pernah mencoba narkoba
Tidak kenal seks bebas.

Padahal saya dikelilingi kehidupan itu.

Bahkan sebaliknya,

Bukannya Rusak, takdir ALLAH , saya malah memBAIK..

1 September 2003, saat akhirnya memutuskan berjilbab..

Saya dan kawan-kawan saya, baru saja pulang dari salah satu tempat hiburan malam paling populer di Balikpapan.

Pulang pagi.

Bayang-kan!

Habis pulang pagi..
Langsung berjilbab.

Ya!

Saya berjilbab begitu saja setelahnya.. Dan alhamduliLLAH istiqomah sampai sekarang, dgn terus belajar memperbaiki diri.

*

Saya memutuskan berjilbab dan mendekat pada ALLAH , karena merasa bosan dengan kehidupan hura-hura saya, yg ternyata.. Ga jadi apa-apa..

Senang..
Nongkrong..
Pulang!

Begitu terus!

Betapa membosankannya..

Apa mau sampai mati?

*

Begitu saja, cara ALLAH yg Maha Baik memberikan hidayahNya.

Menyelamatkan saya dari kerusakan..

Padahal saya berada didalam lingkungan yg rusak dari beragam penjuru..

Mengapa saya bisa seberuntung itu??

Merasakan hidup penuh hura-hura.. Tanpa tersentuh kerusakan??

Apa saya dr keluarga religius?
Tidak..!

Apa saya punya amalan banyak?
Gak!

Jawabannya,

Adalah doa-doa yg dilantunkan mamak saya, hampir di setiap sujud beliau,

agar ALLAH menjaga saya,
Menjaga semua anak beliau, dari buruknya godaan syetan.

Juga,
Insha ALLAH , karena kerasnya usaha bapak saya yg berkomitmen hanya membawa uang halal masuk kerumah.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski bekerja di kapal (tug boat) penarik tongkang minyak selama puluhan tahun.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
meski kawan-kawan dan junior beliau dikapal,
Sudah  kaya mendadak satu persatu.. karena memper-jual-belikan 'kencingan’ minyak-minyak curian yg pasti tdk akan ter-deteksi perusahaan.

Bapak saya,
Yg tetap miskin,
Karena takut anak-anaknya makan barang haram..

Ya!

Itulah yg insha ALLAH telah menyelamatkan saya dan saudara-saudara saya lainnya..!

Bukan karena saya hebat..

Tapi karena beliau-lah orangtua yg hebat!

*

Sahabats..

Jaman makin rusak..

Sekeras apapun kita memproteksi internet, agar menjadi internet sehat bagi anak-anak kita..

Sekuat apapun, kita lindungi tontonan anak-anak kita, agar jauh dari tontonan kemaksiatan..

Dunia luar tetap waspada untuk memangsa mereka..

Dunia luar tetap memaksa anak kita mendengar dan melihat hal-hal yg kita tutup-tutupi dan sembunyikan dirumah..

Sehingga..

Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya benar-benar hanya akan mengandalkan pertolongan ALLAH saja..

Agar anak-anak saya kelak,
Mengigit erat sunnah RasuluLLAH dengan  gigi gerahamnya,

Erat-se-erat-erat-nya! Agar tak terlepas!

Meski semua orang akan menyebutnya pengecut karena tak mau berbaur dengan kemaksiatan.

*

Belajar dari almarhum Mamak dan almarhum Bapak saya..

Saya akan meminta suami saya,
Ayah dari anak-anak saya..

Agar Berusaha keras membawa pulang harta halal saja..

meski sampai mati kelak,
kami tetap hanya tinggal dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lainnya, karena keterbatasan..

Tak apa!

Semuanya, hanya Agar kelak ALLAH berkenan menguatkan anak-anak kami,

Agar kuat menggenggam panasnya bara api Istiqomah ber-agama.
Ditengah dunia yg semakin tua dan semakin gila.

Ya!

Sungguh,
Sebagai orang tua..

Pertolongan ALLAH saja yg bisa kita andalkan..

Hanya ALLAH saja..

Sungguh hanya ALLAH saja..

Yana Nurliana,
Menulis adalah menasehati diri sendiri,
Saat melihat remaja di negeri ini,
Sudah muulai kehilangan jati diri                        

Kambing dan Serigala

“Wahai Presiden, sesungguhnya apa yang sudah kau perbuat sampai-sampai kambing gembalaanku bisa tidur nyenyak di samping serigala? Sungguh, ini sebuah keanehan yang sangat!”

“Wahai Rakyatku, sesungguhnya hal itu bukanlah peristiwa yang aneh. Kau tahu, selama ini aku hanya mencoba memperbaiki hubunganku dengan Rabb-ku, hingga kemudian Ia pun memperbaiki hubungan kambing dan serigala pada masa kepemimpinanku ini.”


Jadi kesimpulannya, kunci memperbaiki hubungan kita dengan orang (bahkan makhluk) lain adalah dengan lebih dulu memperbaiki hubungan kita kepada Allaah, Rabb semesta alam.

Bagaimana hubungan kita dengan teman-teman, relasi kerja, ayah, ibu, suami, istri, anak-anak, bahkan mungkin dengan hewan peliharaan kita.

Nanti, jangan lagi sekadar bertanya, kenapa suami kita begini, kenapa istri kita begitu, kenapa teman kita nyebelin, kenapa sama tetangga ga akur, kenapa kita sering berselisih paham dengan orang tua, kenapa anak kita bandel, susah diatur, ga mau nurut, bla bla bla.

Bahkan jangan pula marah-marah sama kucing kesayangan kita di rumah. Kenapa dia rewel terus, jumpalitan ga keruan, galak, judes, suka ngumpetin ikan asin beserta sambal dan lalapnya, suka nyakar-nyakar tembok ga jelas, suka jambak-jambak bulu dengan penuh kegalauan, sampai-sampai kita kepikiran ngasih dia minum Ki*anti, siapatau lagi PMS.


[repetisi]

Ternyata kunci dari semua itu adalah bagaimana kita berusaha memperbaiki hubungan kita dengan Allaah, sebelum kita memperbaiki yang lain-lain. Jangan buru-buru memandang yang jauh, barangkali jendela rumah kitalah yang terlalu berdebu, sampai-sampai rumah tetangga kita tampak kumuh sekali, dan kita terlanjur marah-marah.


Oya, kalau saja “presiden” tadi hidup di masa kini, tentu dia berhak mendapat nobel perdamaian. Semoga Allaah merahmatimu, wahai khalifah Umar bin Abdul Aziz. *heart emotikon*

*kontemplasi dan alarm pagi :))

Selfie

Saya lagi duduk bersama dokter S, seorang dokter di tempat saya bekerja. Kemudian dokter S berbincang dengan bidan Y. Topik pembicaraannya tentang sebuah rumah, sepertinya rumah baru bidan Y. Dokter S kemudian tertarik untuk melihat tampilan rumah baru bidan Y itu. Bidan Y lalu memberi handphonenya kepada dokter S dan menunjukkan foto-foto interior rumah yang dimaksud, mulai dari kamar tidur, dapur, ruang tengah, dan ruangan lainnya. Kebetulan karena saya duduk di samping dokter S, jadi saya terpaksa (?) ikut melihat foto-foto di hp bidan Y itu. Lama-kelamaan, setelah digeser-geser, foto interior rumah tersebut berubah menjadi foto selfie bidan Y di rumahnya, lalu foto selfie lainnya di berbagai tempat. Foto interior rumahnya sendiri jumlahnya cuma sedikit (ga lebih dari 10) dan sekarang yang ada tinggal foto selfie bidan Y dengan jumlah puluhan. Dokter S terus-terusan melihat foto selfie bidan Y tersebut tanpa ada perlawanan yang berarti dari bidan Y, seolah merestui foto selfienya untuk dilihat-lihat. Saya yang menjadi penikmat setia sejak awal lama-kelamaan menjadi risih juga.

Lain lagi saat saya sedang jaga IGD. Saya duduk berhadapan dengan bidan G dengan dibatasi oleh sebuah meja di antara kami. Lalu bidan G ini mengangkat tabletnya ke atas dengan tiba-tiba. Dari tingkahnya, saya tau dia akan melakukan selfie. Berkali-kali dia memotret diri sendiri sebelum akhirnya menurunkan kembali tabletnya dan melihat-lihat hasilnya sambil tersenyum-senyum. Beberapa foto ada yang dihapus, sebagian tetap disimpan. Bidan G ini, melihat dari postingan jejaring sosialnya, adalah salah satu orang penggiat selfie. Budaya selfie sudah bukan lagi trend kota besar, tapi beradaptasi dengan baik sampai ke pelosok daerah seperti Dompu.

Istilah selfie sendiri muncul pertama kali di sebuah forum online Australia bernama ABC tanggal 13 September 2002. Sedangkan, penggunaan hashtag #selfie pertama kali muncul di situs berbagi foto Flikr tahun 2004. Siapa yang menyangka, penggunaan kata selfie ini saat ini telah meningkat 17 ribu persen sampai-sampai selfie dinobatkan menjadi words of the year tahun 2013 oleh Oxford Dictionary (mengalahkan twerk-nya Miley Cyrus yang fenomenal itu). Di kamus Oxford, kata selfie sudah resmi ditambahkan ke dalam kamus online mereka sejak Agustus 2013. Penggunaannya di Oxford English Dictionary versi cetak masih dipertimbangkan. Selfie, menurut kamus online Oxford, berarti a photograph that one has taken of oneself, typically taken with a smartphone or a webcam and uploaded to a social media website. Saya tersenyum membaca definisi ini. Ada hal implisit yang mendefinisikan selfie secara lugas dan jelas. Smartphone/webcam dan social media website adalah dua kata kuncinya. Merujuk pada definisi tersebut, selfie muncul sebagai sebuah produk budaya, produk perkembangan teknologi dan generasi masa kini. Selfie adalah konsekuensi akan semakin mudahnya akses terhadap kamera melalui telepon genggam dan tablet/laptop, serta semakin menjamurnya sosial media. Dan apakah makna sosial media jika bukan untuk menjual pribadi penggunanya? Selfie bukan hanya monopoli sosial media khusus berbagi foto saja seperti instagram, tetapi hampir seluruh sosial media, apapun jenisnya, memiliki fitur untuk berbagi foto, suatu hal yang merangsang seseorang untuk memotret dirinya sendiri. Kini definisi selfie pun semakin melebar. Dikenal beberapa varian selfie, di antaranya (book)shelfie (selfie terhadap barisan buku di rak), belfie (bottom selfie, you know what I mean), legsie (leg selfie), delfie (selfie terhadap anjing peliharaan), melfie (mom selfie), helfie (hair selfie), welfie (work-out selfie), dan sebagainya. Selfie juga bukan sesuatu yang mesti dilakukan seorang diri, tetapi halal juga beramai-ramai, baik dengan tangan secara manual atau pun menggunakan bantuan alat (tongsis).

Sebagai gambaran, jumlah postingan dengan hashtag #selfie di instagram pada hari ini sudah melebihi 108 juta. Instagram disebut-sebut sebagai the home of the selfie. Namun, ternyata menurut survey HTC UK, sebanyak 48% pelaku selfie di UK memposting hasil foto mereka di facebook. Mereka yang memposting di instagram sendiri hanya 8%, masih di bawah twitter dengan angka 9%. Ini menunjukkan bahwa jumlah postingan #selfie yang tersebar di ranah maya hingga hari ini pada kenyataannya sangat jauh di atas angka 108 juta. Setiap harinya saja rata-rata ada 23 ribu twit per hari dengan hashtag #selfie. Belum lagi jika kita memperhitungkan jumlah orang-orang yang melakukan selfie dan tidak mempublikasikan hasil karyanya. Sebanyak 71% foto selfie ternyata tidak dipublikasikan, dengan laki-laki cenderung untuk tidak mempublikasikan hasil foto selfie mereka. Menurut survey yang sama, sebanyak 75% generasi Millennials (mereka yang berusia 15-30 tahun) dikabarkan pernah melakukan selfie dengan 20% di antaranya melakukan selfie sebanyak 2-3 hari dalam seminggu.

Selamat datang di era selfie-obsessed generation. Dari tokoh ternama hingga rakyat jelata ramai-ramai ber-selfie ria. Tokoh terkenal yang melakukan selfie sangat beragam, mulai dari Miley Cyrus, Hillary Clinton, Barrack Obama, hingga tokoh agama Paus Francis. Mari kita ambil contoh Oknum A dari kalangan rakyat jelata. Oknum A adalah salah seorang yang sangat suka selfie. Hampir setiap hari ia selfie. Akun-akun jejaring sosialnya ramai akan postingan selfienya. Di banyak kesempatan, sebisa mungkin ia melakukan selfie. Misalnya saja Oknum A akan memfoto sesuatu, katakanlah kue. Maka persepsinya akan objek foto tersebut bukanlah kue itu sendiri, tetapi dirinya bersama kue. Jika pun tampilan kue di foto tersebut tidak terlalu jelas, itu tidak begitu penting, yang penting foto Oknum A terpampang tegas. Saya kadang khawatir jika harus kumpul bersama Oknum A karena takut untuk diajak selfie bersama. Bukan apa-apa, saya hanya tidak terbiasa. Kekhawatiran saya beralasan. Kecenderungan seseorang untuk melakukan selfie tidak terkait akan gender, baik pria dan wanita memiliki proporsi yang relatif sama untuk memiliki kegemaran selfie. Dan seseorang yang sudah familiar atau terbiasa akan konsep foto selfie, cenderung untuk melakukan hal yang sama. Artinya, saya suatu hari nanti bisa jadi tidak ada bedanya dengan bidan Y, bidan G, dan Oknum A. Mengerikan kan? Setidaknya iya menurut saya.

Saya memiliki rencana untuk jalan-jalan akhir tahun ini bersama Oknum W, Oknum N, dan Oknum D. Kemudian beberapa hari setelah tiket pesawat dibeli, muncul pesan di grup whatsapp dari Oknum W: “Tongsis udah dibeli untuk nanti jalan-jalan.” Mungkin memang benar, selfie dan tongsis adalah identitas budaya yang harus kita terima dan kita toleransi, malah jika mungkin kita nikmati, di hari-hari ini. Bukti akan adanya penerimaan dari masyarakat terhadap selfie terlihat dari jumlah likes di instagram terhadap postingan selfie yang mencapai 1 juta per hari. Pendapat mengenai orang-orang yang memiliki hobi selfie pun beragam. Kesan mereka terhadap pehobi selfie itu antara lain tipe pencari perhatian, sombong, egosentris, egois, insecure, namun ada juga yang berpendapat positif seperti pehobi selfie adalah orang yang menyenangkan, tipe extrovert, pemberani, dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Bagaimana selfie-addict memandang diri mereka sendiri? Mereka pada umumnya mengatakan bahwa mereka melakukan selfie untuk mengingat masa-masa yang menyenangkan, untuk mengabadikan momen penting, memotret outfit yang menarik (outfit of the day), serta untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Oleh karena alasan-alasan tersebut, maka tempat-tempat yang tersering menjadi lokasi mereka selfie adalah di daerah-daerah hits masa kini, seperti lokasi liburan, saat hang out bareng teman-teman, dan saat berada di suatu acara/festival, meskipun pada umumnya selfie bisa dilakukan di mana saja.

Oknum A selain penggemar selfie, juga pecinta aplikasi camera360. Awalnya saya tidak terlalu tertarik untuk mengetahui seberapa hebat sih aplikasi itu sampai-sampai digemari banyak orang untuk aplikasi foto. Namun saat beberapa kesempatan saya diminta bantuan Oknum L untuk memotret menggunakan handphone miliknya, saya baru tau betapa saktinya aplikasi tersebut. Kesaktian untuk memoles suatu gambar menjadi jauh lebih enak dilihat dari kenyataannya, sekaligus kesaktian untuk menipu mata banyak orang. Tidak heran suatu waktu Oknum F, seorang pehobi foto, menasihati saya, “Jangan sering-sering pake aplikasi pengolah foto, hasilnya menipu.” Di era di mana tipuan visual bertebaran di mana-mana, kemurnian hasil foto menjadi sesuatu yang sangat dijunjung tinggi. Oleh karenanya #nofilter adalah sesuatu yang sangat dibangga-banggakan banyak orang ketika mengupload foto mereka di jejaring sosial. Berbicara mengenai tipuan visual ini, saya pun pernah terjebak juga. Beberapa waktu yang lalu saya mengupload foto pemandangan (bukan foto selfie!) di salah satu situs jejaring sosial dan banyak yang merespons baik hasil foto tersebut. Lalu di puncak peningkatan dopamin di dalam diri saya, tiba-tiba Oknum A (berbeda dengan Oknum A yang disebutkan sebelumnya) berkomentar, “Posting foto yang nofilter doong.” Duh.

Selamat datang di era selfie dan era tipuan visual. Kenapa aplikasi pemoles foto laris-manis? Karena mengabadikan foto dengan hasil yang tanpa cela itu tidak mudah dan kita tentulah ingin tampil prima di hadapan orang lain. Apalagi jika menyangkut foto diri. Saat menjadi mahasiswa dulu, Oknum X sengaja menghilangkan kartu mahasiswanya hanya untuk bisa foto ulang karena fotonya di kartu mahasiswa yang lama terlihat jelek. Itu aja baru kartu mahasiswa yang jarang banget dilihat orang lain, apalagi foto-foto di sosial media, yang hampir setiap hari punya potensi untuk dilihat oleh orang lain, tentunya harus yang terbaik dong.

Di zaman penjajahan aplikasi sejenis camera360 ini (selain camera360, ada banyak aplikasi lainnya, seperti Photoshop Touch, Face Tune, Snapseed, dan lain-lain), beberapa hal yang diretouch dari sebuah foto selfie antara lain skin tone (39%), eye colour/brigthtness (24%), eye shape/size (13%), bentuk tubuh (11%), dan bibir (11%). Selain itu, beberapa hal lain pun ikutan beradaptasi terhadap budaya selfie. Seperti baru-baru ini keluar gadget HTC 8X & Droid DNA dengan ultra-wide angle lens yang akan memperlebar jangkauan lensa kamera, serta aplikasi CamMe dengan sensor hand gesture-nya yang akan memicu gadget untuk countdown menggunakan lambaian tangan. Semuanya sudah tersedia dan menjadikan hari-hari kita menjadi semakin ramah akan selfie.

Survey Virgin mobile di Kanada mengatakan bahwa sebagian besar penduduk Kanada baru akan memposting foto selfie setelah 1-3 kali usaha selfie. Di handphone Oknum A tersimpan ratusan foto hasil selfienya, tetapi yang dipublikasikan di sosial media hanya beberapa. Itulah kenapa sebaiknya jika ingin stalking foto orang lain di sosial media, jangan hanya stalking foto hasil upload-annya. Stalkinglah foto-foto saat dia ditag oleh teman-temannya. Atau, untuk mudahnya, jangan pernah percaya foto selfie punya siapapun di sosial media.

Jangan selfie sembarangan:

1. Apalagi selfie dengan pakaian seksi. Sebanyak 40% penggiat selfie di UK melakukan sexy-selfie dengan pakaian dalam yang kelihatan dan 36% mengatakan menyesal pernah melakukannya.

2. Jangan selfie saat emosi sedang naik (sangat bahagia) atau turun (sangat sedih) lalu memposting atau mengirimkannya ke orang lain. Sebagian orang (8%) lagi-lagi menyesal pernah melakukannya.

3. Jika kamu mau selfie, jangan tiru selfie ala Kim Kardashian dengan belfienya atau Miley Cyrus dengan lidah ular berbisanya. Tirulah selfie Barrack Obama atau Hillary Clinton. Artinya, selfielah setelah kamu menjadi sehebat mereka.

4. Kita cantik dan ganteng apa adanya. Postinglah hasil foto selfie dengan tag #nofilter dan #onetakeonly.

5. Jikapun ingin selfie sembarangan, kamu bisa memposting foto selfie kamu di snapchat, sebuah aplikasi yang akan menyimpan foto selfie kamu untuk sementara waktu dan kemudian akan dihapus untuk selama-lamanya dari server.

Cici dan Caca.

Lagi ngobrolin binatang peliharaan sama Fani, Bela, Ade. Lagi pada ngomongin Copron, kucingnya Fani yang usianya udah 8 tahun. Terus Bela nyaut, ngomongin Brownie yang udah almarhum (hiks). Terus Ade juga cerita tentang kucingnya yang dia punya dari tahun 1998 sampai tahun 2010 yang akhirnya kembali ke rahmatullah.

Sambil mikir, binatang peliharaanku apa. Ikan di rumah, punya Bapak. Kucing, punya Bela. Dulu Mbak No punya burung beo yang dia sayang banget, tapi akhirnya ilang. Kura-kura, hmm gak pernah diurusin sih, kura-kura nyasar gitu. Ah! Adaaaa!! Dulu Bapak pernah beliin kelinci, dua, satu untuk mbak No dan satu lagi untukku. Namanya Caca dan Cici. Tapi akhirnya mereka gak berumur panjang.

Jadi inget pas mbak No kehilangan beo, atau ketika Bela harus berpisah dengan Brownie, mereka nangis. Nangis yang bener-bener nangis.

Makanya aku gak mau punya binatang peliharaan. Sedih rasanya kalau kehilangan atau harus berpisah karena dia mati. Aku gak suka sedih. Aku benci! Aku…aku…aku gak suka merasa kehilangan.

Thats my problem. Takut kehilangan bahkan sebelum memiliki. Ehem.

Gak sih. Sebenernya karena aku anaknya dak telaten ngurus binatang.

Postingan terakhir sebelum bobo deh nih…

My lovely pet, Chiro.

Seonggok daging berbentuk anjing, 8 bulan, betina, ras ga jelas, warna abstrak, medium hair, paling manis, paling lucu, pintar, dan gampang diatur. Yang paling kangen kalo gw pergi, yang paling nyariin-ke-kamar kalo gw lagi ga di rumah.

Ga ketemu 5 minggu atau 5 menit, kehebohan, antusiasme, dan ekspresi kangennya Chiro levelnya sama. Emang deh, Chiro hewan aku banget. <3

Dulu, peliharaanku cuma satu, yaitu rasa malu. Kemudian bertambah satu, yaitu rasa takut.
—  Aku ingin bercerita tentang peliharaan keduaku ini. Rasa takut masih muda, ukuran remaja tanggung. Masih mencari jati diri. Sering salah dalam melakukan sesuatu. Kadang muncul di saat yang tidak tepat, kadang hilang ntah kemana.  Rasa takut, semoga kau cepat dewasa ya nak. Sehingga mampu bijak mengenali, hanya Tuhan yang pantas ditakuti