peleme

Morder teu pescoço

e te arrancar um gemido
meu corpo no teu
teu corpo no meu

você deseja a minha
e eu desejo o seu
num desejo que quase não cabe

Sacanagem é o que tu faz comigo
que me excita a pele
me excita a alma
me excita os sentidos

Quando desce a boca
e engole tudo que há
de mais sensível em mim 

Poesia é a tua rima na minha
tesão é você se cobrir de mim
e eu me vestir de você fazendo poesia

Nanda Marques

islamku dan sikapku.

Jika aku ditanya, bagaimana kau mengapresiasi keislamanmu? Aku jawab, Islamku adalah karunia! Nikmat terbesar yang kusyukuri.

Dan aku diam-diam berharap, jika kau menganggapnya nikmat terbesar yang kau syukuri pula. Atau jika kau belum berislam, setidaknya kau mempelajari bagaimana komprehensif, holistik, balanced, dan indahnya berislam.

Sudah beberapa lama aku tidak menulis sikapku. Terutama sikapku pada Islam. Ini karena aku muak dengan hiruk-pikuk diskursus media sosial. Hiruk pikuk ini nyatanya menghabiskan energi begitu banyaak. Sedangkan aku butuh energi untuk fokus pada hal yang kini tengah kukejar.

Namun, kupikir aku butuh menyuarakan apa yang kualami, serta sikapku soal Islam. 

So here we go.


**


Pertama, aku akan menjawab pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada diriku sendiri. Mengapa aku berislam?

Sembilan tahun yang lalu kau tanyakan, jawaban jujurnya adalah “Karena orang tua”. Aku pernah menulis di multiply-ku (blogging platform yang sudah gulung tikar)– bagaimana nasib orang yang tak terlahir Islam? 

Honestly, pertanyaan ini sempat menggangguku. Hingga aku lupa dan akhirnya menjalani keislamanku seperti biasa. (Anaknya filsuf fail)

Kemudian, aku mengetahui jika akar kata ‘Islam’– adalah selamat, keselamatan, dan berserah. Kata ‘berserah’ ialah akar kata Islam yang mengikatku.

I am a ‘bad girl’ of ukhtinda. Dulu, aku random belajar banyak hal (kini terbatas pada hal-hal yang menjadi fokusku, kalaupun belajar yang lain– aku susun jadwal khusus akannya). 

Aku pun punya kenalan dari beragam kalangan. Mulai dari: Jurnalis kritis kucel. Jurnalis pinter berbaju rapi. Filsuf aliran marxist. Filsuf postmodernis. Islam kalangan ini. Kristen begitu. Buddhist anu. Perempuan feminin. Perempuan feminis. Pria peka. Pria i-must-get-what-i-want. 

Buanyak.

Beragam perspektif kujumpai. Sering kepalaku pusing memproduksi penyimpulan akan sesuatu. Secara naluriah, otakku berpikir dari ragam perspektif! Bahkan hingga kini. 

Keep reading