pelaminan

Dari setiap orang yang kita temui,  akan berakhir dengan berbeda kondisi
— 

Ada banyak yang berakhir dengan berpapasan

Ada banyak yang berakhir dengan pertemanan

Ada beberapa yang berakhir dengan jadi mitra pekerjaan

Ada beberapa yang berakhir dengan persahabatan

Ada beberapa yang berakhir menjadi teman pengajian

Ada satu yang berakhir dengan pernikahan

Namun ada juga,

Beberapa orang yang berakhir dengan kegeeran,

karena disangkan mau diajak ke pelaminan,

padahal hanya diajak main-main karena dia bosan.

Berhati-hatilah, setiap yang kita temui, harus kita perhatikan

Kadang kau harus meneladani Matahari. Ia cinta pada Bumi, tapi ia mengerti. Mendeka pada sang kekasih justru membinasakan. - Salim A. Fillah

Maka cinta sejati juga membutuhkan pemahaman. Jagalah jarak jika pada akhirnya menghasilkan keburukan. Tinggalkanlah jika pada akhirnya menimbulkan kemaksiatan.

Hingga suatu saat kelak, Allah yang mengaturkan pertemuan. Dalam bingkai pelaminan. Yang satu dengan yang lain, saling memberikan kebaikan.

Generasi Muzzammil dan Sonia

Di timeline bersliweran foto-foto Muzzamil dan Sonia yang (katanya) bikin baper para gadis dan mamak-mamak. Bagian mana yang paling bikin baper mak?
Waktu Muzzammil megang kening Sonia seraya mendoakannya?
Waktu Muzzammil ngelap keringat Sonia saat di pelaminan?
Atau waktu Muzzammil (nyoba) nggendong Sonia?

Apa? Semuanya bikin baper? *Puk-puk*
Sebagai sesama wanita, saya pahamlah perasaan patah hati itu. Akhwat jomblo mana yang ga pengen dapet imam masjid bersuara merdu dan berprestasi pula. Jauh lebih berasa patah hatinya ketimbang ketika mas Siapa itu namanya dan mbak Endless love mengumumkan resepsi pernikahannya. Dan sebagai emak-emak, saya juga bisa ikut menjiwai patah hatinya para emak yang kehilangan calon mantu.

Baca undangan Muzzammil dan Sonia aja bikin merinding. Undangannya sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan akad nikah. Untuk bisa bikin kita baper sebaper-bapernya seperti ini, Muzzammil engga kaya tahu bulat yang digoreng dadakan, jadi imam masjid Salman ITB yang memikat hati semua orang. Ada proses panjang sebelum itu. Ayah Muzzammil adalah seorang kepala sekolah, ibunya seorang guru MAN. Dua-duanya pendidik, bahkan ibunya adalah seorang pendidik ilmu agama. Muzzammil belajar ngaji dari umur 4 tahun. TK udah tamat iqro’. Masuk SD (Muzzammil masuk MIN) udah bisa baca quran. SD, SMP, SMA selalu ranking satu bahkan juara umum. Jadi ga heran klo bisa masuk ITB (alumni ITB mana suaranya, kenalkan saya alumni UNS.xixixi). Jadi imam masjid Salman ITB dari semester satu. Masyaalloh….

Coba lihat anak kita mak. Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil. Atau kita pengen anak kita bisa mengikuti jejak Muzzammil. Lihat prosesnya mak. TK udah tamat iqro’. Anak saya mau masuk SD iqro’ aja belum tamat. Klo lagi ngajarin iqro’ emaknya ga sabaran. Pengennya diajarin sekali si anak langsung bisa baca quran lancar jaya.

Jadi imam masjid itu berarti hafalannya banyak mak. Ngga cukup juz 30 yang juga ngga lengkap-lengkap itu. Kita ngajarin anak buat hafalan sehari eh seminggu berapa kali? Atau biar belajar di sekolah aja lah. Emak udah capek dengan tugas domestik.

Jangankan ngajarin anak, tilawah sendiri aja belepotan. Niat tilawah, kepikiran piring kotor. Nyuci dulu. Anak numpahin susu. Ngepel dulu. Anak minta makan.nyuapin dulu. Udah sore, waktunya mandi. Mandiin anak. Nemenin belajar sambil kutak-katik hp, ngobrol seru di grup. Anak tidur, suami pulang. Nemenin suami. Tidur. Bangun udah pagi. Tilawah? Eh iya, belum jadi tilawah ya. Ibu Muzzammil udah pasti ngga kaya gitu mak.

Dan Sonia, siapa dia? Sonia adalah salah satu admin ODOLA (one day one line akhwat). Sehari ngapalin ayat quran satu baris mak. Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Alloh milihin Sonia buat Muzzammil karena mereka sekufu. Satu level gitu.

Kita pengen punya mantu kaya Muzzammil, maka anak kita juga harus kaya Sonia yang sekufu dengan Muzzammil. Untuk bisa punya anak seperti Muzzammil dan Sonia, kita harus kerja keras mak, ga cukup dengan mimpi dan harapan.

Lawan kantuk demi nyimak bacaan quran anak-anak. Lawan capek demi nyimak murojaah anak-anak. Klo kita juz 30 aja ilang-ilangan, maka anak kita harus bisa hafal 30 juz. Aamiin.
Berat mak. Siapa bilang enteng? Kalo enteng, akan banyak bertebaran Muzzammil-muzzammil di dunia ini dan kita ga bakalan baper hanya karena Muzzammil menemukan tulang rusuknya. Memang berat mencetak generasi Muzzammil dan Sonia. Tapi Alloh udah naruh surga di telapak kaki kita mak. Ga mungkin kan Alloh naruh surga yang diimpikan semua orang begitu aja di kaki kita. Ada harga yang harus dibayar.

Minta mak, minta sama Alloh agar kita dimampukan mencetak generasi Muzzammil dan Sonia.

Jangan lelah mak, jangan lelah mengenalkan quran ke anak-anak kita. Meskipun jalannya tak mulus, meskipun di bangku SD anak kita masih berkutat di iqro’ jilid 2, jangan lelah, Alloh melihat semua usaha kita. Jangan lelah…

*Menasihati diri sendiri di akhir liburan

anonymous asked:

Assalamualaikum mbak apik :") Selamat hari rayaaa, semoga segalanya semakin membaik :')) mbak saya mau tanya, bagaimana bentuk pemantasan diri yang dapat dilakukn siswi SMA? :') Bentuk pemantasan yang juga dapat menjadi benteng untuk dirinya dari ujian perasaan sebelum waktunya? Makasiii mbak,

Wa'alaikumussalam. Aamin Ya Raaabbb. Semoga kita semakin takwa ya!

Saya juga pernah diuji dengan hal yang sama sewaktu SMA. Dan saya rasa hampir semua juga diuji dengan suka-sukaan jaman SMA, serempak, kaya try out nasional wkwk. Karena pas SMA itu masa puber-pubernya, masa lucu-lucunya. Aha, malah curhat XD

Karena saya sudah melewati masa itu, ada sedikit curhatan serta tips dan tricks supaya kamu melewati ujian dengan nilai yang lebih baik daripada saya :“”“)

Jadi pada jaman dahulu kala….
saya punya banyak sticky notes di kamar saya. Buat pengingat. Saya tulis begini, salah satunya, besar-besar:

"Boleh pacaran/berdua-duaan asal Allah nggak lihat. Nggak malu kamu sama Allah?”

haha, alhamdulillah saya belum pernah mojok dan menempuh cara untuk mencapai relationship goals ala anak SMA jaman sekarang, semoga kamu juga. Jadi kalau mau aneh-aneh saya inget lagi sticky notes saya tadi. Biarinlah cupu nggak punya pacar. Buktikan kekerenanmu dengan prestasi dan karya yang lain, okeee? Termasuk prestasi menjaga hati yang akan kamu petik hasilnya nanti, beeeertahun tahun kemudian.

Kalau keluarga kamu support dan nggak setuju pacaran-pacaran, malah lebih baik lagi dan harus banyak bersyukur. Alhamdulillah ayah saya selalu berpesan sama saya; “kalau kamu ketahuan pacaran, ayah nikahkan hari itu juga! Tapi sebelumnya, ayah kerek dulu di tiang bendera!”. Galak kan ayah saya? Memang.

Saran saya nih…

1. Buatlah komitmen yang kamu sepakati sendiri, jadikan prinsip, pegang erat-erat meski balon hijau meletus. Kalau perlu umumkan, biar ada yang mengingatkan.

2. Cari dan ciptakan lingkungan pertemanan yang kondusif. Kalau temen-temen kamu banyak yang nggak lolos ujian perasaan, berguru sama yang strong. Cukup dengerin curhatan mereka aja, jangan ikut-ikutan. Percayalah, drama SMA itu kebanyakan nggak berakhir di pelaminan. Drama di SMA sebagian besar terlihat manis sebabnya negara api belum menyerang. Banyak mudharatnya, jadi jangan berlarut. kalau sudah terlanjur, langsung balik arah dan lakukan poin ketiga.

3. Karena suka sama seseorang menghasilkan energi yang besar, alihkan energi itu ke hal-hal yang bermanfaat: pengembangan diri, ikut ekskul, banyak baca buku, banyak baca-baca tulisan motivasi dari orang yang berprinsip serupa, berkarya, belajar yang rajin meski banyak remidi wkwkwk, dan masih banyak aktivitas seru yang lain ketimbang kita suka-sukaan. Jangan biarkan kita nggak punya kesibukan positif. Jangan yaaaa, nanti disibukkan sama yang nggak baik soalnya. Kata guru agama saya dulu, kalau lagi suka sama orang tulis aja. Jangan dilampiaskan ke perbuatan. Saya ikutinlah saran beliau, ternyata…menulis adalah bentuk healing.

4. Unfollow akun-akun yang jadi kompor. Ndak baik nak. wkwkwk. Baik yang berkiblat ke relationship goalsnya geng awkarin atau seleb-seleb yang aku nggak tau siapa aja namanya karena nggak punya TV #curhatlagi maupun akun-akun yang mengatasnamakan akun dakwah tapi ya gitu deh, jadi kompor. Melenakan, mengekspose enak-enaknya doang nikah (utamanya muda). Untung jaman saya nggak ada tuh instagram, ada ding cuma nggak hits, lebih hits nonton pertandingan futsal antarangkatan atau jadi anak OSIS/MPK haha. Follow akun-akun yang punya positive vibes aja yaaa.

5. Dekatkan diri sama Allah. Perbanyak amalan sunnah. Doain aja kalau suka sama seseorang, doain yang baik-baik untuk dia. Jangan buru-buru berdoa supaya dijodohkan yaaaa :“) Karena perjalanan masih panjang. Yang utama, berdoa dan mintalah sama Allah supaya dibantu menguatkan hati.

Sebaik-baiknya upaya memantaskan diri, adalah upaya memantaskan diri untuk Allah. Bukan untuk makhluk. Niatkan menjadi perempuan sholehah karena mencari ridha Allah, bukan untuk mendapatkan laki-laki sholeh.

Ingat pesan tante-tante ini ya. Meski banyak curhatnya, tante doakan kamu bisa lolos ujian perasaan.

Hampir genap tiga puluh tahun usiaku. Teman-teman sebaya sudah banyak yang menemukan muara cintanya, sedangkan aku masih begini saja; terbelenggu masa lalu. 

Tak usah dikasihani, begini-begini aku memiliki teman kencan yang sabarnya seluas samudera; memaklumi kondisiku dengan lapangnya. Seperti sepasang muda-mudi, bisa dikatakan akupun berpacaran. Malam minggu saatnya wakuncar terbaik, tahu apa wakuncar? Waktu kunjung pacar, istilah lagu dangdut yang tersohor pada masanya. Terkadang hanya bertandang di teras rumah, sesekali menonton ke bioskop, acapkali makan malam di luar sambil mendengar live music biar asyik. 

Oh ya, belum kuberitahu ya , enaknya pacarku ini, kapan saja mau kupeluk. Seperti bertemu ganja, aku candu. Tahun depan akan kupersunting saja nampaknya, biar kumiliki seutuhnya. Seru juga membayangkan berdiri di pelaminan kemudian menyalami tamu-tamu sambil memperkenalkannya, “Ini istriku, namanya Kesepian”.

SELFIE2 #16: Kilometer Nol

Sekitar dua pekan yang lalu, saya bertemu dengan @dilukmankan​ seorang teman yang dulu saya kenal di sebuah lingkaran kegiatan dan saat ini bertemu lagi dalam beberapa kesempatan. Ketika ngobrol-ngobrol, saya iseng berkata, “Wiiiih Ade jalan-jalan terus euy sekarang! Aku suka lihat di Instagram. Hehe.” Kemudian, Ade menjawab, “Ya ampun Nooov, itu tuh kerja aku kesana, bukan travelling.” Lalu kami pun jadi membahas tentang rumput tetangga yang seringkali terlihat lebih hijau daripada rumput yang dimiliki sendiri: obrolan klasik yang sudah sering dibahas oleh banyak orang tapi rasanya masih selalu relevan jika dikaitkan dengan kondisi hari ini.

Diam-diam, obrolan itu membuat saya teringat pada apa yang beberapa orang bilang tentang pekerjaan saya atau apapun yang saya lakukan, “Asik banget sih bisa kerja disitu …” atau “Kamu kan enak, melakukan sesuatu yang memang jadi passionmu selama ini …” atau “Aku mau deh kayak kamu …” dan lain-lain. Ternyata, ada saja orang lain yang menganggap rumput saya lebih hijau daripada mereka. Rasa-rasanya, ingin deh saya bilang, “Guys, you don’t see what I see, you don’t feel what I feel. Semua ada ujiannya, semua ada susahnya. Kalian engga tau aja apa yang terjadi di ‘dapur’ sebenarnya.”

Pernahkah kalian mengalami hal serupa: melihat rumput orang lain lebih hijau atau ternyata orang lain yang melihat rumput kalian lebih hijau? Duh rumput, hits banget sih kamu sekaraaaaang!

Terkadang, atmosfer memang terasa menjadi lebih panas ketika kita melihat kehidupan orang lain: si A yang sekarang sudah kuliah di luar negeri, si B yang lagi galau tesis, si C yang sudah lamaran dan sedang mempersiapkan pernikahan, si D yang baru melahirkan, si E yang baru rilis buku, si F yang keliling Indonesia atau bahkan dunia, dan begitulah seterusnya. Tanpa disadari, ada rasa-rasa aneh yang muncul dari dalam hati, “Mengapa hidup saya tidak seberuntung mereka? Mengapa doa-doa saya tidak dikabulkan secepat doa-doa mereka?”

Berkaitan dengan hal ini, beberapa hari yang lalu saya belajar sesuatu dari kelas matrikulasi di perkuliahan Institut Ibu Professional. Ternyata, setiap orang memang memiliki perbedaan tentang apa yang ingin dipelajarinya di ‘universitas kehidupan’ ini, sehingga apa yang ingin dicapai atau dilakukan pun juga menjadi berbeda. Dalam hal ini, semua tentu punya titik nol yang berbeda dalam menentukan ‘perjalanannya’ karena setiap orang memulai langkah pertamanya dari kilometer nol yang berbeda.

Lalu, saya pun tergelitik untuk mengajak kalian memikirkan beberapa hal …

Jika memang tujuan kita adalah bekerja dan bukan kuliah, mengapa risau melihat teman-teman yang update status tentang perkuliahannya atau foto-fotonya di negara impian? Kilometer nol kita berbeda dengan mereka, perjalanan kita juga berbeda. Sebaliknya, jika memang tujuan kita adalah kuliah dan bukan bekerja, mengapa harus iri melihat teman-teman kita mengabdikan diri di perusahaan yang sesuai dengan passionnya?

Jika memang tujuan kita adalah mempersiapkan diri menuju pernikahan dan bukan membangun bisnis, mengapa gerah mendengar teman-teman kita yang hendak pergi inkubasi atau businness matching? Kilometer nol kita berbeda dengan mereka, kita tidak sedang berjalan pada lajur yang sama. Sebaliknya, jika memang tujuan kita adalah membangun bisnis dan bukan menyegerakan menikah dalam waktu dekat, mengapa harus kesal pada teman-teman yang naik ke pelaminan?

Jika kilometer nol kita adalah di Bandung dan bukan di Bantaeng, atau di Denpasar dan bukan di Manokwari, atau di Banda Aceh dan bukan di Palangkaraya, mengapa kita merasa teman-teman kita yang ada di kota lain itu telah berjalan lebih jauh? Padahal, kita hanya sedang berbeda dalam memulai langkah pertama dan menentukan kilometer nol.

Kalau begitu, berarti apa yang seringkali masih menjadi masalah antara kita dengan diri kita sendiri? Kita terus berjalan, tanpa sedikit saja mau berhenti untuk benar-benar menentukan apa yang hendak kita tuju dan dimanakah titik kilometer nol kita bermula. Sehingga, yang terjadi adalah kita membanding-bandingkan hidup kita dengan hidup orang lain, membandingkan rumput kita dengan rumput orang lain, dan begitulah seterusnya.

Bagaimana pun, atas segala titik yang ingin kita tuju di kehidupan, semoga kita tidak sampai hati untuk melupakan tujuan yang sebenar-benarnya mengapa Allah menciptakan kita ke dunia. Adapun segala sesuatu yang ingin kita lakukan, ingin kita capai, ingin kita tuju, semoga semua adalah sarana dan bentuk pengabdian kepada-Nya agar kita bisa menjalankan tujuan hidup yang utama seperti yang tercatat dalam Al-Qur’an di 51:56, yaitu untuk beribadah kepada-Nya.

Jadi, apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan? Di titik manakah kamu menentukan kilometer nol? Let’s look into yourself!

_____

Tulisan ini adalah bagian dari rangkaian #30daysramadhanwriting yang saya tuliskan selama bulan Ramadhan 1438 H dengan tema “SELFIE 2 - Let’s Look Into Yourself!” Setiap harinya, tulisan-tulisan dengan tema ini insyaAllah akan dimuat di novieocktavia.tumblr.com pada pukul 16.00 WIB. Untuk membaca tulisan lain dalam project ini, klik disini. Serial ini bermula dari #30daysramadhanwriting dengan tema yang sama di tahun sebelumnya. Untuk membaca serial selfie di Ramadhan 1437 H, klik disini.

OPEN MEMBER KITA JABODETABEK

Halo kawan-kawan. Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan baik ya. Sudah makan berapa banyak daging? Hahaha.

Ada kabar gembira loh! KITA Jabodetabek open member. Yuk yang mau gabung! Enggak perlu takut, sama-sama makan nasi kok.

Open Member ini dibuka sejak tanggal 9-19 September 2017.
Ada syaratnya enggak? Ada dong pasti. Tapi tenang saja, enggak susah kok. Yuk,dilihat!

Syarat open member :
1.Buatlah minimal 2 definisi pengorbanan menurut kamu dalam bentuk qoute.
2. Satu qoute untuk satu definisi
3. Pada bagian qoute, tulis “Pengorbanan”
4. Pada bagian source, tulisakan definisinya.
5. Postingan tidak mengandung unsur SARA
6. Post di akun tumblr atau instagram kalian dan tag ke @kitajabodetabek serta tambahkan #openmember #kitajabodetabek #tumbloggerkita
7. Postingan tidak mengandung unsur SARA;
8. Capture bukti tulisan beserta tautan postingan, disertai biodata dengan format:
Nama:
TTL:
Alamat domisili:
id tumblr/blog lainnya:
Id instagram:
Tautan postingan:
Alasan ingin bergabung:
9. Kirim ke salah satu narahubung:
Line : 
(1) simas_
(2) ummu_1610
Chat Tumblr : @kitajabodetabek

Contoh :
▶Pengorbanan

(n) tidak memiliki bentuk pasti, tapi kadang terasa sakit nya itu pasti.

(v) haram kalo berhenti ditengah jalan, halal kalo sampai ke pelaminan

(m) Menjadi ketua event organizer taarufan.

Mudah kan? Yuk, ikutan! Kami tunggu di KITA Jabodetabek, ya.

Ikuti kami di:
Tumblr : @kitajabodetabek
Instagram : @kitajabodetabek
Twitter : @kitajabodetabek

Cc : @tumbloggerkita @kitasumatera @kitajatim @kitajateng @kitajabar @kitakalimantan @kitasulawesi

Jangan pernah bermain-main dengan perasaan, apalagi perasaan wanita. Setiap untaian kata, puji, dan janji-janji yang bagimu hanya sebagai pemanis, ketahuilah bagi wanita itu akan selalu terpahat dan terukir indah di dalam hati.

Maka benarlah kata bijak yang amat masyhur :

“Jangan dekati wanita jika tak membawa berkopor-kopor perhatian. Jangan curi hati mereka jika kamu belum siap untuk membawanya ke pelaminan!!!”

Jadilah lelaki jantan!!!

Sen @SenyumSyukur
Penulis :
1. Cinta dan Kehilangan (CK)
2. Apa Kabar Rindu? (AKR)

InsyaAllah akan open PO tgl 25 Mei sampai 5 Juni 2017. Karena PO, insyaAllah akan ada diskon khusus dan diskon paket. Jadi nabung dari sekarang ya 😊😊😊

Dewasa sebelum waktunya

Kemarin aink ikutan silaturahmi keluarga di soreang. Istri ga ikut karena uda masuk kerja. <hahaha, ketawa sedih>. Sekalian ngerayain ultah ponakan aink yang uda empat tahun. Aink ga akan nyeritain acara silaturahminya, tapi tentang apa yang aink liat sepulang dari soreang.

Aink pulang dari soreang sekitar jam dua siang. Lewat jalan Jamika karena emang mau ngedrop ade di depan gang. Aink ga nganter ampe rumah karena uda mendung gerimis. Kemaren di pagarsih jam segitu tuh uda ujan angin. Kalo ampe kejebak ujan aink bakalan males pulang. Trus ntar kasian yang nunggu di rumah, hahaha.

Thanks to mall paskal 23 dan living plaza, jalan pasir kaliki jadi macet banget. Jalan kebon jati juga macet. Jadi dari klenteng aink belok ke kiri ke arah saritem. Numpang lewat doang. Trus lewat ke terminal stasion yang berhadapan sama jalan belakang pasar baru.

Di jalan itulah aink melihat sesuatu yang bikin sedih.

Aink ngeliat tiga pasang bocah cilik (cewe cowo) yang saling pegangan tangan. Mereka tampak mesra banget dan aink berani jamin mereka bukan saudara kandung. Kayak yang wajar banget gitu mereka pegangan tangan. Yang cewe-cewenya pake kerudung. Yang cowo cowonya tampak masih bocah ingusan. Masi di usia yang seharusnya bimbang antara make uang jajan buat beli cimol ato cilok.

Kalo aink taksir usianya, paling masih sd kelas 6 atau smp kelas 1. Agak-agak miris aja weh kalo ternyata memang bener mereka pacaran di umur yang masi seuprit gitu. Jalan gandengan keluar dari pasar baru setelah beres belanja baju. Uda pantes gitu emang mereka dalam usia segitu?

Aink jadi teringat wejangan guru sd aink yang uda mewanti-wanti muridnya supaya “tidak men-dewasa sebelum waktunya”. Tentu bukan pikiran dewasa yang dilarang, tapi kelakuan seperti orang dewasa dalam pergaulan dengan lawan jenisnya. Sedih kalo liat bocah-bocah ingusan pada pegangan tangan atau rangkulan, pelukan ato malah uda lebih dari itu.

Masi segede gitu di pikirannya uda ada tentang lawan jenis. Bukannya belajar yang bener atau mengeksplore hobi, malah uda cinta-cintaan dan mengekspresikannya sebagaimana yang orang dewasa lakukan. Padahal belum saatnya.

Aink ga tau ya sebab utamanya apa, tapi pasti banyak faktor. Bisa dari sosmed, tv dan bahkan lingkungan. Aink takut ntar keturunan aink juga kayak gitu. Seriusan. Jangankan usia sd ato smp, uda usia kuliahan aja kalo pacaran ga jelas pasti aink khawatir. Aink ga mau kalo keturunan aink ntar kayak bapaknya. Banyak penyesalan. Banyak merasakan perasaan yang belum waktunya.

Segala sesuatu itu ada waktunya. Kapan punya anak, kapan menikah, kapan ketemu jodoh dan kapan merasakan cinta. Sebagai mantan aktivis pacaran, aink merasa failed ketika uda nikah. Teringat bahwa aink banyak menggembor-gemborkan perasaan cinta kepada yang tidak selayaknya sebelum menikah. Aink ga bicara soal postingan ke sosmed, tapi lebih ke menggembor-gemborkan ke diri sendiri bahwa aink cinta si anu, sayang banget sama si anu atau selalu pengen bahagiain si anu.

Ketika belum terikat dan mengagungkan cinta lewat pernikahan, aink merasa jumawa bahwa aink bisa bahagia dan membahagiakan orang lain lewat cinta. It’s feel awesome. Meski belum menikah tapi bisa berbagi rasa. Nyatanya itu salah.

Ketika orang yang dengannya berbagi rasa tapi tak berakhir di pelaminan, aink merasa perasaan itu penuh kedustaan. That was totally wrong. Aink membingkai cinta dengan cara yang salah. Aink baru paham setelah menikah. Ketika cinta yang aink punya dibarengi komitmen dan tanggung jawab, cinta-cinta lain yang sebelum nikah itu terasa palsu, hambar, cetek dan bahkan malu banget untuk dikenang.

Malu banget bahwa aink pernah mengucap cinta tanpa ada pembuktian nyata. Cuma bilang sayang tanpa bukti, ngajak makan, ngajak main, sharing-sharing dan lain sebagainya yang bahkan anak sd pun sekarang uda sanggup melakukannya. Aink pernah seremeh itu.

Aink sekarang baru paham bagaimana Islam menilai cinta manusia. Islam mengagungkan perasaan cinta manusia dengan pernikahan. Dengan perjanjian besar yang bahkan disetarakan dengan perjanjian para nabi. Tidak sanggup berikrar dalam perjanjian halal? Jangan coba- coba bicara cinta. Islam menjaga perasaan para penganutnya. Cinta itu fitrah dan Islam mengajari manusia bagaimana mengekspresikan cinta.

Aink sedih, ngeliat bagaimana cinta sekarang diobral murah. Murah banget sampai dulu-dulu orang cemen kayak aink bisa dengan mudah mengaku punya cinta.

Aink gagal menjaga masa lajang aink dari perasaan yang salah aink definisikan sebagai cinta. Aink menyesal, terlambat mengenal Islam lebih dekat dan sekarang aink cuma berharap keturunan aink kelak ga jadi cowo cemen macem bapaknya yang pernah mengobral-ngobral cinta.

Aink pengen jadi seorang bapak yang bisa mengatakan pada anak-anaknya (kalo cowo)

“Be a man, don’t be cowok cemen!”

(kalo cewe)

“Lelaki itu semuanya buaya, kecuali yang mau sepenuh hati berjanji setia!”

Kau akan bertemu pada seseorang yang dengannya kau hanya cukup sampai batas mengagumi, tidak lebih.

Mungkin tidak hanya satu, bisa jadi beberapa.

—  Sampai pada akhirnya kau akan menemukan. Seseorang yang tidak hanya menghantarkanmu pada kekaguman, tapi juga pelaminan.

Pada akhirnya, aku hanya bisa diam, tidak tahu harus memilih bertahan di titik itu atau melangkah maju untuk alenia baru. Pada akhirnya juga, aku hanya teringat kembali dan teringatkan kembali dengan cerita yang lalu.

Cerita yang sudah hampir kulupakan, namun ingat saat kurindukan. Cerita itu bernuansakan kehidupan dilema kita dulu. Bercanda saling membahagiakan. Berdua berharap sampai pelaminan. Kini dalam titik ini, kita sama-sama belum tahu akhirnya. Hanya sama-sama menyimpan masa lalu.


Kamu dalam hatiku. Dan aku dalam ceritamu.

(Karena aku tak tahu apakah aku masih dihatimu)


- kolaborasi antara @sang-pengagum dan @searegar

Waktu itu, kamu yang dengan gagahnya duduk di atas pelaminan dengan seorang perempuan (yang sekarang kamu sebut istri). Sedang perempuan itu nampak bahagia dengan puluhan teman yang datang juga dengan pernikahan yang ia inginkan.
Lalu, bisa apa aku waktu itu?

Aku hanya terdiam. Menyampaikan semua pada angin. Berharap ada yang mendengar tangisanku yang tidak berair mata lagi.

Sayatan luka itu makin terasa perih saat aku tahu banyak dari teman-temanku yang mengucapkan selamat kepadamu. Sungguh. Aku ingin marah waktu itu kepada mereka. Tapi, apa hakku?
Bukankah itu hak mereka?
Ah sudahlah. Aku masih menceritakan semuanya pada angin. Berharap angin bisa membisikkan kesedihanku padamu. Berharap angin membisikkan bahwa; ada yang hatinya remuk saat kamu bahagia.

Dariku, untuk kamu yang pandai melukai.