pelaminan

Kadang kau harus meneladani Matahari. Ia cinta pada Bumi, tapi ia mengerti. Mendeka pada sang kekasih justru membinasakan. - Salim A. Fillah

Maka cinta sejati juga membutuhkan pemahaman. Jagalah jarak jika pada akhirnya menghasilkan keburukan. Tinggalkanlah jika pada akhirnya menimbulkan kemaksiatan.

Hingga suatu saat kelak, Allah yang mengaturkan pertemuan. Dalam bingkai pelaminan. Yang satu dengan yang lain, saling memberikan kebaikan.

Jangan pernah bermain-main dengan perasaan, apalagi perasaan wanita. Setiap untaian kata, puji, dan janji-janji yang bagimu hanya sebagai pemanis, ketahuilah bagi wanita itu akan selalu terpahat dan terukir indah di dalam hati.

Maka benarlah kata bijak yang amat masyhur :

“Jangan dekati wanita jika tak membawa berkopor-kopor perhatian. Jangan curi hati mereka jika kamu belum siap untuk membawanya ke pelaminan!!!”

Jadilah lelaki jantan!!!

Sen @SenyumSyukur
Penulis :
1. Cinta dan Kehilangan (CK)
2. Apa Kabar Rindu? (AKR)

InsyaAllah akan open PO tgl 25 Mei sampai 5 Juni 2017. Karena PO, insyaAllah akan ada diskon khusus dan diskon paket. Jadi nabung dari sekarang ya 😊😊😊

Waktu itu, kamu yang dengan gagahnya duduk di atas pelaminan dengan seorang perempuan (yang sekarang kamu sebut istri). Sedang perempuan itu nampak bahagia dengan puluhan teman yang datang juga dengan pernikahan yang ia inginkan.
Lalu, bisa apa aku waktu itu?

Aku hanya terdiam. Menyampaikan semua pada angin. Berharap ada yang mendengar tangisanku yang tidak berair mata lagi.

Sayatan luka itu makin terasa perih saat aku tahu banyak dari teman-temanku yang mengucapkan selamat kepadamu. Sungguh. Aku ingin marah waktu itu kepada mereka. Tapi, apa hakku?
Bukankah itu hak mereka?
Ah sudahlah. Aku masih menceritakan semuanya pada angin. Berharap angin bisa membisikkan kesedihanku padamu. Berharap angin membisikkan bahwa; ada yang hatinya remuk saat kamu bahagia.

Dariku, untuk kamu yang pandai melukai.

Semoga (Kau) Jawaban

Kau adalah semoga yang aku selipkan diantara bait-bait doaku kepada Tuhan.

Semoga kau adalah jawaban, dari seringnya tanganku menengadah meminta Tuhan agar kita dipersatukan.

Semoga kelak kau adalah orang yang duduk bersanding denganku di pelaminan. Lalu menemani hingga akhir cerita kita.

Semoga.

Pesan dari: Se-lemah-lemahnya wanita
  • Sama-sama tau, kan?  Jika ditinggalkan itu tidak menyenangkan?
  • Sama-sama paham, kan?  Tidak akan pernah nyaman ditemukan jika salah satu terpaksa dalam menggenggam?
  • Sama-sama pernah, kan? Terluka sebab salah satunya menyerah?

Aku bukan tuhan yang dengan berucap satu kalimat, dapat terwujud segala harap. Aku bukan nabi, yang senantiasa ber-lapang dada dan memaafkan berkali kali kala disakiti. Aku hanya manusia biasa, yang dengan besar hati, selalu berharap untuk dimengerti pun disayangi, oleh kamu, -selaku lelaki.

Tapi apalah kita. Hanya dua manusia yang terbata-bata mengeja kata cinta. Terpenggal-penggal berusaha tiada satupun yang tertinggal. Terseok-seok dipercundangi jarak yang seolah mengolok-ngolok. 

Betapa brengseknya semesta, mempertemukan tanpa mempersatukan

  • Diciptakannya salah satu yang begitu gigih mempertahankan, dipasangkan dengan salah satu lainnya yang begitu gagah ingin melepaskan.
  • Diciptakannya salah satu yang mampu berbesar sabar kala luka semakin lebar, dipasangkan dengan salah satu lainnya yang tak pernah sadar dari khilaf dan anti sekali merapalkan maaf.
  • Diciptakannya mereka mereka yang sedari awal memang tidak ditakdirkan bersama.

Tapi apalah kita. Hanya dua manusia yang mencoba berbaik sangka kepada Tuhannya. Menengadahkan tangan tangan tabah, berdoa ini itu naninu seraya mengharapkan segala berkah. Sesekali berderai air mata, bukan tanda lemah, bukan. Melainkan ciri diri ini benar benar meminta doa turut diamini seantero jagat raya.

Aku bukan perempuan yang mampu memikul segala beban. Mungkin, kuat boleh jadi aku sangat. Tapi, sayang. Ditinggalkan, tidak pernah sama sekali aku harapkan. 

Tapi siapalah kamu. Hanya lelaki ciptaan Ia semata. Mungkin tampan, mungkin manis, mungkin menarik serta mempunyai pesona yang sulit dipatahkan, dan jatuh cinta pada kamu pun aku tiada dapat disalahkan. Namun, kesempurnaan tetaplah milik Ia yang maha semuanya. Dengan ke-tidak-sempurnaanmu, dengan segenap lancangku, izinkan aku meminta

  • Jatuh cinta bukan perkara sederhana. Jangan buat aku jatuh kalau hanya main main saja
  • Mendekati aku, kamu tak perlu. Jika se-sepele penasaran atau sekedar ingin tau belaka
  • Jangan pernah coba untuk pergi bila mendapatkan percayaku, kamu sudah
  • Tiada jaminan akan bersama sampai ke pelaminan, namun perkara meninggalkan tolong jangan pernah merencanakan
  • Berpisah, mungkin kita akan. Tapi, hati ini tolong dimengerti. Jangan tiba-tiba. Aku toh perlu berkemas juga
  • Perlakukan aku dengan sebaik-baiknya. Senangku tidak bersumbukan janji-janjimu. Jadi, katakan yang memang engkau dapat lakukan. Janji tanpa ditepati hanya sebuah kesia-sia-an
  • Bila terlalu bermanja-manja, -aku pada suatu waktu, biarkan tetap begitu. Sebab pada selain kamu, aku tak mampu.
  • Bawa aku menjadi yang kamu mau, tapi jangan rubah apa apa yang merupakan diriku sendiri. Memutuskan untuk dekat denganku, aku anggap kamu menerima segala kurangku
  • Jika sekian permintaanku tak mungkin kamu wujudkan, tegas aku katakan. Sudahi sekarang, kelak akan lebih menyakitkan

Aku salah satu spesies wanita yang tidak terlalu suka berlama-lama. Bosan menjadi nama tengahku. Tapi semoga, jika kamu dapat mewujudkan semua permintaanku barusan. Pun kamulah berupa penawar menyenangkan penghilang nama tengahku beserta segala penat yang mengganggu


Dari aku,
yang dari bibirnya terdengar tawa, yang nanti di kakinya ada surga, yang kelak menjadi tempat segalamu terletak

Catatan Pernikahan #1 : Tentang Saling Mengenal


Dulu, sebagaimana pandangan orang pada umumnya, saya percaya bahwa salah satu modal penting sebuah pernikahan adalah saling mengenal. Sebab, dari saling mengenal itulah bisa diukur kira-kira cocok atau tidak ketika si A menikah dengan si B. Dari saling mengenal itulah bisa lahir satu keyakinan bahwa si A dan si B bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Putus-nyambung-putus-nyambung dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran pun dianggap wajar sebagai ikhtiar untuk saling mengenal. Seolah sulit sekali mencari pasangan hidup yang—dirasa—tepat.

Setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, jatuh bangun membangun rumah tangga, saya rasa ide tentang ‘kewajiban saling mengenal sebelum menikah’ itu bukan satu hal yang mutlak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Rasanya berlebihan sekali.

Dalam arti, saya kira hal itu sebenarnya bisa jadi urutan kesekian.

Saya pertama kali mengenal Vidia Nuarista di akhir tahun 2009. Saat itu, sekadar tahu nama, wajah, jurusan dan segelintir aktivitasnya di kampus. Lalu menjadi semakin kenal di tahun 2011, ketika kami sama-sama menjadi badan pengurus harian di sebuah organisasi. Saya wakil dan ia sekretaris. Tahun 2014, kami menikah.

Jadi, kalau dihitung-hitung, jarak yang terbentang dari jumpa pertama ke pernikahan lebih kurang lima tahun. Sementara jarak antara perkenalan yang lebih dalam ke pelaminan adalah tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, ada banyak hal yang saya catat dari seorang Vidia Nuarista: bagaimana caranya bicara, bekerja, tertawa, menghadapi masalah, dan sebagainya. Termasuk jilbab warna apa yang membuatnya terlihat lebih anggun. Diam-diam dan sedikit demi sedikit saya mengumpulkan informasi itu. Hingga, akhir tahun 2013 bulatlah tekad saya untuk mendatangi ayahnya. Dalam proses itu juga kami berusaha untuk semakin mengenal lagi secara lebih terbuka. Sebagian informasi pribadi ditukar melalui tulisan, sebagian disampaikan secara lisan dalam pertemuan-pertemuan.

Semakin banyak informasi yang saya punya tentang Vidia Nuarista. Semakin saya percaya diri menghadapi pernikahan, karena merasa sudah sangat mengenalnya. Sampai ketika pernikahan telah berjalan beberapa minggu, kami sadar bahwa ada hal lain yang lebih penting dari saling mengenal: saling menerima.

Apa yang saya kenal dari seorang Vidia selama tiga tahun, rupanya tidak terlalu berarti. Berbagai catatan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun ternyata tak terlalu membantu saat kami berumah tangga. Sebab pernikahan selalu begitu. Ia akan memaksa sifat buruk kita keluar satu persatu, membongkar aib-aib yang telah lama kita simpan, hingga pelan-pelan kita sadar kita tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

Kami benar-benar merasa seperti dua orang asing yang baru bertemu.

Maka saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Salim A. Fillah, pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal yang tak didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan sangat berbahaya.

Jadi, jika saya yang hina dan penuh dosa ini boleh memilih satu nasihat untuk disampaikan kepada teman-teman yang hendak menikah, barangkali pesan saya seperti ini:

Daripada kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, padahal itu tidak menjamin apa-apa kecuali peluang untuk melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk menerima. Sehingga siapa pun yang kelak menjadi teman kita dalam membina rumah tangga, apakah kita sudah begitu mengenalnya atau baru sekadar tahu nama, ia akan bahagia karena kesediaan kita menerima ketidaksempurnaanya. Bahwa di dalam diri kita ada jiwa yang begitu lapang, yang siap menampung berbagai cerita, mimpi, amarah, keluh, kesah, luka dan air mata. 

Senang bisa mengetahui adanya dirimu. Seseorang yang mungkin saat ini belum pernah menemuiku apalagi mengajakku berkenalan. Setidaknya aku tahu, kamulah yang akan mengajakku ke pelaminan. Nanti.
— 

Kamu, jodohku yang namanya masih ditutupi dengan selotip berwarna hitam di Lauhul Mahfudz-Nya.

9:01pm. Bekasi. July 1, 2016.

Jangan Berhenti Dulu

aku tidak cukup tahu apa yang benar kau alami sekarang, tidak cukup paham pula sedalam apa luka yang tengah kau emban. tapi melihat beberapa orang begitu terpuruk karena urusan perasaan, aku mengkhawatirkanmu.

aku khawatir jika sekarang kau pun tengah mengalami hal serupa, tengah dililit begitu erat oleh urusan rasa.

ah, barangkali memang aku berburuk sangka, aku mengada-ngada. tapi jika kau memang sedang begitu, aku ingin mengajakmu bangkit lagi.

jangan berhenti dulu, sebab jika kau terlalu lama berhenti, barangkali tanpa kau sadari itu yang membuat kita tak kunjung bertemu.

mungkin kalimat-kalimatku ini takkan sampai ke pangkuanmu, atau justru kau tak sengaja membaca dari ponsel kawanmu. aku tidak tahu. tapi jika kau membaca ini, percayalah kau tidak berjuang seorang diri.

ada seseorang di belahan bumi entah yang tanpa ia sadari pun sedang menunggu kau berbenah. barangkali ia sedang begitu semangat menambah kapasitas diri, menyelesaikan setiap inchi tanggup jawab, bahkan mungkin ia sama sekali tidak sedang disibukan dengan urusan perasaan, tapi ia bagianmu.

ada begitu banyak kemungkinan di depan, dari yang terbaik sampai yang menakutkan. jika kau berhenti sekarang, jika kau berhenti dalam kapasitamu yang sebenarnya masih banyak kurang, aku turut sedih meski cuma membayangkan.

jangan dulu berhenti, coba bangkit lagi. jika kemarin-kemarin kau mengharap kebahagiaan terlalu tinggi dari urusan perasaan dan akhirnya terluka, mungkin itu teguran karena kau belum belajar lebih banyak mengenali bahagia jenis lainnya.

jangan dulu berhenti, mari berbenah lagi. masih banyak jenis bahagia yang belum kita selami. mungkin kita dipertemukan justru saat kita tengah belajar berbahagia pada hal-hal baru yang bukan tentang urusan perasaan. hingga tanpa perlu berlama-lama terombang-ambing dalam perasaan, Tuhan menggiring kita ke pelaminan.

jika sekarang kau masih berkubang luka, jika sekarang kau masih begitu dalam dihimpit kekecewaan karena urusan perasaan, jika sekarang kau belum bisa tenang karena begitu banyak penolakan dunia, jangan dulu berhenti, sebab pertemuan kita belumlah benar-benar dimulai.

Dear Mantan
Aku nggak merindukan sedetik pun masa kelam yg pernah kita lewati.

Saat ini aku bahagia dengan jalan cahaya yg telah DIA beri.

Dear Mantan
Aku doakan kamu pun bisa berhijrah sepertiku.

Karena hidup kita teramat singkat…Segala perilaku kita saat ini menjadi gambaran nasib kita di akhirat.

Dear Mantan
Aku sering menyesal dan malu.

Jika mengingat tingkah laku kita di masalalu.

Yg sering mengatasnama Cinta menuhankan Nafsu.

Dear Mantan
Yang paling aku rindukan saat ini adalah CintaNya.

Dan Cinta sejati dari seseorang yg mencintaiNya dan juga mencintai RasulNya.

Dear Mantan
Hidup adalah sebuah pilihan.

Dan jalan ceritaku saat ini adalah jalan yg indah penuh senyuman.

Karena berharap sama manusia itu slalu melelahkan dan menyesakkan bukan?

Dear Mantan
Sampai bertemu nanti di Pelaminan…Ini saya sampaikan undangan Pernikahan.

Semoga kamu bisa datang dan mendoakan…:))

Sekian dan Terimakasih…:D
——
Hehe ini surat imaginer, saya tulis menanggapi isu kekinian…Silahkan disebarkan….^_^
——
Gambar diambil dari Clip Pangeran Surga #CintaPositif Project
——
Btw, daripada Baper Gak Jelas Mikirin Mantan Mending Nonton Serial #CintaPositif Part 1 - 6 Di Youtube.com/TeladanCinta

Yuk…^_^:

1) Halaqah Cinta: https://youtu.be/XX2VcXUtELY
2) Untukmu Calon Imamku: https://youtu.be/d02bJc2ku2o
3) Mencintai Kehilangan: https://youtu.be/tFo-lIEXRE4
4) Jodoh Dunia Akhirat: https://youtu.be/Z63Y3N-lVoo
5) Pangeran Surga:https://youtu.be/Yf-gQsx6fFU
6) Pernikahan Impian: https://youtu.be/UgFnyN8pV4w

Nama Dalam Doa

Berbahagialah jika kamu akhirnya berjodoh dengan orang yang selalu kamu sebut namanya dalam doa. Itu tandanya, saat mencintainya kamu tak lupakan Tuhan. Adakah kepasrahan yang lebih indah dari itu?

Berbahagialah jika kamu akhirnya berjodoh dengan orang yang selalu menyebut namamu dalam doa. Itu tandanya, untuk dapatkanmu dia libatkan Tuhan. Adakah yang lebih romantis dari itu?

Mana yang kau pilih wahai hati?

Adapun aku, sudah bertahun tidak menyebut nama dalam doa. Bukan tak yakin, hanya ingin menjaga hati buat dia yang mendoakanku dalam diamnya. Andai doanya yang terkabul, aku akan sangat malu telah mendoakan orang lain yang belum tentu jodohku.

Mungkin ini terdengar aneh, tapi begitulah caraku mencintai dia yang masih rahasia. Mencintai jodoh yang Tuhan pilihkan untukku, nanti ^^

Tetaplah berdoa, ketuklah pintu langit, siapa tahu kalian saling mendoakan dan bersatu di pelaminan ^^


Rumah, 6 Sya’ban 1436 H || Sen @SenyumSyukur ^^

Hai, jodohku.

Teruntukmu, Jodohku.

Salam hangat dariku yang malam ini tak bisa tertidur karena rindu.

Hai, jodohku. Sedang apakah dirimu sekarang?

Sedang seperti akukah yang selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi setiap harinya demi memantaskan diri bersanding denganmu kelak di pelaminan?

Laki-laki baik untuk perempuan baik. Begitu bukan? Lantas apakah aku belum cukup baik saat ini? Seperti apa baik yang kamu inginkan? Seperti baik aku tak pernah memalingkan pandanganku terhadap oranglain? Sebaik aku menjaga kepercayaanmu yang kelak akan kamu wujudkan dalam sebuah ikatan pernikahan? Sebaik kamu yang selalu bisa membimbingku sebagai manusia yang lemah dan butuh perlindungan? Apakah aku belum cukup baik, sudah menunggumu sekian lama? Atau haruskah aku menunggu lebih lama lagi hingga kamu yakin bahwa akulah yang terbaik? 

Hai, jodohku. Sedang memikirkan apakah dirimu sekarang?

Sedang memikirkan hal yang samakah dengan diriku yang selalu memikirkanmu setiap waktu dan selalu khawatir jika kualitas diriku kelak tak akan pantas untuk menjadikan aku sebagai ibu untuk anak-anakmu.

Sabar, katamu. Sabar, semua akan tiba waktunya. Katamu aku harus belajar sabar, agar aku kelak dapat mendidik anak-anakmu penuh kasih sayang dan kelembutan. Agar nanti kelak pernikahan kita tidak selalu dipenuhi oleh amarah dan keegoisan masing-masing? Agar nanti kita dapat membina masa depan yang penuh dengan titian sabar walau penuh ujian? 

Sabar sayang. Kamu akan lebih menawan dengan senyum sabar.

Hai, jodohku. Sedang sibuk apakah dirimu sekarang?

Sedang sesibuk akukah yang setiap hari menuntut ilmu demi meningkatkan pembelajaranku agar kelak aku bisa menjadi sekolah pertama untuk anak-anakmu. Aku hanya takut jika aku salah menggunakan amanah yang kamu akan limpahkan padaku sebagai ibu dari anak-anakmu, aku takut menjadikan mereka bodoh. Aku takut menjadikan anak-anakmu, yang mana anak-anakku juga, terperangkap dalam kebodohan oranglain. Aku ingin memiliki anak-anak yang pintar sepertimu, Jodohku. Aku ingin memiliki anak-anak yang kelak bisa membanggakan aku dan kamu, jodohku, sebagai orangtua mereka.

Hai, jodohku. Taukah kamu apa yang aku inginkan malam ini?

Aku ingin melihat rupamu, aku ingin melihat seperti apa dirimu.

Tapi kata Tuhan, sebentar dan bukan sekarang waktunya. Kata Tuhan jodohku, kamu, itu rahasia. Tapi mengapa aku merasa bahwa kamu, jodohku, adalah dekat dan selalu memperhatikanku? Tapi mengapa aku merasa bahwa jodohku itu adalah dirimu yang selalu ada datang dan pergi, hilang dan muncul, hanya untuk menguji kesabaranku.

Hai, jodohku. Apakah dirimu sesabar Ayah dan Ibuku?

Apakah kamu, jodohku, mampu menerima apapun kekuranganku seperti yang dilakukan oleh Ayah dan Ibuku? Apakah kamu, jodohku, mampu melengkapi semua hal yang menjadi kebencian oranglain terhadap diriku dan menyempurnakannya seolah-olah kita berdua adalah sepasang adam dan hawa?

Apakah kamu, jodohku, mampu mencariku yang pulang lebih dari jam yang seharusnya, seperti kamu akan kehilangan sepasang relung parumu hingga kamu tidak dapat bernafas? Apakah aku berharga seperti berlian yang direbutkan ribuan orang menjadi miliknya.

Tapi, jodohku. Taukah kamu mengapa Tuhan menjauhkan kita berdua?

Aku rasa karena Tuhan ingin memberi kita kejutan? 

Dia ingin memberi tahu bahwa kita seharusnya sepenuhnya percaya pada Tuhan akan takdirnya yang indah jika kita terus bersabar dan terus meminta pada Tuhan?

Bukan?

Atau karena Tuhan ingin memberi kita kesempatan untuk berpetualang?

Dia ingin memberi tahu bahwa Dia ciptakan bumi dan langit ini adalah untuk kita jaga sepenuh hati dan kita jelajahi agar selalu rendah hati ini menjalani hari?

Bukan?

Apa karena aku belum layak?

Jodohku, seperti apakah doamu untukku?

Apakah isi doamu selalu sama seperti doaku yang selalu meminta pada Tuhan untuk segera dipertemukan olehmu, atau paling tidak Dia tunjukkan seperti apa rupamu sekilas pandang. Apakah isi doamu selalu sama seperti doaku yang selalu meminta pada Tuhan untuk dilindungi selalu dirimu sampai akhirnya waktu mempertemukan kita?

Akankah kamu percaya bahwa Tuhan mendengar doa kita? Akankah kamu percaya bahwa Tuhan maha baik akan mempertemukan kita di ujung cerita tanpa adanya penderitaan kembali? Akankah kamu percaya aku adalah orang yang pantas kamu perkenalkan ke seluruh kehidupanmu bahwa aku bersedia mencintaimu dari ujung rambut hingga ujung kakimu? Akankah kamu bersedia menemui ayah dan ibuku untuk memintaku dari pelukan mereka dan berkata bahwa kamu siap untuk memelukku dengan erat dan takkan membiarkanku terluka seujung jaripun?

Salam. 25 April 2014.

23:49

Cinta itu luka, Beb? Kepada Bulan, Jika cinta itu luka, lukai aku lebih dalam lagi. Jika cinta itu luka, teruskanlah menancapkan rindu di dadaku sampai tak kenal lagi kata berhenti. Luka adalah salah satu cara cinta menguji, seberapa kuat kita bertahan menuju kebersamaan yang lebih berarti. Cinta itu luka; luka yang membahagiakan. Mencintaimu adalah awalan tanpa akhiran yang mengajariku kesabaran dan ketabahan menunggu. Cinta itu luka karena mengajarkanku bagaimana menunggu dan menangis dengan benar. Jika cinta itu luka, mari kita menitikkan air mata bersama, dan tersenyum di titik pertemuan, nanti. Jika cinta itu luka, masihkah kita bisa bertemu, dan bersama di kursi pelaminan? (Dari Bintang, yang mencintaimu dengan terluka)

💞🌹CINTA🌹🌸

Cinta itu indah | Ketika Allah memberi rahmat bukan laknat

Cinta itu indah | Ketika semua berdasar lillah bukan linnafs

Cinta itu indah | Ketika kita saling bertegur dalam doa

Cinta itu indah | Kala Ia menuntun kepada jalan yang benar

Cinta itu indah | Ketika Ia tak melebihi cinta kepada Sang Pencipta

Cinta itu indah | Ketika kita berada di pelaminan bukan di taman

Cinta itu indah | Kala Ia menuntun kita pada Surga bukan Neraka

Cinta itu indah | Ketika Ia berada dijalan yang Halal bukan yang Haram

***
Tulisan seorang teman yang ga mau disebut namanya

hijrah, hijab, dan cowok sholeh

teman-teman… terimakasih atas doa kalian semua 
Alhamdulillah akhirnya saya bisa duduk di pelaminan juga 

ceritanya tanggal 23 kemaren mbak saya nikah, pas kursi pelaminannya kosong, saya duduk aja istirahat disitu 
hahaha

saya mau cerita dikit, semoga menginspirasi 

mbak saya ini adalah salah satu kisah nyata turunnya anugerah Allah ketika seseorang mau bertaubat dan berhijrah 
sebelumnya proses pencarian jodoh mbak saya ini rada ruwet, laki2 datang banyak, tapi gak ada yang jadi 
udah ada yang kayaknya bakal jadi, eh tetep aja gak jadi

sampe akhirnya mbak saya berhijrah dan memakai hijab syar’i sesuai ketetuan Islam, memperbaiki ibadah, dan semakin dekat dengan Qur’an
gak lama setelah hijrah tersebut, mbak saya langsung keterima kerja. dimana di tempat kerjanya dia bisa membantu banyak orang, bahkan dia ngajarin baca Qur’an ke temennya sesama karyawan.
Jadi selain mencari rejeki dia juga mendapat kesempatan untuk berdakwah di tempat kerjanya, 
suatu hal yang rasanya tidak mungkin dialami mbak saya andaikan dia tidak melakukan hijrah 

selanjutnya gak beberapa lama setelah dia memperoleh perkerjaan, dia memperoleh jodoh . prosesnya karena dikenalkan seseorang 
pertemuan pertama mbak saya dengan suaminya adalah di sebuah pengajian,, InsyaAllah mereka berdua memulai dengan sesuatu yang baik dalam suasana dan situasi yang baik 

untuk suaminya… he is good guy
sholat berjamaah di masjid dan selalu menyempatkan diri salin baju dengan baju muslim
ini mungkin nampaknya sepele,, tapi coba lihat sekitar, berapa banyak laki2 muda jaman sekarang yang sholat di masjid dengan pakaian terbaiknya 
suami mbak saya ini rajin dhuha dan rawatib ndak ditinggal, 
dia klo di masjid sering pulangnya paling akhir karena berdzikir dan berdoa dulu.

jadi untuk temen2 wanita yang yang belum hijrah, jangan ragu untuk hijrah 
jangan takut nanti sulit dapet kerja karena merasa dibatasi, jangan takut sulit dapet jodoh karena jadi ndak modis 
Allah ndak bakal diem aja, ndak mungkin Allah ndak ngasih hadiah untuk hambanya yang melaksanakan perintahnya 

yang perlu kalian ingat,,, cowok sholeh itu ndak banyak, kalian harus rebutan untuk mendapatkannya, salah satu cara untuk memenangkan perebutan mendapatkan cowok sholeh itu adalah dengan hijrah menggunakan hijab yang sebenarnya sesuai ketentuan syariah

memang ketika kalian menggunakan hijab yang menutup dada, kain panjang, pakaian lebar, kemodisan kalian akan berkurang, 
tapi coba pikir,, kalian tampil modis dengan mengorbankan kaidah syariah adalah agar mendapat perhatian, supaya mendapat pujian,, padahal dengan kemodisan kalian, yang akan memperhatikan dan memuji kalian hanyalah laki2 yang menilai kalian dari fisik 

saat menggunakan jilbab syari mungkin perhatian dan pujian kalian akan berkurang drastis,, tapi pujian itu akan datang dari laki2 yang sholeh 
dan memang seperti yang saya katakan tadi, laki2 sholeh jumlahnya gak banyak, jadi wajar pujiannya berkurang drastis, dan seringnya pujian laki2 sholeh itu tidak disampaikan langsung, hanya dalam hati dan melalui doa 

inget ya, cowok sholeh gak lihat seorang wanita modis apa gak, tapi yang dilihat adalah akhlak dan ketaatan pada Allah.
lagipula masalah modis itu bisa kok disiasati dengan main motif, warna, atau bros, asal jangan berlebihan aja.

tapi klo kalian mau hijrah, luruskan dulu niat semata2 karena Allah 
masalah berharap dapetin cowok sholeh karena hijrah ,InsyaAllah dibolehkan, itu akan dihitung sebagai ikhtiar
masalah cowok sholeh ini memang saya angkat karena masih banyak yang takut sulit jodohnya karena jadi gak modis dan masih mikirin pendapat orang lain  
InsyaAllah ketika kalian sudah berhijrah rentetan kebaikan akan datang menghampiri

yang membaca tulisan ini,siapapun,  saya sangat berharap kalian semua berhijrah supaya kalian semakin dekat dengan Alah 
semoga kalian semua segera berhijrah … Aamiin

Wallahua’lam

Gara-gara Tumblr

Lama-lama Tumblr jadi lahan cinlok (cinta lokasi)


Beberapa waktu lalu saya pernah memprediksi asal seperti itu, dan sekarang sepertinya mulai bermunculan cinta-cinta karena bertemu di Tumblr. Etdah~

Jika mengingat Tumblr di akhir tahun 2012 dulu, saat pertama kali saya membuat akun ini, Tumblr itu seperti pedesaan yang tidak ramah bersosialisasi. Setidaknya bagi saya–yang tidak kenal siapa-siapa di sini. Hanya mengikuti tanpa diikuti. Hanya membaca cerita, tanpa mereka tahu saya siapa. Hanya menunggu-nunggu apa yang akan mereka bagikan, tanpa mereka tahu ada yang tengah menunggu begitu hebatnya. Cie~ 

Dulu itu setahu saya, tidak banyak komunitas-komunitas seperti sekarang. Entah nyatanya banyak tapi saya kurang info. Tak tahu juga ya, yang pasti dulu itu masih sepi (lagi-lagi menurut saya). Tidak seramai sekarang. Komunitas bertebaran. Dari mulai kumpulan penyuka puisi, sampai dengan kumpulan orang-orang berbakat–yang bakatnya macam-macam, heterogen. Ada yang berbakat melukis, bernyanyi, bersajak, berpuisi, ber-random-random-ria, sampai yang berbakat menyakiti nggg. Mereka membuat grup chat sendiri, biasanya. Berangkat dari sana ada yang diam-diam mulai private chat. Lalu menumbuhkan rasa-rasa yang sempat terkikis karena mantan. Ciak~ Kamu ya? Atau kamu?

Tumblr jaman dulu itu hanya memfasilitasi fanmail dan ask untuk bersosialisasi dengan sesama pengguna. Dimana pengiriman fanmail tidak nampak apakah sudah terkirim atau belum, dimana menerima jawaban fanmail beberapa hari kemudian sudah lupa tengah membahas apa, karena tidak tersedianya sent item jadi tidak bisa me-review apa yang sudah dan tengah dibicarakan. Reply sudah ada sih, tapi belum bisa dipakai untuk menjawab, jadi komunikasinya terkesan dipaksa satu arah. Sampai ide bermunculan untuk menjawab reply, ada yang di-screen-shoot lalu dijawab berupa postingan, tidak lupa di-mention orang yang bersangkutan biar dia tahu, ada yang menjadikan reply-an sebagai lahan modus membangkitkan percakapan melalui fanmail. Ehe~ Siapa tuh? Saat ini sudah mudah, ada fitur chat. Tidak perlu lagi memaksa otak untuk mengingat ‘kemarin terakhir aku bales apa ya, kok dia balesnya gini?’ Tidak perlu berpikir apakah pesan yang kita kirim sampai atau tidak. Rasanya media permodusan untuk bersilahturahmi semakin canggih saja. Jadi wajar jika ditemukan beberapa ‘sesuatu’ di penjuru-penjuru Tumblr

Kok jadi panjang begini sih. Saya sudahi dulu ah, kupat tahu saya belum habis.

Terakhir…

Buat para jomblo-jomblowati di mana pun Anda berada, silakan gencarkan pencarian di Tumblr karena media sosial ini bisa sekali diprospek. Buat korban-korban #PasanganKetemuDiTumblr dan #Gara-garaTumblr semoga bertemu juga dengan dia di pelaminan nanti. Buat yang sudah lancar jalannya dan sudah pernah duduk bersama di depan penghulu, semoga berbahagia selalu dan diberkahi anak yang lucu-lucu. Buat yang pernah ‘yaudahlah’ dengan anak Tumblr, sabar ajah yah, kuat-kuat selalu.

Bicara (Tentang) Cinta

“Eh kak, lihat deh, aku dapet ask dari Tumblr. Tapi tentang cinta cinta gitu. Oalaaaah, aku tuh ya suka bingung jawabnya gimana.” ujar saya pada seorang teman yang duduk saling memunggungi dengan saya di ruang kerja. Sambil bekerja, kami memang seringkali tiba-tiba bercerita tentang apa saja, dari yang berat semacam strategi menghandle sesuatu di kantor sampai yang ringan semacam cerita-cerita saya yang penting-tapi-tidak-penting. Kemudian dia menjawab, “Hahaha, iya aku tau, cinta cinta geli gitu kan emang kayaknya engga kamu banget. Eh ataaaau, apa sekarang kamu jadi nulis tentang cinta sampai ada yang nanya gitu? Perasaan engga, deh!”

Iya, entah sejak kapan mulanya, saya mulai mengurangi dan menahan diri untuk menulis tentang cinta yang hubungannya dengan lawan jenis. Mungkin, tepatnya sejak saya belajar untuk tidak menghadirkan siapapun di hati saya sebelum diikat oleh akad. Dulu, saya juga pernah menulis tema-tema cinta dan rindu yang tertuju pada lawan jenis, sampai akhirnya saya menyadari semua itu tidak jelas muaranya.

Ini tentu bukan berarti saya benar-benar tidak pernah memikirkan tentang cinta dan sejenisnya. Tema-tema seperti itu sejujurnya masih menjadi ujian tersendiri bagi saya, yang membuat saya mengerti bagaimana susahnya menjaga interaksi, terlebih menjaga hati. Di usia saya yang masih awal 20an ini, ternyata memang tidak mudah untuk memastikan hati saya tetap stabil menghadapi urusan-urusan seperti ini. Tanpa perlu menceritakannya lewat media sosial, saya hanya bercerita pada Ibu dan sahabat saya, mereka jugalah yang selalu menguatkan saya untuk tetap sadar bahwa semua yang mencoba mengetuk pintu hati harus disikapi dengan wajar, sebab semua adalah teman dan tidak ada yang spesial sebelum halal.

Bagi saya, mengisi hati dengan perasaan dan harapan yang belum pantas itu sangat sangat sangat melelahkan karena hal itu membuat fokus kita bisa menjadi sangat teralihkan. Jika sudah begitu, wajar saja jika pada akhirnya kita tidak lagi memiliki banyak waktu untuk sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat untuk kebaikan.

Dalam satu tulisannya, kak @kurniawangunadi pernah mengatakan, katanya menunggu adalah seni melakukan hal-hal besar dalam masa-masa penantian. Saya lebih dari sepakat! Daripada terjebak dalam perasaan dan mengisi hari-hari dengan lebih banyak galau dan baper, tentu lebih baik jika kita mengisinya dengan melakukan hal-hal besar yang akan baik untuk diri kita dan juga orang lain. Soal perasaan, sudahlah, ayo kita belajar untuk menyederhanakannya.

Ustadz Salim juga pernah mengatakan, katanya soal jodoh itu memang sudah diatur oleh Allah, sudah tertuliskan siapa yang akan berdiri di samping kita nanti di pelaminan, tapi akan dengan cara apa kita menjemputnya: apakah dengan tetap menjaga diri dan hati hingga Allah mengulurkannya dengan lembut ataukah dengan ‘mencuri start’ hingga Allah memberikannya dengan melemparkannya? Jodohnya mungkin sama, orangnya ya yang itu juga, tapi keberkahan tergantung pada bagaimana cara kita menjemputnya. Hmm, sejujurnya nasehatin ini pertama-tama tertuju untuk diri saya sendiri.

Cinta bukan satu-satunya urusan paling penting yang lantas membuat kita harus menghabiskan banyak waktu dan fokus untuk mengurusinya. Semua ada waktunya. Semoga Allah memudahkan kita untuk terus belajar mengendalikan hati dan diri sebelum nanti kita diperbolehkan-Nya untuk merayakan cinta dalam pernikahan.