pegal

Jangan Jadikan Aku Istrimu, Jika..

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.

Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.

Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.

Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.

Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.

Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.

Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.

Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.

Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.

Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.

youtube

Kemarin sore, murabbi saya mengirimkan video ini kepada saya. Awalnya tidak langsung saya buka karena saya sedang dalam perjalanan. Sesampainya di rumah, saya menontonnya sambil rebahan meluruskan punggung dan kaki setelah pegal karena macet di jalan. Menit-menit pertama, saya masih belum merasakan apa-apa. Tapi, tengah sampai akhir video ini ternyata membuat mata saya berembun.

Saya jadi teringat lagi pada beberapa tahun ke belakang, ketika murabbi saya mengajak saya berdiskusi tentang tujuan-tujuan besar dalam hidup hingga saya mendapatkan pemahaman baru, bahwa mimpi besar yang dimiliki oleh setiap manusia perlu selalu dicek niatnya. Tentang keberangkatan studi, pencapaian mimpi-mimpi, checklist besar dalam hidup, semua tidak akan berarti apa-apa dan akan selesai saat kematian, kecuali jika semuanya dilakukan untuk meraih keridhoan Allah. Ah, Ya Allah, betapa kami sebagai manusia tidak bisa apa-apa dan lemah tanpa pertolongan-Mu. Bukankah semua energi yang kami miliki untuk berjuang menggapai mimpi-mimpi juga berasal dari pemberian-Mu?

Sahabatku, semoga Allah memudahkan kita untuk memperbaiki niat, meluruskan tekad, dan mengajak diri untuk berserah pada apapun yang menjadi keputusan akhir-Nya. Sebab hidup tak lain hanya untuk-Nya.

Don’t break the chain and let’s run to be eternal :)

Keluarga

Kita semua selalu punya rumah, tempat berpulang ketika lelah, tempat bersandar untuk menghilangkan pegal di hati, serta tempat untuk menceritakan segala yang kita temukan saat menempuh perjalanan hidup kita sendirian.

Ajaibnya, terlepas dari itu semua, tidak jarang juga kita temui kekesalan di dalam rumah, berebut siaran di televisi, berebut kursi paling nyaman di dalam rumah, bahkan berebut masakan ibu yang bisa saja besok atau lusa akan ada lagi.

Namun, sekesal apapun kita, tetap saja ada sesuatu yang sangat penting dalam keluarga. Mereka selalu ada untuk kita. Di saat yang lain hanya datang ketika butuh, mereka tetap hadir. Di saat yang lain tidak mempercayaimu, mereka masih percaya. Dan di saat yang lain berbalik menentangmu, keluargamu masih ada untuk mendukungmu.

Bahkan, di manapun nantinya kita pergi bersama, meski di tempat yang jauh nan terpencil, di sebuah ruangan yang sempit, hingga di luar angkasa, meski kita masih bersama keluarga yang tidak pernah hentinya kita cintai, maka di situ juga masih kita sebut rumah.

Kita tidak perlu repot-repot menemukan definisi rumah itu sendiri.

Tapi yang terpenting dari sebuah rumah, mereka akan selalu ada untuk kita.

Bogor, 31 Oktober 2016 | Seto Wibowo

Teruntuk

…semuanya, yang sedang dikelilingi banyak tugas, tanggung jawab, kewajiban. Yang kepala dan hatinya sedang diisi berjuta pikiran, berkecamuk tak keruan. Yang tidak berhenti merasa khawatir dan takut. Yang sungkan mengambil jeda karena ingin terus bekerja. Yang mungkin senantiasa merasa bingung, butuh pegangan, butuh sandaran. Yang mungkin sedang disiksa dengan ketidakpastian. Yang sedang berjuang sendirian? Yang merasa kurang diapresiasi. Yang kesabarannya senantiasa diuji. Yang tugasnya mati satu tumbuh seribu. Yang sengaja berjalan di bawah hujan demi sembunyikan sedu. Yang gamang karena punya sejuta pertanyaan, tapi tak kunjung dapat jawaban. Yang memutar lagu sedih berulang-ulang karena hanya dengan begitu pegal hati bisa terwakili. Yang menangis malam-malam, karena saat terang kalian harus tersenyum seharian. Yang rindu pelukan ibunya, yang rindu senda gurau ayahnya. Yang rindu rumah, tapi belum bisa pulang. Yang sedang diuji oleh jarak dan waktu. Yang sedang diuji sehat jiwa serta raganya. Yang terduduk, terengah kelelahan. Yang merindukan teman. Yang berekspektasi dan dikecewakan. Yang sudah berusaha tapi mungkin terabaikan…

…jangan lupa mengambil napas, teman-teman. Jangan lupa untuk minum, jangan lupa makan. Di saat susah, ini bisa jadi sulit untuk dipercaya, tapi aku akan katakan juga: kita tidak pernah sendirian.

Menangis sangat diperbolehkan, kawan-kawan

tapi iringi juga lah dengan doa.

Ya?

Surat Terbuka Untuk Perempuanku #Last

Adam nggak ngerasa keren ada lastnya gitu. Kalo bisa Adam gak mau last. Kamu tau gak, Tam? Adam seneng kamu bisa bahagia dan nyembunyiin sedihmu. Masa-masamu sekacau dulu udah lewat. Tapi Adam baru aja mulai masa-masa itu.

Kemarin, walaupun udah ada rencana. Adam sama sekali gak khawatir soal pernikahan. Adam bawa santai karna kata Rhoma Irama juga, santai~~~~ yok kita santai agar badan tidak pegal~~ Adam bawa santai karna masih yakin jodohku kamu. Sebesar itu yakinku, karna  cinta yang Adam punya gak perlu bikin kamu ragu. 

Adam sampe me time buat nenangin diri. Allah kok ngasih cobaan bisa seserius ini. Adam mau dimainin aja kalo diseriusin bisa sesakit ini. 

Kamu boleh nyangkal, 

Aku gak cantik Dam, aku begajulan, gak kerudungan, dan hidup sesukaku banget. Jodohmu bukan aku karna lelaki yang baik untuk perempuan baik. Dan aku gak baik”

Adam suka kamu dari dasar. Dari semenyenangkan menyenangkannya kamu jadi perempuan, Tam. Baik atau buruk bukan hakmu untuk menjudge. Terlebih judge dirimu sendiri. Kamu gak punya haters apa?! judge aja sampe sendirian. Dan dalam judgemu pada dirimu sendiri, Adam masih mikir kamu yang terbaik selama ini. Jangan nyanggah lagi, baik buruk seseorang, orang lain yang liat. Bukan orang yang bersangkutan yang nilai. Maling aja gak pernah ngaku maling. Kamu baik, dan punya apa sampe bisa bisanya ngaku gak baik? Kamu baik, menurutku. Itu pendapatku. Gak boleh disanggah. *tempelin telunjuk di bibir* 

Kenangan sama kamu, Adam gak bisa lupa. Tapi mereka pada kenapa deh. Kok bisa sekurang ajar ini, sekarang?

Adam inget, setelah Idris kabarin kamu Adam dijodohin, lalu Adam telfon kamu pertama kalinya sejak saat itu.

Assalamualaikum, Puan”

Walaikumsalam, Dam” sambil kamu pakein vibra

Ko gak tidur?” -adam canggung harus mulai darimana

“…………” 

Kamu gak jawab, Adam cuma tau kamu tenggelam dalam isak. Lalu kamu tetep patut dapet gws setelahnya

Kamu gak peka deh, Dam. Gak perhatian. Perempuanmu ini nangis. Idungnya mampet. Suruh ambil tisu kek kalo gak bisa kasih tisu. Bantalku jadi basah. Males kan aku jadinya. Nanti pagi Ayahku ngira aku ileran banyak banget deh pasti” 

Kamu ko bisa semenyenangkan itu, Puan…..

Adam juga inget waktu papasan di ATM, kamu belum mandi, dan sekucel itu. Tapi tetep PD dengan

Jangan terpesona, sih. Cewe wangi udah mandi mah biasa aja. Aku dong, belum mandi dan gak wangi. Gih kamu mau ilfeel buruan sekarang”

Lalu naik motor kamu cuma pake kaos panjang biasa. Gak mikir. Masuk angin nanti kamu tuh, kan. Adam kasih jaket. Mukamu gak kontrol banget tau gak :)) kamu salting kan? Lalu kamu bilang

Aku ngerasa jadi pemain ftv deh, Dam. Gak kuat. *lambai lambai tangan keatas* Dam, kameranya sebelah mana, aku nyerah aja” 

Adam inget juga yang kamu sakit, lalu Adam tawarin supcream. Tapi bukannya “nggak, Dam. Gak usah” kayak perempuan lain. Kamu malah

Aku prefer salad aja sih, Dam. Kalo kamu maksa, salad dan supcream aku terima. Gapapa. Tapi kalo gak dipaksa pun aku terlanjur mau. Kamu pake barcode scanner kan? Kode ku tertangkap gak?”

Kamu gak biasa, Tam. Dan Adam suka. Kapan kita sama-sama dan Adam gak ketawa? 

Cinta orang selain kamu akan susah banget pastinya. Karna Adam udah tau sumber ketawa selama ini darimana. Iya, emang selain dari kamu pun ada. Adam gak senestapa itu. Tapi kamu beda. Kamu gak bisa buat Adam aja, apa?

Kemarin Adam ngobrol sama seseorang yang kamu sebut santri, bareng Abinya juga. Mungkin setelah kenal banyak nanti dia semenyenangkan kamu. Mungkin. Tapi akan lebih mudah kalo orangnya ya kamu aja. Gak bisa ya?

Puan, silaturahmi gak boleh putus ya. Tapi sekarang Adam mau ngucapin selamat tinggal. Bukan buat pertemanan. Ini selamat tinggal untuk harapan harapan kedepan yang udah kita bayangin. 

Tam, makasih udah selalu jadi perempuan yang bikin kepalaku ringan cuma dengan bincang bincang kecil. Makasih selalu jadi rumah dengan sapa paling ramah. Makasih udah biarin Adam ngerasa di cinta dengan semua gengsimu yang ada. Adam inget lagi :)), Adam pernah tanya

Tam, kita gak pacaran gini. Kamu sayang Adam gak?”

“Nggak, ngapain. Aku sibuk. Nafas aja nyempetin. Gimana bisa sayang kamu, gak ada waktu”

“Beneran gak sayang?”

“Udah sih baca line aja kamu tuh. Tapi jangan respon apapun! Kamu bahas apa isi lineku, aku tutup telfonnya”

“*senyum senyum*”

Kamu line Adam

Di Qur’an aku sayang kamu atau nggak ga ada, ya? Kalo bisa ditambahin disana, tolong tulis iya. Iya bahasa arabnya apa sih? Pokonya iya. Tapi aku gamau ngaku. Hih. Gengsi dong. Lagian, siapa kamu?”

Kemarin Adam tanya hal serupa. Masih dengan gengsimu, kamu jawab

Menurutmu kalo gak sayang, aku bisa seberantakan ini sekarang?”

jutek abis kakak~ ketus abis kakak~ Tapi Adam tetep suka. Caramu bilang iya selalu gak langsung “iya” makanya kalo telfon setelah sama sama tulis surat gini, kita sama sama gak mau bahas isi surat masing-masing. Karna di surat, baik kamu atau Adam, rasanya bebas ngungkapin sayang. Tapi di nyata, rasanya bilang sayang pun tabu. Sekalipun ada yang berani, akhirnya cuma di ceng-cengin doang :(

Cie, romantis banget, Dam. Kek orang lagi kasmaran”

“Jatuh cinta, Dam? sama siapa? utuk utuk, sama aku Dam? Cie.  Kek orang kasmaran”

“Perhatian bener, ada apa deh? Jangan bilang khawatir? Eak kek orang jatuh cinta aja”

Makasih udah jadi wanita kuat yang bisa nahan tangis lalu nulis hal hal kayak gini. Makasih selalu angkat telfonku, jam berapapun itu. Makasih udah nyoba jadi yang terbaik meskipun tanpa nyobapun kamu udah yang terbaik. Makasih udah biarin Adam kenal kamu sedeket ini. Makasih buat gak sama lelaki lain walaupun kita tanpa ikatan. Makasih, udah sayang Adam. Makasih gak pernah semenyebalkan perempuan lain. Makasih udah jadi separuhku, meski nggak sampe kedepan dan cuma sampe sini aja. Makasih buat semuanya :)

Adam inget pesenmu pas terakhir kita telfonan dan sepakat buat gak kontak intens

Sakit hatiku sekarang, yang paling sakit dari sakit hatiku dulu. Kamu jangan jadi laki-laki brengsek. Kamu harus cinta istrimu. Kamu harus bahagiain dia. Kamu harus perlakuin dia kayak aku. Jangan sia-sia in sakit hatiku buat nyakitin perempuan yang emang udah ditakdirin untukmu. Dam, aku sayang kamu”

itu pertama kalinya kamu bilang sayang sama Adam dan Adam denger langsung dari mulutmu. Sambil nangis, sambil nahan sesek di dada, sambil sama sama tau itu terakhir kalinya buat bilang apapun berbau I love you. Adam gak akan lupa, Tam. 

Semoga kamu lekas bahagia. Jangan buru buru moveon. Jangan punya tujuan buat bikin Adam envy. Jangan jadi menyenangkan buat semua lelaki. Semoga lelakimu nanti, lebih lebih dari Adam. Ya walaupun susah, kan katamu Adam udah segalanya banget :))) 

Semoga bahagia, Puan. Doaku masih akan selalu ada buatmu, Tam. Adam sayang kamu, perempuanku  sahabatku tieyems 


-Adam

Lelaki yang ingin sekali kamu anggap sahabat, sekarang :)

pusar saya gatal, sangat gatal sampai saya menumpahkan seperempat botol minyak telon ke atasnya. kata teman saya, bisa jadi saya hamil. saya sih tidak percaya. pusar gatal tidak termasuk tanda-tanda kehamilan. apalagi, saya dan mas yunus belum merencanakan kehamilan–merencanakan untuk tidak hamil dulu, tepatnya.

tapi bukan saya dan mas yunus namanya, kalau tidak suka bercanda.
“mas, aku pingin tahu tek. beli tahu tek yuk.”
“emang kamu doyan petis-petis gitu?”
“gatau kan aku belum pernah makan.”
“besok malam aja ya, aku ngantuk banget sekarang.”
saya memelas, “mas, ini kayaknya bawaan janinnya deh. kasian kalau nggak diikutin.”
“hahaha ngawur,” lalu saya dikelikitik seperti biasa. besok malamnya, kami sungguhan keliling sekitaran rumah untuk beli tahu tek.

hari-hari berikutnya saya sering demam terutama saat pagi. badan saya pegal-pegal dan sangat tidak nyaman. selama 3 bulan sebelum menikah, saya lari pagi hampir 5km setiap hari. kebiasaan ini berhenti sesampainya saya di surabaya karena saya lupa bawa sepatu lari. nah, sepertinya demam-demam itu karena saya kurang olahraga. akhirnya demi mengambil sepatu lari, saya pulang ke bogor–sekaligus mengurus perintilan pasca-pernikahan yang belum selesai.

rencana lari pagi bubar jalan karena di bogor saya demam terus setiap pagi. entah dari mana, saya merasa mungkin teman saya ada benarnya, mungkin saya hamil. ditambah lagi, saya sudah 2 hari terlambat menstruasi. saat itu malam hari namun saya merasa tidak sanggup menunggu pagi untuk mengetes urin.

dua garis. garis satunya samar-samar tapi saya tau pasti bahwa persis ada dua garis di sana. seketika saya panik. saya memberi tau mas yunus–yang malam itu sedang jaga–dengan mengirim foto hasil tes lewat whatsapp. mas yunus sama-sama tidak percaya, “lusa dites lagi aja ya kica. coba pakai alat tes merk lain.”

saya panik.
saya bahagia luar biasa tapi kepanikan lebih dominan menyelimuti perasaan saya. tiba-tiba saya menyesal tidak langsung mengonsumsi asam folat setelah menikah. tiba-tiba saya menyesal karena saya baru sempat melakukan tes kesehatan pranikah, namun belum sempat mengikuti program vaksin apapun. tiba-tiba saya menyesal karena saya begitu heboh mempersiapkan hari pernikahan tetapi sama sekali tidak mempersiapkan kehamilan.

saya dan mas yunus tidak berencana untuk menunda kehamilan. namun kami sama-sama tau dan paham bahwa kami belum siap untuk punya anak. ada banyak sekali alasan yang cukup membuat kami menerima bahwa kami belum siap–sehingga kami perlu mencegah pembuahan.

siapa yang mengira bahwa kata Allah lain. ibu kami sempat kaget sekali karena usia kandungan saya lebih tua dua minggu dari usia pernikahan kami. ini karena hari pertama haid terakhir (HPHT) saya adalah dua minggu sebelum kami menikah. ibu kami baru ber-“oh” panjang setelah kami jelaskan bahwa dari HPHT-lah usia kandungan dihitung.

saya dan mas yunus lebih kaget lagi. artinya kami “berhasil” pada percobaan pertama saja. kata mereka, mas yunus tokcer luar biasa.

entah pregnancy blues itu ada atau tidak, tapi bisa dibilang saya mengalaminya. kerap saya merasa sedih karena saya belum bisa menjadi ibu yang baik, belum siap. mulai dari urusan menata makan, menata waktu istirahat, menata hati dan emosi, serta menata lain-lain. belum lagi karena saya mengalami morning sickness yang cukup parah. hampir setiap selesai muntah saya menangis karena kerongkongan saya sakit. seringkali di malam hari saat mas yunus jaga, saya kelaparan namun tidak punya energi untuk masak atau makan.

yang bisa saya lakukan setiap kesakitan atau kelaparan hanyalah berdzikir sambil berdoa, semoga beserta rasa sakit tersebut Allah mengampuni dosa-dosa saya. doa yang sama juga berlaku untuk ibu-ibu saya. semoga setiap rasa sakit yang pernah ada pada ibu-ibu saya karena saya dan mas yunus, menggugurkan dosa-dosa ibu.

sekarang usia kandungan saya hampir memasuki trimester kedua. mulai berkurang sudah rasa mual beserta frekuensi muntah yang saya alami. seperti pesan ibu, “mbak hatinya ditata ya,” saya mulai menata segalanya. saya pun gumun melihat perubahan yang terjadi pada diri saya sendiri.

saya tidak pernah sehati-hati sekarang. soal apa yang saya lakukan, soal apa yang saya konsumsi: makan-lihat-baca-dengar, soal apa yang saya katakan, bahkan soal apa yang saya pikirkan. walaupun pada banyak hal saya tidak seproduktif biasanya karena mudah lelah dan perlu banyak istirahat–saya sedikit sekali menulis, saya sedikit sekali melakukan ini itu, saya jarang sekali membuka laptop bahkan ponsel saya–saya merasa menjadi versi diri yang terbaik.

semua karena Kakak, karena Allah mempercayakan Kakak kepada saya.

dulu saya mengira bahwa sesuatu datang kepada kita karena kita sudah siap. ternyata tidak. sesuatu datang kepada kita karena kita mempersiapkan. ternyata lagi, tidak. bisa jadi sesuatu datang kepada kita karena Allah yang mempersiapkan–bukan kita–sebuah rencana baik untuk kita.

saya tidak bisa tidak bersyukur karenanya, karena-Nya. saya bersyukur bukan karena banyak yang bilang, “alhamdulillah loh mbak, banyak yang sudah menikah lama tapi belum-belum juga hamil.”
rasanya kebahagiaan saya tidak diukur oleh perbandingan dengan hidup orang lain.

saya bersyukur karena keluarga saya bilang, “mbak uti berubah ya setelah hamil. sekarang lebih keibuan, lebih rajin macam-macam, lebih lembut.”
saya bersyukur karena menjadi seseorang yang lebih baik.

saya masih memiliki lebih dari 6 bulan untuk mempersiapkan diri menjadi ibu yang hebat. bersama mas yunus, insyaAllah kami siap.