paruh

Curhat : Koran

Waktu itu aku sedih, sedihhhh aja. Karena sesuatu hal. Kaya hari itu berat gitu.

Terus aku berhenti di lampu merah. Ada bapak-bapak penjual koran, ceriaaa banget. Sumringah mukanya. Padahal gerimis, tapi beliau tetap jalan di antara kendaraan. Nggak cuma menawarkan koran, tapi juga menawarkan keramahan. Keikhlasan terpancar disitu.

Kayanya, hari beratku nggak ada apa-apanya dibanding bapak-bapak itu. Udah paruh baya. Bapak itu pasti punya keluarga yang dinafkahi di rumah. Bapak itu pasti kerja keras seharian dan belum tentu cukup. Bapak itu, bisa jadi setelah berjualan koran masih harus bekerja entah ngojek, jadi satpam, bantu istri jualan, ah pasti bapak tadi banting tulang dan energi yang beliau keluarkan masih nggak habis-habis padahal beliau senyum nggak berhenti.

aku, senyum aja males hari ini. Padahal aku nggak harus banting tulang sebegitunya buat makan. Padahal aku nggak harus kepanasan kalau matahari pas sengit, aku nggak harus lari ngelidungin koran-koran jualan itu kalau hujan. Padahal aku punya banyak sumber kebahagiaan yang bisa aku syukuri.

Nggak malu sedih gini?

Lihat bapak itu…

Meski sepanjang dari lampu merah depan belum ada yang beli korannya, air mukanya tetap bahagia. Syukurnya tampak lebih besar daripada keluhnya.

Nggak malu ?

Pak. Semoga rezeki bapak lancar hari ini. Terimakasih, saya belajar banyak dari senyum bapak.

[Kolaborasi : Sendiri Memang Bisa,Tapi Bersama Luar Biasa]

“Zaman sekarang, kalau tidak mau kolaborasi maka akan terasing sendiri”-@blogserius

Zaman sekarang adalah era dimana team working memegang peranan penting, pekerjaan/karya yang dikerjakan secara kolaborasi akan lebih banyak menghasilkan manfaat-manfaat yang efektif”-@novieocktavia

Apa sih kolaborasi itu? Kalau kata Pak Walikota Bandung nan kece, Ridwan Kamil, kolaborasi artinya kerja barengan. Simpelnya begitu. Yaa, kerjasama akan membuat suatu karya lebih istimewa dan berdampak lebih luas, asalkan bisa dimanage dengan baik dan totalitas. Tentang kolaborasi ini, Saya punya sebuah pengalaman, begini ceritanya :

Dua tahun yang lalu saya bergabung dengan Langit-Langit creative sebagai admin dari penjualan buku-bukunya Kak Kurniawan Gunadi. Selama menjalani pekerjaan paruh waktu tersebut, saya dan admin lainnya sering menemani beliau bertemu dengan teman-temannya yang kebanyakan datang dari luar kota. Selama pertemuan-pertemuan itu, saya mengamati pembicaraan mereka. Saya sangat excited, sebab apa-apa yang mereka bahas adalah suatu projek-projek kebaikan yang akan dilaksanakan bersama. Misalnya, saat pertemuan dengan si A, maka mereka akan membuat projek di kota Jakarta. Lalu beberapa minggu kemudian, bertemu dengan si B dan akhirnya terbentuk rencananya di kota Bandung. Dan semakin hari, semakin banyak projek kolaborasi yang dilakukan. Hingga kebaikan-kebaikan dari projek tersebut menjadi simpul kebaikan yang tak pernah putus.

Selain itu, yang lebih menarik adalah ketika acara berlangsung pasti beliau bisa menjual buku-bukunya. Tapi, hasil pejualan buku tersebut didonasikan untuk suatu komunitas atau projek sosial-sosial lainnya. Dari dua hal tersebut saya belajar bahwa sangat banyak sekali manfaat yang didapatkan dari sebuah kolabarasi. Manfaat yang tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Untuk memulai kolaborasi-kolaborasi lain, kita harus punya karya dan ternyata karya itupun enggak harus dibuat sendirian, tapi juga bisa bersama orang lain. Makanya dari sekarang, saya mulai mengamati lebih dalam potensi-potensi yang ada pada teman-teman saya, kalau ada yang sama atau overlapping, siap-siap diajakin buat berkarya bersama.

Sebenarnya apa saja manfaat dari kolaborasi?

Kalau dalam islam, sebenarnya Allah telah menjelaskan bagaimana manfaat dari kolaborasi ini. Contohnya adalah saat kita shalat bermaja’ah. Shalat bermajama’ah itu pahalanya 27 kali lipat dari pada sholat sendiri. Nah, bisa jadi projek-projek kebaikan yang dilakukan bareng-bareng ini pahalanya bisa berkali-kali lipat. Balik lagi ke judul tadi, sendiri memang bisa tapi bersama luar biasa.

Ada beberapa manfaat dari kolaborasi ini :

1. Karya yang kita buat akan selesai lebih cepat dan waktu yang digunakan akan semakin efektif

2.  Bagi orang yang kurang percaya diri, adanya kolaborasi bisa meruntuhkan rasa tidak percaya diri itu, malu, takut dan penuh keraguan dalam melangkah

3.  Dampaknya akan lebih luas, sebab adanya pertukaran ilmu, networking dan market (objek dari projek kebaikan).

Contohnya saya dengan novie : Novie mengajarkan saya untuk menulis, dan saya mengajarkan Novie untuk berani menerbitkan buku secara self-publishing. Lalu, setelah buku kami ada, teman-teman saya menjadi teman Novie dan begitu juga sebaliknya.

Manfaat yang saya rasakan secara pribadi saat menerbitkan Menata Kala adalah saya bisa merayakan pertemanan saya dengan Novie, yang semoga bisa dikenang hingga akhir hayat. Kalau teman-teman mau memulai kolaborasi, nantinya teman-teman juga akan bisa merasakan manfaat-manfaat lainnya. Semangat!

Namun perlu di ingat, untuk berkolaborasi ini juga ada tantangannya. Apa aja sih tantangannya?

1. Harus menyamakan visi terlebih dahulu agar bisa berjalan beriringan

2. Membuang ego pribadi, harus mau mendengarkan dan menerima saran dan kritik

3. Saling back-up kerjaan. Kadang pengen ngeluh, tapi enggak boleh. Karena tujuannya adalah mencapai mimpi bareng-bareng. Jadi kalau banyak kerjaan, harus dijalani dengan ikhlas.

4. Waktu istirahat akan berkurang. Pastinya. Karena akan butuh waktu lebih banyak untuk diskusi dan melakukan pertemuan-pertemuan. Tapi dari dua hal tersebutlah kita bisa banyak belajar. Jadi nikmati aja prosesnya. Istirahatnya nanti-nanti aja.

5. Harus lebih pengertian, lebih banyak mendengarkan dan saling memahami

6. Banyak godaan datang, seperti popularitas dan pujian. Kalau godaan ini sudah datang, balik lagi ke niat awal, karena dua hal itu cuma bonus. Hanya tipu daya duniawi saja

Sekarang sudah tahu kan apa manfaat dan tantangan kolaborasi? Nah sekarang, saatnya kita belajar untuk memulai kolaborasi ini.

Untuk memulai kolaborasi ini, kita harus paham kapasitas dan potensi diri kita dan juga patner yang akan diajak kolaborasi. Tujuannya adalah agar saling melengkapi, agar punya pembagian peran yang jelas. Lalu, luruskan niat untuk kebaikan dan ladang dakwah agar setiap projek yang dijalankan menjadi berkah dan mendapatkan ridha dari Allah yang tiada putus-putusnya. Buatlah deadline dan target-target yang ingin dicapai bersama lalu berkomitmenlah untuk memenuhinya. Dan yang terakhir, cari ilmu sebanyak-banyaknya dari media apapun, belajar dari siapa aja khususnya sama orang-orang yang berpengalaman. Jangan malu untuk bertanya, jika ada masalah dalam proses mewujudkan karya.

Kolaborasi itu bisa banget diwujudkan dari cara sederhana, sesimpel dengan menyapa orang lain. Lalu menyampaikan niat berkolaborasi. Yang penting berani dan punya tekad kuat untuk berkarya bareng-bareng.

Terakhir….

“Jika ingin memulai kebaikan, niatkan yang tulus dan lurus. Allah pasti paham, Allah pasti lihat. Maka Allah akan menghadirkan untukmu banyak sekali kebaikan dan kemudahan dalam prosesnya: memberi teman kolaborasi, memudahkan pintu rezeki, mengatur semua kebaikan di dalamnya, dan menunjukkanmu jalan keluar atas tantangan-tantangan yang kita hadapi. Jangan takut memulai, jangan berhenti ketika sudah memulai. Semangat! Semangat menjadi pemuda-pemuda unggul yang penuh karya…

Saya menunggu karya-karya kalian, ayo semarakkan dunia anak muda dengan karya-karya yang istimewa untuk menolong agama Allah.”

Tetap harus ingat ini, “Sendiri memang bisa, bersama luar biasa”

Selamat berjuang menemukan ladang untuk menumbuhkan kebaikan-kebaikan yang ada dalam dirimu ya..

Sepenuh cinta dari Bandung, 24 April 2017

Ketersadaran

Kemarin, menjelang maghrib dari sehari yang cukup produktif dan menguras tenaga tiba tiba saya dikejutkan pesan whatsapp yang masuk ke hp saya. “mas bisa bantu saya, saya kecelakaan nabrak motor di daerah perumahan xxx” pesan whatsapp dari adik kelas saya yang sedang dalam perjalanan pulang setelah kami bersilaturahim.

Pikiran saya melayang seketika ingat dulu moment moment saya harus diintrogasi, sendirian, panik dan ketakutan karena suatu insiden. Saat teman teman saya banyak datang ke kantor keamanan rasa tidak sendiri itu hilang dan dorongan mental itu bener bener terasa.  Nah, saya berpikir hal serupa.

Saya mencoba tenang, “ya tenang aja nanti saya kesana” jawab saya dan segera menuju ke lokasi kejadian. Saya tidak ingin bercerita kejadiannya, ada hal menarik yang saya ingin ceritakan adalah teman saya sudah pucat dan lemas, beberapa luka terlihat, sementara ada seorang bapak paruh baya yang wajahnya menahan marah. Saya hampiri dan salami keduanya. Si bapak langsung bercerita berapi api terkait tuntutannya untuk ganti kerusakan motor dan perawatan kesehatan anaknya sambil gertak mau bawa diranah hukum atau kekeluargaan.

Saya dengarkan, lalu saya tepuk pundaknya “Ok Pak, saya turut berduka buat anak Bapak ini musibah, teman saya pun kena musibah. Kalo hukum silahkan tapi kita semua tau nanti gimana prosedurnya, kalo kekeluargaan ya kekeluargaan yang adil. Gini, saya udah denger cerita bapak, sekarang saya mau dengar cerita dari teman saya” kata saya. Kemudian teman saya bercerita kejadiannya, ya sejujurnya besar kesalahan dari pihak anak perempuan si Bapak itu yang naik motor tapi agak kurang baik caranya dan tidak memperhatikan prosedur keselamatan.

Dan ternyata sebelumnya teman saya sudah ingin berkelahi dengan suami dari perempuan yang terlibat kecelakaan dengannya. Bagaimana tidak? Suaminya sebaya kami, tiba tiba datang dan marah meledak ledak, teriak teriak, ngajak berantem, dan badannya lebih kecil? Teman saya bilang “kalo ga dipisahin saya hajar disini Mas suaminya, datang datang marah dan mau mukul padahal ga tau duduk perkaranya” kata teman saya. Lalu saya jawab sambil ketawa “ iya habis itu ga selesai, dia panggil temen temennya. Digebukkin kita berdua disini hehe”.

Nah benar saja, suaminya setelah emosi dan marah marah akhirnya pulang dan mengajak mertuanya (si bapak dari anak perempuan yang kecelakaan) dan satu anak laki laki paruh baya. Dia seraya minta bantuan. Saya tahu kalo begini caranya ga akan selesai, kalo terpaksa harus ada baku fisik, menang pun jadi runyam karena di “Kampung Orang”.

Saya sejujurnya kasian banget kalo ada orang yang sedikit sedikit emosinya naik, pengalaman saya berhadapan dengan berbagai macam tipe orang, jika ada orang yang cepet banget marah biasanya juga memiliki sisi penakut yang sangat besar. Efek karena mereka secara tidak sadar menyembunyikan ketakutannya yang berlebih. (Apalagi kalo udah marah marah lawannya tidak terpancing ikutan emosi pasti kan gondok banget) :). Lalu saya coba mediasi, dan akhirnya kami mencapai kesepakatan. Saya menjamin untuk mengganti kerusakan motor, dan untuk masalah keadaan si anak dan teman saya jadi tanggungan masing masing orang tidak ada yang saling menuntut biaya ganti rugi.

Nah, di situasi yang membuat urat leher tegang tersebut tiba tiba ummi saya telepon dengan panik, adik saya yang paling kecil belum pulang setelah pergi latihan untuk ujian praktek di suatu tempat. Ya sudah, saya coba tenangkan pikiran. “saya selesaiin ini terus langsung pulang ke rumah” saya bergumam.
Singkat cerita ketika urusan saya membantu teman saya selesai, kemudian ummi saya menelpon kalo adik saya pun sudah kembali ke rumah, Alhamdulillah. “Alhamdulillah kalo gitu, aku mau ngomong sama Fikri nanti kalo di rumah” kataku. Untungnya ketika adzan maghrib berkumandang 2 insiden tersebut sudah solved sehingga saya bisa pergi shalat berjamaah di masjid dengan tenang.

Nyaris 4 tahun hidup dengan slogan Vivere Pericoloso (To Live Dangerously). Masuk kantor polisi, diintai dan diikuti intelijen, demonstrasi di jalan, mengkritik kesewenang wenangan, dihujat dan dipuji orang banyak, diincar rektorat, demo keliling kampus, buat propaganda, negosiasi serta debat dengan pejabat, jarang tidur, masuk media, adu argument dengan teman sejawat dll sudah bukan barang baru. Lalu itu semua berhenti  pada titik fase ini, bagai singa kehilangan taring dan kuku. Lalu kenapa berhenti? Karena dari semua yang berbahaya, yang paling berbahaya adalah tidak bisa menaklukan diri sendiri dan tidak bisa menjaga ketersadaran.

Jadi begini, apa yang saya pelajari dari rekayasa sosial dan propaganda adalah manusia mudah untuk dikendalikan dan kehilangan akal sehat ketika ketakutan, panik atau marah. Sehingga jenis propaganda konvensional yang terus digaungkan bahkan sampai tingkat internasional adalah memainkan emosi manusia untuk takut, panik atau marah terhadap sesuatu dan mereka kehilangan akal sehingga tanpa sadar mudah untuk dikendalikan untuk mencapai tujuan tertentu.

Dalam fase ini saya belajar mengendalikan takut, panik dan emosi saya. Saya berusaha untuk lebih bijak, sabar, dewasa, lebih tenang dalam pembawaan diri, lebih berpikir jernih dalam emosi yang stabil walaupun kondisi genting sekalipun. Saya belajar untuk lebih banyak mendengar dibanding berbicara, penting bagi saya untuk lebih banyak memahami keadaan dan orang lain daripada menuntut untuk dipahami, penting bagi saya untuk cepat mengambil tindakan dibanding hanya berbicara dan jadi wacana. Tidak terlalu reaktif dalam menanggapi sesuatu. Kita sebagai manusia sangat butuh ketersadaran untuk berpikir jernih dan mengetahui konsekuensi dari suatu tindakan, mengambil piliahn pilihan hidup, dan menetukan tujuan sehingga kita bukan manusia yang dipenuhi pemikiran pendek, emosional, dan mengikuti hawa nafsu. Karena menjaga emosi dan ketersadaran merupakan bentuk kehati hatian dalam bersikap.

Jikalau kau melintasi jalan yang penuh duri di kanan, kiri, depan, atau belakang, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Ubay bin Ka’ab
Sudah tentu akan berhati-hati agar tidak terkena duri.” jawab Umar bin Khattab.
Itulah taqwa.” jawab Ubay bin Ka’ab singkat

Jangan dulu menyerah

Di usia saya hari ini, di luar sana, banyak yang sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan. Banyak pula yang sudah mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Banyak pula yang menghasilkan karya-karya yang telah diapresiasi banyak orang. Banyak pula yang tengah berbahagia dengan keluarga kecilnya.

Lalu saya terdiam, sementara saya bagaimana? Di mana saya saat ini? Sudah berbuat apa saya hari ini? Apa yang sudah bisa sedikit saja saya banggakan?

Pekerjaan tetap belum ada, hanya pekerja paruh waktu biasa.
Pasangan belum ada, hanya sisa-sisa patah hati yang masih belum pulih juga.
Karya pun belum ada yang dikenal dan bermanfaat bagi banyak orang, hanya sebatas tulisan-tulisan menasihati diri sendiri saja.

Sedang di manakah posisi saya hari ini, Tuhan? Mengapa terasa begitu payah dan lemah?

Bukan tidak bersyukur, Tuhan, bukan. Hanya keyakinan diri saya tentang diri sendiri mulai goyah, mulai lemah dan tak tentu arah.

Tuhan, saya tidak boleh menyerah dulu kan? saya masih bisa memperbaiki ini, kan? setelah kesulitan ada kemudahan, kan?


Tolong kuatkan jika mulai kepayahan seperti ini, Tuhan. Aamiin.

anonymous asked:

Bang rencana nikah diusia berapa??? Dan menurut abang pilih mana, nikah dulu atau berangkatkan haji ortu dulu?

Jika masih Allah beri umur, rencana paruh kedua taun depan insyaAllah (25), sepertinya sudah saatnya mencari partner dalam perjuangan. Semoga ada yang bersedia nantinya.

Tentang haji, saya yakin setiap anak yang mencintai orang tuanya punya rencana itu. Jika dipaksakan taun depan sepertinya belum bisa meski ambil paket ONH plus juga masih harus nunggu sekian tahun. Realisasinya insyaAllah bisa kita lakukan sambil jalan. Alternatif terdekatnya, mungkin bisa coba umrohkan keluarga baru kita tak lama setelah menikah.

Prioritaskan saja terlebih dahulu mana yang sesuai dengan kemampuan kita.
Barangkali itu.

Saya minta doanya, semoga doanya memantul juga pada yang mengaminkan dan yang berkenan mendoakan kebaikan bagi saudaranya :)

Lamaran Lelaki Biasa Bagian 1

Pernahkah kamu mencintai seseorang yang sama hingga bertahun-tahun? Dari kamu masih berseragam SMA hingga kamu sudah lulus kuliah, dari umurmu yang belasan hingga kini sudah cukup umur untuk menikah. Apakah kamu pernah merasakan semua itu? Jika iya, bearti kita sama, perkenalkan namaku Feby umurku 27 tahun dan kedua orangtua sudah menuntut agar aku segera mengakhiri masa lajang ini.

Wajahku tidak bisa dikatakan jelek, otakku pun tidak bisa dikatakan otak udang. Aku memiliki wajah manis bersih dipadu dengan lesung pipi yang dalam. Aku termaksud seorang yang berprestasi terbukti dari deretan piala di rak kaca ruang tamu rumah kedua orangtuaku. Sebenarnya ada beberapa lelaki yang mencoba mendekatiku mulai dari yang seumuran, di atasku hingga di bawahku namun tidak ada salah satu pun dari mereka yang datang ke rumahku. Bukan karena mereka tidak punya nyali tetapi aku yang melarangnya, aku sangat melarang keras. Kamu boleh beranggapan bahwa aku bodoh atau pun sok jual mahal, itu hak mu! Aku hanya berusaha memenuhi janji kepada sahabatku.

“Aku hanya ingin dilamar sekali seumur hidup tanpa ada penolakan.”

“Kenapa?”

“Karena sebuah penolakan itu sakit dan aku tidak ingin menyakiti. Jika aku bisa menikah tanpa menyakiti kenapa harus menikah dengan menyakiti?”

Sore itu di kota kami, di balkon rumah sahabatku, di mana kamu dapat menyaksikan dengan jelas pemandangan hamparan perumahan yang berada di jalan Juanda Depok, perumahan itu nampak seperti rumah-rumahan. Di mana suara sholawatan yang berasal dari masjid-masjid sudah terdengar pertanda adzan magrib akan segera berkumandang. Di mana ibuku sudah berkali-kali menghubungiku via telepon memintaku untuk segera pulang, katanya tidak baik anak perawan pulang malam-malam terlebih dari rumah seorang lelaki.

Perbicangan kami tentang masa depan selesai, di tutup dengan janjiku perihal lamaran sekali seumur hidup dan janjinya yang tidak akan menikah sebelum menjadi orang sukses.

Depok, 13 Januari 2012.

***

“Kamu nggak mau move on dari Rian?”

“Apa nggak ada pilihan lain selain itu?”

“Feby,” Anggi memanggilku pelan. Aku tetap pada posisi semula, tertunduk menatap lantai. Perempuan yang kini tengah hamil 2 bulan itu mengusap-usap pundakku. Ia mungkin sudah kehabisan kata-kata untukku, sudah berulang kali Anggi menasehatiku tentang pernikahan dan juga cinta, setelah menikah cinta pasti akan tumbuh cepat atau lambat. Berkali-kali memintaku melupakan Rian lantas membuka hati untuk orang lain bahkan Anggi pernah mencarikanku seorang lelaki namun dengan halus kutolak. Aku bukanlah orang yang mudah mencintai dan melupakan, aku percaya bahwa Rian akan menempati janjinya. Aku percaya bahwa perasaan ini juga dirasakan Rian.

“Feby, tolong berpikir jernih! Rian bahkan tidak mengabari kamu setelah kepindahannya ke Bandung. Siapa yang menjamin jika lelaki itu belum memiliki kekasih di sana? Siapa yang tahu? Lagi pula…”

“Anggi,” Aku memotong ucapannya. Aku tidak ingin medengar kalimat selanjutnya, kalimat yang sudah aku tahu persis, kalimat yang menyakitiku dengan sangat meski kuakui kalimat itu benar adanya. Aku percaya kepada perasaanku meski itu tidak didukung oleh logika, aku tidak peduli!

Anggi memelukku erat. Aku masih saja pada posisi semula, aku enggan untuk menatap kedua bola mata Anggi. Aku diam saja ketika pelukan itu semakin erat. Perlahan aku merasakan kehangatan di pipiku, air mata itu tumpah untuk kesekian kalinya. Menggapa mencintai kamu harus serumit ini Rian? Bukankah pernalan kita dimulai dengan baik-baik saja? Bahkan hingga perpisahan itu terjadi semua masih baik-baik saja, bisakah mencintai kamu seperti itu? Baik-baik saja.

Kini ruangan berukuran sedang itu menjadi saksi untuk yang kesekian kalinya  bahwa aku masih memegang teguh janjiku. Rianlah yang akan melamarku untuk pertama dan terakhir, aku pastikan itu! Lelaki luar biasa yang sukses membuatku untuk selalu percaya kepada perasaan. Kepada doa-doa yang tidak pernah alfa kupanjatkan, tentang kami yang akan membangun sebuah keluarga.

***

Aku benci hari ini! Aku benci harus berpakaian seperti ini meski aku terlihat cantik namun aku benci! Aku benci perjodohan! Ini sudah zaman modern bukan zaman siti nur baya lagi! Semalam aku mengurung diri di kamar, mogok makan bahkan meraung-raung hingga suaraku serak, mungkin para tetangga merasa tertanggu dengan suaraku tapi peduli apa aku? Biar saja mereka tahu barangkali mereka bisa menolongku. Orangtuaku tetap pada pendiriannya. Mungkin mereka sudah lelah dengan sikapku selama ini. Mungkin bagi mereka inilah yang terbaik namun tidak bagiku. Ah, terkadang orangtua begitu egois!

Aku melihat diriku di cermin. Ibu mendandaniku dengan cantik sekali tanpa membuatku tidak mengenali diriku sendiri. Ibu meriasku dengan sederhana, dengan sedikit polesan lipstik merah muda dan  pipi yang diberi warna kemerah-merahan, aku tidak tahu apa namanya, aku jarang berhias. Ibu memilihkanku gaun panjang merah muda dipadu dengan kulitku yang putih bersih. Ibu meriasku dengan hati oleh sebab itulah hasilnya luar biasa.

Andai saja lelaki yang datang adalah Rian sudah pasti aku akan sangat bahagia, tidak berpikir untuk kabur seperti saat ini. Aku pun tidak akan bermaksud menghancurkan riasan ibu. Kini lisptik itu sudah aku tuntas habis dari bibirku, sebelum hal gila lainnya terjadi ibu memanggilku. Perempuan itu menggeleng pelan melihat bibirku, ada raut kekecewaan, aku merasa bersalah tapi mau bagaimana lagi?

Keluarga dari lelaki bernama Ray itu sudah berada di ruang tamu. Terdiri dari ayah, ibu dan anak. Mereka tersenyum menyabut kehadiranku aku hanya tersenyum ala kadarnya. Sudah kubilang bukan dari awal? Aku benci perjodohan meski kuaki lelaki di hadapanku ini tampan.

Selama orangtuaku dan orangtua Ray berbincang aku hanya menunduk. Rasanya ruang tamu ini sangatlah panas meski pada kenyatannya di luar sedang hujan cukup deras. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ray dan aku pun tidak peduli. Bahkan aku tidak mendengarkan apa yang kedua orangtuaku bicarakan, peduli apa aku?

“Bagaimana, Nak Feby? Setuju kah?”

2 menit berlalu.

“Feby?” Ibu menyengolku aku pun meneloh. Ibu menggeleng pelan, perempuan paruh baya itu pasti tahu bahwa aku tidak mendengar apa yang orangtuaku dan orangtua Ray bicarakan.

“Nak Feby setuju?” tanya Ibu Ray sekali lagi sembari menyuguhkan senyuman. Ayah Ray pun ikut tersenyum begitu pun dengan Ray. Aku menjadi bingung, rasa bersalah seketika menghinggapiku. Aku memang memegang teguh janjiku namun aku tidak ingin menyecewakan keluarga yang tersenyum manis kepadaku. Rasanya, untuk kali ini aku tidak ingin melukai seperti sebelum-sebelumnya.

Bersambung…

Bertahanlah Syria

Shalat jum’at kemarin dikantor menjadi momen isak tangis, ketika Imam memimpin qunut nazilah untuk ummat muslim di Palestina, di Syiria, Iraq, Rohingya, Indonesia dan seluruh dunia. Sungguh menggetarkan, seluruh jama’ah terisak dalam lantunan do’a untuk mereka. 

Setelah selesai shalat, seorang Syaikh dari Palestina maju dan mulai berbicara. Ia berbicara dalam bahasa arab, didampingi seorang penerjemah.  jama’ah tak bergeming dari tempat duduknya, terus memandangi kepada Syaikh yang mulai berbicara.

Al - aqsa dalam bahaya besar, para wanita dan anak anak di Palestina semuanya dalam bahaya zionis Israel. Lihatlah apa yang mereka lakukan pada kami…” pada layar proyektor tampaklah foto - foto kekejian tentara Israel terhadap mereka.

Ya, Allah. Lamunanku kembali membawaku ke 1 tahun yang lalu. Ketika keluar dari masjid dan aku lihat seoran ibu paruh baya, anak laki - laki usia 10 tahun, dan perempuan muda. Kulit mereka bersih putih, matanya kecoklatan, namun mereka terlihat lusuh, agak kumal, dan menegadahkan tangan sambil berkata - kata dalam bahasa arab. Aku tidak terlalu paham, yang kutangkap hanya “ya Ikhwan..”, “fii Syiria”. Intinya mereka berharap sumbangan, lalu aku merogoh jaket musim dinginku saat itu dan aku temukan beberapa euro untuk diberikan. Sebenarnya aku sempat kaget, bagaimana bisa mereka dari Syiria sampai kesini? ternyata cukup banyak saudara - saudara dari Syiria yang mengungsi dan berharap bisa memulai hidup lagi dengan tenang di Perancis. Mereka berjalan kaki ribuan mil melewati perbatasan perbatasan negeri, kucing - kucingan dengan petugas perbatasan, membawa perbekalan seadanya dan bertahan dalam musim dingin. Sungguh hidup yang sulit dan mencekam.

Belum lagi ketika aku dengar kisah salah seorang temanku yang seorang warga palestina, Kamil namanya. Sepertinya aku tak pernah tega untuk meminta dia bercerita tentang keadaan disana. 

Kemudian aku ingat bahwa ramai para warga Suriah meminta fatwa untuk membunuh istri dan anak anak gadis mereka, bahkan anak - anak gadis dan istri - istri mereka yang meminta karena lebih baik mati dibanding harus ternodai oleh tentara - tentara rezim. Aku tidak tahu betapa beratnya kondisi ini, namun di Perancis aku mendengar bahwa gadis - gadis Suriah rela dinikahi hanya dengan mahar 1 euro (Rp 16.000 pada saat itu). Padahal aku yakin kalau mereka sampai ke Indonesia pun laki - laki mana yang tidak akan mengejar ngejar mereka? sepertinya di Indonesia mereka akan jadi artis dan bukan jadi pengemis (atau model hijab?) namun takdir memang berkata lain. Mereka rela dinikahi dengan mahar yang sangat ringan karena memang keadaan dan keridhaan. Karena mereka menginginkan kebaikan di dunia serta akhirat, dan karena orang tua mereka yang sudah tidak mampu untuk merawat mereka, dan ketakutan lain khawatir anak - anak gadis mereka diculik dan jadi korban kejahatan seksual oleh orang - orang yang tidak bertanggungjawab. Dengan menikah, setidaknya mereka ada yang menjaga. Masya Allah…

Dalam akhir perenungan itu aku masih duduk menyaksikan sang Syaikh berbicara, dan berdoa dalam hati untuk semua kaum muslimin di dunia.  Allahumma suril islam wal muslimin wal mujahidin fi falastin, fi syria, fi rohingya, fi indonesiaa,  fi kulli makan wa fi kulli zaman.


NOTE : Untuk yang ingin menyumbang untuk saudara - saudara di Syiria, Rohingya, Palestina silahkan 

Tuhan tidak mengambilnya dari hatiku

Desir angin membawa debu jalanan tak kasatmata pada wajahnya yang lesu oleh segala kepedihan yang menderanya.

Namun, ia masih berdiri di halte bus itu sambil sesekali menoleh kesegala penjuru arah. Dan aku masih lekat memperhatikannya dari cafe seberang jalan dengan teh hangat yang kupeluk dengan kedua telapak tangan yang kata mereka mirip dengan telapak tangan ibu.

10 menit kemudian, rintik hujan mulai mengguyur jalanan, dan lihatlah celana putih yang ia pakai menjadi kecoklatan karena jipratan genangan air di jalanan ramai itu. Raut wajahnya semakin lesu, namun harapan di dadanya seakan semakin besar.

20 menit kemudian, senja tiba bersama burung-burung gereja yang entah mau ke mana, sibuk mencari pepohonan di tengah bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Dan kini aku melihat ada hujan di wajahnya. Sesekali ia seka dengan baju putih lusuh yang ia kenakan. Matanya redup, seredup harapannya yang telah menjulang namun tiba-tiba dijatuhkan oleh kenyataan.

2 jam kemudian, senja telah pergi ditelan malam yang membawa serta berjuta bintang. Ia masih tetap berdiri di halte seberang jalan. Dan aku masih menatapnya lekat dari kaca kafe ini dengan teh hangat ke 5 yang kupeluk dengan kedua telapak tangan yang kata mereka mirip dengan telapak tangan ibu.

Ia menatap langit dengan mata pilu, seakan bertanya pada banyak cahaya di tengah gelapnya langit. Mengapa cahaya yang ia miliki diambil? Kini hidupnya seakan gelap, sepi, dan sunyi.

1 menit kemudian ia berlalu, berjalan dengan hati yang nyinyir oleh luka. Luka yang hanya akan sembuh dengan keikhlasan menerima kepergian anaknya.

Aku tersenyum kecut melihatnya dari kejauhan. Menyamakan diriku dengannya. 3 bulan telah berlalu, namun aku dan wanita paruh baya itu masih tetap menunggu. Menunggu sesuatu yang telah Tuhan ambil kembali.

3 bulan yang lalu segalanya masih baik-baik saja, aku menunggu ibuku di cafe ini untuk minum teh hangat bersama di tengah hujan yang sering datang bersama dengan udara dingin. Dan wanita paruh baya itu menunggu anak lelakinya di halte seberang jalan untuk pulang bersama. Namun tiba-tiba hidupku dan hidup wanita paruh baya itu seketika pekat, saat melihat dengan mata kepala sendiri motor ibuku dan anak lelaki wanita paruh baya itu bertabrakan. Mereka dipanggil oleh Tuhan.

Kini, ada hujan di wajahku, dan sesekali aku menyekanya dengan tisu putih tak bernoda di depanku. Aku meminta maaf pada Tuhan, karena begitu sulitnya aku mengikhlaskan. Ini hari terakhirku menunggu ibuku di cafe ini, dan memperhatikan wanita paruh baya di halte seberang itu.

Karena hari ini aku telah menyadari sesuatu, tidak peduli di manapun ibuku berada, sejatinya ia tetap di dalam hatiku, dan aku masih mampu merasakan ia dekat denganku lewat doa-doaku pada Tuhan. Tuhan tidak mengambilnya dari hatiku.

Surabaya, 19 April 2016.

© Syarifah Aini

Kita akan memertahankan (kebiasaan-kebiasaan) apa saja yang membuat nyaman.
— 

Tulisan ini ada karena percakapan random beberapa hari lalu dengan seorang pria yang ke mana saja ia pergi wangi minyak tawon tak pernah jauh darinya.

‘Karena ga jarang, yang kita butuhin justru rasa nyamannya.’ Jawabnya setelah saya tanya kok suka minyak tawon, kan baunya cukup menyengat dan seperti kakek-kakek paruh baya saja.

Sepersekian menit saya mengiyakan. Pasalnya sampai usia berkepala dua seperti saat ini, saya pun sama saja. Masih mengenakan minyak kayu putih. Setiap hari. Sehabis mandi. Rasanya kalau tidak mengusapkannya ke kulit perut seperti ada yang hilang. Ya, kenyamanan. Karena kalau kehangatan, perut saya sudah kebal dari minyak kayu putih, jadi tak terasa hangat-hangat segar. Yang bersisa nyaman. Pun wanginya menetramkan.

Sama halnya teh hijau. Minimal satu minggu tiga sampai empat kali (ini setelah saya kurangi, sebelum ini malah setiap hari, karena kesehatan ginjal saya musti diperhatikan), malam hari sebelum tidur selalu menyempatkan menyeduh teh hijau hangat tanpa gula. Dibiarkan pekat lalu diteguk pahit-pahit. Dibiarkan hingga semua wangi menyeruak. Bukan bertujuan menghilangkan perut buncit atau diet ala-ala, bukan. Karena nyaman itu tadi.

Begitu juga dengan menyegerakan berganti sepatu dengan sendal jepit sesampainya di kantor. Belum sampai pantat duduk, kaki musti bebas. Bukan karena takut kaki berkeringat dan bau, bukan. Karena ya itu tadi, nyaman. Kaki saya lebih leluasa menghirup udara segar ketika bersendal jepit swallow warna hijau dekil ketimbang berflatshoes apalagi bersepatu dengan hak tiga sentimeter yang memakainya setengah jam saja bagai disiksa, yang memakainnya seharian karena ada atasan dari pusat atau training rasanya bagai dirajam.

Nyatanya memang begitu, kita akan selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan sepele yang membuat nyaman dan tak akan pernah kita tinggalkan.

Kenyataan lainnya, yang membuat nyaman akan selalu dipertahankan. Kamu masuk ke dalamnya? Tentu iya.

The Way I Lose Her: Centrum.

Cara kau sakit hati, adalah bagaimana cara Tuhan mempertemukan aku dengamu. Dan caramu dengan tegas meninggalkannya, adalah cara Tuhan mempertemukan aku dengan masa depan.

                                                             ====

.

Sudah hampir lebih dari dua jam gue duduk sendirian di atas sini, ntah apa yang sedang gue pikirkan, namun tampaknya otak gue sama sekali tidak berjalan selama lebih dari dua jam. Gue cuma memandang ke arah pemandangan kota saja tanpa melakukan apa-apa lagi.

Gue merapihkan segala makanan dan minuman yang ada di atas balkon lalu kemudian menaruhnya kembali ke dapur. Letak kamar gue dan ruang keluarga sebenarnya tidak begitu jauh, maka ketika gue mau tidur dan mulai mematikan tivi di ruang keluarga, mata gue ntah kenapa melihat ke arah kamar. Secara perlahan-lahan, gue berjalan menuju pintu kamar gue sendiri itu.

Dari luar gue bisa melihat Ipeh yang tengah tertidur di kasur gue. Gue buka pintu kamar gue sedikit dan berjalan menghampirinya. Selimut Ipeh sempat tersingkap dan gue membenarkan kembali selimutnya. Menyelimuti badannya yang kini tengah mengenakan kemeja kedodoran punya gue.

Wajah Ipeh tenang sekali, rambut sebahunya itu kini tergerai menutupi pipi. Dengan pelan-pelan telunjuk gue mulai merapihkan rambutnya ke belakang telinga. Gue usap-usap rambutnya dan Ipeh tampaknya tetap tertidur pulas. Tenang sekali. 

Gue nggak mau mengganggu Ipeh yang tengah tertidur lelap karena kelelahan, oleh karena itu gue nggak bisa lama-lama di sini. Sebelum pergi, gue sempatkan mengecup pipinya itu sebentar dan mengucapkan “selamat malam” Seperti apa yang Ipeh lakukan kepada gue tadi di balkon atas.

.

                                                               ===

.

Gue emang punya kebiasaan tidur malem. Dan hal itu juga yang kadang menyebabkan gue selalu bangun kesiangan. Hari ini gue bangun jam 9 pagi. Itu pun kebangun gara-gara ada bau nasi goreng buatan nyokap di dapur. Walaupun mata masih kriyep-kriyep, gue usahain bangun dan berjalan menuju ruang makan secepat yang gue bisa. Karena apabila terlambat sedikit saja bisa-bisa jatah nasi goreng gue ludes diembat kakak, bokap, atau 2 adik gue yang lucu-lucu tapi minta ditendangin semua itu.

Dengan nyawa yang masih setengah hilang, gue berjalan menuju ruang makan sembari garuk-garuk pantat dan garuk-garuk ‘bola emas’ kesayangan gue. Namun gue tiba-tiba terdiam ketika melihat di ruang makan ada nyokap gue lagi nyiapin makanan ke piring anak-anak, dua adek gue, dan satu orang lagi… yaitu Ipeh. Mereka melihat ke arah gue dengan pandangan aneh.

“Lha, lo ngapain di rumah gue Peh?” Tanya gue yang masih setengah sadar.

“Ih bego, kan kemarin gue nginep di sini ai kamu!” Jawab Ipeh.

“Ooooh… iya ya…”

“Mbe ih! Jorok pisan!!”

“Hah? Apaan?” Gue masih belum sadar.

“Tangan lo!”

“Tangan?”

“DIMAS ITU TANGAN NGGAK SOPAN ASTAGFIRULLAH!!!” Ibu gue menunjuk ke arah tangan gue yang masih menari ria di dalam celana.

Dan seketika itu pun gue sadar. Anjir, tangan gue masih ada di dalam celana sambil galer. Bangsat gue lupa!! Bhahahahahk sontak gue terkejut dan berjalan mundur ke kamar mandi buat cuci muka sekaligus ganti baju. Setelah selesai, gue kembali ke ruangan makan dengan wajah ceria.

“Hai..” Sapa gue

“Gak usah sok akrab deh. Ilfeel gue sama lo mbe.” Ucap Ipeh dingin.

“Ih Ipeh jangan gitu..” Gue mencubit pipinya dengan tangan kanan.

“IH ITU KAN TANGAN BEKAS ITU!! JOROK ANJIR JOROK!!” Ipeh jingkrak-jingkrak menghalau tangan gue. Sedangkan gue malah makin seneng gangguin Ipeh. Lagian udah cuci muka sama cuci tangan juga, nih anak lebay deh.

Akhirnya pagi itu kita sekeluarga makan bareng, gue kenalin sekalian Ipeh kepada orang tua. Jadi sebenarnya kemarin gue belum minta izin sama orang tua perihal Ipeh yang menginap. Namun orang tua gue orangnya easy going semua kok, selama gue nggak berbuat macam-macam sih it’s oke.

Siangnya, gue langsung mengantarkan Ipeh pulang ke rumahnya setelah menjelaskan perihal apa yang ingin mba Afi sampaikan kemarin. Awalnya Ipeh sempat menolak, tapi setelah gue bujuk dan gue nasehatin, akhirnya Ipeh mau juga pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Ipeh, gue tak lupa salam sama Mba Afi dan disuruh buru-buru pulang takutnya ketawan Ayah sama Ibunya Ipeh. Ternyata Mba Afi bilang ke Ayah dan Ibunya bahwa Ipeh sedang menginap di rumah teman ceweknya. Maka dari itu secara sopan setelah berterimakasih, mba Afi langsung menyarankan agar gue pulang cepat sebelum ketawan kedua orang tuanya.

Karena sekarang hari minggu, sebelum balik ke rumah, gue menyempatkan mampir ke rumah Ikhsan di sekitaran Cipaganti Bandung. Gue pernah ke sini sekali, tapi dulu cuma buat nganter temen doang kalau gue nggak salah. Rumahnya Ikhsan ini terletak di bilangan Cipaganti, cukup dekat dengan mall Ciwalk. Setelah sampai di depan rumahnya. Gue langsung memarkirkan motor dan mengetuk pintu.

“Iya, mau cari siapa ya?” Ucap seorang wanita separuh baya sambil membukakan pintu rumah.

“Eh tante, maaf ini Dimas temannya Ikhsan.”

“Oh mau nyari Ikhsan. Sebentar yaa..” Akhirnya wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam rumah dan memanggil Ikhsan.

Selang 5 menit. Anak tapir itu pun muncul.

“Masuk gih nyet.” Kata dia.

“Eh bentar, itu tadi siapa?” Tanya gue.

“Tante gue.” 

“Oh sip deh, ini rumah emang selalu sepi kaya gini ya?”

“Hooh, palingan juga ada abang gue sama tante doang.”

“Wuah asik dong, lo bisa nyelundupin cewek tiap hari.”

“Lo kira gue mucikari apa?!”

“Btw ini gue nggak disuguhin makanan apa?”

“Anjir tamu tidak tahu diuntung lo!”

“Kali-kali lah.”

“Yaudah bentar.”

Ikhsan pun pergi ke dalam sebentar sebelum pada akhirnya kembali dengan membawa beberapa toples makanan dan satu piring ikan gurame goreng. Gue yang melihat hal ini langsung secara spontan menatap Ikhsan.

“Ngapain lo bawa ikan? Lo pikir gue berang-berang apa lo kasih makan Ikan?” Tukas gue.

“Abisin gih, daripada nggak abis. Bekas sarapan tadi pagi tuh.” Jawabnya enteng sambil nyomotin daging ikannya dikit-dikit.

Gila nih anak, gue dikasih makanan bekas. Awas aja besok lagi kalau ke rumah gue lagi, bakal gue gorengin nugget dari makanan anjing. Hih! gue benar-benar nggak habis pikir sama nih anak. Otaknya mungkin terbuat dari kertas karbon kayaknya. Hitam legam kaya kuah balakutak.

“Kemarin kemana aja?” Tanya gue sambil pada akhirnya ikutan nyomotin daging ikan yang Ikhsan suguhkan.

“Ah iya, gue mau cerita..”

Akhirnya Ikhsan pun bercerita mengenai jalan-jalan kemarin. Sepanjang pergi jalan-jalan, mereka saling berkenalan antara satu dan yang lainnya. Ternyata teman-teman Wulan itu anak SMA 3 dan SMA 5, Ikhsan pun bercerita bahwa dirinya sudah makin dekat dengan cewek berbaju biru yang kemarin dia incar. Selama jalan-jalan, Wulan sesekali menanyakan keadaan gue. Dan untungnya Ikhsan tidak pernah cerita kalau gue dekat dengan siapapun, bahkan dengan kak Hana sekalipun Ikhsan tidak pernah cerita. Itu yang gue senang dari Ikhsan, mulutnya nggak ember kaya cewek. Dia cuma memberitahu apa yang ingin cewek dengar saja, nggak lebih dan nggak kurang. Sedangkan Claudya kerap menanyakan apa hubungan gue dan Wulan. Akhirnya setelah menjelaskan panjang lebar, kini Claudya tau apa status gue dan Wulan. 

“Hmm.. gitu toh..” Gue mendengarkan dengan seksama.

“Terus ada lagi nyet.”

“Apaan?”

“Gue sempat iseng sih bilang kalau kita udah punya Band kelas. Elo, gue, sama Bobby. Nah terus Wulan ngajakin kita buat bantu-bantu ekskul dia gitu. Kita disuruh ngiringin mereka nyanyi.”

“Ooh terus lo jawab apa?”

“Ya sebagai leader gue jawab aja gue bisa.” Jawabnya enteng.

“Bentar-bentar, yang nentuin elo jadi leader siapa?” 

“Ah sudahlah, dari kita bertiga, cuma gue yang jiwa kepemimpinannya tinggi.” Tukasnya bangga.

“Tinggi mata lu soek!”

Saat itu gue cukup lama berbincang-bincang dengan Ikhsan, hingga pada akhirnya gue meminta izin pulang karena besok kita harus kembali sekolah. Tak lupa gue meminta kembali pakaian yang telah dipinjam sebelum pada akhirnya gue pamitan sama tantenya Ikhsan.

Sesampainya di rumah, gue langsung tiduran bentar hingga waktu menjelang malam hari. Gue buka agenda sekolah gue, dan ternyata ada PR matematika yang masih belum gue kerjakan. Tanpa pikir panjang gue keluarkan langsung buku cetak gue, satu buku tulis, dan satu buah Hape kesayangan gue di atas meja belajar.

“Hei.. sudah tidur?”

Yak! Tebakan kalian tepat! Gue mengirimkan SMS ke si Matematika Buku Cetak Hal.17 

Selang 1 menit, ada satu sms masuk.

“Belum, kenapa?” jawabnya singkat.

“Pr matematika udah?” Jawab gue lagi tanpa basa-basi.

“Udah, mau liat?” 

“Mauuuuuu~”

Bhahahahahak mantap! Gue makin cinta sama nih anak kalau gini caranya. Tanpa gue minta pun dia sudah mau memberikan gue contekan matematikanya. Selama mengerjakan PR gue itu, sesekali gue juga bercerita perihal Ipeh kemarin. Rasanya senang sekali ada yang mau mendengarkan gue bercerita. Karena sudah jarang banget zaman sekarang ada orang yang mau mendengarkan orang lain bercerita tanpa merasa suntuk atau malah menghakimi kita setelah kita selesai bercerita.

.

                                                               ===

.

Keesokan paginya, ternyata pada pelajaran ke 4-5 gurunya berhalangan hadir, sehingga dari pukul 11.00 hingga 13.30 bakal tidak ada guru. Kelas pun yang awalnya sepi langsung mendadak ribut. Ada beberapa orang yang langsung gitar-gitaran di kelas belakang. Geng Dila dan kawan-kawan ramai bergosip di salah satu sudut kelas sambil mengeluarkan alat-alat make-up seperti sisir, bedak, dkk. Beberapa anak yang lain ada yang memilih untuk pergi ke kantin untuk makan siang. Ada yang mengerjakan PR untuk pelajaran terakhir nanti. Ada juga yang tiduran di bangku sambil mendengarkan musik.

Sedangkan gue dan Ikhsan? kita malah asik ngobrol serius berdua.

“Pelan-pelan, nanti kalau udah mentok aku bakal bilang.” Kata gue.

“Terus.. terus.. terus.. Nah stop, di situ. Iya di situ.” Balas Ikhsan.

“Geser dikit, bahaya kalau di situ.” Kata gue lagi.

“Mending ganti posisi deh, susah keluarnya kalau kaya gitu.” 

“Sempit sih, tapi bisa masuk kok.”

“Wah nggak bisa, punya lo kepanjangan.”

“Kayaknya nggak cukup deh. Terlalu kecil itu, sedangkan yang gue besar gini.”

“Lama nggak keluarnya?”

“Wah bekas siapa nih? Nggak rapih banget mainnya.”

“Tarifnya perjam.”

“Apapun yang terjadi, itu tanggung jawab yang bersangkutan.”

“Kalau mau keluar bilang ya.”

Lagi asik-asiknya ngobrol, mendadak pembicaraan kita terhenti ketika menyadari bahwa sedari tadi ada Ipeh di depan kita berdua sedang mendengarkan seluruh percakapan yang baru saja kita lakukan. Ikhsan dan gue cuma bisa awkward

“Ka.. Kalian… KALIAN LAGI NGOMONGIN APA?!”

“…”

“ANJIR PARAH LAGI NGOMONGIN HAL BEGITUAN YA?!” Ipeh makin kehilangan kendali.

“Apaan sih Peh, kita berdua kan lagi ngomongin apa aja percakapan yang biasanya tukang parkir omongin.”

“Iya apaan sih lo Peh. Kita lagi ngomongin ucapan-ucapan ambigu tukang parkir kok.”

“….”

“Elo aja yang kali mikirnya jorok. Tul nggak nyet?” Senggol Ikhsan

“Iye. Makanya kalau lagi wudhu, otaknya dibilas 3x juga biar sehat.”

“Ih apaan sih, nggak kok! Lagian siapa juga yang nggak bakal mikir ke sana kalau dengerin percakapan ambigu kalian.”

“Ah bohong, pasti di HP lu banyak video-video porno deh. Sini gue periksa!” Ikhsan langsung berdiri dari duduk dan merangkak di meja menuju Ipeh.

Karena merasa terancam, dengan cepat kilat Ipeh menggulung buku cetak bahasa inggris yang ada di depannya dan memukul kepala Ikhsan keras-keras.

BUK!
Seketika itu juga Ikhsan langsung terkapar di atas meja tak bernyawa.
Melihat hal itu, Ipeh ikut terkejut.

“Astaga San, maaf gue nggak sengaja.. Elo sih menakutkan, jadi gue reflek mukul!” Ipeh menggoyang-goyangkan tubuh Ikhsan yang masih tengkurap di atas meja tanpa bergerak sedikitpun.

“Ih Mbe Ikhsan mati nih. Apa pukulan gue tadi kekerasan ya?” Tanya Ipeh.

“Udah nggak papa, itu baik buat kecerdasannya.” Jawab gue enteng.

Lagi sibuk-sibuknya kita bertiga bercengkrama bersama, tiba-tiba ada Mai mendatangi tempat kita bertiga itu. Dia membawa sebuah buku beserta pulpen dan beberapa lembar uang 20ribuan.

“Hai..” Sapa Mai.

“Hai juga Mai.” Jawab gue dan Ikhsan yang langsung bangun dari kuburnya.

“Tumben nih Mai, ada apa?” Tanya Ikhsan buru-buru sebelum gue sempat bertanya lagi.

“Ini, kalian bertiga belum bayar uang renang.” Tukas Mai.

“Buset gue lupa, udah berapa minggu?” Tanya gue.

“3 Minggu Dim.”

“Total jadi berapa semuanya Mai?”

“30 ribu.”

“Yaudah deh, gue bayar dulu 15 ribu yak. Besok gue bayar lagi.” 

“Sore aja bayarnya lagi, Dim. Pas nanti renang.”

Ah iya gue lupa, hari ini kan ada jadwal kegiatan wajib renang. Biasanya kegiatan renang ini diadakan sebulan sekali, dan tempat kolam renang yang dipilih oleh sekolah kita adalah kolam renang CENTRUM, sebuah tempat renang di sebelah SMA 3 kota Bandung.

“Btw Dimas, kamu belum pernah hadir renang sekalipun ih.” Tambah Mai lagi.

“Aduh Mai hahahaha maaf, gue alergi air nih.” Jawab gue ngeles.

“Loh, bukannya lo tiap hari juga mandi Mbe?” Tanya Ipeh.

Yeee kalian kaga peka amat sih jadi orang, si monyet ini kaga bisa berenang tau nggak. Bhahahahahak.” Kata Ikhsan.

“Anjing bangsat! Rahasia negara lo bocorkan!” Gue langsung menghajar Ikhsan dengan buku cetak bahasa inggris yang dipake Ipeh menghajar Ikhsan tadi.

“Bhahahahahahahak Mbe, lo nggak bisa renang?” Tanya Ipeh bahagia.

“Tai lo, renang sih gue bisa. Tapi gue kalau renang kaga pernah ambil nafas dua kali. Jadi kalau gaya bebas ya gue cuma ambil nafas sekali terus maju aja.”

“IH hebat dong kalalu gitu, tahan nafasnya lama.” Sambung Ipeh lagi.

“Hebat apaan, di tengah jalan aja langsung tenggelam si Dimas mah.” Tambah Ikhsan lagi sebelum pada akhirnya gue gebuk kepalanya sekali lagi.

Iya iya, kalian boleh tertawa sepuasnya! Gue emang nggak bisa renang. Puas lo?! Hih. Tapi jangan salah, gue bisa tahan nafas lebih dari satu menit, tapi gue nggak bisa renang gaya bebas. Itu sebabnya kalau gue renang, gue selalu nggak pernah ambil nafas 2x. Lagian gue paling males kalau ada kegiatan renang. Selain karena jadwal renang laki-laki dan perempuan itu di pisah, gue juga harus satu kolam bersama banyaknya cowok dengan bermacam-macam keringatnya itu. Lagian apa enaknya sih renang? Renang itu kaya berkubang dalam cendol tau nggak. Penuh dan menjijikan.

Belum lagi kalau misal airnya keminum. Di air itu kan ada banyak hal-hal menjijikan. Ingus orang yang renang, ludah orang, keringet ketek, keringet selangkangan, belum lagi kalau ada yang panuan. Hih! Makanya gue paling males kalau diajak renang, tapi kalau diajak berendam sih ayo-ayo aja.

Setelah Aib gue diketahui oleh 2 orang cewek ini, mereka berdua malah habis-habisan menertawakan gue. Sebelum pada akhirnya keadaan menjadi tidak enak lantaran Mai malah ikutan ngobrol di antara kita bertiga. Saat itu gue belum tahu kalau ternyata Ipeh juga mengetahui bahwa Mai punya rasa sama gue. Yang gue tahu bahwa Mai punya rasa ke gue saat itu cuma Ikhsan doang.

“Kamu bakal datang nggak nanti?” Tanya Mai.

“Kagak tau Mai, lagian gue kan nggak bakal ikut renang juga. Gue cuma bayar doang.”

“Yaah gak rame dong. Ikhsan ikut?” Tanya Mai.

“Wuih gue mah jago renang sih. Nggak kaya si cemen ini.” Ledek Ikhsan sombong.

“Iya maklum, bapaknya kecebong soalnya dia Mai.”

“Hahahahah dasar. Tadinya aku mau ikut nebeng kalau kamu ikut.” Jawab Mai lagi.

“Sama gue aja.” Ajak Ikhsan.

“Eh.. ngg.. ngg..”

“Dimas lagian udah ada janji sama gue.” Tiba-tiba Ipeh memotong pembicaraan kita bertiga dengan nada ketus.

“Eh? Janji?” Tanya gue heran.

“Iya, lo udah janji sama gue kan. Lo mau ngajak gue jalan kan?” Tukas Ipeh lagi.

“Eh?” Gue masih nggak mengerti.

“Emang Ipeh nggak akan renang?” Tanya Mai.

“Kita jalan sebelum renang kok, dah itu kita langsung ke tempat renang. Ya kan Mbe?”

“…”

Gue masih diam nggak mengerti apa yang Ipeh maksudkan. 

“Oh yaudah deh kalau gitu. Sampai nanti yaa.” Ucap Mai sambil berdiri meninggalkan kita bertiga.

Setelah Mai pergi, gue langsung melihat ke arah Ipeh. Ipeh terlihat kesal. 

“Peh, tadi tuh maksudnya ap..”

“Tau!” Belum juga gue merampungkan kalimat tanya gue, Ipeh langsung pergi meninggalkan kita berdua dengan kesal.

Gue yang kebingungan tersebut langsung melihat ke arah Ikhsan. Dan Ikhsan pun cuma mengangkat bahu tanda tidak mengerti juga.

“Mau di lanjut aja?” Tanya Ikhsan.

“Boleh deh, sekarang mau ngomongin profesi apa?”

“Tukang baju?”

“Boleh deh. Mulai gih..”

“Oke gue mulai ya.. Pakai aja dulu mas, sekarang sih sempit, tapi lama kelamaan melar juga kok.”

“Mas, yang ini udah banyak yang make ya? kok loyo gini sih?”

Akhirnya kita berdua melanjutkan pembicaraan ambigu kita itu tanpa mau pikir panjang tentang apa yang terjadi barusan. Benar-benar cowok sholeh. Ikhwat banget.

.

                                                             ===

.

Sorenya sepulang sekolah, Ipeh langsung mendatangi gue. Seperti biasa, Ipeh mau nebeng minta anterin ke kolam renang Centrum.

“Mbe mau pulang?” Tanya Ipeh.

“Hooh, kenapa?”

“Anterin ke Centrum bentar dong.”

“Nebeng si monyet aja, dia juga mau ke sana.”

“Ih dia udah sama Mai.”

“Euh, yaudah deh. Naik gih.”

Akhirnya mau tidak mau gue mengantarkan Ipeh ke kolam renang Centrum, selama perjalanan seperti biasa Ipeh berisik banget, dan gue cuma menjawab seperlunya saja. Sesampainya di Centrum, gue memakirkan motor dan ikut masuk ke dalam kolam renang. Karena sudah terlanjur ada di sini, yaudah deh mending gue manfaatin. Sekarang adalah jadwalnya anak-anak putri untuk renang, dan pasti saja ada anak-anak cowok yang datang lebih awal cuma buat nongkrong-nongkrong sambil ngintipin anak-anak cewek renang. Gue yakin anak-anak cowok yang suka ngintip ini nanti pas kuliahnya dapat gelar Sarjana Agama. Syariah banget tingkah lakunya.

Tapi gue juga kaya gitu sih, gue memesan indomie rebus sambil terus memandangi pemandangan indah di depan mata gue tersebut. Ipeh yang menyadari hal ini langsung menjewer kuping gue keras. 

“Ngeliat apaan lo? Pulang sana. Mata tuh dijaga.”

“Astagfirullah kamu suudon ih, aku kan lagi nunggu Ikhsan. Sambil liat-liat orang renang..”

“Sama aja itu!” Ipeh duduk di sebelah gue lalu mengambil garpu baru dan ikut makan indomie rebus yang baru saja gue pesan.

“Eh mbe, besok jadwal kosong?” Tanya Ipeh.

“Iya, kenapa?”

“Gue besok ada tanding karate, udah masuk semi-final. Kita bakal ngelawan SMA XX, itu loh SMA yang nggak pernah akur sama SMA kita. Pasti nanti bakal seru Mbe.” Jelas Ipeh.

“Wah seriusan? Anjir kapan? Di mana?”

“Di gor Tri Lomba Juang, Padjajaran. Nonton dong, sporterin gue.”

“Anjir pasti lah, gue bakal nonton, apalagi kalau lawan SMA bangsat yang satu itu. Gue bawa anak-anak kelas ya?” Tukas gue semangat.

“Yoi, bawa aja mereka, siapa tau rusuh nanti kalian ahahahaha.”

“Bhahahahahak lo malah nyemangatin kita-kita buat rusuh. Nah asik nih kalau kaya gini. Besok ya? Oke deh. Bentar gue sms anak-anak dulu.”

“Buat apa?”

“Udah diem dulu..”

Selang 5 menit. Gue menunjukkan HP gue sama Ipeh.

“Nih liat, anak-anak pada semangat. Ikhsan bilang dia bakal datang nonton sambil bawa penggaris besi katanya. Hahahaha” Ucap gue.

“Ih gue kan bercanda, jangan sampe rusuh ah mbe, nggak baik tau nggak.”

“Hahaha iya iya, kita juga cuma bercanda kok, tenang aja. Selama kita nggak disenggol sih kita nggak akan ngapa-ngapain. Senggol bacok, melong tonjok! Itu slogan kita.”

“Hahahahaha apa deh, yaudah besok gue tunggu ya. Please dateng ya Mbe.” Ipeh melihat ke arah gue serius.

“Besok lo sendiri dateng jam berapa?”

“2 jam sebelumnya gue harus udah ada di sana.”

“Yasudah, gue bakal datang jam segitu juga.” Ucap gue sambil mengusap-ngusap kepala Ipeh.

“Hehe janji ya?”

“Iya.”

“Oke deh, gue tenang sekarang. Yaudah gue cabut duluan ya Mbe, udah mau mulai renangnya.”

“Sip.”

Akhirnya Ipeh meninggalkan gue sendirian di kantin indomie rebus Centrum ini. Besok adalah kali pertamanya gue bakal datang ke gor Padjajaran. Sebuah gor yang menjadi saksi bisu beberapa pristiwa penting di hidup gue selama masa SMA dan kuliah awal-awal. 

.

.

.

.

                                                             Bersambung

Previous Story: Here

cahari

“Tolerance is giving to every other human being every right that you claim for yourself"

Taun lalu, kelas perkuliahan yang saya asuh kedatangan tamu spesial. Beliau adalah seorang pengusaha paruh baya yang telah menggeluti bisnis teknik lebih dari satu dasawarsa. Kisah-kisah kegagalan di masa lalu disampaikannya untuk membuka sharing session di depan puluhan mahasiswa kewirausahaan tingkat akhir.

Beliau membandingkan hidup seorang wirausahawan dan karyawan dari sudut pandangnya. Ucapnya sembari tertawa kecil, “Kalau jadi wirausahawan, mau liburan santai bisa kapan aja. Enggak harus nunggu akhir minggu. Lain dengan karyawan, liburnya cuma akhir minggu atau tanggal merah. Tempat wisatanya udah penuh pula”. Sebagai sesama wirausahawan, saya cukup kaget dengan penyampaiannya. 

Kalau keleluasaan yang diperolehnya memang menyenangkan, semestinya beliau enggak perlu mengunggulkan profesi pribadi dengan merendahkan profesi lain. Lanjutnya lagi, “Kalau jadi wirausahawan, ngatur waktu sama keluarga lebih leluasa juga. Enggak harus nunggu jam lima sore. Lain dengan karyawan, baru santai jam lima lewat. Alhasil, tenaga, waktu dan pikiran untuk keluarga tinggal yang sisa aja”. Rasanya, merana sekali jalan hidup para karyawan dari gambaran beliau. Sambil menyimak, saya cuma membatin di baris belakang. Khawatir ada sebagian mahasiswa yang mengamini pemikiran sempit itu.

Nyatanya, merendahkan orang lain enggak pernah membuatmu betul-betul jadi lebih tinggi. Kalau iya, harusnya mereka yang congkak jadi figur paling dihormati. Saat seseorang menghina pilihan lain untuk mengunggulkan pilihannya, keyakinannya malah terlihat rapuh. Kita enggak perlu membandingkan jalan hidup satu sama lain karena pada setiap kenikmatan yang dikaruniakan-Nya ada beban tanggung jawabnya tersendiri.

Urusan pekerjaan enggak seharusnya membuat kita meninggi karena pekerjaan juga merupakan titipan-Nya untuk dipergunakan sebagai sarana menjemput rejeki. Mereka yang menyombongkan pekerjaannya, amat rentan mengecilkan ikhtiar orang lain. Enggak heran kalau masih banyak oknum yang meremehkan keberadaan asisten rumah tangga, petugas kebersihan, supir atau juru parkir. Dengan medan yang berbeda-beda, setiap orang berjuang setengah mati untuk menafkahi keluarganya.

Tersebutlah cerita yang masuk lewat sebuah grup percakapan. Ada seorang murid SD bernama Ceria yang dari awal sekolah selalu meraih peringkat ke-23 dari 25 siswa. Cita-citanya untuk menjadi jadi guru TK dan ibu rumah tangga dipandang rendah oleh keluarganya. Kedua orang tuanya yang gagal paham dengan cita-cita yang terlalu sederhana itu, mendorong sang anak untuk terus belajar tanpa henti.

Karenanya, Ceria pun jatuh sakit dan kedua orang tuanya tersadar bahwa ambisi keras mereka berujung petaka. Setelah kepayahan yang hebat itu, peringkat Ceria di akhir semester berikutnya pun enggak bergeming. Di luar dugaan, wali kelas Ceria mengungkap hasil jajak pendapat murid sekelas dengan judul, “Siapa Teman Sekelas yang Paling Kamu Kagumi & Apa Alasannya?”. 24 siswa di kelas kompak menulis, “Ceria”. Mereka bilang, Ceria senang membantu teman, memberi semangat, menghibur dan enak diajak berkawan. 

Puji wali kelasnya, “Anak ibu-bapak kalau bertingkah laku benar-benar nomor satu”. Tersentuhlah hati orang tuanya. Ternyata selama ini Ceria menyimpan kebaikan yang luput dari pandangan mereka. Sang ibu pun menyemangati anaknya, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan, Nak”. Ceria hanya menjawab, “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah: ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan. Aku tidak mau jadi pahlawan, aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan, Bu”.

Lewat mata pencaharian, kita bernyala dengan pijar masing-masing. Sebagian jadi api yang mengunggun bangga, sebagian lain jadi pendar di tengah gulita. Sebagian jadi pemimpin yang gemilang, sebagian lagi jadi pengikut yang cemerlang. Ada peran yang dibagi, ada kebermanfaatan yang terdistribusi.

Selama ikhtiarnya halal, enggak ada alasan untuk mengaitkan mata pencaharian seseorang dengan kehormatannya. Toh masih banyak mereka yang menyandang posisi terhormat tapi abai menyandang martabat. Karena martabat enggak pernah ditentukan oleh tinggi-rendahnya posisi di mata sesama, melainkan berapa lama kebaikan bisa menetap atas hal-hal yang telah diperbuat dengan mengharap rida-Nya.

GENGSI? MAKAN DEH ITU GENGSI!

Di usaha kuliner saya pernah dicoba rekrut mahasiswa yang kerja paruh waktu 6 jam saja. Awalnya semangat, tapi ketika diterapkan kerja bareng-bareng, kalau pas meja depan kosong wajib membantu tim yang di dapur untuk nyuci piring atau mengepel lantai, satu persatu mundur dalam waktu satu bulan. Alesannya macem-macem, yang ada kuliah dadakan, ada yang ada praktikum susulan, ada yang sibuk di kegiatan mahasiswa dan alasan-alasan nggedabusss lainnya..

Awalnya sih semangat, tapi kalo suruh nyuci piring, ngepel lantai, ngelap meja… “hellllooooww guweh ini mahasiswa gitu loooh!!
Kalau pas kerja kayak gitu ada temen kampus guweh ngelihat kan gengsiii gaesss!!”

Saya mah gak ambil pusing, banyak alesan dan banyak ngeluh silahkan pergi secepat-cepatnya.. kita mah gak butuh manusia yang makan gengsi. Biasa minta-minta uang sama orang tua, terus alesan mau belajar kerja, kotor sedikit sudah ngeluh seolah paling menderita sedunia!

Saya ingat tahun 1998 dulu waktu awal kuliah di UGM sambil memulai usaha, pulang kuliah sambil memboncengkan ayam-ayam hidup pakai keranjang dari bambu adalah hal biasa. Lain waktu tas punggung saya isinya celana gunung, batik, atau sticker yang saya jual keliling dari pintu-pintu kamar kos kawan, hingga setor di swalayan kopma-kopma di berbagai kampus. Dari sanalah saya mendapatkan rejeki halal yang bisa untuk membiaya kuliah saya hampir 6 tahun.. berdarah-darah iya, tapi nikmatnya luar biasa.. waktu wisuda saya bisa berdiri tegak di depan ibu, sambil menghadirkan sosok imaginer almarhum ayah saya, bahwa saya gak merepotkan ibu sejak mahasiswa sampai diwisuda.. ternyata bisa!

Apakah semua mahasiswa gengsian?
Aaah enggak ternyata.. 2016 ini saya masih menemukan mutiara-mutiara itu.

Hampir tiap bulan ada mahasiswi yang kuliah di Jerman dengan biaya sendiri mengirim uang 2 juta via paypall untuk #SedekahRombongan.
Ketika saya tanya uangnya dari mana, dia menjawab yang membuat saya takjub
“Saya kuliah sambil kerja mas, di sebuah restoran, kadang di dapur motong-motong cabe, bawang, sampai bersih-bersih kaca. Saya enjoy kok mas, Alhamdulillah saya bisa rutin bersedekah tiap bulan”

Ada cerita kawan lain yang sedang mengambil kuliah S2 di Australia, setiap hari loper koran keliling pakai sepeda disana. Pagi yang dingin, dia kadang sholat subuh menggelar sajadah di pinggir jalan sebelum melanjutkan mengayuh sepedanya.

Ada juga mahasiswa yang rela jualan di minggu pagi selasar car free day, atau keluar masuk pasar mengambil batik terus dijualnya lewat instagram.

Gengsi? Gak bakal kenyang makan gengsi.. baru belajar kerja sudah gengsi tanpa jiwa mengabdi, besok kalau kerja mentalnya pasti hanya asal kerja, hanya ngejar duit gak ada passionnya..

Potongan koran yang saya temukan beberapa waktu lalu bikin takjub. Istri wakil walikota Malang bu Endang Taqiyyati yang berjualan di warung kampus UIN Maulana Malik Ibrahim, beliau tidak ingin hidup bermewah-mewah yang bisa menjadi penyebab suaminya korupsi.

Kalau di hatimu masih ada gengsi, buang ke laut jauh-jauuuh.. tenggelamkan sampai dasar lautan!
Jangan izinkan dia balik lagi jadi benih-benih kesombongan…

Salam,
@Saptuari

Masalah yang Bukan Apa-apa :”)

Jadi, ceritanya di bus menuju Tasikmalaya gw duduk sebangku dengan seorang bapak, beliau ITB angkatan 93. Terus, sekarang bekerja sebagai compliance auditor di PLN. 

Ngobrol-ngobrol dengan Bapak, akhirnya gw pun tahu kalau si Bapak adalah orang Aceh, tapi sekarang berdomisili di Medan. Pasca tsunami di Aceh tahun 2004 lalu, keluarga si Bapak (ayah dan ibunya) pindah ke Medan. Si Bapak kehilangan 9 anggota keluarganya akibat tsunami itu. Ketika Tsunami terjadi, si bapak sedang bertugas audit di Jakarta.

—————————————————————————

…………Dulu, di kantor, gw pernah asbun (asal bunyi) sama salah satu brand admin gw yang sudah cukup paruh baya. Gw nanya begini, “Mba, lebaran mudik kemana?” , si Mba menjawab, “Ke rumah orangtua aku Mba, di Cibubur.”, Terus dengan asbunnya gw pun bertanya, “Oh, ga pulkam ke kampung suami Mba?” Terus, si Mba menjawab, “Aku kan masih single, Mba.” Jeng jeng, waktu itu gw that awkward moment banget terus gw cuma bilang, “Eh sorry Mba, kirain sudah bersuami, hehe.” Terus si Mba jawab dengan santai, “Ehehhe, iya gapapa.” SEJAK SAAT ITUUUUUUUU, gw berikrarrrrrrrr dalam hati ga mau asbun lagi masalah status pernikahan orang karena takut salah omong. 

—————————————————————————–

Kembali ke si Bapak yang gw ketemu di bus menuju Tasik itu….. Belajar dari pengalaman gw yang fail pas ke brand admin gw, gw pun ga menanyakan ke si Bapak apakah dia punya istri atau enggak. Bapak tersebut bilang bahwa Bapak dan Ibunya tinggal di Medan (which dia mengindikasikan dia tidak beristri), maka gw pun tidak bertanya lebih jauh, dan cuma bilang, “Ooh, begitu Pak.”

Lalu, agak lama, si bapak pun melanjutkan, “Ada satu hal yang saya sesalkan dalam hidup saya. Waktu sebelum saya tugas ke Jakarta sebelum Tsunami itu, orangtua saya minta diantar ke Medan. Entah kenapa, mereka minta diantarkan ke Medan. Saya turuti saja. Saya ambil pesawat dari Polonia sekalian antar orangtua. Sedangkan istri dan anak saya, saya tinggalkan di Aceh. Eh, ternyata Tsunami. Istri saya hilang, anak saya selamat.”

YA ALLAH, gw langsung siyok. Ternyata 9 anggota keluarganya yang hilang, salah satunya adalah istrinya. :( Terus gw bilang, “Innalilllahi Pak, turut berduka cita, jadi istri Bapak belum ketemu sampai sekarang?”

“Belum. Tapi, saya selalu berpikir begini, saya berdoa dalam hati, semoga istri saya, dimana pun dia berada, semoga dia dalam keadaan sehat dan bahagia. Bisa jadi dia lupa ingatan, jadi dia ga tahu jalan pulang. Jadi, gapapa dia ga tahu jalan pulang, yang penting dia bahagia.”

Ya Allah, gw langsung pingin nangis pas dengar. Gw terharu aja. Terlepas dari sebenarnya si Bapak mungkin denial tentang hidup-mati istrinya (karena kalau memang lupa ingatan, kan pasti bisa dirunut, karena tsunami waktu itu kan bencana besar, jadi kalau ada orang tanpa identitas terdampar, bisa jadi orang juga bisa menduga bahwa yang bersangkutan adalah korban tsunami), tapi gapapa, tidak semua hal harus bisa dicerna oleh logika. Mungkin itu adalah cara si Bapak untuk mengurangi rasa bersalah, mensugesti diri, dan melanjutkan hidup, toh kita punya cara kita masing-masing untuk membentuk sistem kekebalan terhadap rasa bersalah kan?

GUWEEEEE langsung merasa masalah hidup gw, terutama masalah perjodohan gw (yang ga ketemu-ketemu jodoh wkwk) ga ada apa-apanya, cuma seiprit, dibandingkan si Bapak (dan mungkin jutaan orang lain yang ada di dunia ini). Gimana si Bapak udah 14 tahun bertahan hidup dan sendirian membesarkan putrinya dan pasti membalut sendiri luka di dalam hatinya karena dia harus tetap tegar. Karena gimana pun, kehilangan istri itu sedih. Apalagi, tidak tahu istrinya ada dimana. :( Malu gw kalau cuma masalah ga ketemu-ketemu jodoh aja langsung merengek-rengek. Bener sih emang, masalah gw mah bukan apa-apa. Umur 26 masih tanpa arah masalah jodoh, masih mending, itu Mba brand adminku sudah paruh baya juga masih belum ketemu jodoh, tapi dia tetap bersyukur saja.

Isni, masalahmu bukan apa-apa!

*bersyukur banyak-banyak*

BerSEMANGAT!! 

The Way I Lose Her: I'm Belong To You

Akhirnya aku menemukan. Tempat pulang yang pada matanya aku tak dapat berpaling. Hanya saja sayang, matanya tak berpulang kepadaku.

                                                        ===

.

Tanpa pikir panjang gue langsung meminta izin sebentar sama anak-anak yang lain untuk mengangkat telepon dari Ipeh. Sebisa mungkin gue menjauh dari tukang nasi kuning biar bisa berbicara dengan bebas. Gue pergi menuju pohon rindang dan duduk jongkok di bawahnya, udah mirip sama pedagang judi ager-ager yang biasanya nongkrong di SD-SD itu.

“Eh Peh? Lu kenapa Peh?” Tanya gue khawatir.

“Dim.. Dimas, kamu di mana?” Ucap Ipeh dengan suara yang tersengguk-sengguk.

Wait!
She call my name? Seriously?
Ada angin apa ini sampai-sampai nih mahluk tumben banget memanggil gue dengan nama asli dan bukan nama panggilan. Pikiran gue semakin nggak karuan, ada banyak tanya muncul di benak gue. Ipeh kenapa?

“Yaudah yaudah bentar dulu, kamu tenang dulu. Kamu di mana sekarang? Aku kesana sekarang juga.” Gue tidak peduli lagi Ipeh kenapa, yang gue tau sekarang hanyalah keadaan Ipeh yang saat ini sedang membutuhkan gue. Gue nggak peduli apa alasan dia menangis, yang gue pikirin sekarang cuma sebisa mungkin gue ada untuk dia secepat yang gue bisa.

“Aku.. Aku..” Ipeh masih terlihat sesenggukkan.

“Di mana?!” Gue membentak Ipeh.

“Aku di depan rumah kamu..”

“What?! Di depan rumah gue? Lu naik ap.. ah persetan, bentar lo tunggu di sana, gue ke sana sekarang juga. Udah tenang ya jangan nangis lagi.”

Tanpa pikir panjang gue langsung menutup sepihak telepon gue itu dan langsung bergegas menuju tempat teman-teman baru gue lagi sarapan tadi. 

“Eh sorry, gue mendadak ada urusan penting yang nggak bisa ditinggal nih, maaf banget yaaa gue harus pergi sekarang.” Ucap gue sambil meneguk es jeruk yang baru saja datang ke meja gue itu. Lumayan, mubazir udah terlanjur gue beli.

“Loh nyet mau kemana?” Tanya Ikhsan.

“Urusan penting bro, nanti gue ceritain deh.”

“Ih Dimas kok udah pergi lagi, baru juga ketemu.” Tukas Wulan.

“Iya Lan, ini penting banget soalnya.”

“Ada apa sih Dim?” Tanya Claudya menimpali.

“Hehehe bukan apa-apa Dee.” Jawab gue seraya hendak pergi meninggalkan mereka, sebelum tiba-tiba Claudya memanggil lagi.

“Dimas!” Teriak Claudya.

Gue berhenti sebentar lalu menengok, “Ya?”

“Kapan-kapan main ke rumah atuh.” Ucapnya.

“Hahaha iya nanti deh sekalian bawa orang tua aku buat nemuin orang tua kamu.” Jawab gue bercanda seraya pergi meninggalkan mereka.

Setelah percakapan basa-basi tadi selesai, gue langsung bergegas berlari ke rumah, nggak peduli lagi siapa yang gue tinggal di sana, entah itu Wulan, entah itu Claudya yang nyatanya lebih cantik daripada Ipeh, entah itu si monyet yang padahal statusnya lagi nginep di rumah gue. Namun ketika Ipeh meminta gue agar ada untuknya, gue nggak segan-segan untuk meninggalkan apa yang sedang gue kerjakan saat itu juga.

Setelah mengitari beberapa blok, akhirnya gue sampai juga di rumah. Dari jauh gue sudah melihat ada sosok wanita dengan kaos oblong beserta jeans bolong-bolongnya lagi bersandar di pager rumah gue, dan juga seseorang pria paruh baya di atas motor yang diparkirkan tepat di sebelah rumah gue. 

Ada yang janggal saat itu pada diri Ipeh, matanya lebam, entah Ipeh sudah menangis dari kapan hingga ia bisa terlihat babak belur seperti itu. Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat gue langsung menghampirinya.

“Peh?” Ucap gue.

Ipeh terkejut, ia melihat gue sebentar, terdiam, lalu tiba-tiba air matanya menetes lagi, Ipeh langsung menangis ketika melihat gue. Buset lo kira gue kuburan baru apa pake acara ditangisin segala. Belum sempat gue bertanya ada apa ini, Ipeh langsung berlari dan memeluk gue erat. 

Gue terkejut dan cuma bisa diam dan tak tau harus berbuat apa, masalahnya seorang wanita yang biasanya gue kenal sebagai sosok wanita yang kuat dan slengean kaya Ipeh gini sekarang sedang menangis layaknya wanita-wanita yang gue kenal lainnya. Rasanya ganjil sekali.

“Peh, Ipeh kenapa?” Gue peluk erat tubuhnya dan mengusap kepalanya.

Ipeh masih terdiam, ia masih terus menangis, ada banyak air keluar dari mata beserta hidungnya. Baju basket gue udah mirip kaya sapu tangan, ada bermacam-macam air berwarna di sana. 

“Yaudah, duduk dulu yuk. Nggak enak kalau pelukan di luar kaya gini. Ntar tetangga mikir yang nggak-nggak. Masa gue meluk cowok coba?! Ntar gue disangka homo lagi.” Kata gue bercanda.

Ipeh yang tadi masih menangis kini malah semakin memeluk gue erat sambil mencubit punggung gue keras lantaran gue bercanda di saat yang tidak tepat. Namun bukannya kesakitan, gue malah ketawa ketika Ipeh melakukan hal ini. Ini mengartikan bahwa Ipeh masih menjadi Ipeh yang gue kenal, hanya bedanya kali ini cubitannya tidak terasa begitu menyakitkan.

God!
I really love when i hug your tiny body, Peh.

Seandainya gue boleh meminta, gue ingin lo tetap menangis seperti ini. Egois sih, namun dengan ini akhirnya gue jadi punya alasan untuk bisa memeluk lo erat tanpa harus canggung siapa sebenarnya kita berdua ini.

Suara tangisan Ipeh masih saja terdengar seperti suara tangisan cewek-cewek yang biasanya. Sesekali ia sesenggukkan karena nafasnya tidak beraturan. Setelah agak sedikit tenang, gue pegang kepalanya dengan kedua tangan dan memundurkannya sedikit sehingga gue bisa melihat wajahnya yang sedari tadi terbenam di dada gue itu.

Wajah Ipeh bener-bener berantakan. Poninya lepek kena air mata, hidungnya merah, bibirnya pecah-pecah dan ada gelembung-gelembung dari air ludah karena menangis, kantong matanya berat dan hitam kaya pak SBY. Dan ya, Ipeh benar-benar jelek sekali saat itu. Niatnya tadi gue mau menghapus air matanya dengan kedua ibu jari, namun setelah melihat wajah Ipeh yang mirip wajah Sylvester Stallone waktu maen di film ROCKY, gue malah jadi ketawa..

.

“Bhahahahahahahak anjing jelek banget lu Peh.” Gue berusaha menahan tawa.

“AAAAAAAAAAAAA!!!!” Ipeh menggoyang-goyangkan kepalanya keras sehingga tangan gue yang sempat memaksa wajahnya agar terlihat itu akhirnya terlepas. Lalu kemudian ia membenamkan lagi wajahnya di dada gue.

“Maluuuuuu!!” Jawab Ipeh sambil sedikit menangis.

“Hahahah iya maaf maaf, ayo duduk di halaman dulu yuk. Nggak enak kalau dilihat orang” Gue menuntun Ipeh untuk duduk di kursi bambu halaman rumah gue. 

Namun belum terlalu jauh menuntun Ipeh masuk ke dalam halaman rumah, tiba-tiba langkah gue terhenti sebentar. Dari pertama gue datang dan langsung dipeluk Ipeh tadi, ada satu hal yang benar-benar mengganjal banget di hati gue. 

gue masih terdiam.

“INI KENAPA DARI TADI ORANG YANG ADA DI ATAS MOTOR NGELIATIN GUE TERUS?!” Gue marah-marah dalam hati ketika menyadari bahwa dari pertama Ipeh datang ke rumah gue tadi, ini orang terus saja melihat ke arah kita berdua. Gue sama Ipeh diliatin terus udah kaya anak ayam dipilok yang ada di SD-SD aja.

Gue orangnya emang paling nggak suka kalau lagi dalam keadaan serius gini terus ada orang yang ikut campur. Bawaanya pengen ngusir orangnya terus gue slepet pake tali BH. Dengan memasang muka gue yang terlihat menyebalkan, gue langsung melihat ke arah orang tersebut yang lagi nongkrong di atas motor.

“Ada apa liat-liat? Anda ada perlu sama saya?” Jawab gue dengan nada yang menyebalkan.

“Ngg.. nggak mas bukan.. Anu.. Maaf” Jawabnya gelagapan.

Gue melihat ke arah orang tersebut sebentar, lalu kemudian beranjak pergi menghampiri Ipeh lagi. Sebelum berbicara dengan Ipeh, gue suruh doi minum Teh Kotak dulu yang sudah gue ambil dari di dalam kulkas sebagai emergency food. Ipeh terlihat meminumnya sambil terus sesenggukkan. Gue jongkok di depannya lalu menghapus sisa-sisa air mata yang masih saja menetes membasahi pipinya tersebut.

“Sudah enakkan?” tanya gue.

Ipeh cuma mengangguk-angguk kaya orang lagi tripping.

“Mau cerita?” Tanya gue lagi.

Ipeh mengangguk lagi kaya anak metal lagi nonton konser.

“Kenapa? Kok nangis? Tumben kamu nangis?” Tanya gue sambil ikutan angguk-angguk.

“Kamu kenapa malah ikutan angguk-anggukan juga.”

“Hahaha nggak tau lucu aja mau ngobrol sambil angguk-angguk.”

“Haha apasih.” Kata Ipeh.

“Nah gitu dong, ketawa kek, wajah lo kalau nangis jelek soalnya. Ada masalah apaan sih sampe ke rumah gue segala?” Tanya gue serius.

“Kakak aku..” Jawab Ipeh pelan.

“Kak Ai? Mba Afi?”

“Dua-duanya.”

“Duo semok lagi kenapa emang?”

“Aku berantem sama kakak, karena kamu.” Ipeh memandang gue.

Hah?
Karena gue?
Gue terdiam sebentar mencoba mendengar lebih jelas lagi penjelasan Ipeh.

“Salah gue? Emang gue salah apaan? Lo nggak hamil kan?” Tanya gue mendekatkan diri lagi.

“Yaelah, emang kita habis ngapain? paling pegangan tangan doang. Emang pegangan tangan kaya kemarin bisa hamil apa?!” Ipeh mulai bete.

“Ya siapa tau masa subur lu bener-bener subur. Gue lempar kolor aja bisa hamil.”

“Ih DIMAS seriusan!!”

“Iya iya ada apaan sih? lagian lo ngejelasin sama gue juga setengah-setengah, nanggung amat kaya kemben melorot.”

“Mereka tau kejadian yang sebenarnya kalau kita itu nggak pacaran, awalnya mereka bercanda, tapi lama kelamaan mereka makin serius untuk memaksa gue ngenalin pacar beneran ke Ayah sama Ibu. Gue kan emang lagi nggak sreg ya Mbe buat pacaran, kalaupun ada calon, itu pasti cuma elo doang. Terus akhirnya gue marahan sama kakak sama mba juga.” Tukas Ipeh.

Mendengar penjelasannya itu, gue langsung tersenyum.

“Kenapa senyum?” Tanya Ipeh.

“Akhirnya lo manggil gue pake sebutan Mbe lagi. Gitu dong. Itu baru Ipeh yang gue kenal.” Gue mencubit pipinya. 

“Hehehehe iya” Ipeh tersenyum manis.

Maaf Peh, gue bohong. Saat itu gue bohong ketika gue tersenyum. Gue tersenyum bukan karena lo manggil gue dengan panggilan ‘Mbe’ lagi, tapi kalimat setelah lo manggil gue dengan panggilan 'Mbe’ itulah yang sejatinya benar-benar membuat gue bahagia setengahg mati. Seandainya jalan waktu bisa terulang, gue mau kita kembali lagi ke hari itu, mengatakan yang sejujurnya, dan memperbaiki semuanya.

.

                                                          ===

.

“Jadi sekarang lo marahan sama kakak-kakak semok lo itu?” Tanya gue lagi setelah mengambil Teh Kotak untuk diri gue sendiri dari dalam kulkas.

“Iya.”

“Ah elo, harusnya elo bersyukur punya kakak semok dan cantik kaya gitu. Kalau gue punya juga sih gue nggak bakal keluyuran keluar rumah setiap hari." 

"IH MBE APASIH?! BERCANDANNYA NGGAK LIAT SUASANA AH!!” Ipeh terlihat kesal.

“Kok elo jadi sensian gini sih Peh?” Tanya gue tidak peka. Ya iyalah cewek kalau lagi bete ya sensian. Cewek kalau pake kutek terus nggak rapih-rapih aja bisa berimbas pada jadwal futsal cowoknya yang mendadak harus di-cancel. Apalagi kalau lagi bete. Huft..

Ah kalau itu sih gue curhat.

“Tau ah” Ipeh masih terlihat kesal.

“Yaudah, mumpung cuacanya lagi bagus, jalan-jalan ke taman komplek yuk. Biar lo nggak sedih lagi.” Gue mencoba menghibur Ipeh.

“Serius? Ada apa aja di sana? Rame nggak? Kalau nggak rame gue nggak mau ah.”

“Banyak tukang jajanan di sana, nanti kita bisa main ayunan. Ada tukang pop-ice juga. Kita duduk-duduk sambil jajan es cingcau atau beli baso di bawah pohon. Gimana? Tertarik?”

“IKUUUUTTT!!” Ipeh mulai terlihat ceria lagi.

“Hahahaha ayo deh, gue ajak Ikhsan ya?” Tukas gue yang baru sadar kalau motor Ikhsan ternyata masih ada di rumah gue sampai sekarang.

“Ih kenapa harus aja Ikhsan sih ih? Berdua aja emang nggak bisa?” Ucap Ipeh memberikan kode tapi gue tetap nggak peka.

“Kan klau ada dia malah lebih rame, bisa ketawa-ketawa kita. Ikhsan kan dongo, otak dia sama otak bekantan aja IQ-nya beda tipis.” Kata gue mencoba memuji Ikhsan dari sudut yang berbeda.

“Gue lagi nggak pengen ketawa!” Kata Ipeh bete. Lagi dan lagi. Gue benar-benar kehabisan tenaga kalau gini terus caranya.

“Loh kalau lo lagi nggak pengen ketawa,ngapain lo datang ke sini dong? Galau aja di rumah, kan nggak akan ketawa.”

“Nggak tau ah males!” Ipeh kesal.

Tanpa gue sadari, tiba-tiba ada air mata menetes lagi di wajah Ipeh. Melihat hal ini sontak gue terkejut. Apakah sebegini begoknyakah gue? Apakah ada yang salah dengan apa yang baru gue ucapkan tadi?

Setelah diam sejenak, akhirnya gue mengerti segala arti percakapan yang baru saja kita lakukan dan segala kode yang Ipeh berikan. Sejenak gue sempat menggoblok-goblokkan diri sendiri karena terlalu tolol dan tidak menyadari sedari awal. Tanpa pikir panjang, gue langsung memeluk Ipeh.

“Maaf ya, maafin cowok yang nggak pekaan ini yaaa. Janji, nanti jajan di taman aku semua yang traktir deh.”

Ipeh cuma mengangguk-angguk kan kepalanya yang lagi bertumpu di dada gue.

“Oke sebentar gue ganti baju dulu ke dalem, baju olahraga yang ini udah nggak karuan bentuknya. Banyak noda air mata sama ingus lo.”

Ipeh tertawa sedikit mendengar penjelasan gue.

“Bentar ya.." 

Ketika gue hendak pergi meninggalkan Ipeh masuk ke dalam rumah, mendadak Ipeh menghentikan langkah gue.

"Mbe!” Ipeh teriak.

“Apaan?” Jawab gue.

“Itu..” Ipeh menunjuk ke arah seseorang di atas motor yang masih saja melihat ke arah kita berdua.

“Apaan?”

“Bayarin ojek aku dulu itu.. Aku lupa nggak bawa dompet.”

“HAH?! OJEK?! JADI SELAMA INI ORANG YANG GUE BENTAK DAN NGELIATIN KITA DARI TADI TUH TUKANG OJEK YANG NGANTERIN ELO?!”

“Iya hehehe.”

“ASTAGAAAAAAA!! KENAPA KAGA BILANG DARI AWAL NYET!! BIKIN MALU AJA AH LO DASAR KERUPUK KULIT!!” Puncak kekesalan gue sama Ipeh sudah memuncak.

“Maaf ih maaf, tadinya aku mau langsung bilang, tapi nggak tau kenapa ngeliat kamu aku malah langsung nangis lagi.”

“AH ALASAN!! HIH!! YAUDAH BENTAR!!” Gue berjalan menghampiri tukang ojek tersebut dengan wajah bete sebete-betenya.

“Maaf ya a’ saya kira orang iseng tadi ngeliatin kita berdua mulu.” Gue meminta maaf terlebih dahulu, “Berapa totalnya A?” Tanya gue lagi.

“46 ribu mas” Jawabnya.

“HAH?! APAAN?! EMPAT PULUN ENAM RIBU RUPIAH?!" 

"Iya mas" 

"Wanjing gila Peh rumah lo sejauh apa sih sampe segini mahal ongkos ojeknya?! Ini sih harganya lebih mahal dari harga sepaket ayam kaepsi!!” Gue makin bete nggak karuan.

Akhirnya dengan sangat berat hati, gue keluarin dompet gue dan membayar tukang ojek tersebut dengan uang 50ribuan yang cukup buat uang jajan sekolah gue selama seminggu.

Sore itu setelah melihat stabilitas dompet gue, entah kenapa tiba-tiba terbesit di otak gue untuk membawa pulang kotak amal yang ada di masjid dekat rumah. Subhanallah..

#cowokSyariah.
#sayangKamuBanget.

.

                                                                ===

.

Setelah berganti baju dan cibang-cibung sebentar, gue langsung bergegas mengajak Ipeh pergi ke taman komplek untuk sekedar menghiburnya. Letak tamannya tidak begitu jauh, dan untungnya taman komplek bisa dilewati tanpa harus melewati daerah lapang basket, bisa runyam ceritanya kalau gue ketemu Wulan dan teman-temannya ketika gue lagi jalan berdua sama Ipeh.

“Gue mau beli goyobod, mau kaga?” Tanya gue.

“Nggak ah, aku nggak begitu suka. Kamu aja, nanti aku minta." 

"Yaudah, gih pesenin gue batagor sana, jangan pake pedes ya. Perut gue sensitif.”

“Ih cowok apaan nggak suka pedes?! Cemen.” Ledek Ipeh.

“Cowok yang didatengin cewek perkasa ketika doi lagi nangis.” Jawab gue dingin sembari pergi meninggalkan Ipeh yang lagi duduk di kursi taman.

“…”

Sembari menunggu pesanan goyobod gue dibuat, gue menyempatkan diri melihat ke arah Ipeh yang masih duduk di area taman. Ipeh akhirnya terlihat lebih ceria, sekali-sekali ia berdiri dari tempat duduknya, melihat ke area sekitar, atau bahkan mencoba ayunan yang biasanya dipakai oleh anak-anak di sekitar komplek.

Gue bener-bener kaya lagi ngerawat bocah aja kalau gini caranya.

“Ayo makan dulu, gue belum sarapan dari tadi.” Kata gue membawa sepiring goyobod dingin.

“Loh tadi darimana emang?” Tanya Ipeh.

“Maen basket.”

“Sendirian?”

“Nggak.”

“Sama siapa?”

“Siluman Ular.”

“Ih serius ih!” Ipeh mengeluarkan cubitan saktinya ke arah perut gue.

“IH PEH TUMPAH NANTI INI GOYOBODNYA!! ELO MAKAN AJA BATAGORNYA!!” Ucap gue kesal.

Akhirnya Ipeh menurut dan melahap habis batagor yang ia pesan untuk dua orang itu. Karena kehausan, Ipeh meminta sedikit goyobod sama gue. Awalnya sih cuma satu sendok doang, tapi karena merasa enak, akhirnya piring goyobod gue disabotase sama tuh anak. Anjir emang nih bocah kaga tau diuntung bener. Makannya udah kaya anak cowok, tapi badannya nggak pernah gendut-gendut. Dasar cewek murtad! Lahirnya pasti dari batu sungai.

Ketika kita berdua lagi rebutan es goyobod, tiba-tiba terdengar suara lantang bapak-bapak dari area taman di belakang kita.

“Hei jangan main di situ, ada tanaman bapak di situ!!" 

Sontak kita berdua menengok ke arah sumber suara. Ternyata itu Haji Harun, salah satu dedengkot DKM di masjid komplek gue, tapi biarpun Beliau anggota DKM, Beliau ini paling ditakuti oleh anak-anak kecil di komplek. Mungkin karena selain galak, Beliau juga kalau lagi ngajar ngaji pasti bawa sapu lidi. Serem pokoknya.

"Itu siapa Mbe?” Tanya Ipeh penasaran.

“Haji Harun. Maskot komplek.” Jawab gue sambil nyeruput sisa goyobod gue.

“Ih lucu ya, kaya mario bros gitu ada kumisnya dikit..”

“Huss!! nggak sopan kamu ngomong gitu.”

“Eh emang kenapa?” Tanya Ipeh heran.

“Dulu pernah juga ada yang ngomongin doi, besoknya meninggal!” Jawab gue bercanda.

“IH kok serem gitu sih Mbe?” Ipeh terlihat serius menanggapi bercandaan gue. Karena melihat Ipeh yang penasaran, timbulah sedikit niat iseng di benak gue.

“Iya, Haji Harun itu serem pokoknya. Dia minum air putih aja dikunyah!”

“…”

“Itu, gelar Haji yang dia dapet itu tuh dia dapet waktu Manasik Haji pas dia SMA. Serem kan?! Denger-denger juga kalau Haji Harun lagi marah, telor ayam aja dia bentak netes langsung.”

“…”

“Kamu tau ikan paus yang nelen Pinokio sama paman Gepeto? Nah itu piaraan Haji Harun.”

“Lo mulai ngelantur deh Mbe.”

“Bhahahahahak abisnya dongo amat sih lo percaya aja sama mulut gue.”

“Gue kira lo serius tadi. Kan serem juga kalau beneran ada yang ngomongin dia langsung besoknya meninggal.”

“Ya lo kira dia apaan? Masa Malaikat Izrail aja harus izin ke dia dulu kalau mau cabut nyawa?”

“Bego ah. Btw kalau sore begini balkon rumah elo kosong Mbe?” Tanya Ipeh.

“Iya, jarang ada keluarga yang doyan nongkrong di sana. Kenapa?”

“Ke sana aja yuk. Pengen sambil nyender atau tiduran gitu.” Pinta Ipeh lagi.

“Kaga ah males, enakan di sini ngeliatin ibu-ibu muda lagi jogging sore.”

“iih genit lah sumpah. Ayo dong Mbe, pulang yuk.” Ipeh mulai merengek-rengek.

Gue menghela nafas panjang,

“Iya deh iya, bentar, gue mau balikin piring goyobod dulu. Tuh elo juga balikin gih piring batagornya.” Tukas gue.

“Janji ya.”

“Iya.”

Akhirnya Ipeh bangkit dari duduknya dan bergegas mengembalikan piring batagor yang tadi ia sempat pesan. Selelah apapun gue, seletih apapun gue, entah kenapa rasa-rasanya sulit sekali untuk menolak keinginan Ipeh. Gue seperti terikat sama dia, entah dalam hal apa. 

Trrt…
Tiba-tiba ada satu sms masuk.
Gue lihat siapa pengirimnya, ternyata dari “Ikhsan Ganteng Beudh.”
Gue buka isinya.

“Kemana lo? Wulan ngajakin caw nih, kita semua mau nyusul ke rumah lo.”

DEG!!
Anjrit, mati gue.
Ya Tuhaaaan, kenapa harus ada lagi aja masalahnya sih?! :((

.

.

.

                                                                Bersambung

Previous Story: Here

Dinginnya Kopi, Hangatnya Hati.

Apakah kau percaya dengar takdir? Sebuah ilusi fana yang kerap diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sebuah nama untuk sebuah situasi di mana keberuntungan serasa sudah diciptakan hanya untuk beberapa orang saja.

Ini adalah kisah tentang bagaimana manusia tak berdaya di hadapan takdir, seperti seorang aktor yang sudah berupaya sekuat tenaga untuk bisa berakting sempurna, namun sutradara selalu punya suatu cara yang berbeda.

Ada sebuah Cafe kecil di pinggiran kota Bandung, jauh dari keramaian dan sepi dari kendaraan yang lewat. Lampu tuanya kerap menyala menerangi kegelapan seperti kunang-kunang dengan lampu kecilnya di tengah hamparan gelapnya padang rumput. Cafe ini sudah berdiri sejak lama, dengan beberapa menu makan malam yang sederhana namun lezat luar biasa, dan beberapa pelanggan tetap yang terus berdatangan setiap harinya, membuat Cafe ini tetap berdiri walau lingkungan di sekitarnya hanya diterangi oleh beberapa lampu jalanan.

Cafe ini mirip seperti lampu neon di kegelapan, dan orang-orang yang lewat adalah seekor ngengat. Mereka akan mampir hanya untuk menghabiskan waktu atau juga menunggu sesorang di sana.

Anandya, begitulah orang-orang sekitar sana memanggil namanya. Seorang perempuan paruh baya yang sudah bekerja lebih lama ketimbang lampu jalanan yang ada di sana. Perempuan yang kini tengah menjalani kuliah semester akhir ini adalah seorang kasir sekaligus pembuat kopi yang juga menjadi salah satu daya tarik yang membuat banyak sekali pelanggan pria mampir hanya untuk bisa berbicara dengannya.

Wajahnya manis, dengan rambut sebahu yang kerap ia kucir kudakan dan senyum lesung pipitnya menjadi alasan mengapa Anandya selalu terlihat lebih istimewa. Ia bekerja dari pagi hingga menjelang malam di Cafe itu, lalu ia lanjutkan untuk berkuliah kelas karyawan.

Anandya begitu ramah dengan para pelanggan, ia selalu mengajak berbicara siapa saja yang menyapanya. Ada lelaki tua, ia sudah rentan namun selalu setia datang hanya untuk sekedar menunggu istrinya yang sudah meninggal, dan Anandya selalu menemaninya seakan lelaki tua itu suaminya.

Ada sekelompok kuli bangunan, walaupun mereka hanya membeli kopi dan memilih duduk sambil merokok, Anandya selalu membawakan mereka sepiring Nachos gratis sebagai teman makan malam karena Anandya tahu bahwa uang mereka hanya cukup untuk membeli segelas kopi saja.

Ada pengemis tua, badannya lusuh seperti kain yang terbuang di pinggir jalan raya. Beberapa kali pemilik Cafe tidak membolehkan pengemis itu untuk masuk, namun Anandya selalu sembunyi-sembunyi membawakan sedikit makanan sisa untuk diberikan kepadanya.

Sehari-hari, Anandya selalu ceria, senyumnya bagai sinar matahari yang menyinari pagi, begitu hangat. Hingga pada suatu ketika ada seseorang pengunjung yang tak pernah Anandya lihat sebelumnya datang dan memesan secangkir kopi hitam yang begitu pekat.

Pria dengan setelan jas hitam, kemeja putih, waist coat abu-abu, dan secangkir kopi yang begitu pekat. Benar-benar sosok yang dingin sekali.

“Selamat siang, mau pesan apa?” Tanya Anandya ramah.

“Kopi. Americano. Satu.” Jawabnya singkat.

“Baik, silakan duduk, nanti akan saya antarkan.” Ucap Anandya lagi.

Pria tersebut pun memilih untuk duduk di dekat jendela tak jauh dari kasir tempat Anandya bekerja. Pria itu terdiam, tangannya ditaruh di atas paha, dan wajahnya begitu dingin menatap ke arah luar jendela.

“Mungkin ada orang yang sedang ia tunggu.” Pikir Anandya.

Setelah selesai membuatkan kopi, Anandya mengantarkan kopi itu ke mejanya.

“Silakan.” Tukas Anandya.

“Terimakasih.” Jawab lelaki itu lugas namun dengan senyum yang begitu menawan.

Anandya tertegun, ada sedikit tambahan detak-detak di jantungnya. Ada yang meletup-letup di matanya. Senyum pria tersebut seakan membuat Anandya yang jarang jatuh cinta ini merasa begitu gelagapan dibuatnya.

Dari meja kasir, Anandya diam-diam memperhatikan pria itu. Pria yang selalu menatap ke luar jendela. Entah siapa yang sedang ditunggunya, mungkin seseorang yang begitu penting baginya. Kopi yang Anandya antarkan tak sedikitpun disentuhnya. Kebul-kebul uap perlahan hilang menandakan kopinya kini sudah tak hangat lagi.

Lalu tiba-tiba, pria itu berdiri, menghampiri Anandya, dan memberikan selembar uang seratus ribuan.

“Kembaliannya ambil saja.” Ucap pria itu singkat sambil tersenyum sebentar lalu pergi meninggalkan Anandya sendirian yang masih tertegun dibuatnya.

.

                                                              ===

.

Hampir setiap hari pria itu datang ke tempat Anandya bekerja, di jam yang sama, duduk di tempat yang sama, dan menghadap ke jendela yang sama. Tentu melihat hal ini Anandya senang setengah mati karena bisa melihat seseorang yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat itu setiap hari, namun ada perasaan kecewa juga ketika pria tersebut hanya duduk menghadap jendela tanpa sedikitpun mau menyentuh kopinya.

Apa yang pria itu lakukan setiap hari hanyalah hal yang sama, ketika kopinya mulai dingin, ia berdiri, memberikan uang seratus ribuan, lalu pergi begitu saja. Awalnya Anandya tidak merasakan apa-apa, hingga pada akhrinya rasa penasaran sudah begitu besar dan menjalar ke seluruh syaraf di tubuhnya.

Malam harinya, Anandya mulai mencari tahu siapakah pria yang telah membuat jantungnya berdebar begitu kencang? Kopi yang sudah dingin di mejanya tadi, Anandya ambil dan diam-diam dicicipinya.

“Apa kopi buatanku ini tidak enak ya?” Tanya Anandya di dalam hati penuh dengan perasaan was-was.

“Apa aku tidak terlihat ramah baginya?” 

Kini Anandya mulai dipenuhi oleh ribuan tanya terhadap dirinya sendiri. Anandya bertanya kepada orang-orang mengenai siapa pria tersebut, namun tak ada satupun yang mengenalnya. Diam-diam, tanpa disadari, Anandya sudah menjadi pengagum dalam diam kepada pria pemesan kopi tersebut.

Suatu hari, pria itu datang lagi dan berjalan menuju kasir. Namun belum sempat ia memesan, Anandya langsung memotong.

“Kopi Americano seperti biasa satu kan? Aku antarkan ke meja yang dekat jendela seperti biasanya nanti kan?” Kata Anandya.

Pria tersebut terdiam, ia menantap Anandya sebentar, lalu pergi meninggalkan meja kasir. Anandya terkejut, seluruh tubuhnya kaku, mulutnya kelu, apakah kata-kata yang baru ia ucapkan tadi itu tidak sopan? 

“Astaga kenapa aku jadi sok tahu gini sih?!” Ucap Anandya kesal kepada dirinya sendiri.

Tak mau melihat orang yang ia suka pergi begitu saja, Anandya langsung berlari meninggalkan mesin kasir dan mengejarnya, berusaha membujuknya dan meminta maaf. Namun sayang, sosoknya telah menghilang.

Semenjak kejadian itu, pria tersebut tidak pernah kembali lagi ke Cafe tempat Anandya bekerja. Mengetahui hal ini, senyum di bibirnya hilang, tak ada lagi keramah-tamahan yang biasa ia keluarkan kepada pelanggan yang lain. Anandya lebih sering murung dan tidak bersemangat. Kekasih yang ia puja, hilang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

.

                                                             ===

.

Satu bulan berlalu. 
Kuliah Anandya hampir selesai, dan ini adalah hari terakhir Anandya bekerja di sana.

Ketika sedang membersihkan meja kasir dari barang-barangnya, tiba-tiba mata Anandya terpaku pada sosok yang perlahan datang menghampiri Cafe itu. 

“DIA DATANG!! DIA DATANG LAGI, ANAN!!” Ucap Anandya kegirangan di dalam hati.

Pria itu masuk ke dalam Cafe, namun anehnya pria tersebut tidak memesan sesuatu di kasir, ia hanya langsung duduk di tempat biasanya ia duduk dan kembali diam menatap jendela. Dari jauh, Anandya memperhatikannya, benar-benar memperhatikannya. Menjelajahi seluruh lekuk tubuhnya, mukanya, rona wajahnya seakan ini seperti hari terakhir Anandya akan melihatnya. 

Begitulah wanita, sering mengagumi, namun enggan diketahui.

Anandya kadang tersenyum ketika dirinya sedang diam-diam melihat ke arah pria tersebut. Bahkan tak ayal Anandya sering kepergok melamun memandangi pria itu oleh pemilik Cafe.

Hari semakin gelap, Anandya sadar, sebentar lagi biasanya pria itu akan berdiri lalu pulang begitu saja. Anandya gugup, ia menggigit bibir dan berusaha mengatur napasnya yang menderu-deru.

“Aku akan mendatanginya.” Ucap Anandya dalam hati.

Dengan langkah yang berat Anandya berjalan pelan-pelan menghampiri pria yang masih terus saja menatap ke luar jendela itu. Langkah demi langkah hingga pada akhirnya Anandya ada di hadapan pria tersebut. Pria itu menyadari kehadiran Anandya. Ia menoleh ke arahnya.

“Selamat ma-malam.” Ucap Anandya gugup.

Pria itu hanya terdiam menatapnya dalam.

“Ngg.. per-perkenalkan, aku Anan.” Ucap Anandya sembari mengulurkan tangan.

Pria itu masih terdiam dan hanya mentap Anandya.

“Duduk.” Ucap pria tersebut dingin.

Anandya terkejut, perkenalannya tidak dihiraukan dan kini ia malah disuruh duduk di hadapannya. Namun Anandya menurut tanpa banyak bicara. Setelah duduk, pria tersebut lalu kembali menatap ke luar jendela, meninggalkan Anandya sendirian dalam keheranan. Tak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka berdua.

“Maaf, kamu sedang menunggu siapa kalau aku boleh tahu?” Akhirnya Anandya memberanikan diri bertanya.

Pria tersebut melirik ke arah Anandya,

“Kekasihku…” Jawabnya sambil terseyum lalu kembali melihat ke arah luar jendela.

Anandya terkejut, hatinya hancur berkeping-keping ketika mendengarkan apa yang pria itu ucapkan tadi. Ternyata cinta yang selama ini dikaguminya, adalah cinta yang sedang mengagumi orang lain. Setetes air matanya hampir terjatuh namun masih sempat ia tahan.

“… Ia ada di situ.” Mendadak pria tersebut kembali berbicara.

“Eh?” 

“Aku datang kemari untuk menemui orang yang diam-diam aku suka. Ia ada di situ.” Ucapnya sembari menunjuk ke arah luar jendela.

Anandya heran, ia langsung melihat ke arah yang sama namun ia tidak menemukan siapa-siapa di sana.

“Siapa? tidak ada siapa-siapa di sana.” Jawab Anandya.

“Ada. Dia sering di situ.” Jawab pria itu.

“Aku tidak menem..”

“Sini, duduk di sebelahku.” Belum juga Anandya melengkapi kalimatnya, pria ini menarik tangan Anandya agar berdiri lalu duduk di sebelahnya.

“Itu dia.” 

Tiba-tiba pria itu menunjuk ke arah jendela yang selalu ia pandangi setiap hari. Anandya yang duduk di sebelahnya melihat ke arah yang sama, namun ia tetap tidak menemukan ada siapa-siapa di luar sana.

“Tidak ada siapa-siapa di luar.” Ucap Anandya.

“Bukan di luar, tapi di jendela. Lihat jendelanya.” Jelas pria itu lagi.

Awalnya Anandya tidak mengerti, sebelum pada akhirnya Anandya baru menyadari bahwa yang pria itu tunjuk dari tadi adalah bayangan yang terpantul di jendela. Dan yang membuat Anandya semakin berkeringat dingin adalah, bayangan jendela tersebut tepat mengarah ke arah mesin kasir.

Tangan Anandya gemetar, mulutnya kaku, ia tidak percaya. Apa jangan-jangan pria ini..

“Aku menyukai seseorang. Aku mengagguminya, mengaggumi senyumnya, keramah-tamahannya, dan kebaikannya. Namun aku tidak begitu berani untuk menyapanya. Di hadapannya, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Bahkan untuk memesan secangkir kopi pun aku tak bisa banyak berkata-kata. Senyumnya seakan membuat kerongkonganku kering.

Awalnya aku tak sengaja duduk di sini, namun ketika aku sadar aku bisa melihat ke arahmu dari bayangan jendela ini, aku benar-benar bahagia setengah mati. Dari jauh aku melihatmu, mengaggumimu, berusaha untuk tidak memalingkan pandanganku karena rasa-rasanya sedetik tak melihat kamu, aku benar-benar rugi setengah mati.

Semakin hari, aku semakin menyukaimu, aku terus datang ke sini hanya untuk bisa melihatmu; walau dari bayangan jendela. Namun aku sadar kamu juga sering melihat ke arahku, sesekali tersenyum, dan sesekali melamun. 

Tak sadarkah kamu? bahwa saat itu sebenarnya tatapan kita sedang saling bertemu. Aku menatap matamu lewat bayangan jendela, kamu menatap mataku dari kejauhan. 

Lalu masih ingatkah kamu? ketika suatu hari aku hendak memesan pesananku dan ternyata kamu sudah hapal dengan apa yang hendak aku pesan. Di sana sebenarnya aku benar-benar grogi hingga tak bisa berbicara lagi. Maaf karena saat itu aku buru-buru pergi, aku hanya terlalu riang setengah mati. Dan aku tak ingin kamu menyadarinya.

Dan maaf kemarin aku jarang ke sini lagi, aku berusaha mencari tahu tentang kamu, tentang keluargamu, dan tentang kuliahmu. Dan kalau aku tidak salah, sebentar lagi kamu wisuda ya?” Tanya pria tersebut.

Anandya masih terdiam menatapnya dengan rasa tak percaya.

“Ini..” Tiba-tiba ada sebuah cincin ia taruh di atas meja.

“Izinkan aku menjadi pendamping wisudamu nanti, lalu setelah itu, maukah kamu berendah hati untuk menjadi pendamping hidupku? Menikahlah denganku. Anandya.” Tukas pria tersebut.

.

                                                                       ===

.

Apakah kau percaya dengar takdir? Sebuah ilusi fana yang kerap diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sebuah nama untuk sebuah situasi di mana keberuntungan serasa sudah diciptakan hanya untuk beberapa orang saja. Anandya salah satunya. Cinta diam-diamnya, ternyata diam-diam mencintainya juga.

Dinginnya berpuluh-puluh cangkir kopi yang Anandya bawakan untuk cintanya, tampak tak seberapa jika dibandingkan dengan hangatnya hati yang kini tengah dengan indah mengalungkan sebuah cicin di jari manisnya.

.

.

.

Aku SECRET ADMIRER-nya gowithepict
Tokyo, Jepang, 23 Mei 2015 23:00 JST

Saya suka heran kenapa seseorang ditangkap polisi karena menjual dirinya menjual tubuhnya. Lebih heran kenapa NM harus ditangkap, ratusan sampe ribuan orang menjajakan dirinya di indonesia dari banci kaleng taman lawang hingga banci poles di hotel, para gigolo hingga penari toples di panggung dangdut bahkan hotel melah ala bunker classis jakarta. Dari saritem hingga sarkem. Dari jalan besar di legian sampai sebuah gang sadar di purwokero. Hampir ratusan transaksi postisusi secara kasat mata tampil di twitter serta iklan kecik di koran lokal. Tiap hari itu ada Polisi biasa saja, dan kita juga biasa seolah itu normal (atau mungkin memang normal). Lalu kenapa kita ramai hanya karena NM ditangkap. Kalau mau ramai, ramailah karena puluhan ibu2 berusia paruh baya menjajakan dirinya pada para remaja di lokalisasi demi menghidupi anak2nya di kampung. Ramailah karena para siswi melayani pelanggan seusia ayahnya demi hedonisme.
—  Kadang kita bukan peduli, hanya lebih senang mencaci maki.
Kelak kamu akan sadar, jika pangeran tak selalu berkuda. Pun cinta tak selalu berada di atas tahta—kadang ia ada di dalam keranjang milik ibu paruh baya, berjajar dengan sisa makanan untuk si kecil yang kelaparan di sebuah gubuk tua.
#30

“Hey, Nak, menyingkirlah dari situ. Kamu tidak boleh berada di situ!” Seorang polisi menegur pria muda yang sudah beberapa minggu berada di sudut sebuah tikungan jalan.

“Hey! Apa kau tak mendengar?” Polisi tersebut turun dari mobilnya dan menghampiri.

“Saya sedang menunggu seseorang, Pak.” Ia menjawab tanpa memerhatikan sang polisi yang memasang air muka heran bercampur kesal.

“Kau tak boleh di situ. Ini tempat umum. Kau, aku kira, cukup mengganggu ketertiban umum.” Sang polisi mendengus di hadapannya. “Berapa lama lagi kau akan menunggu?”

Si pria muda diam sejenak, lantas berbicara dengan suara yang teramat tenang, “entah sehari lagi, sebulan…. setahun barangkali.”

Si polisi memperingati bahwa secepatnya ia mesti pergi dari situ, dan ia akan kembali beberapa hari lagi untuk melihat apakah pria tersebut masih berada di sudut jalan.

Keep reading

Masa Terberat

Seekor elang, pada usia yang ke-40 tahun, akan mengalami masa terberat dalam hidupnya.

Pada usia itu dia harus pergi mencari puncak tertinggi untuk menghancurkan paruh lamanya, mencabuti seluruh kukunya, merontokkan seluruh bulu-bulunya agar ditumbuhi paruh, kuku, dan bulu-bulu yang baru.

Itu menyakitkan. Namun setelah melewati masa terberat itu, elang berubah.

Kita juga pernah mengalami masa terberat dalam hidup kita. Menemui kenyataan pahit yang harus kita telan atau ujian besar yang tiba-tiba datang.

Seperti elang, sesungguhnya kita hanya dituntut untuk melewatinya. Karena ketika masa terberat sudah kita lewati, akan banyak hal-hal berat menjadi lebih mudah.

Jika elang mencari puncak tertinggi, kamu juga perlu mencari puncak tertinggi untuk melewati masa terberat.

Tetapi, puncak tertinggi milikmu bukan ada di gunung, menara masjid, atau gedung 32 lantai. Bukan di situ tempatnya.

Puncak tertinggimu ada pada doa.


Tangerang, 31 Desember 2015 ©bagusadikarya