paris-van-java

Tulisan : Terlewat

Pernah tidak kita bepergian dengan kendaraan yang cepat, semacam kereta api atau mobil? Itu masih mending karena kita masih duduk sebagai penumpang. Kalau naik sepeda motor dan mengendarinya sendiri. Sempat tidak kita memerhatikan apa yang telah kita lewati?

Mungkin tidak sempat, karena laju kita yang cepat. Pohon yang seperti berlarian meninggalkan kita. Rumah-rumah yang hanya tampak atapnya saja. Orang-orang yang berlalu tanpa kita tahu paras mukanya, apalagi menelisik kerut wajah dan warna suaranya.

Perjalanan hidup kita kadang terlalu cepat. Dan kita perlu melambatkan diri. Bahkan sesekali kita perlu berhenti, menengok ke belakang, atau memerhatikan sekitar. Kita melewatkan begitu banyak hal karena kita terlalu berambisi pada tujuan. Tujuan itu penting, tapi memaknai perjalanan juga sama pentingnya. Karena pelajaran itu ada di perjalanan.

Suatu hari, saya pernah memutuskan berjalan kaki sendirian dari Braga hingga kampus ITB. Melewati jalan lurusan Bank Indonesia, melewati belakang BEC, menembus Balubur, dan jalanan sepanjang Tamansari. Itu saya lakukan di tingkat akhir di ITB. Saya baru mengetahui banyak hal, bahwa selama ini saya melewatkan sesuatu yang menarik dan bertahun saya melewatinya. Padahal sering lewat di depannya dengan sepeda motor.

Maka bersama dengan kawan main, kami bepergian dengan angkot dan menghitung hingga hitungan tertentu lalu turun ketika hitungan itu sampai. Dimanapun hitungan itu berhenti, kami turun dari angkot dan berjalan kaki. Pernah suatu hari berjalan kaki dari Paris Van Java hingga Cihampelas Walk melewati pemukiman padat, melewati gang sempit bahkan gang buntu. Kami harus berkali-kali mengucapkan “punten” karena melewati orang yang duduk diantara gang. Atau bertanya kemana jalan menuju Cihampelas Walk.

Kalau kita merasa hidup kita hari ini terasa membosankan, tidak menarik, mungkin karena kita terlalu cepat. Melewatkan sesuatu, melewatkan hal penting, yang justru sebenarnya menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan. Orang yang kita temui, apa yang kita saksikan, bahkan bangunan-bangunan cantik yang tertutup oleh pembangunan.

Hari ini saya menyadari lagi semua itu selama di Yogyakarta, saya ingin berakselerasi begitu cepat. Namun, saya merasa ada yang salah. Maka menyusuri kota dengan jalan kaki, menyapa orang yang kita lewati, sesekali membeli camilan, atau menyaksikan rombongan anak SD bersepeda bersama sambil bercanda. Adalah momen berharga yang sering kita lewati.

Detail perjalanan dalam hidup kita menjadi mozaik-mozaik yang akan utuh kemudian hari. Ketika kita menyadari bahwa pecahan cerita itu membentuk sebuah pemahaman baru. Bahwa kebahagiaan itu benar-benar sederhana. Bahwa rasa syukur itu mudah kita temukan di perjalanan, ketika kita menyaksikan begitu banyak orang yang tidak lebih beruntung dari kita, yang setiap harinya melewati jalan itu dengan mobil dengan kaca tertutup dan AC yang dingin.

Perhatikan apa yang telah kita lewati sepanjang hidup kita. Kalau kita tidak bisa mengingat rinci detailnya, mungkin perjalanan kita terlalu cepat. Hingga kita melewatkan begitu banyak hikmah perjalanan.

Kita bukan sedang berkejaran dengan waktu, karena kita tidak tahu sampai kapan kita hidup. Kita sedang berkejaran dengan amal. Karena menurutku, amal itu tidak diukur dari berapa panjang usia manusia, tapi dari kualitas saat mengerjakannya. Semoga kita tidak melewatkan begitu banyak kesempatan untuk berbuat baik.

Rumah, 30 Juni 2015 | ©kurniawangunadi

6

Faal on Simple Stage ENSIKLOPEDISAIN, meriah acara kali ini yang diselenggarakan di Paris Van Java Bandung. Bahkan sebelum acara musik dimulai, beberapa pengunjung yang ramai sangat serius mengamati karya yang dipamerkan di acara ini, Dan setelah pembacaan award untuk produk desain selesai barulah acara musik dimulai. Diawali beberapa band sebelumnya hingga ditutup oleh “Fa'al”. Menyenangkan =)