pari-itu

#UNSTOPPABLE 11 : Mengharap Pertolongan Allah

Semua usahamu untuk menaklukan dunia akan sia-sia, nak!

mintalah pada-Nya, mintalah pertolongan Allah.

Minggu pagi, Alhamdulillah saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk datang ke sebuah Talkshow Wonder (business) Woman di ITB. Hari minggu, harusnya di kosan buat me time. Tapi, tidak untuk kali ini. Karena acara ini sangat sayang untuk dilewatkan. Makanya, me time minggu lalu, saya keluar dari zona nyaman dan menggantinya dengan mengikuti seminar. Alhamdulillah, setan kemageran di minggu pagi itu kalah.

Kenapa seminarnya menarik? Karena tiga pembicaranya adalah para perempuan-perempuan pengusaha sukses. Ada ibu Elidawati: Owner Elzatta dan Dauky, Ibu Nurhayati Subakat: Owner Wardah Cosmetics, dan Teh Dewi Permata Sari: Owner Kicik Muslimah. Terus ditambah lagi dengan adanya Ustadzah Haneen Akira, kangen. Seneng banget kalau dibacain ayat-ayat sama ustaah Haneen, ademnya luar biasa. Tapi apa-apa yang disampaikan ustadzah Haneen, belum bisa ditulis disini, ya. InsyaAllah nanti akan ada sesi berikutnya.

Sekarang, kita belajar dulu dari para wonder women ini. Kalau dilihat dari visi mereka membangun usaha, wuih, memang pantas banget mereka di sebut wonder women. Lalu, ada satu fakta menarik tentang mereka bertiga.

Apakah itu?

Karena mereka bertiga adalah orang Padang. Padahal Indonesia ini terdiri dari beribu kota, tapi kenapa mereka bertiga, para pengusaha ini, sama-sama berasal dari Padang. Walaupun memang sudah takdir Allah begitu, tapi tentunya ada sebuah rahasia dibelakangnya. Saya sangat tertarik menggali lebih lanjut. Saya penasaran dengan pola pengasuhan orang tua di Padang dalam mendidik anak-anaknya. Semoga esok lusa, bisa menggali tentang hal ini. Aamiin.

Let’s begin!

Berikut ini kiat-kiat sukses dalam membangun bisnis :

1. Memiliki goals yang kuat. Niat karena Allah sudah tentu menjadi yang utama dalam melakukan apapun. Selain itu, cita-cita mulia untuk orang lain akan menjadi suatu penyemangat agar terus melaju membangun bisnis. Dari ketiganya, membangun lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya adalah impian mereka. Mereka memulai semuanya dari 0, dan alhamdulillah impian mereka tercapai, Elzatta memulai bisnis dengan 17 orang, sekarang sudah punya 1000 karyawan. Wardah memulai bisnis dengan 2 orang, sekarang sudah memiliki 7500 karyawan. Sedangkan Kicik muslimah, dulu hanya satu dua orang yang PO jilbabnya, sekarang ada 100 distributor di Indonesia. Allah maha baik yaa, jika kita terus mau berusaha.

2. Totalitas Ikhtiar. Dalam membangun bisnis sungguh banyak lika-liku perjalanan yang harus dilalui. Orang lain akan melihat kisah suksesnya saja. Tapi dibalik itu semua ada segudang kegagalan yang harus dihadapi, kegagalan yang menempa diri menjadi lebih kuat. setiap rasa yang menghampiri setiap perjalanan bisnis harus dilalui dengan usaha terbaik dan totalitas.

Kata Teh dewi, “Tetap maju walaupun kegagalan itu ada di depan mata. Karena Allah selalu ada, jadi jangan pernah takut. Ketika kita menyerahkan semuanya pada Allah, ternyata kegagalan yang kita takutkan malah tidak pernah terjadi”. Inilah pentingnya berbaik sangka pada Allah, ya.

3. Ridha dari orang tua. Jangan pernah mengabaikan katalis kesuksesan kita yang satu ini. Doa dari orang tua sungguh-sungguh agung, insyaAllah apa yang mereka minta untuk anaknya akan dikabulkan oleh Allah. Doa, usaha, dan ridha orang tua, adalah formulasi terbaik dalam mencapai kesuksesan.

4.  Buka mata, hati, dan telinga seluas-luasnya. Dengarkan curhatan orang lain, lakukan banyak diskusi dengan siapa saja. Dulu, Ibu Elida sering mendengarkan curhatan para penjual jilbab di Tanah Abang. Saat itu hanya ada jilbab paris yang tipis itu saja yang dijual. Dari pergi ke sawah sampai ke kantor, semua perempuan mengenakan jilbab paris. Masyarakat mulai jenuh akan hal itu. sehingga dengan ide kreatifnya, Ibu Elida mengolah curhatan tersebut menjadi sebuah solusi. Maka hadirlah, Elzatta.

Kata Ibu Elida, “ Produk baru harus diciptakan, maka dibutuhkan orang yang berani memunculkan sesuatu!”

Dulu, tahun 1985, Ibu Nurhayati mendengarkan saran dari tetangganya, setelah mengikuti saran tersebut, lahirlah Wardah, kosmestik Halal yang mendunia sekarang ini.

5.  Mampu melihat peluang yang lebih jauh.  Ketika kita melihat tidak ada peluang, maka ciptakanlah peluang itu. ketika dunia fashion muslimah di Indonesia mulai menjamur, maka saat itu ibu Elida mulai mempekenalkannya ke luar negeri. Hasilnya? Jangan ditanya. Sungguh disinilah kesempatan emas Ibu Elida.
Jadi kebayang, gimana kalau dulu Ibu Elida menyerah karena sudah banyak orang yang punya bisnis yang sama di Indonesia. Dalam situasi sesulit apapun, menyerah bukanlah pilihan. Selalu ada saja celah untuk lewat, berpandai-pandailah menemukan jalan itu.

6. Mengikuti banyak kompetisi. Bukan menuruti ambisi, tapi berkompetisi adalah salah satu cara menchallange diri agar menjadi lebih baik, agar semakin menginspirasi orang lain. Tergantung cara pandang kita saja. Semuanya baik.

7.  Mau bertumbuh bersama. Kalau kita sukses sendirian, apalah artinya. Dari Ibu Elida saya belajar untuk melakukan sinergi dengan orang lain. Kita tidak harus mengerjakan semuanya sendirian. Bangunlah mitra-mitra dan bertumbuhlah bersama. Lalu melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Ibu Elida sering mengajarkan mitranya tentang bagaimana mengelola toko, keuangan dan lain-lainnya. Semua ilmu dibagikan kepada orang lain. Hingga kesuksesan ibu Elida diikuti juga dengan kesuksesan para mitranya.

8.  Bersyukur. Bersyukur dengan apa? Dengan berbagi, tidak hanya dengan materi tapi juga dengan ilmu. Lalu bersedekah, agar lebih semangat maka jadilah orang kaya agar sedekahnya bisa lebih banyak. Kebermanfaatannya bisa lebih luas.

Begitulah kiat-kiat yang bisa saya simpulkan dari talkshow bersama para wonder women itu. sungguh kiat-kiatnya dapat digunakan dalam membangun apapun, termasuk dalam membangun diri.

Ada satu hal yang menarik lagi.

Dalam teori-teori barat, untuk membangun bisnis yang sukses, ada 4 hal yang harus dimaksimalkan. Apa sajakah? Sebutannya 4P (Price, Product, Promotion, and Place).

Namun, para wonder women tersebut menambahkan 1 P lagi, yaitu Pertolongan Allah.
Mau sepandai apapun memanage price, product, promotion, dan placenya, tapi tanpa pertolongan Allah, maka semuanya akan bubar jalan.

Jadi, setiap usaha apapun yang kita bangun, jangan lupa yaa, minta sama Allah, mohon pertolongan sama Allah.

Bandung, 07 Juni 2017

Foto oleh Uti Fitri di Australia

Siapakah yang Kalian Tiru?

Jika istri kita dihina dan direndahkan, kita patut marah dan mengecam si penghina. Tetapi kita tahu, melukai apalagi membunuh orang yang menghina istri kita hanyalah tindakan yang dilakukan orang-orang bodoh. Kita tahu kita tak perlu dan tak pernah pantas melakukan tindakan kriminal nan barbar hanya untuk membuktikan rasa cinta.

Jika orangtua kita dihina dan dilecehkan, kita harus bangkit melawan dan membela harga diri mereka. Tetapi membantai orang yang menghina orangtua kita adalah tindakan yang tak pernah bisa dibenarkan dari sudut pandang manapun. Meski orangtua kita dihina dan dilecehkan habis-habisan, sebesar apapun rasa cinta kita kepada mereka, semarah dan sebenci apapun kita kepada para penghina, kita perlu tahu bahwa membalas mereka dengan hinaan yang sama hanya menunjukkan kekerdilan kita sebagai pecinta—dan melawan mereka dengan kekerasan tak akan pernah menyelesaikan persoalan.

Jika agama kita dihina, kita perlu marah dan merasa sakit hati. Sangat wajar jika kita menunjukkan kecaman kita kepada para penghinanya. Tetapi mengangkat senjata dan membantai mereka adalah hal yang lainnya. Jika kita membunuh para penghina agama kita dengan alasan membela apa yang kita percayai, betapa lemah iman kita karena gagal percaya bahwa Tuhan bisa memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Jika Muhammad diolok-olok dan dilecehkan, kita pantas marah dan kecewa. Kita perlu menunjukkan kekecewaan dan ketidaksukaan kita. Tetapi menyerang dan membantai para penghina adalah tindakan yang tak pernah dibenarkan dalam Islam. Bahkan sekadar membalas para penghina dengan mengolok-olok dan melecehkan balik saja tak pernah diajarkan Sang Nabi.

Waktu itu di Thaif saat Nabi diolok-olok dan dilecehkan secara membabi buta. Muhammad Rasulullah dianggap pendusta. Ia diludahi, dilempari kotoran, dilukai dan diusir. Untuk menghindari kekejaman warga Thaif, Muhammad bahkan berlari dan harus bersembunyi di sebuah kebun anggur milik seorang kaya bernama Rabiah. Di tengah penderitaan Sang Nabi, bahkan Jibril yang sakit hati menawarkan diri untuk mebalas semua yang menimpa Rasul, “Jika engkau mau, wahai kekasih Allah, aku bisa meruntuhkan langit, membalikkan bumi, atau melemparkan gunung-gunung pada mereka!”

Tetapi Rasulullah yang mulia menolak tawaran Jibril itu. “Jangan engkau lakukan, wahai Jibril,” ujar Muhammad SAW, “Mereka memperlakukan aku seperti ini karena mereka belum tahu. Aku mendoakan suatu saat keturunan mereka akan menjadi pengikutku.”

Sepanjang sejarah Muhammad Rasulullah dihina, diolok-olok, dan dilecehkan… Selama itu pula Muslim yang marah, yang bersumbu pendek, membabi buta dan menumpahkan darah para penghina Sang Nabi. Siapakah sesungguhnya yang mereka tiru? Siapakah sesungguhnya yang mereka ikuti?

Barangkali mereka lupa bahwa sebelum menjadi Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang kafir. Sebelum jasad Umar bin Khattab dikebumikan di samping makan Rasulullah karena kedekatan mereka berdua, Umar adalah adalah penentang Islam paling keras dan berkali-kali menyatakan diri akan memenggal kepala Muhammad. Dan sebelum menjadi Pedang Allah, Khalid bin Walid adalah orang yang membantai pasukan Islam. Lalu sehebat apakah kita tak mempercayai hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja? Sebebal apa kita selalu gagal mengikuti teladan dan akhlak Rasulullah?

***

Kemarin, 7 Januari 2015, tiga orang yang mengaku “pembela Muhammad” membantai 12 orang di Paris, Perancis. Serangan terror itu dilakukan di kantor sebuah majalah satir Charlie Hebdo yang sekali waktu pernah memuat karikatur wajah Sang Nabi dan berencana menerbitkan satu edisi yang akan dieditori langsung oleh ‘Muhammad’. Kemarahan dan kebencian telah membutakan hati tiga orang yang meneriakkan nama Muhammad untuk membuat mereka secara biadab memuntahkan ratusan peluru… membantai empat kartunis, dua polisi, dan enam korban lainnya di tempat itu. Ironisnya, salah satu di antara 12 korban itu, adalah seorang polisi Muslim Perancis bernama Ahmed Merabet.

Saya seorang Muslim. Saya selalu marah dan sakit setiap kali Muhammad SAW dihina dan dilecehkan. Tetapi menyaksikan sebuah pembantaian yang mengatasnamakan Muhammad… membuat saya lebih marah, lebih sakit, dan lebih kecewa.

FAHD PAHDEPIE

perpisahan yang baik #2

satu kali kau perlu melakukan hal bodoh dan gila untuk seseorang yang kau sukai.

AKU sudah sampai di Paris.

Saya yang sedang memainkan ponsel terkejut melihat pesan lewat aplikasi whatsapp itu muncul di layar. Pesan dari teman yang pernah saya ceritakan di sini. Tergesa saya membalasnya. ‘Seriously?

Ya. Sedang menunggu koper. Dari bandara sini menuju Paris, aku naik apa?

‘Dia tidak menjemputmu?’

Tidak. Aku bahkan tidak memberi tahunya kalau aku ada di Paris hari ini.

‘Bagaimana kalau dia tak ada di apartemennya?’ Saya mulai merasa agak khawatir. Teman saya menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan kepastian dari hubungannya. Ia butuh penjelasan dan menginginkan sebuah perpisahan yang baik. Untuk itu, ia rela menempuh penerbangan internasional dari Osaka, Jepang ke Paris, Prancis.

Keep reading

Ku Tunggu di Jogja

Sebelum aku pergi, aku berfikir untuk mengajak hatiku berdamai padamu. Mungkin ini saatnya aku mencari tempat baru yang akan membuatku melupamu. Kalaupun tidak berhasil setidaknya aku tidak banyak melihatmu, melihat tawamu, melihat senyummu, punggungmu. Ahh bikin kesal saja.

Tekatku sudah bulat. Aku siap meninggalkan Jogja, aku siap meninggalkan apa-apa tentangmu.
Lalu kalimat “ku tunggu di Jogja” keluar dari lisanmu, aku seakan-akan di hempas kuat oleh reruntuhan benteng pertahananku sendiri yang sudah setahun lebih menjadi tempat bersembunyi dan lari darimu.

Saat itu juga, ku ingat saat kau ciptakan perpisahan sepihak, kau tinggalkan aku tanpa penjelasan, kau menghilang tanpa kabar, lalu hadir lagi setelah ku paksa tuntas.

Aku benar-benar mengutuk segalanya tentangmu, puisi-puisi itu ku bakar habis bersama puing cerita kita. Sampai akhirnya aku sadar, menghilang adalah cara terbaik untuk melupakanmu. Tapi aku lebih menyadari lagi, perihal melupamu tak semudah diam-diam menulis ratusan puisi untukmu.


“Aku belum selesai bicara. Paris itu, baiklah, Paris sering dijuluki Kota Cinta. Sedangkan, Yogyakarta adalah kota tempat jatuh cinta dan patah hati. Lalu, jatuh cinta kembali.”(Desi Puspitasari)

Berau, 30 Agustus 2016