paradigma

The meaning of your life depends on which ideas you permit to use you. Who you think you are determines where you put your attention. Where you direct your attention creates your life experiences, and brings a new course of events into being. Where you habitually put your attention is what you worship. What do you worship in this mindstream called your life?
— 

Gangaji

Y de pronto llega alguien que te mueve las costuras,
rompe paradigmas,
que te hace sentir la magia en sus dedos,
y descubres que no todo es perfecto,
ni como lo planeaste.
Que las cosas suceden cuando el destino las tenía preparadas:
justo a tiempo.
Descubres que hay un universo detrás de sus ojos,
y que la palabra «tarde» nunca había estado tan cerca.
A veces necesitas un empujoncito a la realidad,
de la mano de alguien que jamás pensaste que llegaría,
pero llega.
Y mueve montañas,
sacude banderas,
construye barreras,
recita poemas,
atraviesa océanos,
y te ayuda a ponerte de pie,
y a sentarse a tu lado si es necesario.
Dejas de sentir mariposas en el estómago,
porque esos son juegos de niños;
aquí se siente tranquilidad,
humildad,
sinceridad,
confianza,
amor.
Te olvidas de las personas que alguna vez te hirieron, porque al fin has encontrado el antídoto al dolor.
Has encontrado alguien que tal vez no es de tu medida pero queda bien,
y se ajusta a tus imperfecciones,
las abraza y las vuelve suyas.
Dejas de creer en cuentos de fantasía,
porque tu historia de amor es mucho más bonita que todas esas,
y las canciones se escuchan al fondo
mientras observas a lo único que ha importado desde siempre.
Es cuando llega esa persona que borra cualquier parámetro antes establecido,
y lo que creías imposible ahora se puede en un soplido.
Comprendes que en ocasiones el corazón no tiene la razón al tratar de encajar en un lugar que no tiene espacio para alguien que tiene tanto para dar; pero que en la sonrisa indicada, encuentra el vacío que con tanto esfuerzo ha intentado llenar.
Y qué feliz se siente,
estar completamente llenos de cielos que vislumbrar juntos.
Y, es que,
a su lado, se siente a hogar.
—  Paulina Mora
Me encanta que te enojes mujer  y muestres tus puntos de vistas. Que defiendas lo indefendible hasta hacerlo una causa sensata. Me encanta que no actúes como te enseñaron tu familia, sino que actúes de acuerdo a lo que  quieras creer. Me encanta que decidas por ti y que vivas por ti. Me encanta que por fin te das cuenta lo importante que eres. Me encanta que no te calles cuando te lo pidan porque para ellos la opinión de una mujer no es valida, pero con tus argumentos les demuestras lo equivocado que están . Me encantas mujer no siendo tranquila ni sumisa, que saques la llama innata que hay en ti. que no permitas que nadie te pase a llevar solo porque se crean superior a ti por sus estúpidas creencias misoginias y/o machistas que han gobernado desde tiempos inmemoriales en esta sociedad. Me encanta que te vistas como te de la puta gana. Que no te preocupe violar las reglas de “ser una señorita” , porque una mujer debe ser libre y no actuar de acuerdo a un manual de las buenas costumbre que solo obliga a las mujeres a cumplirlos, porque los hombres siempre han hecho lo que han querido, pero nos hacen creer que no y tenemos que actuar como buenas damas para  lograr casarse con un buen hombre que al final nunca es un buen hombre sino uno que aparenta serlo y en un doble estándar que da mucho que desear.   Me encanta que te sientas orgullosa de ti siendo quien eres y sin tener miedo a ser quien eres por lo que te digan los demás. Me encantas mujer siendo mujer, respetando a las demás mujeres y no cayendo en las trampas del sistema que nos hacen creer que nuestros enemigos somos las mismas mujeres, cuando en realidad tenemos que unir fuerzas y cambiar los paradigmas existentes, gritando una al lado de la otra, toda las injusticias que cometen en contra de nuestro genero y la poca libertad con la que contamos hoy en día.  Y finalmente, me encantas mujer, porque no importa cuantas veces nos intenten invalidar, al fin del camino, y uniendo nuestras fuerzas, haremos este mundo un mejor lugar día a día para que nuestras hijas no tengan miedo de ser mujer
Tentang Tujuan Hidup

Ada teman yang setiap kali saya posting sesuatu di facebook, dia akan menyangkutpautkan dengan pernikahan. Entah bagaimana caranya dia akan selalu melakukan itu. Sampai suatu waktu kawan-kawan saya yang lain bertanya apakah ia tidak bosan dengan pertanyaan begitu terus di tiap postingan saya? Terbayangkan sampai kawan saya jenuh? Saya sendiri sudah imun dengan dia, jadi ya, memaklumi. Mungkin itu life goal dia. Sehingga ketika sekarang dia sudah menikah dan punya anak dua, dia mungkin tidak punya goal lagi. Fyi, saya masih single dan tidak ada masalah dengan itu semenjak saya tidak menjadikannya sebagai life goal. Menikah urusan mudah buat saya. Kalau saya mau, sudah dari bertahun-tahun lalu. Tapi, kalau bukan life goal, buat apa saya memusingkannya?

Meski memang terkadang ketika mengevaluasi diri sendiri saya nampaknya jauh tertinggal dibandingkan dengan teman-teman lain yang saat ini tiap hari posting foto anak-anak mereka, sudah punya cicilan rumah, kemana-mana pakai mobil, posting makanan dan minuman ala XXI dan restoran terkemuka, dan apa-apa yang kalian bisa bayangkan sendiri. Saya? Hidup masih dari beasiswa, kadang dapat fee dari projek, mobil-motor tidak ada uang, apalagi cicilan rumah, foto-foto lucu anak-anak? Ya itulah saya. Saya cuma bisa posting sudut perpustakaan, segelas es cendol yang berharga, keluhan karena biasa pakai LTE tetiba hanya bisa pakai 3G, serta kekesalan karena tidak bisa mengakses Wikipedia karena diblokir pemerintah Turki. Itu saya.

Tapi saya sungguh tidak peduli dengan tujuan hidup orang lain, apalagi jika saya tidak bisa memberikan kontribusi terhadapnya. Apa hak saya mengomentari kehidupan mereka? Terlebih saya punya life goal sendiri yang bukan orang lain yang akan memberikan, tapi buah dari kapalan jari-jari saya pribadi. Jika saya harus menjadi seperti kebanyakan orang, saya bisa saja memilih untuk berkarir di tvOne setelah empat tahun bekerja di sana. Atau saya terus bekerja untuk kemanusiaan di ACT dengan posisi senior dan gaji yang lumayan. Atau di tempat lain yang lebih baik. Motor saya sudah punya, mobil karena malas saja di Jakarta sudah terlalu penuh dengan keegoisan, atau HP bagusan, ah saya bisa. Atau menikah? Well, percayalah, saya bisa saja dengan si biduan kampus yang susah sekali didapatkan namun dengan saya mudah. Haha, gaya! Tapi ini serius. Tampang saya pas-pasan, tapi soal komitmen, bisa diadu. Dan saya sangat menghargai wanita sebagai partner, bukan di bawah ketiak laki-laki. Tapi masalahnya, life goal saya bukan itu. Ketika saya harus kehilangan orang yang saya cintai karena life goal di depan mata, saya rela. Dengan catatan bukan karena saya yang mau pisah. Ketika saya harus meninggalkan kenyamanan di Jakarta demi sesuatu yang telah lama saya impikan, saya rela.

Saat ini saya sedang berjuang menyelesaikan PhD saya dengan santai. Penuh kesulitan, tapi saya menikmati (makanya tidak selesai-selesai, jangan diikuti, haha). Sambil mendapatkan pengalaman baru jalan tidak jelas di negeri orang. Tahun depan saya berangkat Erasmus ke Jerman. Dulu, waktu kuliah di UI, baca tentang Erasmus saya pasti minder duluan. Apalah saya ini tidak punya prestasi, IPK sekarat, English blepotan, tidak pernah terpikirkan untuk daftar. Namun takdir berkata lain, di pengumuman penerimaan Erasmus di Istanbul University, nama saya muncul setelah sebelumnya saya tidak berharap banyak. Saya punya cerita khusus tentang ini sebenarnya. Nanti bisa saya ceritakan. Well, insallah saya berangkat. Ini adalah bagian dari life goal saya yang tidak terduga. Dan saya sangat menikmati ke-tak-terdugaan dalam hidup.

Ada hal-hal yang harus kita korbankan untuk mencapai atau menjadi sesuatu. Jika itu adalah paradigma umum; menikah atau bekerja, tak masalah. Ulat harus bersemedi lama untuk menjadi kupu-kupu. Kecebong harus bersabar untuk menjadi katak. Lalu kita manusia apakah tidak bisa bersabar untuk menjadi dan mencapai sesuatu? Ada hal-hal yang mungkin orang lain sudah capai, tapi ada juga hal-hal yang ada di dalam diri kita dan mereka tidak punya. Jadilah dan capailah sesuatu dengan tangan kita; tidak perlu berusaha sefrekuensi dengan tujuan hidup orang lain.

¿Será que alguien ha pensado como yo? Que le den confusiones sobre no saber si se esta alucinando o si se están abriendo los ojos. ¿Por qué llamar rojo al rojo? ¿Por hablar universalmente? ¿Y si el rojo en realidad fuese azul? “THE GIVER” habla un poco de eso, de algún post anterior (decir lo siento sin sentirlo) y de como decimos las cosas por solo seguirlo, tal vez tradición.
> Este mundo y sus paradigmas …

Emang Kamu Nikah Buat Senang-Senang Doank?

Nikah kok ngajak susah? Maaf akhi, ayah dan bunda ana berjuang mati-matian untuk membuat anaknya bahagia. Lalu kamu datang meminang hanya untuk ngajak susah? Belajar lagi akhi, belajar untuk menghargai keringat orang tua yang membesarkan anaknya. Tapi lain halnya kau mengajak berjuang, ada tujuan perjuangan tersebut. Maka denga izin Allah akan ana meridhoinya.


Speecheless  juga baca ending tulisan ini.

Agaknya paradigma ini perlu diluruskan. Jika mau menelisik perkataan; “Ukhti maukah saya ajak susah jika ukhti menjadi istri saya kelak?” Sebenarnya itu bukanlah ajakan secara langsung untuk ngajak hidup susah, melainkan tantangan kepada seorang calon istri; apa dia siap sekiranya datang masa susah saat bersama suami? Apa dia masih tetap setia menjadi pendamping saat kondisi terpuruk?

Coba tanyakan pada setiap lelaki di dunia ini, apakah mereka rela mengajak orang yang mereka cintai dalam keadaan susah?

Jika kamu seorang istri, tanyakan pada suamimu; apakah dia mengajakmu untuk hidup menderita?

Jika kamu seorang anak, tanyakan pada ayahmu; apa dia mengajak ibumu untuk hidup sengsara?

Duhai istri, lihatlah tetesan keringat yang terjatuh dari dahi suamimu; pergi pagi, pulang petang. Itu untuk kebahagiaanmu.

Dan kamu, sebagai anak … coba lihat rauh wajah ayahmu yang sudah mulai menua. Lalu raba tangannya. Apa kau masih mengira umur yang dia habiskan untuk ibumu adalah warsa-warsa lara?

Tidak ada seorang lelaki pun yang rela untuk mengajak istrinya dalam kesusahan. Melainkan ia akan berusaha menghilangkan kesusahan itu.

Tapi, apakah kamu mengira menikah itu kesenangan belaka?

Apa kamu mengira pernikahan itu seperti di film-film? Penuh romantisme. Indah nian menatap purnama bersama sang pujaan hati.

Saya tidak menampik pentingnya materi dalam bahtera rumah tangga. Tapi itu bukanlah jaminan bahwa hidupmu akan senang. Itu bukanlah jaminan kamu akan terbebas dari hidup susah.
Berapa banyak orang kaya yang tak bisa menikmati rumah tangganya.

Atau, dalam perkara jabatan? Apakah itu bisa menjamin dari terbebas hidup susah?
Berapa banyak orang-orang yang memiliki jabatan tinggi, tapi biduk rumah tangganya karam.

Bahkan popularitas, itu tidak mampu menjamin hidupmu akan baik-baik saja. Akan senang-senang saja.

Salah satu hal yang paling penting dalam pernikahan adalah kesiapan mental. Percuma banyak harta, jabatan tinggi, memiliki popularitas, tapi tak memiliki mental untuk menjadi suami atau istri.

Lelaki yang bertanya kepada wanita dengan pertanyaan; ”Siap hidup susah nggak, nanti?” Bukan ajakan untuk hidup susah. Melainkan untuk mengetahui, apa si wanita sudah siap mentalnya jika masuk ke dalam zona itu.

Kamu pasti paham tentang pasang surut kehidupan. Tentu saja kamu dan suamimu merencanakan hal-hal yang indah setelah menikah. Tapi jangan lupa, Dia sang pembuat rencana berhak atas segalanya. Termasuk mengubah rencanamu.

Ngajak hidup susah itu bukan syarat, melainkan seorang lelaki tahu bagaimana kedudukannya dalam rumah tangga. Ibarat medan perang, seorang panglima yang menghadapi masa kritis dengan pasukannya akan berusaha sekuat mungkin agar mereka bisa keluar dari zona itu. Dan tentu saja, itu tak bisa dilakukan oleh sang panglima seorang diri. Melainkan perlu peran pasukan untuk bahu membahu agar tujuan itu tercapai.

Begitulah yang diinginkan suami; jika nanti “kita” dalam keadaan susah, apa kamu siap tetap berada di sampingku? Apa kamu masih setia menemani perjalananku? Menjadi bahu tempat bersandar. Menjadi kemudi, agar tak hilang arah.

Saya sendiri pernah berkata kepada calon istri saat akan menikah;  ”Apa kamu siap menderita? Saya seorang mahasiswa, dan saya masih belum bekerja (ketika itu masih pengangguran). Jika kamu siap, kita langsungkan pernikahan ini. Jika tidak, silahkan berpikir ulang.”

Saat itu dia menjawab; ”Saya siap memulai dari nol.” 

Menikah itu mudah; tapi kehidupan setelahnya yang perlu diperjuangkan.

Menikah itu bukan hanya menyatukan dua hati. Bukan hanya menyatukan dua pemikiran. Tapi menyatukan dua buah keluarga. Menyatukan adat, budaya dari masing-masing pihak. Menyatukan selera, se-iya, se-kata, satu dalam harmoni. Mendayung bersama dalam biduk rumah tangga.

Menikah itu menyelaraskan visi dan misi. Agar satu tapak. Agar satu langkah. Agar satu jalan. Semusim dalam balutan senyum. Se-payung dalam gerimis lara. Dan senampan dalam pesona surga.


Surabaya, 09:53 WIB
22 07 17


Yuk baca; Menikah Muda: Antara Terkompori atau Tuntuntan (Sebuah Paradigma

anonymous asked:

sabia que deus abomina os gays?

Quer ser tão puro e tão inteligente que ainda escreve o nome de Deus errado. Deus é nome próprio, além de ser um nome divino, portanto se escreve com letra maiúscula, só pra começar. Primeiro que, você não sabe nada sobre mim ou sobre a minha vida. É muito subjetivo falar que eu sou gay, afinal eu sou mesmo e nunca escondi isso de ninguém. Eu sou consciente dos meus erros e dos meus pecados, não preciso que apontem e me digam. Não vai ser você ou qualquer outra pessoa que vai mudar meu pensamento ou a minha sexualidade. Você, seu filho ou qualquer outra pessoa não irão se tornar gays um dia porque viu, tocou, encostou ou tem alguma ligação com um homossexual, seja ela de qualquer tipo. Não vão virar gays por verem dois rapazes ou duas mulheres se beijando na rua. Pra começar, ninguém gosta de ver qualquer pessoa se beijando na rua, seja elas quem forem ou de quaisquer outras distintas sexualidades. Eu mesmo como gay não gosto, acho ridículo, mas também não julgo quem faz. Você se acha normal por ser hétero? Então me explique o que é ser normal pra você? Porque pra mim, a anormalidade é questão de paradigma. Realmente não tem como falar de sexualidade e não entrar em questões religiosas, eu entendo, mas aí eu te pergunto. Homossexualidade é o único pecado citado na bíblia? A sociedade abandona outros pecados com mil desculpas para focar em apenas um “pecado”, porque pelo visto ser gay é o único “pecado” presente na bíblia. Se você for realmente parar para pensar em quem vai para o céu, te garanto que meio mundo está com um pé no inferno. A bíblia também fala que nem os adúlteros, devassos, idólatras, ladrões, sodomitas, bêbados, avarentos, maldizentes, roubadores e efeminados (não necessariamente nessa ordem) herdarão o reino de Deus. Procure entender que meio mundo, além dos homossexuais também não vão para o céu se for assim. Você quer mesmo falar pra mim que Deus não vai me perdoar por prazer carnal? Eu realmente não sei o que vai acontecer comigo, eu posso morrer agora, amanhã ou em 75 anos, como você ou qualquer outra pessoa, mas o que eu quero um dia é morrer feliz, sabendo que fiz tudo que sempre tive vontade de fazer. Agora o que cabe a todo mundo é a escolha final de aceitar Jesus ou não e acredite, eu já aceitei Jesus (recentemente), mas não parei de viver. Eu continuo ouvindo as minhas músicas mundanas e adoro, continuo fumando e gosto também, porque sei que me acalma. Eu faço isso ou tudo isso porque Deus me deu o livre arbítrio, ele deu o livre arbítrio para as pessoas escolherem o que querem para suas vidas, para elas serem felizes da forma que acharem melhor e não para outro qualquer chegar e dizer o que é certo e errado. Agora você vem aqui me dizer que Deus abomina a prática do homossexualismo pra que? Você acha mesmo que vai me fazer mudar? Que eu vou deixar de ser gay porque você me disse que Deus abomina ou pior ainda, porque te incomoda e você usa de passagens bíblicas para camuflar o seu preconceito? Filho(a) te garanto que no dia do juízo final não vai ter você, mãe, pai, irmãos, tios, primos ou qualquer outra pessoa. É Deus e eu, é no que eu acredito! Então sua opinião assim como todas as outras que já passaram por aqui continuam sendo a mesma coisa pra mim, nada. No dia do juízo final, quem vai me julgar é Deus e se ele achar que eu sou merecedor, eu vou entrar sim lindo e belo no reino dos céus, sabe porque? PORQUE EU MERECI. Enquanto isso eu estou vivo, eu tenho o livre arbítrio como qualquer outra pessoa e não vou deixar de viver, de buscar a minha felicidade na terra por questão de opiniões alheias. Só te resta aceitar que eu não vou mudar para agradar ninguém e muito menos você. Coloca na sua cabeça que você não é Deus para me dizer que ele abomina o que você abomina e se acha que é pecado, de boa, mas fica na sua, guarda pra você porque isso nunca te afetará em nada, em toda a sua vida, acredite, nunca mesmo. Da mesma forma que será comigo, será com você também, será você e Deus um dia e acredite, você também será julgado por coisas que já fez. Então segue sua vida, faça sua parte e se resolva com Deus. Procure concertar os seus pecados, os seus erros e não os dos outros. Viva para si e um dia Deus vai saber que você fez a sua parte, porque a minha eu já estou fazendo. Passar bem!

8 LECCIONES QUE NOS DEJÓ FREUD.

Un día como hoy, de 1856 nació Sigmund Freud, conocido como el Padre del Psicoanálisis y una de las figuras intelectuales más importantes del siglo XX. Con más de veinte tomos, las Obras Completas de Freud nos enseñan un nuevo paradigma para el entendimiento del psiquismo, sin embargo, en esta ocasión les compartimos 8 lecciones que este importante personaje nos dejó como parte de su legado.

1.     La mayor parte de lo que ocurre en nuestra vida psíquica no pertenece al mundo consciente.

Así es, gracias a Freud, hoy en día sabemos que la mayoría de los procesos que ocurren en nuestro psiquismo son imperceptibles para nosotros mismos, y cuando se dejan notar, lo hacen de forma disfrazada.

Originally posted by amphetaminemindfucked

2.     El ser humano no tiende únicamente a la búsqueda del placer y la felicidad.

Después de muchos años de observación y análisis, Freud alcanzó a notar que, contrario a lo que podríamos creer, no tendemos únicamente a buscar el placer. Es entonces cuando escribe uno de sus más famosos textos “Más allá del principio del placer”, en el cual explica el concepto y metapsicología de la pulsión de muerte.

Originally posted by mrcmfbyo

3.     La sexualidad humana no inicia durante la pubertad, sino desde la infancia.

Efectivamente, gracias a Freud hoy en día sabemos que los niños no son pequeños querubines insensibles a la excitación sexual. Desde el inicio de la vida el erotismo del niño es estimulado por la persona que se encarga de los cuidados del infante, inaugurando así el inicio del desarrollo psicosexual. Freud describe a los niños como “perversos polimorfos”,  ya que buscan el placer sexual de diversas maneras.

Originally posted by yesilliniz


4.     La perseverancia lleva al éxito.

Aunque esto no aparece escrito literalmente en las Obras Completas, no cabe la menor duda de que Sigmund Freud es un ejemplo de perseverancia y disciplina. A pesar de las diversas críticas y rechazos que sufrió por parte del resto de la comunidad médica, jamás desistió en propagar los resultados de sus observaciones, ni se doblegó ante las amenazas que surgían por sus declaraciones. Como él mismo afirmó: “He sido un hombre afortunado; en la vida nada me ha sido fácil”.

Originally posted by selcandy

5.     El pasado tiene vigencia en la actualidad, olvidarlo no lo sanará.

Gracias a Freud conocemos la importancia de nuestra propia historia de vida. Las figuras importantes durante la infancia, así como el vínculo que pudimos establecer con ellos, dejarán huellas permanentes que tendrán vigencia por el resto de nuestras vidas. Olvidar aquellas cosas que nos lastimaron no ayudará a sanarlas, sólo las mantendrá alejadas de nuestra conciencia, generando efecto sin que logremos notarlo. “Recordar es el mejor modo de olvidar”.

Originally posted by clearvisionary

6.     El poder de las palabras.

Uno de los aportes más importantes del padre del psicoanálisis fue darle a las palabras de los que padecían algún tipo de sufrimiento psíquico la importancia que merecían, la asociación libre constituye el método principal mediante el cual podemos indagar en el inconsciente del paciente. La palabra y la escucha constituyen un elemento central en la teoría psicoanalítica.

Originally posted by rozkazaz

7.     “El que ama se hace humilde, aquellos que aman, por decirlo de alguna manera, renuncian a una parte de su narcisismo”.

En diversos textos Freud nos demuestra como la capacidad de amar y cuidar a los otros es un indicio de madurez psíquica, abre la posibilidad de la trascendencia y de la fortaleza psíquica.

Originally posted by teensquotess

8.     Nuestros sueños son manifestaciones de los contenidos del inconsciente.

Antes de Freud el significado de los sueños se mantenía como un misterio. Tuvo la sensibilidad de explicarlos como formaciones del inconsciente, lo que permitiría a los analistas una vía regia a comprender sus contenidos a través de sus relatos en el diván.  Como los sueños, los chistes, los lapsus lingues, olvidos, etc. no volvieron a ser los mismos después de Freud.

Originally posted by simplybridal

Ketika Anak Bertanya Tentang Allah

Allah itu Siapa?

Utamanya pada masa emas 0-5 tahun, anak-anak menjalani hidup mereka dengan sebuah potensi menakjubkan, yaitu rasa ingin tahu yang besar.

Seiring dengan waktu, potensi ini terus berkembang (Mudah-mudahan potensi ini tidak berakhir ketika dewasa dan malah berubah menjadi pribadi-pribadi “tak mau tahu” alias ignoran, hehehe).

Nah, momen paling krusial yang akan dihadapi para orang tua adalah ketika anak bertanya tentang ALLAH. Berhati-hatilah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan maha penting ini. Salah sedikit saja, bisa berarti kita menanam benih kesyirikan dalam diri buah hati kita. Nauzubillahi min zalik, ya…

Berikut ini saya ketengahkan beberapa pertanyaan yang biasa anak-anak tanyakan pada orang tuanya:

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”
Tanya 2: “Bu, Bentuk Allahitu seperti apa?”
Tanya 3: “Bu, Kenapa kita gak bisa lihat Allah?”
Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”
Tanya 5: “Bu, Kenapa kita harus nyembah Allah?”

Tanya 1: “Bu, Allah itu apa sih?”

Jawablah:

“Nak, Allah itu Yang Menciptakan segala-galanya. Langit, bumi, laut, sungai, batu, kucing, cicak, kodok, burung, semuanya, termasuk menciptakan nenek, kakek, ayah, ibu, juga kamu.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

Tanya 2: “Bu, bentuk Allah itu seperti apa?”

Jangan jawab begini:

“Bentuk Allah itu seperti anu ..ini..atau itu….” karena jawaban seperti itu pasti salah dan menyesatkan.

Jawablah begini:

“Adek tahu ‘kan, bentuk sungai, batu, kucing, kambing,..semuanya.. nah, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa pun yang pernah kamu lihat. Sebut saja bentuk apa pun, bentuk Allah itu tidak sama dengan apa yang akan kamu sebutkan.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

فَاطِرُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٲجً۬ا وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَـٰمِ أَزۡوَٲجً۬ا‌ۖ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِ‌ۚ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَىۡءٌ۬‌ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١١)

[Dia] Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan [pula], dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
[baca juga Melihat Tuhan]

Tanya 3: “Bu, kenapa kita gak bisa lihat Allah?“

Jangan jawab begini:

Karena Allah itu gaib, artinya barang atau sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Jawaban bahwa Allah itu gaib semata), jelas bertentangan dengan ayat berikut ini.
Al-Hadid 57) : 3

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir; Yang Zahir dan Yang Batin ; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dikhawatirkan, imajinasi anak yang masih polos akan mempersamakan gaibnya Allah dengan hantu, jin, malaikat, bahkan peri dalam cerita dongeng. Bahwa dalam ilmu Tauhid dinyatakan bahwa Allah itu nyata senyata-nyatanya; lebih nyata daripada yang nyata, sudah tidak terbantahkan.

Apalagi jika kita menggunakan diksi pilihan kata) “barang” dan “sesuatu” yang ditujukan pada Allah. Bukankah sudah jelas dalil Surat Asy-Syura di atas bahwa Allah itu laysa kamitslihi syai’un; Allah itu bukan sesuatu; tidak sama dengan sesuatu; melainkan Pencipta segala sesuatu.

Meskipun segala sesuatu berasal dari Zat-Sifat-Asma Nama)-dan Af’al Perbuatan) Allah, tetapi Diri Pribadi Allah itu tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af’al. Diri Pribadi Allah itu tidak ada yang tahu, bahkan Nabi Muhammad SAW. sekali pun. Hanya Allah yang tahu Diri Pribadi-Nya Sendiri dan tidak akan terungkap sampai akhir zaman di dunia dan di akhirat.

[Muhammad melihat Jibril] ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu Yang Meliputinya. Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak [pula] melampaui-Nya. (Q.S. An-Najm: 16-17)
{ini tafsir dari seorang arif billah, bukan dari saya pribadi. Allahua’lam}

Jawablah begini:

“Mengapa kita tidak bisa melihat Allah?”
Bisa kita jawab dengan balik bertanya padanya (sambil melatih adik comel berpikir retoris)
“Adik bisakah nampak matahari yang terang itu langsung? Tidak ‘kan..karena mata kita bisa jadi buta. Nah,melihat matahari aja kita tak sanggup. Jadi,Bagaimana kita mau melihat Pencipta matahari itu. Iya ‘kan?!”

Atau bisa juga beri jawaban:
“Adek, lihat langit yang luas dan ‘besar’ itu ‘kan? Yang kita lihat itu baru secuil dari bentuk langit yang sebenarnya. Adek gak bisa lihat ujung langit ‘kan?! Nah, kita juga gak bisa melihat Allah karena Allah itu Pencipta langit yang besar dan luas tadi. Itulah maksud kata Allahu Akbar waktu kita salat. Allah Mahabesar.”

Bisa juga dengan simulasi sederhana seperti pernah saya ungkap di postingan “Melihat Tuhan”.
Silakan hadapkan bawah telapak tangan Adek ke arah wajah. Bisa terlihat garis-garis tangan Adek ‘kan? Nah, kini dekatkan tangan sedekat-dekatnya ke mata Adek. Masih terlihat jelaskah jemari Sobat setelah itu?

Kesimpulannya, kita tidak bisa melihat Allah karena Allah itu Mahabesar dan teramat dekat dengan kita. Meskipun demikian, tetapkan Allah itu ADA. “Dekat tidak bersekutu, jauh tidak ber-antara.”

Tanya 4: “Bu, Allah itu ada di mana?”

Jangan jawab begini:

“Nak, Allah itu ada di atas..di langit..atau di surga atau di Arsy.”

Jawaban seperti ini menyesatkan logika anak karena di luar angkasa tidak ada arah mata angin atas-bawah-kiri-kanan-depan-belakang. Lalu jika Allah ada di langit, apakah di bumi Allah tidak ada? Jika dikatakan di surga, berarti lebih besar surga daripada Allah…berarti prinsip “Allahu Akbar” itu bohong? [baca juga Ukuran Allahu Akbar]

ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۚ
Dia bersemayam di atas ’Arsy. <– Ayat ini adalah ayat mutasyabihat, yaitu ayat yang wajib dibelokkan tafsirnya. Kalau dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita mengenal makna denotatif dan konotatif, nah.. ayat mutasyabihat ini tergolong makna yang konotatif.

Juga jangan jawab begini:
“Nak, Allah itu ada di mana-mana.”
Dikhawatirkan anak akan otomatis berpikiran Allah itu banyak dan terbagi-bagi, seperti para freemason atau politeis Yunani Kuno.

Jawablah begini:

“Nak, Allah itu dekat dengan kita. Allah itu selalu ada di hati setiap orang yang saleh, termasuk di hati kamu, Sayang. Jadi, Allah selalu ada bersamamu di mana pun kamu berada.”
[baca juga Mulai Saat Ini Jangan Sebut-sebut Lagi Yang Di Atas]

“Qalbun mukmin baitullah”, ‘Hati seorang mukmin itu istana Allah.” Hadis)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُواْ لِي وَلْيُؤْمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat.(Q.S. Al-Baqarah 2) : 186)

وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ‌ۚ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.(Q.S. Al-Hadiid: 4)

وَلِلّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجْهُ اللّهِ
Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. (Q.S. Al-Baqarah 2) : 115)

“Allah sering lho bicara sama kita..misalnya, kalau kamu teringat untuk bantu Ibu dan Ayah, tidak berantem sama kakak, adek atau teman, tidak malas belajar, tidak susah disuruh makan,..nah, itulah bisikan Allah untukmu, Sayang.” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

وَٱللَّهُ يَهۡدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ
Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (Q.S. Al-Baqarah: 213)

Tanya 5: “Bu, kenapa kita harus nyembah Allah?”

Jangan jawab begini:

“Karena kalau kamu tidak menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke neraka. Kalau kamu menyembah Allah, kamu akan dimasukkan ke surga.”

Jawaban seperti ini akan membentuk paradigma (pola pikir) pamrih dalam beribadah kepada Allah bahkan menjadi benih syirik halus khafi). Hal ini juga yang menyebabkan banyak orang menjadi ateis karena menurut akal mereka,”Masak sama Allah kayak dagang aja! Yang namanya Allah itu berarti butuh penyembahan! Allah kayak anak kecil aja, kalau diturutin maunya, surga; kalau gak diturutin, neraka!!”

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya.” (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani)

Jawablah begini:

“Nak, kita menyembah Allah sebagai wujud bersyukur karena Allah telah memberikan banyak kebaikan dan kemudahan buat kita. Contohnya, Adek sekarang bisa bernapas menghirup udara bebas, gratis lagi.. kalau mesti bayar, ‘kan Ayah sama Ibu gak akan bisa bayar. Di sungai banyak ikan yang bisa kita pancing untuk makan, atau untuk dijadikan ikan hias di akuarium. Semua untuk kesenangan kita.

Kalau Adek gak nyembah Allah, Adek yang rugi, bukan Allah. Misalnya, kalau Adek gak nurut sama ibu-bapak guru di sekolah, Adek sendiri yang rugi, nilai Adek jadi jelek. Isi rapor jadi kebakaran semua. Ibu-bapak guru tetap saja guru, biar pun kamu dan teman-temanmu gak nurut sama ibu-bapak guru.”
(Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

إِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِىٌّ عَنِ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya [tidak memerlukan sesuatu] dari semesta alam. (Q.S. Al-Ankabut: 6)
[baca juga Mengapa Allah Menciptakan Makhluk?]

Katakan juga pada anak:

“Adek mulai sekarang harus belajar cinta sama Allah, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!” (Ucapkan dengan menatap mata anak sambil tersenyum manis)

“Kenapa, Bu?”

“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Allah tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Allah selalu ada untuk kamu. Nanti, Allah juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Adek seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Paman, Bibi, atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”


Sumber: Anak Islami

Tulisan : Produktif

Kita dan sekitar kita sering keliru dalam memaknai “produktifitas” menjadi “rutinitas”. Ketika mungkin kita pernah dianggap tidak bekerja hanya karena kita tidak berangkat pagi dan berseragam seperti kebanyakan. Ketika kita dianggap pengangguran hanya karena kita terlihat santai-santai saja di rumah tanpa memiliki kantor. Ketika kita dianggap bekerja serabutan/tidak jelas hanya karena definisi pekerjaan kita tidak dimengerti oleh orang lain.

Kita tahu bahwa produktifitas itu berbeda dengan rutinitas. Dan kadang, meski kita tahu kita pun tetap mengejar “rutinitas” demi dianggap ada oleh orang lain. Padahal kita sendirilah yang paling memahami tentang apa yang kita kerjakan.

Segala aktivitas yang menjadi rutinitas belum tentu produktif, hanya dilakukan berulang-ulang menjadi sebuah ritme. Dan betapa kita menyaksikan masyarakat kita terjebak dalam rutinitas tanpa produktifitas. Ketika jam kerja yang begitu banyak tidak sebanding dengan karya-karya produktif yang dihasilkan. Tidak ada kebaruan, tidak ada inovasi. Hanya berkutat pada hal serupa.

Sebagai generasi milenial. Kita dihadapkan pada kondisi yang sangat dinamis, dimana “pekerjaan” baru bermunculan. Tidak pernah terbanyangkan dulu mungkin pekerjaan admin, bekerja dengan bermain handpohone, mengendalikan media sosial, dan sebagainya. Kita difasilitiasi oleh begitu banyak perkembangan teknologi yang membuat produktifitas kita berkali-kali lipat tanpa harus berpindah tempat.

Dan ditengah kesadaran itu, di sanubari terkecil kita seakan tidak tenang. Seolah rezeki hanya ada ditempat-tempat yang pasti. Dan kita mencari rutinitas, demi melampiaskan ketidaktenangan kita. Hanya saja, kemudian begitu banyak yang terjebak di dalamnya.

Kita akan dihadapkan pada keputusan tentang pekerjaan, tentang karir, tentang bagaimana kita mengais rezeki untuk keluarga kita nanti. Dan kita akan berhadapan pada kenyataan, impian, paradigma, dan pandangan orang-orang terdekat kita. Seolah-olah keputusan kita tidak lagi semata untuk hidup kita, tapi juga untuk menyenangkan orang lain. Dan kita semakin sulit untuk memenangkan apa yang hati kecil kita katakan.

Yogyakarta, 3 Maret 2017 | ©kurniawangunadi