papa bale

The Way I Lose Her: Almost is Never Enough

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain– 

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

                                                           ===

.

Hari sudah menyentuh pukul setengah 11 malam. Karena merasa sudah terlalu lama nongkrong di luar, kami bertiga setuju untuk kembali ke sekolah. Tapi sebelum pulang, Ikhsan meminta Cloudy untuk mengantarkannya beli martabak dulu di sekitar daerah Kosambi Bandung, karena dia baru inget kalau punya janji beliin martabak buat anak-anak panitia yang lain. Tolol emang.

Karena jalanan sepi banget, Cloudy jadi tidak perlu terlalu was-was membawa kendaraannya melaju menembus udara Bandung yang dingin banget kalau udah malem gini. Kami berdua berhenti tepat di depan pasar Kosambi. Di sana ada cukup banyak jajanan malam seperti tukang martabak, roti bakar, gorengan, lupis, kue pasar, surabi, juga tukang bubur 24 jam yang paling terkenal di Bandung. Bubur Bejo. 

Ikhsan memesan martabak, sedangkan gue berjalan menunju salah satu kios rokok di sana.

-Gue nggak nemu foto Bubur Bejo yang bagus nih. Btw kapan-kapan kita Night Culinary di Bandung bareng yuk!!-

 .

Ada lemari es kecil di kios tersebut, gue buka dan melihat-lihat isi di dalamnya. Seperti biasa, tanpa sadar gue mengambil Teh Kotak dingin walau sekarang Bandung lagi dingin banget. Sejenak setelah mau membayar, gue baru inget kalau ternyata gue sudah berjanji untuk tidak menyentuh minuman ini lagi.

“Bikin penyakit nih minuman.” Tukas gue dongkol dalam hati.

Tapi, untuk mengembalikannya ke dalam kulkas pun gue juga enggan. Gimana ya, rasa-rasanya melepaskan karena dipaksa keadaan padahal masih nyaman itu berat banget rasanya. Seperti sengaja nyisain kulit ayam Kiepsi buat dimakan di akhir, tapi ternyata malah dicolong temen. Bete banget rasanya.

Gue puter-puter itu Teh Kotak dingin, beberapa kali menghitung jari sambil bergumam, “Beli? Jangan? Beli? Jangan? Beli? Jangan?”, pengen beli tapi bikin bete. Pengen nggak beli, tapi dingin-dingin begini enaknya minum Teh Kotak. Bener deh malem-malem itu enaknya sambil minum Teh Kotak dingin. Sambil jalan-jalan di mobil, buka kaca, atau naik motor. Bawaanya adem kaya kipas angin kosmo-wadesta.

Karena masih sibuk merhatiin Teh Kotak di tangan, tanpa gue sadari Cloudy membuka kulkas yang ada di hadapan gue itu, mengambil Aqua dingin lalu dengan tiba-tiba merebut Teh Kotak yang sedang gue pegang dan menggantinya dengan Aqua dingin

Gue langsung menengok. Dan Cloudy hanya diam mengembalikan Teh Kotak itu ke tempatnya.

“Jangan minum itu lagi.” Ia kemudian menatap gue dan menunjuk ke arah Aqua yang lagi gue genggam, “Minum ini aja. Teh Kotak itu nggak baik buat kesehatan badan,” Kata Cloudy sambil membayar minuman dingin itu ke akang-akang di dalem kios rokok,

“..Juga nggak baik buat otak.” Sambungnya lagi.

Gue tidak menjawab. Gue hanya manggut-manggut aja dinasihatin gitu sama ini orang. Yaudah deh toh dia ada benarnya juga. Mungkin yang gue butuhkan sekarang adalah orang yang memang berani dengan terang-terangan memukul gue ketika gue hampir aja melangkah ke jalan yang salah lagi.

Gue mengelupasi plastik di tutup botol itu. Gue lihat dari jauh Ikhsan masih menunggu antrian martabaknya dibuatkan. Karena warung martabaknya penuh dan banyak yang antri, gue sama Cloudy lebih memilih berdiri di depan kios rokok ketimbang nemenin si Anak Tukang Duku itu ngantri beli martabak.

“Are you okay?” Kata Cloudy tiba-tiba setelah melihat ke arah Ikhsan juga.

“Ngg?” Gue menengok ke arahnya, “Honestly.. I don’t know,” Balas gue jujur sambil meminum Aqua dingin itu lalu menutupnya kembali.

“You feel…” Ada jeda sedikit di mulut Cloudy,“…different.” Lanjutnya lagi.

Gue menengok ke arahnya, lalu kembali melihat ke depan.

“Ya, aku juga merasanya begitu.”

Kami berdua masih berdiri saling bersampingan dan melihat ke arah yang sama, ke tukang martabak yang jaraknya tak jauh ada di depan kami berdua. Jalanan yang lenggang serta percakapan-percakapan para muda-mudi yang nongkrong malam-malam seakan menjadi backsound tersendiri buat kami berdua malam ini.

“Padahal sebelumnya, aku bisa merasakan semuanya loh.” Tukas gue sambil memainkan plastik tutup botol Aqua itu.

“Maksudnya?” Tanya Cloudy tanpa melihat ke arah gue yang ada di sampingnya.

“Aku sempat merasa ini semua itu nyata, seperti akan berhasil, seperti hanya tinggal bertahan sedikit lagi dan tidak mungkin gagal. Seperti sudah berlari panjang, lalu tiba-tiba kau melihat garis finish di depan sana. Meski sudah tergopoh-gopoh, rasanya aku pasti bisa menyelesaikan ini semua dan keluar menuju garis Finish,” Gue kembali meneguk Aqua dingin itu dalam-dalam, “Tapi sekarang? Aku masih merasakan perasaan itu, tapi entah kenapa rasa-rasanya jadi berbeda.”

“Berbeda gimana?”

“Asing.”

“Asing?”

“Iya, Asing. Seperti menjadi turis di kotamu sendiri.”

“Seasing itu kah?”

“Entah, tapi rasanya seperti tidak diterima di lingkungan yang kau buat sendiri.”

Gue menghela napas panjang dan melihat jauh ke arah jalanan di depan.

“Kalau tau jadi seperti ini, kalau tau malah berakhir seperti ini…”

Belum sempat melanjutkan kalimat, tiba-tiba Cloudy bersenandung,

“And I never meant to cause you trouble, And I never meant to do you wrong, And I, well, if I ever caused you trouble, Oh no, I never meant to do you harm.” Katanya sambil melantunkan salah satu Reff dari lagu Coldplay – Trouble.

Gue langsung ketawa kecil, “Nah! Iya kaya gitu!”

Cloudy juga tertawa kecil. Tumben, ini pertama kalinya kami bisa akur kaya begini. Biasanya di setiap gue ngomong, pasti aja jadi dosa di muka dia. Kayaknya semua yang gue omongin itu mirip sama orang lagi makan mie rebus terus bersin sampe mie yang dia makan keluar semua dari hidung. Alias dihina abis-abisan.

Ada hening sebentar sebelum kemudian gue kembali melanjutkan cerita lagi,

“Ini seperti.. Aku tau semua ini salah, iya aku sadar. Aku hanya akan mengulang-ngulang kesalahan yang sama lagi dan lagi. Tapi bukannya merasa kecewa, aku malah merasa sakit seperti ini hanya mirip sebuah cubitan kecil. Entah karena aku yang makin kuat, atau memang aku sudah kebal dikecewakan seperti ini?” Ujar gue,

“Dan kamu tau apa yang paling menyebalkan dari itu semua?”

“Apa?” Tanyanya.

“Aku takut aku nggak masalah sama sakit ini. Seperti kecanduan. Kecanduan untuk disakiti. Dan itu yang paling menakutkan. Aku jadi merasa tidak akan takut lagi kehilangan, meski tau bakal disakitin lagi, bakal dilukakan lagi, aku tidak peduli. Aku akan terus mengejarnya. Dan itu tuh benar-benar menakutkan.”

“Pathetic banget sih jadi cowok.”

“Maybe I am.”

“Can I give my opinion?”

“Sure.” Jawab gue meski tahu pendapatnya bakal nyakitin banget.

“Di mata wanita, laki-laki seperti ini itu menyedihkan sekali. Gimana ya, tapi rasanya sudah tidak menarik lagi. Kehilangan jati diri menariknya di mata perempuan. Mungkin analoginya seperti ini, kamu tau kan kalau perempuan seneng banget belanja lipstik? Nah seseneng-senengnya perempuan belanja lipstik tapi kalau lipstiknya patah, mau mahal juga itu perempuan ogah buat dapetin lipstik itu lagi. Walaupun ya sebenarnya ya masih bisa dipakai sih itu lipstik.”

Gue mendengarkan pelan-pelan sambil mencoba elus-elus hati.

“Laki-laki di mata wanita itu menarik karena dia memang berdiri sendiri, angkuh, teguh, tidak mudah didapatkan, tidak mudah ditaklukkan, memimpin jalan, membuka ruang, tak mudah kalah oleh pendapat perempuan, berkepribadian, punya tujuan, dan tau ke mana dia akan melangkah. Walaupun aku nggak mau mengakui ini karena aku bisa melakukan itu semua sendiri tanpa harus bergantung sama laki-laki, tapi ada kalanya aku juga seneng kok pendapatku dipatahkan. Keinginanku ditolak. Permintaanku diabaikan. Disuruh mengikuti tujuannya. Disuruh diam saja dan membiarkan ia yang memegang kendali. Aku sebenarnya nggak mau ngakuin ini, tapi most of all woman will agree with my words tonight.” Katanya lagi.

Gue menengok menatapnya.

“Dan dari perkataan aku barusan, apakah kamu masih mempunyai sifat-sifat itu di mata wanita?” Tanyanya.

Gue berpikir sebentar sambil garuk-garuk dagu, “Masih kok!” Kata gue nggak mau kalah.

“Iya mungkin masih. Tapi mungkin di mata orang lain. Kalau di mata cewek yang pergi ninggalin kamu itu? Masihkah?”

Deg!
Jantung gue serasa ditusuk sama sendok nyam-nyam.
Cenut-cenut tapi perkataan itu ada benernya juga.

Di depan Ipeh, rasanya gue selalu mengalah hanya agar ia senang. Selalu mengikuti kemana pun ia pergi hanya agar ia nyaman. Jangan-jangan, karena itulah Ipeh tidak memandang gue ada?

“See? Like I said before, you feel different. And now I know why..” Cloudy mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, “Now you know why I’m glad you two got separated. Finally, you get over her. The Pill which you think can cure you, silently it’s killing you.”

Seseorang yang kau pikir hadir untuk menyembuhkanmu, ternyata adalah seseorang yang melukaimu dalam-dalam dengan cara memelukmu erat agar belatinya menancap lebih tajam.

Mungkin itu yang Cloudy maksud. Gue tidak membantah pernyataan Cloudy malam ini, rasa-rasanya semua yang ia katakan itu tidaklah salah, dan gue mengakui itu. Mungkin gue selama ini sudah kehilangan jati diri. Sebagai laki-laki yang menarik, sebagai laki-laki yang berdiri, bukan yang tunduk.

Ikhsan datang menghampiri kami berdua.

“Bentar ya bapak ibu, dua antrian lagi nih baru dibuatin pesenan gue.” Kata Ikhsan cengengesan. Kayaknya nih anak kagak punya beban hidup sama sekali deh.

Walau saat itu dia ada masalah sama Tasya, kok dia keliatan seneng-seneng aja ya? Gue kadang iri sama nih anak.

“Lamaan dikit juga nggak papa.” Bales Cloudy yang kemudian di-oke-in sama Ikhsan dan ia kembali ke tukang martabak meninggalkan kami berdua.

“How did you lose her?” Tanya Cloudy setelah memasukan telapak tangannya ke dalam lengan sweaternya lebih dalam.

“I didn’t,” Jawab gue sambil sedikit tersenyum.

“Aku tidak kehilangan dia. Tidak. Tidak sama sekali.” Gue melanjutkan.

“Kok gitu?” Tanyanya.

Gue melihat ke arah Cloudy, “Because.. She was never mine.”

Ada mimik kaget gue lihat di wajah Cloudy ketika mendengar perkataan gue barusan. Sebuah kalimat singkat yang gue balur dengan senyuman, yang padahal gue tercekik hebat ketika mengatakannya. Seperti sedang mencekik leher sendiri.

“Dia adalah analogi paling tepat dari sebuah kata Hampir. Hampir bahagia, hampir bersama, hampir dimiliki, dan hampir berhasil.” Tukas gue sambil meminum kembali air yang  sudah tinggal sedikit ini,

“Tapi.. entah kenapa, aku tetap merasa kehilangannya.”

Cloudy hanya diam memeluk dirinya sendiri. Mungkin angin malam sudah membuatnya malas berkata panjang-panjang dan lebih memilih bungkam ketimbang menyanggah semua perkataan gue barusan.

“Kamu tau? Dia hampir saja berhasil, bukan dia, tapi kami berdua. Entah hampir atau tidak, tapi yang jelas aku juga sadar bahwa dia juga punya rasa. Dan dia tau kalau aku juga mencintainya. Meski tau dia sudah dimiliki orang lain, dulu aku masih tetap mencintainya sebesar aku masih memiliki kemungkinan untuk memilikinya. Tapi yaaa, semua berakhir di kata-kata Hampir, bukan di kata-kata Berhasil.” Gue memasukkan tangan kiri gue ke dalam saku celana.

“Sekeras apapun mencoba, apapun yang aku lakukan kemarin itu kayaknya semua akan berhenti di kata-kata ‘bagus, tapi bukan itu yang dia cari.’, ‘Good, but Im not Enough’, kamu ngerti nggak?”

Cloudy masih saja diam.

“And damn! That hurt so much,” Gue kembali mengingat segala perjuangan yang sempat gue lakukan untuk mendapatkan Ipeh dulu.

“Kalau saja.. Kalau saja kami berdua berhasil melewati semua kata hampir itu, mungkin walaupun berpisah, semuanya nggak akan sesakit ini. Nggak akan semembingungkan ini. Setidaknya jika semua jelas, berpisah pun rasanya akan punya alasan yang pasti. Tapi kami tidak berhasil, benar-benar tidak berhasil. Kami hanya menyentuh kata Hampir.”

Ada hening yang lama menyelimuti kami berdua.

“Kami hampir bersama,” Gue mulai cerita lagi, “Dan mungkin karena hal itulah rasa-rasanya perpisahan ini sakit sekali. Lebih dari semua sakit yang pernah aku lalui kemarin.”

Gue menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya ke angkasa.

“Aku hampir menjadi orang yang pertama di hidupnya, tapi ternyata tidak. Dia hampir mencintai aku dengan seluruhnya, tapi semuanya luruh begitu saja. Bahkan terkadang sampai detik ini aku selalu berpikir salahku itu apa. Apa yang kurang? Aku salah di mana? Di hari apa aku kehilangannya? Di kesempatan yang mana hingga aku benar-benar tidak bisa lagi menjangkaunya? Waktu mana yang salah? Dan benar-benar menyakitkan menyadari bahwa kami berdua hampir sedikit lagi mencapai garis akhir yang disebut dengan bahagia, namun tiba-tiba takdir membuat kita berjalan saling bersebrangan. Hahahaha takdir memang brengsek banget ya.”

Gue terkekeh mengingat betapa bodohnya gue. Berjuang kuat-kuat padahal tahu apa yang sedang gue perjuangkan itu adalah sebuah kesalahan. Gue masih berpikir bahwa akan ada sebuah harapan kecil di mana kami akan berhasil melalui semua mimpi buruk ini. Tapi sialnya, karena bergantung di harapan kecil itulah yang sekarang malah membuat gue sangat terluka seberat ini.

Setelah ucapan gue yang panjang lebar tersebut, Cloudy tetap saja diam di samping gue tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Gue awalnya nggak curiga, sebelum tiba-tiba dia memukul lengan gue keras.

Buk!
Gue sontak terkejut sambil memegangi lengan gue.  Tapi bukannya berhenti, Cloudy malah memukul lengan gue lagi dan lagi.

“Aduh aduh, oi apaan nih?!” Kata gue sambil masih melindungi tangan gue dari pukulan Nenek Lampir ini.

“BEGO!! BEGO!! BEGOOOOOOOOOOOO!!!!!” Dia terika sambil masih terus mukulin lengan gue.

“HAH?! Gue salah apa lagi sih, Wajan?!”

“ELO ITU BEGOK!!” Sekali lagi ada tonjokkan keras di lengan gue sebelum kemudian dia diam dan menatap ke arah depan lagi sambil masih memasang wajah kesel.

Gue yang nggak ngerti apa-apa ini cuma bisa diem sambil masih mengelus-ngelus lengan gue yang sudah dizolimi sebelah pihak doang. Pukulannya nggak sakit sih, pukulannya masih termasuk dalam kategori lemah lembut jika dibandingkan dengan pukulan Ipeh yang isinya otot semua. Tapi tetap saja gue kaget pas dia tiba-tiba mukul gue kaya begitu. Kesurupan setan Kosambi kali nih bocah.

Cloudy mengatur nafasnya, sedangkan gue masih sedikit menjauh karena kaget akan tingkah lakunya yang tiba-tiba tadi itu.

Belum sempat ada penjelasan, pesanan Ikhsan ternyata sudah selesai dan kini ia berjalan menghampiri kami berdua.

“Woi Beauty and The Beast, gue udah beres nih. Yok balik ke sekolah.” Katanya cengengesan sambil menunjukkan martabak yang ada di dalam kresek yang ia bawa.

Cloudy mengangguk mengiyakan ajakan Ikhsan lalu menyenggol tangan gue pelan,

“Ayok pulang.” Katanya dingin sambil berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari gue.

Cloudy menyebrang duluan bareng dengan Ikhsan. Namun sebelum sempat gue nyebrang jalan juga, HP gue berbunyi, ada sebuah SMS masuk. Otomatis gue diam sebentar untuk membacanya.

From: Ipeh

“I Still want you.”

Tulis SMS-nya singkat. Dari beratus-ratus SMS yang dia kirim ke HP gue seharian ini, hanya sms ini yang gue baca, sisanya langsung gue hapus tanpa dibaca terlebih dahulu. Di depan kata-kata singkatnya itu, gue semakin terpaku di sisi jalan sepi ini.

I still want you too, Peh. Sebenarnya gue juga tersiksa di sini. Bahkan kalau malam ini atau besok lo datang ketemu gue terus memeluk gue erat meminta dimaafkan, gue pasti memaafkan elo. Gue nggak pernah sanggup untuk membenci lo sedikitpun. Setelah semuanya yang kita lalui bersama, benci seharusnya bukanlah jalan akhir dari cerita ini. Jika dibandingkan dengan luka yang kita berdua derita, bahagia yang pernah kita lalui dulu itu jauh lebih banyak. Jadi, benci bukanlah jalan akhir yang pantas dari cerita ini.

Gue akan keluar dari OSIS kalau itu adalah taruhan yang harus gue bayarkan hanya agar gue dan Ipeh bisa memperbaiki ini semua. Apapun berani gue pertaruhkan for her. Namun, sudah begitu terlambatkah ini semua?

Sudah tidak bisa diperbaiki lagi kah kisah kami berdua?

Bagimana aku bisa membencimu, Peh? Jika alasanku untuk bahagia masih namamu juga? Aku masih menginginkanmu, masih menginginkan kita. Meski kau telah benar-benar menghancurkan semua, meski kamu telah memotong urat nadiku hingga aku terkapar kesakitan dan memilih untuk mati saja, aku masih tetap menginginkanmu.

Apakah kita harus berakhir seperti ini?
Apakah ini memang akhirnya?
Apakah dari semua bahagia di awal cerita, dari semua takdir yang membawa kita di banyak ketidak=-sengajaan hingga kita bisa begitu saling menyayangi seperti dulu itu, inilah akhir  yang harus kita derita bersama?

Biar bagaimanapun, aku tetap tidak bisa membencimu.
Bahkan mungkin jika kau datang menemuiku malam ini sambil membawa tangis di kedua bola mata indahmu itu, aku akan langsung memelukmu erat dan melupakan semua hal keparat yang kita lalui sore tadi.

Meski kau hancurkan hatiku hingga tercerai-berai, aku masih berharap kau akan datang dan menyatukan semua kepingannya lagi. Sama seperti dulu waktu kita pertama bertemu, sama seperti ketika aku patah lalu kau datang mengisi penuh ceritaku.

Aku rasa ini bukan cinta.
Cinta bukanlah yang seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain–

.. yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

“Dimas?”

Tiba-tiba gue dikagetkan oleh suara lembut yang membuat gue kembali sadar dari lamunan gue barusan. Cloudy ada di sana. Dia kembali datang menyebrangi jalan hanya untuk menemui gue di sisi yang satunya. Dia datang.

Dia mencariku.

Dia bertanya, memanggil nama gue berulang kali sambil memegang pundak gue. Gue yang tadi masih tertunduk melamun menatap tulisan di HP gue tersebut langsung melihat ke arahnya.

“Sometimes, the person that you’d take a bullet for is behind the trigger.” Ucap Cloudy pelan ketika gue menatapnya.

Cloudy kemudian menggandeng tangan gue dan menariknya menyebrangi jalanan yang sebenarnya sudah sepi dari kendaraan sama sekali. 

Sebelum masuk ke dalam mobil, Cloudy membalikkan badannya dan menatap gue sekali lagi. Kali ini tatapannya berbeda, lebih sendu ketimbang biasanya.

“Lets go home.”  Ucapnya pelan sekali. 

Gue hanya mengangguk mengiyakan tanpa menjawab sepatah kata apapun sebelum kemudian kami berdua masuk ke dalam mobil.

Love..
Love shouldn’t be like this.
Because Almost,
Almost is never enough for love.

.

.

.

                                                       Bersambung

Previous Story: Here                                                

"It’s a kick for her and her friends when I do the Batman voice for them and chase them around pretending to be Batman. Although she loves me doing the Batman voice she still takes the piss out of my British accent. I think past a certain age you can’t get rid of it no matter what you do. My daughter loves it because she thinks it sounds so silly."

This family is just the most precious thing