pandangan pertama

Akselerasi

Dahulu, aku sendiri tak percaya akan pertemuan yang dapat menjatuh- hatikanku pada pandangan pertama. Bukankah itu tak lebih dari drama? Sebuah rasa skeptis berbalut penilaian spekulatif yang mungkin takkan bertahan lama. Toh, aku memang sudah berkali-kali tertarik pada seseorang ketika pertama berjumpa, namun entah beberapa menit kemudian lalu dengan mudahnya terlupa. Apakah itu yang pantas disebut jatuh cinta?

Dahulu, aku menganut betul bahwa pertalian jiwa haruslah melewati waktu yang cukup lama. Saling mengenal, bukan perkara jentikan jempol dan telunjuk saja. Kurasa, jalinan perasaan yang nantinya mengikat kuat haruslah melampaui pertemuan yang hanya sementara. Aku sendiri setuju, bahwa mengenali sifat haruslah dijalani. Perlahan, menemukan, jalani, lalu di akhirnya harus ditentukan. Bila tak cocok maka tinggalkan, lalu kembali lagi ke jalur pencarian. Begitulah, sampai siklus itu berulang dan nantinya sampai di puncak pertanyaan, “apakah sosokmu yang selama ini kucari?

Namun, tahukah…

Entah kali kesekian aku menjalani pertalian yang hanya didasari percobaan. Naik dan turunnya suasana hati kurasakan, seringkali juga kesenangan itu tercampur dengan kebosanan. Hingga akhirnya, kurasakan betul bahwa aku ternyata tidak kemana-mana. Kau tahu rasanya menaiki bianglala? Ya, ibarat bianglala itu kau mungkin dapat bahagia ketika berputar ke bagian paling atasnya, namun adakalanya semua terasa biasa ketika kau berada di bagian paling bawahnya. Celakanya, hubungan cinta yang seperti bianglala ternyata membawamu berputar disitu-situ saja, hingga akhirnya kau akan bertanya, “Kapan kita akan berhenti bermain-main? Kapan kita akan berhenti untuk hanya berputar-putar disini?

Sekian lama, aku sempat bertanya-tanya, sampai kapan aku dapat mengambil keputusan dengan lugas? Sekian lama bermain-main dengan perasaan, aku tahu hanya dua hal, entah aku yang tersakiti atau orang lain yang tersakiti. Waktu yang selama ini kupercaya sebagai satu-satunya pembuktian, ternyata tak berkutik bila sebenarnya tak ada sebuah niatan yang tegas untuk menggenapkan. 

Ah, barangkali kau dan aku pun sudah sama-sama bosan, urat nadi kitapun sudah tak lagi meletup layaknya muda mudi yang baru saja bermekaran. Bisa jadi, kita hanya semakin ingin menyerdehanakan konsep pertalian yang sekian lama hanya menghambur-hamburkan waktu dan perasaan. Setidaknya kita sama-sama tahu, kalau kita sudah tidak ingin lagi mengulang untuk menyakiti seseorang dengan cara yang sama, bukan?

Bila akhirnya kau setuju, menyederhanakan pertalian akan membawamu untuk mengenalku secara sederhana pula. Dihadapanmu sudah ada secarik kertas bertuliskan seluruh biodataku, yang coba kutulis secara jujur dan apa adanya. Menolak lupa, aku takkan lagi berusaha untuk menutupi segala kekurangan seperti dulu, yang akhirnya hanya berujung kekecewaan pada seseorang yang dulu pernah datang. Bila kau akhirnya mengenalku hanya dalam tempo sekecil-kecil waktu, apakah kau mau untuk menerimaku? Kalau akhirnya kita sama-sama percaya kalau cinta itu bisa datang dan pergi sesuai kehendakNya, kenapa kita persulit jalan cerita lalu keluar dari skenarioNya? 

Dengan datangnya selembar biodataku ini, aku berniat untuk mengajakmu berakselerasi. Aku sudah merasa harus seserius ini, agar aku bisa menyampaikan keinginan mencintaimu dengan sederhana namun selugas-lugasnya. Sisanya, tentu aku bersandar pada ingin Yang Kuasa. Bila akhirnya kaupula orang yang selama ini ditakdirkan Tuhan yang mengamini, maka aku takkan perlu mencari siapa-siapa lagi.


© Miftahul Fikri

(3)

Bukanlah cinta namanya, jika dipasangkan dengan pandangan pertama. Itu hanya sebuah kekaguman semata atau mungkin nafsu sesaat. Sebab cinta adalah rangkaian cerita yang sangat panjang alurnya yang berteman dengan berbagai persoalan namun berakhir dengan bahagia bersama.

Saya percaya, cinta itu datang diantara orang-orang yang sudah lama berkenalan; saling menerima, saling mengetahui, dan saling mengasihi. Bukanlah kepada yang menatap sesaat lalu menjatuhkan hati berkali-kali; layaknya sebuah drama.

Cinta bukanlah hanya memperkuat cerita yang manis, tetapi dapat melebur diantara pahit dan manis. Lalu melibatkan Tuhan didalamnya.

Patah Hati Ter-Yaudahsih

Melambungkan hati harus siap jatuh dan patah. Walau tak seenak terbang, terjerambab harus pula bisa dikuasai dengan kelapangan dan keikhlasan menerima.

***

Kita semua pasti pernah merasakan sesaknya patah hati. Nyeri tak terelakkan dan perih tak tertahankan. Oleh sebab ditinggal saat sedang sayang-sayangnya, ditinggal menikah, diduai baik dengan orang lain atau dengan game, tidak direstui orang tua ataupun Tuhan, patah hati karena we fall in love with people we can’t have, dan masih banyak lainnya yang membuat hati kita terluka.

Tetapi tanpa kita sadari ada beberapa patah hati yang sepatutnya kita yaudahsih-kan. Seperti yang saya alami belakangan ini:

Beberapa bulan lalu saya jatuh hati pada sebuah makanan, cilor namanya. Pada tahu cilor, kan? Cilok pake telor. Pada tau cilok, kan? (tepung) Aci (biasa dikenal tepung tapioka) dicolok (ditusuk).

Deskripsinya kurang lebih begini: Cilok yang berbentuk bulat-bulat ditusuk menggunakan tusukan sate sebanyak 3 butir (atau semaunya yang jual), digoreng setengah matang, kemudian goreng telur cair (yang diberi sedikit air), gulung cilok setengah matang dengan telur yang masih ada di wajan, angkat dan tiriskan, beri saos (biasanya saos cair entah merek apa), sajikan selagi hangat dengan plastik bening, dan cilor siap disantap.

Saya tahu pertama kali cilor dari @tieyems, dia sering menyebut-nyebutnya di grup chat. Katanya sih di Bandung banyak yang jual. Tapi selama (tak usah disebut angka, karena kalau disebut ketahuan tuanya) saya hidup di Bandung belum pernah bertemu dengan si cilor. Sampai akhirnya saya diberi kesempatan bertemu dengan cilor, saya kegirangan, dan bukan di Bandung, tetapi di Pulau Harapan. Buat bertemu denganmu, Lor. Saya sampai harus keluar kota! Betapa saya berjuang untuk kamu, toh?

Setelah pertemuan pertama dan jatuh hati pada kecapan dan pandangan pertama saya di Kepulauan Seribu itu, saya semakin mengincar cilor. Mata saya liar jika sedang berkendara, mana tahu ada penjual cilor. Sampai pada saat saya menemukannya di depan Griya Antapani. Harganya sedikit mahal, 5 ribu untuk 5 tusuk. Karena rasa kangen yang tak terbendung, saya beli 10 ribu. Benar-benar tak terbesit kecewa sama sekali. Pasalnya, telur yang menggulung ciloknya tebaaaaal sekali (a-nya sampe lima). Dan yang utama, sausnya tidak hanya saus cair saja. Tetapi ada mayonaisenya, juga ditambah bumbu kering. Rasanya bersatu padu membentuk kenikmatan yang hakiki. Saya terpuaskan di kali pertama.

Hari-hari berikutnya jika sedang di daerah sana, saya selalu menyempatkan mengarahkan kemudi ke sana. Namun sayang, sudah berpuluh kali saya ke sana penjual cilor tidak ada terus. Mau bertanya ke penjual cilok goreng di dekat sana, rasanya kurang etis; mencari yang tak ada, sedangkan yang ada tak digubris. Saya mulai patah hati. Meski cilor Griya Antapani bukan cinta pertama cilor saya, tetapi saya bertekad untuk menjadikannya cinta terakhir saya pada cilor.

Suatu ketika, di perbatasan Antapani-Kiaracondong, saya menemukan penjual cilor lagi. Walaupun harga sama, kenikmatannya berbeda. Iya telurnya tebal, iya pakai mayonaise, namun ciloknya liat, saya sampai pegal mengunyah. Mana penjualnya mengkhianati kesetiaan pada cilor; ia menjual produk oriflam* juga! Segala menawarkan kepada saya, ‘saya tak pakai begituan, biasa pakai sabun colek dan saripohaci.’ tegas saya.

Hari selanjutnya saya mengabaikan cilor perbatasan itu. Jujur saja, saya masih memiliki cinta yang penuh pada cilor Griya Antapani. Namun hati saya terlanjur patah. Sekarang saya sedang menyibukkan diri untuk meng-yaudahsih-kan patah hati saya. Sembari berharap bertemu dengan cilor yang akan saya tumpahi dengan ketulusan mencintai.

Ini patah hati ter-yaudahsih saya. Kamu punya cerita yang sejenis?

Aku pernah jatuh cinta pada pandangan pertama, lalu gagal. Semenjak itu aku percaya; Jatuh cinta pada pandangan pertama itu hanya nafsu saja.
— 

Cowok Jalang

Hati-Hati

Jatuh cinta tidak selalu pada pandangan pertama. Cinta bisa tumbuh sebab pandangan kedua, ketiga, empat, dan seterusnya. Bahkan pada pandangan yang berulang ini, bisa lebih kuat dan kokoh kedudukannya. Pernah dengar pepatah lama, “benci jadi cinta”?

Hati-hati dalam memandang. Hati-hati saat membenci. Hati-hati ketika mencintai. Ya, hati-hati menjaga mata (dan) hati.

#2 Bercinta

Satu diksi ini memang agak sulit untuk dirangkai menjadi sebuah paragraf yang indah. Ya, bercinta. Sangat absurd kalau kita harus menulis hari ini aku bercinta dengan buku. Apalagi ketika memilih kata aku bercinta dengannya, akan menimbulkan berjuta ambiguitas bagi yang mendengarnya.

Maka, izinkan saya mengambil unsur utama dalam kata bercinta, yaitu cinta itu sendiri. Amat klise memang, saat kita mendengar nasehat bahwa cinta itu kata kerja, bukan kata benda. Bahwa cinta itu ditumbuhkan, bukan dicari. Bahwa cinta itu diciptakan, bukan tercipta sekejab pada pandangan pertama.

Tapi begitulah adanya. Tersesat di fakultas dan dunia yang begitu unik, terdiri dari materi materi molekul yang aneh, istilah latin yang begitu asing, siklus ujian yang tak mampu dilogika, barangkali adalah sebuah hal yang secara nalar membuat kita enggan untuk mencintainya. Begitu pula tersesat di bidang yang tak tahu arah antah berantah, yang bahkan tak pernah dilirik, akan menjadi menjemukan dan menjadi sebuah perkara yang menyesakkan.

Tapi life must go on. Witing tresno jalaran soko kulino kalau kata orang Jawa. Ternyata berkarya dengan cara yang out of the box, atau kasarannya dipaksa buat berkorban dengan cara yang tidak kita suka, bisa menimbulkan kecintaan tersendiri. Meski di awal terkadang ada kecemburuan dengan orang lain, mungkin dengan mereka yang mengambil langkah mengabdi dan berkeliling negeri, mungkin saat melihat manusia di bidang lain terlihat bahagia dengan program karya mereka, tapi akhirnya kita mulai belajar untuk menerima. Dan dari sanalah cinta itu bersemi menjadi sakura.

Maka, untuk mencinta tak harus ada neurotransmitter yang muncul di pandangan pertama. Karena nantinya otak kita akan terbiasa dengan neuroplastisitasnya. Kalau kata dokter Seto, yang penting adalah pengulangannya. Maka, mari belajar untuk terus bertatap muka dan berhubungan dengan orang di sekitar kita, mahluk sekitar kita, anak kosan, kawan-kawan di UKM, kawan-kawan tutorial, dan kawan-kawan lain yang dengan mereka kita bersua.
Mari kembali memurojaah cinta kita

Rahmi, 12.5.17
Hoodie

Istilah nya , cinta pada pandangan pertama.
Siapa yang percaya?
Yang punya pengalaman di dalamnya.
Yang punya cerita di baliknya
Yang merasakan indah karenanya

Lalu, mengapa tidak semua orang percaya dengan istilah itu?
Jika yang timbul itu cinta, lalu lebih tinggi mana tingkatannya dengan rasa sayang?
Ah pandangan pertama itu mungkin hanya rasa suka saja.

Menurutku, cinta pandangan pertama itu, ada.
Terlebih bagi mereka yang merasakannya.
Ini semua tentang percaya atau tidak.

Jatuh cinta tak selalu disebabkan simpatik pada pandangan pertama. Kadang cinta sejati disebabkan pendampingan yang berarti, setia tak bertepi.
—  Ka Annisa
Jatuh Cinta atau Nyaman?

Kenalan, ketemu, chatting dan jatuh cinta. Siapa yang pernah merasakan seperti ini? Mungkin ada beberapamomen di hidup kita yang berjalan seperti ini. Atau kemudian ada yang bilang bahwa jatuh cinta tak hanya terjadi pada pandangan pertama, tapi bisa juga dari whatsapp pertama. Artinya adalah jatuh cinta karena komunikasi digital yang kita lakukan, walaupun kita belum pernah ketemu.

Era digital sangat memudahkan kita untuk kemudian berinteraksi dengan orang lain, berkenalan lalu membangun komunikasi yang intens satu sama lain. Bayangkan sebelum era digital, gampangnya sebelum era Friendster dan yahoo messenger, bagaimana LDR sebelum bertemu itu jarang sekali terjadi. Kadang intensitas komunikasi itu membuat kita kadang merasakan sosok yang selalu menemani kita, kapanpun kita melakukan aktivitas komunikasi tersebut.

Tulisan ini sebenarnya tidak untuk membahas tentang Long Distance Relationship, namun lebih kepada perasaan jatuh cinta ini sendiri. Satu pertanyaan muncul ketika kalian baru saja mengenal orang itu dan jatuh cinta, “Apakah kamu yakin bahwa ini adalah jatuh cinta dan bukan hanya rasa nyaman?” Di beberapa pertemuan yang asyik, ternyata orang sangat bisa menyimpulkan bahwa dia sedang jatuh cinta, namun tak berpikir bahwa ini hanyalah rasa nyaman yang semu.

Ada perdebatan ketika kita sedang menentukan apakah kita sedang jatuh cinta atau hanya rasa yang kelewat nyaman? Nyaman, kadang hanya berbentuk sebagai suatu perasaan yang begitu aman ketika kita merasakan kehadirannya dalam bentuk fisik mau pun ketika kita sedang berkomunikasi secara tidak tatap muka. Nyaman hanya perasaan yang menginginkan seseorang itu tetap ada menemani, tapi tanpa ada keinginan untuk memiliki. Nyaman adalah perasaan yang takut kehilangan, bukan perasaan yang ingin terus menjaga dan membahagiakannya. Nyaman itu selalu semu, karena kita merasa tak pernah sendiri, ada yang selalu menemani. Nyaman bisa dirasakan ketika seseorang itu mampu membuat kita tak pernah kesepian. Nyaman adalah tentang berpikir 5cm ke depan, tanpa ada gambaran tentang masa depan bagaimana.

Keep reading

Jika cinta adalah tentang pandangan pertama, maka sudah selayaknya seorang pecinta memperhatikan dirinya, tentang apa yang ia pandang pertama kali setelah shalatnya.

Jika cinta adalah tentang sentuhan pertama, maka sudah semestinya seorang pecinta memperhatikan dirinya, tentang apa yang ia sentuh pertama kali setelah shalatnya.

— 

©Quraners (Self Reminder)

Jum'at Mubarak

Tanpa Judul

Padamu, kini hatiku telah jatuh. Bukan karena rupamu, kalau benar karena rupamu aku pasti telah jatuh cinta saat di Masjid dulu, saat petama kali kita bertemu, saat kau kekanakan baju putih dengan celana putih serta tas loreng di  punggungmu. Aku juga bukan jatuh karena kebaikanmu, sungguh bukan itu, karena cinta bukan hanya tentang kebaikan. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Sudah kubilang bukan! Aku jatuh dengan sangat sederhana, kau tau aku jatuh cinta dengan karena Ibumu. Aku jatuh cinta karena hal sepele yang kau lakukan pada Ibumu, hanya sekedar cium kening sebelum berangkat futsal. Hei kau tahu, karena hal sederhana itu kau bisa membuatku sangat jatuh. Entahlah, kurasa semua tentangmu menjadi baik saat itu, kini aku benar-benar jatuh cinta. Terima atau tidak? Toh aku yang jatuh cinta:)

25 Hal Tentang Cinta Saya

Setelah lalu-lalang di tempat yang mana hati itu bisa diumpamakan sebagai tembaga, keadaan sebagai bara, dan dua orang berbeda jenis kelamin sebagai gada dan capitnya; Maka inilah saya, beserta 25 (dua puluh lima) Hal Tentang Cinta saya.

1. Saya pernah mencintai wanita gagu. Dia pikir tidak ada yang mau membanggakannya, tapi dia tidak tahu bahwa saya mau. Bersamanya saya sempat tahu cara berbicara lewat gerakan. Orang-orang mencibir ketika saya berbicara bersamanya, sedangkan saya mencibir karena mereka tidak melihat berlian di mata saya.

2. Saya pernah mencintai wanita kotor. Dia sudah ribuan kali melakukan hubungan badan. Dengan siapa saja. Dan saya mencintainya. Orang-orang bilang saya itu bodoh karena mencintai wanita kotor, dan saya berbicara pada orang-orang itu bahwa mereka bodoh karena mereka tidak mencintai wanita yang masih suci masa depannya.

3. Saya mudah jatuh cinta dengan wanita berambut pendek.

4. Saya pernah mencintai kekasih orang. Tiap dia disakiti, saya ada. Tiap dia bahagia lalu pergi, saya juga tetap ada. Tapi lucunya, saya cinta cara dia menyakiti saya.

5. Saya kerap mencintai wanita dengan alasan karena bibirnya begitu lucu.

6. Saya pernah mencintai wanita penjaja koran di emperan pintu masuk KFC. Waktu SMA kelas satu, saya jatuh cinta kepadanya. Berkali-kali beli koran tapi tidak berani untuk menanyakan namanya. Hingga hari ini saya masih sering mengingatnya. Shimbun. Itu namanya di kepala saya. Yang artinya ‘Koran’ dalam bahasa Jepang.

7. Saya pernah dekat dengan Office Girl di kantin kampus. Wajahnya bersih, lebih terawat ketimbang mahasiswi teknik. Setiap saya berbicara dengannya, Office Boy selalu mencibir kepada saya. Saya pernah begitu dekat dengannya. Sebelum tiba-tiba ia pulang ke kampung dan meninggalkan saya sendirian penuh tanya.

8. Ada perasaan nyaman dan suka ketika saya menemukan wanita yang tak bisa diam, urakan, dan tak peduli orang-orang berpikir apa tentang dirinya. 

9. Saya tidak bisa tidak jatuh cinta pada anak dari fakultas Kedokteran.

10. Saya pernah jatuh cinta kepada wanita dengan kecenderungan Self-Injury. Berkali-kali ia menyayat tangannya dengan kaca, dan berkali-kali tangan saya tersayat dengan kaca karena memeluknya ketika ia kumat. Dan anehnya, walau tangan saya berdarah, tapi hati saya merasa tersembuhkan.

11. Saya pernah jatuh cinta di pandangan yang pertama. Rasanya janggal, degup dada begitu menderu seperti hendak perang. Bibir terkunci dan tak mampu membalas apa-apa. “Terima Kasih, semuanya 80000 rupiah.” Ucapnya. Saya jatuh cinta dengan mbak-mbak penjaja pakaian di dekat tempat saya bekerja.

12. Saya mudah jatuh cinta pada wanita yang pintar memasak.

13. Saya pernah mencintai wanita yang katanya begitu mirip wajahnya dengan saya. Kata orang-orang kami itu jodoh. Lalu kemudian malaikat tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.

14. Saya pernah jatuh cinta dengan seseorang yang paling terkenal di satu angkatan fakultas. Saya pikir saya tidak tahu diri. Sebelum kemarin sebelum ia menikah, ia mengatakan kepada saya bahwa ia mempunyai perasaan yang sama.

15. Saya pernah jatuh cinta dengan wanita yang bahkan saya sendiri belum pernah bertemu dengannya. Orang-orang bilang itu sesuatu yang janggal, namun buat saya, mencintainya adalah satu-satunya hal yang paling masuk akal.

16. Saya pernah jatuh cinta kepada wanita pintar. Dia ranking pertama di kelasnya. Dia mengajari saya untuk bisa pintar, dan saya mengajari dia untuk bisa bahagia menikmati kebodohan.

17. Saya pernah jatuh cinta dengan wanita yang sudah tidak perawan. Dia mengaku sudah dijamah mantan kekasihnya, tapi anehnya ketika saya melihat matanya, ia terlihat masih belum tersentuh sedikitpun. 

18. Saya mudah dibuat jatuh cinta pada wanita yang tekun dalam satu hal. Terutama yang pandai menciptakan karya.

19. Saya pernah jatuh cinta dengan anak penjabat. Orang-orang bilang dia itu gila bisa jatuh cinta sama anak pedagang. Begitupun saya yang bilang ia kehilangan nalar berpikirnya karena mencintai saya. Tapi saya terdiam ketika dia bilang dia ingin seperti orang tua saya. Berdagang berdua sebagai suami istri, tidak ada jam kantor, dan selalu bertemu setiap hari. Akhirnya saya mengerti, kenapa saya jatuh cinta kepadanya.

20. Saya mencintai wanita yang begitu bisa menghasilkan uang sendiri. Bukan dari bekerja pada orang, tapi dari menciptakan pekerjaannya sendiri. 

21. Saya pernah begitu mencintai seseorang dari dunia maya. Tidak pernah bertemu, tidak pernah bertatap muka. Anehnya saya merasa nyaman. Dan lucunya, dia pernah menjadi alasan saya begitu bahagia. 

22. Saya pernah mencintai wanita kaya raya. Ia membelikan saya banyak sekali hal-hal yang menurut saya mahal. Sedangkan saya hanya sanggup memberinya puisi. Anehnya dia selalu merasa cukup, dan itu membuat saya merasa selalu kurang untuk mencintainya. 

23. Saya kerap jatuh cinta pada wanita yang lahir di bulan April.

24. Saya pernah mencintai wanita yang paling diidolakan satu angkatan. Saya melihat ada banyak sekali orang-orang yang berbicara agar wanita itu pergi meninggalkan saya, tapi mereka semua tidak tahu, bahwa saya tidak perlu berbicara sama sekali agar ia mau menanggalkan pakaiannya di depan saya.

25. Saya pernah jatuh cinta dengan Follower saya sendiri. Awalnya ia yang mencintai saya, tapi akhirnya, saya yang tergila-gila padanya.

.

.

Begitulah.
Begitulah 25 Hal Tentang Cinta Saya.
Semoga salah seorang yang membaca tulisan tentang 25 Hal Tentang Cinta Saya ini bisa menjadi alasan saya menulis tentang 26 Hal Tentang Cinta Saya nanti.

Terima kasih.

Br
25/5/16

Tidak Ingin Kau Pergi | Cerpen

Sedih. Aku tidak tahu mengapa. Tetapi suasana kelam itu mengundang rasa sedih di dalam hatiku. Kulihat Ariff menangis teresak-esak. Fawwaz dan Munsyi duduk menunduk wajah yang sugul. Di sekeliling mereka bertiga, kebanyakan rakan-rakanku di Jordan ini turut hadir. Semuanya mempunyai gaya masing-masing. Namun gaya mereka semua bersatu atas satu perkataan. Sedih.

Tiba-tiba aku rasa takut.

Seakan-akan suasana itu meragut jiwaku.

“Semoga ALLAH rahmati arwah” Presiden MPPM Jordan, Abang Dzulkarnain berkata dalam keadaan matanya yang kemerahan.

Arwah?

Ada orang meninggal kah?

Tiba-tiba aku nampak wajah Toriq, sahabat karibku. Wajahnya pucat lesu. Kenapa? Dia kaku sahaja tanpa suara. Matanya terpejam.

Adakah….

****

Aku memandang wajah Toriq. Wajah itu tidak sama seperti wajah yang kelihatan dalam mimpiku. Wajahnya kini hidup, ceria, penuh cahaya. Wajah yang aku tidak pernah rasa sugul bila memandangnya. Namun hari ini, keresahan aku tidak hilang dengan memandang wajah bersih itu. Malah, semakin bertambah gelisah.

“Ni kenapa gaya nak makan orang? Dah tranformasi jadi Godzilla?” Toriq tersenyum-senyum.

“Jalan pandang depan la” Aku memuncungkan bibir ke hadapan, ke arah jalan raya. Kami kini sedang berada di hadapan sebuah pasaraya, yang bertentangan dengan pintu gerbang universiti kami. Antara pasaraya dengan pintu gerbang universiti, ada jalan raya yang besar untuk kami lintasi.

Senior-senior sentiasa berpesan agar kami berhati-hati kerana orang arab biasanya memandu dengan laju. Kadangkala, kita tidak dapat menjangka bagaimana mereka memandu. Aku yang pernah naik teksi dan coaster di Jordan ini, memang rasa macam nak tercabut jantung dengan cara pemanduan mereka. Menggerunkan.

“Uih, garangnya. Ni boleh jadi Godzilla sungguh ni” Toriq terus melangkah.

Tiba-tiba mataku menangkap sebuah kereta yang bergerak dalam keadaan laju.

Pantas wajah pucat Toriq dalam mimpiku menjengah. Kata-kata Abang Dzulkarnain mengetuk kepala.

Arwah…

“Toriq!” Aku terus mencapai lengannya, menarik Toriq ke belakang semula. Kereta tadi terus bergerak membelah jalan raya.

“Kau nak mati ke? Jalan tak pandang kiri kanan?” Aku meninggi suara. Dapat kurasa wajahku tegang. Dada berdegup kencang. Bukan marah, tapi…

Toriq angkat kening. “Kau ni kenapa? Siapa tak nampak kereta tadi? Aku bukan nak melintas jalan raya. Aku baru je nak melangkah nak berdiri tepi jalan raya. Macam tak biasa pulak.”

Aku diam. Tadi, dia bukan nak melintas ke?

“Kau ni, sayang aku terlebih ni” Toriq ketawa kecil.

Muka aku merah. Aku terasa macam aku ini orang bodoh pula.

“Aku risau” Aku menjawab tanpa memandang wajah Toriq. Jalan raya sedang dipenuhi kenderaan yang lalu lalang. Kami masih belum ada peluang untuk melintas.

“Risau? Terharu seh” Toriq memaut bahuku dengan lengannya. Dia masih ketawa.

Aku diam sahaja. Mana aku tak risau? Aku mimpi kau mati!

Tidak lama kemudian, kami mendapat peluang melintas jalan. Toriq melangkah dahulu. Aku pantas bergerak agar langkah kami seiring. Pantas tangan kananku memegang tangan Toriq, memimpinnya seperti memimpin anak kecil melintas jalan.

Sampai sahaja di pintu gerbang Univeristi Yarmouk, aku perasan Toriq memandangku. Tapi aku senyap sahaja. Beberapa orang di tepi jalan tersenyum-senyum memandang kami. Memang, nampak pelik kalau lelaki berpimpin tangan dengan lelaki.

“Kau tak sihat?” Suara Toriq agar kerisauan dengarnya.

Aku melepaskan tangannya semasa melepasi pintu gerbang. Geleng kepala.

Aku perlu bagitahu kah mimpi aku?

“Kalau kau ada masalah, bagitahu aku”

Toriq, memang sahabat yang baik. Sahabat aku yang terbaik. Tapi sekarang, bukan aku yang bermasalah. Masalahnya adalah kau, Toriq. Aku rasa macam kau akan ditarik pergi. Aku tidak mahu kau pergi!

“Tiada apa-apa”

Toriq tersenyum semula. Wajah cerianya kembali bercahaya. “Kau tengah angau dengan sesiapa ke?” Tangannya mencuit pinggangku.

“Banyak la kau”

****

Orang kata, kalau ada manusia nak dekat mati, biasanya dia akan ada tanda-tandanya. Tapi, selalunya tanda itu tidak akan kita perasan, melainkan selepas dia mati. Contoh yang biasa didengari adalah seperti ajak makan makanan kegemaran tapi dia makan tak habis. Contoh lain yang biasa aku dengar, arwah akan sering berkata berkenaan mati sebelum kematiannya.

“Agak-agak, umur kita ni berapa panjang lagi?”

Hampir tersembur air yang sedang kuteguk. Terkejut. Aku membesarkan mata, memandang Toriq.

“Mati-mati jangan sebut lah” Aku menegur.

Toriq tersengih. “Kenapa pulak? Mati tu bila-bila. Apa salahnya ingat mati. Mati selalu ingat kita”

Aku menghela nafas. Betul. Malah, mengingati mati adalah antara pencuci kekaratan di dalam hati.

Rasulullah SAW bersabda: “Hati itu akan berkarat seperti karatnya besi” Sahabat-sahabat pun bertanya bagaimana untuk membersihkannya. Rasulullah SAW menjawab: “Membaca Al-Quran dan mengingati mati”

“Tak ada la, hilang keindahan pagi ni” Aku memberikan alasan. Kemudian memandang mentari pagi yang redup di sebalik awan.

Sekarang Subuh pukul 3.40 pagi. Malam sudah menjadi pendek kerana musim panas. Antara hobi aku dan Toriq masa musim panas ini adalah duduk di atas sutuh dan berehat sambil memerhatikan mentari naik. Kami akan membaca Al-Quran dan kemudiannya bersarapan bersama-sama.

“Kalau aku mati, macam mana agaknya kau?” Soalan itu, mengundang pusingan pantas dari kepalaku.

Pantas aku meluku kepalanya.

“Aduh, kenapa?” Toriq menggosok-gosok kepalanya. Memandang aku dengan kehairanan.

“Degil ya. Kan aku dah cakap jangan rosakkan mood pagi ni” Aku cuba bergaya selamba.

Toriq mencemikkan muka, kemudian terus menyambung sarapannya.

Suasana senyap sebentar. Aku terus menghabiskan air. Cawan kuletakkan. Toriq tekun dengan makanannya. Aku rasa bersalah pula.

“Kalau kau tak ada…” Perlahan-lahan aku bersuara.

Toriq mengangkat kepala. Mata kami bertentang. Suasana senyap kembali. Kemudian Toriq mengangkat kening, isyarat agar aku meneruskan kata-kata.

“Aku akan rasa amat amat amat sedih” Suaraku perlahan.

Perlahan-lahan senyuman Toriq terukir.

“Kenapa? Lawak ke?”

“Terharu seh”

“Banyak la kau punya terharu”

“Aku saje je nak tengok kau sayang aku tak” Toriq angkat kening dua kali. Kemudian dengan selamba meneruskan sarapan.

“Ceh” Buat aku risau aje. Aku memandang langit kembali. Semakin cerah. Baru pukul 6.00 pagi, sudah seperti pukul 8.00 pagi di Malaysia.

Adakah hidup akan sentiasa cerah seperti keadaan sekarang?

****

Hah!

Aku terbangun lagi. Mimpi itu datang lagi. Wajah teman-teman yang sugul, ada yang menangis, ucapan Abang Dzulkarnain dan berakhir dengan wajah Toriq yang terpejam kehilangan seri.

Aku beristighfar berulang kali. MasyaALLAH… Perasaan takut menyerang.

Tubuhku rasa hangat. Kusentuh dahi, terasa basah. Aku berpeluh.

Semakin lama, aku terasa seakan-akan mimpiku akan menjadi kenyataan.

Mimpi yang sama datang dan datang lagi.

Ya ALLAH…

Kulihat jam pada telefon bimbit. 2.45 pagi. Aku terus bangun dan menuju ke tandas. Gosok gigi, dan membasuh muka. Kemudiannya aku mengambil wudhu’. Aku hendak solat tahajjud.

Semalam, Toriq mengadu kepadaku bahawa dia sakit. Dia rasa lemah-lemah badan. Hidung pula sentiasa berdarah.

Aku amat risau. Aku telah membawanya berjumpa doktor pada waktu malam, tetapi doktor hanya berkata bahawa itu keadaan biasa apabila perubahan cuaca. Memang biasanya pada musim panas, badan akan terasa lebih lemah dan kadangkala untuk beberapa orang, darah akan keluar dari hidung.

Keterangan doktor tidak membuatkan aku lega. Mungkin aku juga akan menganggap ini biasa, kalau aku tidak didatangi mimpi aneh itu. Tapi, setelah berulang kali mimpi itu hadir, aku rasa teramat risau. Adakah pemergian Toriq memang tidak dapat dielakkan? Adakah mimpi aku itu, benar-benar satu kepastian?

Aku menangis dalam sujudku.

Ya ALLAH, sesungguhnya KAUlah yang menguasai nyawa, maka panjangkanlah nyawa sahabatku itu!

****

“Nama aku Toriq. Yoroshikuu” Dia menghulurkan tangan.

Yoro… shiku? Bahasa Jepun apabila memperkenalkan diri, atau meminta seseorang melakukan sesuatu.

“Pelajar JUST?” Nama universiti untuk pelajar perubatan dan pergigian di Irbid kusebut.

Semua orang disekelilingnya ketawa.

“Aku dah kata dah, kau ni tak ada rupa pelajar Yarmouk” Bahunya ditepuk kawan di sisi.

Dia ketawa juga. “Aku pelajar Yarmouk. Macam kau juga. Kita sama baya la. Cuma aku sampai sini seminggu awal”

Aku tersengih. Pandangan pertama aku, pelajar bernama Toriq ini adalah seorang yang suka lepak-lepak, gaya happy go lucky dan ada aura anak orang kaya.

Sekejap sahaja. Sudah dua tahun berlalu. Tanpa aku sangka, pelajar yang aku ingat suka lepak-lepak, gaya happy go lucky, dan ada aura anak orang kaya itu adalah sebenarnya jauh dari sangkaan aku. Gayanya memang ceria, tetapi Toriq adalah seorang yang serius pada tempatnya. Dia rupanya bukan anak orang kaya. Dia sederhana sahaja seperti aku. Tetapi dari segi pelajaran, Toriq jauh melebihi aku. Dia antara yang tergenius di dalam Universiti Yarmouk. Hatta pensyarah pun menyayangi dia.

Akhlaknya baik dan bersih. Tidak pernah menyakitkan hati orang. Malah Toriq yang mengajak aku untuk mengikuti usrah yang dijalankan oleh Iktilaf Islami, kumpulan persatuan ISLAM orang arab di Universiti Yarmouk.

Toriq Sentiasa berbahasa yang menyenangkan, dan semua orang di kawasan Irbid ini menyukainya. Dan semestinya, Toriq ramai peminat dari kalangan pelajar perempuan.

Dan tanpa aku sangka juga, pelajar yang aku ingat suka lepak-lepak itulah yang menjadi sahabat karib aku sepanjang berada di Jordan ini. Kami tinggal serumah dari tahun pertama dengan tiga orang pelajar JUST, iaitu Ariff, Fawwaz dan Munysi.

Malah, kami adalah pasangan setter dan spiker yang digeruni di Universiti. Aku spiker dan dia sebagai setter. Kami berdua suka juga buat video macam Anas Tahir dan Akbar, tapi tak adalah merapu sangat macam mereka. Kami buat video tazkirah. Antara projek dakwah aku dan Toriq.

Aku, memang amat sayang dengan Toriq.

Sayang kerana ALLAH. Ukhuwwahfillah. Toriq yang kenalkan aku dengan benda-benda tu. Dia yang kenalkan aku akan hakikat ISLAM, hakikat iman. Sedikit demi sedikit dia mencerahkan kefahaman aku berkenaan makna kehidupan. Hinggalah sampai satu tahap, dia mengajak aku mengikuti usrah untuk pemahaman yang lebih tersusun.

Walaupun aku adalah seorang pelajar sekolah agama sebelum berkenalan dengan Toriq lagi, tetapi selepas dia menunjukkan aku semua itu, baru aku nampak bahawa aku telah silap meletakkan agamaku. Selama ini, aku hanya nampak ISLAM ini sebagai agama sahaja. Aku nampak ISLAM ini pada pelajaran. Aku nampak ISLAM ini untuk aku lulus cemerlang dan mendapat kerja dalam kehidupan.

Tapi rupa-rupanya, ISLAM ini lebih daripada itu. Seluruh kehidupan itu sendiri sebenarnya perlu berada di dalam ISLAM. Hal ini kerana, ISLAM itu syumul, meliputi segala perkara. Semua itu aku fahami, hanya selepas aku mengenali Toriq. Perlahan-lahan, dialah yang memimpin aku.

Sebab itu, aku amat menyayanginya.

“Ni kenapa tengok aku macam aku dah nak mati je ni?” Toriq memandang kepadaku.

Aku tersedar dari lamunan panjang. Perkataan ‘mati’ membuatkan aku sedikit rasa tidak senang.

“Kau sakit, aku tengok-tengokkan la” Aku menjawab selamba.

Toriq tersenyum. “Kut la nak ubatkan”

“Aku bukan doktor lah”

“Da’ie, doktor pada ummah seh”

Kata-kata Toriq mengoyak sengihku. “Masalahnya, kalau bab sakit macam kau ni, da’ie tak boleh nak ubatkan. Doktor la kena bagi ubat”

Toriq menggeleng. “Da’ie, perlu beri harapan kepada pesakit macam aku ni, untuk menjalani ujian sakit itu dengan penuh keimanan”

Aku tersenyum. Ada-ada sahaja. Tak mahu kalah juga.

“Jadi, bersabarlah kau dengan ujian ni. Ini baru sakit sikit. Kemungkinan, ALLAH akan uji dengan benda yang lebih besar”

“Apa agaknya benda yang lebih besar tu?”

“Aku kahwin dengan orang yang kau suka”

Terkeluar tawa kami berdua.

“Berani la” Toriq menunjuk penumbuk.

“Joke man, joke”

Toriq mengangguk. Aku tahu, dia faham. Kami bukan sekali dua bergurau. Entah, sudah kali ke berapa ribu kami bercanda. Kadang-kadang, tanpa bersuara pun, aku seakan dapat menjangka perasaannya, dan dia pula seakan dapat menjangka keadaan aku.

“Aku rasa, aku dah hampir sihat dah ni” Toriq memegang dahinya.

“Kau rehat cukup, okaylah kut”

“Darah pun dah tak keluar dah sehari dua ni”

“Esok boleh pergi kuliah”

“Kau mesti sepi pergi kuliah sengsorang”

“Bajet macam aku ni jiwang plak”

“Ha ha…”

Senyap sebentar selepas itu. Tiga hari ini, aku la yang menjaganya. Ahli rumah lain agak sibuk kerana mereka pelajar perubatan. Pelajar agama di Yarmouk memang agak banyak masa lapang.

“Tapi, memang sepi pun tak ada kau”

“Ha… introducing, mamat jiwang Irbid, Rasyid!”

“Banyak la” Aku menolak Toriq. Kami ketawa lagi. Nampaknya, Toriq memang benar-benar sihat.

Aku rasa lega.

Mungkin, mimpi aku itu hanya mainan sahaja.

Mungkin, aku ini terlalu banyak fikir.

“Hei Toriq” Aku memandang Toriq. Mata kami bertemu.

“Em?” Keningnya terangkat sebelah. Gaya kebiasaan.

“Uhibbukafillah, jiddan jiddan” Aku cintakan kamu kerana ALLAH sangat-sangat.

Toriq senyap sebentar. Kemudian ketawa.

Aku hairan. Kenapa?

“Kau memang dah jadi mamat jiwang seh. Gaya macam nak tinggal aku jauh je”

Aku tersengih. Aku yang takut kau tinggal aku jauh. Aku yang tak mahu kau pergi jauh tinggalkan aku.

Kemudian tawa Toriq mengendur. Dia memandang aku.

“Uhibbukafillah kaman” Aku cintakan kamu kerana ALLAH juga.

Aku tersenyum.

Hati lapang.

****

Aku terbangun.

Aku tidak tahu sama ada aku patut tersenyum, atau terus bimbang.

Aku bermimpi mimpi yang sama. Tetapi, mimpiku bertambah. Semuanya sama, hingga ketika wajah pucat Toriq yang terpejam matanya. Namun, kali ini, sebelum berakhir, mata Toriq yang terpejam itu, terbuka, dengan mata yang bergenang.

Adakah ini tandanya, dia tidak akan mati?

Ataupun, adakah ini tandanya, Toriq hanya berada dalam kesedihan?

Aku tidak tahu.

Ya ALLAH, lapangkanlah kehidupan sahabatku Toriq, permudahkan segala urusannya, ampunkan segala dosa-dosanya….

Aku berdoa.

Semoga ALLAH pelihara sahabatku Toriq.

Sekurang-kurangnya, dalam diriku sekarang, ada perasaan bahawa, Toriq tidak akan pergi meninggalkan aku.

Tapi…

****

Kehidupanku seakan kembali seperti biasa. Berjalan ke Universiti Yarmouk bersama sahabat tercinta, Toriq.

Pagi tadi, selepas bersarapan, aku teringat akan ibuku. Aku bersembang lama juga. Sempat berkirim salam kepada semua keluarga. Agak lama juga tidak menghubungi mereka.

“Ni kenapa muka macam orang baru kahwin ni?”

Aku tersengih. Sebab aku senang hati. Aku dapat telefon ibuku pada pagi hari, dan sahabatku kembali sihat. Malah, aku dapat rasa bahawa kerisauanku macam beterbangan hilang. Mungkin selepas aku kembalikan bahawa, hidup dan mati itu susunan ALLAH.

Semalam, sebelum tidur, aku bermuhasabah.

Mungkin, kalau benar mimpi-mimpi aku selama ini benar adalah tanda bahawa Toriq akan ditarik pergi, maka aku pun tidak akan mampu menghalang kehendaknya. Mati itu adalah urusan-Nya. Kita tidak boleh mengelak, jauh sekali hendak melarikan diri. Cuma, tugas kita adalah hidup dengan nyawa yang masih ada, dan cuba menjaga diri sebaik mungkin.

Setiap yang bernyawa akan mati. Tiada keraguan akan hal itu. Maka tidak perlu dipertikaikan. Pokok persoalan sekarang adalah, bagaimana kita menjalani kehidupan.

Dikejutkan mimpi semalam, aku solat tahajjud, solat taubat dan melakukan solat hajat. Aku mendoakan agar aku termasuk dari kalangan yang beriman dan diberi rezeki untuk masuk syurga. Aku berharap agar, aku termasuk dalam kalangan mereka yang mendapat redha ALLAH. Aku juga mendoakan semua ahli keluargaku, dan rakan-rakanku. Semestinya, aku tidak lupa mendoakan sahabatku Toriq.

“Weh, jawab la. Mimpi jumpa bidadari ke?” Toriq menolak bahuku.

Aku menggeleng. Aku mimpi kau hidup. “Mana ada apa-apa”

Aku terus berjalan. Toriq menepuk-nepuk belakang tubuhku. “Takpe…”

“Jangan ambil hati seh” Aku meniru ‘seh’ yang selalu diucapkannya.

“Aku ambil jantung je seh” Toriq membalas canda.

Kami ketawa.

Kami sampai di tepi jalan raya.

“Tak sibuk seh pagi ni”

Aku mengangguk. Walaupun ada kenderaan lalu lalang, tapi tidak sesibuk seperti biasa.

Toriq terus melintas. Aku mengikuti dari belakang.

Poooooooooonnnnn!!!!

Aku menoleh. Sebuah coaster bergerak laju ke arah kami. Mataku membesar. Spontan aku menolak Toriq dengan kuat. Sahabatku itu terkeluar dari jalan raya.

Jarak coaster denganku tidak lebih dari sedepa.

Ketika ini, keadaan sekeliling aku seakan menjadi perlahan. Aku sendiri jadi pelik. Aku sempat memandang Toriq yang hendak membuka mulut untuk mejerit.

Aku sempat pula teringat akan mimpiku.

Tangisan ahli rumah, kesugulan kenalan-kenalan di Jordan, kata-kata Abang Dzulkarnain, kemudian wajah pucat Toriq dengan mata terpejam yang akhirnya terbuka dalam keadaan mata bergenang.

Patutlah…

Aku tersenyum.

“Oh, rupanya bukan Toriq. Tetapi aku…”

Alhamdulillah. ALLAH Maha Besar. Ternyata ilmu berkenaan kematian ini tidak tersampai pada insan untuk menjangkanya.

BAM!

Seluruh alam macam berputar berulang kali.

Dan yang terakhir aku dengar adalah suara jeritan Toriq yang panjang, sebelum segalanya menjadi gelap, dan senyap.

ALLAH… Aku naik saksi bahawa tiada ILAH selainMU, dan Muhammad itu adalah RasulMU.

Toriq…

Aku yang pergi dahulu….

BAGAIMANA MAKSIAT MEMASUKI DIRI SEORANG HAMBA?

Kebanyakan, maksiat memasuki diri seorang hamba melalui empat pintu, di antaranya:

PERTAMA: PANDANGAN.

Pandangan merupakan pemandu dan utusan syahwat. Menjaga pandangan merupakan tindakan utama dalam menjaga kemaluan. Barang siapa mengumbar pandangannya, maka dia telah menggiring dirinya kepada kebinasaan.

Pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia. Sebab, pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan membangkitkan syahwat dan keinginan yang semakin menguat dan akhirnya membulatkan tekad, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya. Dalam hal ini ada yang berkata: “Kesabaran dalam menundukkan pandangan masih lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung akibatnya.”

KEDUA: BISIKAN JIWA.

Adapun bisikan jiwa, permasalahannya lebih rumit karena ia merupakan pintu (pembuka) kebaikan dan keburukan. Bisikan jiwa akan melahirkan keinginan dan tekad. Oleh sebab itu, siapa yang menjaga bisikan jiwanya niscaya mampu mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsunya. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh bisikan jiwanya pasti akan tunduk kepada jiwa dan hawa nafsunya.

Bahkan, barang siapa yang meremehkan bisikan jiwanya maka bisikan tersebut akan menggiringnya secara paksa menuju kebinasaan. Sungguh, bisikan akan senantiasa mendatangi hati sehingga menjadi angan-angan semu.

KETIGA: UCAPAN.

Menjaga ucapan dilakukan dengan tidak mengeluarkan perkataan sia-sia, yaitu tidak berbicara tentang perkara yang tidak bermanfaat dan berfaedah dalam agama. Jika hendak berbicara, maka timbanglah terlebih dahulu, apakah di dalamnya terdapat manfaat dan faedah ataukah tidak? Jika tidak, maka tahanlah pembicaraan tersebut. Jika mengandung kemaslahatan, maka dilihat lagi, apakah ada kalimat yang lebih baik atau tidak? Dengan begitu, kalimat yang bermanfaat tadi tidak tersia-siakan akibat kalimat yang tidak jelas.

Jika kamu ingin mengetahui apa ynag tersembunyi dalam hati, maka lihatlah apa yang dikatakan. Lisan menunjukkan apa yang terdapat dalam hati, baik pemiliknya suka ataupun tidak.

Yahya Bin Mu'adz berkata: “Hati ibarat periuk yang isinya mendidih. Sementara yang menjadi ciduknya adalah lisan. Maka perhatikanlah baik-baik ketika seseorang berbicara, karena lisannya menciduk apa yang ada dalam hatinya: manis, asam, tawar, asin, dan sebagainya. Ciduk lisannya menjelaskan kepadamu perasaan dalam hatinya.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (X/63)]

KEEMPAT: LANGKAH KAKI.

Menjaga langkah kaki dilakukan dengan tidak melangkahkan kakinya kecuali untuk perkara yang diharapkan pahalanya. Jika pada langkah kaki itu tidak terdapat tambahan pahala, maka duduk itu lebih baik baginya.

Seseorang juga dapat keluar melangkahkan kaki untuk setiap perkara yang mubah, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus meniatkannya karena Allah, sehingga langkah kakinya pun bernilai ibadah.

___
(Kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, hlm 337-358)

Cinta dan Premisnya

Kata orang, cinta yang tepat akan datang pada waktunya.

Bisa jadi benar, bisa jadi tidak.

Karena kalimat di atas adalah kesimpulan, sedangkan belum ada premis yang dapat memastikan.

Kesimpulan sudah ada, namun premisnya lah yang kita cari.

Ajukanlah pertanyaanmu sendiri,

Bagaimana cara kita menemukan cinta yang tepat itu?

Entah bisa jadi dengan menunggu saja, atau berusaha keras? Entah langsung menemukan pada pandangan pertama atau harus berkali-kali terluka?  Apakah dia orang baru, atau ternyata ia adalah orang yang telah lama mengenalmu?

Kapankah waktu yang tepat itu?

Apakah umur dua lima atau tiga puluh? Apakah saat kita telah selesai menamatkan pendidikan? Apakah karena disengaja bertemu atau mengharapkan kedatangan yang tak disangka-sangka? Apakah langsung jatuh cinta ketika pertama bertemu atau kembali mencintai seseorang yang telah jadi masa lalu?

Kita tidak tahu, dan itulah yang menjadi menarik. Dimana ketika kita mulai menggali premis-premis yang membuktikan setiap kesimpulan.

Mari berangkat dan mencari. Buktikan premis milik kita sendiri. Karena kisah cinta setiap orang tak hanya lurus-lurus saja, dan tentu tak hanya satu kisah saja.

Kau berhak mencari, sembari membuka tabir takdir yang telah diatur oleh sutradara semesta.


Bandung, 8 Juni 2016

Tak pernah luput membuat jantungku berdebar debar akut.
Rasanya seperti selalu jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dia punya wangi khusus yang selalu membuatku rela membuka mata lebih pagi hanya untuk menciumnya.
Ketika tak ada dia di pagiku, aku bisa berantakan seharian itu.
Dia bisa menjadi apapun yang aku inginkan.
Menjadi si hitam eksotis yang dengan panasnya siap menggodaku semalaman.
Atau si dingin yang manis, dengan lembutnya mampu meredakan gerah di dada.
Aku cenderung cepat bosan.
Tapi merasakan dia hingga seluruhnya dicecap lidah, inginku padanya akan semakin parah dan parah.

Mengapa aku bisa sebegininya jatuh cinta pada kopi?
Mengapa tidak?
Dia lebih seksi dan setia dari kekasih manapun.

youtube

song: Pandangan Pertama

artist: RAN (Indonesia)

mood: happy

youtube

Pandangan Pertama - @TheOvertunes at 1st Anniversary Overtunist Makassar

ehhhmmmmmmmmmm!! gmna yah ngomongnya,, TheOvertunes bisa di bilang jarang cover lagu Indonesia, ya walaupun akhir2 ini udh lumayanlah,, dan video cover Pandangan Pertama dari RAN ini juara bgetlah,, aduhhh Madaaaaa!! aq baru pertama lihat km nyanyi dgn wajah dan ekpresi segembira ini,, pake ngajak tepuk tangan bareng Tunist, nunjuk2 ke Tunist, bikin lambang hati pake tangan dan ngerappnya juara bget bung,, !! :D Mikha ampun suaramu emang selalu bikin hati bergetar, *ceilehh di situ ada bagian lagu yg km nyanyinya dgn suara aneh tp greget bget, Reu anda selalu mempesona saat memetik gitar bung :’) dan di akhir lagu sempet ada yg ngejekin bilang ke Mada, “hafal ngk itu mad afal gak?” itu sepertinya suara reuben :D,, di sini tuh kalian bwain lagunya kek sambil bercanda tapi tetep bgus gtu dan bikin tunist ternyanyut,, :) tadi pas lihat pertama kali video ini di Youtube dari awal gak berenti senyum ampe keluar air mata, serius ini ntah knpa jg bisa begitu, mungkin saya terlalu bahagia :D gak ngebayangin jg, klo aq ada di situ jg bakal apa yg terjadi pada saya,, haha! pokoknya great job buat kalian TheOvertunes, love you so much guys!! :) dan makasih bget buat yg udah rekam dan uploud video ini,,, :) 

-Gyan_Aiu-