pahala

Imam Bakr bin Abdullah Al Muzani berkata: “Jauhilah bagimu pembicaraan yang jika engkau benar maka engkau tidak akan diberi pahala, dan jika engkau salah maka engkau akan berdosa, yaitu: berburuk sangka kepada saudaramu”.
— 

@mohammadalwh – Dr. Muhammad Abdullah Al-Wuhaibi, Professor Akidah dan Perbandingan Madzhab di King Saud University.

13/11/2015

Ya Tuhan, bagaimana jika kelak jodohku tidak lebih baik dariku? | Maka pahala bagimu, untuk mengajarinya agar menjadi lebih baik | Lantas, bagaimana jika kelak jodohku lebih baik dariku? | Maka pahala bagimu, untuk belajar lebih baik dari dirimu sebelumnya.
Dekat
  • Kafka : Bun, hari ini aku liat temen temenku pada banyak nyetor hafalannya ke ustadz.
  • Bunda : Ohya? Alhamdulillaah
  • Kafka : Trus cuma aku yang nyetor dikit
  • Bunda : ....
  • Kafka : Padahal aku dah berusaha biar banyak hafalanku Bun
  • Bunda : Iya, Nak
  • Kafka : Dan aku sampe bawa quran kemana mana biar tiap lupa, langsung bisa inget
  • Bunda : Iya, Nak..
  • Kafka : Tapi kenapa masih tetap aku yang sedikit setoran ayatnya..
  • Bunda : Nak, Quran itu Allaah berikan pahala perhuruf, bukan per setoran. Disaat kamu sibuk mengulang ayat yang sama karena gak lekat lekat dikepala, saat itu kamu sedang menuai pahala per huruf yang kamu ulang ulang
  • Kafka : ....
  • Bunda : Memang disisi lain, bagus yang cepat hafal. Tapi, mungkin dengan cara ini Allaah memberikan kamu pahala atas tiap ayat yang kamu baca dan ingat.
  • Kafka : Ya Allaah..
  • Bunda : Bagi Bunda, yang penting bukan cepat atau lambatnya, tapi seberapa sering interaksi kamu dengan quran. Seberapa dekat kamu dengan quran. Jadi berbahagialah nak, jari jarimu banyak menyentuh Quran yang mulia. Tanganmu sibuk membolak balik mushaf. Kamu, pemuda yang tumbuh bersama quran.. Semoga Allaah meridhaimu, sayang.
  • Kafka : Allaahummaghfirli, aamiin.. 😭
Perempuan yang Kurang Berjuang (?)

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” – (Q.S Al – Ahzab (33) : 35)

Suatu hari, dalam obrolan ringan yang ternyata tidak mengalir seringan biasanya, tanpa diduga seorang teman berkata, “Kalau aku lihat ya Nov, kamu itu tipe perempuan yang kurang berjuang. Gimana coba mau nikah tapi engga punya pacar? Banyak teman sih, tapi deket yang beneran deket sama laki-laki aja engga, gimana coba? Saat itu, saya hanya menanggapinya dengan tertawa. Tapi ternyata, tawa yang sama tidak bisa terbawa lama-lama. Setelah pulang, saya menangis sejadi-jadinya. Entahlah, rasanya sakit sekali, seperti ada yang menginjak-injak harga diri hingga saya pun bertanya-tanya, “Salahkah? Memangnya harus dengan cara apa seorang perempuan muslim berjuang?”

Dulu, saya menganggap bahwa dekat dengan laki-laki sebelum halal adalah hal yang wajar. Tapi, setelah belajar dan mengetahui bahwa itu bukanlah sesuatu yang diperbolehkan-Nya, maka saya tidak lagi punya cukup keberanian untuk tetap melakukannya. Bukan mudah, rasanya sulit untuk meyakinkan diri sendiri bahwa jalan yang sudah Allah tunjukkan adalah jalan kebenaran yang tak perlu ragu lagi untuk ditempuh. Beberapa orang yang datang dan mencoba mendekat setelahnya pun menjadi ujian tersendiri. Tak mudah! Ah, terang saja, kalau mudah namanya bukan ujian. Bagaimana pun, bukankah semuanya harus dikembalikan pada standar-standar yang sudah ditetapkan-Nya?

Kembali pada anggapan perempuan yang kurang berjuang, saya semakin bertanya-tanya: pertanyaan yang jawabannya ternyata tak mudah untuk didapatkan. Lalu, seperti biasanya, saya bertanya pada Ibu, seseorang yang memang sering menjadi teman diskusi saya hingga saya menganggap beliau seperti Ibu sendiri. Saya bertanya, “Bu, memangnya harus dengan cara apa seorang perempuan muslim berjuang? Apakah pernikahan memang perlu diupayakan sebegitunya oleh seorang perempuan sampai menggadaikan kehormatan?

Kemudian, Ibu menatap saya dengan lembut lalu beliau balik mengajukan pertanyaan, “Nov, Allah nyuruhnya apa? Allah janjinya apa?” Saya terdiam beberapa saat, lalu sesuatu muncul di pikiran saya, gemetar saya menjawab, Allah janji, perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan begitupun sebaliknya. Saya hampir menangis ketika Ibu tersenyum dan mulai menjelaskan, “Iya, Nov, Allah memang berjanji demikian dalam Al-Qur’an. Lalu apa lagi yang kamu takutkan? Biar saja, kamu tidak perlu mendengar anggapan orang yang mungkin memang tidak berpikir dalam satu frame yang sama, yang penting nurut aja sama Allah, ya Nak. Kedekatanmu dengan laki-laki manapun sebelum halal tidak lantas menjadikan kamu berjodoh dengannya. Dekat yang tak halal itu sejatinya tidak mendekatkan, bahkan hanya menjauhkanmu dari Allah. Jangan Nov, jangan hanya karena perasaan lalu kamu menggadaikan kehormatanmu sebagai seorang perempuan muslim. Percaya deh, Allah tidak akan dzalim dan tidak akan mengkhianati hamba-Nya yang berupaya untuk nurut dan menjaga diri.

Mendengarnya, saya merasa lega. 

Perjuangan perempuan memang terletak pada bagaimana ia menjaga diri dan kehormatannya, memperbaiki diri, mengendalikan hati, mengelola perasaan, memperkaya diri dengan ilmu, bersikap produktif dan mengupayakan ketaatan kepada Allah. Itulah sebaik-baik perjuangan yang bisa dilakukan oleh perempuan. Usaha perempuan haruslah usaha-usaha yang elegan, bukan dengan mengumbar perhatian, apalagi mengumbar perasaan pada yang belum halal.

Untukmu sahabat-sahabat perempuanku, perjuangan ini tentu tidak akan mudah untuk dilakukan. Mungkin akan ada ujian-ujian yang perlu kita hadapi dalam perjalanannya. Semoga Allah senantiasa menjaga dan memudahkan. Kabar gembiranya, ada ampunan dan pahala yang besar dari-Nya jika kita menjaga kehormatan. Semangat memperjuangkan ketaatan! ;)

Perayu.

Kita semua ini punya bakat sebagai perayu. Tukang rayu. Sebaik-baiknya perayu, adalah perayu Allah.

Wezzzzeh.

Salah satu kenalanku, pandai sekali merayu. Baru menikah 2 tahun lalu, dan tampaknya Allah kasih waktu buat mereka merasakan pacaran setelah menikah. Berdua saja.

Sebut saja namanya Mbak Cici. Gombal banget anaknya. Tukang rayu! Dia rayu siapa saja. Semuanya. Semuanya dia sayang. Senyum terus. Lembut sekali. Tapi yang paling kelihatan adalah caranya merayu Allah, agar dirumahnya tak lagi berdua saja.

Kita lupakan bagaimana mbak Cici menjaga ibadahnya. Biarlah itu urusannya dengan Allah.

Mbak Cici merayu Allah dengan berbagai cara. Dari segala arah.

Caranya?

Mbak Cici berusaha menjadi istri yang taat pada suaminya, istri shalihah. Kemarin, sempat ada plester di salah satu jarinya, kata Mbak Cici, “Namanya juga ibu rumah tangga. Hasil atraksi di dapur.” Gilak. Pahala tuh. Hasil atraksi masak buat suaminya. Untuk menyenangkan suaminya.

Mbak Cici telfon suaminya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang, “Cintaku, sudah makan belum?” Dan aku yang denger harus nahan napas. Memutar bola mata berkali-kali, “Mbak! Plizzzz…kamu dak sadar ada aku disini?? Bisa-bisanya cinta-cintaan didepanQ!” Wkwk

Mbak Cici sayangi Ayah Ibunya. Romantisnya maasyaaAllah. Mbak Cici tadi dak ragu ngambil tisu dan membersihkan sisa pasta gigi di dekat mulut Ayahnya yang baru selesai mandi. “Maap Pah…” sambil membersihkan dengan sungguh-sungguh. Kalau aku mungkin cuma bilang, “Pak, ada apa tu pak di dekat mulut Bapak?” Wkwkwk

Mbak Cici jaga silaturahmi dengan teman-temannya. Kemarin Mbak Cici sempatkan bertemu dengan salah satu temannya sebelum temannya kembali ke Toli-toli. Mbak Cici beri hadiah. Mbak Cici doakan temannya disela-sela pelukannya. Pelukan yang cukup lama menurutku. Lama kali malah. Doh. Kan aku awkward gitu nungguin mereka pelukan di tengah mal wkwk

Mbak Cici rangkul aku yang bahkan belum lama ia kenal, tapi udah kayak adiknya sendiri. Selain karena akunya yang adik-able, ehem, juga karena Mbak Cicinya yang ramah. Kita jadi akrab. Hehe hehe akrab gak ya. Kayaknya sih akrab.

Errr…kembali ke merayu Allah.

Kondisi akan berdua lebih lama setelah menikah sudah diketahui Mbak Cici dan suaminya. Ada masalah yang bisa dijelaskan secara medis. Tetapi mbak Cici dan suami bersikap positif sekali. Bahkan dokternya bilang, “Kamu kalau bisa hamil itu mukjizat banget…”

“Bukannya mengandung, punya anak, itu memang mukjizat ya? Bukan cuma buat aku, tapi juga buat semua wanita” kata Mba Cici kemarin.

Iya jugak.

Yang jelas, Mbak Cici gak lelah merayu Allah. Dan Allah pasti terayu dengan semua rayuannya. Yakin deh! Tapi mungkin Allah ingin dirayu sebentar lagi saja. Allah sedang menyusun dan menumpuk nikmat untuk Mbak Cici dan keluarga. Allah pasti memberi sesuatu yang istimewa dengan segala rayuan yang ada. Allah tak akan biarkan rayuan itu sia-sia.

Teruslah merayu Allah. Caramu udah paling romantis mbak! Jangan putus asa!

Ingat pesanku, test pack nya jangan dibuang. Dikumpulin, terus disusun, bisa buat frame. Tengahnya nanti foto usg. Wkwk biar anakmu nanti tahu, bagaimana dia ditunggu.

pis laf en gawl.

Barang siapa ringan dosanya di dunia ini, niscaya ia akan lebih cepat dalam perjalanannya ketika melintasi “ash-shirath” di akhirat kelak.
Barang siapa banyak dosanya di dunia, niscaya ia hampir terperosok atau terjatuh dari “ash-shirath” di akhirat kelak.
Wahai Rabb, permudahlah kami tatkala melewatinya dan perbaguslah langkah-langkah kami kepada-Mu.
—  @dr_almuqbil - Dr. Umar Al Muqbil, dosen hadits di Fakultas Syari’ah Universitas Al Qashim, Wakil Ketua di Lembaga Ilmiah untuk Studi Al Qur’an, Saudi Arabia. 3/3/2016

Saat ini, aku membatasi percakapanku denganmu. Kenapa?

Karena aku ingin lebih banyak bercakap-cakap dengan-Nya. Melantunkan semoga, agar nanti kita berdua bisa bebas bercengkerama, sekadar membicarakan hal remeh semacam akhir pekan mau jalan-jalan ke mana. Kau tersenyum malu-malu, aku memelukmu, lalu kita terlelap bersama-sama. Tanpa takut dosa, malah dapat pahala

—  :)
Kita mengira patah hati adalah musibah sehingga harus bersabar. Padahal, patah hati adalah nikmat sehingga harus bersyukur. Bila selama ini kita telah berdo'a maka kemungkinannya empat: diberi sesuai yang diminta, diganti dengan yang semisal atau lebih baik, dihindarkan dari petaka, atau diganjar pahala yang besar di akhirat. Tak ada jawaban do'a yang merugikan, maka mengapa tidak bersyukur saja atas hati yang patah?
—  @taufikaulia
Jangan sampai  suatu saat nanti kalau kita sudah memiliki anak, untuk masalah ngaji, yang ngajarin bismillah dan fatihah orang lain. Tapi harus kita sendiri sebagai orang tuanya.
— 

Setidaknya, setiap mereka membaca bismillah dan fatihah sejak masih kecil sampai dewasa bahkan sampai nafas diambil, kita yang dapat aliran pahalanya terus menerus tanpa putus. Meskipun kita sudah meninggal. Pahala itu akan mengalir bak sungai yang tak pernah kering. Kita tidak pernah tau bukan, jika ternyata amalan-amalan kita yang kurang, dibantu dengan amalan-amalan anak (sholih/sholihah) kita, yang telah kita ajarkan kepada mereka?

Makanya. Ngaji yang sungguh-sungguh. Biar enggak rugi. Biar enggak menyesali masa depan.

⛅*TILAWAHMU*⛅

Tilawah bukan menyanyi yang dikerjakan karena hobi, bakat, atau suara emas. Tilawah adalah kebutuhan hati yang tidak bisa ditunda. Sesungguhnya hati adalah cerminan aktivitas harian. Aktivitas baik, hati baik, tubuh jadi baik. Aktivitas buruk, hati buruk, tubuh jadi buruk. Dan tilawah adalah obat yang membersihkan noda-noda di hati, menenangkan frekuensi-frekuensi hati yang dibuat kacau urusan-urusan dunia.

💐💐💐

Tilawahlah sekalipun seisi dunia mengatakan suaramu jelek dan tidak punya bakat sama sekali. Tilawahlah karena itu kebutuhan hati dan investasi dunia-akhirat untukmu, ayah-ibumu, dan guru-gurumu. Setiap kali tilawah sesungguhnya kamu sedang menanam kebaikan, membersihkan hati, menenangkan pikiran, menyehatkan badan, menerapi alam bawah sadar, dan diganjar pahala yang tak kira-kira.

💐💐💐

Sekalipun terbata dan suara fals, tilawah saja dulu. Keikhlasan dan perjuanganmu untuk istiqamahlah yang membuatnya indah. Sekalipun suaramu tidak enak didengar, saat kamu tilawah Allah sedang tersenyum membanggakanmu di depan penduduk langit. Bahwa ada seorang hamba yang karena kesungguhan cinta dan pengharapannya, sedang terbata berjuang membaca kalam-Nya.

💐💐💐

Bila hari ini kamu masih tilawah sedikit apapun dalam sehari, seterbata apapun, bersyukur hatimu masih digerakkan. Karena zaman sekarang, tidak semua orang percaya diri membuka Al-Qur'an di kamarnya, membacanya dengan suara sedang yang terdengar oleh penghuni kontrakan/kos-kosan, membawanya dalam tas dan sesekali membukanya di masjid, kampus, kantor, atau tempat lain. Alhamdulillah, setidaknya kamu masih punya niat baik untuk terus berinteraksi dengan Al-Qur'an dan menjaganya sampai mati.

💐💐💐

📝 taufikaulia.tumblr.com

Saya mendalami agama islam, belajar tentang Allah SWT, tentang nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, belajar kisah para nabi, belajar pahala dan dosa, memahami syurga dan neraka, dan berbagai ilmu islam, bukan karena saya ngefans sama islam.
— 

Tapi karena saya adalah seorang muslim.

Bagaimana bisa kita beragama akan sesuatu yang kita sendiri tidak pahami?

Garis Tengah

Situasi yang sedang saya alami (seperti yang juga dialami orang lain pada umumnya), tidak pernah jauh-jauh dari usaha yang begitu keras untuk bisa tetap menjejak di garis tengah. Di ‘khatulistiwa.’


Garis tengah di antara :


1. Spiritualisme dan materialisme, di mana tarikan alam materialistis terasa begitu kentara dan agresif. Jiwa yang lemah dan lapar akan kehabisan energi dalam pertempuran ini dan akhirnya, kalah. Terasa benar sulitnya memosisikan dan mengukur segala sesuatu dengan mata ukur yang lebih esensial dari materi. Misalnya, mengukur harga sebuah kesuksesan berdasarkan ukuran kebermanfaatan, alih-alih ukuran harta. Sulit karena, materi itu konkret. Sedang konsep kebermanfaatan, pahala, adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang sulit dicerna jiwa yang kelaparan. Lapar akan ketenangan, keimanan, dan kebahagiaan.

Ditambah oleh kekuatan si invisible hand, menggerakkan 'anak-anak’ materialisme, antara lain sekularisme dan konsumerisme, membuat pertempuran ini begitu beratnya.


2. Rasionalitas dan intuisi, terkhusus dalam menghadapi persoalan dan mengambil sikap. Kapan bisa berbekal nekad, kapan perlu persiapan matang. Kapan harus memulai, kapan harus menunggu. Kapan harus mencari pembuktian ilmiah, kapan harus percaya tanpa banyak bertanya.


3. Dunia dan akhirat, ini yang tersulit. Godaan dunia begitu besar. Amat besar. Membuat orientasi hidup yang dibuat sebagaimana Rasul contohkan : Hidup baik di dunia dan akhirat, sering mengalami hantaman dari kanan kiri. Ketika hati terasa kosong, saat itulah saya tahu bahwa hati saya sedang terlalu condong pada dunia. Ketika hati terasa terlalu penuh, saat itulah saya tahu bahwa saya melupakan urusan dunia, tempat di mana saya perlu menggunakan energi jiwa yang begitu besar untuk melakukan kebaikan.


Meletakkan diri untuk berdiri kembali pada garis tengah adalah proses belajar sepanjang hayat.

Ibarat berperahu di antara dua tebing, ombak datang menghantam dari kanan dan kiri. Menyeimbangkannya kembali butuh ketangguhan, sepanjang hidup. Keselamatan bagi mereka yang bisa tetap berlayar dengan tangguh.

Mungkin benar bahwa kita hidup di akhir zaman, mungkin benar bahwa kiamat telah dekat. Semoga masih tersisa istighfar di sela-sela napas kita.

Ramon Damora

MASALAHNYA,
GUE BUKAN AHOK

sorry men
gue baca yasin
bukan black campaign

gue cuman zikir
pengen diam
ngapain lo mikir
macam-macam

gue datangin
majelis taklim
lo sinis, ngeklaim
kampanye hitam

kasian lo, bro
bentar-bentar kepo
masjid masjid gue
qur'an qur'an gue
udah, jangan rese

sejak lahir
gue diazanin
islam haqqul yakin
lakum dinukum
waliyadin
stop ngerecokin

imam gue takbir
gue takbir
imam gue ngingetin
bahaya “waladhdhaallin”
semua kompak amin
simple, men
nggak usah cemen

nggak perlu juga kale
cari-cari simpati
bikin pencitraan
korban penzaliman
ayat-ayat suci

baru surat al maidah
satu ayat
lo udah marah-marah

ge-er amat

santai dong
jangan gotong-royong
nodong-nodong

jakarta perlu
orang super
bukan gubernur
bentar-bentar baper

gue pake songkok
pengen sujud rukuk
mencari ridho ilahi
buat nabung pahala

sayang gue bukan ahok
yang berani nyeletuk
kalau dia mati
langsung masuk surga

2016