pagis

Ubah pola pikir untuk kemerdekaan Indonesia

Sejak lama mau nulis ini, tapi masih malas. Sampai tadi pagi Baca ig stories gitasav juga video di akun YouTube nya.
Tentang pola pikir orang Indonesia yang susah dirubah Apalagi masalah fisik.

Ternyata penampilan perempuan dengan tanpa makeup, muka gosong, Pipi gendut, atau apalah yang mereka sebut kekurangan fisik.
Orang lebih seru mengomentari fisik dibanding prestasi.
Kalau ada Selebgram no makeup buru buru komentar “ternyata alisnya gundul, ternyata item, ternyata gak secantik kalau pake makeup”
Kalau sudah di makeup, pakai alis yang digambar, lipstick yang sedikit berwarna terang, ikutan komentar lagi “gak natural, alis digambar, alis udah di cukur trus di gambar dasar perempuan aneh”

Itu baru dilevel satu.
Dilevel kedua saat perempuan pakai cadar buru buru komentar “Kaya terrorists, emang gak panas, pakaian nya lebay”
Pake jilbab lebar “Padahal cantikan pakai jilbab yang biasa aja ”
Udah gitu.
Laki-laki ikutan koment “itu kalau gak pake cadar secantik apa ya, mukanya gimana, mancung enggak”
Ada lagi “udahlah apa adanya aja”

I have no idea kalau dengerin atau Baca komentar nitizen soal fisik.
Kenapa di Indonesia krim pemutih laris, obat peninggi badan banyak yang jual, alat mancungin hidung banyak yang cari?
I get the point now
Karena standard fisik orang Indonesia ya begitu.
Cantik, langsing, tinggi, putih.
Itu baru perempuan, belum koment perempuan ke fisik Laki-laki.

Pernah suatu ketika, saya kenal perempuan dan Laki-laki yang sedang taaruf.
Waktu si perempuan kirim photo nya ke si lelaki.
Gak lama laki2 ini nolak melanjutkan dengan alasan “yah, fisik nya gak memenuhi standard”
Belum tau aslinya, udah salfok aja.
Belum tau akhlaknya, udah nolak aja.

Rasanya fisik itu segala galanya, tapi yang lebih ngeri cara kita memandang juga mengomentari.

Andai aja Kita mengapresiasikan diri Kita apa adanya, kita bisa juga menerima orang apa adanya.
Bukan sebagai pasangan, Tapi sebagai manusia yang berbentuk apapun tentang fisik nya.

Who know kalau ternyata komentar kita salah asumsi.
Gimana kalau perempuan yang kita bilang alisnya di cukur lalu digambar itu Salah?
Gimana kalau emang alis aslinya gitu.

Kalau aja Kita gak usah komentar sama hidup orang soal fisik, mungkin seluruh wanita di Indonesia bersyukur sama apa bentuk fisik yang udah Allaah kasih.

Resah sih, susah juga untuk bikin pola pikir orang Indonesia dirubah. Terlebih soal ini.
Susah sih merubah mereka biar gak Ngabisin waktu buat ghibah atau sekedar komentar gini itu soal fisik.
Kalau aja bisa, ah Indonesia mungkin sudah merdeka dari saling hina juga saling sindiir.
Jangankan fisik perempuan, fisik orang hebat yang kalian fikir katanya kurang Oke aja dihina juga di komentarin.

Terakhir,
Kalau abis ini ada yang komentar “ah lo sok tau, anak muda ngerti apa”
“ah lo kalau mau nulis ginian pulang dulu”
“tinggal diluar negri aja belagu sok ngurusin akhlak orang Indonesia”

Eta terangkanlah, pola pikir nya yang buruk bukan lagi soal fisik tapi soal opini orang aja disalfok'n.


Udah Lah, cape juga ngetik dihape.


Selamat hari kemerdekaan Indonesia.
Jangan lupa buang sampah di tempat sampah.


Saya yang tinggal sg, Bentar lagi pulang kok ❤

Dulu juga saya gitu, Nggak dulu juga. Kemarin2 masih gitu liat oranglain yang diliat “fisik nya” dulu.. Semoga ini jadi nasehat nampar buat saya.

Bu, sekuat apapun aku kemana- kemana seorang diri, aku selalu membutuhkanmu,

Bu, sedingin apapun, sikapmu aku selalu merindukan wajahmu, setiap kali aku pulang,namamu yang selalu ku cari,

Bu, di sisa hari tuamu, engkau sekuat itu, menahan sakit,

—  Pagi ku di rumah sakit,
Terlalu banyak tentangmu yang aku semogakan. :)
— 

Tentang pesan pesan yang kau kirimi setiap hari, tentang perhatian perhatian, tentang emoticon emoticon tanda sayang. Tentang sapaan sekedar hai yang bisa membuat wajahku merona dari pagi sampai ke mimpi.

Tentang mimpi satu sama lain yang pernah kita bicarakan tempo hari. Tentang semangat yang kau tularkan dalam giatnya mengejar prestasi. Tentang bagaimana kita saling menguatkan saat memutuskan untuk sama sama hijrah dari tanah kelahiran sendiri.

Tentang kamu yang menjadi satu satu nya orang yang bertahan di sampingku bahkan saat tidak ada yang mempercayaiku lagi. Tentang alasan rahasia kenapa bersedia mendampingiku dalam keadaan seperti ini.

Tentang aku yang masih sibuk menerka nerka. Tentang seyumanku yang terlanjur sumringah berbunga bunga. Tentang kata semoga yang berlebihan hingga aku lupa hanya karena hal-hal sepele seperti itu, belum tentu kau jadikan tujuan pada akhirnya.

Tease.

Originally posted by luuuuuke-evans

Originally posted by luuuuuke-evans

Titled: ‘Tease’

Warnings: Gaston/Luke Evans feels, FLUFF 

Word Count: 1,392 

Tagging: @norrihiddleskittycap  @captainemwinchester @little-red-83 @impalaimagining@sherlocks-timetraveling-assbutt @hobbithorse19 @feelmyroarrrr @lefouismylife@redimagines @letowolfie @ciaprincess @speedycatbluebird @haniiix33 @mademoiselle-lani @winchester-writes  rexhepierijona

A/N:   Request from @btrombley13:  You should write a Gaston x reader where, much like Belle, he just keeps trying to win her over but the reader just keeps denying. Maybe where the reader continously teases him, whether it’s by joking with him or wearing a dress which just compliments the reader in best ways. I just thought that would be funny and actually kind of cute. Cause lets face it, Luke Evans Gaston is amazing ^_^ have a good day :)

A/N: Sure! Of course! I hope this was what you were looking for!! 


For years, Gaston offered you his heart and hand, but you would respectfully decline his wish. You liked Gaston and all, but you feared of settling. You didn’t want to settle to early on in life. You were young and ambitious. Plus, Gaston and you have been companions longer then before Gaston showed you signs of love. You also didn’t want to see that kindled relationship be destroyed if things fell through. Gaston, on the other hand, knew he had you reeled in, it only just a matter of time. But since you and Gaston were still only friends, you were certainly not shy from the idea of messing with one another. 

Keep reading

Kita sama-sama tahu, setiap orang menanggung sesuatu di pundaknya. Yang kita tidak tahu adalah pundaknya sekuat apa. Mari murah hati dengan jangan merasa paling lemah, lalu berhentilah menaruh harapan selain pada kemampuan dirimu sendiri.
youtube

I try to say goodbye and I choke
I try to walk away and I stumble
Though I try to hide it, it’s clear
My world crumbles when you are not here

Ada banyak ketakutan yang selama ini kusembunyikan.
Ada banyak keraguan yang selalu aku tangguhkan.
Ada banyak kesedihan yang selama ini kubiarkan terpendam.

Dan,
ada begitu banyak amarah yang kemudian hanya berakhir dengan diam.

Ya, diam.
Tak ada sepatah kata yang terucap, tanpa sedikitpun reaksi yang ditunjukkan.

Sejak kamu tak lagi berada di dekat,
sejak itulah segala hal yang sebelumnya bisa diungkapkan menjadi kelu.
Sejak kamu tak lagi berada di samping,
sejak itulah segala perasaan menjadi lebih baik untuk tak disuarakan.

Yang mereka tahu aku tak apa,
yang mereka tahu aku teramat baik,
yang mereka tahu aku begitu bahagia,
dan semua hal yang mereka tahu itu adalah kebalikan dari segala rasa yang dirasa.

-Azalea-

Semua dimulai dari keluarga. Semoga kelak, kita semua bisa menjadi orangtua-orangtua yang mampu menahan nada suara ketika bicara, bijak menahan kata-kata menyakitkan untuk tidak diucapkan.
2

I have known this for years but it only just clicked for me now.

The buntot pagi or stingray whip has always been a weapon used by Filipinos to fight against aswangs a.k.a. our version of vampires.

Apparently, we Filipinos are apparently related to Belmonts. If a large haunted castle suddenly manifests in Manila Memorial Park or Intramuros, I will keep y'all posted.

Also whoever did that wiki page has a sick sense of humor omgggg….

Kehilangan itu menyakitkan. Apalagi kehilangan ayat yang sudah di hafal. Sungguh, hal itu sangat menyakitkan.

Maka cukuplah hilangnya hafalan Al-Qur'an dari dada seseorang yang hafal maupun yang masih menghafal sebagai siksa atas maksiat yang ia lakukan.

Mengapa demikian?
Sebab hafalan itu ibarat tanaman yang bila tidak kita siram dan kita rawat dengan baik sedikit demi sedikit daunnya akan menguning kemudian layu dan mati.

Demikian pula dengan keadaan kita dengan Al-Qur'an. Bila tidak kita muroja'ah maka huruf demi huruf akan hilang sampai hilanglah satu ayat. Dan ayat demi ayat akan hilang sampai hilanglah satu surah. Dan surah demi surah akan hilang sampai pada hal yang menakutkan, yaitu matinya cahaya Al-Qur'an di hati kita.

Ketika tanaman itu layu, ia akan dicabut kemudian diganti dengan tanaman baru yang masih rapuh akarnya. Ketika hilang satu surah, ia akan mulai dihafal kembali. Dan menghafal pada kali kedua lebih sulit dibanding menghafal pertama kali surah itu.

Ini masih satu surah. Bayangkan jika yang hilang satu juz bahkan lebih…

Maka sering-seringlah menyirami tanamanmu. Rawatlah baik-baik. Itulah mengapa waktu muroja'ah lebih di khususkan atau diperpanjang waktunya bila dibandingkan dengan menambah hafalan.

Sebab menjaga itu lebih sulit bila dibandingkan dengan mendapatkannya atau ketika pertama kali kita memutuskan untuk menghafal Al-Qur'an.

Sebab hal tersulit bagi seorang penghafal Al-Qur'an adalah menjaga hafalan. Maka perbanyaklah waktu untuk selalu dekat dengan Al-Qur'an. Sebagai upaya penjagaan terbaik kita adalah menjaga surah cinta-Nya.

Apa kabar hati kita pagi ini? Apa kabar hafalan kita pagi ini??

©Ibn Syams (Self Reminder)

Seorang perempuan sedang mendaki ke pikiranmu

Seorang perempuan bersusah payah meraih ujung bukit pikiranmu. Tidak ada pijakan. Yang ada hanya pikiran-pikiran kosong tentang masa depan yang tak pernah terbayangkan. Segala serasa seperti mau mati, tapi sang perempuan bersikeras tak mau mengakhiri. Hingga sampailah pada satu kenyataan: lelaki yang selalu ia usahakan untuk mencapai pikirannya, kini telah pergi. Ke pikiran lain lagi.

Mari memperbaiki dunia dengan dimulai dari memperbaiki diri sendiri.

Mari menjadi bermanfaat dengan dimulai dari bermanfaat untuk orang yang detik ini sedang bersamamu.

—  Kapan lagi akan memulai berbuat baik kalau bukan sekarang? Jangan nunggu dua atau tiga menit lagi. Mulai sekarang juga!
Keinginan

Puasa ramadhan kemarin mengajarkan kita satu hal. Bahwa sebenarnya apa yang kita konsumsi selama ini lebih banyak berasal dari hawa nafsu daripada kebutuhan kita yang sesungguhnya.

Sesederhana ini. Dalam sehari puasa kita makan sahur, bahkan ada yang tidak sempat sahur dan hanya minum teh manis hangat dan beberapa butir kurma, bahkan hanya ada yang sempat air putih saja mungkin.

Kemudian menjalani puasa hingga waktu berbuka sorenya. Makan pun tentu tidak akan muat tiga porsi (jika kita ukur 3 kali makan dalam sehari) sekaligus. Pasti hanya secukupnya kenyang, bahkan ada beberapa yang pada waktu berbuka hanya minum hangat dan beberapa butir kurma dan baru makan besar selepas tarawih.

Dan sesungguhnya, kebutuhan dan kecukupan kita adalah sebanyak itu saja.

Sementara di hari biasa kita makan kesana kemari, jajan ini itu, bahkan ketika makan pagi pun segera lekas lapar di siang hari atau lapar karena melihat makanan yang menarik. Dan itulah hawa nafsu yang selama ini kita turuti.

Kebutuhan kita tidak sebanyak itu, dan puasa menyadarkan bahwa apa yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ini dengan baik dan sehat ya secukup itu saja.

Kalau kita memang berniat menuruti keinginan/hawa nafsu kita, tidak akan pernah ada habisnya bukan?

Yogyakarta,  2 Juli 2017 | ©kurniawangunadi