pagis

Mengkalkulasi Masa Depan

Kalau saja berani jujur pada diri sendiri, kita akan mampu mengkalkulasi nasib kita di masa depan. Karena, masa depan adalah akibat dari hari ini yang kita buat sendiri.

Hitung-hitunglah apa cita-citamu hari ini, bagaimana kau menghabiskan waktu hari ini, aktivitas apa yang paling kau gandrungi hari ini, serta pikiran-pikiran apa yang sering melintasi hati dan benakmu hari ini. Ya, masa depanmu tak akan jauh-jauh dari situ. Kecuali, ada keajaiban yang turun dari langit.

Salah satu kunci bernasib baik di masa depan adalah jujur pada diri sendiri. Karena, begitu banyak orang yang mengerti bagaimana cara mengejar sukses, tapi tanpa sadar membelot ke jalan lain yang penuh kesia-siaan.

Jam berapa kita bangun pagi ini? Berapa halaman buku sudah kita baca hari ini? Berapa do'a telah terlantunkan hari ini? Berapa jam kita streaming youtube, buka feed instagram, bermain game online, dan haha-hihi bersama teman-teman hari ini? Berapa banyak progres kehidupan yang kita buat hari ini? Nah, masa depan tak akan jauh-jauh dari sini.

Jangan merasa tergurui, karena tulisan ini adalah tamparan buat saya sendiri.

Bismillah untuk hari ini.

Taufik Aulia

Kau sudah menjadi kepingan-kepingan kisah, yang hanyut di arus sungai, yang menguning bersama dedaunan jatuh petang hari. Tak lagi bernyawa, tak perlu meronta. Kau hanya kisah lemah yang tak perlu mengutukku dengan sedih. Aku sudah berada di titik baik, dahan pohon yang kokoh, burung yang terbang, dan hutan hijau yang merimba. Sudahi sedu sedan itu. Usaikan rindu tak bertuan itu. Jangan menjadi hujan yang tak diinginkan. Jangan menjadi pagi yang tak ditunggu. Jalanlah, dengan kaki dan sisa tenagamu yang mencoba menghancurkanku di hari lalu. Aku sudah tak ada pada kau. Sudah tak menggema di napas kau. Aku sudah sudahi kau.

–boycandra

Aku rindu, dan itu benar.

Aku tidak punya banyak cara untuk menyampaikan kerinduan. Selain pada sebuah tulisan, dan sebuah pemujaan serta pengharapan kepada Tuhan. Aku tidak punya daya untuk berkata langsung, untuk menemui, untuk bicara. Ya begitulah aku adanya.

Mungkin kamu tidak banyak tahu tentang aku, sebagaimana kamu yang tidak tahu banyak pula soal aku. Entah kita sama-sama tertutup, atau sama-sama enggan membuka. Kita tidak punya rasa percaya akan hal penciptaan sebuah rasa. Yang bisa kita lakukan, hanyalah saling diam kemudian seolah-olah tak pernah saling ada, padahal kita sendiri yang meniadakan.

Pukul enam pagi, aku teringat sesuatu akan ulahmu. Dan sekarang pukul enam petang, hujan turun jatuh didepan mataku. Aku kembali mengingat sesuatu akan kamu. Tak pernah ada cakap, apalagi peluk yang bisa ku kenang. Kita berjalan masing-masing di bumi Tuhan. 

Apa yang aku tulis semalam, adalah perihal kabar. Mungkin kau sibuk dengan duniamu, pun aku yang pura-pura sibuk dengan duniaku. Sama-sama berusaha bercengkerama dengan semesta tentang kata apa, bagaimana, mengapa, dan kapan yang bisa saja aku sudutkan untuk kamu. Tapi itu semua justru yang selalu bertaut pada jengkal demi jengkal langkah kakiku.

Diantara menit yang kita pernah saling bicara, kemudian tertawa. Dan diantara waktu itu, kita yang mungkin pernah saling menunggu. Jarak kita tidak jauh kan? Tak ada beda dunia diantara kita. Namun terkait hati kita, mungkin sungguh jauh bagiku untuk melangkah kesana.

Yang ramai, yang disambut, yang kukira rumah
Sepi, asing, gelap gulita
Tak ada suara nyaring pun bising
Pengap
Kadang yang kukira ini rumah, kita hanya sedang berkemah.
Singgah sementara waktu, bukan menetap untuk saling berkata tetap.
Tak ada kata satu, pun saling menuju.

Jakarta, 19 Oktober 2017

Selamat petang.

Aku tidak tahu harus mengatakan apa sekarang. Sebab seharian ini, seadari pagi begitu banyak hal-hal yang membuat saya kesal. Entah saya yang terlalu lemah, atau saya yang terlalu perasa. Saat orang lain mengutarakan sesuatu hal, entah permohonan, permintaan atau pernyataan dengan nada yang tinggi, saya akan terbawa emosi. Tapi saya benar-benar menahannya, hingga menarik nafas berkali-kali.

Lalu kemudian, perihal tahu sesuatu hal yang terkait antara kehidupan dengan Tuhan. Saya yang mengira lebih baik dirahasiakan, dan mungkin ada beberapa orang yang tidak sejalan dengan saya. Tidak mengapa, hak mereka bukan? Hanya saja, ini karena perbedaan pendapat kan?

Salah seorang teman pernah mengatakan, bahwa percuma waktu jika digunakan untuk kesal. Sebab tak akan mengulang waktu yang sama. Yang maju, yang tlah terlewati tidak akan terulang sama kedua kali. Lagi lagi aku berasumsi, mungkin aku yang terlalu bawa perasaan. Iya mungkin saja kan?

Untuk segala kejadian di hari ini, semoga ada suatu hal yang bisa aku pelajari kembali. Tentang tidak mengeluh, tidak membuang waktu, berani mengambil resiko, tidak mudah menyerah, teguh pada pendirian, dan berani maju untuk menemukan sesuatu hal yang baru. Sabar dan terus menerus untuk sabar.

Jakarta, 19 Oktober 2017

Tease.

Originally posted by luuuuuke-evans

Originally posted by luuuuuke-evans

Titled: ‘Tease’

Warnings: Gaston/Luke Evans feels, FLUFF 

Word Count: 1,392 

Tagging: @norrihiddleskittycap  @captainemwinchester @little-red-83 @impalaimagining@sherlocks-timetraveling-assbutt @hobbithorse19 @feelmyroarrrr @lefouismylife@redimagines @letowolfie @ciaprincess @speedycatbluebird @haniiix33 @mademoiselle-lani @winchester-writes  rexhepierijona

A/N:   Request from @btrombley13:  You should write a Gaston x reader where, much like Belle, he just keeps trying to win her over but the reader just keeps denying. Maybe where the reader continously teases him, whether it’s by joking with him or wearing a dress which just compliments the reader in best ways. I just thought that would be funny and actually kind of cute. Cause lets face it, Luke Evans Gaston is amazing ^_^ have a good day :)

A/N: Sure! Of course! I hope this was what you were looking for!! 


For years, Gaston offered you his heart and hand, but you would respectfully decline his wish. You liked Gaston and all, but you feared of settling. You didn’t want to settle to early on in life. You were young and ambitious. Plus, Gaston and you have been companions longer then before Gaston showed you signs of love. You also didn’t want to see that kindled relationship be destroyed if things fell through. Gaston, on the other hand, knew he had you reeled in, it only just a matter of time. But since you and Gaston were still only friends, you were certainly not shy from the idea of messing with one another. 

Keep reading

Perkenankan kami untuk bertemu di dunia ini ya Allah. Hingga, sebuah takdir menjadi ibadah. Agar dapat dengan banyak cara kugapai pahala, dan aku bisa memilih pintu mana saja untukku menuju surga: sebagai anak, istri ataukah ibu.
Itu Berarti Segalanya

Ada yang meluangkan waktunya, ditengah-tengah terik siang. Melewati segala bentuk kemalasannya. Hanya demi mengantar sesuatu untukmu. Barangkali tidak seberapa, tapi itu bisa berarti segalanya baginya.

Ada yang rela melipat waktu malamnya. Begadang mengerjakan segala sesuatu yang tadi sore kamu tanyakan; “bisa bantu atau tidak?” .Barangkali memang tidak seberapa, tapi pertanyaanmu kepadanya bisa berarti segalanya. Seperti membuatnya merasa berarti bagimu. Dan itu, memang segala-galanya.

Dan ada begitu banyak hal yang barangkali tidak bisa dimaknai hanya sebatas biasanya. Ada hal-hal yang menjadi lebih spesial, lebih berarti karena orang yang memberikannya, orang yang menerimanya, orang yang memintanya, atau siapapun itu. Dan hal-hal itu, bisa berarti segalanya. Tatkala tanpa sengaja kamu beradu pandang, bertemu disuatu waktu, atau kemudian tanpa segaja saling membutuhkan satu sama lain.

Senyumanmu kepada semua orang yang memang setiap pagi muncul di wajahmu, itu bisa berarti segalanya. Sapaanmu, ucapan salammu, bahkan hal-hal tak terbayangkan lainnya bisa jadi berarti segalanya.

Pengartian-pengartian yang tidak bisa kita pahami, tapi bisa dirasakan. Seperti saat dulu kita jatuh cinta. Dan kini, seseorang itu sedang jatuh cinta kepadamu.

Yogyakarta, 24 September 2017 | ©kurniawangunadi

Kita sama-sama tahu, setiap orang menanggung sesuatu di pundaknya. Yang kita tidak tahu adalah pundaknya sekuat apa. Mari murah hati dengan jangan merasa paling lemah, lalu berhentilah menaruh harapan selain pada kemampuan dirimu sendiri.
Perjuangan yang Diam

Euforia hari wisuda selalu luar biasa. Banyak sekali foto-foto yang menghiasi laman media sosial beberapa hari ke depan. Juga ucapan yang tak putus masuk ke ponsel. Tapi, tak kala diri menyadari ketika bangun esok pagi. Mata terbuka, matahari bersinar, burung bernyanyi, air mengalir, dan udara berhembus.

Ada hembusan yang masuk ke kepala kita, terjun ke hati kita. Rasa cemas dan khawatir saat menyadari bahwa kita belum bekerja, tapi ada yang lebih mencemaskan yaitu tatkala kita tidak tahu mau bekerja apa selepas ini. Kita masih bergulat pada pertanyaan, apakah ingin mengikuti passion/kesukaan kita pada sesuatu atau mengambil kesempatan apapun yang datang. Padahal seharusnya urusan itu sebaiknya sudah kita selesaikan sebelum wisuda.

Di hari pertama selepas wisuda, orang tua mungkin belum akan banyak bertanya. Tapi hari-hari berikutnya, mungkin rumah adalah tempat paling tidak nyaman untuk kita tinggali. Saat kita masih dalam kebingungan, kita butuh dukungan bukan pertanyaan. Tapi saat itu finansial kita masih bergantung kepada orang tua. Kita masih harus meminta uang dan kita malu-malu mengatakannya.

Kita berjuang, kita merasa kita sedang berjuang. Tapi orang lain tidak melihat perjuangan kita. Mereka bertanya dan kita belum punya jawabannya. Tapi pertanyaan itu hampir datang setiap hari. Entah dari keluarga, entah dari teman.

Dan kita semakin resah, kembali ke pertanyaan tentang apakah mengikuti kesukaan kita pada suatu bidang atau mengambil kesempatan apapun yang ada. Sekalipun mungkin pekerjaan itu bukanlah hal yang kita sukai.

Kita terperangkap. Pada pertanyaan yang sama setiap hari. Pertanyaan dari diri sendiri, juga dari orang sekitar.

©kurniawangunadi | Yogyakarta, 4 September 2017

youtube

I try to say goodbye and I choke
I try to walk away and I stumble
Though I try to hide it, it’s clear
My world crumbles when you are not here

Ada banyak ketakutan yang selama ini kusembunyikan.
Ada banyak keraguan yang selalu aku tangguhkan.
Ada banyak kesedihan yang selama ini kubiarkan terpendam.

Dan,
ada begitu banyak amarah yang kemudian hanya berakhir dengan diam.

Ya, diam.
Tak ada sepatah kata yang terucap, tanpa sedikitpun reaksi yang ditunjukkan.

Sejak kamu tak lagi berada di dekat,
sejak itulah segala hal yang sebelumnya bisa diungkapkan menjadi kelu.
Sejak kamu tak lagi berada di samping,
sejak itulah segala perasaan menjadi lebih baik untuk tak disuarakan.

Yang mereka tahu aku tak apa,
yang mereka tahu aku teramat baik,
yang mereka tahu aku begitu bahagia,
dan semua hal yang mereka tahu itu adalah kebalikan dari segala rasa yang dirasa.

-Azalea-

Belajar Dari Pensiunnya Bapak

Tiga bulan lagi Bapak saya akan pensiun. Selama ini,saya cukup terharu (sedih sebenarnya) karena Bapak tidak pernah menjadi pejabat mentereng seperti orang lain. Bukan karena saya ingin bangga, bukan. Tapi lebih kepada saya ingin Bapak bangga karena memiliki karir yang tinggi (tinggi seperti ekspektasi saya).

Seminggu lalu Bapak mengirim SMS, isinya sederhana, memberi tahu bahwa beliau telah dilantik menjadi perwira. O ya, Bapak saya seorang anggota POLRI, bertugas sebagai staff keuangan, satu tingkat di bawah kepala bagian. Bapak saya tidak pernah bisa menjadi kepala bagian, karena bukan perwira. Ketika dia menjadi perwira, masa pensiunnya segera datang beberapa bulan lagi. Tapi syukur juga, karena Bapak pangkatnya rendah, saya jadi bisa kuliah murah di ITB dulu. 

Candaan saya dengan Bapak begini, “halah Pak, gak akan ada yang tanya Bapak berapa lama jadi perwira, yang penting Bapak pensiun sebagai perwira.” 

Ketika saya bermasalah di tempat kerja beberapa tahun lalu dan akhirnya resign, Bapak menelepon saya. Beliau berpesan, “meski tinggal sebulan, apapun yang terjadi di sana, kamu harus tetap mengerjakan pekerjaanmu dengan maksimal, jangan terpengaruh. Kerjakan sebaik mungkin, tinggalkanlah kesan baik, tuntaskan.” 

Sebenarnya, tanpa Bapak berpesan itupun, saya sudah melakukan itu. Bahkan pernah di tempat sebelumnya, hari terakhir bekerja saya masih lembur di pabrik dan menemani tamu hingga pukul 12 malam. 

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan adik. Saya baru sadar, bahwa sikap saya terhadap pekerjaan adalah hasil dari contoh Bapak dan Ibu. Bapak memang sekali saja berpesan pada saya untuk bekerja sebaik mungkin, namun sedari kecil kami selalu disuguhi pemandangan tentang betapa bertanggungjawabnya Bapak dan Ibu terhadap pekerjaan.

Dulu komputer belum populer, Bapak selalu bawa buku akutansi yang super besar selebar meja, dan menulisinya dengan data - data gaji polisi. Tulisan Bapak sangat rapi, dan beliau selalu lembur setiap akhir bulan hingga tengah malam di rumah. Ibu sering membantu juga. Kata Ibu, setiap akhir bulan penyakit maag Bapak selalu kumat karena stres deadline.

Lucu ceritanya ketika Ibu memberi usul agar Bapak menggunakan komputer. Komentar Bapak waktu itu, “mana bisa, data sebanyak itu dimasukkin ke komputer yang kecil begitu? Buku akutansinya aja super besar gitu.”

Bapak dan Ibu tidak pernah mengurangi kualitas pekerjaan mereka karena kecilnya gaji. Sebelum pemerintahan SBY, gaji guru teramat kecil lah. Gaji polisi masih kecil, haha. Tapi Bapak dan Ibu tidak menjadi kendor dalam bekerja. Barangkali itulah yang membuat saya dan adik punya prinsip yang sama. 

Ada satu hal yang membuat saya akhirnya menyadari bahwa kesedihan saya karena Bapak tidak pernah punya jabatan mentereng itu bodoh. Yaitu ketika adik saya berkata, “Bapak menutup karirnya dengan kesan yang (teramat) baik. Di apel pagi Bapak dipuji - puji karena tidak mengurangi kualitas bekerjanya padahal menjelang pensiun. Di akhir pelantikan perwiranya, Wakapolreslah yang minta berfoto dengan Bapak.”

Suatu hari, atasan Bapak menyekolahkan anaknya dengan biaya yang sangat besar, ratusan juta. Saya berkelakar, “Pak, kok Bapak ga punya duit segitu sih Pak?” Kata Bapak, “Bapak cuma mau hidup tenang. Bapak emang ga punya duit segitu, tapi anak - anak Bapak gak pernah butuh duit segitu untuk masuk kuliah. Kamu dapat beasiswa, adikmu kuliah ya murah. Kalian bisa cari kuliah sendiri, bisa cari kerja sendiri, Bapak ga perlu cariin. Temen - temen Bapak itu, ya repot cariin kuliah anaknya, cariin kerjaan buat anaknya, Bapak gak perlu.”

Di akhir obrolan saya dengan adik, saya menyadari rasa syukur saya bahwa Bapak mengakhiri karirnya dengan cemerlang walaupun tidak berkalang jabatan dan uang. Saya meyakini bahwa integritas Bapak adalah keperwiraan yang sesungguhnya, lepas dari kesalahan - kesalahannya dalam bekerja.

Bapak hanya polisi biasa hingga akhir masa kerjanya. Tapi sebagai laki - laki, dia berhasil membesarkan kami. Alhamdulillah keluarga dalam keadaan diberkahi dalam segala kondisi. Anak dan mantu rukun, rejeki selalu ada entah bagaimana Allah menyampaikannya. Cucu pertama segera lahir. Bapak hanya lulusan SMEA, tapi kedua anaknya minimal sudah sarjana, yang alhamdulillah selalu berada di jalan yang gak melenceng - melenceng amat.

Semoga rezeki yang kami makan melalui Bapak selama ini halalan toyyiban, agar di akhirat tak jadi beban. 


Bandung, 15 September 2017
Untuk Bapak yang sering saya sebelin

2

I have known this for years but it only just clicked for me now.

The buntot pagi or stingray whip has always been a weapon used by Filipinos to fight against aswangs a.k.a. our version of vampires.

Apparently, we Filipinos are apparently related to Belmonts. If a large haunted castle suddenly manifests in Manila Memorial Park or Intramuros, I will keep y'all posted.

Also whoever did that wiki page has a sick sense of humor omgggg….

Mau sudah sedekat apa dengan pernikahan, bila tidak ada takdir bersama pada dua manusia, Tuhan akan pisahkan. Takusah pula risau dengan kejauhan, bila Tuhan hendak, Dia akan dekatkan.

Rumusan yang sudah sering kita dengar, tapi tidak langsung ampuh membuat kita menerima dan tegar. Takmengapa, waktu dan kebiasaan bisa membuat hati pelan-pelan melapang.

RTM : Fase-fase dalam Pernikahan

Pagi ini saya menghadiri sebuah kajian Ustadz Cahyadi Takariawan di Jogja, mungkin bagi yang mengikuti buku-bukunya, beliau memang concern dalam topik-topik terkait pernikahan. Di kajian ini hampir seluruh pesertanya adalah ibu-ibu, utamanya yang memang lebih tua daripada saya, karena memang ini pengajian keluarga. Tapi rasanya, saya juga banyak mendapat ilmu dari kajian ini dan masih harus banyak belajar. 

Supaya temen-temen juga bisa dapat ilmunya, ini saya resume kan isi kajian tadi hehe. Semoga bermanfaat yaa, tentu sudah saya edit dikit-dikit dengan bahasa saya, semoga nggak merubah maknanya. 

Ustadz Cahyadi menyampaikan bahwa ada beberapa fase dalam pernikahan.

  • Romantic Love : fase ini adalah  tahun-tahun pertama pernikahan (3-5 th) biasanya. Di fase ini masih terasa sekali manis-manisnya pasangan. Yaaa, bisa dibilang anget-angetnya lah ya :D
  • Disappointment/Distract :setelah fase romantis, akan ada berbagai penurunan dalam kualitas hubungan karena adanya beberapa missed. Nah fase ini bisa menjadi lama bisa juga menjadi singkat, tergantung bagaimana usaha pasangan untuk meredam konflik. Karena di fase-fase ini yang tadinya berbagai kesalahan bisa ditolerir, bisa berada di titik jenuh dan menjadi gampang tersulut. 
  • Knowledge & awareness : di fase ini, pasangan yang dengan cermat dan ingin segera lepas dari fase sebelumnya, akan mencoba untuk meredam konflik-konflik yang ada dengan niteni, mengamati, dan mengenali lebih detail kondisi pasangan dan hubungan mereka. Di fase ini, kedua belah pihak baiknya sama-sama berjuang dengan semangat positif agar lebih memahami lapis-lapis kepribadian dan bahasa cinta pasangannya
  • Transformation : Fase ini adalah fase yang penuh dengan penerimaan, penerimaan yang jauh lebih luas dibanding di awal pernikahan. Di fase ini tiap-tiap pasangan mulai bisa berdamai dengan keadaan bahkan mensyukuri kekurangan yang ada dalam diri pasangannya. 
  • Real Love : ini adalah fase puncak, fase paling dewasa dari mencintai. Pasangan bukan hanya sekedar suami istri, tapi juga sudah sejiwa. Cinta dalam fase ini tidak lagi menggebu-gebu seperti anak muda, justru sangat mendalam. Memang eskpresi fisik makin berkurang, tetapi ikatan emosional satu dengan yang lainnya makin bertambah. 

Saya mengamati sekaligus belajar, bahwa apa yang terjadi pada hubungan saya dan suami masih sangat-sangat awal dan perjalanannya masih membutuhkan nafas panjang. Masih jauuuuuuhhhh syekaliiiiii. Mungkin kami masih berada di tahap romantic love, pun teman-teman yang ada di sosial media. Rata-rata yang mengunggah manisnya kisah mereka, mungkin adalah mereka-mereka yang sedang di fase yang sama seperti saya. Nggak papa, semoga menjadi catatan perjalanan dan pengingat bahwa kita pernah ada di fase ini dan segera bertumbuh ke fase-fase selanjutnya. 

Saya jadi disentil, betapa masih banyak sekali yang harus saya pelajari dan pelan-pelan saya lakukan untuk menyeimbangkan hubungan saya dan suami. Masih banyak bahasa-bahasa cinta #tsah, yang perlu saya mengerti. 

Dan di luar sana, mungkin banyak yang perlu dipahamkan, bahwa pernikahan bukan hanya soal bahagia-bahagia aja. Karena kalau itu yang dicari, nihil, pernikahan model apapun nggak ada yang lepas dari masalah dan konflik. Tapi, menurut saya pribadi, kalaulah yang kita cari itu ketaatan dan ketakwaan kepadaNya dalam pernikahan, kita bisa membuat hubungan ini jauhhhh lebih manis dari apa yang kita pikirkan. Asheeeqqqq wkwkk. 

Semoga ini menjadi catatan buat saya pribadi untuk lebih semangat lagi belajar. Karena dalam hidup berumahtangga, tiap harinya kita mendapat hal baru yang harus kita pelajari.