pagis

Ritme

“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Suatu ketika, mungkin ritme hidup akan terasa berbeda sebab ia tengah berubah. Jadwal harian yang berganti, kegiatan yang berubah arah, dan rute-rute perjalanan yang tidak sama lagi sedikit banyak ternyata juga mengubah bagaimana ritme waktu bergerak di hidup kita. Berada di kantor di jam kerja, lalu melompat ke tempat lain setelahnya, dan pulang melewati jalan-jalan yang berbeda, semua mengajari kita bahwa setiap waktu yang berdetak tak boleh lepas dari makna. Tak hanya itu, berada di kota A di pagi hari, lalu berpindah ke tempat yang berbeda esok harinya, semua itu juga mengajari kita bahwa waktu tak pernah bergerak melambat, melainkan sebaliknya.

Teringat pada sebuah kalimat yang disampaikan oleh seorang kakak tadi siang, beliau mengatakan bahwa waktu adalah sumber daya yang tidak bisa kita perbaharui keberadaannya. Jika sudah hilang, hilanglah. Jika sudah habis, habislah. Maka, menggenggam jemari detik agar detaknya mau bergerak seirama ritme kita adalah mimpi di siang bolong. Jadi, apakah waktu yang harus menyesuaikan dengan ritme hidupmu? Ataukah sebaliknya?

Bagaimanapun, setiap ritme seringkali berisi satu atau lebih urusan yang perlu diselesaikan, dan ritme itu akan terasa semakin cepat seiring dengan semakin banyaknya urusan yang perlu diperhatikan dan diselesaikan. Tapi, sebagaimana perintah Allah, kita diminta untuk bergerak dinamis dalam mengerjakan berbagai urusan dalam setiap satuan-satuan ritme yang bergulir. Jika sudah selesai urusan yang satu, maka selesaikanlah urusan yang lain.

Selamat berdamai dan beradaptasi dengan ritme waktumu, sebab itulah sebijak-bijaknya perlakuan terhadap waktu, bukan sebaliknya. Semoga Allah selalu memudahkan dan menunjukkan jalan agar setiap ritme yang bergerak mampu kita isi dengan perbaikan dan kebermanfaatan.

Kita sama-sama tahu, setiap orang menanggung sesuatu di pundaknya. Yang kita tidak tahu adalah pundaknya sekuat apa. Mari murah hati dengan jangan merasa paling lemah, lalu berhentilah menaruh harapan selain pada kemampuan dirimu sendiri.
Tease.

Originally posted by luuuuuke-evans

Originally posted by luuuuuke-evans

Titled: ‘Tease’

Warnings: Gaston/Luke Evans feels, FLUFF 

Word Count: 1,392 

Tagging: @norrihiddleskittycap  @captainemwinchester @little-red-83 @impalaimagining@sherlocks-timetraveling-assbutt @hobbithorse19 @feelmyroarrrr @lefouismylife@redimagines @letowolfie @ciaprincess @speedycatbluebird @haniiix33 @mademoiselle-lani @winchester-writes  rexhepierijona

A/N:   Request from @btrombley13:  You should write a Gaston x reader where, much like Belle, he just keeps trying to win her over but the reader just keeps denying. Maybe where the reader continously teases him, whether it’s by joking with him or wearing a dress which just compliments the reader in best ways. I just thought that would be funny and actually kind of cute. Cause lets face it, Luke Evans Gaston is amazing ^_^ have a good day :)

A/N: Sure! Of course! I hope this was what you were looking for!! 


For years, Gaston offered you his heart and hand, but you would respectfully decline his wish. You liked Gaston and all, but you feared of settling. You didn’t want to settle to early on in life. You were young and ambitious. Plus, Gaston and you have been companions longer then before Gaston showed you signs of love. You also didn’t want to see that kindled relationship be destroyed if things fell through. Gaston, on the other hand, knew he had you reeled in, it only just a matter of time. But since you and Gaston were still only friends, you were certainly not shy from the idea of messing with one another. 

Keep reading

Sesuatu sedang terjadi di tempat lain.

Saat kita duduk manis, sibuk dengan aktivitas kita di sini. Menikmati pagi dengan secangkir teh, atau mungkin sedang memasak untuk keluarga, atau mungkin sedang sibuk mengurus sebuah kegiatan konser di kampus. Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Pada detik yang sama, pada saat kita menghebuskan nafas saat ini.

Sebagian kita tahu, sebagian kita tidak. Sebagian dari kita peduli, sebagian lain juga tidak. Setiap hari, empati kita semakin tumpul. Ketumpulan yang semakin hari semakin bertambah lantaran kita sendiri yang menumpulkannya. Setiap hari kita diperlihatkan dengan ketimpangan. Dunia yang benar-benar berbanding terbalik antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam waktu yang sama. Dan kita lebih sibuk melihat kebahagiaan di media sosial. Melihat apa yang sedang dilakukan orang ini, dilakukan orang itu, dicapai orang ini, dicapai oleh orang itu. Dan kita melihat dengan mata kepala kita sendiri, betapa yang mereka tampilkan seolah-olah mengkhianati kemanusiaan.

Sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan mereka tetap sibuk dengan mengumbar kemesraan. Sibuk memamerkan pekerjaan. Sibuk memperlihatkan barang-barang kepemilikan. Sibuk menampilkan riasan. Sibuk menunjukkan betapa aman dan sejahtera keluarganya.

Dan didetik yang sama. Anak-anak di Suriah terbunuh, hutan-hutan ditebang, kelaparan dan kemiskinan melanda Somalia. Di menit yang sama, orang seusia kita tengah berjuang melawan penyakitnya, yang lain berjuang mencari nafkah untuk sejumlah uang yang kita hamburkan di meja makan sekali duduk. Di masa yang sama, sesuatu sedang terjadi di tempat lain. Dan empati kita semakin menguap tak berbekas.

Kukira, kita semua dulu tidak seperti ini.

Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi

MEETING SAMA ALLAH

Obrolan antara seorang bos dan sekretarisnya di pagi hari.

B : Tolong atur jadwal saya, jam 11.45 saya ada meeting sama Allah. Siapain pakaian terbaik, sama parfumnya yah. Saya enggak enak kalau meeting bajunya kurang bagus.

S : Siap pak. Tapi kebetulan pak, jam tersebut ada pertemuan sama direksi pak.

B : Geser saja, ini lebih penting. Kan mereka mau nunggu sampe jam 3an. Kalau sempet, nanti saya meeting sama direksi.

S : Siap pak

B : Oiah, jam 15.00 juga saya ada meeting lagi sama Allah. Ingetin yah, pokoknya 15 menit sebelum saya harus udah ada di rumah Allah. Gak enak kalau terlambat, soalnya ditungguin.

S : Siap pak. Oia pak, tapi jam segitu juga bapak ada pertemuan sama pemilik saham.

B : Ah, tenang aja, cuman pemegang saham doang, gak penting. Kan masih ada waktu sampai jam 6, nanti kalau sempet, saya meeting sama pemilik saham.

S : Baik pak.

B : Oiya, mohon atur juga yah, jam 6 juga saya ada meeting sama Allah. Habis itu kosongin waktu sampai jam stengah 8, karena masih lanjut ada meeting juga sama Allah jam 7 nya. Mohon siapkan pakaian saya yang bagus yah.

S : Siap pak. Tapi pak, jam 6 sampai jam 7 ini ada agenda ketemu klien pak.

B : Sudah, geser saja. ini lebih penting. Klien bisa nunggu kok sampai subuh. Nanti kalau saya gak cape, kalau enggak ketiduran, saya meeting lah sama klien.

S : Baik pak.

B : Sekalian, mohon juga bangunkan saya pukul 3 subuh nanti. Saya ada meeting sama Allah jam stengah 5 pagi. Tapi katanya Allah mau sidak di 1/3 malam terakhir.

S : Siap pak. Tapi bukannya itu jamnya bapak buat istirahat pak? Kalau enggak istirahat bukannya nanti capek?

B : Enggak, ini meeting penting soalnya. Gak bisa saya tinggalin. Tidur bentar juga cukup kok, gausah dilama-lamain.

S : Siap pak kalau begitu.

Pada kenyataannya, justru kisah diatas terbalik dari apa yang seringkali terjadi.

Meeting sama manusia, sesibuk apapun disempatkan. Meeting sama Allah, sesantai apapun dilalaikan.

Meeting sama manusia, sesulit apapun, kita akan menggunakan pakaian terbaik. Meeting sama Allah, kaos oblong ama sarung juga udah cukup.

Meeting sama manusia, telat sedikit aja malunya minta ampun. Meeting sama Allah, telat banget juga ga merasa malu malu, kadang juga ga minta ampun.

Meeting sama manusia, pasti bisa. Meeting sama Allah, liat nanti deh di waktu yang tersisa.

Padahal Allah itu yang menciptakan, tapi kita mendahulukan yang ia ciptakan.

Padahal Allah lah yang memberi rezeki, tapi kita mendahulukan perantaranya.

Apakah pejabat, klien, sahabat, teman, kerabat, sudah memberi kita hidup sampai kita mendahulukan mereka dibanding sang maha pemberi hidup?

Padahal jadwal meeting sama Allah enggak pernah berubah, selalu di waktu dan jam yang sama, tapi kadang seringkali kita terlambat datang ke meetingnya, seringkali kita datang dengan pakaian seadanya, seringkali kita datang dengan sisa tenaga yang ada.

Maka, tatkala seorang manusia mendahulukan sesuatu dibandingkan tuhannya, maka dia sedang mencintai dunia dan melupakan urusan akhiratnya.

Semoga, kita bisa mulai berbenah diri untuk meeting berikutnya bersama Allah.

Jadi, sudah menyiapkan waktu serta penampilan terbaik untuk meeting sama Allah besok?

MEETING SAMA ALLAH
Bandung, 18 April 2017

Mari memperbaiki dunia dengan dimulai dari memperbaiki diri sendiri.

Mari menjadi bermanfaat dengan dimulai dari bermanfaat untuk orang yang detik ini sedang bersamamu.

—  Kapan lagi akan memulai berbuat baik kalau bukan sekarang? Jangan nunggu dua atau tiga menit lagi. Mulai sekarang juga!
seryus

“Love is about finding courage inside of you that you didn’t even know was there” 

Waktu puber dulu, anggota keluarga yang senior sering mewanti-wanti kami yang remaja dengan larangan pacaran. Kalimat yang diulang, begitu khas sampai redaksinya masih menempel di ingatan. Bunyinya, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!”. Kami yang waktu itu masih maraton film kartun di ahad pagi dibuat bergidik dengan ancaman “dikawinkan” yang terdengar mengerikan.

Sebetulnya, nilai yang diperkenalkan lewat larangan pacaran mengandung prinsip yang mendasar, jangan main-main kalau belum bisa serius. Sementara anak-anak ingusan tadi tumbuh jadi muda-mudi yang mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis, watak main-main mereka masih terbawa sebagai bekal karakter untuk menghadapi banyak hal baru. “Why so serious? Pacaran kan enggak mesti nikah” pikirnya. Akhirnya pantangan pun terlanggar karena rasa penasaran untuk coba-coba mengalahkan kengerian terhadap larangan tadi.

Dimulailah masa dimana muda-mudi (termasuk saya waktu itu) menggelorakan cinta monyet. Masa dimana semua upaya dikerahkan supaya gelora asmara yang tengah bernyala makin kuat kobarannya. Duile. Tapi ya seindah-indahnya cinta monyet, banyak yang berakhir percuma karena sifat hubungan yang dijalin masih coba-coba dan penuh asas “siapa-tau”. Siapa tau awet, siapa tau cocok, siapa tau memang jodohnya - tanpa ada kesiapan apapun.

Jadi, harusnya enggak perlu senewen kalau mereka yang udah nikah memandang drama romantika cinta monyet yang begitu menyita pikiran, tenaga, uang dan waktu dengan sebelah mata. Enggak heran juga sebetulnya kalau dulu nasihat, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” umumnya diucapkan oleh orang yang udah menikah karena mereka telah mengalami sendiri perbandingan antara berpacaran dengan berumahtangga yang bagaikan langit dan bumi. 

Misal waktu seorang laki-laki menyatakan perasaan pada perempuan yang ingin dipacari dengan pertanyaan, “Kamu mau enggak jadi pacarku?”, maka pria yang ingin menikah menindaklanjuti keberaniannya kepada bapak dari perempuan idamannya dengan pertanyaan, “Permisi, pak. Apa sudah ada laki-laki yang melamar anak bapak sebelumnya?”.

Atau saat laki-laki yang ingin berpacaran mengemukakan perasaan, penyampaiannya dilakukan di hadapan pujaannya semata. Lain halnya dengan pria yang ingin berumahtangga, pengucapan ikrarnya harus dilakukan di hadapan orang tua, keluarga juga petugas KUA agar hubungannya bisa disahkan secara hukum. Di saat hakikat dari kasih sayang adalah menemukan keberanian, maka harusnya muda-mudi di luar sana menyalurkan keberanian yang ditemukan pada sebaik-baik muara hubungan.

Wejangan, “Jangan pacaran kalau enggak mau dikawinkan!” belasan taun lalu punya hikmah yang mendalam buat saya setelah berkeluarga. Ternyata, laki-laki dianggap serius menyayangi seorang perempuan dengan menikahinya dan bertanggung jawab dengan dunia-akhiratnya. Kalau ada yang mengaku sayang tapi enggak berani menikahi, jelas dia main-main. Sampai kapanpun, kata “pacaran” enggak pernah cocok disandingkan dengan kata “serius”. Lagipula, siapa yang mau disayangi dengan main-main?

Kalau ingin berkasihsayang secara utuh, dewasalah dan menikahlah. Romansa layar lebar paling indah sekalipun akan terasa picisan saat kita menjalani kisah rumahtangga sendiri yang tingkat keseruannya lebih menakjubkan.

Kalau bayangan suami atau istri teladan mutlak bersumber dari pengalaman pacaran, semua orang tua akan mewajibkan anak-anaknya untuk berpacaran sebelum menikah. Nyatanya, mereka yang enggak pernah pacaran sekalipun dan memilih untuk menjaga debar perasaannya sampai akhirnya menikah, juga bisa menjadi suami dan istri teladan karena enggak ada kaitan yang berarti antara pacaran dengan berumahtangga. 

Hal sederhana ini penting untuk disampaikan seiring terus mewabahnya pemahaman yang salah tentang hakikat hubungan pra-menikah di kalangan anak muda. Dengan gambaran yang sama, di masa depan nanti, saya akan berbicara kepada anak-anak saya, “Waktu muda dulu, Ayah pernah nyoba pacaran dan nyeselnya luar biasa sampai Ayah enggak rela kamu ngulangin kesalahan yang sama. Jangan rugiin orang lain. Jangan main-main dengan perasaan sebelum kamu berani untuk serius. Hidupi hidupmu dan hidupkan mimpimu sebaik-baiknya selagi muda. Pengalaman pacaran enggak akan masuk CV, juga enggak akan layak disebut pencapaian apalagi dibanggakan”

Promises

#1: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan Ingat kepadamu.” (QS. 2:152)

#2: Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami Hapus kesalahan-kesalahanmu. (QS. 4:31)

#3: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan Menambah (nikmat) kepadamu. (QS. 14:7)

#4: Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya.” (QS. 34:39)

#5: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku Perkenankan bagimu. (QS. 40:60)

#6: Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan Menolongmu.(QS. 47:7)

#7: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya. | Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya. (QS. 65:2-3)


Jangan sampai kehidupan dunia memperdayakanmu. Jangan sekali-kali membiarkan setan memperdayakanmu tentang Allah.

Mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS 40:55)

Sebenarnya kurang sayang apalagi sih Allah sama kita? atau kita yang kurang sayang sama Allah?

Perjalanan Nafsu Polis (5)

Aku cuba jalan terhencut-hencut, perit yang mula terasa dari hujung kaki aku dah mula naik ke pangkal betis. Aku duduk di kaki lima jalan sambil meraba-raba kaki aku. Pedih terasa pada lutut dari dalam seluar uniform aku yang bergalur kesan tar jalan. Aku pandang motor Yamaha aku yang tergolek di tepi jalan.

Entah macamana aku boleh tersasar terlanggar lubang besar, mungkin sebab gelap malam, jalan pun tak ada lampu - tambah-tambah pulak tu aku dok berkhayal nak jumpa Badrul dekat kuarters dia waktu bawak motosikal tadi. Nasib baik tak ada apa yang rosak sangat. Cuma tayar depan sahaja nampaknya macam bengkok.

Aku bingkas dan papah motosikal aku. Aku heret perlahan, kadang-kadang ada beberapa buah kereta yang lalu memperlahankan kereta memandang aku, tapi tak sorang pun berhenti. Agaknya diorang suka tengok polis macam aku ini kena balasan macam tu kot. Aku tolak motor aku ikut jalan pintas melalui kawasan perumahan.

Dekat 10 minit, badan aku dah berpeluh sakan. Uniform aku yang aku pakai dari pagi memang dah tak payah cakaplah, aku rasa dah macam-macam bau ada. Kaki aku dalam but hitam aku pun dah rimas semacam terperap lama-lama. Aku tengok jam tangan aku, dah pukul 2.30 pagi. Menyesal pulak tadi balik lambat, kalau balik awal sedikit aku rasa tak jadi macam ni. Kereta pun dah tak banyak lalu ikut jalan kawasan perumahan ni. Kejap-kejap bunyi anjing menyalak dari dalam pagar bila terpandang aku.

Sampai dekat kawasan taman permainan, aku berhenti sekejap. Aku tongkatkan motor aku dekat tepi longkang. Aku pun dah tahan nak kencing, aku berdiri tepi longkang dan bukak zip seluar aku - aku tarik keluar konek aku yang terperap dalam seluar dalam - aku pancut laju ke pangkal pasu bunga. Aku tarik nafas lega - sambil itu aku tinjau-tinjau kawasan sekeliling. Sekali pandang aku nampak dua buah motosikal di tepi jalan di seberang padang permainan. Mula-mula aku tak endah, sekali lagi aku tengok - ada lambang PDRM pada motosikal terpantul. Agaknya budak-budak polis balai kawasan perumahan itu tengah buat rondaan. Boleh aku mintak tolong diorang hantar balik kuarters Badrul.

Aku zip seluar uniform aku dan terus melangkah menuju ke arah motosikal. Kelibat tuan punya motosikal langsung tak kelihatan, aku agak mungkin tengah meronda sambil berjalan kaki. Aku tunggu beberapa minit, namun kelibat mereka tak jugak muncul. Lama-lama aku dah macam putus asa, aku patah balik menuju ke arah motosikal aku.

Tak sampai beberapa langkah, bunyi yang sudah biasa aku dengar, kedengaran dari dalam gelap berhampiran deretan kereta yang parking di tepi jalan. Aku pasti bunyi itu adalah suara lelaki mengerang tengah kena hisap. Aku beranikan diri menuju ke arah beberapa buah kereta sambil berselindung. Aku duduk bertenggek ke jalan dan mengintai dari bawah kereta. Aku nampak 2 pasang kaki berbut hitam bertali yang selalu dipakai polis gerakan am (PGA). Salah seorang sedang melutut mengadap sesama sendiri. Aku cukup pasti apa yang mereka tengah buat.

Perlahan-lahan, aku muncul berdiri mengadap dua anak muda polis PGA - berpakaian seperti polis hutan, berseluar cargo biru berbut hitam bertali sampai ke betis, seorang duduk mencangkuk tengah menghisap batang yang seorang lagi yang bersandar pada belakang kereta.

‘Korang dah takde tempat lain dah ke?’ Apa lagi dua-dua mereka kelam kabut cuba berselindung menyedari kehadiran aku. Yang duduk mencangkuk, agak muda dari yang sorang lagi, cepat-cepat berdiri manakala yang sorang lagi berpusing menyorok kembali batang dia ke dalam seluar.

'Maaf tuan. Tolong jangan report tuan’ rayu Hairi, yang muda, namanya jelas pada dada baju uniformnya. 'Ya, tuan. Tolonglah’ sambung Kamal yang agak besar badannya berdiri di belakang. Aku renung mereka berdua dari atas ke bawah, memang kedua-dua bakal jadi habuan aku lah malam ni.

'Korang dah gian sangat ke?’ tegas aku dan menghampiri mereka. Batang aku mula mengeras dalam seluar uniform aku.

'Tak, tuan. Saya yang paksa dia hisap. Saya ingat dah malam macam ni dah tak ada orang lalu kat area sini’ Kamal menjawab, mukanya merah padam dan merenung but hitam aku.

'Dah, kalau korang nak buat benda-benda macam ni carilah tempat yang terselindung sikit.’ reaksi wajah Hairi berubah mendengar nasihat aku. 'Korang boleh hantar aku balik? Motor aku rosak’ cepat-cepat saja Kamal mengangguk.

Aku ikut mereka ke motosikal dan aku membonceng dengan Hairi, yang berkulit putih bermisai halus. Sangat muda lagi dalam lingkungan pertengahan 20an. 'Ke motor aku dulu sebelah sana’ aku menunding jari ke arah motosikal aku yang diletakkan di seberang taman permainan. Kamal terus beredar sambil diikuti Hairi dan aku.

Sampai ke motosikal aku, aku capai helmet dan beg galas aku dan terus kembali membonceng motosikal Hairi. Aku bagi tahu Kamal kuarters tempat Badrul tinggal, dia mengangguk mengiakan. Terus dia memecut motosikalnya diekori Hairi. Menyedari Kamal berada di hadapan, inilah peluang aku untuk mengoda dan meraba konek si Hairi di atas motosikal itu jugak. Aku rapatkan kedua-dua paha aku pada pahanya. Batang aku yang keras aku gesel-gesel ke belakangnya. Aku letak tangan kiri aku betul-betul di celah kelangkangnya. Hairi tunduk memandang pergerakan tangan aku.

'Pandang depan’ Tangan kanan aku menepuk bahunya dan dia terus tersentak. Badannya mula mengigil tapi dia cuba mengawal keadaan. 'Tuan nak buat apa ni?’ sapa Hairi.

Aku tak membalas pertanyaannya, sebalik aku rapatkan lagi paha aku dan geselkan lagi batang aku pada belakangnya. Aku ramas batangnya yang semakin keras dari luar seluar uniformnya. Boleh tahan besar jugak koneknya. Hairi merengus sedikit, aku pasti air mazinya mula keluar dari lubang koneknya. Budak-budak muda macam dia ni memang cepat berair kalau kena raba.

Aku tolak zip seluarnya sehingga terbuka, dia mengekori Kamal seperti tiada apa yang berlaku. Hairi mengangkang sedikit pahanya sambil cuba untuk tidak memandang ke celah kelangkangnya. Aku tanggalkan sarung tangan yang membalut tangan kanan dengan gigi aku. Aku seluk tangan aku ke dalam celah zip seluarnya sambil tangan kiri aku kemas mengenggam paha kirinya. Jari tangan aku yang kasar memegang batangnya yang keras dan ibu jari aku mengentel lubang koneknya yang berair. Aku pegang kepala batangnya dan aku belai perlahan.

'Ummmmphhhh’ Hairi bersuara melepaskan rasa stim dilancap oleh aku. Aku rapatkan kepala aku yang beralas helmet ke bahunya. Hairi terus menyandarkan kepalanya kerana terlalu ghairah. Kadang-kadang dia laju dan kadang-kadang memperlahankan motosikalnya. Air mazinya banyak sekali keluar. Aku lancapkan batang koneknya perlahan-lahan, dan biarkan dia menikmati setiap urutan tangan aku. Lama kelamaan aku perasan dia sudah tak berapa selesa dan seakan dia mahu lebih dari kena lancap. Aku lepas tangan aku dan cuba alihkan dari batangnya, cepat-cepat tangan kirinya memegang tangan aku dan memaksa aku terus meramas batangnya.

Dalam 15 minit, kami sampai di kuarters Badrul. Kamal matikan enjin motosikal dan diikuti Hairi. Hairi menarik zip seluarnya sambil diperhatikan Kamal. Aku pegang bahu Kamal dan berbisik ke telinga.

'Naik atas kalau kau nak batang kau kena hisap’ Kamal mengangguk dan beralih menuju ke arah Hairi yang masih di atas motosikal. Mereka berdua berbual kecil dan akhirnya mengekori aku ke lif.

Aku tekan butang lif sambil kedua-dua mereka berdiri di belakang aku. Aku tanggalkan helmet aku dan menunggu lif terbuka. Aku menuju ke arah kuarters Badrul yang terletak berhampiran tangga kecemasan. Aku ketuk pintu berberapa kali, akhirnya lampu rumah terpasang. Badrul yang berkain pelikat tidak berbaju membuka pintu. Aku pandang batangnya yang keras mencanak sambil matanya terkebil-kebil memandang aku. Dia bukak pintu grill dan aku raba batangnya yang keras dan berbisik ke telinganya.

'Kau main dengan yang buncit tu, aku nak fuck yang muda’ aku ramas batang Badrul yang beralas kain pelikat. Badrul mengangguk.

Badrul mengajak Kamal dan Hairi ke kerusi di tengah-tengah ruang tamu. Dua- dua mereka cuba untuk menanggalkan kasut masing-masing tapi dipaksa masuk Badrul dengan kasut-kasut mereka sekali. Aku tanggalkan jaket aku dan aku gantungkan pada kerusi. Aku yang masih beruniform memandang Hairi tajam, dia balas pandang, merenung aku penuh berahi. Agaknya melihat aku beruniform menambahkan keghairahannya lagi.

Aku berdiri di hadapannya dan perlahan-lahan dia menolak turun zip seluar uniform aku dan mula meramas batang aku. Aku pandang Kamal yang bersandar di atas sofa dan sedang mengeluarkan batangnya dari celah seluar cargo uniformnya. Badrul yang duduk di celah kangkangnya mula membelai dan menghisap batang Kamal yang mencanak. Kamal mengerang dengan penuh seronok. Aku pasti Kamal sudah biasa dihisap oleh lelaki sebelum ini.

Tangan Hairi merayap meraba batang aku dari celah seluar dalam. Diselaknya seluar dalam aku. Batang aku yang terperap dari pagi di dalam seluar uniform memang agak berbau peluh. Hairi terpegun seketika melihat konek aku, agaknya dia tidak pernah hisap batang sebesar itu. Aku pegang belakang kepalanya dan aku paksa dia hisap batang aku. Hairi tercekik dan cuba memasukkan batang aku dalam rongga mulutnya.

Kamal pula semakin lama semakin kuat mengerang dihisap Badrul, aku apa lagi tak tahan dengan bunyi itu - aku paksa Hairi menelan batang aku sampai ke pangkal. Terbeliak matanya sambil mulutnya mula melelehkan air liur. Hairi pegang paha aku kemas dan melutut di depan aku, dikulumnya batang aku bersungguh-sungguh dan mencium bau peluh dari celah kelangkang aku. Semakin lama semakin rancak dia menghisap batang aku. Aku berkalih memandang gelagat Badrul dan Kamal, nampaknya Kamal begitu asyik memaksa Badrul yang berkain pelikat menghisap koneknya.

'Jangan gigit’, aku pegang kepala Hairi bila tiba-tiba dia tergigit kepala batang aku. Matanya putih memandang aku, aku tenung matanya asyik sambil melihat lidahnya yang menjilat-jilat kepala batang aku yang berair-air. Aku pegang ketiaknya dan mengarahkan dia berdiri. Dia yang segak beruniform biru gelap berdiri kaku di depan aku, menunggu reaksi aku seterusnya.

'Kamu suka?’ tanya aku perlahan. Dia mengangguk sambil tangannya meramas- ramas kepala batang aku yang berair. Aku biarkan dia merasa batang aku yang tegang mencacak keluar dari celah seluar uniform aku. Aku tarik tangannya dan menuju ke bilik Badrul. Aku biarkan Badrul dan Kamal yang sedang berpelukan di atas lantai. Kamal yang masih beruniform lengkap sedang menindih Badrul yang sudah tertanggal kain pelikatnya.

Aku duduk di bucu katil dan Hairi berdiri seolah tidak tahu apa yang hendak dibuatnya. Aku angkat kaki aku dan aku suruh dia tanggalkan but hitam aku yang seharian dipakai. Dicapainya kaki aku dan perlahan-lahan dia tarik but hitam aku yang panjang ke paras betis. Diletaknya ke bawah, dan diangkat kaki aku yang sebelah lagi dan ditanggalkannya but aku. Stokin aku yang berbau peluh terperap seharian memenuhi ruang, Hairi tidak berganjak atau menunjukkan reaksi yang berlainan, sebaliknya dihidu bau kaki aku yang berbalut stokin. Dia duduk melutut dan merapatkan tapak kaki aku ke hidungnya dan menghidu bau stokin aku. Aku lurut wajahnya dengan ibu jari kaki aku yang masih beralas stokin putih. Dia pegang kaki aku dan dihisapnya ibu jari kaki aku terus. Berderau darah aku menahan rasa ngilu yang mula merayap ke paha. Aku baringkan badan aku yang sangat penat di atas katil dan membiarkan Hairi mengurut kaki aku. Perlahan- lahan Hairi tanggalkan kedua-dua belah stokin aku dan mula mengurut setiap inci tapak kaki. Aku mengerang perlahan asyik dan batang aku semakin keras mencanak di celah zip seluar. Lama-lama aku dibuai lena dengan cara Hairi meramas ibu jari kaki aku dan terus mata aku terlelap akibat kepenatan.

Aku tertidur entah berapa lama, namun suara Badrul mengerang sayup menyebut nama aku menyebab aku terjaga. Aku cuba bingkas dari atas katil, namun tangan kiri aku sudah tergari di kepala katil. Aku mula cemas seketika, kelibat Hairi tidak juga kelihatan dalam samar-samar bilik Badrul yang tidak berlampu. Aku cuba raba ke pinggang mencari kocek duti belt aku dengan tangan kanan aku yang tidak bergari, namun duti belt aku sudah ditanggalkan. Aku tarik kaki aku, malangnya sebelah kaki aku juga tergari di hujung katil besi. Aku mula jadi risau, namun aku cuba tenangkan diri aku. Aku bimbang sekiranya Hairi dan Kamal bukanlah anggota polis tapi menyamar. Mampus aku kena siasat nanti. Tiba-tiba kelibat Hairi muncul di muka pintu.

'Maaf tuan, kawan saya suruh saya gari tuan tadi’ Hairi berdiri di hadapan. Aku pura-pura tenang, aku cuba fikirkan cara terbaik untuk menipu Hairi. Lagi sekali aku dengar Badrul mengerang dikerjakan Kamal. Aku tak pasti apa yang dilakukan Kamal, tapi pasti sekali Badrul mengerang kesakitan.

'Kenapa kamu berhenti? Kenapa tak hisap batang aku’ tanya aku pada Hairi yang berdiri di hujung katil. Hairi gelisah, aku tahu dia teringin namun dia memang mengikut kehendak Kamal. Aku pegang batang aku yang separuh keras pada celah zip seluar aku. 'Hisaplah’ pujuk aku sambil mengoncang batang aku. Hairi datang dekat pada aku, dia pegang batang aku dan dilurutnya air mazi yang mula meleleh dari lubang konek aku. Sebelah tangannya berhati-hati memegang senjata di pinggangnya. Dia cukup berwaspada dengan apa-apa tindakan aku. Aku tengok dia begitu seronok membelai batang aku yang mula keras dan tak semena suara Badrul menganggu kosentrasinya. Dia berpaling, cepat-cepat aku capai tangan kirinya dan menarik badannya rapat ke dada aku. Hairi rebah di atas badan aku. Aku peluk badannya dengan tangan kanan aku yang tidak bergari dan aku capai senjata di pinggangnya. Hairi cuba bergelut dengan memegang tangan aku yang mengenggam pistol di tangan, namun aku terus acukan pistol ke kepalanya.

Hairi tergamam dan terus berhenti bergelut. Mukanya pucat secara tiba-tiba dan dia diam terbaring di atas dada aku. Mungkin terfikir akan nyawanya melayang di tangan aku. Tiba-tiba aku rasa basah dan suam pada bahagian paha seluar uniform aku. Aku tenyeh hujung senjata ke dahinya yang berpeluh.

'Kau kencing hah?’ Hairi tak menjawab tapi dia kelihatan cukup ketakutan. 'Bukak gari tangan dengan kaki aku’. Mula-mula dia enggan, namun sekali lagi aku acukan pistol ke dahinya. 'Bukak!’

Hairi cepat-cepat capai kunci dari kocek bajunya dan terus buka gari yang terpasang pada tangan kiri aku dan kemudian kaki aku. Dia berundur dan mengangkat kedua-dua belah tangannya ke kepala sambil aku pandang kesan basah pada celah kelangkangnya. Aku acukan pistol di tangan aku pada celah kelangkangnya. Dia kelihatan begitu ketakutan. Aku selitkan senjata ke celah pinggang aku dan aku capai leher bajunya. Aku tolak badannya yang kecil ke lantai. Aku cukup geram pada waktu itu, namun aku tahankan perasaan marah aku dan aku gari tangannya ke belakang. Aku capai stokin aku yang berada di atas lantai, dan aku sumbat ke dalam mulutnya. Hairi mengeleng-geleng kepala. Aku tahu ia tidak selesa namun aku perlu pastikan dia terus senyap. Hairi tidak melawan langsung dan aku tengok celah kelangkang seluarnya yang basah lagi. Aku pasti dia terkencing ketakutan.

'Nanti aku kerjakan kamu sampai lunyai’ Aku duduk di atas dadanya dan aku bisik ke telinganya sambil sebelah tangan aku meramas celah kelangkangnya. Hairi mengeleng-gelengkan kepala lagi, matanya terkebil-kebil minta dilepaskan. Aku pegang wajahnya, dan aku hentak kepalanya dengan siku aku. Matanya mula tertutup rapat dan dia cuba menjerit menahan kesakitan. Kakinya meronta-ronta kemudian perlahan-lahan berhenti dan dia mula tidak sedarkan diri.

Aku tarik Hairi yang tidak sedarkan diri dan aku sandarkan ke dinding.

Perlahan-lahan aku keluar dari bilik dan mengintai apa yang berlaku, kelihatan Kamal yang separuh berbogel dengan seluarnya terlodeh di kakinya yang masih beralas kasut sedang menerjah bontot Badrul yang tersandar ke dinding dengan batang koneknya yang keras mencacak. Kaki Badrul menyilang ke belakang Kamal dan Badrul kelihatan lemah longlai dikerjakan Kamal yang dua kali ganda besar badannya dari Badrul.

Tanpa disedari Kamal aku rapat ke belakangnya, aku tarik dia dengan menyentap bahunya. Dia berpaling terkejut. Badrul jatuh terkulai ke lantai dan batang Kamal yang keras mencanak keluar dari bontot Badrul bersama air mazi yang penuh di kepala batangnya. Kamal cuba melawan dan melepaskan tumbukannya ke wajah aku, aku mengelak dan menyiku dagunya. Dia terpelanting ke dinding dan aku terajang celah kelangkangnya dan dia terus jatuh merengkok ke lantai menahan kesakitan.

'Jangan, tuan.’ dia merayu sambil tangannya menutup celah kelangkangnya.

Aku pegang leher baju uniformnya dan aku heret dia menjauhi Badrul. Aku pegang tangannya dan aku silang kan ke belakang. Aku kangkangkan kakinya dan aku tindih dengan lutut aku. Kamal meronta-ronta menahan sakit. Aku cengkam rambutnya dan aku hentakkan kepalanya ke lantai.

'Aaarghhh… sakit, tuan’ mulut Kamal meleleh air liur dibelasah aku. Aku pusingkan badannya dan aku terlentangkan dia mengadap aku. Batangnya yang pendek tapi lebar masih keras mencanak. Aku tumbuk sekali lagi ke perutnya, dia mengerang lagi kesakitan.

'Kau paksa budak tu gari aku, kau nak buat apa hah?’ Aku pegang leher bajunya dan menekan dadanya ke lantai. Aku memang cukup geram dengan reaksi Kamal dan memang waktu itu aku sudah tidak fikir lain kecuali membantai bontotnya. Apa lagi, cepat-cepat aku tanggalkan seluar uniform dan seluar dalam aku dan kakinya aku angkat ke atas bahu aku dan aku arahkan batang aku yang mencacak keras ke lubang bontotnya. Aku terjah kepala batang aku ke dalam lubang bontotnya yang cukup sempit dan tertutup rapat. Batang aku yang keras menusuk ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut menahan.

'Aaaargggggggggghhhhhhhhhhh aaarggghhhhh’ Kamal meronta-ronta kesakitan bila seluruh batang aku masuk ke dalam bontotnya buat pertama kali. Dia cuba untuk memeluk aku tapi aku pegang dadanya rapat ke lantai dan aku hentakkan batang aku dalam-dalam dan berkali-kali. Kamal cuba menjerit menahan perit akibat lubang bontotnya yang dipenuhi batang aku yang besar. Aku pekup mulutnya. Dia mula mengalirkan air mata menahan sakit. Batangnya yang mencanak memancutkan air mani berkali-kali serta merta. Air maninya melekat ke baju uniform putih aku, berlendir dan bertompok-tompok. Aku tarik keluar batang aku dan aku terjahkan bontotnya beberapa kali lagi dengan geramnya.

'Rasakan!’ celah kelangkang aku menghentak bontotnya kasar. Aku pegang pangkal batangnya dan aku urut sampai ke kepala koneknya yang meleleh dengan air mani. Aku lancapkan Kamal tanpa henti, akhirnya dia mengerang dan menikmati setiap hentakan batang aku dalam lubang bontotnya. Aku pun dah mula tidak tahan, batang aku terasa macam nak pecah disebabkan bontot Kamal yang sangat ketat. Aku tarik keluar batang aku dan terus aku tujukan ke dalam mulutnya yang tertutup rapat.

Aku tampar pipi Kamal kuat. 'Bukak cepat!’ Kamal terus menganggakan mulutnya, cepat-cepat aku masukkan batang aku yang mencanak-canak ke dalam rongga mulutnya. Aku dapat rasa lidahnya menyentuh kepala konek aku dan dikulumnya batang aku rakus. 'Arrrggghh!’ Aku sudah tak dapat tahan, sekaligus air mani aku memancut ke dalam rongga mulutnya. Mata Kamal terbeliak cuba untuk tidak menelan air mani aku yang penuh dalam mulutnya. 'Telan!’ Aku pegang kepalanya dan aku tolakkan batang aku dalam-dalam. Kamal mengeleng-gelengkan kepalanya, namun lama kelamaan diteguknya air mani aku.

Aku tarik keluar batang aku. Kamal tersedak dan dia terus memuntahkan apa yang ditelannya. Baju biru uniformnya penuh dengan air mani aku. Dia terlentang dan kelihatan tidak bermaya lagi. Aku tampar pipinya dan dia mula tidak sedarkan diri. Aku sarung kembali seluar aku dan aku pegang celah ketiaknya dan menariknya ke kerusi dan aku terlentangkan di atas sofa. Aku capai duti beltnya yang tersangkut di meja dan aku gari tangannya ke belakang. Aku tengok bontotnya merah dan lebam akibat dirogol tadi. Memang Kamal lembik aku kerjakan.

Aku perhatikan Badrul yang terlena di tepi dinding. 'Bad, kau ok?’ Badrul mengangguk dalam keadaan sedar tak sedar. Aku angkat dan dukungnya, dia yang bertelanjang bulat masih dalam keadaan separuh sedar. Agaknya Kamal memang pandai main sampai Badrul betul-betul kepenatan. Aku baringkan Badrul di atas katil dan biarkan dia tidur berdengkur.

Aku pandang Hairi yang terperosok di tepi dinding, batang aku yang masih separuh keras di dalam seluar mula mengembang melihat wajah Hairi yang tenang tidak sedarkan diri. Celah kelangkang Hairi masih basah dengan air kencingnya. Aku tanggalkan sarung tangan, baju uniform aku dan aku letakkan di atas katil di sisi Badrul. Aku berdiri di depan Hairi dan aku tarik keluar stokin aku yang tersumbat dalam mulutnya. Perlahan-lahan mata Hairi terkebil-kebil, dia mendongak melihat aku seakan merayu belas ihsan. Aku pegang celah ketiaknya dan mengangkatnya berdiri. Dia memandang ke arah Badrul yang berdengkur di atas katil. Aku tolak bahunya, dia melangkah keluar menuju keluar dari bilik.

'Tuan buat apa dengan Kamal?’ sapanya melihat Kamal terbaring di atas sofa tidak sedarkan diri. Aku alihkan Kamal dari atas sofa dan aku baringkan dia ke lantai. Kamal masih tidak sedarkan diri terlentang tidak bergerak.

Aku berdiri di belakang Hairi dan mengeselkan batang aku pada tangannya yang tergari sambil tangan aku meraba badannya. Hairi mula bernafas rancak dan mula meraba batang aku perlahan-perlahan. Aku raba celah kelangkang seluarnya yang basah dan aku tolak turun zip seluarnya. Hairi diam kaku sambil meramas batang aku yang keras dalam seluar. Aku bernafas rapat pada tengkuknya dan dia mula bersandar ke dada aku. Aku masukkan tangan aku ke dalam seluarnya dan meraba batang koneknya yang terperap dalam seluar dalamnya yang basah. Bau bekas air kencingnya kuat. Aku pegang batangnya dan aku tarik keluar dari celah zip seluarnya.

'Pancut atas Kamal’ arah aku ke telinganya. Dia berpaling terpinga. 'Pancut!’ paksa aku sambil mengenggam batangnya. Hairi terketar-ketar, lama kelamaan air kencingnya menitik keluar dari lubang koneknya. Hairi cuba menyelesakan dirinya dan mengangkang kakinya dan kemudian dia memancut deras air kencingnya ke arah Kamal yang terbaring. Aku halakan batangnya betul-betul mengena muka Kamal. Kamal tersedar bila air kencing Hairi yang hangat mengena wajahnya. Dia cuba mengelak dan Hairi begitu takut sekali melihat Kamal mengelupur di atas lantai. Kamal cuba bingkas namun dihalang aku. Aku tarik Kamal dan aku paksa dia mengadap celah kelangkang Hairi. Air kencing Hairi yang masih laju terpercik ke muka Kamal, Hairi cuba mengarahkan batangnya ke arah lain, namun aku pegang batangnya supaya betul-betul ke arah Kamal yang terkebil-kebil dan menundukkan mukanya.

'Bukak mulut kau, Kamal!’ aku sepak bontot Kamal yang melutut di hadapan Hairi. Aku tarik rambut Kamal supaya dia mendongak betul-betul mengadap pancutan air kencing Hairi. 'Macam tulah’ balas aku bila Kamal membuka mulutnya luas dan meneguk air kencing Hairi. Aku tersenyum melihat reaksi Hairi yang mula bersahaja. Aku tolak kepala Kamal supaya batang Hairi masuk terus ke dalam mulutnya. Kamal cuba melawan namun separuh dari batang konek Hairi yang keras sudah ditelannya.

Aku berdiri di sisi Hairi sambil melihat Kamal menghisap batang Hairi perlahan- lahan. Hairi merengus dan semakin lama semakin kuat mengerang menikmati rasa sedap dihisap. Batangnya semakin lama semakin keras dan mencanak dalam mulut Kamal. Aku agak Hairi jarang dapat dihisap seperti itu dan mungkin juga tak pernah. Aku pegang Hairi dari belakang sambil memeluknya, tangannya yang tergari kebelakangan cuba meraba aku. Aku bukak butang baju uniformnya sampai ke perut dan meraba badannya yang berbulu. Aku ramas puting dadanya dan dia mula bersuara perlahan menahan rasa ngilu. Kepalanya bersandar ke dada aku dan Hairi mula ghairah dan menerjah batangnya ke dalam mulut Kamal tanpa henti. Aku seluk poket seluar dan keluarkan kunci gari dan aku tanggalkan dari pergelangan tangan Hairi. Aku campak gari ke atas sofa dan Hairi terus memegang kepala Kamal dan memaksa Kamal menelan habis batangnya yang semakin keras dan mencanak.

'Mal, kau jangan gigit!’ Hairi tolak batangnya ke dalam mulut Kamal rapat ke pangkal beberapa kali. Aku raba pinggang Hairi dan aku tanggalkan tali pinggangnya. Aku tarik seluarnya ke bawah menonjolkan bontotnya yang putih, aku ramas dan mula mengeselkan batang aku yang keras di dalam seluar pada belakangnya. Hairi tolak Kamal ke tepi dan berpaling mengadap aku. Aku tarik Hairi dan memeluknya sambil melagakan batangnya yang keras dengan batang aku. Aku tanggalkan seluar aku dan Hairi lucutkan seluarnya yang masih tersarung di hujung kaki yang beralas kasut but hitam. Aku pegang pinggang Hairi dan mengendongnya di pinggang aku. Hairi memeluk aku dari depan dan mulutnya rapat ke mulut aku. Lidahnya memasuki ruang mulut aku dan aku terus menghisap lidahnya basah. Batang aku mula keras mencanak dan aku arahkan terus ke lubang bontotnya. Hairi pegang bahu aku dan menolak masuk batang aku ke dalam lubang bontotnya yang terkemut-kemut.

Aku pegang badan Hairi kuat, lubang bontotnya mencengkam setiap inci batang aku. Aku kangkang kaki dan aku peluk badan Hairi yang kecil, perlahan-lahan aku melangkah rapat ke tepi dinding dan menyandarkan badan Hairi pada dinding yang mengadap aku. Hairi menyandarkan kepala ke dinding dan memandang aku sambil menghentak bontotnya pada celah kelangkang aku. Aku tolak batang aku dalam-dalam, Hairi asyik sekali sambil memegang bahu aku.

'Oooh Tuan, sedap tuan!“ Hairi mengigit telinga kanan aku sambil lubang bontotnya mencengkam kuat batang aku yang kembang dan berair. Aku jolok batang aku dalam dan ditelan habis cuping telinga aku, lidahnya tak henti menghisap. Aku hayunkan badannya dan menghentak bontotnya kuat. Batang Hairi keras dan bergesel pada perut aku. Kepala koneknya berair-air dan mencanak tidak henti.

'Sedapkan?’ bisik aku ke telinga Hairi. Perlahan aku pusingkan badan Hairi tanpa mengeluarkan batang aku dari lubang bontotnya. Hairi terkial-kial cuba menahan perit. Aku pegang pinggangnya dan pusingkan seluruh badannya dan dia akhirnya membelakangi aku. Kedua-dua tangannya menongkat ke dinding dan kakinya memeluk paha aku dari belakang. Aku peluk badan Hairi kemas dan menghentak ganas lubang bontotnya. Hairi mengerang menahan kesedapan dan mengikut rentak hayunan paha aku. Makin lama makin kuat dia mengerang dan aku ramas batangnya yang keras mencacak.

'Tuan, aaaaaaaaaaaaaaaaarghhhhhhh, saya dah tak tahan lagi’ Hairi mendongak dan batangnya mula memancutkan air mani ke dinding berkali-kali. Aku lancapkan batangnya lagi dan aku dapat rasa bontotnya ketat mencengkam kepala batang aku yang dari tadi menahan air mani aku. Aku peluk badannya kemas dan meramas dadanya. Batang aku mula memancutkan air mani sambil menghentak kuat bontotnya.

'Oooooohhh Hairi!’ raung aku

Aku terus bersandar ke dinding beralaskan badan Hairi yang kecil molek, air mani yang melekat pada dinding, aku lumurkan pada badannya. Perlahan aku keluarkan batang aku dari lubang bontotnya dan aku peluk Hairi dan terus baring ke lantai menghilangkan penat. Aku pandang Kamal yang terbaring di lantai dan aku kejutkannya.

'Kau telan air mani Hairi sampai habis, lepas tu aku lepaskan kau’ Kamal duduk di depan dinding dan mula menjilat saki baki air mani Hairi yang melekat di dinding. Tanpa segan Kamal kemudian mula menjilat air mani yang masih meleleh dari batang Hairi yang terbaring terlentang kepenatan. Aku capai seluar dalam Hairi yang melekat di hujung kakinya aku kesat batang aku. Aku bukak gari pada tangan Kamal, dia terus menarik nafas lega dan membaringkan dirinya di sisi aku. Aku baring di antara mereka berdua, Hairi yang mula sedarkan diri terus memeluk aku dan kemudian diikuti oleh Kamal.

Aku puas sekali, bukan senang nak jinakkan mereka berdua. Aku pasti mereka akan datang lagi mencari aku. Kamal capai seluar dalam Hairi dari tangan aku dan dihidunya, aku tengok batangnya separuh keras bergesel pada paha aku. Aku raba batangnya yang mula basah dan berair. Kamal merengus.

'Hairi, Kamal, bangun. Nanti balai cari korang.”

Kamal & Hairi bingkas dan mencari uniform masing-masing yang berselerak di lantai. Mereka berdua beredar tidak berapa minit kemudian. Aku terus masuk ke bilik dan membaringkan diri di sisi Badrul. Aku peluk Badrul dari belakang dan mengeselkan batang aku pada celah bontotnya, aku cium lehernya dan dia terjaga.

'Mereka dah balik?’ sapa Badrul terkebil-kebil.

'Dah’ aku peluk erat Badrul.

'Dah puas?’

'Belum, selagi tak dapat lubang kamu’

Badan Badrul aku tindih dari belakang dan perlahan-lahan aku masuk batang aku ke dalam lubang bontot Badrul dan menikmati setiap henjutan rapat ke pangkal batang aku.

'Ooooh, Bad! Kau terbaik’

Cerpen : Bacaan Quran

Belasan tahun lalu, saat emak masih ada. Aku masih ingat bagaimana kami melalui jalanan ini setiap hari minggu pagi, kami ke pasar dekat stasiun kereta. Dulu, jalanan ini masih berbatu. Bebatuan yang ditata rapi. Kini semuanya sudah berubah menjadi aspal. Sekarang hampir tidak ada yang berjalan kaki ke pasar yang jaraknya hanya sekitar 500m dari desa. Pemotor hilir mudik, memenuhi jalanan.

Aku masih ingat bagaimana setiap perjalanan ke pasar ini, saat menemani emak ke pasar. Banyak sekali obrolan kami yang berkesan. Satu per satu obrolan itu pun menjadi peganganku hari ini. Sebuah nasihat yang menjadi nyala dalam hidup-hidup berikutnya, apalagi setelah emak meninggal. Salah satunya yang ingin aku ceritakan kepadamu.

Waktu itu usiaku sekitar delapan atau sembilan tahun, aku lupa tepatnya. Masa itu masa-masa setelah krisis moneter. Emak ikut berjualan di pasar dan perjalananku kala itu tidak hanya sekedar menemani emak ke pasar untuk belanja, tapi juga jualan. Aku membawakan barang-barangnya dengan sepeda kecil yang aku tuntun.

Waktu itu aku sudah mulai mengaji. Aku mengaji di rumah tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Dan aku benar-benar terkesan dengan pembicaraan kami kala itu, meski pada waktu itu aku tidak sanggup memahami dengan utuh kalimatnya. Kini aku paham.

“Nak, emakmu ini tidak bisa baca Quran. Emak cuma bisa mendengarkan dari orang lain kemudian mengingatnya. Emak tidak pernah mengaji, tapi itu bukan berarti emak tidak belajar agama. Emak sibuk bekerja dari pagi, untuk itu emak pengin nabung pahala yang banyak di kamu. Kamu harus belajar, baik belajar ilmu dunia maupun agama.”ujarnya.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan quraannya itu bukan yang mereka yang bacaannya sering diputar dari kaset rekaman di masjid tiap menjelang shalat jumat itu.” lanjutnya.

Aku memasang muka penasaran, tanda ingin tahu apa yang sebenarnya emak pikirkan. Aku memang terkenal paling payah dalam mengaji di antara teman-teman yang lain. Hafalanku paling kacau. Bacaanku juga tidak lancar. Dan emak tahu semua itu.

“Buat emak, orang yang paling bagus bacaan qurannya itu adalah orang yang sekali ia membaca Al Quran, ia mengamalkannya. Setiap ayatnya, setiap perintah dan larangan di dalamnya. Itulah orang yang paling bagus bacaannya buat emak. Karena tidak hanya bibir yang membaca, tapi hati dan seluruh anggota badannya membacanya dan mengamalkannya.”

Kalimat itu mengalir dan berhasil membuatku bersemangat kala itu. Setiap kali satu ayat aku pelajari, setiap kali itu pula aku berusaha mengamalkannya. Seringkali aku bertanya maksudnya apa, mengapa, dan bagaimana setiap kali membaca. Ketidakmengertianku dan rasa penasaranku begitu besar sampai guruku kewalahan menjawab pertanyaanku. Setelah itu, emak memutuskan untuk mengirimku ke tempat mengaji di kota.

Guru ngaji di lingkungan kami bukanlah seperti ustadz hari ini. Mereka mengajar mengaji karena bisa mengaji. Bukan karena lulusan pondok pesantren atau memang mendalami ilmu agama tsb.

Kini rasa syukurku meledak ledak setiap kali mengingat kata-kata emak. Dan aku berjanji kepada emak kalau aku akan memiliki bacaan Quran yang paling baik. Sebagai hadiah untuk emak.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 15 maret 2017