padaku

“Jika harus diadu siapa di antara kami yang cintanya lebih besar, aku percaya diri, akulah juaranya. Ia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama, sementara aku jatuh cinta padanya bahkan sebelum aku memandangnya.” – Annisa Larasaty

Rijal selalu mengira dialah yang lebih dulu jatuh cinta pada Laras, tepatnya ketika pertama kali melihat Laras membaca Hujan Bulan Juni di Teater Daun. Dia tak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu, Laras telah jatuh cinta bahkan sebelum bertemu dengannya. Dia juga tak pernah tahu, kehadirannya telah menyembuhkan Laras dari philophobia yang dialaminya selama bertahun-tahun.

Di antara hal-hal yang tidak Rijal tahu itu, ada kenangan masa lalu yang selalu menghantui Laras. Bahkan, di ulang tahun pertama pernikahan mereka, Laras justru sibuk mengenang masa lalunya. Ada pertanyaan-pertanyaan yang harus ia jawab. Ada keresahan yang menanti kejelasan.

Apa yang selama ini Laras sembunyikan, yang bahkan ia rahasiakan dari kekasihnya sendiri? Mampukah mereka mempertahankan rumah tangga yang telah bertahun-tahun mereka damba?

Setelah membaca kisah Rijal Rafsanjani dalam Tuhan Maha Romantis, ini saatnya untuk menyimak kisah Annisa Larasaty dalam Konspirasi Semesta.


Bagi yang mau ikut mengoleksi, pemesanan dibuka 5-15 Desember.

Caranya, ketik: Nama, Alamat, No HP, Email & Paket yang dipesan. Kirim via channel berikut, pilih salah satu saja:

- Official LINE @Lampudjalan (jangan lupa pakai @ )
- Whatsapp 08119923400

Tersedia merchandise blocknote eksklusif untuk 1,000 Pemesan Pertama. :)

Yang Dia Ingin Tahu

Tak ada yang lebih sulit daripada mencintai perempuan yang sedang berharap dicintai lelaki lain. Lelaki yang dia inginkan. Yang baginya, bahagianya hanya ketika bersamanya.

Bukan bersamaku.

Mendekatinya, sebenarnya aku tahu, aku sebenarnya tak akan pernah benar-benar mendapatkannya. Apa yang selama ini kuberi, hanya ia terima setengah hati. Setengah mati dia menginginkan pemberian dari lelaki lainnya–lelaki yang sampai saat ini tidak pernah memberi apa-apa padanya.

Dia tersenyum padaku karena dia tahu, aku menginginkannya. Sedangkan pada lelaki yang dia mau, dia melakukannya bahkanpun jika lelakinya tidak meminta.

Dia tidak pernah tahu, aku pernah melepas begitu banyak pengejaran, demi benar-benar mengejarnya. Yang dia ingin tahu, hanya kepada yang dia mau, dia berharap lelakinya melakukan pengorbanan yang serupa, sepertiku.

Lantas, siapa aku?

kau bilang padaku 

untuk melepasmu, melupamu. Aku coba…dan hujanku berantakan. Aku meminta temu, kau tak acuh dan menjauh. Kita tak sengaja kutemukan, rencana yang kau akhirnya tau aku buatkan. Kau membenciku yang terlalu.

kau bilang padaku,

jangan lagi bergharap padamu, aku mencoba. kudekati pria lain.. dan hidupku berantakan. Kau marah dan entah masih akan kecewa atau tidak. aku masih saja kembali mengeluh padamu. Mereka tidak pernah sesungguh dirimu

Kau bilang padaku.

Aku akan ditemukan, oleh selainmu. sedang aku tau kau memboohongiku. karena hanya ada satu kamu di duniaku. dan kau tau itu. dan kau mengabaikanku. kau indah di dunia mu. menutup tirai sandiwaraku di pentasmu.

aku bilang padamu

anak-anak kita puisi indah, sajak-sajak ritmis penuh rasa. Kau tak mau mengakuinya. tak mengakui anak kita. kau membunuhnya. menghancurkan rahim pikirku yang melahirkannya. menggugurkan tiap benih kata yang kusekam dalam hati yang mulai membeku karenamu.

kau pembunuh, lantas siapa aku?

*jakarta, 06.10

Kembalilah sebagai teman. Berbicara lagi padaku layaknya tak pernah ada cinta di antara kita sebelumnya. Tertawa seperti sepantasnya seorang teman.
 
Itu jauh lebih baik ketimbang kau kembali sebagai seorang mantan.
Kecuali Kau Lelaki Pemberani

Jangan jatuh cinta padaku
Aku ini perempuan yang banyak mau
Inginku seringkali tak sederhana
Barangkali kau akan pusing karenanya

Jangan jatuh cinta padaku
Aku ini perempuan pencemburu
Aku tak melarangmu berkawan dengan perempuan lain
Namun saat kau berkawan dengan mereka
Kau harus tahu diri
Atau aku akan mudah hilang kendali

Jangan jatuh cinta padaku
Aku ini perempuan manja
Yang selalu saja ingin dipuja
Aku tak yakin
Kau akan tahan hidup bersamaku berlama-lama

Jangan jatuh cinta padaku
Aku ini perempuan penuntut
Yang selalu ingin lelakinya
Menjadi lelaki hebat dan kuat
Dan bukan lelaki penakut

Jangan jatuh cinta padaku
Aku ini perempuan pembosan
Yang tak ingin lama-lama berpacaran

Jangan jatuh cinta padaku
Kecuali kau tahu
Jenis perempuan seperti apa
Yang akan memenuhi seisi hatimu
Juga kelak sisa hidupmu

Maka, kukatakan sekali lagi
Jangan jatuh cinta padaku
Kecuali kau lelaki serius yang pemberani
Yang siap menemui kedua orang tuaku nanti.

Medan, 27 Agustus 2015

- Tia Setiawati

Aku tipe wanita yang hatinya sulit didekati. Baik sebagai teman apalagi hubungan spesial. Aku tipe wanita dengan pertahanan diri terhadap orang asing seperti itu. Aku harus melihat dulu rupamu, menyaring dan menskrining tentangmu. Jika kamu tak ada niat jahat padaku, akan kuulurkan tangan. Jika kau temukan kunci diriku, aku akan membukanya lebar-lebar. Kau akan tahu ceritaku layaknya buku.
—  dee
Kamu yang Tidak

Aku rasa, kita tidak saling jatuh cinta.

Kita, hanya dua orang yang tak sengaja dipertemukan dalam satu keadaan, lalu kebetulan bahagia berkat kehadiran masing-masing. Tapi, tidak untuk lebih.

Kita, hanya dua orang yang saling membutuhkan untuk membunuh kesepian di sisi kita, lalu merasa nyaman karena memiliki seseorang untuk diajak berbagi. Tapi, itu sudah cukup.

Aku, tidak memerlukan lagi jawaban atas pertanyaan “kita ini apa?”. Kamu, juga mungkin tidak pernah berniat menjanjikan “kita”. Aku, kamu, tau itu.

Aku, mungkin sudah terlanjur jatuh sebelum kamu mencegahku. Kamu, mungkin pernah sekali saja kagum padaku. Tapi, perihal perasaan kita, biarlah kita mengetahuinya dengan cara yang paling indah.

Aku rasa, kita memang tidak saling jatuh cinta. Atau mungkin, aku saja, kamu yang tidak.

Jangan Jadikan Aku Istrimu, Jika..

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain.

Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas. Wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurnapun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menjatuhkan talak padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku.

Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku.

Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku.

Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu.

Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah.

Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga.

Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku.

Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana.

Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.

Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.

Tolong katakan padaku, tolong ingatkan aku; Bahwa segala jerih payah, suka-duka, jatuh-bangun, serta seluruh tawa dan air mata yang pernah kita lalui bersama kemarin bukanlah sesuatu yang sia-sia, kan?

Suaracerita : Ayah dan Kata Cintanya yang Dingin

Suara : @dokterfina
Cerita : @kurniawangunadi
Backsound : Ryann - First Snow

©Medan, 5 September 2015

Ayah dan kata cintanya yang dingin

Ayah tidak banyak bicara. Cintanya tidak pernah ku dengar dalam bentuk kata-kata. Tangannya kasar ketika kusalami. Wajahnya berminyak ketika aku berusaha mencium pipinya. Cinta ayah begitu dingin, tidak berbahasa.

Aku tidak pernah mendengar ayah bertanya tentang perasaanku. Tidak di hari dimana usia ku menginjak dua puluh satu. Ayah diam saja bagai tidak peduli. Ayah yang tidak pernah menghubungi lebih dulu. Ayah yang entah bagaimana ibu bisa jatuh cinta kepadanya. Aku tidak mengerti.

Sewaktu hari akadku, aku baru pertama melihat ayah menangis didepan mataku. Memelukku lebih lama dan hangat sekali rasanya. Ada dingin yang mencari, ada cinta yang terbahasakan dalam sebuah restu. Ayah memang begitu. Dan aku mencintai ayahku yang seperti itu.

Karena aku tahu suatu hari bahwa bahasa cinta ayah bukanlah kata-kata. Cinta telah berubah dari kata sifat menjadi kata kerja. Setiap hal yang ayah lakukan karena kecintaannya, padaku. Ayah memang demikian. Meski demikian, ayah tetaplah yang terbaik.

Made with SoundCloud
Sedang Ada

Bukan nyaman saja yang dibutuhkan. Bukan kepastian saja yang dinantikan. Tapi ada beberapa pengandaian yang inginnya tak lagi berandai-andai.

Jatuh mana yang bisa direncanakan? Jatuh mana yang bisa dikondisikan? Bukankah tak ada? Bila ada coba tolong beritahu aku. Tapi sebelumnya, mungkin aku yang harus memberitahu sesuatu padamu terlebih dahulu. Tentang hal-hal yang perlu dikondisikan, tentang hal-hal yang harus direncanakan—termasuk jatuh kita kali ini.

Seseorang pernah berkata padaku, bahwa perasaan mungkin masih sanggup untuk dikontrol, tapi tidak dengan keadaan. Sebab keadaan jarang untuk bisa berkompromi dengan perasaan. Mungkin kiranya itu yang sedang kita alami saat ini.

Aku kerap terjebak pada hal-hal yang teramat menyenangkan, aku kerap tersipu pada hal-hal yang teramat manis. Tapi tidak untuk saat ini, tidak jua untuk apa-apa yang kau lakukan kali ini.

Mungkin bila bukan kau orangnya, sudah ada rona merah jambu di pipi yang akan terang-terangan tampil pada khalayak ramai. Tapi karena kau orangnya, entah mengapa segalanya memenuhi benakku dan menahan rona itu untuk hadir. Hanya gelak tawa yang kudengar, hanya senyum seperti biasa yang bisa kutampilkan. Hatiku? Tak perlu kau tanya, dia masih baik-baik saja–mungkin berusaha untuk baik.

Aku sedang ingin bertanya pada beberapa pihak. Bila perbedaan terang-terangan hadir sebagai sekat, mungkinkah ada yang bisa didobrak agar tak lagi melekat sisa-sisa luka esok hari? Bila saja perbedaan bisa untuk dijadikan sama, mungkinkah harus ada yang diselesaikan meski harus ada yang terluka tapi tidak terkoyak? Atau justru mengakhiri sama dengan sebuah penyelesaian tanpa butuh perjuangan yang tak berujung?

Sebab nyatanya memang ada beberapa hal yang harus diselesaikan, suka tidak suka, rela tidak rela, bahkan ikhlas tidak ikhlas. Percayalah, setelahnya segala akan tetap baik-baik saja, meski memang tak akan seperti semula. 

Aku dan kamu mungkin sedang menikmati, jadi tolong tak usah pedulikan sekitar. Mereka tak tahu apa-apa, tapi mereka tahu ada apa.

Kemudian kembali mengerti bahwa mungkin memang tidak untuk melangkah bersama

Special request kak @secangkirasa

©Hujan Mimpi

Hanya Karena

Hanya karena aku baik dan peduli, bukan berarti kamu harus jatuh cinta padaku.

Aku memang tidak menarik dengan seluruh kebaikanku yang tidak tampak istimewa untukmu seorang. Jadi, jangan merasa bersalah dan harus jatuh cinta padaku. Pun, kamu tidak perlu merasa sungkan jika ternyata, di kemudian hari, kamu tahu bahwa kebaikanku padamu jauh berbeda dengan kebaikanku pada orang-orang yang lain.

Aku, tetap ingin dicintai dengan apa adanya. Dengan banyak kekuranganku yang terus berusaha kututupi dengan berbagai kelebihan. Dengan banyak keburukanku yang berusaha kusembunyikan dengan segala kebaikan. Dengan keinginan-keinginanku yang berusaha rapat-rapat kusimpan berdalih belum waktunya kutunjukkan.

Hanya karena aku terus menjauh, bukan berarti aku tidak ingin mendekat.

Mungkin, aku berbeda dengan dia yang terus saja maju jalan seperti tak perlu memikirkan apa-apa. Mungkin, aku tampak selalu tak berani karena harus menghitung benar-benar langkah ke depan. Mungkin, hidup denganku tidak penuh debar-debar tantangan.

Hanya saja, bisakah kamu mencoba percaya bahwa denganku hidup akan baik-baik saja meskipun kita akan menjalani liku yang tak terkira? Namun, aku mengaku tidak bisa menawarkan kepastian. Sekalipun denganmu, aku ingin sekali segera memastikan.

Hanya karena aku tidak berkata apa-apa, bukan berarti aku tidak berbuat atau memikirkan apa-apa. Terutama, tentang segala kekhawatiranku. Tentangmu.

Percayakan Padaku.

Kamu tak perlu takut kehilanganku. 
Sejauh apapun kita, sesibuk apapun kerjaanmu nanti, dunia akan selalu tahu bahwa aku adalah milikmu.

Kamu tak perlu takut aku tak setia. 
Akan ada satu dua kali aku memandang sosok yang lain, akan ada sekelibat waktu aku terpesona paras orang lain, tapi tenanglah, pulangku akan selalu padamu. Padamu aku akan menemukan rumah yang ketika aku berpulang, aku tak ingin membuang waktu untuk melihat ke yang tidak selain kamu.

Kamu tak perlu cemburu.
Beberapa mungkin ada yang ingin hadir di antara kita. Beberapa mungkin akan ada yang mendekat. Tapi kedekatan mereka nanti hanya akan membuat mereka cemburu karena aku akan selalu memilih mendekat padamu; Sejauh apapun kamu mencoba pergi.

Kamu tak usah khawatir.
Kepercayaanmu adalah apa yang selalu kugenggam utuh. Selama kau tidak mempermainkan kepercayaanku padamu, aku tak akan pernah berani menghianati itu.

Di depan mereka, aku akan memperkenalkanmu. Sebagai seseorang yang aku utamakan, sebagai seseorang yang pada matanya bahagiaku didulang. Percayalah padaku, kehilangan ribuan mereka tidaklah buruk jika dibandingkan dengan kehilanganmu.

Tak Perlu Mendua

Bila suatu saat kau bertemu seorang yang baru
Yang lebih segala halnya dariku
Tak perlu kau menjaga perasaanku
Lalu memutuskan berpura-pura
Semuanya masih baik-baik saja

Bila suatu saat kau bosan padaku
Lalu berniat mencari yang baru
Tak perlu tetap bertahan denganku
Hanya karena merasa kasihan yang terlalu

Bila suatu saat ada yang menggodamu
Dan kau pun, entah disengaja atau tidak, tergoda dengannya
Tak perlu berharap kita masih akan tetap sama

Sungguh, atas kehadiran siapapun yang tak kita sangka
Dan kau menaruh hati padanya
Kau tak perlu mempertahankanku
Dan memutuskan untuk mendua

Karena aku akan pergi
Dengan sukarela.

Medan, 11 Januari 2016

- Tia Setiawati

Ayah..
Tolong beritahu aku, apa ada yang lebih menyejukkan daripada kasihmu yang mengudara dalam hidupku?
Dan, Mama..
Bisakah kau tunjukkan padaku, sesuatu yang lebih harum daripada aroma cintamu untukku?
—  1:43pm. Thursday. April 14. 2016
Maukah kau?

Jika kelak kita bertemu kembali, jatuh cinta lagi, maukah kau menerimaku? 
Mencoba untuk mengulang semua cerita lama dengan jiwa yang baru, sifat yang baru, sikap yang lebih dewasa, namun tetap dengan senyum yang lama.

Tak ada satupun prajurit lupa yang mampu menghapus kenangan kita di dalam kepala dengan begitu sempurna. Aku masih bisa mengenang beberapa kisah kita, contohnya. Namun, tetap banyak yang hilang semenjak kau memutuskan untuk melangkah pergi.

Aku ingin kau menerimaku sebagaimana nanti aku menerimamu. 
Biarlah banyak rahasia-rahasia baru yang tak saling kita bagi semenjak kita tidak bersama lagi. Selama senyummu masih sama, pelukmu masih hangat, dan cintamu masih mampu tumbuh sebesar dulu waktu pertama kau datang padaku; Aku mau.

Jika kelak kita bertemu kembali, jatuh cinta lagi, maukah kau menerimaku? 

Bukan Tak Ingin, Memang Belum Saatnya

Aku tidak sedang mencari, tidak pula sedang menunggu. Bila sekarang aku dipertemukan denganmu, itu di luar dugaanku.

Aku tak bisa menolak takdir, tapi aku bisa membuat keputusan. Bohong jika aku tidak tertarik dengan semua kebaikan yang ada pada dirimu. Aku masih normal untuk jatuh hati pada ciptaan-NYA yang begitu menawan.

Aku belum berniat mencari, tapi bila sekarang kita dipertemukan, mungkin ini sebuah ujian. Aku mulai sadar akan apa yang hendak kutuju. Aku mulai paham atas apa yang ingin kulakukan. Tapi memintamu menunggu, itu di luar kuasaku.

Aku tak suka membuatmu khawatir, sementara aku belum bisa menenangkanmu. Aku tak suka melihatmu dirundung rindu, sementara aku belum bisa membersamaimu.
Bila kau benar cinta, kuharap kau paham dengan keputusanku.

Kumohon jangan katakan padaku bila kau menungguku. Aku takut tak kuat menahan nafsu. Bila kau benar cinta, kumohon hormati pula prinsipku. Bila yang lalu kau khilaf, aku menyadarinya, aku pun sering begitu.

Jika kau tak bisa menghormati pilihanku, maaf bila aku memilih menghindar.

Mungkin kelak aku akan menyesal bila kudapati kau berlabuh dengan yang lain. Itu tak mengapa, aku percaya DIA hanya memilihkan yang tepat. Bila pun aku tak dipertemukan jodohku di dunia, mungkin jodohku ada di surga. Bukan aku tak percaya akan janjimu, tapi aku lebih suka mengejar janji-Nya

Kuharap kau cukup paham untuk tetap melebarkan senyum. Karena yang kita duga, belum tentu yang DIA suka. Mari mengejar janji-Nya saja.

Aku bisa menjanjikan banyak hal, tapi semoga takkan kulakukan. Bila aku mulai melontarkan itu, tolong tegur aku. Kau tak mau bukan hidup bergelimang bualan?