otakou

Tsukiuta. (ツキウタ。THE ANIMATION)

The guys of Tsukiuta toast to their success and enjoy some cake in poster art from Otomedia+ Magazine (Amazon Japan | eBay), illustrated by key animator Noriko Otake (大竹紀子).

Tsukiuta. (ツキウタ。THE ANIMATION)

This Tsukiuta poster from December’s Otomedia (Amazon US | eBay) is practically a continuation from last month’s, just with a different set of guys! Art work by key animator Noriko Otake (大竹紀子).

Takut

Pernah tidak, kamu dekat sekali dengan seseorang hingga kamu tak kuasa untuk memilikinya?


Seperti aku yang terus menatapmu tanpa tahu apa yang mendekam dalam matamu. Aku selalu menemuimu tanpa perlu memberikan hadirku di tempatmu berada. Aku mendengarmu tanpa perlu aba-aba, begitu saja, seolah itu adalah kewajibanku.

Pada titik itu, aku dan kamu melakukan hal yang sama, berulang-ulang, berdua. Aku tidak keberatan mendengar cerita yang sudah kuhapal luar kepala, aku tahu apa yang membuatmu merasa sedih juga bahagia. Aku tahu segalanya. Aku mulai menumbuhkan rasa.

Namun, rasa adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Di satu sisi, aku begitu ingin kamu tahu apa yang kurasakan, tapi di sisi lain perasaanku mengatakan lebih baik jika kamu tak tahu. Otak dan hatiku tak pernah bisa sejalan. Membuatku terseret ke dalam pusaran kebingungan yang ada.

Harus bagaimana aku?

Langkahku tahu-tahu terhenti. Kesakitan ini bertambah pahit. Setengah mati aku melawan badai yang memorakporandakan benteng pertahananku. Tapi kamu selalu membiarkanku menyentuh hatimu dengan sejuta harapan dan pesimisme. Kamu tahu tidak, aku terus menahan rasa di saat kamu selalu di dekatku?

Aku tidak ingin memilikimu, juga tidak ingin kehilanganmu. Mengertikah kamu akan sebentuk perasaan ini? Bisakah kita tetap berada dalam kondisi yang seperti ini saja? Hingga tidak perlulah kita korbankan apa yang telah kita susun. Cukup siapkan satu ruang khusus untukku, yang kauasingkan, yang sengaja kaupisahkan dari duniamu, untuk kita berdua bertemu di sana.

Kita tahu, juga sama-sama tidak tahu. Pengetahuan kita membuat kita mempunyai hubungan yang ekslusif yang hanya kita berdua yang tahu. Aku tidak perlu lagi mencari tahu apa arti diriku untukmu. Kamu tidak perlu repot-repot menjelaskannya. Kita berada di ambang batas teman juga kekasih. Begitu sudah cukup.


Aku tahu kamu tahu apa yang aku rasakan, kamu mungkin tahu aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi mari kita terus berpura-pura tidak tahu tentang perasaan kita.

Dengan begini, aku tidak perlu takut kehilanganmu.

Makhluk Penuh Ketabahan

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh

Perihal begitu dominannya mereka menggunakan sisi perasaan, membuat mereka memiliki kemampuan merasa tahu segalanya. Meski tak juga mengenyampingkan logika, mungkin itulah yang membuat mereka melihat bahwa lelaki itu selalu penuh dengan kekeliruan.

Pada banyak hal, kita sangat sering menemukan perempuan menggunakan perasaannya. Ketika melihat mereka marah, menangis, bahkan diam tanpa berkata-kata sekalipun, sesungguhnya perasaan mereka saat itu berputar begitu teratur. Saat-saat seperti itu otak mereka begitu terampil menciptakan banyak prasangka-prasangka.

Mungkin, dari sana mengapa perempuan itu selalu merasa tahu. Di hadapan lelaki, hanya dengan melihat matanya, tingkahnya, ucapannya, bahkan cara menulisnya, perasaan mereka sanggup menembus tiap celah di pikiran para lelaki. Maka mereka akan selalu tahu apa yang sedang berubah dan telah berbeda dari lelaki di hadapannya. Tidak cukup itu, prasangka mereka terkadang bahkan melampaui sebuah kesalahan, hingga tercipta melankolis dalam kepala mereka sendiri, kemudian menjatuhkan sendirinya bulir-bulir air mata, berurai membasahi pipi mereka yang menggemaskan. Menyebalkan, memang.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Meski apa yang mereka rasakan tidak sepenuhnya apa yang mereka rasa benar dan walau sering salah dalam menebak, hati perempuan selalu tahu hal-hal yang telah berbeda dari biasanya. Maka dari situ juga prasangka itu lahir penuh dengan drama.

Tentang prasangka yang tak baik dalam rasa sakit, kecewa, pengabaian, atau perihal selalu merasa tahu segalanya. Dalam hati mereka yang paling tulus, dalam pikiran bawah sadar mereka, sesungguhnya menyimpan percaya yang begitu besar. Hingga seringkali bibir mereka berucap hal yang tak sama dengan isi hati mereka.

Dan saat nanti mereka tetap berdiri di sisimu, meski beribu kali mengaduh dan keluh yang dituturkan tentangmu. Maka saat itulah, mereka hanya ingin mencuri separuh perhatianmu, darinya mereka percaya sepenuhnya.

Katanya, perempuan adalah makhluk yang aneh.

Padahal, kalau kita sanggup memahaminya sedikit saja, indahnya begitu anggun yang tersemat pada diri mereka sejak pertama kita menatap matanya.

Bersyukur mereka yang terlahir sebagai perempuan, sebab kehidupan nanti bukan hanya tentang diri mereka sendiri. Namun, seberapa besar arti mereka bagi kehidupan. Mungkin itulah yang membuat mereka selalu ingin memberi yang terbaik pada hidup lelaki yang ingin mereka genapi.

Nyatanya, perempuan memang makhluk yang aneh.

Namun, meski aneh dan menyebalkan, mereka tetap saja pantas untuk mendapatkan pelukan terhangat saat mereka membutuhkannya. Sebab di balik kesederhanaannya, ternyata masih begitu banyak perasaan-perasaan yang harus dijaga oleh lelaki.

Dan seluruh keanehan-keanehan yang pernah terlontar pada diri mereka, tidak akan pernah ada tandingannya dibanding ketabahan pada tiap-tiap air matanya yang mengandung do'a.

Ialah perempuan, makhluk Tuhan penuh ketabahan.

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, 31 Januari 2017 | Seto Wibowo

MAAFKAN KAMI YANG BERBOHONG

Hari ini, saya mendapatkan sebuah pertanyaan, pertanyaan biasa yang seringkali kita dapat.

Siapakah tokoh favorit anda?

Hmm, otak saya langsung mengumpulkan wajah tokoh-tokoh yang banyak menginspirasi saya, entah karena perilakunya, entah karena perkataan yang diambil menjadi quotes dan sering membakar semangat saya, baik tokoh dalam negeri, maupun luar negeri.

Tapi pertanyaan ini membawa saya kepada masa kecil saya, ketika saya dan teman-teman saling bertukar kertas biodata, entah itu bertanya tentang makanan favorit, film favorit, hingga nama pacar.

Selalu ada satu pertanyaan yang jawabannya selalu sama baik diisi oleh siapapun, yakni “siapa tokoh favorit kamu?”

Semua orang tau, jawaban kami semua tidak pernah berbeda, semua anak menjawab yaitu “Nabi Muhammad SAW”.

Saat kecil, kami menulis itu, karena kami malu, sebagai seorang muslim jika tidak menulis nama itu, apa kata orang? Nanti kami dianggap tidak mencintai Nabi, nanti kami berdosa, nanti kalau dosa, kami disiksa, dan kala itu saya takut.

Pertanyaan itu kembali datang kepada saya, tentang siapa orang yang menjadi favorit saya. Kini, pertanyaan itu kembali muncul di hadapan saya. Sesungguhnya saya ingin menulis nama Rasullullah SAW, tapi tak terbesit satupun pengetahuan saya tentang Nabi Muhammad SAW yang dulu ketika kecil saya tuliskan sebagai tokoh favorit saya.

Jujur saja

Saya tahu betul kehidupan para artis, tapi saya tidak tahu kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Saya tahu betul siapa personil boyband negeri lain walau dengan nama yang sulit dihapal, tapi saya tidak tahu personil yang menemani Nabi Muhammad SAW ketika berperang memerjuangkan islam.

Saya tahu betul makanan favorit para penyanyi ternama, tapi saya tidak tahu makanan apa yang disenangi oleh Nabi Muhammad SAW.

Saya tahu betul bagaimana prosesi pernikahan pangeran William dan putri Kate, tapi saya tidak tahu bagaimana proses pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Khadijah R.A. bisa terjadi.

Saya tahu betul siapa pemenang kompetisi menyanyi dari season 1 sampai 7, tapi saya tidak tahu siapa pemenang dari peperangan yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW.

Saya tau betul bagaimana kisah Bill Gates keluar dari kampusnya lalu menuju Microsoft, tapi saya tidak tahu bagaimana Nabi Muhammad SAW keluar dari Mekah lalu menuju Madinah.

Saya tau betul bagaimana perjuangan Steve Jobs membangun Apple, tapi saya tidak tahu bagaimana perjuangan Nabi Muhammad SAW membangun peradaban islam zaman dulu.

Saya tahu betul bagaimana para Artis International wafat, tapi kami tidak tahu bagaimana proses kematian Nabi Muhammad SAW.

Saya tahu betul bagaimana perjuangan para tokoh dunia dalam mencapai mimpinya, tapi saya tidak tahu perjuangan Nabi Muhammad SAW yang begitu luar biasa banyak pelajarannya.

Saat itu, akhirnya saya tuliskan nama orang lain Maafkan kami ya Allah, ketika kecil, kami sudah berbohong. Kami menuliskan Rasulullah SAW sebagai tokoh favorit, tapi tak sedikitpun kami tahu tentang beliau.

Sungguh, kami malu, kami pernah berbohong.

MAAFKAN KAMI YANG BERBOHONG
Bandung, 20 Maret 2017

Musuh Terbesar Seorang Ibu (Rumah Tangga)

Musuh terbesar seorang Ibu bukanlah pornografi dan pornoaksi yang rentan memapar otak anak-anaknya. Bukan pula kekerasan seksual yang mengintai langkah pendek anak-anaknya. Bukan pula paham radikalisme yang bisa menjangkiti keyakinan anak-anaknya. Semua itu musuh kita bersama, namun ada yang lebih berbahaya dari itu semua.

Musuh ini tak tampak. Hadirnya sulit dideteksi oleh indera. Memata-matai dari sangat dekat. Mudah datang tanpa diundang. Mudah menginfeksi tanpa diketahui. Halus dan perlahan-lahan. Musuh itu adalah stigma bahwa profesi Ibu (rumah tangga) adalah pekerjaan biasa.

Menghabiskan hari-hari di rumah untuk merawat anak sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah yang itu-itu lagi sangat berpeluang membuat Ibu terjebak dalam rutinitas yang kaku, beku, dan membuat jenuh. Kadang Ibu membayangkan betapa menyenangkan jika Ibu bisa travelling dengan teman-teman seperti saat Ibu lajang. Namun sekarang hidup tak sesederhana itu.

Melihat rekan-rekan satu sekolah dulu sudah mencapai jenjang karir tertentu di perusahaan-perusahaan besar, atau menjadi pengusaha, atau sedang studi lanjutan di negeri lain, kadang-kadang bisa membuat Ibu kehilangan makna. Ibu mulai menilai diri Ibu sebagai orang biasa, yang tidak hebat, yang tidak keren, yang tidak bergengsi. Dan membuat Ibu perlahan-lahan melepaskan mimpi-mimpi dan standar-standar profesional seorang Ibu.

Ibu harus memasak masakan sehat agar keluarga sehat. Ibu harus menjaga kesehatan agar tidak sakit–karena keluarga membutuhkan Ibu. Ibu harus mengelola keuangan agar pemasukan seimbang dengan pengeluaran. Ibu harus mendidik dan memberi contoh baik agar anak ikut-ikutan menjadi baik.

Semua standar itu kalah oleh perasaan minder dan tak berharga.Self-esteem rendah, kebahagiaan Ibu menurun, Ibu pun akan sulit menjalani peran dengan baik.

Lalu Ibu merasa tidak perlu belajar, untuk apa seorang Ibu menjadi terpelajar? Lalu yang paling menakutkan, Ibu berhenti berdoa–padahal kunci langit ada di lisan Ibu yang tulus.

Ibu pun menjalani hari hanya untuk menanti malam tiba, lalu menghabiskan malam untuk istirahat agar cepat bertemu esok. Tak ada hari istimewa, setiap hari sama : penuh dengan rutinitas yang membosankan. Hilang sudah semangat bermain dengan anak, hilang sudah dorongan memasak makanan sehat, hilang sudah harapan untuk membangun keluarga hebat.

Ibu pun sepenuhnya menerima tanpa perlawanan, bahwa pekerjaan Ibu rumah tangga memang pekerjaan biasa.

Itulah musuh terbesar seorang Ibu, jauh lebih berbahaya daripada pornografi, kekerasan seks, penyimpangan perilaku seksual, kecanduan gawai, paham radikalisme, liberalisme, dan sederet permasalahan lain yang mengancam di luar sana.

Mengapa lebih berbahaya?

Karena yang harus dilawan adalah pikiran dan perasaan Ibu sendiri.

Akhlak

“Jadi gimana, Nak? Ibu kurang paham maksudmu.” Tanya seorang ibu kepada anak lelaki yang duduk tepat dihadapannya. Sepertinya ini hal yang sangat penting. Anak lelaki itu jarang berargumen. Jarang sekali. Kali ini beda.

“Bukan, Bu. Bukan masalah seberapa putih kulitnya. Seberapa mancung hidungnya. Seberapa berbinar matanya. Bukan pula seberapa cerdas otaknya. Seberapa tinggi tingkat pendidikannya. Bukan, Bu.”

“Otak cerdas itu perlu, Nak. Lalu bagaimana generasi penerusmu nanti kalau perempuan yang akan mendidiknya tidak cerdas?”

“Bu. Zaman sekarang perempuan cerdas banyak. Perempuan berpendidikan tinggi juga dimana-mana. Apalagi kecantikan fisik. Di Instagram tinggal milih, Bu. Lalu apa gunanya cerdas tanpa akhlak, Bu?” Lelaki itu menunduk. Takut. Ia tak mau perkataan yang keluar dari mulut menyinggung perasaan Ibunya.

“Terus maumu yang bagaimana, Nak?” Ibu itu seolah ingin mendengarkan anaknya. Sebab ia mengerti. Baru kali ini anak lelakinya meminta sesuatu. Jarang-jarang anaknya yang satu ini punya permintaan.

“Akhlak, Bu. Zaman sekarang susah mencari perempuan yang berakhlak. Benar-benar berakhlak. Sebab mengajarkan 1000 ilmu kepada orang lain itu akan sangat sangat lebih mudah ketimbang mengajarkan satu akhlak. Sebab orang yang berakhlak walaupun kekurangan ilmu itu lebih mulia ketimbang orang yang banyak ilmu tapi tidak berakhlak. Sebab Rosul lebih mendahulukan akhlak ketimbang ilmu. Sebab Rosul meminta kita belajar akhlak dulu sebelum belajar ilmu. Apalagi hanya sekedar memandang fisik. Tidak Bu.” Lelaki itu masih menunduk. Masih dengan rasa takut yang sama.

Mata Ibu itu menganak sungai. Menetes di tangan yang mulai keriput. Telapak hatinya tersentuh begitu lembut.

“Semoga kamu ditakdirkan dengan perempuan yang berakhlak mulia, Nak. Semoga Allah juga memberi hadiah bonus yang cerdas. Yang gesit. Yang telaten. Yang cantik alami, Nak.” Ibu itu tersenyum. Mengelus pundak anaknya. Lalu rambut kepala.

“Allahumma aamiin…” Lelaki itu ikut tersenyum. Tulus.

“Aku ingin mendampingi dan didampingi istri sepertimu, Bu. Yang mendoakanmu setiap malam. Yang selalu sabar menghadapi Ayah. Yang cantik akhlaknya” Gumamnya dalam hati.

Utagawa Kuniyoshi
Japanese, 1797-1861
Hachi, publisher
Japanese
Apparition of the large skeleton summoned by Takiyasha, daughter of Taira no Masakado in his haunted Soma Castle in front of Otake Taro Mitsukuni and his retainer, ca. 1844
Polychrome woodblock print/RISD Museum