orang belanda

Kamu Akan Rindu Panggilan Allah, Nak...

“Kamu yakin mau nerusin S2 di Belanda?,” Ibu berseloroh.

“Yakin dong bu, udah bulat seratus persen,” ucapku mantap.

Toh tempo hari sudah kujelaskan pada Ayah dan Ibu, tentang misiku untuk pergi ke Belanda. Tentang mimpiku untuk mengarungi samudra dan benua, ke negeri yang benar-benar bisa jadi cerminan untuk mengenal bangsaku sendiri. Belanda sudah ditakdirkan untuk jadi cermin Indonesia yang abadi, kan? Terlepas dari betapa sakitnya kenangan yang harus ditangguk di masa lalu, pun masih ada jeritan hati yang tak terperi atas perlakuan di masa silam.

Ayah dan Ibuku mengangguk. Manuskrip budaya dari seantero nusantara memang tersimpan baik di perpustakaan Leiden dan kampus lainnya. Jejak founding fathers bangsa seperti Bung Hatta dan Bung Sjahrir dapat diresapi dengan mendalam, juga hanya di Belanda-lah, identitas bangsa Indonesia dapat dikenali dengan baik. Di beberapa jalanannya pun terdapat nama jalan dengan nama pahlawan dan pulau di Indonesia. 

Banyak fakta lainnya yang juga mendukung argumenku, toh Ayah dan Ibu cepat luluh. Idealismeku memang masih berapi-api, terlebih aku lolos dua beasiswa baik dalam maupun luar negeri. Tapi dengan sengaja untuk kupilih beasiswa dalam negeri, agar nanti aku dengan sukarela kembali pada negeri ini setelah terdidik dengan baik disana. Aku ingin jadi Hatta baru, Aku ingin jadi Sjahrir baru. Seakan tak ada lagi yang bisa menghalangi, terlebih aku yakin bahwa inilah jalan Tuhan yang terbaik. 

Tapi entah kenapa, Ibu hanya terdiam. Sejenak seperti berpikir, membuatku bertanya-tanya,

“Kamu yakin ngga bakal kangen sesuatu?,” Ucap ibuku lirih. 

“Kangen……… apa, bu?,” Aku bertanya, pelan.

Aku paham. Seperti naluri seorang Ibu, akan sama dimana-mana. Merindukan putra-putri tercinta yang merantau ke negeri seberang bukanlah hal aneh. Tapi Ibu memang tak biasa, toh sejak kuliah aku sudah dilepas dan semua berjalan baik-baik saja. Yang menyeberang negeri toh sudah bukan cerita tak umum, mungkin sudah jutaan anak bangsa yang pergi untuk menjejak ilmu di benua nun jauh di nusantara ini. Tapi Ibuku entah kenapa lagi?

“Kan nanti bisa Skype-an, bu. Ibu kan udah diajarin ya kemarin, hehe,” 

“Bukan itu saja, nak,” Ucapnya, tampak berhati-hati.

“Terus apalagi bu?,” 

Ibu malah bertanya balik. Mencoba beretorika denganku.

“Coba kira-kira kamu pikir, yang paling kamu kangenin kalau udah sampai Belanda ntar kira-kira apa?,” Tanya Ibu. 

“Apa ya…….”

“… Ayah sama Ibu pasti. Kaka juga pasti..”

“…. Makanan! Mungkin nemuin mamang nasgor disana susah kali ya, Bu?,”

“…. teman-teman, mungkin. tapi ah, ngga juga……”

“… Apalagi atuh ya? Hmmm, suasana Indonesia mungkin. Dinginnya Bandung, mungkin?”

“…… Apalagi atuh ya?…..”

Aku berpikir keras. Pernyataanku diatas sebenarnya memang bukan faktor utama. Rasa-rasanya, semua bisa kuatasi. Belanda toh bukan negara asing buat orang Indonesia, setidaknya yang kuketahui dari cerita-cerita diaspora yang sudah terlebih dahulu disana. 

Kangen orang tua, itu pasti. Tapi semuanya bisa diobati dengan teknologi. Aku jamin, meski tak sering, suaraku yang bermil-mil jauhnya itu akan sampai di telinga orang tuaku untuk sekedar berucap kabar. Saudaraku pun rasanya begitu, tinggal korespondensi via chat atau sesekali Skype-an mungkin sudah lebih dari cukup. 

Makanan? Ah. Di seantero Eropa, Belanda-lah yang jadi surganya bahan makanan Indonesia. Selain memang populasi orang Indonesianya salah satu yang terbanyak di Eropa, toh orang Belanda tidak asing dengan tipe dan selera makan orang Indonesia. Sekedar beli kecap, saos, atau mie instan katanya cukup mudah ditemui. Bumbu-bumbu ala Indonesia juga banyak disana, sehingga mungkin kalau kangen betul ya bisa masak sendiri. Juga, akhir-akhir ini aku juga sudah membiasakan makan makanan ala-ala Eropa, rasanya tak menjadi hal yang sulit. 

Teman-teman? Ah tidak juga. Tak akan kekurangan teman kalau aku disana. Katanya, di negeri orang, justru pertemanan akan sangat diandalkan. Kata orang sunda itu istilahnya saguru, saelmu. Sebagai sesama perantauan dan sama-sama menuntut ilmu, pasti akan jadi lebih dekat. Aku juga sudah memproyeksikan bakal jadi apa aku di PPI Belanda nanti. Sama saja kalau kangen teman-teman di Indonesia, tinggal chattingan. Tak seberapa sukar untuk sekedar berkabar.

Suasana di Belanda itulah mungkin yang paling jadi tantangan. Selain kultur dan budaya masyarakatnya, juga faktor lain seperti bahasa akan sangat berpengaruh. Rasanya ini yang bakal buat aku homesick dan kangen Indonesia. Itu pasti. Tapi aku takkan menyerah untuk hal itu saja. Terlebih lagi-lagi kembali pada fakta bahwa Belanda tak asing dengan Indonesia, meskipun tak sama, suasana mirip-mirip Indonesia tentu disana tersedia. 

Apalagi hal kecil macam kangen suasana rumah, atau kangen Bandung. Belanda jelas lebih dingin! Di Bandung tak ada salju, di Belanda ada. Mungkin malah aku akan lebih excited untuk mengeksplorasi negara kecil ini. Rencana kecilku untuk mengunjungi Leiden, Amsterdam, Enschede, Rotterdam, Groningen, dan kota-kota lainnya mungkin bisa melupakan kangenku pada suasana rumah.

Aku yakin, tapi jadi tak yakin karena melihat raut wajah Ibuku. 

Seketika Adzan Isya berkumandang.

Tapi ada yang berbeda, yang ini terasa lebih semilir di telinga sekaligus membuat bergidik. Entah apa ini, tapi adzan kali ini kurasakan begitu berbeda. 

Ayah sudah bersiap-siap akan pergi ke masjid. 

Tapi Ibu ternyata belum selesai. Seketika ia berucap lirih,

“Semuanya itu bakal mudah untuk kamu lalui nak,… Kangen Ayah, Ibu, teman-teman, makanan, suasana…”

“Ah mudah.. buat kamu mah. Mungkin disana bakal ada penggantinya, dan Ibu yakin banget itu bisa…”

“… Tapi, satu hal yang mungkin ngga ada penggantinya disana…”

Ibu diam dan menatap mataku dalam. Tak kuat lama-lama aku bertanya. 

Jawaban ibu mengagetkanku….

“Panggilan Allah, nak….”

“Disana kamu ngga akan dengar panggilan adzan sebebas disini, di Indonesia. Mungkin ada, tapi Ibu ngga yakin di kotamu tinggal nanti itu ada. Ngga ada pengeras suara yang bakal ngingetin kamu untuk shalat, sebebas disini. Ngga ada suasana adem dan nyaman seketika telah adzan berkumandang….”

“… Seakan-akan, perumpamaannya Belanda itu ngga ngizinin panggilan Allah untuk bergema di seantero negerinya. Kamu yang akan jadi bingung, kamu pasti kehilangan sesuatu yang esensial… “

“….. Seketika kamu akan sadar kalau kamu hidup di negara liberal. Kamu akan sulit sekali mencari masjid, atau bahkan tempat ibadah yang disediakan. Kamu akan kangen dengan jamaah shalat yang berbondong-bondong, kangen suasana masjid yang tenteram, suasana salam-salaman setelah shalat, kangen kajian, majelis taklim, dan yang lainnya..”

“… Kamu akan kangen adzan, nak. Kamu bakal kangen akan desiran hati dari lafadz-lafadz adzan. Nantinya kamu mungkin bakal shalat sendiri, bukan di mesjid, tapi dipojokan kampus yang sempit. Kalau mau baca Qur’an mungkin tak bisa nyaring. Mau wudhu pasti susah sekali…”

….

Aku tergugu. Semacam ada perasaan yang hilang dan tertawan. Aku merasa jadi asing di negeri yang bahkan belum aku datangi. Aku akan mencari-cari Allah disana, yang terwakili oleh panggilan Adzan yang mungkin takkan bebas berkumandang. Aku kini mengerti apa maksud Ibu…

“Kamu… siap… kalau nanti bangun untuk shalat subuh hanya modal alarm? Kamu siap kalau nanti shalat empat waktu lainnya itu nyuri-nyuri waktu pas kuliahan? Kamu siap ngga kalau nantinya shalat sendiri, di pojokan kampus yang paling sepi, tidak begitu layak, entah bersih dari najis atau tidak, yang bahkan digabung dengan ruang pemujaan agama lain? Kamu siap kalau nanti untuk sekedar kajian harus pergi ke kota lain yang jamaahnya lebih banyak?”

“…. Kamu siap untuk ngga dengerin adzan sekian lama? Pasti rasanya ada yang hilang, nak. Pasti. Negara terdekat disana untuk dengerin adzan secara bebas mungkin cuma Turki. Kamu siap kalau hari-harimu terasa alpa dari panggilan Allah, nak?..”

Aku hanya bisa diam. Lisanku terasa terkunci. Tahu-tahu, pelupuk mataku sudah menggenang…

“Karena… yang kamu akan cari ketika kondisi kamu paling sulit nanti… bukan Ayah, bukan Ibu, bukan teman, nak. Yang kamu cari itu pasti Allah…”

Airmataku menetes. 

…..

“… Tak ada tempat senyaman itu untuk menyerahkan segala urusan sulitmu pada Allah. Tak ada masjid sebersih dan senyaman disini untuk bersimpuh. Kamu bakal kangen suasana Indonesia nak, negeri yang mungkin tak semaju Belanda tapi dikaruniai Allah berupa umat Islam yang terbesar di seluruh dunia, yang panggilan-Nya di setiap lima waktu dapat bebas berkumandang….”

“…Kamu siap, nak?”

…..

Airmataku membanjir, seketika. Aku tak bisa lagi berkata-kata. Aku sadar, bahwa sejatinya aku hanya sendirian disana. Tak ada yang lain lagi tempatku akan menyerahkan segalanya, kecuali Allah semata. 

Entah aku siap atau tidak. Kalaupun aku jadi pergi, inilah hal yang paling aku kangeni dari Indonesia, yaitu gema suara panggilan Allah yang bebas dan merdeka, yang mengingatkan setiap umat untuk menujuNya..

Terngiang ucapan Ibu dalam hatiku,

“Kamu akan rindu panggilan Allah, nak…”


_____

21 Oktober 2016. Cerpen renungan dan mimpiku.

Bahasa Kolonial

Di masa-masa awal berinteraksi dengan pelajar dari pelbagai negara, saya menemukan beragam bahasa yang menarik untuk didalami seperti Arab, Prancis, Farsi, Urdu, dsb. Bukan karena bahasanya, tetapi bagaimana mereka bisa menggunakan bahasa tersebut. Sebagai contoh–yang membuat saya heran–mengapa banyak sekali pelajar yang berasal dari Afrika mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Prancis. Ketika saya mengunjungi Kamerun, Mei 2014 lalu, semua orang menggunakan bahasa Prancis. Oh, ternyata Kamerun dahulu adalah negara bekas jajahan Prancis. Mereka dahulu dipaksa belajar bahasa kolonial.

Selain Kamerun, hampir setengah wilayah di Afrika menggunakan bahasa ini seperti Kongo, Madagaskar, Pantai Gading, Niger, Senegal, Mali, Tunisia, Maroko, Burkina Faso, dsb. Yang menarik adalah ketika di antara mereka bertemu, mereka bisa saling berkomunikasi lintas negara, disebabkan mereka semua bisa berbahasa Prancis. Saya merasa iri. Bagaimana tidak? Mereka setidaknya mampu menguasai tiga bahasa, yaitu bahasa suku (ibu/lokal), Prancis, Inggris dan atau Arab. Sekarang mereka belajar bahasa Turki. Mereka yang berasal dari Maroko bisa menguasai itu semua. Artinya mereka pun punya kesempatan untuk pergi belajar, bekerja atau sekadar wisata ke negara penutur asli.

Kemarin pulang kuliah sambil jalan saya ngobrol dengan kawan dari Pakistan. Ada satu momen di mana dia bilang sangat bersyukur karena dijajah Inggris. Dia bisa cepat memahami textbook dan berkomunikasi dengan orang luar. Hampir 49% penduduk Pakistan bisa bahasa Inggris setidaknya kelas intermediate. Dalam hati saya bilang, “Iya benar juga sih, dia ngomong bahasa Inggris kayak air mengalir meski dengan logat meneketehe dan kuch kuch hotahe.” Kamis kemarin ikut konferensi bahasa Urdu (bahasa India), semua pakai bahasa meneketehe, saya jadi inget Shahrukh Khan.

Pertanyaan di kepala saya; kalau mereka semua bisa menggunakan bahasa penjajah, kenapa Indonesia tidak? Padahal katanya, 350 tahun dijajah–saya tidak percaya angka ini dan meyakini bahwa tidak semua wilayah Indonesia dijajah selama itu. Ternyata, usut punya usut, katanya Belanda tidak mau mengajarkan atau mewajibkan orang Indonesia menggunakan bahasa Belanda agar tidak mudah mengerti dan memahami strategi Belanda dalam kolonialisasi. Pendek kata; pelit. Itulah mengapa meski dijajah Belanda selama itu, orang Indonesia tidak bisa menggunakan bahasa Belanda–hanya kalangan elit yang bisa merasakan sekolah Belanda. (cmiiw ya)

Tapi kemudian saya berpikir, wah, alhamdulillah sekali kalau begitu. Pertama, kita tidak menyisakan jejak kolonialisasi di fondasi mendasar sebuah bangsa: bahasa. Kalaupun ada hanyalah istilah-istilah serapan yang sangat wajar dan normal. Kedua, bagi saya sangat memalukan ketika kita justru menggunakan bahasa asing sebagai bahasa utama di negeri sendiri akibat kolonialisasi. Hell no! Belanda di mana, Indonesia di mana gitu. Berbeda ketika kita mempelajari bahasa itu karena kebutuhan, sebut saja bahasa Inggris. Ketiga, ini menjadikan bahasa Indonesia jauh lebih berkembang dan memiliki penutur terbanyak ke-9 di dunia. Banggalah dengan bahasa Indonesia dan biasakan pakai bahasa baku.

Tapi tentu ada kekurangannya, yaitu Indonesia terbatas dalam berbahasa asing. Belanda tidak bisa, Inggris pas-pasan. Tapi tidak perlu minder, sebab memang bahasa tersebut bukan bahasa ibu kita dan kita pun tidak menempatkan bahasa kolonial dalam urutan bahasa utama. Yang penting kita terus belajar bahasa asing untuk kepentingan yang lebih besar. Lebih besar dari sekadar ngefans sama artis K-Pop. Hehe.