orang asal

anonymous asked:

Bang mau tanya tolong jawab ya bang. Sy pacaran krng lebih 5tahunan, cowok sy udah minta nikah to sy belom selesai kuliah dan ortu sy tdk setuju dg dia, tp kami smsm sudah terlanjur syg bang, sy hrs gmn? Tlg jawab ya bang

Ada puluhan juta laki-laki lain di luar sana, tapi hanya ada sepasang orang tua yang jadi asal muasalmu. Kamu tentu bisa mencari laki-laki lain, akankah kamu mencari orang tua lain? Rida laki-laki yang belum menikahimu tak memengaruhi sedikitpun jalan hidupmu, tapi rida & murka-Nya ada pada rida & murka kedua orang tuamu. Kamu tentu bisa hidup tenteram tanpa rida laki-laki asing, akankah kamu tenteram hidup tenteram tanpa rida orang tuamu?

Ada lima tahun hubungan temporer yang dihabiskan bersama dengan laki-laki yang kamu sebut “pacar”, tapi ada puluhan tahun hubungan permanen yang tengah dan akan dihabiskan bersama dengan laki-laki & perempuan yang kamu sebut “orang tua”.

Laki-laki yang terlanjur menyayangimu itu sungguh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang tuamu yang “terlanjur” melahirkanmu, menumbuhkembangkanmu, mendidikmu, menjagamu, mengarahkanmu juga bertanggung dengan dunia & akhiratmu. Perkaranya bukan terletak pada studimu yang belum selesai karena kamu tentu bisa menikah sebelum lulus kuliah. Utamakan orang tuamu, utamakan orang tuamu, utamakan orang tuamu.

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Kufu

Ketika melirikmu pertama kali, aku berteriak dalam hati, “Seandainya aku harus memilih sendiri, aku akan pilih yang seperti ini. Bukan karena kau bak model terkenal. Atau karena kau standar semua laki-laki. Namun, karena aku merasa bisa bersamamu.”

Pendahuluan

Saya termasuk orang yang tidak terlalu kagum dengan pernikahan ‘heroik’ yang dilakukan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang ‘enggak level’. Memang ada pernikahan Bilal dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf dan ada pernikahan Zainab binti Jahsy dengan Zaid yang budak. Namun secara umum, saya tidak mengagumi pernikahan semacam itu. Saya lebih menyukai pernikahan yang setara.

Saya memang mendoakan mereka yang menikah secara heroik itu. Namun, sebisa mungkin saya menghindari proses semacam itu. Saya lebih suka pernikahan dua orang yang setara, kendati kadang saya mendapat ‘perlawanan’ yang justru datang dari calon mempelai atau dari pihak-pihak yang mencomblangi mereka. Kalau sudah begitu, saya kerap menyerah.

Kufu

Kufu berarti sama, sederajat, sepadan atau sebanding. Dalam konteks pernikahan, kufu berarti laki-laki sebanding dengan calon istrinya, pun sebaliknya. Mari kita berbincanng tentang kufu. Pembahasan ini bisa kita strukturkan dengan ini: Pertama, apa ukuran kufu? Kedua, siapa yang harus kufu? Ketiga, kapan kufu itu diukur?

(1)

Pertama, apa ukuran kufu? Akhlak atau budi pekerti semata? atau ada ukuran lain? Bagaimana dengan ukuran pendidikan, kekayaan, dan lain-lain yang populer belakangan? Yang berpendapat bahwa tidak ada ukuran lain dalam kufu selain Islam dan akhlak di antaranya adalah Imam Malik. Menurut pendapat ini, ukuran keturunan, pekerjaan dan kekayaan tidak menjadi ukuran dalam pernikahan. Laki-laki level tinggi boleh menikah dengan perempuan level apapun. Perempuan level tinggi boleh menikah dengan laki-laki level manapun.

Pendapat Imam Malik didasarkan pada hal berikut

  • Firman Allah dalam surat al-Hujurat: 13. Di dalam surat ini ditegaskan bahwa tidak ada perbedaan nilai kemanusiaan pada semua orang
  • Hadist rimayat Tirmidzi, “Rasulullah SAW. bersabda,’Jika datang kepadamu laki-laki yang agamanya dan akhlaknya kamu sukai, maka nikahkanlah ia…’.” Dengan ini terlihat perintah dan titah Rasulullah yang menunjukkan tidak adanya pertimbangan keturunan, pekerjaan, kekayaan dan lain lain
  • Adanya pernikahan seorang bekas budak dengan Hindun binti al Walid bin Uthbah yang bukan budak
  • Adanya pernikahan Bilal bin Rabah dengan saudara perempuan Abdurrahman bin Auf
  • Pendapat Ali RA,”Semua manusia kufu satu dengan lainnya, baik Arab dengan ‘ajam (non-Arab) maupun Quraisy dengan Hasyim asalkan mereka (berdua) sama-sama Islam dan beriman

Ibn Hazm berkata,”Semua orang Islam asal saja tidak berzina berhak menikah dengan perempuan Muslimah, asal tidak tergolong perempuan lacur. Dan, semua orang Islam bersaudara.”

Jika pendapat ulama Maliki seperti di atas, ulama lain justru mewajibkan adanya ukuran-ukuran lain di luar yang telah digariskan oleh Ulama Maliki. Beberapa hal lain tersebut ditulis oleh Sayyid Sabiq, yaitu keturunan, merdeka, beragama Islam, pekerjaan, kekayaan dan tidak cacat. Dengan itu, laki-laki yang punya cacat fisik yang mencolok tidak kufu dengan perempuan yang sehat dan normal.

Lalu bagaimana dengan ukuran yang muncul belakangan? Ukuran atau parameter rupanya berkembang mengikuti zaman. Substansinya mungkin memiliki kemiripan dengan ukuran di masa lalu. Namun, ukuran yang tumbuh belakangan memiliki keragaman nama. Jenjang pendidikan? Titel? Penghasilan? Bagaimana dengan ukuran yang lain-lain? Sebab, terkadang ada alasan pemerataan penghasilan, perbaikan keturunan, atau perbaikan ekonomi yang mengantarkan kita pada pernikahan yang tidak kufu.

(2)

kedua, siapa yang harus kufu? Mana yang lebih ditoleransi, pernikahan antara laki-laki yang lebih tinggi levelnya dari pasangannya atau pernikahan yang perempuannya lebih tinggi levelnya dari pasangannya? Penentu kufu adalah laki-laki. Bukan perempuan. Perlu ditegaskan, perempuan tidak dibebani syarat kufu dengan pasangannya. Laki-lakilah yang disyaratkan kufu dengan calonnya. Laki-laki lebih ditoleransi menikahi perempuan yang tidak kufu dengannya. Pernikahan antara perempuan yang levelnya lebih tinggi daripada pasangannya dikhawatirkan menimbulkan perasaan hina pada mempelai perempuan. Hal sebaliknya tidak terjadi di pernikahan yang level laki-lakinya lebih tinggi dibandingkan calon pasangannya. Maka, laki-lakilah yang dikenai ukuran kufu ini.

Seorang kawan mengingatkan sebuah nasihat yang menyebutkan bahwa salah satu pilar yang membentuk pilar istiqrar’aaily adalah pembentukan keluarga yang benar dengan memerhatikan 3 poin, yaitu prosesnya tidak melanggar syari’at, pasangan yang sepadan (sekufu) dan ridha dengan ‘pembagian’ Allah terkait dengan siapa yang menjadi jodoh kita.

Dengan tulisan ini, saya ingin menitip pesan kepada bujangan laki-laki. Para bujangan laki-laki memang boleh bercita-cita mendapat istri hebat. Ada sunnahnya untuk itu. Namun, lihat-lihat juga, ya. Cintailah mereka yang lebih mudah untuk menghargai anda. Cintailah yang lebih mudah anda tumbuhkan dan yang lebih mudah untuk tumbuh bersama dengan anda. Karena, toh, kalau mereka sudi ‘turun’ ke level anda, itu juga pahala bagi mereka. Bukan prestasi anda. Kalaupun ada, sedikit porsi anda dalam amal itu

(3)

Ketiga, kapan kufu diukur? “Semua kan masih berkembang, Pak? Yang hebat sekarang belum tentu hebat di masa depan dan sebaliknya” kata seorang teman. Benar. Memang, kufu diukur pada saat akad. Perkembangan memang masih mungkin terjadi kemudian dengan sekian variasinya. Maka, kufu sangat relevan pada saat akad. Pada saat akad itulah cut-off-nya. Bahwa akan ada perubahan berikutnya, bisa saja terjadi.

Jadi, kufu bukan alasan untuk mengebiri ‘potensi’ para istri. Bukan berarti istri tidak boleh ‘lebih’ dari sang suami. Kita tentu sangat berharap pasangan suami-istri bisa bersama-sama menyelaraskan ‘kesekufuan’ manakala mereka mempunyai kesenjangan dalam beberapa faktor ketika start sebuah keluarga dimulai. Ada banyak ladang amal yang bisa melejitkan potensi masing-masing dalam perjalanan hidup ini. Ada kisi-kisi kehidupan yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, kecuali dengan peran seorang istri sehingga ia bisa melejitkan potensinya, begitu pula sebaliknya. Pernikahan adalah proses pembelajaran bersama bagi kedua belah pihak. Jika suami memiliki kekurangan, pastinya ada kelebihan istri yang akan bisa menutupinya. Begitupun sebaliknya.

Seorang kawan menyumbangkan sebuah perumpamaan. “Ibarat sandal, enggak pas dan enggak enak dipandang dan dipakai jika hanya sandal kanan saja, atau sandal kiri saja,” katanya. Harus ada sandal kiri dan sandal kanan, dan dua-duanya harus sandal supaya enak dipakai dan bermanfaat. Sandal kiri dan kanan berbeda, pasti. Namun, justru berangkat dari ‘perbedaan’ itulah yang akan membuat hidup menjadi lebih berwarna. Saya suka perumpamaan itu. Kufu memang tidak untuk menyeragamkan sepasang suami istri karena itu tidak mungkin.

Diskusi

Tulisan ini lebih bagi yang belum berkeluarga. Bujangan–terutama laki-laki– boleh memiliki cita-cita tentang pasangan anda. Boleh. Memiliki bayangan ideal match juga tak mengapa. Namun, jangan lupakan kufu. Jadikan kufu sebagai pertimbangan karena pernikahan dengan perbedaan yang mencolok juga perlu ‘ongkos’ besar. Saya tidak memvonisnya sebagai keburukan. Toh, ada cerita sukses seputar itu. Saya hanya ingin mengungkapkan sesuatu yang kerap terlupakan ‘hanya’ karena cinta dan kesepakatan.

“Bagaimana kalau ukuran-ukurannya tidak merata, Pak?” tanya seorang kawan diskusi. Misalnya, dalam hal pendidikan sang calon mempelai pria lebih rendah, tetapi dalam hal ilmu agama lebih tinggi. Atau, variasi lainnya. Ukuran mana saja yang diprioritaskan?

Bukankah itu yang sering terjadi? Tidak ada yang mutlak unggul dan berarti tidak ada yang mutlak kalah. Maka, ukuran yang diprioritaskan adalah ukuran pemahamannya pada din, akhlak dan budi luhur. Sebab, itu modal dasarnya.

Kufu lebih kepada pengukuran kesetaraan pasangan calon pengantin. Dalam banyak fakta, banyak kasus pernikahan yang tidak sekufu, lalu sukses. Hanya saja keputusan untuk melakukan pernikahan tidak sekufu mesti disertai pemahaman yang baik tentang keputusan itu sendiri.

Kepada perempuan yang bujang–kendati ummahat (ibu-ibu) lebih kompeten tentang ini– saya ingin katakan jangan terlalu bersemangat menerima pinangan laki-laki yanng tidak sekufu. Pernikahan tidak cukup dilakukan dengan bekal semangat. Lakukan itu dengan pemahaman yang baik. Kalaupun anda terima laki-laki seperti itu, tentu anda terima juga sekaligus ‘ongkos’nya. Semoga anda sehebat Zainab, saudari Abdurrahman bin Auf, yang menerima Bilal.

Pada awalnya, Zainab binti Jahsy–dan Abdullah (saudaranya)– menolak rencana pernikahannya dengan Zaid. Sampai Allah menurunkan ayat-Nya.

“Tidak layak bagi kaum Muslimin, jika Allah telah menetapkan….”

Semuanya berlangsung dengan kewajaran. Tidak perlu ada pikiran buruk terhadap respon mereka berdua. Zaid dan Abdullah melakukan perannya dengan indah, dewasa dan bervisi. Penuh pelajaran untuk kita.

Penutup

Sudah selayaknya laki-laki menyederhanakan kriteria dan lebih mencukupkan kriteria agama dan akhlak. Sedangkan perempuan lajang, bolehlah untuk mempertimbangkan hal di luar agama dan akhlak. Kendati agama dan akhlak adalah hal pokok dalam pertimbangan.

~~~

Dikutip langsung dari Nugroho, Eko Novianto. (2013). Menjadi laki-laki. Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press

Setidaknya Untuk Diri Sendiri Dulu Saja

Sama dengan bahagia, kita tidak bisa membuat semua orang suka kita. Sama dengan kalimat tadi, kita juga tidak bisa membuat semua orang untuk tidak kecewa kepada kita. Kemampuan kita terbatas, tidak bisa semua orang kita buat bahagia serta merta dengan hadirnya kita. Tidak. Siapa kamu?

Sama halnya kekecewaan, bagaimana pun kita berbaik hati terhadap dunia hingga mengenyampingkan keperluan kita sendiri, akan selalu ada orang yang kecewa karena kita, tidak suka kepada kita. Tak apa, kita bukan sang Maha Sempurna. Kita bukan Tuhan.

Kita boleh egois atas apa-apa yang baik untuk kita. Menolak sesuatu karena kita tidak ingin melakukannya, misalnya. Jangan takut orang lain kecewa. Jangan takut dibenci. Tak mengapa mengecewakan orang lain, asal jangan mengecewakan dirimu sendiri karena menerima pekerjaan yang tidak ingin kamu kerjakan terlebih kamu selesaikan. Kamu berhak untuk egois di beberapa kondisi.

Tegaslah pada sisi lain diri sendiri – yang selalu ingin mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirimu sendiri.

Sesuatu yang lebih baik

Kamu pernah bertemu dengan seorang wanita yang begitu menjaga dirinya demi orang tuanya? Ia persembahkan hidupnya untuk kedua orang tuanya. Tidak peduli apa yang harus ia lepaskan dan apa yang membuatnya sakit, asal orang tuanya bahagia dan meridhoinya.

Di jaman yang seperti ini, aku pikir aku tidak akan pernah menemukan wanita sebaik ini. Siapa yang menyangka bahwa dibalik pakaiannya yang terlihat sama seperti kebanyakan wanita lainnya, dibalik tutur katanya yang renyah dan humoris, dibalik segala sifatnya yang serupa dengan wanita lain. Ada sesuatu yang ia simpan begitu rapi di dalam sana, tanpa ada seorangpun yang tahu, hingga pada akhirnya aku menemukannya meringkuk kesakitan tapi dengan senyum yang begitu mengembang.

Ia menangis begitu keras, memeluk dirinya sendiri, namun tak kulihat sedikitpun rasa menyesal dari dirinya. “ini pertama kali aku jatuh cinta kepada seorang lelaki, dan dia juga mencintaiku. Dan sungguh benar kata para penyair itu, saling jatuh cinta itu sungguh membuat orang bahagia. Rasanya aku ingin menari karena terlampau banyaknya bunga yang mekar dalam hatiku saat melihat perasaannya yang juga tulus kepadaku.” Ia tersenyum, lalu menghela napas begitu dalam. Dan aku masih menemaninya meringkuk di bawah kolong langit.

namun, apa gunanya aku bahagia bila Ayah dan Ibuku tidak bahagia? Mereka tidak menyukai lelaki yang baik itu, lelaki dengan segala ketaatannya pada Tuhan, hanya karena ia bukan seorang polisi atau tentara. Lucu sekali Ayah dan Ibuku ini, kenapa mereka begitu takut aku hidup melarat? Sedang rejezi itu Tuhan yang mengatur, dan kita yang berusaha.”

Aku masih mendengarkannya, mendengar isaknya yang semakin keras. Aku mengerti perasaannya, mudah saja bagiku untuk mengerti. Ini kali pertamanya ia merasakan betapa indahnya saling mencintai (tentu saja ini bukan hubungan yang biasa orang sebut dengan “pacaran”, dia bukan tipe wanita sepertiku yang begitu tidak tahu malu melanggar perintah Tuhan), dan harus terpisah bukan karena tidak saling mencintai lagi. Ibaratnya begini, kau menunggu begitu lama untuk melihat bunga yang kau rawat mekar dengan indah, namun saat ia sedang mekar begitu indahnya, bunga itu tiba-tiba harus dimusnahkan. Belum puas kau menikmatinya, kau harus kehilangannya.

Aku memberanikan diri bertanya, “kau benar-benar melepaskannya?” dia menatapku lalu tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. “tentu saja, aku melepaskannya tanpa ragu setelah aku melihat kesedihan di wajah orang tuaku. Mereka menjodohkanku dengan lelaki pilihan mereka.” Aku tersentak, dia malah tertawa.

“kau harus tahu, lelaki yang dijodohkan denganku ini sungguh tampan, dan aku melihat kebaikan yang begitu besar dalam dirinya. Kebaikan yang bahkan tidak aku temukan pada lelaki yang telah kulepaskan itu. Dan tentu saja tidak semua wanita seberuntung diriku karena dijodohkan olehnya.”

Dia kembali terdiam. Hening. Aku kembali bertanya. “lalu apa yang membuatmu menangis?”

“aku telah membohongi Ayah dan Ibuku, aku memang melepaskan lelaki itu, dan menerima lelaki pilihan mereka, namun di balik itu, aku masih berusaha keras melepaskannya dalam hatiku. Ini tidak semudah yang ada di film-film.” Aku hanya memeluknya, aku tidak mengerti harus berkata apa, sebab aku bukan orang bijak. Aku hanya memeluknya.

Setelah beberapa waktu berlalu, aku menemukannya sedang begitu bahagia bermain dengan anak-anak kecil di taman dekat kampus.

“bagaimana kabarmu?” ini semacam pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan setiap kali bertemu dengan orang lain.

“tentu saja baik, sebaik tubuhku yang semakin gemuk karena terlampau bahagia. Bagaimana denganmu?” jawabku dengan mata yang aku yakin ia mengerti maksudku.

Seketika ia tertawa dengan riang. “tentu saja aku bahagia, bagaimana tidak, Ayah dan Ibuku telah memberiku seorang lelaki yang begitu baik sehingga aku tak mampu untuk tidak mencintainya.” Kami berduapun tertawa begitu saja.

Aku belajar satu hal dari sahabatku ini. Ia melepaskan sesuatu yang begitu ia cintai, sesuatu yang begitu ia anggap baik, dengan ikhlas demi orang tuanya, dan Tuhan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik lagi. Yang dengannnya ia akan merasakan bahagia yang tak terkira.

© Syarifah Aini (2016)

anonymous asked:

Kak, Kangen kekasih orang boleh?

Boleh, asal jangan ganggu aja. :))

Kecuali, kamu memperbolehkan kalau suatu saat pacarmu dikangenin orang, terus orang itu ngusik kalian. 

Mbak, sudah banyak orang baik di dunia ini. Karena itu saya izin ke Tuhan mau jadi orang jahat, biar dunia ini tetap seimbang. Biar jadi orang yang menyebalkan asal berbahagia.
Lelah jadi orang yang menyenangkan tapi tertekan. Gitu.
—  Subjek CZ, 22th, cimengers.

Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya ‘orang tua’ yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah. ‘Orang tua’ kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.

Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita, nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.

Pengusaha baja/Pemilik PT. Artha Mas Graha Andalan.
Ketika ditanya rahasia suksesnya menjadi Pengusaha, jawabnya singkat:
“Jadikan orang tuamu Raja, maka rezeki mu seperti Raja”.

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti Raja.

Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.
Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, *“Jangan perlakukan Orang tua seperti Pembantu".

Atau orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja.

Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu adalah rezeki pembantu, karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu.

Walau suami/istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.

Menurut sebuah lembaga survey yang mengambil sampel pada 700 keluarga di Jepang, anak-anak yang sukses adalah: mereka yang memperlakukan dan melayani orang tuanya seperti seorang Kaisar.

Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan kurang perduli pada orang tuanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orang tua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-angan.

Beruntunglah bagi yang masih memiliki orang tua, masih BELUM TERLAMBAT untuk berbakti.

UANG bisa dicari, ilmu bisa di gali, tapi kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali.

==

Harga(i) Diri

Ada yang sering kita lupakan, yakni memberi harga pada diri. Sibuk membahagiakan orang lain, sampai-sampai tak ingat, diri diletakkan di bawah kaki sendiri. Terlampau bawah, bahkan tak sampai pada mata kaki. 

Setiap orang pasti memiliki harga diri. Harga kita berapa? Periksa kembali, jangan-jangan terlalu murah.

Ada yang sering tidak kita hiraukan, yakni menghargai diri sendiri. “Tidak apa asal orang lain senang, saya bisa kemudian.” Bohong. “Tak mengapa orang lain tersenyum, saya kuat menanggung sakit perih teriris sembilu.” Bohong. “Demi ia tetap bertahan di sisi, tak apa saya berjuang sendirian.” Bohong. 

Yang kita perjuangkan selalu orang lain. Diri kita kapan? Tengok diri, sejauh mana kita telah menghargainya.

Setelah ini, sebelum berusaha untuk orang lain, cek kembali apakah kita sudah berusaha untuk diri kita sendiri dulu? Sebelum mengharapkan dihargai oleh orang lain, lirik kembali apakah selama ini kita sudah menghargai diri kita sendiri? Sebelum memperjuangkan orang lain dengan mengindahkan berbagai cara walau tidak baik, apakah kita sudah memperjuangkan harga diri kita sendiri terlebih dahulu?

Jangan beri harga pada diri terlalu bawah, terlalu murah. Jangan pula melangit terlalu tinggi. Sewajarnya saja. Bagaimana caranya? Hargai diri kita sendiri, tentu dengan sebaik-baiknya kita menghargai.

other people’s opinions do not define reality
— 

ketika seseorang menilai dirimu,

yuk berkaca diri, semoga kita dijauhkan dari aktivitas menilai orang asal-asalan.apalagi ditujukan untuk judge/compare

Kehadiran Cinta

“Cinta itu bukan datang dengan mudah. bukan sekali pandang saja, terus sudah jatuh cinta. Itu nama nya cinta Syahwat. Cinta tu lahir selepas perkenalan, bila orang yang berlainan jantina itu semakin menepati ciri-ciri kehendak kita. Mesti ada perkenalan. Masing-masing ada irodah (keinginan) mereka tersendiri terhadap ciri-ciri pasangan mereka.”

“Dan, cinta itu sebenarnya menzahirkan keinginan hati, atau pilihan hati nya sendiri, dan cinta itu tak mudah untuk datang. bukan sekelip mata dah cinta. Cinta yang mudah datang akan mudah hilang dengan hilangnya syahwat itu. Semua orang asal nya sangat cinta akan diri mereka sendiri.”

“Dan, kalau perasaan ini tak dibuang, maka kebahgiaan tak akan dapat dikecap. contoh macam seorang isteri yang beleter dekat suami-nya, ‘Abang, saya kahwin dengan abang untuk bahagia, tapi hanya derita yang saya dapat.’ Sudah jelas sang isteri cintakan diri sendiri nya dahulu, baru cintakan suami nya. sebab dia mahu kesenangan, kemudahan, tak mahu sebarang kesusahan. Maka kebahgiaan tidak akan dapat dikecapi.”

“Kita kena cinta pada Allah سبحانه وتعالى dulu baru lah kita mampu wujudkan perasaan Cinta pada manusia sebab Allah lah jua pemilik cinta. Macam mana nak cinta makhluk Allah? Kalau tak cinta pada pencipta manusia itu. Bagaimana nak wujudkan cinta pada Allah itu, perlulah melalui Rasul-Nya?”

“Tujuan nikah yang hakiki adalah untuk melahirkan anak yang soleh dan solehah. Makanya, kamu kenalah solehkan diri kamu dahulu, cari dan pilih perempuan yang solehah untuk kamu. Jangan mencari kalau masih belum bersedia hendak menikah. Jangan rancang nak nikah lepas habis belajar, tapi tahun satu lagi dah mencari. itu nama nya Syahwat Hayawanaat. "Cari hanya bila sudah bersedia dan memang benar-benar ingin serius.”

“Jika ingin mendapat cinta, kita perlulah memberi. memberi dengan sepenuh hati. Selagi kita meminta, itu bukan nama nya cinta. Cinta itu apabila kita dapat menerima semua baik buruk pasangan kita. kalau kita mengharap pasangan kita berubah kepada itu, kepada ini, itu bukan Cinta.”

“Dan itu meminta untuk memuaskan hati menjadikan pasangan sama seperti ciri-ciri inginan nya, lalu menunjukkan betapa dia cintakan dirinya sendiri bukan pasangan nya itu. Jodoh itu Allah سبحانه وتعالى sudah tetapkan dan sudah termaktub, Siapa orang itu, Bila masa berlakunya, Di mana terjadinya, dan Berapa nikah nya.”

“Dan semua tak usah khuatir. Pasrah dan redha dengan pilihan Allah سبحانه وتعالى. Letakkan sepenuh pergantungan pada Allah. Sabda Rasulullah ﷺ; "Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman (iaitu) Allah dan Rasul-Nya adalah lebih dia cintai daripada selainnya (Allah dan Rasul), dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api. (Hadis Sahih Riwayat Bukhari dan Muslim).”

Daripada Sheikh Rohimuddin Nawawi Al-Banteni.

(Raudhatul Muhibbin)

The Way I Lose Her: Pamer Kebodohan Part 1

Kita bertemu lalu kita tertawa bahagia. Kita berpisah lalu kau memikirkannya dan aku memikirkanmu. Dalam sepimu, sejatinya tak pernah ada aku.  

                                                          ===

.

Nilai ulangan Fisika benar-benar menghajar mental para anak-anak cowok di kelas. Beberapa dari mereka ada yang jadi lemas ketika pelajaran lain sudah di mulai. Beberapa ada yang memutuskan untuk mabuk-mabukkan dengan cara pergi ke kantin dan memesan 3 liter susu murni buat ditegak sendirian. Beberapa ada yang galau sampai-sampai makan Mie Lidi yang pedasnya minta ampun itu.

Gue masih lemas di pinggir meja sambil iseng gambar terong-terongan di tembok. Ikhsan di sebelah gue fokus main ayam-ayaman pake tangan sama Bobby. Bobby sih enak, nggak perlu merasakan penderitaan kita, kadang gue iri sama Bobby, udah anak orang kaya, pinter pula. Huft

“Kalian jadi ke rumah Ipeh besok?” Tanya Bobby yang masih menggeliatkan jempolnya untuk menghindari jempol Ikhsan.

“Jadi kalau gue.” Jawab gue malas-malasan.

“Kalau elu nyet?” Tanya Bobby kepada Ikhsan yang masih serius sampai-sampai lidahnya keluar.

“Kayaknya gue kaga ah.” Jawab Ikhsan.

“Lha kenapa?!” Gue kaget.

“Jauh ah rumah si Ipeh, takut kehujanan pas gue ke sana.” Jawabnya enteng.

“Aelah emang lo lahir dari Tip-X pake acara takut hujan segala?!” Gue keplak kepalanya pake kertas ulangan Fisika.

“Bareng gue aja kalau mau, searah ini kan rumah lo sama rumah gue, San.” Tukas Bobby.

“Nah elo naik mobil kan, Bob? Mantap, jemput gue yak.” Rayu Ikhsan.

“Bensinin tapi.” kata Bobby lagi.

“Huft.. Kayaknya besok gue nggak jadi dateng deh Dim.”

“…”

“Hahahaha bercanda gue, San. Pelit amat lo jadi orang.” Tukas Bobby.

Siang itu semua berlalu seperti biasa, mungkin karena semasa kelas satu SMA itu anak-anak cowok lagi senang-senangnya main dan ngecengin cewek, makanya hampir dari seluruh anak-anak cowok di kelas gue begok dalam hal pelajaran. Bedanya, kalau gue begoknya di bagian itungan doang, kalau bagian hapalan kaya Biology, Sejarah, Geografi, Ekonomi, gue masih lancar jaya. Tak ayal Ikhsan sendiri sering nyontek sama gue ketika ulangan pada mata pelajaran tersebut.

.

                                                          ===

.

Keesokan harinya kita semua sudah setuju akan belajar bareng di rumah Ipeh sehabis pulang sekolah. Ikhsan izin pulang dulu untuk ganti baju dan menunggu dijemput Bobby. Nurhadi izin latihan basket sebentar. Sedangkan gue karena paling pengangguran, akhirnya gue terpaksa membonceng si nenek lampir di jok belakang.

Seperti biasa, selama perjalanan menuju rumahnya ini, Ipeh tidak bisa diam sama sekali. Setiap ada doger monyet pasti dikomentarin. Ada tukang getuk lagi mejeng di depan sekolah SD, gue disuruh berhenti dulu, terus helm gue ditoyor-toyor agar gue turun dan membelikan getuk itu untuk Ipeh. Belum lagi gue harus mampir ke Carefour sebentar untuk menemani Ipeh membeli makanan tambahan untuk anak-anak. Entah kenapa walaupun rumahnya bakal dijadikan tempat singgah oleh anak-anak, Ipeh malah merasa senang.

Sesampainya di rumah Ipeh, gue mendapati ada kak Ai lagi duduk di teras. Dengan sigap gue langsung turun dan cium tangan, terus cium yang lainnya. Bercanda, gue cuma salim doang. Sedangkan Mba Afi kayaknya belum pulang dari kampus.

“Nggak kuliah kak?” Tanya gue penasaran.

“Ih Kepo ya kamu. Ifa!! Liat nih pacar kamu ganjen sama kakak!” Mendadak kak Ai memanggil Ipeh yang sedang mencopot sepatunya agak jauh dari tempat gue ngobrol sama kak Ai.

Mendengar hal itu, Ipeh langsung mendatangi dan menjewer telinga gue.

“Hayo! Masih aja genit! Udah tau di rumah gue, masih aja godain kakak gue.”

“LHAAA SIAPA YANG GODAIN!! ASTAGFIRULLAH!! PITNAH!!” Gue berkelak bak Shinichi Kudo.

“Bohong, Dek. Bohong.” Tambah Kak Ai lagi.

“Dasar otak mesum, sini lo mending bantuin gue bikin makanan untuk anak-anak.” Ipeh menarik kuping gue keras sambil berjalan menuju dapur.

‘bangke, kakak sama adik sama-sama ngeselinnya!’ gue ngedumel sendirian di dalam hati. Nyesel rasanya gue udah nyapa kakak Mak Lampir itu. Tabiat sama Bodynya beda banget. Tabiatnya jelek, bodynya sexy. Tuhan nggak adil! Hih..

Dengan perasaan yang begitu berat, mau tidak mau akhirnya gue terpaksa harus membantu Ipeh masak-masakan di dapur. Ipeh memasak makanan banyak sekali, dasar orang kaya, makanan buat 5 orang aja dia buat kaya lagi ada pesta. Saat itu gue cuma jadi penonton aja di dapur sambil beberapa kali masih sering dibuat tertegun oleh isi kulkas Ipeh. Lagi dan lagi.

Ipeh bagian memasak, gue bagian ngicipin makanannya. Tak ayal setiap gue sembunyi-sembunyi nyomotin Kangkung Cha yang dia buat, gue kena tabok pake talenan kayu. 

“Dim, ambilin garem di toples.” Kata Ipeh.

Sambil malas-malasan gue pergi ke tempat kumpulan toples dan memberikan satu buah toples kepada Ipeh. Ipeh mengambil toples itu, lalu melihat sebentar.

Plak!
Gue dipukul pakai talenan sekali lagi.

“APAAN SIH PEH?! GUE SALAH APA LAGI?!” Gue protes.

“Ini Mecin, bukan Garem. Bisa bedain kaga sih?”

“…”

Saat itu gue emang nggak bisa bedain mana garam mana mecin, warnanya sama sih. Pokoknya ntah kenapa apapun yang gue lakukan kalau di situ ada Ipeh, pasti gue terlihat begok.

Lagi asik-asiknya Ipeh memasak, terdengar ada suara klakson mobil dari luar. Ah pasti itu Bobby sama Ikhsan. Tanpa pikir panjang gue langsung pergi ke luar untuk membuka pagar.

“Lama amat lo kaya orang umroh aja.” Tukas gue kesal.

“Noh salahin pacar lo, dia minta gue bawa Djimbe sama Gitar.” Ucap Bobby menunjuk ke arah Ikhsan di kursi belakang.

“Woi kita mau belajar woi! Bukan mau main musik!” Kata gue lagi.

“Sensi amat ah lo nyet, kenapa? lagi berantem sama Ipeh ya?” Tanya Ikhsan.

“…”

Sialan! Ikhsan memang paling mengerti gue. Daripada kalah dalam pembicaraan, lebih baik gue diem saja dan mempersilakan mobil Bobby untuk masuk. Setelah selesai parkir, Bobby gue kenalkan terlebih dahulu kepada kak Ai yang masih setia nongkrong sambil dengerin musik pake earphone di pekarangan.

Dan selanjutnya gue kenalkan juga Ikhsan kepada kak Ai. Sudah bisa gue duga, Ikhsan terlihat norak banget waktu mau kenalan sama bidadari cantik. Berulang kali Ikhsan gugup dan berjalan di belakang gue. Ikhsan yang tadi jalannya tegap, sekarang jalannya agak menunduk, mungkin lagi menyembunyikan salah satu bagian tubuhnya yang bergerak sendiri di balik celana.

Maklum, kak Ai yang baru lulus SMA ini pakaiannya memang juara banget. Celana hotpans yang benar-benar pendek, sama kaos oblong + lekbong alias kelek bolong. Tak ayal Bra warna hitamnya sering terlihat, dan entah kenapa kak Ai terlihat biasa saja mengenakan pakaian seperti itu walau di hadapannya ada cowok-cowok seperti gue, Ikhsan, dan Bobby ini. Gue sih sudah biasa melihat hal ini jadinya tidak seheboh Ikhsan, Bobby pun terlihat biasa saja, mungkin Bobby homo. 

Setelah kenalan, Ikhsan menarik gue agar cepat pergi dari sana, tampaknya Ikhsan tidak ingin terlalu berlama-lama bersama kak Ai. Sambil berbisik, 

“Gue nggak bawa celana ganti nih. Bahaya” 

Bhahahahak emang anjing nih anak, otaknya selalu mesum. Karena Ipeh masih sibuk di dapur, gue pun mempersilakan mereka duduk di ruang tamu. Ekspresi Ikhsan ketika pertama kali masuk ke rumah Ipeh sama seperti ekspresi gue waktu pertama kali datang ke sini, bawaanya pengen ngambil salah satu perabotannya terus dibawa pulang. Sedangkan Bobby yang sama kaya-nya kaya Ipeh cuma duduk santai sambil mainan gitar.

Tinggal satu orang lagi yang belum datang, si Gorila. Dia janji antara jam 5an baru bisa datang sehabis latihan basket. Yasudah, berarti selama dari jam 3 sampai jam 5 kita bisa acara bebas dulu. Hampir 30 menit berlalu, akhirnya Ipeh datang membawakan makanan yang super duper kumplit lengkap dengan satu bakul nasi. Kita dipersilakan untuk makan siang dulu.

Bobby, Ikhsan, dan gue langsung tanpa malu-malu rebutan centong nasi biar nggak kehabisan, sedangkan Ipeh cuma memakan Salad saja. Siang itu kita banyak tertawa bersama, keakraban kita berempat mulai makin kental. Ipeh yang pada dasarnya memang supel ini bisa kita terima dengan sangat-sangat terbuka. Entah kenapa hingga sekarang kita semua belum pernah bisa menganggap Ipeh itu cewek kalau lagi kumpul bersama kaya begini.

“Lo naik apa ke sini, San?” Tanya Ipeh yang melihat Ikhsan cuma memakai celana pendek dan kaos biasa.

“Naik mobil dong, sorry, gue alergi sinar matahari.” Jawabnya enteng sambil terus mengunyah Kangkung Cha.

“Lagak lo alergi sinar matahari, lo lagi imlek?” Celetuk Bobby.

“Tau tuh, pengennya nebeng naik mobil Bobby.” Tambah gue.

“Dih manja amat lo.” Ucap Ipeh ikut-ikutan.

“Helaaaaw, hei kalian para haters, please deh nggak usah ngejudge gue. Gue kan anak gaul.” Sanggah Ikhsan.

“Alah anak gaul apaan?! Pas adzan maghrib belum mandi aja diomelin emak.” Ledek gue.

Kita kembali tertawa bersama. Tak perlu waktu lama agar makanan yang Ipeh hidangkan itu habis. Kita sampai lupa kalau seharusnya kita menyisakan jatah untuk Nurhadi. Ah yasudahlah, nanti gue suruh Ipeh suguhin rumput-rumputan aja buat Nurhadi. Hmm, apa ya itu nama makanannya? Ah iya, salad.

Sebagai tamu yang baik, kita bertiga membantu Ipeh untuk membereskan piring-piring dan sisa makanan yang berhamburan. Bobby kebagian nyuci piring, gue kebagian beresin ruang tamu, Ipeh bagian beresin dapur, Ikhsan bagian ngintipin kak Ai lewat jendela, sebelum pada akhirnya gue tabok kepalanya pake nampan.

Sembari menunggu Nurhadi, setelah selesai beres-beres akhirnya kita semua duduk dan mengeluarkan buku pelajaran. Ya, cuma dikeluarkan, nggak dikerjakan. Contoh masa SMA yang menyenangkan ya gitu, alasannya aja kerja kelompok, ujung-ujungnya malah ketawa-ketiwi ngomongin orang. Obrolan kita saat itu benar-benar berantakan, dari ngomongin sekolah, aksesoris, liburan, asal muasal orang tua Bobby, asal muasal orang tua Ipeh, kenapa kak Ai bisa semok gitu (ini Ikhsan yang nanya), ngomongin Bola, ngomongin karate, ngomongin kejadian di GOR, dan ngomongin Film.

Suasana saat itu sedang hangat-hangatnya, hingga suatu ketika Ipeh berbicara sebuah perkataan yang membuat gue, Ikhsan, dan Bobby mendadak hening. Semua percakapan itu diawali ketika Ikhsan berbicara tentang sebuah film yang lagi booming.

“Anjir Bro udah nonton Spiderman yang baru belum?” Tanya Ikhsan.

“Spiderman yang musuhnya si Venom itu bukan?” Gue menjawab.

“Iya anjir, thrillernya gokil abis. Bayangin aja, Venom itu kan musuh terkuat Spiderman di komiknya juga. Nah sekarang doi muncul di Spiderman 3. Pasti rame deh.” Ikhsan makin antusias.

“Bukan musuh terkuat kali, musuh terkuat mah si Carnage.” Bobby membalas.

“Iya, Carnage nyet musuh terkuat mah. Venom itu mirip anti-hero doang, mirip kaya peran Sasuke di Naruto. Peran utama, tapi yang jadi jahatnya gitu.” Gue menjelaskan juga.

“Ah begitu ya, btw lo lo pada masih inget kagak dulu waktu di game Spiderman PS-1 pas kebagian ngelawan Venom?” Tanya Ikhsan lagi.

“ANJIR GUE INGET BANGET!!” Gue dan Bobby serempak menjawab hal yang sama.

“Apalagi waktu lawan Doctor Octopus bro yang di labirin itu. Gue dulu main aja sampai teriak-teriak. Bhahahahak.” Kata gue.

Lagi asik-asiknya ngomongin Spiderman, mendadak Ipeh nyeletuk.

“Spiderman? Film yang actornya Toby McGuire itu bukan?” Tanya Ipeh.

“Iya, Peh!” Jawab Bobby mantap.

“Apa ramenya sih film itu? Satu kali nonton juga udah cukup buat gue.” Ucap Ipeh polos.

DEG!
Kita terdiam tak percaya. Buat gue, Ikhsan, dan Bobby, Film Spiderman itu bisa diibaratkan kaya film AADC bagi para cewek-cewek SMA pada tahun 2002. Nggak suka film itu sama aja kaya bakal dikucilkan oleh teman-teman satu sekolahan. Bahkan mungkin bakal dikucilkan juga sama guru-guru.

Mendengar hal itu, kita bertiga terdiam, kita tertegun merasa tak percaya. Saking terkejutnya, mata Ikhsan kini berair, Bobby pun menutup mulutnya karena tak percaya, sedangkan gue geleng-geleng keheranan mendengar ucapan Ipeh.

“Ta.. tapi Peh, i.. itu Spiderman Peh..” Gue berusaha menjelaskan.

“Apaan, aneh, terus siapa itu pamannya yang mati?” Tanya Ipeh

“Uncle.. Uncle Ben?” Jawab gue.

“Iya, itu. Apaan sih, meninggalnya nggak rame banget. Drama banget. Pffft maksud gue tuh, masa ada pencuri yang dateng dia malah nggak pergi aja, malah diam di dalam mobil. Drama banget sih filmnya.” Balas Ipeh enteng.

DEG!
Kita semakit terdiam mendengar kalimat yang baru saja Ipeh ucapkan. Ikhsan yang sangat-sangat terkejut langsung menangis di pundak gue. Bobby langsung kalap, sekarang dia memegangi kedua kepalanya yang lagi geleng-geleng saking tidak percayanya. Dan gue menepuk-nepuk punggung Ikhsan yang kini sedang menangis di pundak gue. 

“HOW DARE YOU SAY THAT!! TARIK KEMBALI UCAPANMU NAK!!” Gue berkata penuh amarah.

“Dim.. Spiderman itu.. Spiderman itu film superhero terbaik sepanjang masa kan Dim..” Ikhsan bertanya sambil menangis.

“Iya, San. Iya. Kamu benar, Nak. Dia yang salah. Wanita penyihir itu yang salah. Sabar nak, hidup memang tidak mudah.” Gue menepuk-nepuk punggung Ikhsan dengan suara yang parau juga.

“Dim gue marah banget sekarang, please tahan gue, please tahan gue, Dim.” Bobby mulai kalap.

“Sabar Bob, Sabar. Kita tidak boleh gegabah.” Gue menyanggah.

“Ih lebay deh kalian, itu kan cuma Film tentang orang digigit laba-laba doang. Film payah.” Kata Ipeh.

“AAAAAAAAAAAAAAAKKKK” Ikhsan makin menjerit di pundak gue.

“Dasar kumpulan cowok aneh. Dah ah gue mau mandi dulu.” Kata Ipeh sambil berlalu pergi meninggalkan kita bertiga.

“Dasar Nenek Sihir!! Tidak punya hati!!” Ledek gue.

.

                                                      ===

.

Keadaan kini sudah lebih baik. Sudah lebih dari 10 menit Ipeh meninggalkan kita bertiga. 

“Terus lo inget waktu Uncle Ben meninggal nggak? Coba aja saat itu Peter Parker tidak egois dan tidak membiarkan pencuri itu lari di depan dia ya.” Gue bercerita dengan suara yang parau.

“Dim.. please.. bisakah kita membicarakan hal yang lain?” Kata Ikhsan sembari menyeka air mata.

“Cukup Dim, Cukup.” Balas Bobby.

“Oke oke, maafin gue. Gue cuma kebawa perasaan aja. Maafin aku yah teman-teman.” Ucap gue seraya menutup percakapan ini dengan berpelukan mesra bertiga.

Jam sudah menunjukkan pukul empat. Ipeh yang baru selesai mandi itu menyuruh kita untuk pindah tempat aja di teras lantai dua. Soalnya nggak enak kalau belajar di ruang tamu, nggak bebas. Takut ganggu bokap sama nyokapnya Ipeh yang sebentar lagi mau pulang dari kantor.

Kita pun dengan sigap membereskan semua buku pelajaran yang ada di meja ruang tamu lalu bergegas pergi ke atas. Sedangkan Ikhsan membawa peralatan musiknya. 

“Ngapain lo bawa-bawa begituan?” Tanya gue.

“Kan dulu kita mau buat Band Kelas, mumpung ada Bobby juga, sekalian aja kita latihan sambil isi waktu daripada bosen belajar.” Jawab Ikhsan.

“Weh tumben otak lo jalan.”

“Hehe. Pinter ya gue. Nggak kayak lo.”

“…”

Sesampainya di teras atas, Bobby mulai mengeluarkan lagi buku-buku pelajaran yang akan kita pelajari. Sedangkan gue dan Ikhsan malah asik mempersiapkan panggung kecil-kecilan untuk latihan Band. Ikhsan sedang menyetem gitar, dan gue lagi mencoba Jimbe kepunyaan Bobby.

“Bob, latihan nyok.” Ajak gue kepada Bobby.

“Boleh deh, sini gue yang Jimbe, elo nyanyi aja.” Jawab Bobby.

“Lagu apa nih?” Tanya Ikhsan.

“Gimana kalau Hymne Sekolah?” Jawab gue.

“….”

“Jason Mraz aja, lo kan demen tuh sama itu. Kebetulan kemarin gue juga iseng liat jammingnya Jason Mraz di youtube. Bagus juga ya.” Kata Bobby.

“Oke deh. Lagu yang judulnya I’m Yours bisa kan?.”

“Sip.”

Akhirnya kita iseng latihan sebentar sembari menunggu Ipeh selesai mengganti pakaian. Untuk orang yang baru pertama kali latihan bersama, latihan hari ini tidaklah buruk. Beberapa kali ada nada salah di Ikhsan, beberapa kali juga Bobby lupa tempo. Tapi nggak papa namanya juga latihan.

Sedang asik-asiknya latihan, mendadak Ipeh muncul dari dalam sambil membawa minuman. Kita yang masih asik latihan tampak tidak mempedulikannya hingga satu lagu ini selesai. Ipeh yang sedari tadi mendengarkannya hanya tepuk tangan sambil tersenyum ketika kita beres menyanyikan satu lagu.

“Waaah bagus loh kalian latihannya.” Ucap Ipeh.

“Hahaha yoi dong.” Kata Ikhsan bangga.

“Eh eh aku ikutan dong jadi anggota Band Kelas kalian.” Kata Ipeh mendadak ikut nimbrung.

“…” Kita bertiga terdiam.

“Emang lo bisa main alat musik apa?” Tanya Bobby.

“Hmm.. nggak bisa main alat musik.” Jawab Ipeh polos.

“….”

“Tapi aku bisa nyanyi kok. Suara aku bagus! Aku jadi Backing Vocal aja gimana?”

“Alah, so-so-an pake acara Backing Vokal. Backing Soda lu mah cocoknya.” Ejek Ikhsan sebelum sesaat kemudian ada satu botol aqua kosong melayang ke kepalanya.

“Yaudah, yaudah, sini coba lo nyanyi dulu. Kalau bagus boleh deh ikut Band kita.” Kata gue.

“Oke, lagu Jason Mraz yang I’m Yours kan? aku ada liriknya di Handphone.” Kata Ipeh.

“Boleh deh, gih san, iringin tuh si Ipeh.”

“Pffft gue penasaran suara lo kalau nyanyi bakal sejelek apa, Peh.” Jawab Ikhsan menyindir

Ipeh diam sebentar sambil membuka catatan di Handphonenya.

“Oke sip udah ketemu. Kalian siap?” Tanya Ipeh.

“Sip.” Jawab Bobby.

“Mainkan.” Jawab Ikhsan

.

.

.

.

                                                           Bersambung

Previous Story: Here

next part pukul 10.00 pm ya.

Jalan ini masih panjang dan terjal, namun puncaknya terlihat jelas, dan pahalanya sudahlah tetap, jalan ini ialah jalan dakwah, berliku jalannya, banyak halangannya, tapi Allah memuji orang-orang yang berada diatasnya

Jalan ini tak perlukan orang yang hebat tapi orang yang mau taat, jalan ini menerima orang yang salah asal mau terus menerus memperbaiki diri, jalan ini memuliakan dan menyucikan siapapun yang istiqamah tetap didalamnya

Jalan ini mempersaudarakan yang berbeda suku, ras, golongan, juga beda negara, senyuman, keramahan, akhlak dan adab jadi bahasa universalnya, lalu mampu mengutamakan yang lain karena ingin diutamakan Allah

Jaan ini penuh dengan ketawadhuan, sikap merendah hati bukan rendah diri, berusaha menyenangkan saudara seiman sebab tahu bahwa Allah akan menyenangkannya dengan cara itu, jalan kasih sayang dan cinta sesama

Jalan ini penuh ujian dan kadang ada pujian, tapi kesemuanya menjadi samar dan tak begitu penting bila sudah Allah yang menjadi tujuan, jalan ini memang penuh pengorbanan, tapi akan terasa nikmat, manis karena ia jadi ibadah

Mengapa engkau tak mengiringiku di jalan ini? Agar karunia di jalan ini bisa kita bagi dua? ☺️☺️☺️

Sejarah Islam 2
  • Ikhwan : Pak, saya kesini bermaksud untuk khitbah putri Bapak.
  • Bapak : Baiklah nak, kau benar-benar suka sama putri saya?
  • Ikhwan : Iya pak.
  • Bapak : Minggu depan kau datang lagi. Kau bawa laptop. Kau presentasi. Bagaimana caranya kau mendidik anak saya dan cucu-cucu saya nanti.
  • Ikhwan : Kok gitu pak?
  • Bapak : Lho ya harus. Sekarang perusahaan terima karyawan ga sembarang orang lho. Keilmuannya jelas. Pengalamannya jelas. Kan gitu? Masak saya terima menantu yang nanti hasilnya yaitu cucu-cucu saya, yang merupakan unsur terpenting didalam peradaban Islam ini, yaitu manusia. Masak asal terima?
  • Ikhwan : .....
  • Bapak : Saya bukan tipe orang tua yang sok bijak kepada anak saya hanya dengan berkata "sudahlah, Bapak sama Ibu ini yang penting kamu cinta, kami setuju". Bukan nak.
  • Ikhwan : ....
  • Bapak : Apalagi kalau ada seorang anak perempuan yang bersikeras harus milih laki-laki ini itu. Dan dia tidak dididik dengan baik oleh orang tuanya. Dia tidak tau sebenar-benarnya cara mencari pasangan yang pas didalam Islam itu seperti apa. Tiba-tiba modalnya hanya cinta. Dan orang tuanya mengatakan "Asal kamu cinta, nak.."
  • Ikhwan : ...
  • Bapak : Nanti kalau perempuan itu nikah, dia dan suaminya tidak tahu. Suami ngapain? Istri seharusnya gimana? Bagaimana suami? Bagaimana istri? Bagaimana penerapan Rosul.. iya kan?
  • Ikhwan : Iya pak. Hehe.
  • Bapak : Makanya seharusnya kita belajar, nak. Bagaimana menjadi ayah? Bagaimana menjadi istri? Bagaimana menjadi ibu? Bagaimana menjadi kakek dan nenek? Padahal itu langsung ada pada kitab suci kita lho, Al-Qur'anul Kariim lengkap panduannya. Nah, aplikasi seutuhnya. Penerapan senyata-nyatanya, ada pada diri Rosulullah SAW. Maka dari itu, pelajarilah Sirah Nabawiyah secara utuh. Pelajarilah sejarah-sejarah Islam. Lalu terapkan. Paham nak?
  • Ikhwan : Paham pak.
Sederhana Saja

Sederhana saja, tidak perlu membanggakan diri begitu di hadapanku. Mulutmu memang manis, penampilanmu juga, tetapi hatimu? Sayangnya, aku tidak tahu. Terus terang, bukan begitu caramu menarik perhatianku.

Sederhana saja, cukup kupahami cara berpikirmu. Materi berhasil menjadi mata uang kebahagiaan dalam hidupmu. Dan cukup, dengan itu aku pun memahami, bagaimana nantinya arah kemudi yang akan kau jalani jika kita hidup bersama. Semoga engkau mendapat sosok yang jauh lebih baik dariku, dengan syarat: ubahlah cara pandangmu. Aku pergi.

***

Sederhana saja, yang kuinginkan hanya sedikit dari waktumu. Bukan makanan serba enak, mainan serba canggih, dan halaman rumah yang lapang untuk bermain. Namun semuanya semu, sebab aku terus menikmatinya sendiri.

Sederhana saja, yang kuharapkan hanya lenganmu. Bukan baju-baju bagus yang setiap hari kukenakan, bukan pula kasur empuk yang setiap malam kutiduri. Namun semuanya tidak berarti, jika aku terus kedinginan meski engkau ada. Bolehkah kupinjam lenganmu sebentar, Yah? Peluklah aku.

Sederhana saja, apa yang tampak dekat, memang begitulah seharusnya dekat. Kita punya rumah, tapi apalah artinya jika tanpa penghuni. Kita punya tempat berteduh, tapi apalah artinya jika di luar sana lebih menarik hatimu. Bolehkah kupinjam tanganmu sebentar, Bu? Eluslah kepalaku.

***

Sederhana saja, tidak perlu bersusah payah membangunkan rumah istana. Melihatmu masih mau kembali ke rumah masa kecilmu saja itu lebih dari cukup. Bukankah dulu engkau sangat menikmati tinggal disitu? Bagaimana sekarang? Bolehkah kupinjam hatimu sebentar, Nak? Adakah engkau rindu Ibu peluk?

Sederhana saja, tidak perlu repot-repot terbang jauh ke negeri orang untuk membuatku tersenyum. Asal engkau kembali dengan selamat, dan lebaran besok kita bisa berjumpa lagi, bahkan itu lebih dari cukup. Bolehkah kupinjam paspormu sebentar, Nak? Adakah rumah Ibu menjadi destinasimu?

***

Sederhana saja, tidak perlu muluk-muluk. Sebab apa yang kita miliki, tidak pernah benar-benar menjadi milik kita. Nantinya akan banyak yang melebur, berpindah tangan, bahkan tidak lagi bernilai. Sederhanalah.

Sederhana saja, tidak perlu menonjolkan diri. Sebab asap hitam itu hanya membumbung tinggi di langit, kemudian hilang, tidak berbekas. Adakah yang peduli dengan asap yang hampir-hampir kabur diterbangkan angin? Sederhanalah.

Sederhana saja, meski sampai pada paragraf ini, entah mengapa definisi sederhana menjadi begitu pelik.

Halo, KITA !

GRUP KITA RULES :  (HARAP DIBACA DENGAN SEKSAMA)

-No kickers (haram hukum nya)
-No sider (silent reader) grup dibuat untuk berinteraksi bukan untuk diem2an = kick
-Wajib mengikuti writing project minimal sebulan 2-4x
-No baper (jangan ada rasa diantara kita)
-ga boleh asal invite orang (harus lewat ADMIN)
-ga boleh buka link grup
-ga boleh membahas SARA
-ga boleh membahas yang menyinggung
-ga boleh berjualan di dalam grup

NOTED : GRUP DI BUAT UNTUK SALING BERKENALAN, BELAJAR BEKERJA SAMA, BELAJAR TOLERANSI… JADI DIHARAPKAN SEBELUM MEMASUKI GRUP HARAP MEMBACA DENGAN SEKSAMA RULES DAN ATURAN MAIN NYA…

CARA GABUNG :

-like dan reblog postingan ini di tumblr kamu
*Kalau sesuai dengan persyaratan di atas boleh kasih cc ke @curhatmamat @tumbloggerkita
Kasih hastag #Kitasumatera jangan lupa

Id line : abangmamat (ADMIN SEMENTARA SUMATERA) di add dulu

Cantumkan id tumblr/blogspot/wordpress (salah satu aja) bila tidak punya akun blog dimana pun, bisa cantumkan id sosmed kalian yang aktif

Nanti langsung dimasukan ke grup..

Terbatas hanya untuk 50 orang saja…
Dan khusus wilayah ( SUMATERA )

WILAYAH CAKUPAN : DI.ACEH, SUMUT, SUMSEL, SUMBAR, KEPRI… MASUK SEMUA…

Pastikan memahami rules di atas yah…


Salam

BANG MAMAT