opefb

Laccase paling bagus..

ceritanya, sejak sekitar 4,5 bulan yang lalu saya melanglang buana mencari kebenaran sejati perilaku salah satu makhluk ciptaan Tuhan, yaitu Jamur Pelapuk Putih atau nama kerennya white rot fungi. Dibilang 4,5 bulan saja, sebenarnya ngga juga sih, soalnya sudah sedari november tahun lalu, saya sudah mulai mencemplungkan diri, tapi secara resmi, saya mengobok-obok jamurnya langsung ya baru mulai pertengahan bulan januari 2011.

Jamur pelapuk putih yang saya pakai adalah spesies Pleorotus, yang saya juga belum tahu nama komplitnya apa, karena memang belum di identifikasi. Menurut cerita beberapa jurnal, jamur ini menghasilkan tiga macam enzim yang penting untuk mendegradasi komplek lignin di dalam material yang mengandung lignin. Dikatakan juga, bahwa lignin itu adalah komponen paling susah untuk dipecah. Makanya dari jaman simbah Hatakka (1980-an) sampe jamannya Gassara (era 2000-an), dipelajarin dengan sungguh2 gimana caranya biar lignin bisa dipecah.

Kenapa lignin perlu dipecah?

Uraiannya adalah material yang mengandung lignin (lignocellulosic material) dipercaya sebagai salah satu material yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, sebut saja biogas atau bioethanol. Jumlahnya yang melimpah, karena biasanya merupakan limbah industri atau sekedar bahan yang belum termanfaatkan, membuat lignocellulosic material memiliki kesan yang sangat menjanjikan sebagai bahan pembuatan biogas atau bioethanol. Mari ambil satu contoh, misal bioethanol, untuk mendapatkan ethanol prosesnya adalah dengan menghidrolisis polisakarida pada bahan menjadi gula sederhana (dalam hal ini adalah selulosa dan hemiselulosa menjadi monosakarida alias gula sederhana), kemudian diikuti dengan fermentasi gula sederhana tersebut menjadi cairan, yang katanya dimasa depan bisa menjawab permasalahan krisis energi, yaitu ethanol. Mudah ya ternyata.. =)

Eits.. tidak semudah itu loo..

Lignocellulosic material disusun dari 3 komponen besar yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin. Sebelum bisa dilakukan hidrolisis gula kompleks menjadi gula sederhana, kita punya tugas yang cukup berat untuk melepaskan selulosa dan hemiselulosa dari jeratan lignin. Karena, kalau lignin masih disana, dia akan menghalangi enzim-enzim pelaksana hidrolisis, yaitu enzim selulase untuk memecah selulosa dan enzim hemiselulase untuk memecah hemiselulosa.. Jadilah hal pertama yang harus dilakukan adalah mengahncurkan si Lignin terlebih dahulu. Kabar buruknya adalah, itu bukan hal yang mudah. Dan itulah yang harus saya lakukan.

Wow, jadi apakah saya melakukan hal yang super rumit dan hebat?

ah tidak juga..

Karena saya dibantu oleh si White rot fungi yang baik. Selama sekitar satu bulan saya perbanyak dia supaya dia punya banyak teman, saya beri asupan nutrisi yang cukup dan saya jaga kehangatannya supaya dia tumbuh dengan sehat dan kuat. Kemudian, saya tanam dia ke lignocellulosic material (dalam hal ini adalah limbah industri kelapa sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit, dengan nama gaulnya Oil Palm Empty Fruit Bunch, OPEFB). Harapannya adalah nanti si WRF (white rot fungi) akan menghasilkan banyak enzim spesial yang bisa mendegradasi si Lignin.

Yup.. salah satu kehebatan WRF adalah dia mampu menghasilkan enzim yang bisa mendegradasi si Lignin. Perlu diketahui loo, tidak semua jamur mampu menghasilkan enzim spesial itu, itulah kenapa dia menjadi jamur yang terpilih *lebay  =)

Enzim yang hebat itu antara lain adalah Lignin peroksidase, mangan peroksidase, dan laccase. Ketiganya menjadi tumpuan saya, saya gantungkan kuliah S1 saya pada ketiganya, karena itu saya berharap mereka berkembang dan bekerja dengan baik..

Setelah saya bergaul dengan jamurnya selama kurangt lebih 1,5 bulan. Bergaul dengan OPEFB selama 1bulan. Saya akhirnya bergaul dengan tiga enzim selama 1bulan terakhir bersama dengan nenek spektrofotometri berusia sekitar 60tahun. Setiap hari saya menyapa mereka supaya saya dapat mengetahui aktivitas mereka selama ini sebagai data penelitian saya. Setiap hari selama satu bulan, setiap hari 3jam per hari, 3 hari dalam seminggu.

Terimakasih enzim dan nenek spektro.

Sekarang saya punya data. Sebut saja begitu..

hmm..saya kurang senang sebenarnya dengan datanya, karena perilaku ketiga enzim agak sedikit buruk. Salah satu diantaranya malah bisa dibilang malas. Oke, kita ungkap saja karena saya ingin bersikap transparan..

Laccase, dia memiliki aktivitas baik. bahkan sangat baik. karena grafiknya punya trend yang bisa dibaca. Mangan peroksidase, awalnya dia malas keluar, tetapi akhirnya dia keluar juga beberapa minggu terakhir, sayangnya, dia naik turun dan tidak konsisten. yang paling parah adalah Lignin peroksidase, dia paling malas dan paling susah ditemui.. ahh.. sampai saya ulang berkali-kali, dia tetap aja negatif. huuft.. apa boleh buat.. si lignin peroxidase ini malu-malu kucing, kadang keluar kadang engga.. tapi ya udahlah, saya sudah tidak bisa berbuat banyak. Yang penting saya selesaikan apa yang sudah saya mulai. 

hmm *iya, saya sedang berusaha menyelesaikan apa yang sudah saya mulai memang.hihi..

wanna say thanks to Laccase (okelah mangan peroxidase juga, sekalian lignin peroxidase) yang memberikan grafik yang baik.. baik2 ya nak,, ibu akan membahasmu dengan penuh kasih sayang. ungkap semua rahasiamu kepada Ibu yang telah merawatmu selama ini.. hihi