oohh!

Brothers be like..
  • Sasuke//walks downstairs//:"Yes I am ready to go."
  • Itachi//shakes head//:"No..No those shorts are way too short. Go change into something else."
  • Shisui//mutters//:"They seem fine to me."
  • Sasuke:"Hmm yeah these shorts are indeed a little short. Neh niisan, did you know the designer of these shorts got their inspiration form your dick size?"
  • Shisui//chuckles//:"Oohh snap!"
  • Itachi//glaring//:"Change. Now."

anonymous asked:

oohh you're posting halloween stuff now, god bless

Halloween is my favorite, you’ll start seeing a ton more! We have a bunch of recipes lined up also.

itskimik  asked:

Oohh yay requests are open c: Can i request a scenario with Kuroo where it's his so's birthday and he surprises them by going to a cat cafe and his so pets every cat and lays down so that all the cats come to her bc she LOVES cats lol Thank youuu, you're awesome!! :3

you sure can! :D -admin kou


Kuroo took birthdays seriously, if someone meant something to him, he would do a lot of them on their special day. Something he learned about you immediately, you loved cats. 

“Tetsu-kun, where are we going?” you asked following your boyfriend
“You’ll find out soon.” he simply said
Slouching, you just continued to follow him. You were in an area you weren’t familiar with so you really didn’t have a clue where he was taking you. Grabbing his hand, you interlocked your fingers with his. He looked down at you and kissed your forehead.
“You’re 19 today.” he said smiling
“Yeah, one more year and I would have been alive for 2 decades.” you chuckled.

You guys stopped in front of a cafe and instantly your heart burst. Seeing kittens rub themselves on the window and people petting the small furry animals, you didn’t believe it.

“Are we at?” you started saying.
“Yes, ma'am. Cat cafe. Care to go in?” he asked
“Y-yes?!” you exclaimed dragging your boyfriend in.

He had reserved a private room in the cafe for your birthday that would have 20 cats in it. Walking inside of it the waitress asked for you order.
“Plain black, and a white chocolate mocha please.” Kuroo ordered for both of you since you were too distracted with the cats.

He sat down and crossed his legs sneakily taking his phone out because you had sat on the ground to pet the felines. Taking photos of you, he started to record because you began to lay on the ground so the cats could hover around you and brush their bodies on you.
“Eeeeek! They’re all so cute! Best gift ever!” you yelped out hugging one cat who was nuzzling its face into you.

“Thank you so much, Tetsu!” you cooed out to him crawling over to him to give him an eskimo kiss.

“Mhm, anything for you, kitten.” he said not able to help the cheek-hurting grin on his face.

Bulan ini saya dapet 5 undangan nikah. Dari sahabat dekat sejak SMA. Dari teman semasa KPL dulu. Dari kakak tingkat seprodi. Dari mbak kost semasa kuliah. Dan terakhir dari teman SMA yang memang terhitung baru akrab belakangan ini.
.
.
Dan ketika akan menghadiri pernikahan sang sahabat siang ini, saya bertanya pada sahabat saya yang lain (yang setahun lalu menikah di tanggal yang sama)
.
.
“Kenapa kok banyak banget yang nikah bulan ini ya?”
“Ya karena bulan ini bulan yang baik untuk menikah. Aku dulu juga gitu.”
“Oohh.. ”. Sok paham.
.
.
Setiap kali dapat undangan nikah. Setiap kali dateng di acara nikahan, mau tidak mau pasti terlintas pertanyaan “Aku kapan?”. Meskipun beberapa waktu terakhir sekuat tenaga cuma dipendam dalam hati.
.
.
Beberapa waktu lalu sudah sempat curhat ke seorang sahabat baik tentang rasa galau yang diam-diam menelusup halus tersebut. Yang berujung pada terbitnya kalimat sejuk nan menenangkan sekaligus bikin semangat.
“Jangan sampai pernikahan seorang teman malah bikin galau. Seharusnya justru bikin kita makin merengek sama Allah.”
Lalu kata sahabat yang lain.
“Tirakat mbak. minta bener-bener sama Allah. Seharusnya kita justru khawatir disaat kita belum minta, disaat kita belum deketin Allah. Eh kok malah tiba-tiba ada orang yang mau deketin. Patut diwaspadai.”
Sepakat.
.
.
Setiap kali doa-doa pengharapan diselipkan seusai sholat (ini bukan berarti ngebet banget yah. Saya pernah baca-atau dengar, lupa- dari Ustadz Salim A. Fillah tentang makna dari ‘terburu-buru menikah’. Kurang lebih kata beliau, apabila ada seseorang yang menikah pada umur 20 tahun tetapi persiapannya sudah sejak ia berumur 15 tahun maka tidak bisa dibilang terburu-buru menikah. Akan tetapi seseorang yang yang menikah pada umur 30 tahun tapi proses persiapan lahir batinnya ketika umur 29,5 tahun misalnya itulah sejatinya yang disebut terburu-buru menikah. Jadi intinya saya berdoa dari sekarang pun bukan berarti saya minta minggu depan jodoh saya langsung ada kan? Hehe agak membela diri sih. Intinya saya pengen mulai menyelipkan doa tentang jodoh saja. Entah kapan Allah mengabulkan, yang pasti Dia Maha Tahu kapan waktu terbaik itu datang) beberapa waktu kemudian ada kalimat semacam.
“Dek, ada yang nanyain kamu. Minta nomer hp katanya. Boleh dikasihkan?”
Padahal saya nggak kenal sama sekali. Saya yakin orangnya pun belum tahu orang seperti apa saya ini.
Atau..
“Dek, boleh minta pin atau nomor hp barangkali.”
Yang akhirnya saya tanggapi dengan sangattt amat berat hati. Nah loh bingung kan sama sikap saya?
.
.
Akhirnya timbullah perdebatan-perdebatan dalam hati.
“Ayo kasih aja. Katanya mau cepet nikah.”
“Kamu beneran mau nikah nggak sih? Dideketin kok nggak mau?”
Yang paling jleb ketika terlintas tanya
“Niat kamu pengen nikah itu sebenernya apa? Bukan karena temenmu udah pada nikah kan? Bukan karena kamu pengen pasang foto mesra di galeri instagrammu kan? Bukan karena kamu pengen check in di path with someone kan? Kalau niatmu masih sebatas itu mending mundur dulu dah.”
Atau komentar orang-orang di luar sana yang sangat tidak enak didengar.
“Cari pasangan nggak usah terlalu pemilih.”
Jleb.
Baiklah.
Terus saya kudu gimana?
Ngasih nomor hp, pin bbm, nomor wa, bahkan hati saya sama semua orang yang datang?
Itung-itung penjajakan barangkali salah satu diantara semua orang yang datang, adalah orang yang saya tunggu selama ini? Aduh. Hati kecil saya susah nerima. Gimana dong?
Nggak papa kan, kalau saya milih untuk tetap husnudzon sama Allah?
Saya mohon untuk dijaga. Saya minta untuk dilewatkan jalan yang penuh keberkahan.
Sedangkan bagi saya, jalan 'pendekatan’ melalui nomer wa, pin bbm, atau media sosial apapun dan tanpa 'pengawasan’ seorangpun. Adalah bukan cara yang saya inginkan.
Masa’ sih Allah ngasih jodohnya lewat jalan yang bikin hati hambaNya nggak sreg bin nggak tenang?
Saya kolot? Mungkin.
Saya kaku? Sepertinya iya.
Saya pemilih? Bisa jadi. Tapi bukannya memilih pendamping hidup itu memang perlu pertimbangan matang-matang?
Cerita beberapa kawan baik tentang kehidupan 'cinta lawan jenis’ mereka, sedikit banyak saya akui memang berpengaruh bagi saya. Tentang hubungan TTM (Teman Tapi Mesra), HTS (Hubungan Tanpa Status), PHP (Pemberi Harapan Palsu), dan sejenisnya. Dengan cerita dan pengalaman mereka yang telah saya dengar. Mau tidak mau 'benteng’ yang mulai saya bangun semenjak duduk di bangku SMA, terbangun semakin kuat. Susah tertembus.
Hehe, entahlah.
.
.
Saya masih memilih untuk bertahan dengan kayakinan saya. Mencoba menutup mata menutup telinga dengan apapun ucapan orang-orang di luar sana.
Terkecuali nasihat-nasihat para sahabat baik yang tidak mudah menghakimi apa yang saya pilih. Mereka yang mampu mengarahkan. Memberi masukan dan pencerahan. Jika yang saya lakukan memang perlu diluruskan.
.
.
Dan saya masih yakin. Suatu saat ada seseorang yang bertanya dengan redaksi yang berbeda dari yang disampaikan orang-orang sebelumnya. Dengan niat dan tujuan yang berbeda dari sebelumnya. Dan pada saat itu saya akan (dengan senang hati) menjawab “Baiklah, saya bersedia”. Karena yang saya tunggu sejak lama telah tiba. (Ini bukan tentang melamar. Karena membayangkannya sudah bikin ngeri. Bagaimana bisa orang yang sama sekali belum kamu kenal tiba-tiba menyampaikan sebuah pinangan? Yah sebenarnya nggak papa sih. Tapi tetap saja ngeri. Hehe)
.
.
Tulisan ini dibuat bukan dalam rangka untuk mengkode siapapun. Tidak ada niatan sama sekali agar dibaca seseorang tertentu. Bukan juga dalam rangka untuk menggurui. Sok benar. Sok lurus. Sok alim. Atau apapun. Tapi tentang pilihan. Tentang kemantapan hati seseorang. Bahwa kita tidak boleh menghakimi apa yang orang lain jalani. Bahwa selalu ada alasan dan berbagai pertimbangan ketika seseorang memilih untuk melakukan sesuatu.
Uhm. Bukan juga karena saya galau kebelet nikah ya.
Sebenarnya saya juga menghindari menulis sesuatu berbau seperti ini. Tapi ya mumpung lagi ada uneg-uneg yang mau dibrojolkan.
Yah seperti itulah pokoknya.
Semoga bermanfaat ~

  • dan:one finger up the butt and the other one-
  • arin:HAVE YOU TRIED THAT?! IT'S AWESOME!
  • dan:it's incredible... [laughs] i have not tried that
  • arin:what? really..?
  • dan:yeah. i don't- i-
  • arin:oh, neither have i
  • dan:uhh- ugHGH... [laughing] i don't-
  • arin:i-i've never wanted to either. it doesn't- it gets gross, right?
  • dan:i don't know! [laughing] i've never tried!
  • arin:well it's- i mean conceptually it's gr- i- i mean- i would be embarrassed if i ever did that and... said it on a live sh-
  • dan:[loud laughing]
me singing ready to run
  • *beat drops*:THIS TIME I’M READY TO RUN
  • *backgroud sings*:Oohh Ohh
  • *sings hard*:ESCAPE FROM THE CITY AND FOLLOW THE SUN CUZ I WANNA BE YOURS
  • *guitar air*:[truntruntrun]
  • *sings again*:DON'T YOU WANNA BE MINE?
  • *guitar air*:[truntruntrun]
  • *sings harder*:I DON'T WANNA GET LOST IN THE DARK OF THE NIGHT
4

“I feel like I’m able to go about my life normally except for the odd occasion when someone recognises you. It’s obviously strange when it happens but the other side of it is that’s nobody’s coming up and throwing an egg in your face, people are always very nice! It’s part and parcel with what being in the public eye is. When I just did theatre I’d go there, do my job and go home but as soon as I did some TV work the next theatre job was completely different!“ (x)