on mipa

anonymous asked:

What do you think about the formulations for Glossiers new body hero stuff?

idk why yall still bother with them but anyways:

Body Hero Daily Oil Wash Ingredients

Glycine Soja (Soybean) Oil, Laureth-3, MIPA-Laureth Sulfate, Laureth-7 Citrate, Parfum/Fragrance, Vitis Vinifera (Grape) Seed Oil, Cocos Nucifera (Coconut) Oil, Helianthus Annuus (Sunflower) Seed Oil, Carthamus Tinctorius (Safflower) Seed Oil, Limnanthes Alba (Meadowfoam) Seed Oil, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, Sesamum Indicum (Sesame) Seed Oil, Tocopherol, Hydrogenated Palm Glycerides Citrate, Citronellol, Geraniol, Limonene, Linalool

It literally contains only the cheapest oils available and soybean oil is the main ingredient in every baby oil also. This is literally a baby oil wash formula but expensive and in minimalistic packaging. Das Sad. also all those other oils are together max 3% of the whole ting if fragrance is that high up. They probably did that to just put the names up on their “amazing ingredients that this contains uwu” list on their site.

Body Hero Daily Perfecting Cream Ingredients

Aqua/Water/Eau, Dimethicone, Neopentyl Glycol Diheptanoate, Isononyl Isononanoate, Cetearyl Alcohol, Butylene Glycol, Propanediol, Glycerin, Olea Europaea (Olive) Fruit Oil, PEG-40 Hydrogenated Castor Oil, Butyrospermum Parkii (Shea) Butter, Hydrogenated Olive Oil, Olea Europaea (Olive) Oil Unsaponifiables, Mica, Evodia Rutaecarpa Fruit Extract, Tamarindus Indica Fruit Extract, Alaria Esculenta Extract, Cereus Grandiflorus (Cactus) Flower

this is like… terrible. dimethicone is just a silicone so its just an occlusive it will work the same as vaseline and wont moisturise at all. and the moisturising ingredients after that are the cheapest shit available alsp notable that Isononyl Isononanoate is extremely pore clogging. And again the cheapest pore clogging oils available.

All in all these are worse than the regular ass drugstore formulas for $3 and thats not even hyperbole thats just the truth. Like if youre rich and stupid i get that you will want to spend money on pretty packaged baby oil and jergens lotion.

#TheCoffeeTalks: Ngobrolin Pasca Kampus Bareng Alumni

Semua berawal dari Podcast Subjective Ep. 2.

Waktu itu, saya menceritakan keresahan saya tentang galaunya mahasiswa yang seringkali bingung menentukan mau ke mana setelah lulus. Kegalauan ini ternyata universal, karena mendapatkan sangat banyak respon. Bukan hanya dari mereka yang masih kuliah, tapi juga dari mereka yang sudah lama lulus dan pernah merasakan hal yang sama.

Salah satunya, dari teman-teman saya semasa kuliah di FMIPA UI. @yuzamulia, @barrysianturi, @ahmmujahid, @rihlahfarhati, dkk. yang setelah mendengarkan ocehan saya, ngajak nongkrong bareng dan kami ngobrol banyak tentang kegalauan yang kami rasakan juga. Mereka ini teman-teman aktivis yang sehabis obrolan langsung follow up dengan pertanyaan, kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk membuat perubahan?

Kami mulai dengan ide sederhana: berbagi cerita. Kami bukan alumni bertitel sukses, lulus aja baru 2-4 tahun. Kami cuma ingin berbagi pengalaman, dan kami tidak memberi jawaban. Kami justru memancing pertanyaan.

Dari mulai cerita tentang kebingungan setelah lulus, sulitnya cari pekerjaan yang pas, hingga gimana caranya survive saat salah jurusan. Semua diceritakan dengan santai dan (sok) ala-ala TEDx.

Dan 22 Mei 2016, hadirlah #TheCoffeeTalks. Acara casual dimana kami beneran menyediakan minuman biar bisa ngobrol santai sambil ngopi.

It was a fun event. Dan sejak awal, saya sudah usahakan agar semua sesi direkam dalam bentuk video untuk juga bisa dishare via Youtube dan Soundcloud. And here we go, kumpulan video obrolan kami di #TheCoffeeTalks kemarin. 


Ngobrolin Passion

@barrysianturi ini dulu salah satu idola dedek gemesh di kampus MIPA: you know, that kind of guy yang ganteng, pintar, dan jago main musik. Sempat kerja di Mediatrack sebagai data scientist, alumni matematika ini sekarang lanjut kuliah di Imperial College London.

Di video ini, Barry ngobrolin tentang passion, kompetensi, dan kontribusi.


Lanjut Kerja, Bisnis, atau S2?

Sesi ini adalah sesi lebih lanjut dari obrolan saya di Podcast Subjective episode 2. Saya bercerita lebih banyak tentang perjalanan saya selama kuliah: kenapa saya masuk jurusan biologi, pengalaman saya menghadapi salah jurusan, dan bagaimana saya menghadapi kegalauan memilih jalan setelah lulus.

Saya juga melanjutkan obrolan dengan tiga teman yang mewakili tiga keputusan yang berbeda: Marsya (@jungleblog) yang melanjutkan S2 ke University of Queensland, Rizal (@idjalmen) yang lanjut kerja di sebuah perusahaan swasta, dan Nisa (@nsavidya) yang bikin bisnis sendiri.


Cerita Tentang Salah Jurusan

Ghoida (@ghoidarahmah) merupakan alumni Geografi yang melanjutkan karir sebagai jurnalis di Tempo. Di sesi ini, Ghoida cerita tentang perjalanannya melalui kuliah Geografi dan gimana dia mendapatkan pekerjaannya yang berbeda dari jurusannya.


Susahnya Cari Kerja Yang Pas - Immanuel Rustijono

Sama seperti Barry, Immanuel (@rustijono) juga termasuk kategori idola dedek lucu di jaman kuliah dulu. Jago bermusik, aktif di BEM, dan vokal bersuara. Nuel bercerita tentang pengalamannya yang kesulitan mencari pekerjaan yang pas. Dalam dua tahun terakhir, Nuel sudah berpindah-pindah tempat kerja beberapa kali, dan dia berbagi hal yang dia pelajari di sesi ini.


21st Century Skills

Yuza Mulia, alumni Matematika asal Aceh yang super aktif semasa kuliah. Karir aktivisnya menanjak terus dari tingkat jurusan, BEM Fakultas, sampai BEM UI. Di tahun-tahun terakhir, Yuza juga aktif sebagai YOT Campus Ambassador.

Menutup #TheCoffeeTalks, @yuzamulia​ bercerita tentang 21st Century Skills; skill-skill penting yang harus dimiliki mahasiswa yang akan segera lulus untuk bisa menghadapi dunia yang sebenarnya.


Itu tadi video dokumentasi sesi sharing di #TheCoffeeTalks. Ada satu video tambahan dari @abdulbasir_id (Founder rumahsinau.org) tentang bikin startup. Versi audio dari tiap sesi juga bisa didengarkan di https://soundcloud.com/thecoffeetalk.

Meskipun inisiatif ini datang dari alumni MIPA, tapi saya jamin cerita yang disajikan universal dan bisa relate dengan mahasiswa dari jurusan apapun.

Semoga sharing yang kami lakukan bisa membantu teman-teman di manapun untuk menentukan jalan hidup setelah lulus kuliah.

Salam kopi! 

Hamil?

Aku beri kalian gambaran tentang “keluar dari zona nyaman”


Sebenernya ini bukan pengalamanku sih, tapi pengamatanku. Wkwk. Jadi sebenernya ini lebih ke memotivasi diri sendiri -_-


Ada orang kembar. Satunya jebolan olim mtk dah dapet perunggu, terus pindah jd olim kimia dapet medali perak. Sebut aja namanya Roi. Satunya jebolan olim mtk tapi belum pernah dapet medali nasional. Sebut dia Rou.


Roi. Jam terbang mengajar kimianya udah tinggi banget. Bayarannya per jam. Temen2nya pada bilang, “teknik kimia aja, sesuai sama passionmu pasti”. Tapi orangtuanya mengarahkan dia untuk masuk kedokteran. Agak nggak nyambung emang. Tapi Allah memberikan kesempatan untuk dia belajar di kedokteran. Hasilnya? Ya banyak remed. Stres? Iya. Ngrasa salah jurusan? Pasti. Tapi ternyata dia nggak kehilangan passionnya sebagai anak olim kimia. Bahkan, mewakili kedokteran pun dia bisa mendapat emas di ajang olim kimia nasional, dan menjadi ketua di salah satu organisasi olimpiade mipa, yg anggotanya kebanyakan anak mipa 😂

Sekarang lagi berusaha biar jadi asisten biokimia katanya. Mohon doanya yaa.


Rou. Jago banget kalo ngajarin matematika sama fisika. Dia ini pengen bgt masuk teknik. Orangtuanya juga mengarahkan dia masuk kedokteran. Tapi dia kekeh pengen teknik. Walaupun pada akhirnya, Allah memberi kesempatan dia belajar di kedokteran. Hasilnya nggak beda sama kembarannya, banyak remed. Tapi dia lebih stres, lebih ngrasa salah jurusan. Bahkan ada niatan untuk pindah jurusan.

Dibalik semua remednya, dia tetep nge-les-in mtk, dan fisika. Bahkan menjadi ketua di yogyakarta mengajar. Tetep ngga bisa lepas dari passion dia.

Lama kelamaan, dia enjoy juga kok. Bahkan skrng udah jadi asisten histo :)


Bisa jadi, kalo mereka ditempatkan di teknik, mereka ngga punya nilai “lebih” dibanding yg lain. Toh anak teknik yg lain pasti juga jago mtk, kimia, fisika. Tapi, ketika mereka di tempatkan di tempat yg jauh dari passionnya, ternyata tetep bisa mengikuti kok, tanpa mengganggu passion mereka.


Btw, itu adekku. Adeknya bisa sehebat itu, kok kakaknya masih gini-gini aja?


Soalnya dulu pas ibuku hamil si kembar, pas lagi sekolah S2. Jadi emang sejak di dalem perut udah dibiasain belajar. Jadi ya gitu.


Udah bisa ambil kesimpulan kan? Jadi kalo hamil….


Eh bukan.


Jadi, keluar zona nyaman bukan berarti mengubah passion. Tapi bagaimana mengemas passion dalam tekanan yg berbeda.


Eaa.


Oh satu lagi. Biar agak nyambung sama judulnya. Kalo mau hamil, harus banyak minum asam folat sejak sebelum hamil. Biar anaknya pinter 😎

Kedokteran: Asal Senang dan Sehat

Menjadi mahasiswa kedokteran menyadarkan saya akan banyak hal. Melalui tulisan ini, saya ingin adik-adik memahami benar bahwa pilihan apapun yang kita buat dalam hidup merupakan hal yang harus diperjuangkan dan dipertanggungjawabkan. Mungkin sekali waktu kita akan membuat pilihan yang salah, tapi tak jadi masalah selama kita terus berjalan memperbaikinya. Dengan demikian kita akan belajar banyak dari apa yang direncanakan Tuhan.

Berawal dari masa SMA, seperti kebanyakan anak-kutu-buku mainstream lainnya, saya mulai dihadapkan pada beberapa pilihan oleh orang tua. Belum genap sehari-dua saya menginjakkan kaki di bangku kelas sepuluh ketika itu, mama papa sudah membicarakan ini dalam rapat keluarga. Haha. Meski suasananya akrab dan penuh nostalgia masa muda mereka, jelas bahwa semua perbincangan ini sarat akan makna: “Ayo kamu pilih jurusan yang ‘benar’… | “Benar ini bagaimanakah, Pa, Ma?”  Sederet contoh mereka paparkan. Uniknya mereka tidak merekomendasikan profesi mereka sendiri, katanya tidak usah meniru-niru, tanyakan pada hati, yang penting kamu senang dan sehat. How blessed I am :”)

SEHAT!

Dari SD saya memang penggila pelajaran IPA. Hal ini karena ibu guru privat matematika saya, curi-curi mengajarkan ilmu hidup ini pada anak murid bandelnya yang baru kelas tiga. Belum genap kelas tiga saya sudah hafal rantai biokimia fotosintesis, belum genap kelas lima saya sudah dipinjami ibu ini mikroskop yang bikin saya jatuh cinta. Sepanjang sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas pun saya habiskan untuk ikutan lomba-lomba MIPA khususnya biologi. Ketika ditanya alasannya, si cupu dan lugu ini menjawab, “Kita kan makhluk hidup, jadi kenapa engga kita belajar tentang makhluk hidup juga? Kita harus senang belajar tentang diri kita.” Narsistik kah?

Pertimbangan begitu dalam selama kelas sepuluh dan sebelas membawa saya kepada sebuah jurusan—FK sajalah, tak apa. Saya tidak mengalami pergolakan batin seperti yang lainnya. Tidak pula lama bertanya-tanya ketika akan menentukannya dan alhamdulillah diterima di kampus yang saya puja.

Pendidikan di FK rata-rata ditempuh dalam waktu 5 sampai 5,5 tahun. Universitas saya mengambil kebijakan 5 tahun pendidikan. Masa pendidikan yang panjang ini dibagi menjadi dua fase;

1). Preklinik—Rugi kalau enggak senang-senang… :D

Pada fase ini, kita akan dihadapkan pada ilmu biomedik yang dibutuhkan ketika nanti menghadapi dunia klinik. Ilmu biomedik ini dikemas dalam bentuk modul yang rata-rata berdurasi enam minggu. Mulai dari yang benar-benar “ini emang buat apa sih?” seperti sel dan genetika, biomolekuler, dan riset, sampai yang “gila ini susah banget, kayak buat dokter spesialis aja nih ilmunya” seperti hemato dan onkologi. Adapula yang dari “ini seru banget luar biasa!” kayak reproduksi dan kardiologi, hingga yang ini ga penting, please, malas banget belajarnya” seperti ilmu kedokteran berbasis bukti dan ilmu kedokteran komunitas.

Metode belajarnya terdiri atas kuliah, keterampilan klinik dasar, praktikum, dan diskusi. Di universitas saya, satu modulnya bervariasi 15-35 kuliah yang dikebut tiap harinya. Memang terkadang bosan dan kantuk melanda. Tak ayal buku coretan pun menjadi tempat kabur saya. Habis buku catatan saya gambari doodle macam-macam. Tapi tak jarang pula, hadir pendidik yang luar biasa. Ya, pendidik, bukan pengajar biasa, yang begitu ia membuka suara, kamu merasa belajar banyak dan terinspirasi karenanya, membuat kamu yakin bahwa kuliahnya amat berharga, sampai-sampai tak ada yang rela ke toilet untuk meninggalkannya.

Keterampilan klinik dasar ini yang paling saya suka. Pada metode ini kita akan diajarkan berbagai keterampilan klinik yang akan sangat berguna ketika kita menjadi dokter muda atau bahkan ketika kelak menjadi dokter “sungguhan”. Mulai dari yang simpel seperti anamnesis, pemeriksaan fisik dari kepala, tangan, kaki, hingga dada, sampai yang keren dan terlihat umpama dokter sungguhan seperti basic surgical suture, persalinan kala dua dan tiga, hingga memasang bidai pada ekstremitas yang terluka. Ah, ini seru sekali, sungguh.

Praktikum dan diskusi seperti biasa. Praktikum biasanya dilakukan di laboratorium dan banyak jumlahnya. Biokimia yang penuh rumus dan warna-warna. Histologi yang terus-terusan menggambar dan mereka-reka. Biologi yang menyenangkan seperti biasanya. Dan fisiologi/faal yang menyeramkan dan penuh beban, haha. Diskusi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama untuk menentukan inti permasalahan dari pemicu yang diberikan. Sesi kedua memaparkan tinjauan pustaka yang telah masing-masing direnungkan. Sekali-dua dalam seminggu dilaksanakan pleno untuk menjelaskan ke seluruh angkatan mengenai hasil perbincangan.

Di akhir masa preklinik, kita akan diberi hak untuk menggunakan baju kebanggan, Sneli! Ini sangaaat menyenangkan. Pada hari yudisium, kita dilantik dan diminta mengucapkan sumpah. Sumpah ini benar-benar mengharukan sampai pada bagian “berjanji menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain….” Here we come, young doctors :)

Oiya tentang senang-senang, menurutku rugi kalau selama masa ini kamu tidak senang-senang. Meski diisi oleh begitu banyak tugas dan pikiran, menurutku masa ini adalah waktu yang paling tepat buat cari banyak pengalaman dan pelajaran. Hindari pemikiran mentang-mentang anak kedokteran, tak bisa ikut organisasi atau kegiatan bermanfaat. Ayo ikutan! Cari minat kamu, temukan passion dan manfaatkan waktu karena nanti kalau sudah memasuki masa klinik, untuk meluangkan waktu makan saja harus benar-benar diperjuangkan.

2) Klinik—Harus sehat dan menyehatkan

Ini seru pakai banget. Klinik di universitas saya dibagi menjadi dua fase yakni fase rotasi kecil selama 1 tahun dan fase rotasi besar selama 1 tahun pula. Selama rotasi kecil ada 11 stase yang akan kamu jalani bersama kurang lebih 20-25 orang teman-teman kesayangan. Selama rotasi besar kalau tidak salah ada 5-6 stase besar yang akan kamu jalani bersama 50-60 orang teman-teman kebanggaan. Saya masih rotasi kecil jadi mungkin tidak dapat bercerita banyak mengenai rotasi besar, tapi mari kita coba.

Rotasi kecil yang berlangsung masing-masing selama tiga minggu ini terdiri atas dermatovenerologi/kulit dan kelamin, ophtalmologi/ilmu kesehatan mata, telinga hidung tenggorok, anestesi, instalasi gawat darurat, kardiologi/jantung, pulmonologi/paru, ilmu forensik, ilmu kesehatan jiwa/psikiatri, neurologi/syaraf, geriatri/ilmu kesehatan lansia *tidak ditulis sesuai urutan*. Metode belajar yang digunakan lebih bervariasi dibandingkan masa preklinik antara lain kuliah, tutorial, kerja poliklinik, kerja bangsal, presentasi kasus, dan the most awesome experience… jaga malam! Begitu pula dengan ujian, kalau dulu preklinik hanya ujian tulis atau praktikum, kali ini di minggu terakhir setiap stase kecil kami akan dilanda ujian mulai dari ujian tulis, ujian praktikum (sesekali), ujian portofolio, OSCE, hingga ujian kasus.

Beda paling signifikan antara preklinik dan klinik adalah pasien. Ketika klinik, alih-alih buku bahan bacaan, kamu akan diminta berinteraksi banyak dengan pasien sebagai pelajaran. Meski harus berhadapan dengan pasien anak yang riweuh, tapi menggemaskan atau pasien lansia yang cerita panjang ,tapi sulit mendengarkan, pengalaman bersama pasien akan benar-benar, amat sangat, menjadi pelajaran besar. Saya senang diberi kesempatan untuk berperan dalam kehidupan orang lain, kecil maupun besar. Dan ketika menjadi dokter muda, saya yakin inilah jalannya.

Rotasi besar terdiri atas ilmu kesehatan anak/pediatri, ilmu penyakit dalam, obstetri dan ginekologi, ilmu bedah, dan ilmu kesehatan komunitas. Kadang ada juga modul elektif yang jumlahnya bermacam rupa bahkan bisa kamu ambil di luar negri sana. Mulai dari IPD yang penuh tekanan tiap harinya, anak yang pengujinya penuh ekspektasi, obstetri ginekologi yang jaga malamnya alamak dahsyat terus terjaga, hingga bedah yang katanya gabut aja dokternya galak tak terkira.

Sigap, jangan berleha. Fokus, jangan terlena. Kamu sebagai dokter muda memang harus menyehatkan mereka. Nyawa mereka sedikit banyak bisa diselamatkan dengan ada perananmu di dalamnya. Satu pula yang tak boleh lupa, kamu harus menyehatkan diri. Klinik benar-benar menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Tak jarang beberapa teman saya mengalami guncangan jiwa hingga harus dibantu obat psikotropika untuk menghadapinya. Saya bahkan pernah makan bakwan di kamar mandi pada sela-sela jam kerja poliklinik karena saya belum makan apa-apa dari kemarin siangnya dan tak ingin dilihat pasien makan tak sehat sejenisnya. Yuk jadi dokter sehat dan menyehatkan :)

Pada akhirnya, kamu harus menjalani semua pilihan dengan perjuangan dan pertanggungjawaban. Di awal masa pendidikan, saya dan beberapa teman kerap berpikir mungkin ada yang salah dengan pilihan. Akan tetapi, setelah diperjuangkan selama empat tahun belakangan, begitu indah dan benar rencana Tuhan.

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa menjadi dokter tak sedemikian populer dan menyenangkan. Dengan berbagai tuduhan serta gaji yang tak sebanyak profesi sekawan, dokter dituntut tetap profesional bahkan bekerja di pelosokan. Tak mau? Dianggap tak manusiawi. Tak bisa? Nanti diadukan ke pengadilan. Tapi nanti kamu sendiri yang rasakan, semua perjuangan dan pertanggungjawaban akan berbuah manis pelajaran.

Menjadi dokter benar-benar menyadarkan saya banyak hal.

(*)

Tiara Kemala Sari | @tiaraksari

Kedokteran, Universitas Indonesia

tiarakemalasari@gmail.com