oh tidak

Bagaimana Rasanya Meninggalkanku?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sama
Berulang-ulang muncul di kepala

.
.
.

Bagaimana rasanya meninggalkanku?
Bagaimana rasanya hidup tanpa ada lagi aku?
Bagaimana rasanya meniatkan diri untuk mencari yang baru demi menggantikan aku?
Bagaimana? Bahagiakah?

Aku menuliskan ini bukan minta dikasihani
Oh. Tenang saja.
Aku tidak semenyedihkan itu
Namun aku tahu
Berpura-pura tak merasa terluka
Adalah lebih pelik dari luka itu sendiri

Maka inilah
Kutuliskan sesuatu yang tidak seberapa

. . .

Aku tak tahu bagaimana malam-malammu
Apakah sesuram malam-malamku?
Karena bila ya, oh tak bisa kubayangkan bagaimana pagimu

Aku tak tahu bagaimana mimpi-mimpimu
Apakah seburuk mimpi-mimpiku?
Karena bila ya, oh kasihan sekali kamu
Cukuplah aku saja yang terbangun sambil meratapi diri sendiri
Karena pernah setakut ini kehilanganmu

Aku tak tahu bagaimana selera makanmu
Apakah semenyedihkan selera makanku?
Karena bila ya, tak terbayang berapa kilogram berat badan yang hilang dari raga

Aku pun tak tahu bagaimana caramu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang-orang terdekatmu, perihal aku
Apakah sama sulitnya seperti aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tentangmu?
Karena bila ya, dadamu pasti sering bergemuruh karena khawatir tiba-tiba

Banyak hal yang memang tidak pasti kutahu
Namun satu hal aku pasti tahu

: Mencintaiku, kau tak pernah bersungguh-sungguh.

Medan, 16 Maret 2016

- Tia Setiawati

Andaipun Tidak...

Oh Allah, 

Engkau Maha Tahu atas apa yang kuimpikan, atas apa yang kuinginkan, dan begitu kudambakan. Engkau menjadi saksi ketika aku merenung dan mulai merajut asa. Engkau pula yang menjadi saksi niatanku dan segenap usahaku untuk mencapai apa yang kumau. Dengan mengucap NamaMu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kumulai perjuanganku. 

Oh Allah, 

Pada perjalanannya, Engkau telah menyaksikan pula bagaimana usahaku. Betapa payah perjalananku, karena harus kumulai dengan meyakinkan diriku sendiri. Betapa tidak mudah langkah selanjutnya, tentang bagaimana aku membangun pola pikir, melawan kebiasaan buruk dan membuka pergaulan positif yang lebih luas. Kadang kuakui aku begitu malas, hanya diam dan berharap, lalu kadang merasa kalah bahkan sebelum bertanding. Hanya dengan ilham dariMu, aku bergerak lagi, aku memilih untuk bangkit lagi. 

Oh Allah, 

Telah kusiapkan rencanaku, mimpiku telah kutuliskan dengan sepenuh perasaan. Apa yang akan kulakukan esok menjelang hingga tahun-tahun mendatang telah pula kusiapkan. Akan kukejar segala kesempatan, akan kulakukan syarat apapun untuk mencapai impian. Tak kurang pula dukungan orang tua dan keluarga tersayang telah kudapatkan, tak lagi ada halangan dan rintangan berarti, sepertinya. Hingga nanti kulewati itu semua dan selanjutnya tinggal berharap padaMu, sepenuh-penuhnya. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau kabulkan keinginanku, maka Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untukku. Tolong gantikan yang lebih baik bagiku, atau sadarkanlah aku bahwa ternyata bahwa ada jalan lain yang harus kutempuh terlebih dulu. Entah jalannya yang akan memutar, sebab niatku yang salah, ataukah karena inginku yang terlalu duniawi… Engkaulah yang memberikan petunjukNya, maka kuatkan aku untuk nanti menerima apapun takdirmu. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau restui mimpiku, maka tukarlah air mataku saat itu dengan kebahagiaan di suatu saat nanti. Terimalah setiap ucapan bismillah-ku ketika memulai segala sesuatunya, hingga kau hitung ia menjadi sejuntai pahala. Hidupkan kembali hatiku yang pasti kecewa itu, untuk kembali bangkit dan berusaha. Karena Engkau Maha Tahu yang terbaik, aku percaya. Bimbinglah aku untuk mengetahui rahasia apa yang Kau simpan dibalik itu semua. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau jawab inginku, maka ajari aku untuk belajar apa itu ikhlas dan mengikhlaskan. Atas apa yang kau beri, terlampau besar dari apa yang aku inginkan. Kebahagiaanku tak berasal dari inginku, tak berasal dari tujuanku, tak berasal dari perjuanganku saja, melainkan semata-mata karena ridha-Mu. Lapangkanlah hatiku, semoga Engkau kuatkan aku untuk terus berharap padaMu. 


Aamiiin.


Bandung, 10 Juni 2016

Seseorang pernah bertanya padaku, apa yang aku lakukan sebelum tidur ? Yang kulakukan adalah bersedih. Merenung. Karena aku semakin dekat dengan kematian. Namun perilakuku masih begini-begini saja.
— 

Kurasa, merenungi kesalahan itu penting untuk menyadarkan diri sendiri mana yang perlu diperbaiki. (Oh tidak, apa selama ini aku hanya merenung tanpa memperbaiki ?)

© Syarifah Aini (2016)