oh tidak

Ada orang yang mengaku sangat menyesal sudah menyakiti kamu. Tapi mengapa ia tidak juga berubah?

Oh… ternyata memang sudah tidak sayang atau sedari awal memang tidak pernah benar sayang. Pantas.

—  Tia Setiawati

anonymous asked:

Dia yang sama sekali tidak menunjukan rasa kagumnya padamu. Dia yang setiap sajaknya, selalu terselip cerita tentangmu. Dia yang malu malu mendoakanmu, untuk segala kebaikanmu. Jika hari dia dan kamu bertemu, akankah kamu menerimanya?

Mungkin pada awalnya aku tak tahu siapa dia, namun bila pada akhirnya aku tahu maka cukuplah kusembunyikan hatiku yang berbunga-bunga karenanya.

Menerimanya? Oh tidak…

..Tidak akan aku biarkan ia yang harus tersipu untuk memintaku lebih dulu. Sebagai lelaki, biarkan aku yang memintanya untuk menerimaku.

Disabilitas mental

Baru saja bangun dari tidur sejak siang sampai adzan isya berkumandang, seketika ingin menulis tentang ini.

Beberapa hari terakhir, gue disibukkan dengan urusan memperbaiki gentong plastik penampung air di kamar mandi kostan gue yang bocor deras sekali tapi tidak terlihat retakan bocornya dimana. Kemarin, gue dan oknum D salah satu tetangga kostan yang juga merupakan teman intern gue, berusaha menambal sementara bagian bawah gentong dengan lakban hitam.

Sebelum menambal, gue menguras gentong tersebut terlebih dahulu. Ada beberapa lumut-lumut tipis yang melapisi dasar gentong. Gue terlalu mager untuk ambil lap atau tisu, akhirnya memilih pakai tangan kosong. Gue mengusap-usap dan sesekali menggosok agak keras di beberapa bagian dasar gentong yang tampak kotor. Sesekali gerakan gue terhenti karena ujung jari gue menabrak tonjolan plastik keras yang ada di dasar gentong. Sakit. Seperti tergesek duri, karena tonjolan itu sebagian besar tajam. Tapi entah apa yang ada di kepala gue saat itu, gue justru menggosok semakin cepat dan semakin kuat. Gue menabrak tonjolan-tonjolan itu beberapa kali, dan beberapa kali juga tonjolan-tonjolan itu mengirim rangsang nyeri ke ujung jari gue, membuat gue meringis. Tapi gue mengabaikannya dan memilih melakukannya beberapa kali tanpa sadar, sampai akhirnya oknum D menghentikan gue dan berkata bahwa lumutnya sudah hilang dan gue sudah bisa mulai berhenti menggosok.

Sehari setelahnya, gue bertugas shift IGD 24 jam. Ketika sedang menunggu pasien cek darah di laboratorium, gue menulis lembar status pasien. Saat itu gue merasa ujung-ujung jari gue perih sekali saat dipakai menulis. Gue berhenti menulis sejenak dan mengecek ujung-ujung jari gue.

Disana gue melihat ada luka-luka kecil goresan tebal tipis berbaris di beberapa ujung jari tangan kanan gue. Mirip gambar barisan barcode. Gue baru sadar, ternyata tonjolan plastik di dasar gentong yang gue tabrak-tabrak semalem bisa menghasilkan guratan sepedih itu.

Gue mencoba mengabaikan luka-luka itu dan memilih melanjutkan pekerjaan gue. Sesekali gue berhenti menulis dan mengibas-ibas jari untuk mengenyahkan rasa perih. Ketika sedang tidak ada pasien, gue mengusap lagi ujung-ujung jari gue yang banyak goresan itu. Terasa kasar sekali. Ingatan gue melayang ke salah satu tengah malam, dimana salah seorang rekan yang gue kenal secara digital menyapa gue untuk minta didengarkan.

Dia baru saja kembali melukai dirinya. Istilah populernya; cutting. Dia bercerita bagaimana luka-luka goresan adalah tato favoritnya. She felt the urge to cut herself. She enjoyed the pain, embrace the ache. It just happened. She told me she thought of being died but she was just too afraid to know that even death can stop her suffering. She hurt herself again and again just to find out that it was good to know how inevitable a pain was.

Gue mendengarkan dengan ngilu. Bagaimana dia mendeskripsikan cara dia melukai tangannya, kakinya, jari-jarinya. Gue penggemar berat film gore, tapi membayangkan ada orang yang dikenal secara personal melakukan itu, it still gave me chill.

Dia memang tidak pernah membawa diri ke psikiater, tapi dia sudah berkali-kali mengunjungi psikolog. Dia terdiagnosis bipolar disorder oleh psikolog. Segala kesulitan dan ketidaknyamanan hidup yang dia alami ini yang membuat gue mengutuk sekali aksi para bocah yang sok yakin memproklamirkan diri mereka sebagai penderita bipolar tanpa terdiagnosis langsung oleh ahlinya.

Beberapa menit sebelum tulisan ini dibuat, gue baru saja menyelesaikan tontonan gue, sebuah vlog zuper favorit yang bahkan sampe gue turn-on-notif demi tidak ketinggalan satu episode pun; paguyuban pamitnya meeting. Episode terbaru mereka membahas tentang disabilitas mental, menghadirkan seorang narasumber yang merupakan survivor skizofrenia. Namanya Hana Alfikih, atau yang terkenal dengan nama Hana Madness (go google her and be prepared to get so inspired).

Ya, lo ga salah denger. Skizofrenia.

Sebuah gangguan jiwa yang tidak bisa dibilang ringan sama sekali. Kata kunci gejalanya; halusinasi dan waham atau delusi.

Gue pernah beberapa kali terpapar dengan orang dengan skizofrenia (ods) ini sepanjang hidup gue; mulai dari stranger, pasien, tetangga sebelah rumah, teman satu kelas gue ketika kuliah kedokteran, bahkan teman satu stase gue ketika koass di rumah sakit.

Hal yang terlintas di kepala gue dulu sebelum sekolah dokter ketika mendengar kata skizofren ada 2; pembunuh berantai, dan menakutkan. Gue menggemari film bebunuhan sejak belia, dan seringkali menemukan pembunuh-pembunuh memiliki latar belakang gangguan skizofrenia. Menakutkan; karena gue pernah sempat bertetangga dengan sekeluarga penderita gangguan kejiwaan; ayah dan ibu demensia (atau bahkan alzheimer kayanya), dan anak tertuanya skizofrenia berat; tipikal yang suka gangguin orang, teriak-teriak, atau keliling-keliling kampung tidak pakai baju.

Setelah sekolah dokter, gue mulai sadar bahwa gangguan kejiwaan bisa menimpa siapa saja dan bisa dalam bentuk apa saja. Teman sekelas gue sendiri saat sekolah ada yang mengalami itu, sebut saja dia X.

Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri bagaimana si X ini ketika sedang ada kuliah, dia sibuk mematah-matahkan semua kartu yang ada di dompetnya, termasuk kartu atm. Ekspresinya datar, sesekali tersenyum-senyum sendirian.

Kami sekelas pun sempat dihebohkan dengan berita bahwa si X hilang, tidak pulang ke rumah setelah kelas usai. Gue sampai mengakhiri sesi nonton gigs saxophonist lebih cepat malam itu, karena partner nonton gue mau ikut bantu nyariin si X. Si X akhirnya ditemukan di pinggir jalan, sedang berjalan kaki sendirian dengan wajah awut-awutan. Belakangan diketahui, X berjalan kaki dari kampus ke tempat dia ditemukan sejauh 10 km lebih.

Ketika koass, gue juga pernah bertugas di satu divisi dengan pengidap disabilitas mental juga. Sebut saja dia Y. Gue sudah sering mendengar cerita tentang Y, bagaimana dia berulah ketika sedang menunjukkan gejalanya. Cenderung menakutkan, sedikit lebih parah dari X. Dia bisa tiba-tiba melempar hp lawan bicaranya kalau dia kesal, bicara sendiri di koridor rs, atau membawa cutter ke ruang TU sambil bertanya kenapa nilai ujian dia kecil.

Suatu hari gue pernah bertugas di ruang operasi berdua dengan Y. Salah satu syarat lulus di divisi itu adalah menjadi asisten operasi 10 kali (kalo ga salah euy lupa). Karena gue anaknya agak terlalu gemar melihat darah dan benda tajam akibat efek kebanyakan nonton thriller gore, syarat ini terasa menyenangkan sekali. Saat itu gue syarat gue sudah terpenuhi bahkan mungkin melebihi. Tapi ketika itu, residen bedah yang sedang operasi kembali memanggil gue dan menyuruh gue menjadi asisten.

Posisinya, saat itu gue berdua dengan si Y sebagai koass. Residen itu tau kalau Y belum pernah satu kalipun menjadi asisten. Tapi tetap gue yang dipanggil jadi asisten. Gue sudah sering mendengar bahwa ketika dibuat kesal, Y bisa kumat. Gue yakin sekali Y kesal ketika gue yang dipanggil jadi asisten. Gue bisa merasakan tatapan dingin dia melihat ke arah gue selama operasi berlangsung.

Usai operasi, Y keluar ruangan duluan. Residen bedah yang tadi tau kalau Y mengidap disabilitas mental dan tahu kalau gue bisa sewaktu-waktu terancam jika beredar di sekitar dia, jadi gue dilarang keluar ruangan sebelum dia keluar duluan.

Saat itu gue justru merasa bersalah alih-alih takut. Gue merasa perlu menghampiri dia dan meminta maaf. Teman-teman gue banyak yang sempat mencegah karena takut dia sedang tidak stabil dan gue jadi sasarannya. Akhirnya gue menunggu sampai lewat jam makan siang, lalu memberanikan diri menghampiri dia di ruang konferensi.

Gue duduk di sebelahnya, dia sedang makan sejenis chiki. Gue bertanya apa yang sedang dia makan, dia menatap gue dengan tatapan kosong. Gue minta maaf, dia tanya minta maaf untuk apa. Gue bingung dan diam. Dia lalu menyodorkan chikinya ke gue, menawarkan gue untuk ambil dan ikut makan. Gue terkejut. Ya, dia sudah lupa kejadian di ruang operasi tadi.

Belakangan gue baru tahu bahwa begitu dia keluar dari ruang operasi, dia sempat marah-marah, lalu impulsif ke supermarket membeli banyak makanan. Dia juga duduk sendirian di ruang konferensi, tidak ada satupun yang mau duduk di sebelahnya, bahkan konon sejak dia terdiagnosis. Pun ada, tidak ada yang betah berlama-lama duduk di sebelahnya. Dan gue dengan lugunya duduk di sebelah dia, meminta maaf, saat itu.

Gue bisa merasakan pandangan orang-orang ke gue saat itu, campuran merasa aneh, takut, kasihan dan entah apa-apa lagi. Gue pernah diberitahu teman gue, katanya kalau ada orang yang tidak sungkan menghampiri dia, Y akan ingat terus orang itu dan cenderung “ngintilin” orang itu kemana-mana. Gue merasa ini wajar karena Y senang ada yang menemani. Y butuh ditemani.

Sama seperti jutaan penyandang disabilitas mental lainnya yang juga sebenarnya hanya butuh ditemani, dan tentu;

didengarkan.

Gue cukup sering melihat orang-orang yang memiliki disabilitas mental, bukan hanya skizofren, mengalami pengucilan luar biasa. Orang-orang sekitarnya terbagi menjadi dua golongan sikap; takut dan mencemooh. Yang mencemooh juga terbagi lagi; jijik dan meremehkan. Jijik karena menganggap berbeda dan tidak pantas membaur, meremehkan karena tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah gangguan kesehatan.

Gue pernah banget tau orang-orang skizo yang dikira kesurupan lalu malah dijampi dan disembur ludah ustadz, atau dipasung bertahun-tahun sampe pergelangan kakinya ngebentuk cetakan besi pasung. Atau orang bipolar yang dibully teman-temannya. Atau orang depresi yang dirukiyah sampe jerit-jerit. Gue bahkan pernah ketemu seorang psikiater yang di polikliniknya memutar mp3 murottal dan setiap pasiennya selalu disuruh solat dan mengaji.

Oh tenang, gue sedang tidak berusaha mengecilkan kegunaan agama dalam kasus ini. Gue hanya ingin membagikan pengalaman yang gue alami selama ini, bahwa pada dasarnya yang dibutuhkan mereka dengan disabilitas mental ini bukan dinasihati terus menerus, bukan dihakimi ini dan itu, bukan dikucilkan, bukan dijauhi.

Ada kebutuhan sangat mendasar yang sebenarnya sangat sederhana; didengar dan dipeluk.

Pada beberapa keadaan yang sudah cukup mengganggu, keberadaan tim ahli seperti psikiater atau psikolog akan sangat dibutuhkan. Hal inilah salah satu dari sangat sedikit hal yang membuat gue berterimakasih kepada bpjs. Ketika lo punya bpjs, lo bisa memeriksakan dan mengobati kesehatan mental lo dengan sangat murah atau bahkan gratis.

Obat-obat gangguan mental memang mahal. Sesi periksanya juga tidak murah. Tapi bpjs mengcover itu. Ada yang penuh, ada yang beberapa persen, tapi sungguh, itu membantu sekali. Minimal, alasan bahwa berobat jiwa itu mahal, tidak perlu digunakan lagi untuk menghindar.

Meskipun sebenarnya gue jauh lebih mendukung terapi non obat seperti psikoterapi, support group, dan sejenisnya. Katakanlah obat adalah pilihan terakhir ketika memang pertolongan non obat sudah tidak bisa menyelamatkan lagi.

Tapi yang jelas, kesadaran untuk seek for help itu sendiri yang perlu ada sejak awal. Jangan takut. Jangan merasa sendirian. Jangan merasa dunia berakhir. Gangguan kejiwaan bisa dikendalikan, bisa dipulihkan. Banyak banget tokoh-tokoh berpengaruh di dunia yang survive dari disabilitas mental dna justru menjadikan kekurangan mereka sebagai kelebihan luar biasa, which even a healthy one can never do it.

You need help, go for it. Setiap orang berhak ditolong, kalo kata mz arman dhani. Gue beberapa kali tidak tidur semalaman karena ada pesan-pesan atau telepon-telepon yang minta didengarkan. Gue tidak masalah sama sekali kalau harus tidak tidur sekali lagi, dua kali lagi, atau beberapa kali lagi dalam hidup gue. Karena gue tahu rasanya tidak tahu harus menyampah kemana disaag banyak sekali sampah berserakan di kepala. Karena gue tau rasanya membutuhkan pendengar.

Tapi ya tentu lini pertama tetap adalah keluarga dan orang terdekat. Lo membutuhkan mereka di garda terdepan. Mereka yang paling bisa membantu lo, paling mudah lo jangkau karena ada di sekitar lo (but if you have none of them, you have me. If you read this, you know where to call for help).

Ketika lo berhadapan dengan mereka dengan disabilitas mental, tidak perlu jijik atau ketakutan. Mereka sedang butuh bantuan, mereka sakit seperti halnya orang pilek atau mencret-mencret, hanya saja pada pilek lo bisa lihat ingusnya dan pada mencret lo bisa lihat boker cairnya, meanwhile pada gangguan kejiwaan lo bisa aja melihat wajah cantik ceria, atau badan tegap perkasa, but deep down inside they’re not okay.

Dengarkan, peluk. Udah. Sesederhana itu aja lo bisa menjadi berguna buat orang lain.

Sukur-sukur kalo lo punya akses ke support group yang bisa menolong mereka lebih jauh, punya cukup uang buat bantuin mereka berobat, punya cukup waktu untuk bantu mereka mengurus bpjs.

…buset panjang juga ini tulisan -..-

Pada akhirnya, gue cuma pengen mengingatkan bahwa disabilitas bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga mental. Ini bukan aib, bukan pula sesuatu yang menular. Kalo lo merasa ada yang salah dengan diri lo, go for help. Kalo lo merasa ada yang salah dengan saudara, teman, atau orang sekitar lo, be a help. Seharusnya menjadi berguna bagi orang lain bisa sesederhana itu.

Sekian, dan mari tidur lagi.


Sincerely me,
a (not-so) PTSD survivor.

Juni meredup,

Kau tak perlu tahu, bagaimana rasanya sebuah usaha yang tak dihargai. Bagaimana rasanya, sebuah senyum yang diabaikan. Bagaimana rasanya tawa yang dipaksakan, dan bagaimana rasanya bilang tidak meski sebenarnya iya.

Iya, beberapa orang kerap menunjukkan dirinya, tapi tidak sesuai dengan perasaanya. Beberapa mampu tertawa dengan berbinar-binar, untuk melupakan sesak yang meletup-letup di dadanya. Beberapa orang memilih untuk berusaha menunjukkan seperti apa perasaanya pada dirinya sendiri, pada media yang ia miliki, pada sebuah tulisan, pada sebuah karya, pada sebuah lagu, dan pada bentuk apapun yang dimana mempu mengungkapkan dengan sesuka hatinya.

Oh iya, mengeluh tidak akan mampu merubah apapun. Harus ingat itu.
Tapi sesekali mengeluh itu boleh kok, biar sadar kalau diri memang lemah. Tidak ada apa-apanya tanpa kuasaNya.

Jakarta.

Mencintai diam-diam.
—  Aku tak pernah mengatakan bahwa melakukannya terasa sulit. Sama sekali tidak pernah. Justru menyenangkan kurasa. Kenapa? Hidupku terasa warna-warni. Hanya dengan melihatnya dari jauh sudah membuat tubuhku menggigil gembira. Oh, itu masih tidak sederhana. Bagaimana hanya dengan berada di satu kota yang sama? Ya. Ini pun sudah dapat membuatku deg-degan parah, hahahah. Beda ceritanya jika dia tau aku menyukainya, melihatnya dari jauh kupikir akan terasa perih. Bukan begitu? Ya, seharusnya begitu.
Rupawan

Rupawan dalam KBBI memiliki arti keelokkan rupa; cantik untuk perempuan atau tampan untuk laki-laki. Keelokan rupa berkawan dekat dengan pujian. Eh pujian atau ujian ya? Oh tidak salah satunya, tapi keduanya.

Kita flashback ke kehidupan Nabi Yusuf. Saat Nabi Yusuf dibuang ke sumur oleh saudaranya, nabi Yusuf berhasil diselamatkan oleh para musafir. Kemudian musafir itu menjual Yusuf kepada salah seorang menteri di negeri Mesir, Qiftir Al-Aziz. Sejak saat itu, Yusuf tinggal bersama Qiftir dan istrinya Zulaikha.

Qiftir saat itu membeli Yusuf untuk membantu istrinya dalam mengurus kebutuhan rumah tangga. Yusuf bekerja dengan baik, cekatan dan jujur sehingga ia diperlakukan sangat baik. Yusuf pun tumbuh dewasa. Ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan dan gagah. Seketika perasaan Zulaikha yang tadinya berempati, berubah jadi cinta. Zulaikha terpesona oleh keelokan rupa Yusuf serta kepribadiannya. Hingga pada suatu hari Zulaikha mencoba menggoda Yusuf.

Usaha Zulaikha menggoda Yusuf gagal dan berita tentang itu telah menyebar ke penjuru negeri. Zulaikha menjadi bahan gunjingan di kalangan istri pejabat Mesir. Hal ini membuat perasaan Zulaikha resah.

Lalu apa yang direncanakan Zulaikha? Zulaikha mengundang para wanita yang menggunjingkannya ke rumah. Ia menyediakan tempat duduk dan pisau untuk memotong jamuan buah-buahan kepada setiap wanita yang datang. Ketika mereka sedang memotong buah, Zulaikha memanggil Yusuf. Wanita-wanita itu kagum melihat Yusuf. Mereka kagum dengan ketampanan Yusuf dan tanpa sadar melukai jari-jari tangannya dengan pisau buah tadi. Kemudian berkata, “ Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia melainkan malaikat yang mulia.”

Kebayang gak tuh gantengnya Nabi Yusuf kayak gimana? ~

Nah terus, gegara itu Nabi Yusuf jadi khawatir..

Nabi Yusuf takut sama perlakuan Zulaikha dan orang-orang di sekitarnya itu. Lalu Yusuf berdoa,
“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (QS. Yusuf [12]: 33)

__

Mungkin salah satu dari kita ada yang mengalami. Memiliki keelokan rupa yang menjadi idaman, pujian hingga jadi ujian tersendiri.

Pernah ada yang merasa resah ketika mendapat pujian? Atau justru sebaliknya? Semakin dipuji, semakin ingin dilihat, semakin ingin dikenal.

Tidak dipungkiri kalau setiap manusia senang bila dipuji, saya pun demikian. Tapi saya juga mengalami keresahan ketika menerima pujian. Apalagi mendapat pujian cantik. Duh. Ada resah yang begitu membuncah. Ada keresahan akan penampilan yang mungkin saya gak sadar begitu menarik untuk dipandang, hingga menimbulkan dosa bagi yang memandang. Takut, takut sekali. Dosa terpupuk tanpa disadari. Na'udzubillah…




Zekhlin | Jum'at, 2 Juni 2017
7 Ramadhan 1438H
Penerimaan

Diterima. Dan menerima.

Kita tidak harus diterima semua orang. Dan kita juga tidak harus menerima semua orang.

Yang kita lakukan hanyalah beradaptasi dengan berbagai macam orang. Artinya kita bisa menyesuaikan bagaimana diri kita. Apakah agar untuk diterima ?
Oh tidak. Ini bukan hal yang transaksional. Oranglain boleh tidak menerima kita, ketika kita sudah berusaha menyesuaikan diri.
Kita pun bisa memilih mundur ketika kita telah berusaha menyesuaikan tapi nyatanya tidak bisa.
Tidak harus jika aku menerima mu, maka kamu harus menerima ku.

Lebih indah jika kita menerima oranglain tanpa sebuah harapan berlebihan agar dia menerima. Ini yang disebut penerimaan tanpa syarat.

Penerimaan. Tentu dalam kehidupan bersosial kita butuh penerimaan. Tapi tunggu, sesungguhnya yang terpenting bukan diterima atau tidaknya. Melainkan, adalah alasan mengapa kita diterima atau ditolak.

Mari kita telusuri. Apakah kita diterima dengan alasan yang tepat?
Atau,
Kita mungkin telah memaksakan sesuatu dalam diri kita agar diterima?
Atau,
Kita malah kehilangan diri kita ketika kita sudah diterima?
Atau,
Kita diterima bukan karena kita baik dan benar, tapi hanya karena kita memiliki “seragam” yang sama dgn kelompok itu?

Maka,
Penting untuk memikirkan dan mengerti alasan daripada penerimaannya saja.

Jangan terjebak pada tangan2 yang menyambutmu jika mereka tdk memiliki alasan yg tepat untuk menerima mu.

TENTANG LELAKI YANG MANIS PADA SEMUA PEREMPUAN

Ada alasan kuat mengapa saya sempat posting beberapa twit khusus mengenai judul postingan ini.

Banyak perempuan kebingungan saat pasangannya bersikap seperti judul di atas. Karena di satu sisi, mereka banyak sakit hati, cemburu, dan perasaan tak menyenangkan lainnya. Di sisi lain, mereka pernah juga terbawa arus pasangannya, karena sering disebut ‘perempuan pecemburu’. Sehingga, rasa sakit itu sering dipendam sendirian saja, lalu mengendap. Oh, beberapa sih tidak mengendap, tapi keluar dengan begitu buruk. Berkonfrontasi dengan perempuan lain, tetap saja tidak keren, menurut hemat saya.

Jadi, begini kita-kira isi twit saya beberapa hari lalu.

Lelaki sejati tahu harus bersikap selayaknya pada perempuan yang bukan siapa-siapanya. Lelakimu manis sama semua perempuan? Goodluck ya.

Pikir-pikir lagi kalau punya calon suami yang manis sama semua perempuan. Eh ini serius. Kebiasaan memang bisa berubah, tapi ya itu.. susah.

Kecuali kalau kamu siap sering-sering cemburu atau sakit hati. Atau bahkan kalau memang kamunya enggak masalah dengan itu.

‘Kebiasaan’ dibangun bertahun-tahun. Bisa beberapa, belasan, bahkan puluhan. Dan kamu enggak bisa maksa itu berubah cepat. Butuh waktu juga.

Linimasa twitter @TiaSetiawati, 4 Agustus 2015

Pokokya tolong diingat, walau memang akan ada turun-naik dalam sebuah hubungan, hindari memilih untuk bersama seseorang yang membuat kamu lebih sering merasakan sakit, dibanding bahagia.

Hey perempuan, iya, kamu! Pikir lagi dong. Pikir lagi. Itu lebih baik dibanding tergesa-gesa, dan malah berakhir dengan orang (pria) yang salah.

Okay? Bahagialah. :)

Salam

- Tia Setiawati

Di Indonesia, bisa menikah cepat seringkali dianggap lebih berprestasi dari pada yang tengah berjuang agar banyak bermanfaat bagi masyarakat. Lucu.
— 

Yang sedang berjuang menuju cita-cita dan berusaha memberi manfaat diburu-buru menikah. Tapi yang sudah menikah dan leyeh-leyeh tidak diburu-buru untuk memburu ilmu.

Alibinya sunnah. Alibinya ibadah. Seakan yang sudah menikah sudah pasti lebih baik dari pada yang belum menjalani. Padahal fakta di lapangan tidak selalu begitu. Bukankah setiap manusia bisa memilih jalan ibadahnya masing-masing tanpa perlu kita ikut pusing? Bukankah yang masih sendiri juga sedang berjihad memerangi hawa nafsunya? 

Memangnya, kita yakin bahwa ketika sudah menikah nanti, kita lebih bisa beribadah dengan baik dari pada ketika sendiri? Bagaimana jika keluarga yang dibentuk tidak dengan pondasi kuat justru menjadi benalu masyarakat?

Judging bahwa saya bukan ummat Rasul karena berkomentar sinis soal pernikahan? Oh, tidak. Tentu saja menikah itu harus, dan saya akan menikah, tidak lama lagi rencananya. Yang saya tidak suka hanyalah paradigma (sebagian) masyarakat Indonesia yang kebetulan tinggal di sekitar saya, itu saja.

Menikah memang ladang pahala. Tapi menikah juga bisa menjadi ladang dosa, sebab di saat yang sama banyak kemungkinan zalim di sana. Karenanya, tidak semua dari kita punya keberanian lebih untuk memulainya segera. Tidak semua dari kita diberi kesiapan dan kelebihan untuk memperolehnya, barangkali belum kuat menjalani.

Jadi, santai saja pada takdir orang lain, tidak usah berisik. Terutama jika kita tidak bisa bantu apa-apa. Barangkali hidupnya sudah riuh oleh takdir yang dia harapkan namun belum juga datang. Jadi kita tidak usah menambahkan beban, jika takbisa memberi bantuan.

Watch on nakindonesia.tumblr.com

Alasan Pengulangan Ayat pada Surat Ar-Rahman

Kaum musyrikin telah menjadi sangat keras kepala. Mereka tidak mau mendengar pesan Islam. Mereka berkata “Kami telah mendengarkan hal ini selama 10 tahun! Pesan yang sama yang diulang berkali-kali.” Bahkan Allah berkata, كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ  “Kami terus mengubah ayatnya.” (QS Al-‘An`ām: 105)

Pesannya tidak berubah. Ayatnya berubah dan mereka berkata, “Kami sudah mendengar semuanya, hentikan, kami tidak ingin mendengarnya lagi.” Kami tak tertarik. Dan tidak hanya tak tertarik, mereka mulai menyerang Rasul (shallallahu 'alaihi wasallam).

(وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوً)

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. (Al Jatsiyah: 9)

Mereka bukan hanya tak tertarik tetapi sekarang mereka juga memperolok Al Quran, ketika Al Quran dibacakan.

(لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ) 

“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya” (QS Fushshilat: 26)

Sedangkan pada orang beriman dikatakan,

(وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) 

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik” (QS Al A’raf: 204)

“Fastamiuu”, maka dengarkanlah baik-baik. “Wa Anshituu”, dan berhenti bicara dan dengarkanlah. “Wa anshituu” dalam bahasa Arab berarti dua hal. Pertama adalah “Berhenti bicara (diam)”, dan kedua adalah “Dengarkan”. Keduanya. "Wa anshitu”. Kau tau..

Dan mereka berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya” Ini yang mereka katakan. Dengan kata lain mereka menjadi sangat keras kepala.

Sekarang saya memiliki sisa waktu dua menit. Saya tidak selesaikan pendahuluan saya, tetapi saya akan tinggalkan kalian dengan satu hal. Ketika kamu, para remaja.. ada berapa orang remaja di sini? *penonton menjawab* Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Oke, umumnya para remaja bermain sepakbola. Para remaja bermain bola basket. Para remaja berkumpul dan seseorang menabrakmu. Para remaja memiliki temperamen sangat panas. “Apa yang kamu lakukan?”. Dan mereka siap untuk berkelahi. Dan ketika mereka hendak berkelahi, temanmu mencegahnya,

“Jangan, jangan, semuanya baik-baik saja, tidak apa-apa.”

“Lepaskan aku! Grrrh!”

Kau tau, kamu masih ingin berkelahi. Jadi temanmu yang mencegah dirimu agar tak berkelahi berkata, “tenanglah”. Bagaimana mengucapkan “calm down” dalam bahasa Melayu? *penonton menjawab* Maaf saya tak dengar, lupakanlah. Saya akan membutuhkan waktu lama untuk mempelajari hal itu.

Oke, jadi.. “tenanglah!”. Sekarang temanmu berkata “tenanglah” berapa kali? Sekali? Ketika temanmu berkata, “tenanglah”, Kamu berkata, “Oh aku tidak sadar, aku seharusnya tenang. Aku perlu duduk dan minum teh sekarang. Kamu tak berbuat demikian karena kamu sedang gila pada saat itu. Temanmu berkata, “Tenanglah! Tenanglah! Hey! Tenanglah! Hey! Dengarkan saya! Santai, Santai! Dengarkan saya!”.

Dia mengatakannya 10 kali. Dan kamu masih dalam keadaan marah pada saat itu. Mungkin, mungkin kamu mendengarnya sekali. Mungkin. Dan kemudian kamu mendengarkan. Karena pada saat itu kamu sedang keras kepala. Ketika kamu keras kepala, kamu tak bisa diberi tahu sesuatu hanya sekali. Kamu harus diberi tahu berkali-kali.

Orang-orang Makkah telah menjadi apa? Keras kepala. Jadi Allah berfirman:

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mungkin kamu akan dapat menerimanya sekali saja bila disebutkan berkali-kali. Kamu paham? Itulah gaya surat ini. Tetapi gaya ini ada karena suatu alasan. Karena surat ini berbicara pada jenis pendengar tertentu. Tidakkah itu mengubah pandanganmu terhadap surat ini?

-AA-

Berkeluarga dan Semangat Mencari Ilmu

Menikah, yang seharusnya adalah salah satu pintu untuk melipatgandakan kebaikan, kadang malah sebaliknya. Terkadang, dengan alasan sudah menikah, apalagi sudah punya anak, kita jadi malas melakukan sesuatu. Kajian misalnya.

Padahal, dengan menikah tidak berarti kita sudah boleh berhenti belajar kan? Karena ilmu Allah teramat luas. Maka kita tidak seharusnya berhenti untuk belajar lalu merasa cukup dengan ilmu kita. Sayangnya setelah berkeluarga, rasanya pekerjaan lain begitu menyita waktu. Untuk para suami, pekerjaan di kantor atau di tempat mencari nafkah lainnya sudah teramat membuat lelah. Berangkat pagi pulangpun sore. Untuk para istri, pekerjaan rumah atau kantor dan mengurus anak rasanya sudah penuh sekali memakan waktu. Habis sudah rasanya jatah 24 jam sehari.

Lalu kapan ya menyiasati untuk tetap bisa mencari ilmu? Melihat daftar kajian atau judul kitab-kitab saja rasanya sudah pusing. Membayangkan harus menambah jadwal mencari ilmu diantara padatnya pekerjaan.

Lewat internet?
Oh, sangat tidak disarankan untuk mencari ilmu full membaca dari internet maupun buku tanpa guru ya. Karena khawatir juga kan kita salah paham. Malah nanti menafsirkan ilmu sendiri, hehe.

Nah saya punya tips yang sudah coba kami terapkan dalam keluarga kecil kami. Kali aja bisa diambil manfaatnya :D

Di keluarga kami, saya dan suami berbagi tugas. Tugas apa? Tugas belajar. Jadi misal, suami punya tugas memperdalam soal fiqh, baca tafsir, ikut kajian-kajian di masjid-masjid atau majlis yang diadakannya malam hari. Sedangkan saya belajar tentang kesehatan keluarga, fiqh wanita, atau hal-hal lainnya. Nanti menjelang tidur, atau saat makan, atau setelah shalat isya kita bisa mendiskusikan ilmu baru apa yang kita dapat. Karena kami menyadari kan bahwa rasanya susah untuk masing-masing kami belajar banyak ilmu sekaligus. Jadi kami bagi-bagi untuk mendapatkan ilmunya.
Dalam pembagian jangan lupa mempertimbangankan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misal suami yang memang lebih pintar soal memahami kajian berat macam fiqh gitu, ya bagi saja ke suami. Istri bagian yang suami mungkin agak malas mencari ilmunya semacam ikut seminar tentang ASI, kesehatan keluarga dan semacamnya.

Kalau ada kesempatan datang kajian yang bisa bawa keluarga, jangan lewatkan. Walaupun mungkin saat kajian sibuk menjaga si kecil, tapi semoga ikut dapat juga keberkahan majlis ilmunya.
pokoknya menikah dan mempunyai anak bukan alasan kita berhenti untuk mencari ilmu ya. Semangat belajar! ;)

pu!

bismillah ~

aku berjanji ini adalah tulisan ku yang terakhir tentangmu,

maka ijinkan aku untuk melepas semua setelah ini,

sebab ini adalah salahku, yang abai akan hati kecilku, yang abai terhadap beberapa hal dalam keyakinanku, sehingga aku sendirilah yang menanggung akibatnya.


aku bersyukur telah dipertemukan denganmu dalam satu lingkup , teringat kata mas kurniawangunadi “Allah mempertemukan dengan berbagai alasan, entah untuk belajar atau mengajarkan, entah sesaat atau selamanya, yang terpenting tidak ada yang sia-sia dalam setiap pertemuan karena Allah yang mempertemukan”.

Bagaimana aku bisa mengelak kalau bertemu denganmu adalah takdirku,

maka bertemu denganmu adalah ujianku.

akhirnya ku sadari, ujian adalah sesuai kadarku. apa yang tidak cepat naik turun kalau bukan iman ? apa yang mudah berbolak balik kalau bukan hati ? maka sungguh diluar kuasaku jika keduanya bertemu.

memang tidak mudah memaafkan, apalagi melupakan, kata orang maaf mungkin bisa, tapi lupa itu ‘mustahil’. bagiku, memaafkan dan melupakan itu satu paket. tapi aku percaya, atas ijin Allah memaafkan dan melupakan, aku bisa.

cukuplah,
beberapa petunjuk menguatkan ku, sungguh aku tak mampu membaca siapa yang akan menjadi takdirku,


tapi,
saat ini,
aku akan lanjutkan langkah, bebas, dan lepas, mulai saat ini aku tidak akan peduli dengan segala sesuatu yang berkaitan denganmu, aku akan meminta tolong kepada Rabbku, untuk memalingkan hati ini darimu,

aku yakin aku mampu,

teringat pesan cinta dari sahabatku, Re, sahabat yang selalu mengingatkan ku pada jalanNya,

begini..


“ Assalaamua'alaykum neng ..
Pagi yg cerah yaa ..
Semoga keberkahan hr ini bs memacu semangat berjuang u/ Move Up :D
Menundukkan pandangan, sgera beristighfar - istighfar - istighfar dan istighfar ketika mengingat si doi ..
Dan sgeralah beranjak melakukan kegiatan yg lebih bermanfaat ..

Allah yg Maha membolak-balikkan hati, perbanyaklah doa agar Dia memalingkan hatimu dari nya. Dari dy yg jika nanti pun ia adlh jodohmu, atw yg akan menjadi halal u/ mu ..
Engkau tdk perlu memperjuangkan jalan kehalalan dgn hal2 yg diharamkan
..

Kalo pun ia yg akan mejadi imammu, maka biarlah Allah yg mengatur perubahannya menuju kebaikan, membuatnya ia dtg pdmu dlm keadaan sholeh ssuai harapanmu, biarlah Allah yg mengerjakanNya untukmu ..

Dan jikapun ia bukan jodohmu, maka engkau tdk perlu terlalu pusing memberikan waktu dan perasaanmu u/ nya. Smoga dgn perjuanganmu menjaga diri, Allah membalasnya dgn sseorang yg jg menjaga dirinya dgn kesholehan, dan biarlah Allah yg mengatur pertemuan diantara kalian ..

Uhibbuki Fillaah ({})”

oh dear, engkau tidak perlu memperjuangkan jalan kehalalan dengan hal hal yang diharamkan.
dear, engkau tidak perlu susah payah ‘mempengaruhi'nya, serahkan pada Allah atas perubahannya dalam kebaikan jika akhirnya dia dan kamu akan menjadi kita.

saat membaca itu kira kira beberapa bulan yang lalu, nangis, aku cuma bisa nangis, tersadar bahwa langkah yang selama ini ku lalui adalah ‘keliru’.

pesan itu adalah cambukanku, pesan itu adalah penguatku, atas ijin Allah.

sekarang, dengan berbagai petunjuk yang selama ini ku abaikan, aku akan mengiyakan hati kecilku untuk pergi dari bayangmu,

selamat melanjutkan perjalanan, semoga kita makin menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa, bertumbuh,

sekali lagi, selamat melanjutkan langkahmu, semoga kamu mendapat apa yang kamu inginkan,

dan Aku semoga mendapat yang terbaik.
aamiin.


terimakasih :)

ohhh Allah, aku semakin mencintaiMu.

ohh Allah, maaf atas segala ketidakmampuanku atas ujianMu.


yuk lepaskan!


bismillahirrohmanirrohim 🍃🍂

Bagaimana Rasanya Meninggalkanku?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sama
Berulang-ulang muncul di kepala

.
.
.

Bagaimana rasanya meninggalkanku?
Bagaimana rasanya hidup tanpa ada lagi aku?
Bagaimana rasanya meniatkan diri untuk mencari yang baru demi menggantikan aku?
Bagaimana? Bahagiakah?

Aku menuliskan ini bukan minta dikasihani
Oh. Tenang saja.
Aku tidak semenyedihkan itu
Namun aku tahu
Berpura-pura tak merasa terluka
Adalah lebih pelik dari luka itu sendiri

Maka inilah
Kutuliskan sesuatu yang tidak seberapa

. . .

Aku tak tahu bagaimana malam-malammu
Apakah sesuram malam-malamku?
Karena bila ya, oh tak bisa kubayangkan bagaimana pagimu

Aku tak tahu bagaimana mimpi-mimpimu
Apakah seburuk mimpi-mimpiku?
Karena bila ya, oh kasihan sekali kamu
Cukuplah aku saja yang terbangun sambil meratapi diri sendiri
Karena pernah setakut ini kehilanganmu

Aku tak tahu bagaimana selera makanmu
Apakah semenyedihkan selera makanku?
Karena bila ya, tak terbayang berapa kilogram berat badan yang hilang dari raga

Aku pun tak tahu bagaimana caramu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang-orang terdekatmu, perihal aku
Apakah sama sulitnya seperti aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tentangmu?
Karena bila ya, dadamu pasti sering bergemuruh karena khawatir tiba-tiba

Banyak hal yang memang tidak pasti kutahu
Namun satu hal aku pasti tahu

: Mencintaiku, kau tak pernah bersungguh-sungguh.

Medan, 16 Maret 2016

- Tia Setiawati

Kau menginginkanku menjadi apa yang kau mau? Merubah semua sifatku seperti apa yang kau idamkan? Oh, maaf, aku tidak akan melakukannya. Karena, sungguh aku lebih baik kehilanganmu daripada kehilangan diriku sendiri.
Hai niqabis sekalian

8 Etika Mudah-faham dalam Berpurdah No 1 : Niat Berpurdah? Sebab apa nak berpurdah? Sebab sunnah? Sebab suami suruh, jadi nak dapatkeredhaan suami dan Allah? Atau sebab trend, tengok semua pakai purdah kita terikut-ikut? Atau sebab nak perhatian? Atau sebab nak gelaran wanita solehah? Tepuk dada, tanya iman, tanya diri sendiri. Kalau niat kita lurus, syukur. Kalau niat salah? Lebih baik betulkan dulu, sebab bila terpesong niat, apa yang kita buat, orang akan mudah nampak, terutama yang bersih hati dia. Percaya la. And siapa kata kalau dari awal niat dah lurus tak perlu diperbaharui dari semasa ke semasa? Kalau boleh, tiap kali nak ikat purdah kat muka, cakap dengan diri sendiri, ini semua untuk teruskan sunnah. Semua ni demi menuntut keredhaan Allah. Dah lepas etika 1? Alhamdulillah. Ops! Tunggu dulu! Ada lagi etika lain. No 2 : Purdah, Perlu ke Istiqamah? Sebab tu nak pakai purdah kena faham. Ada sesetengah orang pakai purdah untuk keselamatan. Jadi, kalau dia tak istiqamah pun tak salah. Misalnya kalau dia jalan-jalan dengan keluarga dia, dia yakin tak diancam, tak salah dia bukak. Kalau istiqamah? Lagi baik! Dia rasa kuat jalankan sunnah, apa salahnya? Yang pasti,Allah takkan kurangkan ganjaran untuk orang yang sentiasa berusaha kan? Jadi, tak perlu pertikaikan bila bukak tutup. Tapi, kenalah tahan sikit dengan persepsi masyarakat. Terutama bila pakai sekadar dalam gambar. [Maksud saya, pakai saja-saja] Kalau rasa tak mampu hadap, maka anda dah tersekat dalam etika no 2.. Kalau mampu? Alhamdulillah! Jom teruskan! No 3 : Bergambar Dengan Purdah, Bagaimana? Bagi saya, sebenarnya isu gambar ni antara isu terbesar orang berpurdah. Baik, jom kita ikut etika yang sebenar bergambar dengan purdah ya. Pertama. Digalakkan bergambar ramai-ramai. Elakkan fokus kat seorang pemakai purdah sahaja. Dan kalau boleh, jangan difokus kat muka jugak bila bergambar. Jadi melindungi daripada jadi perhatian. Kedua. Kalau nak bergambar sorang boleh, tapi biarlah tak fokus kat muka, setegasnya tak bertabaruj [Hias lebih-lebih] dan sekurang-kurangnya separuh badan nampak. Dan tak perlu la buat posing comel, posing yang orang-awam-taknak-tengok-orang-berpurdah-buat. Faham kan? Dan tak perlu bertabaruj [lebih-lebih dalam berhias], sebab niat utama berpurdah ni untuk elakkan diri dipandang, bukannya makin giandipandang. Kalau rasa ada gambar-gambar berpurdah yang tak kena dengan etika, eloklah dipadam dan muhasabah diri masing-masing.. Kita dah lepas ketiga-tiga etika? No 4 : Pemakaian Berpurdah. First, kita kena faham. Saya bukan cakap pakai purdah semua serba hitam kat Malaysia ni tak boleh, tapi personally saya tak galakkan. Sebab, persepsi masyarakat, penerimaan masyarakat Malaysia berbeza dengan masyarakat Arab. “Eleh, lantak la diorang punya penerimaan. Yang penting, niat!” Salah. Salah sangat. Sebenarnya dengan purdah kita boleh dakwah, dakwah melalui contoh kepada diri sendiri. Bila kita berpurdah dalam keadaan menyenangkan masyarakat, mesti masyarakat akan terima kita seadanya, seterusnya galakan sunnah diteruskan. Tapi kalau kita takutkan diorang? Pakai serba hitam, bak kata sedara saya macam ‘momok’? Tau tak dalam diam masyarakat luahkan perasaan yang diorang takut? Dan ada sesetengah pihak harap Malaysia haramkan purdah demi keselesaan, keselamatan diorang? Sikit banyak kita dah susahkan sis-sis kita yang nak ikut tegakkan sunnah. Tak ke naya namanya? Tak salah pun pakai purdah dengan baju berwarna. Pakai la warna yang lembut, warna yang tak menonjol, warna yang bukan berwarna-warni. Islam itu kanmenyenangkan? Masyarakat tengok pun, sejuk hati.. Tak rasa takut pun nak komunikasi dengan kita. Dan kat sini saya nak ajak. Purdah tu, tak perlu la bermanik berhias bagai. Pakai jela biasa-biasa punya dan tak aneh-aneh sampai menarik perhatian orang. Cukuplah ada macam-macam style tudung, sekarang purdah pulak? No 5 : Kenapa Nak Harapkan Keselamatan Melalui Purdah Kalau Aurat Pun Tak Cukup Sempurna?? Wahai adik-adik, wahai teman-teman yang saya sayang.. Kalau kita pakai purdah tapi tudung tak lepas bahu, siap ada bonggol, baju menonjol sangat dengan warna-warni, nampak bentuk badan, so, apa point kita sebenarnyaberpurdah? Sekadar nak tunjuk kita berpurdah kat orang awam? Fahami la konsep. Menutup aurat DENGAN SEMPURNA itu WAJIB. Allah SWT sendirifirman mengenai tutup aurat dengan sempurna akan dilindungiNya. Berpurdah ituSUNNAH. Dia macam tambahan lepas tutup aurat dengan sempurna. Kalau tutup aurat dengan sempurna pun tak lepas, macam mana nak selamat denganpurdah? Lain la kalau dah tutup aurat dengan sempurna, tapi rasa lebih selamat denganpurdah. Itu barulah betul. Tolong. Betulkan niat dan fahami konsep dengan teliti. Islam itu kan halus? No 6 : Purdah dan Akhlak. Yang ni ramai jugak tanya saya. Nak berpurdah, tapi takut tak kena dengan perangai. Cuba bagitau saya sikit, perangai macam mana tu? Kalau asyik mencarut-carut tu.. Alamak, memang perlu baiki dulu. Kalau ramah, apa salahnya? Kenapa, semua orang berpurdah kena senyap-senyap je ke? Kena jadi pendiam gitu? Cuba kita tengok si purdah luar negara. Diorang siap berani masuk televisyen, demi tegakkan kebenaran tentang pandangan buruk masyarakat Barat tentang purdah.Diorang bersuara lantang, tegas. Kita? Duduk diam-diam? Jadi bayang-bayang? Oh tidak. Siapa kata jadi si purdah tak boleh aktif? Lain orang, lain personaliti. TAPI! Kita kena tau had limit kita. Kita sedar kedudukan kita, kita sedar tahap kita, kita sedar batasan kita. Cukuplah dengan segala kesedaran tu, kita buatlah macam orang normal. Tapi selalunya bila pakai purdah ni kan, automatik kita akan sentiasa jaga adab kita. Percaya la. No 7 : Pandai-pandai La Cari Suami. Tau tak wujud lelaki yang bila kita kahwin, suami dia tak izinkan dia pakai purdah?Yup! Lelaki macam ni wujud kat luar sana. So salah satu etika aneh yang mana nakistiqamah berpurdah, jangan cakap saya tak ingatkan tanya bakal suami dulu redha atautak bila pakai purdah. Apa pun jawapan bakal suami, semuanya terletak kat tangan kita. No 8 : Bila Peraturan Tak Izinkan Pakai Purdah. Saya percaya ada segelintir si purdah kat IPTA atau kerja kerajaan yang tak boleh pakaipurdah dilema dengan peraturan tu. Kalau orang tanya saya, saya jawab, ikut jela peraturan tu. Bukan bermaksud mengalah, tapi bagi saya benda macam ni kena ada tolak ansur. Asalkan dia tak kata kakitangan LANGSUNG tak boleh pakai purdah. Tu lagi naya. Bayangkan, kalau kita tolak ansur, tak pakai purdah time kerja. Pekerja-pekerja lain pun tak boleh cakap apa. Paling kuat pun cakap, “Eh, dia kat luar pakai purdah tau.” Tapi ayat tu normal la. Bayangkan, kalau kita tetap degil nak pakai. Bos bagi surat amaran, pekerja-pekerja pun ngomel, “Dia ni tak faham bahasa ke? Purdah tu bukan wajib pun, sibuk nak pakai.” Kemudian si purdah dilabel ‘Si Degil’. And kalau ramai si purdah buat macam ni,maybe pihak atasan akan mula tapis untuk ambik si purdah sebagai pekerja. Tak kenaya semua orang? Dan bagi saya kalau nak pakai jugak, buatlah surat pengecualian. Guna jalan baik. Jangan memberontak, ikut kepala kita sendiri. Contoh lain waktu security check kat airport. Kita perlu tolerate dengan sistem keselamatan. Alasan ini dah cukup munasabah. Cadangannya, cuba mintak untuk disediakan security guard perempuan. ************* Saya rasa, ni jela yang saya nak kupas harini. Mudah-mudahan bermanfaat, mudah-mudahan si purdah dan bakal si purdah faham betul-betul tentang etika purdah ni. Tolong kaji dan fahami sepenuh hati tentang purdah. Lepas tu nak pakai, pakai la. Biar kita pakai dengan ilmu penuh kat dada. Bila orang tanya nanti, takde la tersedak, terkilan. Jangan jadi nila setitik yang merosakkan susu sebelanga. Kerana seorang si purdah yang cacat cela berpurdah tanpa ilmu, masyarakat hukum semua si purdah yang ada depan mata. Pegang erat-erat pernyataan ni. “Bidadari dunia tidak memandang dan tidak dipandang.”

Kepada Nona Calon Pengantin; Izza

Hai Nona. Apa kabar malam ini? Apakah kamu merasa tidak menentu?
Oh sabarlah, besok pagi semua rasa tidak menentumu akan terbayar. Setelah SAH maka kau bisa bernafas lega. Sebentar lagi, hanya hitungan jam insyaa Alloh.

Oh, rasanya tidak percaya. Masih tidak percaya rasanya bahwa kau esok akan melangsungkan pernikahan. Berubah status menjadi seorang istri!
Rasanya baru kemarin kamu merengek manja, berkeluh kesah masalah remeh temeh organisasi. Atau tentang teman-teman yang berlalu lalang dalam hidupmu.

Rasanya baru kemarin, aku menuruni tangga Akobang dan main di kamarmu. Bercerita entah apa saja.

Kamu, Nona. Masih kecil saja dalam ingatanku. Nyatanya, sepertinya aku sudah terlalu lama tak berada di sampingmu. Nyatanya, sepertinya aku sudah melewatkan terlalu banyak prosesmu bertumbuh. Nyatanya, kamu telah tumbuh menjadi kembang yang siap di petik sang pangeran.

Nona, maka esok, laki-laki itu akan menjadi suamimu. Mengambil tanggung jawab ayah-ibumu atasmu. Maka berbaktilah kepadanya. Diawal kamu mungkin akan sedikit susah memahaminya seratus persen. Pertengkaran-pertengkaran kecil mulai muncul. Beberapa sisi negatifnya mulai terlihat. Tapi percayalah, itu wajar karena kalian masih berproses untuk saling mengenal. Dan tentu saja, nyatanya tidak hanya sisi negatif suamimu yang mulai muncul. Tapi percayalah, sisi negatif kitapun mulai nampak di mata suami kita. karena menikah memang tidak untuk menjadi sempurna. Tapi menikah adalah untuk saling memahami, bekerja sama, bahu-membahu menuju jalan ke Surga. Maka jalannya tentu tidak akan sangat mulus. Hari-harimuu mungkin tidak akan setiap hari terasa romantis. Pagi-pagi memasangkan dasi, mengantar suami kerja. Sorenya minum teh bersama di beranda. Begitu setiap hari.
Tidak. Karena pernikahan kita haruslah menjadi pernikahan dakwah. Yang bermanfaat untuk umat. Maka mungkin kamu harus menunggu suamimu pulang larut karena halaqah. Atau tiba-tiba tidak bisa pulang cepat karena harus mengisi kajian. Atau suamimu lupa meminum teh yang kamu buat karena sibuk menyiapkan materi ta'lim. Jangan bersedih. Karena semoga kelak diakhirat kita bisa mencecap manisnya buah perjuangan di dunia. Maka jangan pernah berhenti berbuat baik dan bermanfaat. Justru setelah menikah kau harus berlipat-lipat menjadi baik, bersamanya.


Nona, rasanya ingin memelukmu, tapi kita terlalu berjauhan jaraknya. Ku kirim doa dari pulau seberang. Semoga esok lancar dan barakah.

–depi—
20.50 WITA
Kutai Kartanegara

Andaipun Tidak...

Oh Allah, 

Engkau Maha Tahu atas apa yang kuimpikan, atas apa yang kuinginkan, dan begitu kudambakan. Engkau menjadi saksi ketika aku merenung dan mulai merajut asa. Engkau pula yang menjadi saksi niatanku dan segenap usahaku untuk mencapai apa yang kumau. Dengan mengucap NamaMu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kumulai perjuanganku. 

Oh Allah, 

Pada perjalanannya, Engkau telah menyaksikan pula bagaimana usahaku. Betapa payah perjalananku, karena harus kumulai dengan meyakinkan diriku sendiri. Betapa tidak mudah langkah selanjutnya, tentang bagaimana aku membangun pola pikir, melawan kebiasaan buruk dan membuka pergaulan positif yang lebih luas. Kadang kuakui aku begitu malas, hanya diam dan berharap, lalu kadang merasa kalah bahkan sebelum bertanding. Hanya dengan ilham dariMu, aku bergerak lagi, aku memilih untuk bangkit lagi. 

Oh Allah, 

Telah kusiapkan rencanaku, mimpiku telah kutuliskan dengan sepenuh perasaan. Apa yang akan kulakukan esok menjelang hingga tahun-tahun mendatang telah pula kusiapkan. Akan kukejar segala kesempatan, akan kulakukan syarat apapun untuk mencapai impian. Tak kurang pula dukungan orang tua dan keluarga tersayang telah kudapatkan, tak lagi ada halangan dan rintangan berarti, sepertinya. Hingga nanti kulewati itu semua dan selanjutnya tinggal berharap padaMu, sepenuh-penuhnya. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau kabulkan keinginanku, maka Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untukku. Tolong gantikan yang lebih baik bagiku, atau sadarkanlah aku bahwa ternyata bahwa ada jalan lain yang harus kutempuh terlebih dulu. Entah jalannya yang akan memutar, sebab niatku yang salah, ataukah karena inginku yang terlalu duniawi… Engkaulah yang memberikan petunjukNya, maka kuatkan aku untuk nanti menerima apapun takdirmu. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau restui mimpiku, maka tukarlah air mataku saat itu dengan kebahagiaan di suatu saat nanti. Terimalah setiap ucapan bismillah-ku ketika memulai segala sesuatunya, hingga kau hitung ia menjadi sejuntai pahala. Hidupkan kembali hatiku yang pasti kecewa itu, untuk kembali bangkit dan berusaha. Karena Engkau Maha Tahu yang terbaik, aku percaya. Bimbinglah aku untuk mengetahui rahasia apa yang Kau simpan dibalik itu semua. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau jawab inginku, maka ajari aku untuk belajar apa itu ikhlas dan mengikhlaskan. Atas apa yang kau beri, terlampau besar dari apa yang aku inginkan. Kebahagiaanku tak berasal dari inginku, tak berasal dari tujuanku, tak berasal dari perjuanganku saja, melainkan semata-mata karena ridha-Mu. Lapangkanlah hatiku, semoga Engkau kuatkan aku untuk terus berharap padaMu. 


Aamiiin.


Bandung, 10 Juni 2016

The Way I Lose Her: Perihal Dada.

Yang paling aku takutkan dari perjumpaan adalah, kenyataan bahwa kau lupa pernah sebahagia apakah kita.

.

Sehebat apapun status gue di warnet, itu semua sirna jika gue sudah masuk ke dalam sekolahan ini. Gue harus terima bahwa sekarang gue adalah seorang junior unyu bercelana biru dengan sabuk tengkorak di tengahnya.

Hal ini yg menyebabkan gue nggak berani untuk menatap lama-lama kearah tatapan kakak keamanan yg sedari tadi melihat tajam kearah gue. Karena tidak bermaksud untuk kasar, gue mencoba untuk tidak sesering mungkin membalas tatapannya. Ntar kalau doi jatuh cinta karena tatapan gue, siapa yg salah coba?

Gue mencoba kembali untuk mengingat siapa kakak perempuan ini. Rasa-rasanya gue pernah berjumpa sama doi, tapi di mana ya. Kok gue jadi pelupa gini sih, mukanya gak asing padahal. Kapan gue ketemu kakak keamanan yg ini ya?

Ketika pikiran gue tengah berkutat untuk mengetahui siapa sebenarnya seseorang yg menatap gue penuh benci itu, mendadak May menegur dari depan gue. 

“Kamu ih, lagi liat apaan!” ucap May sedikit berbisik kepada gue di belakangnya ini yg tengah menunduk karena mencoba mengingat sesuatu.

“ee..eh? engga gak liat apa-apa, kenapa emang?” jawab gue kaget.

“Alah, cabul deh, kamu dari tadi ngeliatin ‘belakang’ aku kan?!" 

"ASTAGFIRULLAH!! APAAN?! PITNAH ITU PITNAH!!” Jawab gue sontak karena merasa terdzolimi 

“Hih, semua cowok yg ketawan juga pasti bilang hal yg sama. Udah deh, dasar. Cowok sama aja, jelalatan” May kembali berjalan cepat sambil menutup daerah montok di belakangnya itu dengan kedua tangannya meninggalkan gue dengan mulut terbuka karena difitnah dengan tega.

Dan ternyata gak begitu saja , temen-temen yg pada berjalan di samping gue pun langsung memandang sinis kearah gue.

Ah setan!
Gue difitnah! Udah difitinah, diliatin kakak keamanan, terus dipandang sinis sama temen-temen baru lagi ah. Kalau tau kejadiannya kaya gini, bakal bener-bener gue liat aja tuh 'belakangnya’ May. Badan semok May yg kaya botol Aqua itu bakal gue abadikan dalam folder “Serba-Serbi Tajil Buka Puasa” di otak gue.

Kan mubazir kalau kaya gini jadinya.
Mirip kaya cewek lagi puasa, terus menjelang buka puasa, dia mendadak datang bulan. Sakitnya tuh di sini..


Akhirnya, gue yg dipandang sinis sama temen-temen ini hanya bisa tertunduk semakin lesu di belakang barisan sambil mengusap air yg keluar dari mata dan hidung. Gue berjalan lunglai menuju sebuah kelas di mana kita akan berkenalan antara satu dan yg lainnya.

Dan gaes.
Di sinilah semua cerita akan berawal.

.

                                                                  ===

.

Kelas yg akan gue huni untuk periode satu minggu ospek ke depan adalah sebuah kelas yg masih berbentuk bangunan Belanda pada tahun itu. Bentuknya seperti yg sudah gue jelaskan dulu, pintu kayu ciri khas Belanda, jendela bangsal yg besar-besar, tembok penuh dengan retakan dan gambar pisang dan terong-terongan, serta lampu gantung yg konon katanya sering dihinggapi mahluk halus untuk sekedar duduk-duduk di situ.

Sebagai seseorang yg memang malas untuk bersosialiasi dengan lingkungan baru, gue memilih untuk duduk di belakang. Selain karena nggak harus terlalu sering bercengkrama dengan kakak pembimbing senior, duduk di belakang adalah salah satu cara para siswa untuk bisa melihat seisi kelas dengan sudut yg lebih luas.

Mengetahui nilai siswi mana yg paling cantik. Apa kebiasaan mereka. Dan kalau beruntung, kalian bisa tau pembicaraan apa yg sedang menjadi trending topic bagi mereka. Yang mana itu bisa membuat kalian dengan mudah untuk berkenalan dan berhubungan lebih lanjut dengan mereka. Begitu kata Kamus Don Juan Nomer Pasal 1 ayat 10. Tentang “First Step Being Awesome”.

Di sekolahan ini, satu meja bisa diisi oleh 2 orang murid. Dan dengan wajah gue yg emang terlihat menyebalkan ini, para siswa lainnya jarang ada yg memilih untuk mau duduk di bangku sebelah gue. Kadang, memiliki tampang menyeramkan adalah keuntungan untuk seseorang yg malas berkomunikasi di tempat baru seperti gue ini.

Hal ini terus berlanjut untuk beberapa waktu. Tidak dapat dipungkiri, para siswa itu pasti 90% pengen duduk di belakang semua, dan oleh sebab itu pula gue banyak melihat para siswa yg ingin duduk di sebelah gue ini terpaksa mengurungkan niatnya.

Damn! Im proud to my self!

Hingga pada akhirnya, datanglah bencana.


Seorang siswa datang menghampiri bangku yg ada di sebelah gue ini dan bertanya, “Sorry, tempatnya ada yg pake ga?”

WTF?! Seriusan nih? Gila, gue kira orang-orang pada males ngeliat muka gue, ternyata nih anak santai-santai aja.

“Yoi, kosong kok” Jawab gue sembari memindahkan tas yg sedari tadi menclok di bangku tersebut.

Gue gak melanjutkan berkenalan dan berbicara panjang lebar dengan seseorang yg baru saja duduk di sebelah gue itu. Karena alasan yg pertama adalah dia itu cowok, dan yg kedua adalah karena memang pada dasarnya gue paling males ngobrol. Apalagi sama cowok. Hih..

.

                                                        ===

.

Acara dimulai dengan perkenalan oleh kakak mentor kita yg terdiri dari satu kakak senior cowok dan satu kakak senior cewek. Dan sialnya, saat itu kakak senior cewek gue nilainya di bawah rata-rata. Hal ini membuat semangat gue untuk ikut ospek turun 2.45%.

Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan satu persatu siswa dan siswi yg ada di sana. Oke, sesuai kamus besar Don Juan, ini adalah saatnya memilah-milah mana siswi baru yg kualitasnya setara dengan Jam Tangan Swarovski.

Satu yg tak boleh seorang pria lakukan adalah tidak mengingat nama wanita. Mengetahui nama wanita tersebut lebih dulu saat berkenalan adalah nilai tambah, yg mana ini menjelaskan bahwa bagi mereka, kalian itu memang memperhatikan hal-hal kecil.

Maka dari itu, tiap ada cewek yg maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, gue langsung duduk dengan sikap sempurna, membusungkan dada, membetulkan posisi kalau-kalau nanti ada yg mengganjal, dan mencoba memperhatikan dengan seksama.

Berbeda dengan temen sebelah gue ini, doi malah asik sibuk sendiri berkenalan dengan para pria lainnya. Bah, gue satu bangku sama homo.

Dan setelah beberapa siswa dan siswi berlalu, kini hampir datang giliran gue untuk memperkenalkan siapa diri gue sebenarnya.

I’m Batman!

krik…

Oke lupakan.

Gue sudah menyiapkan beberapa kata pembuka, sedikit lawakan, dan perkenalan yg menyenangkan untuk menghapus image CABUL yg dengan manisnya gue dapatkan dari May di depan anak-anak lainnya tadi.

Asem!

Setelah gue bersiap-siap sambil mencoba menenangkan diri dari rasa grogi ini, mendadak dari arah pintu terdengar suara gebrakan yg sangat keras.

BRAK!!

Pintu ditendang dengan kasar. Gue kaget-kaget ganteng. Gue mencoba memeluk may. Tapi doi sudah mengacung-acungkan cutter kearah gue. Gue takut. Gue gak mau disunat lagi. Akhirnya gue urungkan niat untuk memeluk May.

Dari arah pintu, muncul wajah yg nggak asing lagi diiringi 2 cowok-cowok yg wajahnya mirip Layar Gembot. Sialan, itu kan kakak keamanan yg ngeliatin gue waktu baris tadi. Ah, apa lagi ini. Please jangan gue lagi.

.

                                                           ===

.

Suasana hening.
Dentuman detak jam dinding seakan menjadi terlalu berisik.
Suara anak-anak yg lagi maen perang Sarung di toa masjid aja sampe kedengeran saking heningnya ruangan ini.


“YG MERASA SALAH, MAJU KEDEPAN!!” mendadak sang cewek jutek menggebrak whiteboard.

Shit. Siapa nih? emang ada anak baru yg namanya “salah”?
Oi! yg namanya SALAH, maju kedepan woi! ketimbang kita kena semprot.

“OH JADI GAK ADA YG MERASA SALAH DI SINI?!” Tanyanya lagi

Astaga, kalau cari anak baru yg namanya “salah” sih cek aja absensi kelasnya keles. Gitu aja kok repot, dasar cewe, drama!

“OKE, SAYA MINTA YG NAMANYA DIMAS!! MAJU KE DEPAN!”

WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAT?!?!?!!?
GUE LAGI?!?!
ASTAGAAAAAA!!! SAOS TARTAR!!
DEMI NEPUTUNUS! SALAH GUE APA LAGI SEKARANG?!

Butuh 1 menit untuk gue agar tersadar dari shock therapy yg baru saja gue alami. Sekarang semua mata tertuju ke gue. Mata para kakak pembimbing, para kakak keamanan, para cewek, dan para pria. Gue serasa Ariel Noah waktu videonya bocor di internet.

Setelah kejadian tadi pagi, tadi siang, dan sekarang, rasa-rasanya gue jadi gak pengen sekolah di SMA ini lagi. Masa baru pertama masuk gue udah kena 3x semprot sih?! Gue di dzolimi, gue anak sholeh! gue udah tamat baca Iqro 4x!!

Akhirnya setelah dibentak sekali lagi, gue pasrah dan maju kedepan dengan lunglai. Suasana sangat mencekam. Seandainya ada kamera cctv, gue pasti udah melambai-lambai meminta untuk menyerah.

Gue disidang di depan kelas. Semua mata kini semakin fokus kearah gue. Para keamanan ada di ujung kelas, di ujung pintu, dan satu lagi yg cewek duduk di meja yg ada di depan gue.

Ini sih tinggal gue dikasih helm yg ada senternya, lilin, sama cemilan. Udah deh cocok gue ikutan uji nyali.

Gue gak berani menatap kakak keamanan ini. Gue cuma menatap dengan tatapan kosong kearah depan. Kakak keamanan yg cewe ini dengan sinisnya menatap gue, mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.

“Kamu tau salah kamu apa?!” Jawabnya pelan tapi menyeramkan. Mirip ketika Dona Arsinta sedang menjadi narator pembuka acara gosip SILET di RCTI.

“Ngg.. maaf kak, saya tidak tau”

“OH JADI KAMU GAK TAU SALAH KAMU APA HAH?!” Mendadak kakak keamanan di depan pintu yg mukanya mirip Rujak Cingur itu menghampiri gue.

“KAMU HARI PERTAMA SUDAH BIKIN PERKARA LAGI, DEK!!" 

Buset, nih orang ngomong begituan tepat 10cm dari muka gue. Air ludahnya muncrat kemana-mana. Ah sialan, gue harus wudhu pake tanah kalau gini caranya.

"Kamu inget saya gak?!” Tanya kakak kemananan cewek

“Ngg… anu.. nggg”

“ALAH SOK SOK LUPA KAMU HAH!!!" 

oi setan! gue emang bener-bener lupa nyet!

"KAMU KAN YG TADI PAGI NGELIATIN DADA SAYA DI DEPAN GERBANG SEKOLAH?!!" Bentak kakak keamanan cewek.

eh? Dada?
Haaaaaaaaaa gue inget gue inget, dia ini kakak keamanan yg gue godain di depan gerbang itu. Oh pantesan rasa-rasanya gue pernah liat. Hmm siapa ya namanya, kalau gak salah namanya.. ngg.. ah! HANA!!

"Ngg.. kak hana kan ya?” Kata gue mencoba berbaik hati.

“NAH ITU INGET, TADI KATANYA LUPA, PEMBOHONG!!” Jawabnya membentak tepat di depan muka gue

Lha emang siapa juga yg ngomong kalau gue lupa? Kan gue belum sempat ngomong tadi? yeeee gue cium juga ah lo. Bawel amat.

“NGAPAIN TADI PAGI KAMU NGELIAT KEARAH DADA SAYA!” Tanyanya membentak lagi.

.

What?!
Gue ngelihat dada?!
Apa-apaan?!
Gue kan cuma liat papan nama!!
INI PITNAH!!

“Ngg.. kak, aku cuma liat papan nama kakak kok” Jawab gue gugup

“BOHONG!!" kata kakak keamanan cewe.

"HOAX!!” kata kaka cowok pertama

“OMDO!!” kata kakak cowok kedua

“BARU JADI ANAK SMA KELAS 1 AJA UDAH BERANI MELAKUKAN TINDAK ASUSILA YA KAMU!!" ujarnya.

"Mulai besok, sekali lagi kamu buat kesalahan sama saya, bakal saya cari kamu!! KAMU INGET NAMA SAYA GAK?!”

“Ngg.. kak Hana kan?” gue menjawab pelan

“HANADWIKA ARSYITA, INGET ITU!" bentaknya.

"i..iya kak..” gue pasrah.

.

                                                           ===

.

Setelah memperkenalkan nama lengkapnya, Kaka keamanan yg bisa dibilang cukup manis itu meninggalkan gue. Seisi kelas masih terlihat hening selepas kepergian mereka.

Mata mereka menatap kakak keamanan yg berjalan kearah pintu itu secara perlahan. Dan ketika kakak keamanan terakhir menutup pintu dengan keras, kini semua tatapan mata mengarah ke gue lagi.

Gue cuma bisa menatap kearah mereka pelan-pelan..

kemudian..

“CABUUUUUUULLLLL!!!!!" 

Satu kelas sontak berteriak hal yg sama kearah gue. 
AAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK EMAAAAAKKKK GUE PENGEN PULAAAAAANG!!! :((((

.

.

.

                                                Bersambung

Handshake = Bersalaman…

Sebetulnya bersalaman dengan lawan jenis (yang bukan mahram) boleh ga sih?
Ato selama ini kita terima-terima aja dengan apa yang dilakuin orang-orang di sekitar kita, tanpa mempertanyakan hukumnya? Padahal ini termasuk hal yang penting lo, walaupun sebagian orang menganggapnya hal yang remeh…

Di lingkungan kita saat ini masih banyak orang-orang yang bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Baik teman kita, saudara kita, tetangga kita, orang-orang dipinggir jalan, orang-orang di tengah jalan (naik mobil maksudnya), dan lain-lain. Padahal hukumnya adalah GA BOLEH, alias haram. Kalau ingin tau dasarnya, sebenernya banyak kalo mau cari terutama di Mbah Google. Atau tanya Ustadz yang ada di daerah kita, karena itu yang lebih utama.

Tapi di sini saya ingin menyampaikan dasar yang umum saja berupa hadits, yaitu:
(1) Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam riwayatShahihain, beliau berkata :
“Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan".  *Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim(13/16): “Dalam hadits ini menjelaskan bahwa bai’at wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan”.
(2) “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian jika ditusuk dengan jarum dari besi , itu lebih baik baginya daripada menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya”, (HR. Thabrani dan juga Baihaqi).

Lalu ada juga analogi yang menarik mengenai salaman ini. Suatu hari ada lelaki Inggris bertanya kepada seorang Syekh
Seorang lelaki Inggris bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan dengan lelaki?”
Syeikh menjawab: “Dapatkah Anda berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth?”
Lelaki Inggris itu menjawab: “Oh tentu tidak boleh! Cuma orang-orang tertentu saja yang dapat berjabat tangan dengan Ratu.”
Syeikh tersenyum dan berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan lelaki sembarangan—yang bukan mahramnya.”

Mungkin dalam diri kita sulit menerima hal ini atau bahkan sampai beranggapan ini terlalu ekstrim. Padahal di sinilah indahnya. Di sinilah salah satu letak bahwa Islam itu sangat memuliakan wanita. Ibarat mendaki gunung, justru ketika kita menempuh kesulitan atau bahkan hingga keadaan ekstrim sekalipun, keindahanlah yang menunggu kita pada puncaknya.

Sabarkanlah diri kita
Hingga saatnya nanti tiba
Pertahankanlah kehormatan kita
Hingga janji suci terucap nantinya
Demi membangun cinta yang sempurna
Demi mendapatkan pasangan hidup yang setia

Karena Allah menciptakan ruang-ruang jari berharga
Agar seseorang yang menurut kita istimewa
Dapat datang dan mengisinya
Dengan memegang tangan ini selamanya

Selain itu pasti kita juga bertanya-tanya tentang hal selanjutnya yang berkaitan dengan salaman ini, seperti bagaimana jika dokter yang menyentuh pasien, dan lain sebagainya. Dan mohon maaf jika dalam tulisan ini tidak bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang sedemikian rupa, karena hal ini diluar kemampuan penulis. Yang pasti, Allah akan memberi kemudahan untuk hal-hal yang darurat bagi kita.

Maaf jika ada salah kata.
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam bissawab.

*Photo by The Muslim Show

Rupanya aku tau terlebih dahulu

Dan anehnya setelah aku menimbang-nimbang akan menjadi apa hasil akhir dari skenarioku

Sama seperti rencanaku

Oh, tidak! Maksudku. .
Memang manusia begitu
Dimana mana juga begitu.
Wajarlah bila begitu.

Toh, seharusnya dewasa ada padaku
Dengan berucap “buatlah cerita baru. Dan Pastinya tanpaku”

Haha,


Oh, tak apa.
Tidak perlu kau khawatirkan aku.
Lagipula tertawa itu selalu khasku.
Yasudah, aku pamit pergi dulu.