oh tidak

Andai Saja Mampu

Berapa banyak pengandaian yang kerap kuberikan atas rasaku padamu?
Oh mengertilah, aku tidak sedang bertanya padamu.
Aku hanya sedang bertanya pada diriku sendiri,
jadi tenanglah dalam perjalananmu.

Lucunya di setiap pengandaian itu, aku bagaikan dua sisi mata uang.
Yang satu begitu percaya semesta akan mengabulkan andai itu,
yang satu lagi begitu yakin tak akan pernah sedikit saja dirimu menoleh.

Bicara perihal merelakan,
percayalah aku sedang mencobanya.
Karena untuk yang satu itu,
kurasa sepanjang waktu adalah hari untuk mempelajarinya.

Untuk kamu yang selalu kujatuhi kalimat andai di dalam kepala,
berbahagialah dengan apa pun yang saat ini tengah berada di genggaman.
Sebab kurasa, tugasku telah usai untuk terus menjagamu.
Karena kali ini, nampaknya aku ingin menyudahinya.

Segalanya, apa pun itu, tentangmu.
Dan kuharap bukan lagi andai aku mampu melakukannya,
karena memang sudah seharusnya aku seperti itu.

Hujan Mimpi
November 2017

Aku tidak pernah menuntutmu untuk mengerti

Apalagi berusaha untuk membuatmu mengerti tentang kegelisahanku yang membuatmu lelah dan kebingungan

Aku tidak pernah baik-baik saja, tapi ingat, itu bukan karenamu

Kamu adalah hal terindah yang pernah kumiliki di tengah kekacauan hidupku, mana mungkin kegelisahanku itu tentangmu

Ada sesuatu yang kelam, yang belum siap aku bagikan kisahnya kepadamu

Bukan, bukan karena aku tidak mempercayaimu, aku tahu kita telah tujuh bulan bersama tapi masih ada saja yang kusembunyikan

Aku takut, kamu akan pergi setelah mengetahuinya

Oh ya, sekarang tidak ada bedanya, cerita ataupun tidak kamu tetap pergi karena lelah

Tidak apa-apa, mungkin ini yang terbaik, jadi kamu tidak perlu repot-repot terbebani dengan hadirku dan cerita kelamku. Selamat malam, semoga kamu berbahagia, aku pamit dulu.

— PenggemarBuahPeach

Itu.. Serius Anak SD? Kok Bisa.. ????

#TRUE STORY#

Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah. Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.

Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah. Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.

Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya. Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.

Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.

“Berapa harganya Nek?”
“Satu plastik kue Lima ribu, nak”, jawab si nenek.

Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :

“Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi.”

Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya :

“Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit.” Si nenek langsung jalan.

Refleks aku panggil anak lelaki itu.

“Siapa namamu ? Kelas berapa?”
“Nama saya Radit, kelas 2, pak”, jawabnya sopan.
“Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?‘”

” Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah.”
“Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?”, tanyaku semakin tertarik.

“Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak”, anak SD itu berbicara dengan fasihnya.

Aku pegang bahu anak itu :

” Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?”
“Ketika saya masih TK, pak”

Tak terasa air mataku menetes :

“Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya…”, kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.

Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata :

“Terima kasih banyak, Pak… Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan… Tapi bapa punya keluarga…. Saya pamit balik ke kelas Pak”.

Radit menyalami tanganku dan menciumnya.

“Allah menjagamu, nak ..”, jawabku lirih.

Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya.

Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya. Kasir menjawab : ” Empat puluh ribu rupiah..”

Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : ” Ini saya yang bayar… Kembaliannya berikan kepada si nenek ini..”

“Ya Allah.. Pak…”

Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik… Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.

Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.

Sahabat ada kalanya seorang ank lebih jujur dri pada orang dewasa,ajrkan lah ank2 kita dri dini tindakan nyata yg bukan teori semata.


#TRUE STORY#

Ada orang yang mengaku sangat menyesal sudah menyakiti kamu. Tapi mengapa ia tidak juga berubah?

Oh… ternyata memang sudah tidak sayang atau sedari awal memang tidak pernah benar sayang. Pantas.

—  Tia Setiawati

anonymous asked:

Dia yang sama sekali tidak menunjukan rasa kagumnya padamu. Dia yang setiap sajaknya, selalu terselip cerita tentangmu. Dia yang malu malu mendoakanmu, untuk segala kebaikanmu. Jika hari dia dan kamu bertemu, akankah kamu menerimanya?

Mungkin pada awalnya aku tak tahu siapa dia, namun bila pada akhirnya aku tahu maka cukuplah kusembunyikan hatiku yang berbunga-bunga karenanya.

Menerimanya? Oh tidak…

..Tidak akan aku biarkan ia yang harus tersipu untuk memintaku lebih dulu. Sebagai lelaki, biarkan aku yang memintanya untuk menerimaku.

TENTANG LELAKI YANG MANIS PADA SEMUA PEREMPUAN

Ada alasan kuat mengapa saya sempat posting beberapa twit khusus mengenai judul postingan ini.

Banyak perempuan kebingungan saat pasangannya bersikap seperti judul di atas. Karena di satu sisi, mereka banyak sakit hati, cemburu, dan perasaan tak menyenangkan lainnya. Di sisi lain, mereka pernah juga terbawa arus pasangannya, karena sering disebut ‘perempuan pecemburu’. Sehingga, rasa sakit itu sering dipendam sendirian saja, lalu mengendap. Oh, beberapa sih tidak mengendap, tapi keluar dengan begitu buruk. Berkonfrontasi dengan perempuan lain, tetap saja tidak keren, menurut hemat saya.

Jadi, begini kita-kira isi twit saya beberapa hari lalu.

Lelaki sejati tahu harus bersikap selayaknya pada perempuan yang bukan siapa-siapanya. Lelakimu manis sama semua perempuan? Goodluck ya.

Pikir-pikir lagi kalau punya calon suami yang manis sama semua perempuan. Eh ini serius. Kebiasaan memang bisa berubah, tapi ya itu.. susah.

Kecuali kalau kamu siap sering-sering cemburu atau sakit hati. Atau bahkan kalau memang kamunya enggak masalah dengan itu.

‘Kebiasaan’ dibangun bertahun-tahun. Bisa beberapa, belasan, bahkan puluhan. Dan kamu enggak bisa maksa itu berubah cepat. Butuh waktu juga.

Linimasa twitter @TiaSetiawati, 4 Agustus 2015

Pokokya tolong diingat, walau memang akan ada turun-naik dalam sebuah hubungan, hindari memilih untuk bersama seseorang yang membuat kamu lebih sering merasakan sakit, dibanding bahagia.

Hey perempuan, iya, kamu! Pikir lagi dong. Pikir lagi. Itu lebih baik dibanding tergesa-gesa, dan malah berakhir dengan orang (pria) yang salah.

Okay? Bahagialah. :)

Salam

- Tia Setiawati

Selamat Hari Kartini Untuk Kekasihku dan Ibuku

Sepertinya hal ini terlalu receh untuk saya tuliskan mengingat saya benci dengan ritual membosankan perihal euforia perayaan hari kartini yang pernah saya ikuti sepanjang hidup saya dan tentu saja yang tidak pernah berubah dari masa, selalu saja seperti itu, lomba memasak, lomba kecantikan, lomba bersolek dan lomba lomba yang katanya “ala ala perempuan pada umumnya”, seolah perempuan hanya sebatas itu, seolah olah hanya hal-hal seperti itulah yang layak dan bisa dilakukan oleh seorang perempuan.

Tapi semua hal membosankan itu tiba-tiba hilang ketika saya membicarakan dua perempuan dalam hidup saya. Iya, kekasih saya dan ibu saya. Akhirnya untuk pertama kali dalam hidup saya, saya bisa mengucapkan, “Ya ampun pacaran ternyata enak banget”.

Ibu saya, dia adalah perempuan pertama yang mengajarkan kepada saya bahwa perempuan dan laki-laki itu memang setara, dia yang mengajarkan kepada saya bahwa sebuah barang itu “genderless”, anak perempuan boleh bermain mobil-mobilan atau robot robotan, begitu juga sebaliknya, anak laki-laki tak akan menjadi lemah hanya karena menonton film cinderella. Dia adalah perempuan yang selalu sigap bergotong royong dengan saya untuk membetulkan genting yang bocor ketika hujan sedang deras-derasnya, dia adalah perempuan pertama yang mengajarkan saya untuk memaku dinding, mengecat kayu dan segala macam hal yang katanya “pekerjaan laki-laki”. Dia yang mengajarkan kepada saya segala hal itu ketika ayah saya sedang berada di luar kota, toh jika ayah saya pulang, makanan yang tersaji di meja makan selalu saja lebih bervariasi.

Tebak siapa yang memasak?Ya, ayah saya yang memasak, dia lebih banyak memasak dengan berbagai menu makanan jika sedang di rumah.

Terbalik? Oh tidak, di rumah saya tidak pernah mengenal istilah pekerjaan laki-laki dan perempuan.

Kekasih saya, dia adalah perempuan kedua setelah ibu saya yang mengajarkan saya tentang bagaimana seharusnya perayaan katini dilakukan dengan tidak receh. Melalui waktu dengannya adalah sebuah perayaan hari kartini yang hakiki bagi saya setiap harinya. Dia tidak pernah sekalipun mengeluh untuk didahulukan hanya karena dia seorang perempuan, dia yang membuat saya semakin percaya bahwa perempuan tak hanya sebatas bisa memasak dan pandai bersolek, dia tak pernah mengeluh kita mengerjakan sesuatu sendirian.
Dia yang mengajarkan kepada saya bahwa perayaan kartini sejatinya tak hanya untuk perempuan, tapi juga untuk laki-laki.

Tak perlu saya susah payah menuliskan narasi bahwa tempat perempuan itu adalah di garis depan perlawanan. Dua perempuan tadi bagi saya sudah cukup mewakili narasi besar tersebut.

“Kartini itu di otak, bukan di pakaian, bukan di kebaya, bukan di sanggul. Perjuangan kartini bukan perjuangan melawan laki-laki, tetapi melawan pola pikir yang bebal”

Selamat hari kartini, Kurnia dan Ibu saya, dan perempuan-perempuan hebat di luar sana.

Mencintai diam-diam.
—  Aku tak pernah mengatakan bahwa melakukannya terasa sulit. Sama sekali tidak pernah. Justru menyenangkan kurasa. Kenapa? Hidupku terasa warna-warni. Hanya dengan melihatnya dari jauh sudah membuat tubuhku menggigil gembira. Oh, itu masih tidak sederhana. Bagaimana hanya dengan berada di satu kota yang sama? Ya. Ini pun sudah dapat membuatku deg-degan parah, hahahah. Beda ceritanya jika dia tau aku menyukainya, melihatnya dari jauh kupikir akan terasa perih. Bukan begitu? Ya, seharusnya begitu.
pu!

bismillah ~

aku berjanji ini adalah tulisan ku yang terakhir tentangmu,

maka ijinkan aku untuk melepas semua setelah ini,

sebab ini adalah salahku, yang abai akan hati kecilku, yang abai terhadap beberapa hal dalam keyakinanku, sehingga aku sendirilah yang menanggung akibatnya.


aku bersyukur telah dipertemukan denganmu dalam satu lingkup , teringat kata mas kurniawangunadi “Allah mempertemukan dengan berbagai alasan, entah untuk belajar atau mengajarkan, entah sesaat atau selamanya, yang terpenting tidak ada yang sia-sia dalam setiap pertemuan karena Allah yang mempertemukan”.

Bagaimana aku bisa mengelak kalau bertemu denganmu adalah takdirku,

maka bertemu denganmu adalah ujianku.

akhirnya ku sadari, ujian adalah sesuai kadarku. apa yang tidak cepat naik turun kalau bukan iman ? apa yang mudah berbolak balik kalau bukan hati ? maka sungguh diluar kuasaku jika keduanya bertemu.

memang tidak mudah memaafkan, apalagi melupakan, kata orang maaf mungkin bisa, tapi lupa itu ‘mustahil’. bagiku, memaafkan dan melupakan itu satu paket. tapi aku percaya, atas ijin Allah memaafkan dan melupakan, aku bisa.

cukuplah,
beberapa petunjuk menguatkan ku, sungguh aku tak mampu membaca siapa yang akan menjadi takdirku,


tapi,
saat ini,
aku akan lanjutkan langkah, bebas, dan lepas, mulai saat ini aku tidak akan peduli dengan segala sesuatu yang berkaitan denganmu, aku akan meminta tolong kepada Rabbku, untuk memalingkan hati ini darimu,

aku yakin aku mampu,

teringat pesan cinta dari sahabatku, Re, sahabat yang selalu mengingatkan ku pada jalanNya,

begini..


“ Assalaamua'alaykum neng ..
Pagi yg cerah yaa ..
Semoga keberkahan hr ini bs memacu semangat berjuang u/ Move Up :D
Menundukkan pandangan, sgera beristighfar - istighfar - istighfar dan istighfar ketika mengingat si doi ..
Dan sgeralah beranjak melakukan kegiatan yg lebih bermanfaat ..

Allah yg Maha membolak-balikkan hati, perbanyaklah doa agar Dia memalingkan hatimu dari nya. Dari dy yg jika nanti pun ia adlh jodohmu, atw yg akan menjadi halal u/ mu ..
Engkau tdk perlu memperjuangkan jalan kehalalan dgn hal2 yg diharamkan
..

Kalo pun ia yg akan mejadi imammu, maka biarlah Allah yg mengatur perubahannya menuju kebaikan, membuatnya ia dtg pdmu dlm keadaan sholeh ssuai harapanmu, biarlah Allah yg mengerjakanNya untukmu ..

Dan jikapun ia bukan jodohmu, maka engkau tdk perlu terlalu pusing memberikan waktu dan perasaanmu u/ nya. Smoga dgn perjuanganmu menjaga diri, Allah membalasnya dgn sseorang yg jg menjaga dirinya dgn kesholehan, dan biarlah Allah yg mengatur pertemuan diantara kalian ..

Uhibbuki Fillaah ({})”

oh dear, engkau tidak perlu memperjuangkan jalan kehalalan dengan hal hal yang diharamkan.
dear, engkau tidak perlu susah payah ‘mempengaruhi'nya, serahkan pada Allah atas perubahannya dalam kebaikan jika akhirnya dia dan kamu akan menjadi kita.

saat membaca itu kira kira beberapa bulan yang lalu, nangis, aku cuma bisa nangis, tersadar bahwa langkah yang selama ini ku lalui adalah ‘keliru’.

pesan itu adalah cambukanku, pesan itu adalah penguatku, atas ijin Allah.

sekarang, dengan berbagai petunjuk yang selama ini ku abaikan, aku akan mengiyakan hati kecilku untuk pergi dari bayangmu,

selamat melanjutkan perjalanan, semoga kita makin menjadi pribadi yang lebih baik, dewasa, bertumbuh,

sekali lagi, selamat melanjutkan langkahmu, semoga kamu mendapat apa yang kamu inginkan,

dan Aku semoga mendapat yang terbaik.
aamiin.


terimakasih :)

ohhh Allah, aku semakin mencintaiMu.

ohh Allah, maaf atas segala ketidakmampuanku atas ujianMu.


yuk lepaskan!


bismillahirrohmanirrohim 🍃🍂

Di Indonesia, bisa menikah cepat seringkali dianggap lebih berprestasi dari pada yang tengah berjuang agar banyak bermanfaat bagi masyarakat. Lucu.
— 

Yang sedang berjuang menuju cita-cita dan berusaha memberi manfaat diburu-buru menikah. Tapi yang sudah menikah dan leyeh-leyeh tidak diburu-buru untuk memburu ilmu.

Alibinya sunnah. Alibinya ibadah. Seakan yang sudah menikah sudah pasti lebih baik dari pada yang belum menjalani. Padahal fakta di lapangan tidak selalu begitu. Bukankah setiap manusia bisa memilih jalan ibadahnya masing-masing tanpa perlu kita ikut pusing? Bukankah yang masih sendiri juga sedang berjihad memerangi hawa nafsunya? 

Memangnya, kita yakin bahwa ketika sudah menikah nanti, kita lebih bisa beribadah dengan baik dari pada ketika sendiri? Bagaimana jika keluarga yang dibentuk tidak dengan pondasi kuat justru menjadi benalu masyarakat?

Judging bahwa saya bukan ummat Rasul karena berkomentar sinis soal pernikahan? Oh, tidak. Tentu saja menikah itu harus, dan saya akan menikah, tidak lama lagi rencananya. Yang saya tidak suka hanyalah paradigma (sebagian) masyarakat Indonesia yang kebetulan tinggal di sekitar saya, itu saja.

Menikah memang ladang pahala. Tapi menikah juga bisa menjadi ladang dosa, sebab di saat yang sama banyak kemungkinan zalim di sana. Karenanya, tidak semua dari kita punya keberanian lebih untuk memulainya segera. Tidak semua dari kita diberi kesiapan dan kelebihan untuk memperolehnya, barangkali belum kuat menjalani.

Jadi, santai saja pada takdir orang lain, tidak usah berisik. Terutama jika kita tidak bisa bantu apa-apa. Barangkali hidupnya sudah riuh oleh takdir yang dia harapkan namun belum juga datang. Jadi kita tidak usah menambahkan beban, jika takbisa memberi bantuan.

Watch on nakindonesia.tumblr.com

Alasan Pengulangan Ayat pada Surat Ar-Rahman

Kaum musyrikin telah menjadi sangat keras kepala. Mereka tidak mau mendengar pesan Islam. Mereka berkata “Kami telah mendengarkan hal ini selama 10 tahun! Pesan yang sama yang diulang berkali-kali.” Bahkan Allah berkata, كَذَلِكَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ  “Kami terus mengubah ayatnya.” (QS Al-‘An`ām: 105)

Pesannya tidak berubah. Ayatnya berubah dan mereka berkata, “Kami sudah mendengar semuanya, hentikan, kami tidak ingin mendengarnya lagi.” Kami tak tertarik. Dan tidak hanya tak tertarik, mereka mulai menyerang Rasul (shallallahu 'alaihi wasallam).

(وَإِذَا عَلِمَ مِنْ آيَاتِنَا شَيْئًا اتَّخَذَهَا هُزُوً)

Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. (Al Jatsiyah: 9)

Mereka bukan hanya tak tertarik tetapi sekarang mereka juga memperolok Al Quran, ketika Al Quran dibacakan.

(لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ) 

“Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya” (QS Fushshilat: 26)

Sedangkan pada orang beriman dikatakan,

(وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) 

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik” (QS Al A’raf: 204)

“Fastamiuu”, maka dengarkanlah baik-baik. “Wa Anshituu”, dan berhenti bicara dan dengarkanlah. “Wa anshituu” dalam bahasa Arab berarti dua hal. Pertama adalah “Berhenti bicara (diam)”, dan kedua adalah “Dengarkan”. Keduanya. "Wa anshitu”. Kau tau..

Dan mereka berkata, “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya” Ini yang mereka katakan. Dengan kata lain mereka menjadi sangat keras kepala.

Sekarang saya memiliki sisa waktu dua menit. Saya tidak selesaikan pendahuluan saya, tetapi saya akan tinggalkan kalian dengan satu hal. Ketika kamu, para remaja.. ada berapa orang remaja di sini? *penonton menjawab* Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Oke, umumnya para remaja bermain sepakbola. Para remaja bermain bola basket. Para remaja berkumpul dan seseorang menabrakmu. Para remaja memiliki temperamen sangat panas. “Apa yang kamu lakukan?”. Dan mereka siap untuk berkelahi. Dan ketika mereka hendak berkelahi, temanmu mencegahnya,

“Jangan, jangan, semuanya baik-baik saja, tidak apa-apa.”

“Lepaskan aku! Grrrh!”

Kau tau, kamu masih ingin berkelahi. Jadi temanmu yang mencegah dirimu agar tak berkelahi berkata, “tenanglah”. Bagaimana mengucapkan “calm down” dalam bahasa Melayu? *penonton menjawab* Maaf saya tak dengar, lupakanlah. Saya akan membutuhkan waktu lama untuk mempelajari hal itu.

Oke, jadi.. “tenanglah!”. Sekarang temanmu berkata “tenanglah” berapa kali? Sekali? Ketika temanmu berkata, “tenanglah”, Kamu berkata, “Oh aku tidak sadar, aku seharusnya tenang. Aku perlu duduk dan minum teh sekarang. Kamu tak berbuat demikian karena kamu sedang gila pada saat itu. Temanmu berkata, “Tenanglah! Tenanglah! Hey! Tenanglah! Hey! Dengarkan saya! Santai, Santai! Dengarkan saya!”.

Dia mengatakannya 10 kali. Dan kamu masih dalam keadaan marah pada saat itu. Mungkin, mungkin kamu mendengarnya sekali. Mungkin. Dan kemudian kamu mendengarkan. Karena pada saat itu kamu sedang keras kepala. Ketika kamu keras kepala, kamu tak bisa diberi tahu sesuatu hanya sekali. Kamu harus diberi tahu berkali-kali.

Orang-orang Makkah telah menjadi apa? Keras kepala. Jadi Allah berfirman:

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

(فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ) Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Mungkin kamu akan dapat menerimanya sekali saja bila disebutkan berkali-kali. Kamu paham? Itulah gaya surat ini. Tetapi gaya ini ada karena suatu alasan. Karena surat ini berbicara pada jenis pendengar tertentu. Tidakkah itu mengubah pandanganmu terhadap surat ini?

-AA-

Cacat

Kesempurnaan itu hanya milik Allah, begitulah kalimat yang mungkin sudah sangat familiar kita dengar. Yaps, memang seperti itulah keadaannya. Memang seperti itulah kenyataannya. Bahwa dia yang menciptakan alam jagat raya dan seluruh isinya, dari dulu sampai saat nanti, semuanya diurus sendiri. Semua dikerjakan tanpa bantuan orang lain. Itulah kuasanya. Itulah bukti KeMahaBesarannya. Bahwa semua sudah sepatutnya bergantung padanya. Semua meminta padanya. Karena jika bukan kepada Dia, lalu akan meminta kepada siapa???

Coba sesekali kau tengok ciptaannya, adakah langit yang menjulang dengan tiang??? Oh tidak. Adakah kamu dapati bahwa air zam zam kenapa bisa mengalir tanpa henti dari dulu hingga saat ini dan nanti??? Semua itu menandakan kesempuraan ciptaannya dan kesempurnaan dzatnya yang memang Maha Sempurna. Kita makhluknya saja yang tak sempurna. Banyak kelirunya dan banyak salahnya.

Bahkan dalam hal kebaikanpun, kita diminta mengistighfari kebaikan itu toh siapa tau ketika melalukan kebaikan itu ada niat yang keliru atau caranya ga sesuai dengan yang diajar dan anjurkan. Maka dari itu, seusai sholatpun yang pertama kali diucap setelah salam adalah istighfar. Bahkan diakhir kita mencari ilmu, kita disunahkan membaca doa kifaratul majlis yang notabenenya adalah mohon ampun. Kita ini cacat. Kita ini ga sempurna. Maka dari itu, perlu adanya pengakuan akan itu semua. Dengan cara apa??? Dengan cara mengistighfari setiap apa yang kita lakukan.

Andaipun Tidak...

Oh Allah, 

Engkau Maha Tahu atas apa yang kuimpikan, atas apa yang kuinginkan, dan begitu kudambakan. Engkau menjadi saksi ketika aku merenung dan mulai merajut asa. Engkau pula yang menjadi saksi niatanku dan segenap usahaku untuk mencapai apa yang kumau. Dengan mengucap NamaMu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka kumulai perjuanganku. 

Oh Allah, 

Pada perjalanannya, Engkau telah menyaksikan pula bagaimana usahaku. Betapa payah perjalananku, karena harus kumulai dengan meyakinkan diriku sendiri. Betapa tidak mudah langkah selanjutnya, tentang bagaimana aku membangun pola pikir, melawan kebiasaan buruk dan membuka pergaulan positif yang lebih luas. Kadang kuakui aku begitu malas, hanya diam dan berharap, lalu kadang merasa kalah bahkan sebelum bertanding. Hanya dengan ilham dariMu, aku bergerak lagi, aku memilih untuk bangkit lagi. 

Oh Allah, 

Telah kusiapkan rencanaku, mimpiku telah kutuliskan dengan sepenuh perasaan. Apa yang akan kulakukan esok menjelang hingga tahun-tahun mendatang telah pula kusiapkan. Akan kukejar segala kesempatan, akan kulakukan syarat apapun untuk mencapai impian. Tak kurang pula dukungan orang tua dan keluarga tersayang telah kudapatkan, tak lagi ada halangan dan rintangan berarti, sepertinya. Hingga nanti kulewati itu semua dan selanjutnya tinggal berharap padaMu, sepenuh-penuhnya. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau kabulkan keinginanku, maka Engkau Maha Tahu apa yang terbaik untukku. Tolong gantikan yang lebih baik bagiku, atau sadarkanlah aku bahwa ternyata bahwa ada jalan lain yang harus kutempuh terlebih dulu. Entah jalannya yang akan memutar, sebab niatku yang salah, ataukah karena inginku yang terlalu duniawi… Engkaulah yang memberikan petunjukNya, maka kuatkan aku untuk nanti menerima apapun takdirmu. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau restui mimpiku, maka tukarlah air mataku saat itu dengan kebahagiaan di suatu saat nanti. Terimalah setiap ucapan bismillah-ku ketika memulai segala sesuatunya, hingga kau hitung ia menjadi sejuntai pahala. Hidupkan kembali hatiku yang pasti kecewa itu, untuk kembali bangkit dan berusaha. Karena Engkau Maha Tahu yang terbaik, aku percaya. Bimbinglah aku untuk mengetahui rahasia apa yang Kau simpan dibalik itu semua. 

Oh Allah, 

Andaipun tidak Kau jawab inginku, maka ajari aku untuk belajar apa itu ikhlas dan mengikhlaskan. Atas apa yang kau beri, terlampau besar dari apa yang aku inginkan. Kebahagiaanku tak berasal dari inginku, tak berasal dari tujuanku, tak berasal dari perjuanganku saja, melainkan semata-mata karena ridha-Mu. Lapangkanlah hatiku, semoga Engkau kuatkan aku untuk terus berharap padaMu. 


Aamiiin.


Bandung, 10 Juni 2016

Bagaimana Rasanya Meninggalkanku?

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sama
Berulang-ulang muncul di kepala

.
.
.

Bagaimana rasanya meninggalkanku?
Bagaimana rasanya hidup tanpa ada lagi aku?
Bagaimana rasanya meniatkan diri untuk mencari yang baru demi menggantikan aku?
Bagaimana? Bahagiakah?

Aku menuliskan ini bukan minta dikasihani
Oh. Tenang saja.
Aku tidak semenyedihkan itu
Namun aku tahu
Berpura-pura tak merasa terluka
Adalah lebih pelik dari luka itu sendiri

Maka inilah
Kutuliskan sesuatu yang tidak seberapa

. . .

Aku tak tahu bagaimana malam-malammu
Apakah sesuram malam-malamku?
Karena bila ya, oh tak bisa kubayangkan bagaimana pagimu

Aku tak tahu bagaimana mimpi-mimpimu
Apakah seburuk mimpi-mimpiku?
Karena bila ya, oh kasihan sekali kamu
Cukuplah aku saja yang terbangun sambil meratapi diri sendiri
Karena pernah setakut ini kehilanganmu

Aku tak tahu bagaimana selera makanmu
Apakah semenyedihkan selera makanku?
Karena bila ya, tak terbayang berapa kilogram berat badan yang hilang dari raga

Aku pun tak tahu bagaimana caramu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari orang-orang terdekatmu, perihal aku
Apakah sama sulitnya seperti aku menjawab pertanyaan-pertanyaan tentangmu?
Karena bila ya, dadamu pasti sering bergemuruh karena khawatir tiba-tiba

Banyak hal yang memang tidak pasti kutahu
Namun satu hal aku pasti tahu

: Mencintaiku, kau tak pernah bersungguh-sungguh.

Medan, 16 Maret 2016

- Tia Setiawati

David Karp’s Dillema

Saya pernah membaca bahwa jangan pernah menilai seseorang dari tulisannya. 

Sebab, tak sedikit seseorang menulis dengan pikiran dengan menyembunyikan perasaannya. 

Bagaimanapun juga, blog seperti tumblr ini adalah media umum. Setiap tulisan kita dipublish, artinya kita membiarkan orang-orang mengunyah isi kepala kita, apa yang terjadi di lembar-lembar maya ini. 

Dan, oh, sayang, tidak semua orang siap untuk itu. 

Ada orang-orang yang lebih memilih menyembunyikan perasaannya di tulisannya. Ia memilih untuk berbagi apa yang ia pikirkan, bukan rasakan.

Mereka biasanya menyadari bahwa perasaan mereka berlapis-lapis, rumit, dan saling dihubungkan dengan benang-benang rajutan yang tak terlihat. 

Tidak mudah membuat mereka mau untuk menulis atau berbagi perasaan mereka. 

Tahukah kamu bahwa pendiri Tumblr, David Karp, adalah seorang introvert?

Btw, saya nulis apa sih ini?

Rasanya nggak jelas amat. Hahaha.

Nggak apa deh

Arsitektur Membangun Indonesia

“Venustas, Firmitas, Utilitas.”

Salam kenal dari jurusan di fakultas teknik yang paling unik, yang dosen dan mahasiswanya sama-sama nyentrik, yang kalo komunikasi pake gambar, jurusan dengan segudang ide, pemikiran dan kreativitas. Salam kenal dari jurusan arsitektur untuk teman-teman semua.

Tiga kata diatas artinya apa tuh kak?

Hmm… gak ngerti ya artinya? Ya udah gapapa, gausah sedih gitu, hehe. Venustas, firmitas, dan utilitas itu adalah tiga dasar utama berarsitektur dari teori vitruvius (waduh makin aneh ya bahasanya). Venustas artinya keindahan, firmitas artinya kekuatan, dan utilitas artinya kegunaan (fungsi). Nah, tiga dasar itu tuh yang harus ada dalam bangunan yang akan dirancang teman-teman nantinya (kalo jadi arsitek) harus kuat, indah, dan berfungsi.

Apa sih arsitektur?

Sederhananya, arsitektur itu adalah ilmu yang mempelajari tentang merancang sebuah bangunan. Di berbagai universitas/institut di Indonesia ada beberapa cabang ilmu arsitektur yakni arsitektur, arsitektur interior dan arsitektur lansekap. Perbedaan di keduanya hanya mengenai cakupan dan fokus pembelajarannya saja.

Belajar apa aja sih kak di arsitektur?

Nah, seperti penjelasan mengenai ilmu arsitektur itu sendiri yakni merancang, kita akan disajikan ilmu mengenai merancang dari skala yang terbesar sampai ke yang terkecil. Merancang kawasan/kota, ada juga mengenai permukiman, terus mengenai tapakeksterior, dan interior. Oh iya, tidak lupa arsitektur saat ini sedang menuju ke arah arsitektur yang berwawasan lingkungan, jadi pasti ada mata kuliah yang seperti itu.

Akan tetapi, mata kuliah utama dari arsitektur itu sendiri adalah Perancangan Arsitektur. Dimana setiap semester kita harus merancang dari skala bangunan terkecil sampai ke yang lebih besar dan kompleks. Oh iya, terakhir nih jangan lupa ada mata kuliah mengenai struktur dan konstruksi bangunan, walaupun nanti ketika kita kerja kita pasti dibantu lulusan teknik sipil mengenai ini, tapi kita juga harus paham mengenai hal itu.

Nanti kalau udah lulus prospek kerjanya gimana kak?

Kalo udah lulus nanti terserah kamu mau jadi apa, hehe. Kata dosenku, dari lulusan arsitektur hanya 10% yang jadi arsitek profesional. Selebihnya, entah kemana, ada yang ke PU, ada yang jadi dosen, atau bahkan jadi pegawai bank ( ini jangan ya ;) ). Ini dikarenakan kemampuan masyarakat Indonesia belum merata untuk menggunakan jasa arsitek, sehingga arsitek di Indonesia kurang dihargai jasanya.

Sekarang baru aku jawab yang bener, tadi agak ngelantur dikit. Pertanyaannya sebenernya mirip sama “abis lulus dari kedokteran kerjanya apa kak?” “Ya dokter lah”. Nah pertanyaan diatas udah terjawab. Ya arsitek dong, karena arsitektur itu kuliah profesi dan nanti setelah lulus kamu harus ikut sertifikasi dulu di IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) supaya dapet izin praktek, abis itu baru deh kamu melanglangbuana ke berbagai sudut kota sebagai arsitek.

Pertanyaan yang sering terjadi :

Q: Harus jago gambar gak sih kalo mau masuk arsitektur?                

A: Kita kan bukan mahasiswa seni yang melulu mengenai estetika. Yang penting itu kelengkapan gambarnya, kita kan tugasnya merancang, dan kalo jelek gausah khawatir yang penting informatif. Ntar juga kalo tangannya dipake terus tiba-tiba juga jago sendiri (FYI : buat yang minder karena gak jago gambar, cari deh arsitek ternama dunia namanya Frank Gehry)

Q: Bedanya arsitektur sama teknik sipil apa sih?

A: Naaah, beda ya jelas. Gini nih, tadi udah tahu tiga dasar berarsitektur dalam teori vitruvius kan? Nah ibaratnya, teknik sipil ini ahli dalam firmitas (re: kekuatan), jadi nanti misalkan ada proyek pembangunan nih, arsitek adalah team leadernya, nah arsitek butuh bantuan teknik sipil nih yang fokus dalam menangani struktur bangunannya gitu.

Harapan dan Realita

Harapan: Wah mahasiswa arsitektur pasti cantik-cantik dan ganteng-ganteng nih, modis-modis dan trendi, kan mahasiswa yang menjunjung tinggi nilai estetika (keindahan)

Realita: Mukanya beler semua, pada kurang tidur, abis nugas semaleman kecantikan dan kegantengannya tinggal 10%

Harapan: Ah ngegambar aja kan tugasnya, gampang lah sebentar juga jadi, terus gabakalan kekurangan tidur deh

Realita: Semaleman ngegambar belom selesai-selesai, masih belom ada tugas lain, kantong mata udah kaya presiden, eh revisi pula…

Arsitektur itu jurusan yang seru, karena banyak pendekatan ilmunya, jadi mahasiswanya pada unik-unik semua, ada berbagai macam karakter dan pola pemikiran. Pokoknya seru deh, karena kamu akan menemukan karakter teman yang jauh berbeda dari SMA.

Buat teman-teman yang ingin masuk jurusan arsitektur tanamkan bahwa, arsitektur bukan soal kemewahan kehidupan yang akan teman-teman dapatkan ketika teman-teman sukses jadi seorang arsitek, yang mungkin teman-teman lihat di iklan aparteman yang biasa di televisi atau ingin menjadi arsitek karena hanya ingin membangun gedung-gedung mewah bertingkat tinggi yang justru menyumbang 40% pemanasan global. Jangan lupakan tentang humanity, bahwa masih banyak penduduk Indonesia yang belum mempunyai tempat tinggal yang layak, masih banyak rumah penduduk yang ada di bantaran kali, di kolong jembatan, atau bahkan tak punya tempat untuk berteduh sama sekali. Bahkan permasalahan lingkungan lainnya, seperti banjir di kawasan jakarta tiap tahunnya, air rob di Semarang yang menggenangi kawasan Semarang Utara, pemukiman pasca tsunami di aceh atau pasca gempa di Klaten dan berbagai permasalahan lainnya.

Mungkin teman-teman adalah solusinya, solusi dari permasalahan yang ada saat ini dalam dunia arsitektur, solusi untuk Membangun Indonesia.

(*)

Satriyo Adhi Nugroho | @satriyoan

Arsitektur 2012, Universitas Diponegoro

The Way I Lose Her: Perihal Dada.

Yang paling aku takutkan dari perjumpaan adalah, kenyataan bahwa kau lupa pernah sebahagia apakah kita.

.

Sehebat apapun status gue di warnet, itu semua sirna jika gue sudah masuk ke dalam sekolahan ini. Gue harus terima bahwa sekarang gue adalah seorang junior unyu bercelana biru dengan sabuk tengkorak di tengahnya.

Hal ini yg menyebabkan gue nggak berani untuk menatap lama-lama kearah tatapan kakak keamanan yg sedari tadi melihat tajam kearah gue. Karena tidak bermaksud untuk kasar, gue mencoba untuk tidak sesering mungkin membalas tatapannya. Ntar kalau doi jatuh cinta karena tatapan gue, siapa yg salah coba?

Gue mencoba kembali untuk mengingat siapa kakak perempuan ini. Rasa-rasanya gue pernah berjumpa sama doi, tapi di mana ya. Kok gue jadi pelupa gini sih, mukanya gak asing padahal. Kapan gue ketemu kakak keamanan yg ini ya?

Ketika pikiran gue tengah berkutat untuk mengetahui siapa sebenarnya seseorang yg menatap gue penuh benci itu, mendadak May menegur dari depan gue. 

“Kamu ih, lagi liat apaan!” ucap May sedikit berbisik kepada gue di belakangnya ini yg tengah menunduk karena mencoba mengingat sesuatu.

“ee..eh? engga gak liat apa-apa, kenapa emang?” jawab gue kaget.

“Alah, cabul deh, kamu dari tadi ngeliatin ‘belakang’ aku kan?!" 

"ASTAGFIRULLAH!! APAAN?! PITNAH ITU PITNAH!!” Jawab gue sontak karena merasa terdzolimi 

“Hih, semua cowok yg ketawan juga pasti bilang hal yg sama. Udah deh, dasar. Cowok sama aja, jelalatan” May kembali berjalan cepat sambil menutup daerah montok di belakangnya itu dengan kedua tangannya meninggalkan gue dengan mulut terbuka karena difitnah dengan tega.

Dan ternyata gak begitu saja , temen-temen yg pada berjalan di samping gue pun langsung memandang sinis kearah gue.

Ah setan!
Gue difitnah! Udah difitinah, diliatin kakak keamanan, terus dipandang sinis sama temen-temen baru lagi ah. Kalau tau kejadiannya kaya gini, bakal bener-bener gue liat aja tuh 'belakangnya’ May. Badan semok May yg kaya botol Aqua itu bakal gue abadikan dalam folder “Serba-Serbi Tajil Buka Puasa” di otak gue.

Kan mubazir kalau kaya gini jadinya.
Mirip kaya cewek lagi puasa, terus menjelang buka puasa, dia mendadak datang bulan. Sakitnya tuh di sini..


Akhirnya, gue yg dipandang sinis sama temen-temen ini hanya bisa tertunduk semakin lesu di belakang barisan sambil mengusap air yg keluar dari mata dan hidung. Gue berjalan lunglai menuju sebuah kelas di mana kita akan berkenalan antara satu dan yg lainnya.

Dan gaes.
Di sinilah semua cerita akan berawal.

.

                                                                  ===

.

Kelas yg akan gue huni untuk periode satu minggu ospek ke depan adalah sebuah kelas yg masih berbentuk bangunan Belanda pada tahun itu. Bentuknya seperti yg sudah gue jelaskan dulu, pintu kayu ciri khas Belanda, jendela bangsal yg besar-besar, tembok penuh dengan retakan dan gambar pisang dan terong-terongan, serta lampu gantung yg konon katanya sering dihinggapi mahluk halus untuk sekedar duduk-duduk di situ.

Sebagai seseorang yg memang malas untuk bersosialiasi dengan lingkungan baru, gue memilih untuk duduk di belakang. Selain karena nggak harus terlalu sering bercengkrama dengan kakak pembimbing senior, duduk di belakang adalah salah satu cara para siswa untuk bisa melihat seisi kelas dengan sudut yg lebih luas.

Mengetahui nilai siswi mana yg paling cantik. Apa kebiasaan mereka. Dan kalau beruntung, kalian bisa tau pembicaraan apa yg sedang menjadi trending topic bagi mereka. Yang mana itu bisa membuat kalian dengan mudah untuk berkenalan dan berhubungan lebih lanjut dengan mereka. Begitu kata Kamus Don Juan Nomer Pasal 1 ayat 10. Tentang “First Step Being Awesome”.

Di sekolahan ini, satu meja bisa diisi oleh 2 orang murid. Dan dengan wajah gue yg emang terlihat menyebalkan ini, para siswa lainnya jarang ada yg memilih untuk mau duduk di bangku sebelah gue. Kadang, memiliki tampang menyeramkan adalah keuntungan untuk seseorang yg malas berkomunikasi di tempat baru seperti gue ini.

Hal ini terus berlanjut untuk beberapa waktu. Tidak dapat dipungkiri, para siswa itu pasti 90% pengen duduk di belakang semua, dan oleh sebab itu pula gue banyak melihat para siswa yg ingin duduk di sebelah gue ini terpaksa mengurungkan niatnya.

Damn! Im proud to my self!

Hingga pada akhirnya, datanglah bencana.


Seorang siswa datang menghampiri bangku yg ada di sebelah gue ini dan bertanya, “Sorry, tempatnya ada yg pake ga?”

WTF?! Seriusan nih? Gila, gue kira orang-orang pada males ngeliat muka gue, ternyata nih anak santai-santai aja.

“Yoi, kosong kok” Jawab gue sembari memindahkan tas yg sedari tadi menclok di bangku tersebut.

Gue gak melanjutkan berkenalan dan berbicara panjang lebar dengan seseorang yg baru saja duduk di sebelah gue itu. Karena alasan yg pertama adalah dia itu cowok, dan yg kedua adalah karena memang pada dasarnya gue paling males ngobrol. Apalagi sama cowok. Hih..

.

                                                        ===

.

Acara dimulai dengan perkenalan oleh kakak mentor kita yg terdiri dari satu kakak senior cowok dan satu kakak senior cewek. Dan sialnya, saat itu kakak senior cewek gue nilainya di bawah rata-rata. Hal ini membuat semangat gue untuk ikut ospek turun 2.45%.

Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan satu persatu siswa dan siswi yg ada di sana. Oke, sesuai kamus besar Don Juan, ini adalah saatnya memilah-milah mana siswi baru yg kualitasnya setara dengan Jam Tangan Swarovski.

Satu yg tak boleh seorang pria lakukan adalah tidak mengingat nama wanita. Mengetahui nama wanita tersebut lebih dulu saat berkenalan adalah nilai tambah, yg mana ini menjelaskan bahwa bagi mereka, kalian itu memang memperhatikan hal-hal kecil.

Maka dari itu, tiap ada cewek yg maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, gue langsung duduk dengan sikap sempurna, membusungkan dada, membetulkan posisi kalau-kalau nanti ada yg mengganjal, dan mencoba memperhatikan dengan seksama.

Berbeda dengan temen sebelah gue ini, doi malah asik sibuk sendiri berkenalan dengan para pria lainnya. Bah, gue satu bangku sama homo.

Dan setelah beberapa siswa dan siswi berlalu, kini hampir datang giliran gue untuk memperkenalkan siapa diri gue sebenarnya.

I’m Batman!

krik…

Oke lupakan.

Gue sudah menyiapkan beberapa kata pembuka, sedikit lawakan, dan perkenalan yg menyenangkan untuk menghapus image CABUL yg dengan manisnya gue dapatkan dari May di depan anak-anak lainnya tadi.

Asem!

Setelah gue bersiap-siap sambil mencoba menenangkan diri dari rasa grogi ini, mendadak dari arah pintu terdengar suara gebrakan yg sangat keras.

BRAK!!

Pintu ditendang dengan kasar. Gue kaget-kaget ganteng. Gue mencoba memeluk may. Tapi doi sudah mengacung-acungkan cutter kearah gue. Gue takut. Gue gak mau disunat lagi. Akhirnya gue urungkan niat untuk memeluk May.

Dari arah pintu, muncul wajah yg nggak asing lagi diiringi 2 cowok-cowok yg wajahnya mirip Layar Gembot. Sialan, itu kan kakak keamanan yg ngeliatin gue waktu baris tadi. Ah, apa lagi ini. Please jangan gue lagi.

.

                                                           ===

.

Suasana hening.
Dentuman detak jam dinding seakan menjadi terlalu berisik.
Suara anak-anak yg lagi maen perang Sarung di toa masjid aja sampe kedengeran saking heningnya ruangan ini.


“YG MERASA SALAH, MAJU KEDEPAN!!” mendadak sang cewek jutek menggebrak whiteboard.

Shit. Siapa nih? emang ada anak baru yg namanya “salah”?
Oi! yg namanya SALAH, maju kedepan woi! ketimbang kita kena semprot.

“OH JADI GAK ADA YG MERASA SALAH DI SINI?!” Tanyanya lagi

Astaga, kalau cari anak baru yg namanya “salah” sih cek aja absensi kelasnya keles. Gitu aja kok repot, dasar cewe, drama!

“OKE, SAYA MINTA YG NAMANYA DIMAS!! MAJU KE DEPAN!”

WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAT?!?!?!!?
GUE LAGI?!?!
ASTAGAAAAAA!!! SAOS TARTAR!!
DEMI NEPUTUNUS! SALAH GUE APA LAGI SEKARANG?!

Butuh 1 menit untuk gue agar tersadar dari shock therapy yg baru saja gue alami. Sekarang semua mata tertuju ke gue. Mata para kakak pembimbing, para kakak keamanan, para cewek, dan para pria. Gue serasa Ariel Noah waktu videonya bocor di internet.

Setelah kejadian tadi pagi, tadi siang, dan sekarang, rasa-rasanya gue jadi gak pengen sekolah di SMA ini lagi. Masa baru pertama masuk gue udah kena 3x semprot sih?! Gue di dzolimi, gue anak sholeh! gue udah tamat baca Iqro 4x!!

Akhirnya setelah dibentak sekali lagi, gue pasrah dan maju kedepan dengan lunglai. Suasana sangat mencekam. Seandainya ada kamera cctv, gue pasti udah melambai-lambai meminta untuk menyerah.

Gue disidang di depan kelas. Semua mata kini semakin fokus kearah gue. Para keamanan ada di ujung kelas, di ujung pintu, dan satu lagi yg cewek duduk di meja yg ada di depan gue.

Ini sih tinggal gue dikasih helm yg ada senternya, lilin, sama cemilan. Udah deh cocok gue ikutan uji nyali.

Gue gak berani menatap kakak keamanan ini. Gue cuma menatap dengan tatapan kosong kearah depan. Kakak keamanan yg cewe ini dengan sinisnya menatap gue, mengetuk-ngetukkan jarinya ke atas meja.

“Kamu tau salah kamu apa?!” Jawabnya pelan tapi menyeramkan. Mirip ketika Dona Arsinta sedang menjadi narator pembuka acara gosip SILET di RCTI.

“Ngg.. maaf kak, saya tidak tau”

“OH JADI KAMU GAK TAU SALAH KAMU APA HAH?!” Mendadak kakak keamanan di depan pintu yg mukanya mirip Rujak Cingur itu menghampiri gue.

“KAMU HARI PERTAMA SUDAH BIKIN PERKARA LAGI, DEK!!" 

Buset, nih orang ngomong begituan tepat 10cm dari muka gue. Air ludahnya muncrat kemana-mana. Ah sialan, gue harus wudhu pake tanah kalau gini caranya.

"Kamu inget saya gak?!” Tanya kakak kemananan cewek

“Ngg… anu.. nggg”

“ALAH SOK SOK LUPA KAMU HAH!!!" 

oi setan! gue emang bener-bener lupa nyet!

"KAMU KAN YG TADI PAGI NGELIATIN DADA SAYA DI DEPAN GERBANG SEKOLAH?!!" Bentak kakak keamanan cewek.

eh? Dada?
Haaaaaaaaaa gue inget gue inget, dia ini kakak keamanan yg gue godain di depan gerbang itu. Oh pantesan rasa-rasanya gue pernah liat. Hmm siapa ya namanya, kalau gak salah namanya.. ngg.. ah! HANA!!

"Ngg.. kak hana kan ya?” Kata gue mencoba berbaik hati.

“NAH ITU INGET, TADI KATANYA LUPA, PEMBOHONG!!” Jawabnya membentak tepat di depan muka gue

Lha emang siapa juga yg ngomong kalau gue lupa? Kan gue belum sempat ngomong tadi? yeeee gue cium juga ah lo. Bawel amat.

“NGAPAIN TADI PAGI KAMU NGELIAT KEARAH DADA SAYA!” Tanyanya membentak lagi.

.

What?!
Gue ngelihat dada?!
Apa-apaan?!
Gue kan cuma liat papan nama!!
INI PITNAH!!

“Ngg.. kak, aku cuma liat papan nama kakak kok” Jawab gue gugup

“BOHONG!!" kata kakak keamanan cewe.

"HOAX!!” kata kaka cowok pertama

“OMDO!!” kata kakak cowok kedua

“BARU JADI ANAK SMA KELAS 1 AJA UDAH BERANI MELAKUKAN TINDAK ASUSILA YA KAMU!!" ujarnya.

"Mulai besok, sekali lagi kamu buat kesalahan sama saya, bakal saya cari kamu!! KAMU INGET NAMA SAYA GAK?!”

“Ngg.. kak Hana kan?” gue menjawab pelan

“HANADWIKA ARSYITA, INGET ITU!" bentaknya.

"i..iya kak..” gue pasrah.

.

                                                           ===

.

Setelah memperkenalkan nama lengkapnya, Kaka keamanan yg bisa dibilang cukup manis itu meninggalkan gue. Seisi kelas masih terlihat hening selepas kepergian mereka.

Mata mereka menatap kakak keamanan yg berjalan kearah pintu itu secara perlahan. Dan ketika kakak keamanan terakhir menutup pintu dengan keras, kini semua tatapan mata mengarah ke gue lagi.

Gue cuma bisa menatap kearah mereka pelan-pelan..

kemudian..

“CABUUUUUUULLLLL!!!!!" 

Satu kelas sontak berteriak hal yg sama kearah gue. 
AAAAAAAAAAKKKKKKKKKKK EMAAAAAKKKK GUE PENGEN PULAAAAAANG!!! :((((

.

.

.

                                                Bersambung

youtube

Keluargaku tidak Religius!

Yang pertama adalah orang yang mengatakan, kamu tahu Allah sebenarnya memberiku petunjuk dalam kitab ini. Dan jika aku menemukan beberapa pengetahuan dalam buku ini yang membimbing hidupku ke arah yang berbeda, aku berkata:

“Aku akan mengubah diriku, aku akan mencoba mengubah hidupku berdasarkan aturan dari pedoman ini”

Karena kamu mulai membaca Quran ini, dan mempelajarinya, dan menghafalnya, dan memikirkannya. Dan kamu mulai menyadari bahwa Al Quran ini menawarkan sebuah gaya hidup yang berjalan ke arah sini, sedangkan gaya hidupmu ke arah sana. Maka kamu harus mulai mengubah beberapa hal. 

Maka cara kamu berbicara mulai berubah,  cara kamu berpakaian mulai berubah,  cara kamu makan mulai berubah,  teman-teman yang kamu miliki mulai berubah, jenis pekerjaan yang kamu lakukan mulai berubah, cara kamu mendapatkan uangmu mulai berubah, interaksi dengan keluargamu mulai berubah. Dan saat perubahan ini mulai terjadi, siapa orang pertama yang melihatnya? Keluarga. Ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, sepupumu. Mereka datang kepadamu dan berkata,

“Kamu berubah bro, kamu baik-baik aja?

Maksudku, kita semua muslim, kamu tidak perlu menjadi muslim yang seperti itu,

Lepaskan benda itu dari wajahmu,” (jenggot-red)“.

Mereka akan datang ke anak perempuan ini, seorang Ayah akan datang ke anak perempuannya. 

"Mengapa kamu memakai itu di kepalamu? Kamu tidak akan keluar rumah seperti itu kan? Ini Amerika!

Jangan lakukan itu!

Siapa yang akan menikahimu kalau kamu seperti itu?”

Mereka akan menangkapmu,

Karena melihat jenggotmu,“

Mereka akan mengatakan hal-hal seperti itu. Keluargamu! By the way, mereka tidak akan mengatakan hal-hal tersebut karena mereka membencimu. Kamu tahu mengapa mereka mengatakan hal-hal tersebut? Karena mereka mencintaimu, dan mereka merasa khawatir akan dirimu. Mereka berpikir kamu mulai gila. Dan itu bukan merupakan hal baru. Setiap saat orang-orang mulai kembali pada keimanan, apa yang keluarga mereka pikirkan? Ketidakwarasan, itu adalah satu-satunya alasan. 

Maka apa yang terjadi, terutama anak-anak muda disini? Dengarkan! Saat kamu mulai berubah sedikit lebih religius, sedikit lebih religius dibanding keluargamu. Atau orangtua mulai menjadi lebih religius dibanding anak-anak mereka. Saat itu terjadi, orang-orang yang tidak ikut bergerak bersamamu sedang menunggu. Menunggu dengan sabar sampai kamu mendapat nilai C pada ujianmu, sampai satu waktu kamu membentak Ayahmu. Dan kemudian mereka akan berbalik dan berkata,

"Apakah ini yang diajarkan Islammu?

Ini karena semua urusan masjid itu, itulah mengapa kamu mendapat nilai ‘C’

Itulah mengapa kamu gagal.”

Kamu tahu? Mereka menunggumu berbuat kesalahan, untuk menyalahkan apa? Agamamu.

Dan saat ini terjadi, perang psikologis yang terjadi di dalam rumahmu. Kamu melangkah masuk ke ruumah, dan itu seperti zona perang. Itu zona perang. Ibumu, istrimu, suamimu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, sepupumu, pamanmu, siapapun mereka. Mereka mengatakan hal-hal yang sangat menyakitkan, sarkastis, jahat. Yang jika orang lain yang mengatakannya, kamu rasanya ingin menabrak mereka dengan mobilmu. Namun kamu harus menerima itu dari mereka, karena mereka adalah keluargamu. Dan pada akhirnya pemuda usia 18, 19, 20, kalian tahu, kalian dikenal memiliki darah panas, jadi apa yang kamu lakukan? Kamu meledak. 

“Kalian berusaha membuatku mengikuti nenek moyang dan budaya!

Aku berusaha mengikuti sunnah!

Dan kamu bahkan tidak memiliki akidah yang benar!”

Membanting pintu dan melangkah keluar.

Ini terjadi! Ini terjadi padamu? Tidak, itu tidak terjadi (padamu). Tetapi saya melihat itu terjadi. “Dan bahkan jika aku melihatnya aku tidak ingin memberitahumu.” Tetapi ini terjadi,

“Keluargaku tidak mengerti. ”

Dan kamu mulai menghadiri halaqah dan kelas-kelas dan kursus-kursus bukan karena kamu ingin menghadirinya, tapi karena kamu tidak dapat mengatasi apa yang terjadi di rumah. Dan kamu hanya ingin jauh dari rumah. Serius, coba cek dirimu. Cek dirimu sendiri

Kamu lihat, inilah kegagalan terbesar dari pemuda-pemudi kita. Kamu harus menumbuhkan kulit yang lebih tebal. Kamu harus memiliki kulit yang lebih  tebal. Kamu harus bisa menerimanya, apapun yang mereka hidangkan, apapun yang mereka katakan,

“Aku berharap kamu tidak pernah lahir.

Inikah alasan kami membawamu ke Amerika?" 

Benar? Apapun yang mereka katakan, it’s okay. Jadilah yang terbaik kepada orangtuamu. Jadilah yang terbaik kepada orangtuamu. Apapun yang mereka lakukan, mereka tidak bisa lebih buruk daripada Ayah Ibrahim 'alayhi salam, yang membuat produk syirik untuk didistribusi besar-besaran. Dan ia (Ayah Ibrahim) mengusir anaknya - yang benar- dari rumah. 

Sering kali, anak muda menceritakan kepada saya, 

Oh man, orangtuaku tidak mengerti, mereka tidak memahami.“ 

Lalu mengapa jika mereka tidak mengerti? Bukan itu intinya! Intinya adalah jika kamu memegang erat petunjuk ini, maka kamu harus memiliki kulit yang tebal. Ada orang-orang yang hadir sebelum kita, yang dikubur hidup-hidup karena mereka beriman. Kamu tidak dapat menerima beberapa teriakan dari orangtuamu? Kamu tidak dapat menerima beberapa komentar sarkastis dari pamanmu setiap Ied? 

"Oh kami tahu bagaimana kamu tahun yang lalu,”

Benar? Mereka akan mengatakan itu, terima itu. Orang-orang sebelum kita menerima hal-hal yang jauh lebih buruk. Berterima kasihlah kepada Allah karena kita mendapat hal yang mudah. Orang-orang selalu tidak bersyukur. Dan kita tidak bersyukur karena kita tidak memiliki sabr (Kesabaran). Sabar dan syukur berjalan bersamaan. Saat kamu tidak sabar, kamu mulai mengeluh. Dan fakta bahwa kamu mengeluh adalah tanda kamu tidak bersyukur. Allah memberikan kesempatan-kesempatan ini untuk membangun karakter dirimu. Untuk menjadi orang yang sabar.

Dan kamu tahu? Saya memberikan kamu nasihat. Jika kamu mengambil petunjuk ini dengan serius, terutama para pemuda dan pemudi, saat kamu memiliki masalah di rumah, lakukan lebih banyak hal di rumah!  Lewatkan kelas, bersihkan rumah, berikan bunga untuk Ibumu, pijat kakinya. Kamu tahu? Siapkan pajak untuk ayahmu. Lakukan sesuatu!

Sehingga alih-alih menghubungkan pemberontakan dengan Islam, apa yang orang tuamu hubungkan dengan Islam? Pelayanan, karakter yang lebih baik, sikap yang lebih baik. Jangan lakukan hal sebaliknya.

-IK-

Handshake = Bersalaman…

Sebetulnya bersalaman dengan lawan jenis (yang bukan mahram) boleh ga sih?
Ato selama ini kita terima-terima aja dengan apa yang dilakuin orang-orang di sekitar kita, tanpa mempertanyakan hukumnya? Padahal ini termasuk hal yang penting lo, walaupun sebagian orang menganggapnya hal yang remeh…

Di lingkungan kita saat ini masih banyak orang-orang yang bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Baik teman kita, saudara kita, tetangga kita, orang-orang dipinggir jalan, orang-orang di tengah jalan (naik mobil maksudnya), dan lain-lain. Padahal hukumnya adalah GA BOLEH, alias haram. Kalau ingin tau dasarnya, sebenernya banyak kalo mau cari terutama di Mbah Google. Atau tanya Ustadz yang ada di daerah kita, karena itu yang lebih utama.

Tapi di sini saya ingin menyampaikan dasar yang umum saja berupa hadits, yaitu:
(1) Hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dalam riwayatShahihain, beliau berkata :
“Demi Allah, tidak pernah sama sekali tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyentuh tangan wanita dalam berbai’at, beliau hanya membai’at mereka dengan ucapan".  *Berkata Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim(13/16): “Dalam hadits ini menjelaskan bahwa bai’at wanita dengan ucapan, bukan dengan menyentuh tangan”.
(2) “Sesungguhnya salah seorang diantara kalian jika ditusuk dengan jarum dari besi , itu lebih baik baginya daripada menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya”, (HR. Thabrani dan juga Baihaqi).

Lalu ada juga analogi yang menarik mengenai salaman ini. Suatu hari ada lelaki Inggris bertanya kepada seorang Syekh
Seorang lelaki Inggris bertanya: “Kenapa dalam Islam wanita tidak boleh jabat tangan dengan lelaki?”
Syeikh menjawab: “Dapatkah Anda berjabat tangan dengan Ratu Elizabeth?”
Lelaki Inggris itu menjawab: “Oh tentu tidak boleh! Cuma orang-orang tertentu saja yang dapat berjabat tangan dengan Ratu.”
Syeikh tersenyum dan berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) adalah para ratu, dan ratu tidak boleh berjabat tangan dengan lelaki sembarangan—yang bukan mahramnya.”

Mungkin dalam diri kita sulit menerima hal ini atau bahkan sampai beranggapan ini terlalu ekstrim. Padahal di sinilah indahnya. Di sinilah salah satu letak bahwa Islam itu sangat memuliakan wanita. Ibarat mendaki gunung, justru ketika kita menempuh kesulitan atau bahkan hingga keadaan ekstrim sekalipun, keindahanlah yang menunggu kita pada puncaknya.

Sabarkanlah diri kita
Hingga saatnya nanti tiba
Pertahankanlah kehormatan kita
Hingga janji suci terucap nantinya
Demi membangun cinta yang sempurna
Demi mendapatkan pasangan hidup yang setia

Karena Allah menciptakan ruang-ruang jari berharga
Agar seseorang yang menurut kita istimewa
Dapat datang dan mengisinya
Dengan memegang tangan ini selamanya

Selain itu pasti kita juga bertanya-tanya tentang hal selanjutnya yang berkaitan dengan salaman ini, seperti bagaimana jika dokter yang menyentuh pasien, dan lain sebagainya. Dan mohon maaf jika dalam tulisan ini tidak bisa menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang sedemikian rupa, karena hal ini diluar kemampuan penulis. Yang pasti, Allah akan memberi kemudahan untuk hal-hal yang darurat bagi kita.

Maaf jika ada salah kata.
Semoga bermanfaat.
Wallahu’alam bissawab.

*Photo by The Muslim Show

Dongeng Pujangga

Ada pemuda si pandai bercerita. Kami memanggilnya Pujangga. Ia tampan sekali. Kalau kau pernah melihat Pangeran Arga dari Negeri Baraga yang tampan, aku rasa ketampanannya hanya sepertiga dari ketampanan Pujangga. Bisa kau bayangkan? Oh, tentu tidak. Kau harus melihatnya dulu.
Semua gadis jatuh cinta padanya. Bahkan Putri Agira pun rela diusir Raja Ghefur bila cintanya pada Pujangga berbalas. Tapi tampaknya cinta Putri Agira tidak akan pernah terbalaskan. Hati Pujangga sudah jatuh pada sekuntum mawar yang ia rawat setiap hari. Disirami dan dipupuki hingga baunya tercium sampai ke istana. Entah apa yang terlintas di kepala Pujangga. Kali ini ia bodoh sekali. Rasa cintanya dikalahkan oleh kebodohannya. Memang ia tahu, mawar tidak pernah mau dipetik. Entah apa alasannya. Ia hanya ingin tumbuh memerah dan semerbak. Tapi kali ini Pujangga memaksa untuk memetik. Tak peduli sakitnya duri-duri mawar yang menusuk. Tak peduli darah menetes-netes dari jemarinya. Tetap ia petik. Tapi sejenak kemudian ia tahu. Mawar bukan tidak mau dipetik, ia tidak bisa dipetik, ia mati bila dipetik. Mawar tidak mau dipetik bukan karena tidak cinta pada Pujangga. Justru ia tidak mau dipetik karena ia sangat cinta pada Pujangga. Ia tidak mau mati meninggalkan Pujangga. Ia rela tumbuh tersengat matahari dan terguyur hujan deras. Ia rela ditiup angin Gurun Selatan yang rasanya kering. Ia rela disengat lebah madu berjuta-juta kali. Ia rela karena dengan begitu ia bisa tetap hidup bersama Pujangga.
Kini Pujangga merusak segalanya, kehilangan cinta sejatinya, dan menjadi gila.