oesapa

10

Bagan Apung, Ketika Berlabuh.

Saya bukan penyuka laut, bahkan saya takut laut. Tetapi saya tertarik untuk membuat film dokumenter tentang sekelompok pria yang bekerja di sebuah lokasi atau tempat kerja yang maskulin, yang mensyaratkan mereka berada di satu lokasi (yang secara fisik terbatas) dalam waktu yang lama. Misalnya di perahu penangkap ikan, atau seperti Bagan Apung ini. Saya tertarik untuk merekam bagaimana relasi antar para lelaki ini berkembang pada situasi tersebut. 

Saya sudah pernah mewawancarai seseorang yang pernah bekerja di kapal penangkap ikan di Banda Aceh. Sangat menarik sebenarnya, terutama karena yang bekerja di kapal tersebut datang dari daerah yang berbeda-beda. Misalnya pak Slamet, narasumber saya ini berasal dari Jogja, ada juga yang berasal dari Medan dan sebagainya. Mereka menghabiskan waktu minimal satu minggu di tengah laut. Mereka yang rumahnya jauh di pulau Jawa seringkali baru bisa pulang enam bulan sekali. Pola kehidupan seperti ini jelas sangat menarik untuk difilmkan.

Karena itulah saya mengunjungi Bagan Apung di pantai Oesapa di Kupang ketika berkunjung kesana. Kebetulan sekali mereka sedang berlabuh, membereskan alat yang rusak, mengecat kapal dan sebagainya. Sayang sekali Bagan Apung ini tidak cocok dengan syarat lokasi yang saya ajukan, tidak seperti di Jermal yang pekerjanya tinggal di platform yang dibangun di laut lepas dan tinggal disana berbulan-bulan, para pekerja di Bagan Apung tidak tinggal di kapal itu dalam waktu yang lama. Mereka datang pagi hari untuk pulang lagi. Satu orang bergantian menunggu pada malam hari. 

Film ini tadinya saya niatkan sebagai film yang terdiri dari beberapa lokasi dalam beberapa fragmen: di sebuah tambang yang jauh dari pemukiman dan pekerja di proyek bangunan. Sialnya proyek ini sulit terwujud karena sulit sekali mendapat izin untuk syuting.

Salah satu kuliner #kupang #timor #oesapa ini mirip deh dengan rusip yang ada di bangka, hanya ikan nya cukup dibersihkan lalu di tuangkan aer panas.. Dan bumbu2 khas nya.. Yummy.. Rasanya asam2 gimana gituu (at Pondok Jagung Gerhana, Oesao)

Oesapa

bermula dari tugas dinas untuk nyusun profil kawasan kumuh di Kupang, NTT. akhirnya gue sama temen gue, ipet dan mia diutus ke NTT. kebetulan di sana juga lagi ada evaluasi akhir tahun untuk kegiatan Cipta Karya, jadilah kita juga ikutan acara itu dulu.

acara evaluasi dilaksanakan tanggal 27 November, jadi kita pergi ke kupang tanggal 26 pake pesawat sore. transit di surabaya, terus lanjut ke kupang. nyampe di sana malem, jam 10 waktu sana dan kita langsung dianter ke tempat acara.

besoknya, evaluasi mulai jam 10 pagi, dan menjelang siang kita udah jalan ke lokasi survey. tujuannya untuk ngambil foto dan titik koordinat rencana pembangunan fisik di kawasan kumuh.

adalah kawasan Oesapa, kecamatan Kelapa Lima, Kupang yang termasuk ke dalam kawasan kumuh yang akan ditangani dengan program CIpta Karya di tahun 2015. kawasn ini terletak di pesisir pantai, sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. rumah di sana sebagian besar masih kaya rumah adat NTT, kaya gini..

hampir semua rumah di sana melihara babi…pas gue kesana gue udah curiga kalo populasi babi di Kawasan Oesapa ini lebih banyak daripada populasi manusianya.. (saking lebih sering liat babi daripada orang)

kondisi kumuh di oesapa ini beda banget sama kondisi kumuh yang biasa lo temuin di kota-kota besar kaya jakarta. di sini, jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain masih cukup luas, walaupun kondisi infrastrukturnya emang masih kurang memadai juga sih..

ada yang seru disini, sekolah akan diliburkan di hari2 tertentu di mana panas lagi puncak2nya..dan kebetulan pas gue survey kesana itu pas sekolah lagi libur.

sumber air di oesapa masih pake sumur, karena belum ada PDAM yang masuk kesitu. jaringan pipa sih udah ada, tapi airnya belum ngalir, pemandangan kaya gini udah biasa banget disana. kinda touchy, don’t you think?

waktu gue baru nyampe Kupang, bos gue bilang, Kupang doesn’t represent the beauty of east Indonesia, dan gue cukup setuju sih. panas, gersang, dan minim fasilitas. ngingetin gue bahwa Indonesia ini luas dan ga cuma jawa. gue berharap semoga pembangunan infrastruktur bisa lebih merata sampai ke seluruh pelosok negeri ini.

Cerita di balik Kartu Pos dan foto-foto turistik

Dua foto di atas adalah karateristik foto-foto turis atau foto untuk Kartu Pos yang dibeli para turis untuk dikirim kepada keluarga mereka di negeri asalnya. Foto-foto seperti ini terus direproduksi oleh ratusan juta penggemar foto, mereka rela bangun lebih pagi demi mendapatkan foto matahari terbit. Adalah tipe foto yang akan mendapat banyak pujian kalau diupload ke laman seperti fotografer.net.

Foto seperti ini dibuat dengan mengedepankan keindahan, dengan menyembunyikan (atau lebih tepatnya tidak perlu tahu) kenyataan yang ada di balik foto indah ini. 

Dua foto di atas saya buat di pantai Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saya suka kampung nelayan. Di tepi pantai ini juga ada pasar tradisional yang jorok tapi menyenangkan. Saya selalu datang kesana antara jam enam sampai jam delapan pagi, atau jam empat sampai jam enam sore. Dua foto di atas dibuat pada sore hari. Laut sedang surut.

Bagaimana tiga foto di atas menyembunyikan kenyataan dibalik keindahannya?

Kapal-kapal yang ada di foto di atas tidak sedang terjebak di darat karena laut surut, nelayan yang duduk di tepi kapalnya tidak sedang menikmati sore sambil menghisap rokok. Mereka sedang menunggu, bukan menunggu laut pasang tetapi menunggu Solar yang berhari-hari hilang membuat mereka tidak bisa berlayar. 

Foto di atas ini adalah potret salah satu keluarga nelayan yang sedang menunggu Solar supaya bisa berlayar. Bapak sedang memotong ikan hasil tangkapan beberapa waktu sebelumnya untuk makan malam. Si anak tak bisa kemana-mana sebab tidak punya teman untuk bermain. Seharian mereka duduk dan tidur-tiduran di kapal yang agak miring itu.

Semakin lama menunggu, artinya pengeluaran semakin banyak tanpa ada pemasukan.

Cerita itulah yang disembunyikan foto ketika Matahari tenggelam di atas.

Soe, 14 Mei 2014