not a jawa

Stałem w tej nadprzyrodzonej ciszy, paliłem papierosa i myślałem, że tak właśnie powinny wyglądać wszystkie poranki świata: budzimy się w absolutnym spokoju, w bezludnym obcym mieście, w którym zatrzymał się czas, i wszystko wokół wygląda jak dalszy ciąg snu.
—  Andrzej Stasiuk

maawi  asked:

What is the fucking BOA doing in the living room?!

“What is the fucking BOA doing in the living room?!” 

Qui-Gon didn’t even look up from his datapad. “Ah, that. Remember the snake we brought back from our mission on Kelin VI some years ago?” 

Obi-Wan raised an eyebrow slowly. “Yes?” 

“Apparently he was very happy here, and decided to grow another several feet.” 

“That’s not—that’s Jawa? Alright, not a boa then.” Obi-Wan shook his head. “Fine. Why the living room?”

“Now that would be a good question to ask your Padawan.”


AU of @deadcatwithaflamethrower‘s ReEntry, in which Obi-Wan somehow managed to pick up a new species of Kelin snake that grows to boa proportions, I guess? XD

1 + 5 sentence meme (aka saner cannot count) | send another 

oh my gosh, I just realized - the Iskoort’s whole Thing about trading for and collecting memories (…and body parts) from individuals of other species. considering that they’re basically another… offshoot, I suppose, of the same biological lineage as the Yeerks - I’m willing to bet this isn’t just random weird lol wacky species that’s kinda creepy to interact with, but rather, the manifestation of a desire that we see also predominantly in the Yeerks, to indulge a very fundamental curiosity and desire to experience things from the perspectives of lots of different individuals and species.

whereas of course the Yeerks culturally have developed a focus on use and domination of other sentients, while the Iskoort are obsessively focused on bartering for their experiences… the Iskoort’s manner of course comes off as kind of alarming to the kids especially, but looking back I think it adds another really cool layer in the culture sense to the idea that the Iskoort are another sort of path that the Yeerks could take that would break them out of the zero-sum game they play with the rest of the known galaxy and be ultimately more functional for themselves and others.

dang, now I want to read the Iskoort book again :0

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.