nira

18.04.17 - Friends & tea 🍵💓.

I love these disabled ladies and their friendship, but I hadn’t drawn them into same picture before? I had to fix that.

Nuka World: Companions We Could've Had
  • Oswald: the glowing ghoul magician
  • Cito: the wild man raised by gorillas
  • Dixie: the bloodthirsty girl from the Disciples
  • Lizzie: the mastermind inventor from the Operators
  • Who we got: Eyepatch McMohawk Porter Gage who saw his family got hurt and thought it was a good idea to be a raider at age 12

Let it snow - let it snow - let it snow! Just becouse i love the weather i actually have outside. Bless that boi! 

- Harriet. 

You may NOT use my characters or my arts for YOUR roleplays and other purposes.Do NOT repost my artworks anywhere, without MY permission.Just respect my art stuff and time, thanks!

3

100 FOLLOWERS GIFT

I still can’t believe I have this many followers, thank you so much to everyone who took the time to follow me! It means a lot, really.

So as a thank you gift I’m uploading the tray files of one of my favorite sims, Aubrey Wise.

Traits:

  • outgoing
  • music lover
  • lazy


CC and dowload link under the cut

Keep reading

flickr.com
Yasushi Nirasawa figure shelf Guillotinna Nina Dolono
Here's a pile o' Yasushi Nirasawa7 inch figures! In the back are a red and black Guillotinna Over Rage version figures by Fewture 1999. Then there's the red Punitive Guillotinna version, with a WORKING GUILLOTINE!! And a Fewture Guillotinna coffin you can put figures inside. Guillotines and coffins? Heaven. In front is the Fewture blue haired version of Nina Dolono and another Yellow Submarine Resurrection of Monstress figure, the limited pink Night of Noctilca witch.

Not my collection, but I do own all these ladies, including the mail away coffin.

Perjuangan Millennial

Perut kenyang. Lingkungan aman. Akses informasi mudah. Cukup sudah semua faktor pendukung produktivitas masyarakat (bermodal dan) berpendidikan.

Tapi, semua akan berbeda bila kita melihat ke sudut-sudut kota dan desa-desa yang masih menjadi bahagian kehidupan modern bernama negara. Pendidikan terbatas. Keahlian terbatas. Tenaga terbatas karena angkatan muda sudah beralih mata pencaharian. Dan tentu saja modal terbatas.

Lucunya, dari kedua jenis kehidupan itu, baik berpendidikan maupun tidak, yang paling diuntungkan adalah kapital yang menjunjung tinggi produktivitas itu sendiri.

Dengan ijazah, pengalaman dan jam kerja, seorang pegawai digaji sekian, untung terbesar ada di siapa? Pemilik perusahaan. Dengan keahlian dan keringat, seorang buruh dibayar sepersekian, yang untung siapa? Pemilik perusahaan. Begitu juga petani padi, penderes karet, dan penyadap nira. Keuntungan terbesar ada di mata rantai distribusi yang berlapis serta tentu saya pemilik perusahaan.

Kapital dengan sistemnya yang sudah terbangun dan pintar sudah selayaknya dibayar mahal. Lucunya, yang menanggung mahalnya sistem kapital bukan konsumen, melainkan petani bahan baku.

Belum lagi generasi millennial yang tidak sempat melihat rantai proses makanan sampai ke mulut mereka, proses sebuah gawai sampai di tangan mereka, dan bagaimana supir taksi online bisa mengantarkan mereka ke tujuan mereka. Ada petani yang ‘dipinteri’ tengkulak, ada sumberdaya alam yang dieksploitasi dan dibeli murah oleh perusahaan, ada keterbatasan pilihan bagi para tukang ojek karena mudahnya akses finansial untuk mengkredit kendaraan motor, dan hal kecil yang seharusnya memancing desah panjang orang yang mengetahui.

Tapi, apa yang bisa kita perbuat dalam keadaan mapan pangan, sandang, papan dan keamanan ini?

Saya coba bikin butir-butir perlawanan yang mungkin relevan dalam kondisi ini dan mungkin akan saya kembangkan lebih lanjut di lain kesempatan.
1. Meninggalkan makanan kemasan/buatan pabrik.
2. Kembali ke pasar tradisional yang becek
3. Menghemat makanan dalam kuantitas dan jenis.
4. Meninggalkan perusahaan-perusahaan milik asing, pindah ke instansi pemerintah & perusahaan negara/anak bangsa
5. Mengubah gaya hidup sederhana
6. Meninggalkan segala bentuk pinjaman
7. Mengurangi waktu di mal, perbanyak waktu di rumah bersama keluarga
8. Menulis
9. Menutup sosial media
10. Bersosialisasi dengan masyarakat (neighborhood)
11. Membaca buku dan mengajarkannya lewat kelas atau sesederhana menulis review/sarinya.

Menarik sekali jika kita sebagai orang terdidik bisa berhenti sejenak dari rutinitas dan memikirkan, apa saya bisa membantu memperkecil ketimpangan dan melawan langgengnya hegemoni kapitalisme?