nick maus

Leona (Part 7)

Pertama kali aku jatuh cinta, itu SMA kelas 1. Aku yakin waktu itu yang kurasakan adalah cinta. Terserah orang bilang itu cinta monyet atau apa, tetapi aku yakin, waktu itu adalah cinta, cinta pertamaku. Namanya Ribka, aku masih ingat.

Bagiku Ribka adalah sosok yang sempurna. Dia cantik, dia sopan, dia humoris, dia pandai bernyanyi, dia perempuan idamanku. Setelah putus darinya, hatiku hanya mampu bekerja untuk membandingkan perempuan-perempuan lain dengannya. Setiap dekat atau pacaran sama perempuan yang baru, belum pernah kutemukan satupun yang semenakjubkan dia. Aku tidak pernah, tidak bisa jatuh cinta lagi. Tahun demi tahun aku suka merenungkan kehilangannya, mungkin itu membuat pintu hatiku seperti tertutup rapat, dan apa yang ingin kulakukan hanyalah bermain-main saja.

Malam hari, setelah hari yang panjang kulewati dengan Leona, aku nekat membandingkan Ribka dengan Leona. Orang yang kasmaran biasanya begini. Panik. Dan setelah kepanikanku mendorong hatiku untuk membanding-bandingkan, hasilnya jauh sekali, tentu saja Ribka lebih baik, Leona taka da apa-apanya.

Memang Ribka sekarang sudah punya pacar baru, pacar yang sama, yang dulu dia pilih sesaat setelah aku pergi. Meski dulu Ribka melepaskanku dengan mudahnya, mohon maaf, Ribka belum ada yang bisa melawan. Di hatiku, cinta pertamaku adalah nomor satu. Bahkan aku bertekad, suatu hari jika aku sukses dan berhasil, aku akan mengejar Ribka kembali. Demikian aku  mencintainya dengan mengukur-ukur diriku sendiri.

Kemudian di dalam kepalaku, gambar Leona perlahan rusak, dirusak masalalu. Aku berpikir, Leona ini cewek yang nggak tahu diri. Sudah punya pacar, lihat ada cowok tampan lain, maksudnya aku, langsung gatal. Ya, Leona itu cewek gatal. Sudah gatal, sekarang menyusahkan. Imejku rusak gara-gara dia. Nicky membenciku, menuduhku merebut pacar orang. Mana aku nggak enak sama Fajar. Fajarkan temannya Nicky. Gara-gara Leona juga, aku jadi harus mengumpat-umpat tidak jelas. Macam selingkuhan. Dan lagi, Leona ini sok kaya. Baru punya mobil bagus, noraknya bukan main. Aku ilfeel. Aku ingin ilfeel. Aku ingin ilfeel sama Leona tapi kok susah, yaelah!

Ah, aku jadi merasa butuh teman bercerita, atau paling tidak, pelarian, untuk meluapkan suasana hati yang tidak karuan ini. Barangkali aku galau. Perasaan yang campur aduk gara-gara perempuan, ditambah masalah-masalah lain yang malas kusebutkan.

Aku ini jeleknya, terlalu memaksakan hati untuk masa bodo pada diri sendiri. Padahal aku ini perasa, pemikir. Aku tidak bisa selalu pura-pura cuek dan tidak dengar kata hatiku. Banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalaku juga, yang kuserahkan kepada waktu untuk menjawabnya. Di pikiranku, sang waktu selalu punya mulut yang lebih baik untuk menjawab apapun. Jadi kuingin santai saja, jalani saja, lewati saja, tak perlu ada yang dikhawatirkan, bahkan dipedulikan. Persoalannya, aku tidak bisa selalu santai. Aku juga manusia, yang berbakat merasakan gundah, khawatir, tidak tenang, bahkan takut.



Pukul 11 malam, aku sedang santai di kamar, tiba-tiba HP-ku bergetar. Sesuai tebakan, Leona meneleponku. Kutahan beberapa detik, sengaja, baru kuangkat dengan suara yang pura-pura malas bicara.

“Apaan lagi?” Kataku. Sekitar beberapa detik, tak kudengar ia berbicara. “Halo.. Le?” Kuubah nada bicaraku, barangkali tadi terlalu ketus.
“Ini Josh?” Ternyata suara cowok. Nicky.
“Nicky?” Kutanya balik.
“Gue Nicky.” Suaranya agak membentak. Sementara kudengar samar-samar ada suara Leona yang tersedu-sedu. “Udah, udah, Nicky..” Begitu.
“Iya lo pacar Leona.” Tanyaku.
“EH ANJING! RIBUT LO SAMA GUE!”
“Jangan, dong.. buat apa?”
“ELO GANGGU HUBUNGAN ORANG, ANJING!”
“Nggak gitu..”
“ANJING! BANGSAT LO! DI MANA LO SEKARANG?”
“Rumah.”
“DI MANA RUMAH LO?? GUE SAMPERIN!!! ANJING LO!”
“Sabar, Nicky..”
“SABAR? ANJING! LO UDAH JALAN SAMA CEWEK GUA TERUS LO BILANG SABAR? ANJING LO! UDAH NGAPAIN AJA LO SAMA CEWEK GUA??”
“Nggak gue apa-apain.”
“NGAKU AJA LO TAI!”
“Enggak gue apa-apain,Ganteng…”
“NGGAK USAH SOK ASIK LO ANJING! NYOLOT LO BANGSAT! RIBUT LO SAMA GUA!”
“Gini….”
“ANJING! MATI AJA LO BANCI!”
“Waduh.. Absurd Anda ya..”
“NYOLOT LO! LIAT LO… MATI LO SAMA GUE!”
“Nick, gue minta maaf.”
“MAAF? BISA MINTA MAAF JUGA LO ANJING???!!!!”
“Gini.. Kalo misalnya cewek lo suka sama gue itu salah gue, gue minta maaf.”
“YA ELUNYA JUGA NANGGEPIN, BANGSAT! LO KAN TAU LEONA CEWEK GUA!! ANJING LO!”
“Leona kan temen gue. Masa’ gue ngejauh.”
“YA LO SADAR DIRI DONG ANJING!”
“Jadi lo maunya gue ngejauh? Nggak bisa.”
“LO NANTANGIN GUE?”
“Ngapain sih kita ribut-ribut, Nick. Kita omongin aja baik-baik. Besok deh, gimana?”
“BESOK GUE KE KAMPUS LO!”
“Jam berapa? Jangan pagi, gue ada kelas.”
“SORE GUE KE KAMPUS LO!”
“Yauds. Tapi nggak usah pake acara berantem, lah.. Malu, njir.”
*tuuut… tuuuut…*

Makin runyam. Malem-malem ditelepon pacar orang, dimaki-maki. Sebenarnya aku dalam hati nggak terima dianjing-anjingin begitu, tapi ya bagaimana, barangkali seperti itulah perasaan seorang pacar yang kecewa. Lihat besok saja, semoga aku dan Nicky tidak berkelahi. Malu di aku, ditonton orang-orang. Nanti pada bisik-bisik, “eh itu kenapa ribut?” Terus dijawab, “Itu loh, Si Joshua ngerebut pacarnya dia.” Malulah. Jadi janganlah, jangan sampai.



KELAHI KARENA WANITA

Aku berangkat ke kampus dengan perasaan cemas, takut berantem. Tetapi aku tidak bilang Ronny, takut tambah runyam. Namanya dia temanku, pasti nanti dia akan memihakku. Jangan sampai. Sepanjang perjalanan aku berpikir, bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah ini dengan jalan musyawarah. Kuberpikir, mungkin baiknya kita bertemu di tempat yang tidak banyak orang. Jadi andai kata Nicky nanti teriak-teriak, ya tidak menarik perhatian orang lain. Malu kalau berantem.

Keep reading