niat

Perjalanan mencari Kebenaran

Saya bukan ustadz.  Saya hanya seorang “truth seeker” yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena Allah, dan bukan karena yang lain.

Tulisan ini pun request dari seseorang (yang dekat) yang bertanya pada saya mengenai temannya, yang memiliki pertanyaan unik mengenai Al-Qur’an. Tentang mengapa ayat Al-Qur’an sering kali sulit dimengerti?

Mengapa ayat-ayat nya seperti meloncat-loncat dan tidak tersusun secara sistematis?

Bagaimana cara meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an? Mendengar pertanyan-pertanyaan ini seperti dejavu.

Teringat pertanyaan-pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang bahkan lebih liar dari ini. Tapi Alhamdulillah…

Justru pertanyaan-pertanyaan seperti itulah, yang jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni untuk mencari kebenaran (bukan kesombongan), kemudian kita menemukan jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Tulisan ini mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas.

Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya dan dipakai untuk memotivasi.
Motivasi untuk terus mencari jawaban, menggunakan segala potensi yang kita miliki, termasuk akal. Dan akal bukanlah logika tanpa batas.

Akal adalah logika yang tunduk dan rendah hati.

Motivasi bagi siapapun yang memiliki pertanyaan yang sama, atau bahkan yang sedang mengalami krisis keimanan, atau untuk siapapun yang pada titik tertentu dalam hidupnya mulai bertanya:

Mengapa saya ada di sini?
Untuk apa sih tujuan hidup ini?
Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar?
Well, mari kita mulai.

Alhamdulillah…
I was born as a muslim.
Yup, orang tua dan keluarga saya juga muslim. (Saya tidak sedang mengomentari istilah agama warisan yang ditulis seorang remaja baru-baru ini, hehe.)

Saya hanya mau menceritakan bahwa saya sangat menyesal karena sangat terlambat menyadari anugrah Allah yang telah menakdirkan saya terlahir di keluarga muslim.

Penyesalan yang baru terjadi beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tahun 2014. Sebelum itu, interest saya terhadap ilmu agama sangat minim, sangat jarang ikut kajian, apalagi baca buku agama.
Ibadah pun pas-pasan, shalat subuh sering kesiangan, baca Qur’an jarang-jarang, zakat kadang-kadang, pas ada yang minta bantuan paling enggan, puasa bulan Ramadhan juga datar-datar aja dan lewat begitu aja tanpa ada perubahan.

Fokus saya saat itu adalah: uang, bayar utang, menafkahi istri dan anak, membangun rumah tangga, rumah, mobil, pendidikan anak dan sejenisnya.

Karena menurut saya pada saat itu, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Hingga suatu saat ketika utang semakin sedikit, penghasilan makin naik, karir pekerjaan semakin baik (walaupun menuntut waktu lebih banyak dan tanggung jawabnya lebih besar), rumah sudah ada, mobil sudah ada, biaya kesehatan ditanggung, saya mulai suka bertanya sendiri:

What’s next? (Selanjutnya apa?).

OK, next-nya mungkin rumah yang lebih bagus, mobil yang lebih bagus, dan sejenisnya. Dan ketika semua itu tercapai, saya mulai ngerasa aneh. Kok kerasa hampa ya? Ngga sebahagia yang dibayangkan sebelumnya. Meanwhile, tanpa disadari tuntutan pekerjaan makin ganas, dan stress mulai melanda.

Instead of baca Qur’an, musik-film-game lah yang jadi andelan.  Stress memang hilang, tapi sesaat.

Besoknya balik ke kantor stress lagi. Sampai akhirnya semua itu mulai berpengaruh ke kesehatan. Mulai sering sakit, daya tahan tubuh drop, sering kena maag, asam lambung, dan lain-lain. Saya kadang menjadi sedikit delusional, sering membuat lagu sendiri, membuat puisi sendiri, kadang hanyut di alam khayalan dan angan-angan kosong.

Rindu akan kedamaian, yang abstrak, yang entah bagaimana mencapainya. Sampai suatu hari, saya jatuh kepeleset di stasiun dengan posisi jatuh terduduk.

Ceritanya panjang sebenernya, singkat cerita saya jadi ngga bisa berdiri, ngga bisa duduk, apalagi jalan, karena setelah diperiksa dokter, ada urat yang kejepit di punggung/pinggang.

Ada cairan lumbal disc yang pecah dan menjepit saraf. Saya harus dioperasi, walaupun cuma operasi kecil. Tapi tetep harus dibius total. Saya masih ingat betul, pemandangan terakhir yang saya ingat di ruang operasi, sebelum saya ngga sadar, adalah lampu di atas ruang operasi.

Melihat lampu itu dengan syahdu, saya membatin: “Gimana kalau ada yang salah dan saya mati? Inikah akhir perjalanan hidup?”

Alhamdulillah saya masih hidup, dan operasinya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani masa pemulihan.

Sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan walaupun belum normal. Saya mulai suka bermimpi yang aneh-aneh. Suatu hari saya bermimpi sedang digantung di atas lautan api yang menyala-nyala.

Astaghfirullah….mimpinya serasa begitu nyata, sampai pas bangun pun rasanya masih teringat bagaimana panas yang terasa.

Mimpi itu seperti lecutan yang menghantam keras. Setelah itu saya mulai sering membuka Al-Qur’an, dan mulai membaca buku-buku agama.

Air mata pun mulai sering menetes. Rasa sesal mulai meresap ke dalam hati. Mimpi berikutnya tak kalah menakutkan.
Ketika terbelalak melihat matahari terbit dari arah barat. Dan seketika itu datang rasa sesal yang begitu nyelekit. Tertutup sudah pintu taubat. Astaghfirullah…

Setelah itu, semangat mempelajari Al-Qur’an semakin menggebu-gebu. Pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri terus terlontar. Saking banyaknya pertayaan sampai harus dicatat untuk dicari jawabannya kemudian. Seperti terlahir kembali menjadi orang yang baru.

Pertanyaan-pertanyaan seperti :

“Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan saya ada di sini?”, ”
“Apa tujuan hidup ini?”, ”
“Apa yang terjadi setelah kita mati?”, ”

“Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini ini benar?”, ”
“Apa sih sebenarnya isi Al-Qur’an?”.

Bahkan sampai bertanya:
, “Apa buktinya ya Qur’an itu benar dari Sang Pencipta, dan bukan buatan manusia?”, dan

“Apa buktinya ya Islam itu benar?”.

Berhubung pertanyaan saya agak liar, saya kadang menghindari pertanyaan langsung kepada ustadz.
Karena setelah saya sensor pertanyaannya pun, seringkali jawabannya kurang memuaskan. Seringkali malah saya mendapat renspon bahwa pertanyaan saya ini ngga patut, dan bahwa keyakinan itu ya harus yakin aja, bahwa agama itu diyakini dengan hati, bukan dengan akal.

Dan seringkali diakhiri dengan kata “Pokoknya begini, dan begitu”. Terpaksa saya iya kan aja, walaupun saya membatin, “Kalau keyakinan itu ya harus yakin aja, orang yang beragama lain juga bisa pake argumen yang sama dong.
Terus masa ada multiple kebenaran, padahal antara satu dan yang lain bertentangan? Taklid buta dong jadinya.”

Sehingga saya lebih banyak mencari sendiri melalui membaca buku, artikel, menonton video ceramah, dokumenter, dan lain-lain.

Hingga seorang teman memperkenalkan saya dengan video-video Ust. Nouman Ali Khan, begitu juga teman lain yang memperkenalkan dengan video Dr. Zakir Naik. Walaupun tidak pernah bertemu, mereka terasa begitu dekat di hati.

Both of them are my heroes. Isi ceramahnya benar-benar persis dengan apa yang saya butuhkan. Saya sangat beruntung, bahasa Inggris yang sehari-hari digunakan di tempat kerja, ternyata sangat berguna untuk mendengarkan ceramah mereka berdua dalam bahasa aslinya.

Saya sangat terinspirasi dengan Dr Zakir Naik ketika beliau sedang berdebat dengan seorang atheis, kemudian beliau berkata:

, “So you’re an atheist? Congratulation! You’re half a moeslim. 
To become a moeslim you need to admit that there is no god, except Allah, Laa ilaaha illallah. 
You already believe there’s no god, correct? 
Then my job is to convince you another half: illallah, except Allah

.” (Jadi anda atheis? Selamat! Berarti anda setengah muslim. Untuk menjadi seorang muslim, anda harus mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Allah, Laa ilaaha illallah.
Anda sudah percaya bahwa tidak ada tuhan, benar? Jadi saya tinggal meyakinkan anda setengah bagian berikutnya: illallah, kecuali Allah).

Beliau juga menjelaskan bahwa kunci untuk menjawab pertanyaan: “Apa bukti Islam lah yang benar?”, adalah Al-Qur’an.
Bahwa selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat.

Hard proof bahwa itu memang berasal dari Tuhan Yang Esa, Allah. Beliau menguraikan bagaimana ayat-ayat Qur’an mendahului science sebanyak 1.400 tahun.

Sesuatu yang baru-baru ini saja ditemukan science, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Siapa kah yang memberi tahu Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, jika bukan Allah The Creator. ”

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz Dzaariyaat: 20-21)

Beberapa di antaranya:

1. Teori Big Bang dan asal usul alam semesta yang baru di era science modern ditemukan (1980an), yang menyatakan bahwa alam semesta saat ini terus mengembang. Dan dulu merupakan suatu kesatuan massa besar namun kemudian terjadi ledakan besar sangat dahsyat (big bang) yang terus mengembangkan alam semesta. Hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa: 30 “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Hal ini juga baru diketahui science modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dan ayat Qur’an sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan: 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebutkan matahari dengan “Syams” atau “Siraaj (obor)” atau “wahhaaj (lampu menyala)”. Dan cahaya bulan dengan kata ” muniir” yang artinya tidak mengelurkan cahayanya sendiri.

3. Besi yang sekarang ada di bumi, tidak terbentuk saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al Hadid: 25. Pada ayat ini, kata “Anzalnaa” berarti “Kami turunkan”.

4. Gunung sebagai pasak yang memiliki root/akar yang menhujam ke lapisan dalam bumi sebagai penstabil kerak bumi. Hal ini baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat Thaha: 6-7, Surat Al-Anbiyaa:31, dan Surat Lukman:10.

5. Gunung yang bergerak perlahan (beberapa cm per tahun). Juga baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat An Naml:88.

6. Fenomena pembatas antara dua perairan. Seperti di daerah Selat Giblatar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Diungkapkan oleh ahli Oseanografi Francis J. Cousteau. Dan ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahman: 19-20 dan An-Naml: 61.

7. Penciptaan manusia di dalam kandungan ibu. Dr Keith Moor, seorang ahli embriologi dibuat takjub dengan begitu akuratnya Al-Qur’an mendeskripsikan perkembangan embrio dalam Surat Al-Alaq:1-2, Surat Al-Mu’minuun:12-14, Surat Al Qiyamah:38 dan Surat Al Hajj: 5. Dan masih banyak lagi dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini karena begitu banyaknya.
Subhaanallah…
Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing.
Di sini saya mulai menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik.
Karena terjemahan kadang doesn’t even scratch the surface.
Terlalu banyak makna yang hilang. Keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an semakin terasa mantap. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab.

Kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan science. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar?
Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi yang berada di dalam Al Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption?

Di sini juga saya pun bertanya-tanya mengapa ayat-ayat Al Qur’an terlihat seperti melompat-lompat dan seperti tidak sistematis?

Di sinilah kajian-kajian Ust Nouman Ali Khan begitu banyak memberikan jawaban yang memuaskan.

Ust Nouman begitu mendalam membahas sisi linguistik Al-Qur’an, yang membuat saya benar-benar terpukau dengan Al-Qur’an.

Semangat untuk belajar bahasa Arab klasik terasa makin menggebu-gebu jadinya.

Sebagai seseorang yang hobi menulis dan membuat puisi, saya dibuat takjub dengan surat-surat yang incredibly poetic, terutama surat-surat Makkiyah.

Walaupun baru mulai belajar bahasa Arab, I can’t help myself ketika mendengarkan ayat-ayat yang begitu puitis, seringkali tak kuasa menahan air mata yang mengalir, karena keindahan bahasanya yang begitu kuat terasa, meskipun didengar oleh telinga saya yang non-arab. Lebih indah dari lagu atau irama mana pun.

Lebih dahsyat dari puisi mana pun. Belum lagi jika ayat itu berhubungan dengan penciptaan atau alam.
Bagi penggemar science seperti saya, yang sering nonton video dokumenter tentang alam, bagaimana terbentuknya bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu benar-benar menembus ke dalam jiwa.

Saya pun dibuat takjub dengan Ring Composition Structure di beberapa Surat Madaniyah. Serta ayat-ayat yang incredibly symmetric. It’s so mind boggling, menakjubkan.

Jelas sudah, manusia tidak memiliki mental capability untuk membuat yang seperti ini.
It’s definitely word of God.

Berikut beberapa contoh-contoh keindahan linguistik dalam Al-Qur’an:

1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ Terjemahan simpelnya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuninya: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja” Huruf و dalam bahasa Arab, sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Huruf و dapat digunakan untuk 21 jenis fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر Nah sekarang perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف di tengahnya. Subhanallah! Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari 7 huruf. Dalam bahasa Indonesia kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Dan Qur’an hanya membutuhkan 7 huruf yang disusun secara sangat elegan.

2. Dalam Surat Ya Sin ayat 40, Allah SWT berfirman, لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ Terjemahannya simpelnya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, dimana masing-masing “berenang”/”melayang”/beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan kata كُلٌّ فِي فَلَكٍ Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي Sekarang mari kita ilustrasikan: ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar. Subhaanallah! Bagaimana mungkin manusia bisa merangkai kata sedahsyat ini? It’s so not human. It could only come from God.

3. Ayat Kursi yang tentunya sudah familiar bagi seorang muslim. Ayat ini terbagi menjadi 9 kalimat
: (1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ”

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhkluk-Nya)” (2) لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ “tidak mengantuk dan tidak tidur” (3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ “Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi” (4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya” (5) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka” (6) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء “dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki” (7) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi” (8) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا “Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya” (9) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ “dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar” Kalimat pertama diakhiri dengan 2 nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri; Sumber dari segala sesuatu).
Dan kalimat pertama ini, memiliki kesamaan dengan kalimat ke-9, dimana juga disebutkan 2 nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Besar). Kemudian lihatlah kalimat ke-2, dan hubungannya dengan kalimat kedua dari akhir (kalimat ke-8). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk.
Manusia misalnya, akan mengantuk jika kelelahan.

Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuatnya lelah atau berat. Kemudian perhatikan kalimat ke-3, dan koneksinya dengan kalimat ketiga dari akhir (kalimat ke-7).

Dua kalimat tersebut saling melengkapi. Pada kalimat ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi.

Dan pada kalimat ke-7, Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya, Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Di dunia ini, pemilik yang memiliki suatu properti, belum tentu penguasa/raja yang memiliki kerajaan/authority.
Dan raja yang memiliki kekuasaan, belum tentu sebagai pemilik. Karena kepemilikan itu, terhadap suatu objek atau properti. Sedangkan kerajaan adalah mengenai kekuasaan untuk mengendalikan orang.
Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Raja bagi langit dan bumi. Kemudian kalimat ke-4, dan hubungan maknanya dengan kalimat keempat dari akhir (kalimat ke-6).
Di kalimat ke-4 Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya.

Dan ini dilengkapi dengan kalimat ke-6 yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu-Nya, kecuali Allah menghendakinya.

Dan lihatlah bagaimana kalimat ke-5 yang berada di tengah, yang bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang mereka. Who speak like that? Subhaanallah! So beautiful!
4. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an, dengan jumlah 286 ayat, has take the symmetry to the whole new level.
Struktur ini dinamakan Ring Composition Structure.

Hal ini baru-baru ini saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern. Surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian, berdasarkan tema:

Bagian 1: Keimanan & Kekafiran

Bagian 2: Penciptaan & Pengetahuan
Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil

Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim

Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat

Bagian 6: Muslim akan diuji
Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada muslim
Bagian 8: Penciptaan & Pengetahuan

Bagian 9: Keimanan & Kekafiran Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema.

Dan di dalam bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286), perhatikanlah bunyi ayat ini: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu.
Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Subhaanallah!

Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan, lokasinya tepat berada di tengah surat ini. Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema.  Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin.

Misalnya saja pada Bagian 8 – Penciptaan & Pengetahuan:
Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian harta dari apa yang Allah berikan Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah memberi kehidupan dan kematian.

Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah

Bahkan struktur ini tidak berhenti pada level sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya ayat 255 yaitu ayat Kursi yang telah dibahas sebelumnya.

Subhaanallah!

Level kepresisian yang menakjubkan ini, jelas terasa sebagai mukjizat ketika mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Saat itu, saya baru paham bahwa ayat-ayat Qur’an itu diturunkan secara piecemeal, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi Sallallahu’alaihi wasallam saat menjalani misinya sebagai Rasulullah.

Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi tersebut.

Dan kejadian atau tantangan tersebut jelas-jelas di luar kontrol beliau.
Contoh kongkrit nya misalnya: Seseorang mukmin bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, atau ketika musuh menantang beliau.

Respon dari hal ini berupa turunnya ayat kepada beliau, menjawab situasi spesifik yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat ini tidak harus berurutan di surat yang sama dan tidak harus turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, out of sequence (tidak berurutan).

Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam akan diinstruksikan oleh Allah untuk meletakkan ayat ini di posisi ini di surat ini. Dan ayat itu di posisi itu di surat itu. Dan seterusnya, sehingga posisinya fixed. Dan perlu diingat, pada saat itu Qur’an adalah oral tradition.

Para sahabat Nabi tidak melihat Qur’an seperti kita sekarang, dalam bentuk kitab (tertulis). Mereka mendengar Al-Qur’an.

It’s an audio experience, not visual experience.

Sebuah pengalaman audio namun setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa.

Is that humanly possible?

Al-Qur’an ini, tidak seperti buku biasa buatan manusia.

Ayat yang sekilas terlihat melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang luar biasa.

Fakta lain sebagai hard proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya.

Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer.

Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah.
Perhatikan fakta-fakta berikut: – Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali.

Dan kata “al akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali. –

Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Dan begitupun kata “Syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali. –

Kata “al-hayaat” (Kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Dan begitupun kata kematian sebanyak 145 kali.

. – Kata “Ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Dan begitupun kata “As-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali. –

Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Dan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali. –

Frasa “mereka berkata”, terhitung sebanyak 332 kali.
Dan kata “Katakanlah”, juga sebanyak 332 kali. –

Kata “bulan” sebanyak 12 kali –
Kata “hari” sebanyak 365 kali Again, is that humanly possible?

Saya begitu dibombardir dengan kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an.

Dan ternyata itu belum selesai. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya.

Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaf, huruf يس di Surat Ya Sin, dan sebagainya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut: –
•Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57. Dan 57 = 3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19. Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Jumlah huruf ي di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi. – Jika initial حم yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka: Surat Al-Mu’min: terdapat 64 huruf “ha” dan 380 huruf “mim” Surat Al-Fussilat: terdapat 48 huruf “ha” dan 276 huruf “mim” Surat Asy-Syura: terdapat 53 huruf “ha” dan 300 huruf “mim” Surat Az-Zukhruf: terdapat 44 huruf “ha” dan 324 huruf “mim” Surat Ad-Dukhan: terdapat 16 huruf “ha” dan 150 huruf “mim” Surat Al-Jasiyah: terdapat 31 huruf “ha” dan 200 huruf “mim” Surat Al-Ahqaf: terdapat 36 huruf “ha” dan 225 huruf “mim” Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi. –
“•Initial عسق di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini.
Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Begitu pun initial كهيعص di Surat Maryam.
Terdapat 137 huruf “Kaf”, 175 huruf “Ha”, 343 huruf “Ya”, 117 huruf “Ain”, dan 26 huruf “Shad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.

Subhaanallah!

Jika Al-Qur’an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka saya tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang.

Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini: “Dan tahukah kamu apa Saqar itu? Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,
Yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas. Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?”

Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.
Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Muddatsir: 27-31)

Ini baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an.

Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan.
Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya.

Bagai lautan luas.
Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.

Dan setelah mukjizat demi mukjizat, sudah saat nya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an.

Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ullaha wa atii’urrasul. Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Because Al-Qur’an is a “live” guidance.

Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita.

Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut.

We will receive His Guidance thru His words in the Qur’an.

Jadilah hamba-Nya.

The summary of entire Qur’an is basically to accept the fact that we are slaves and He is our Master

(Ringkasan seluruh Qur’an pada dasarnya adalah untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah hamba dan Dia adalah Rabb kita).

Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya.

Kedamaian di Surga-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat: 55)

Maha Benar Allah dengan segala firman Nya.

Cimanuk – Bandung, Hari 21. Ramadhan 1438 H
*Alumni Mesin ITB 2002


Eka Pratama

~~~


Repost
Singapore
28 Ramadhan 1438 H

Kembali Untuk Merindu

Ramadhan udah di penghujung. Berbagai macam reaksi orang-orang untuk menuju bulan syawal, terutama bahagia. Karena dapat merayakan hari kemenangan bersama keluarga, dapet THR dari mana-mana, liburan ke mana-mana, dapet atau akan memiliki sesuatu yang baru dan lain-lain. Tetapi nggak selalu senang dan bahagia yang akan dirasain untuk menyambut lebaran, ada beberapa orang yang juga sekaligus merasakan suatu kesedihan dibalik rasa bahagianya di hari raya nanti. Orang-orang ini adalah hamba-hamba Allah yang pasti jiwa dan hatinya selalu padaNya. Mereka percaya bahwa mendapat ridhoNya adalah yang pertama, yang akan mengantarkan dan memudahkan segala urusannya di dunia.

Dulu waktu awal ramadhan niat hati bertekad untuk mengkhatamkan Al-Quran, tapi sekarang sampai di penghujung ramadhan pun, sepertiganya pun belum sampai. Belum bisa menyempurnakan qiyamul lail bahkan Itikaf pun baru satu malam. Sholat wajib yang terkadang tidak berjamaah bahkan telat hingga di waktu akhir, sholat tarawih yang banyak bolong, sholat sunah yang banyak tidak dikerjakan. Dan juga uang lebih yang belum tersalurkan. Semua itu adalah karena urusan dunia yang sibuk padahal sebenarnya banyak yang tidak perlu sehingga menjadi sia-sia, tidak memaksimalkan bulan ramadhan ini, bahkan sampai di penghujung pun.
Itu semua adalah cerminan diri gue sendiri pula.

Gue bukan golongan orang-orang mukmin yang sempurna, gue masih mementingkan dunia daripada akhirat, gue masih jauh dari sunah-sunah Baginda Rasulullah SAW. Apalagi golongan orang-orang yang akan menangis ditinggal perginya ramadhan, karena bulan yang penuh berkah akan segera berakhir. Tapi gue sedih. Sedih bukan karena ditinggal oleh bulan ramadhan, sedih bukan karena mengharap lebih untuk bisa mendapat banyak berkah dan pahala di bulan suci ini. Nggak. Sampai sekarang aja gue nggak bisa memanfaatkan bulan ramadhan dengan maksimal. Bukan itu. Tapi gue sedih dan takut akan suasana yang akan berganti setelah ramadhan dan idul fitri nanti. Gue selalu suka dengan suasana di bulan ramadhan, di bulan ini benar-benar dirasakan bagaimana Islam itu memang agama yang paling damai dan indah.

Setiap harinya masjid selalu diramaikan oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Lantunan ayat-ayat suci Al-quran yang banyak dikumandangkan di mana-mana, indah, merdu, sejuk, dan menenangkan hati. Banyak majelis-majelis yang bermanfaat, di mana banyak ilmu yang bisa diambil. Kebersamaan yang sangat kuat antar manusia di mana kita bisa selalu saling berbagi dan menghargai. Irama sahur oleh pemuda-pemuda yang bersemangat sekali membangunkan sahur. Menikmati kebersamaan sahur dan berbuka bersama keluarga, saudara, sahabat dan teman-teman, yang jarang sekali kita lakukan di hari-hari biasa. Teman-teman yang tadinya jarang sekali mencari pahala, di bulan ramadhan menjadi lebih rajin beribadah. Hal-hal kemaksiatan menjadi berkurang. Tidak ada asap rokok di siang hari. Suasana kerja dan kuliah menjadi lebih santai tanpa mengurangi keseriusannya. Dan masih banyak lagi hal-hal yang pasti dirindukan di bulan suci ramadhan ini. Yang tidak ada habisnya jika dibicarakan

“Ma, pa.. adek ngga apa-apa puasa terus, asal bisa selalu sahur dan buka puasa bareng terus kayak gini, banyak makanan enak, suasananya enak, begini terus.” Seorang anak yang menceletuk berbicara kepada keluarganya ketika sedang menyantap sahur bersama keluarganya.

Siapa yang tidak akan rindu di bulan ramadhan nanti? Bahkan orang kayak gue pun yang belum sepenuhnya dalam keistiqomahan akan sangat merindu. Gue yakin kalian pasti merasakan hal yang sama, bahkan untuk yang non muslim, yang sudah merasakan di hatinya indahnya di bulan ramadhan ini, pasti akan rindu. Semoga kita semua akan dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan yang indah ini. Aamiin ya Allah..

Tidak ada yang pasti atau bisa menjamin bahwa kita semua akan dipertemukan kembali dengan bulan ramadhan. Walaupun kita berharap tetapi alangkah lebih baik, kita selagi masih ada waktu bisa memanfaatkannya. Mari kita mulai berubah dari sekarang. Tidak ada yang terlambat. Bukankah Islam agama yang mudah dan indah? Bukankan Allah adalah Yang Maha Pengasih?

Emang ilmu agama gue nggak tinggi-tinggi banget, tapi gue punya kepercayaan. Di hari-hari terakhir ini gue ingin mengejar berkah yang masih tertinggal di bulan ramadhan ini. Niat dari hati diiringi dengan kesungguhan, kita sama-sama pasti bisa. Kita sama-sama ingin berhijrah. Yuk kita mulai dari sekarang..

Dan akan berakhir sudah rentetan berkah tanpa akhir

Surga dunia akan hengkang untuk sementara dan derita dunia akan segera kembali

Mengalir air mata para hamba yang selalu berharap singgasana

Alunan senandung indah akan bergelantung bagai burung yang bingung

Satu dalam perbedaan. Harta dunia yang paling berharga akan mulai memudar

Purnama yang hanya bagian dari seribu bulan akan digantikan matahari yang sudah menunggu di timur

Sang hina akan merindukannya, berharap kembali ke dekapan Sang Pengasih

Masa depan masih bias, dalam rahasia Sang Ilahi, tetap menanti purnama dari seribu bulan untuk kembali

Pekalongan, 28 Ramadhan 1438H

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin  Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh  shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya  kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Niat adalah pondasi dari sebuah perbuatan. Maka selalu periksa dan perbarui niat kita agar menjadi atas segala apa yang kita lakukan. Semoga Allah selalu menjaga niat kita dalam berkebaikan.

Ibn Qayyim rahimahullah talks about this, in terms of tazkiyah, he says, you have to focus on WHY you are doing this, and for WHOM you are doing this for, instead of exactly WHAT you are doing. Because you see, exactly what you are doing is a means to an end.
—  Shaykh Abdul Nasir Jangda
Tulisan : Dapur Keluarga

Kalau ingin memberi tahu laki-laki tentang betapa perlunya untuk bersiap sebelum menikah, ajak mereka ke toko alat-alat rumah tangga terutama peralatan dapur. Niscaya mereka akan berpikir berkali-kali lipat untuk menghambur-hamburkan penghasilannya. Kecuali niat mereka tidak kuat, dan keberaniannya tidak cukup untuk mengambil tanggungjawab lebih jauh untuk membina rumah tangga denganmu.

Kamu mungkin tidak pernah tahu berapa harga satu buah batu bata, berapa harga satu karung semen, sampai ke hal yang paling sederhana mungkin kamu tidak tahu kalau keramik itu banyak ukurannya dan berbagai jenis harganya. Coba sekali-kali main ke depo bangunan. Kamu mungkin tidak pernah terpikir sampai hari ini berapa banyak yang harus dihabiskan untuk membuat kamar tidur seperti yang kamu huni malam ini yang ukurannya mungkin hanya 3x3 m. Dan bertapa berharganya ruang seluas itu bagi mereka-mereka yang tidak seberuntung kamu yang memiliki rumah. Niscaya, kamu akan berpikir lebih bijak dalam membelanjakan penghasilanmu dan mulai berpikir bagaimana caranya mencicil rumah untuk keluarga kecilmu nantinya.

* * * * *

Niat dan keberanian kita perlu diimbangi dengan persiapan dan kesiapan. Ini bukan tentang berapa banyak yang harus kita miliki. Juga bukan tentang apa-apa yang harus kita miliki sebelum menikah. Melainkan tentang seberapa siap kita bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar itu agar keluarga kita bisa mandiri.

Kalau kita ingin menolong lebih banyak orang, pastikan kalau urusan domestik telah selesai kita tunaikan. Kalau ingin berdaya bagi umat, pastikan urusan-urusan mengisi perut itu sudah selesai, sebab sekalinya kita berpikir untuk mengambil keuntungan dari pekerjaaan untuk umat dan masyarakat, langkah kita akan terbebani.

Menikah itu butuh keberanian dan kesiapan lahir dan batin dan mental untuk mengambil seluruh tanggungjawab berserta resikonya. Tentu butuh proses, tentu butuh waktu, butuh ketekunan dan kesabaran. Dan hal-hal itu tidak sesederhana yang kita pikirkan. Ada begitu banyak hal yang luput kita pahami sekarang. Menikah hanya melihat manis-manisnya. Lupa untuk menyiapkan penawar dari lelah, sakit hati, ketidaksiapan, ketakutan, kekhawatiran.

Coba tengok dapur keluargamu saat ini. Dibalik asapnya yang terus mengepul setiap hari, ada perjuangan yang panjang dan berliku. Belajarlah dari mereka, orang tua yang mungkin selama ini kamu anggap tidak mampu mengerti tentang keinginan dan harapanmu. Tapi karena merekalah, kamu bisa menjadi seperti saat ini.

Dapur rumahmu nanti adalah tanggungjawabmu. Kalau tidak bisa menyediakan gas, apakah kamu siap hanya dengan tungku kayu? Kalau tidak ada daging, apakah kamu siap hanya dengan sayur mayur?

Manusia akan diuji dengan kelaparan (QS.2:155). Sesuatu yang kadang membuat manusia lupa diri, buta mata, dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Maka, pastikanlah dapur keluargamu terpenuhi, agar selamat. Selamat bersiap sejak hari ini :)

9 Juni 2017 | ©kurniawangunadi

Memetik Buah dari Ladang Orang Lain

Enak engga sih gausah capek-capek nanem buah, gausah capek-capek nyiapin seluruh kebutuhan untuk bikin tanah subur, bahkan engga perlu nyiapin bibit, tapi buahnya bisa diambil gitu aja tanpa ijin dan abis itu dijual? Kalo engga mikirin dosa mah jawabannya pasti enak, yekan? Secara, dapet duit tanpa modal apa-apa. Tapi kalo dijualnya dengan ijin si empunya ladang mah halal-halal aja. Yang engga halal tuh ketika dijual tanpa ada ijin sama sekali dengan si empunya, haram tjuy~ That’s the main point!

Yang tadi tuh cuma analogi aja kok, jadi sebetulnya hari ini mau blabbering dikit (ujung-ujungnya sih pasti panjang)

Lemme say, perkembangan social media sekarang tuh cepet banget dan bawa banyak hal menguntungkan terutama untuk personal branding. Admit it! Gini deh, lo mau jadi apa? Desainer atau fotografer? Kalo dulu ribet harus bikin portofolio dengan nyetak ini itu dan menyiapkan beragam hal lain yang lumayan menguras isi kocek, kalo sekarang beda, sekarang mah gampang, hiasi aja blog atau instagram lo dengan hasil karya lo, trus publish dan jadiin itu sebagai portofolio. Modalnya apa? Kuota internet dan smartphone.

Atau mau jadi penulis? Cara termudahnya adalah tulis aja kepsyen panjang-panjang, rajin aja updet blog, nanti pembaca dengan sendirinya akan menemukan karya lo. As we know, penerbit-penerbit besar di Indonesia juga sudah mulai mencari tulisan-tulisan populer. Tulisan-tulisan yang berasal dari blogger yang punya pembaca, yang tulisannya disukai oleh orang lain, yang tulisannya mendapat respon dari orang lain, yang konsisten untuk nulis walaupun dunia nyepelein, ya semacem itulah pokoknya.

Kalo dulu mau jadi penulis tuh susah, bikin draft, print sampe berlembar-lembar, kirim ke penerbit, nunggu 1-3 bulan yang belum tentu langsung diterima (even sampe sekarang juga untuk mengirim naskah tulisan masih harus seperti itu). Tapi ya kalo gamau ribet untuk melakukan hal itu, kalian tinggal lakukan hal tadi—memanfaatkan social media untuk “menjual” karya lo, mengenalkan pada dunia siapa lo dan gimana karya lo.

Itu keuntungannya ada social media saat ini. Namanya hidup, ada plus ada minus, ada yang nyemangatin ada yang ngejatuhin, selalu ada yang bertolak belakang buat ngasih warna. Trus kekurangannya socmed apa? Karya lo dicopas, diplagiasi, dicuri, diakui, bahkan yang lebih nyesek lagi adalah DIKOMERSIALKAN.

Prolognya aja udah panjang kan tuh:(

Jadi gini, dua hari yang lalu ada yang nge-direct message di instagram janpi bilang bahwa,

“kak quote-nya diaku-akuin tuh”

Lalu doi ngasih screenshot quotenya. Reaksi pertama mah sans aja, da udah biasa dicomot gitu (sombong pisan anaknya teh:() Trus nanya dong,

“Ohya? Akunnya apa?”

dan dijawablah,

“@statusmantan kak, tadi aku mention kak Janpi sih, tapi abis itu komenku diapus”

Karena emang lagi gabut, langsung aja dong mau stalk akun itu, cuma pengen kepo niat awalnya mah, trus pas ngebuka dengan ig janpi, kampret moment happens, engga ketemu dong akunnya, WOW EYKE SUDAH DI BLOCK TJUY. Ku dm lah followersku tadi dengan bilang “aku diblock deh kayaknya dek, gabisa liat akunnya da” then she said, “pake akun kakak yang satunya lagi aja”

Ah, what a good idea! Ku buka dengan akun stfbl (sekalian promo gapapa lah ya ehehe), eh ketemu! Fix udah diblock ternyata akun janpi wk. Iseng lah, stalk dengan asoy, sambil mengumpat dalam hati, “uw kwotku banyak sekali yang diakuin, gapapa gapapa, ikhlas~”

Iya bener awalnya ikhlas, sampe kemudian ngeh kalo ternyata doi sudah menerbitkan buku! Karena ada say no to piracy, di salah satu postingannya. Eh emosi dong, abis itu komenlah dengan bilang,

“tidak mendukung pembajakan, tapi ambil quote orang trus diaku-akuin? Dan yang punya quote asli diblock? Duh si @hujan_mimpi kasian dong kakak”

Engga lama setelah itu, mau load more postingannya eh udah gabisa, akun stfbl ternyata diblock juga. WOW! Keren pisan da. Iseng mau buka lagi, pake akun orang lain, eh ignya yang tadi public langsung diprivate. Unch, ada yang disembunyikan dan secara tidak langsung si @statusmantan ini tau dong kalo doi salah.

Setelah itu minta bantuan temen-temen untuk kemudian nge-add akun itu, tapi emang orangnya udah takut mungkin, engga ada yang di-accept sampe sekarang, duh salah banget bersikap gini, asli. Penasaran dong, akhirnya aku dan temen-temen lain ngekepo line@-nya, dan mari ucapkanlah syukur Alhamdulillah, karena ternyata lagi-lagi quote janpi dan sederet nama tumblr lainnya juga banyak yang dicomot dan diakuin. Hahaha. Emang dasar udah panas, mas @menjalin ngekomen di postingan line@ itu dengan mencantumkan link tulisan asli, eh engga lama komennya diapus dan disable komen. Udah ini mah engga bener ini orang, bersalah wes!

Trus karena emang kepo, balik lagi liatin akun ig si kang copas ini, di bionya ada judul bukunya, trus search dong di google, kemudian ingin berkata kasar tapi masih nahan-nahan supaya engga kesulut emosi, karena tau kenapa? Judulnya hampir mirip dengan tulisanku di instagram dan yang lebih kesel adalah TAGLINE, fix dari tulisanku yang judulnya seperti itu. Mau ngoceh rasanya tapi buat apa, dan dengan membulatkan tekad, kebetulan emang hari itu mau ke toko buku, sekalian aja nyari buku itu.

Singkat cerita, buku tersebut kutemukan, dan ada yang kebuka dari wrapping-nya, jadilah dibaca memindai aja, berulang-ulang di dalam hati udah kesel karena ternyata ada beberapa yang tulisannya familiar banget. Akhirnya dengan berat hati, yaiyalah berat, kalo beli berarti nyumbangin royalti ke dia, tapi karena terpaksa dan mau membuktikan sesuatu, berangkatlah ke kasir dan beli buku itu.

BTW, KALIAN GAUSAH IKUT-IKUT BELI BUKUNYA GUYS, SAYANG UANG JUGA, DIA SIH ENAK DAPET ROYALTI. MENDING SEKALIAN AJA REPORT AKUNNYA EH :)))

Sampe rumah, dimulailah penyelidikan. Judul buku dan tagline-nya terlalu familiar, udah gitu judul buku sama tagline-nya teh jadi yang begitu dijual, jadi kemungkinan besar tulisan itulah yang menjadi main point di buku itu. Kucarilah tulisan itu, pas dibuka HAHAHAHA, bener dong tulisannya copas secopas-copasnya ummat dari tulisanku.

Mulai nyari lagi, satu dua tiga ketemu tulisanku yang dicomot, dan kemudian menemukan tulisan dari akun-akun lain yang juga diambil, contohnya nih tulisannya kak cindy aka @kunamaibintangitunamamu. Mennn, mau gimana juga engga ada credit-nya, si penulis asli mah bakal tau itu tulisannya. Inget banget di surat kontrak penerbitan buku ada tulisan bahwa, karya adalah karya orisinil penulis, bukan plagiasi. Berarti ada unsur pertanggungjawaban seharusnya kan? Bisa diusut dong ya?

Akhirnya di tengah malem, aku nge-pm editor kesayangan, nanya apakah bisa tulisan seseorang yang sudah dibukukan untuk diperkarain kalo ternyata tulisan itu adalah hasil copy paste, tentunya dengan menyertakan bukti. Dan jawaban editorku adalah, “bisa dong~ kenapa bella?”

Mungkin janpi lagi kebanyakan amarah jadinya cuma senyum jahat sambil bales chat dengan bilang, “gapapa kak, kucari buktinya dulu ya hehe.” Dan pencarian pun dimulai, nandain halaman per halaman yang aku tahu itu tulisanku dan aku familiar dengan tulisan itu. Mulailah buka archive tumblr, mulailah dengan mengetik satu kalimat di halaman yang udah kutandain di google, thennnnnn…terbukalah semua tulisan aslinya.

Aku menemukan tulisanku yang kutulis di tanggal 12 Juni 2016, judulnya Merindukanmu, sudah mendapatkan notes 255 kali, yang mana bahkan tulisan ini sudah dimusikalisasi sama mas @mangatapurnama, juga dicopas di buku ini (terima kasih untuk system archive tumblr yang membantu), padahal buku ini terbit di April 2017, plis, siapa yang lebih dulu coba ya? Belum lagi tulisanku yang jadi main point di buku ini adalah tulisanku di caption instagram tanggal 11 Januari 2017, yang bener-bener plek sama. Warbiayasak memang!

Dengan sedikit gerah melihat kelakuannya yang dengan begitu beraninya mengkomersialkan tulisan orang lain, ku pm lah bukti-bukti itu ke editorku. Dan hari ini, di tanggal 22 Mei 2017, kuserahkan masalah ini ke tangan penerbit.

Biar apa diperkarain sih? Biar ada efek jera, percayalah, kegiatan ini kalo engga dikasih ketegasan, akan menjangkit. Udah kayak penyakit menular, copas meng-copas begitu didiemin bisa menular juga soalnya. Kedengeran lebay? Bodo amat! Toh yang dirugikan memang eug, bukan lau hehe. Kalo dicomot di akun doang lo bisa bilang ikhlasin aja, tapi ketika lo udah tau karya lo dikomersialkan tanpa ijin, lo negur halus lalu diblock, apa iya masih mau untuk engga peduli?

Rejeki udah ada yang ngatur, yelah, anak sekolah juga tau itu, tapi masalahnya bukan direjeki siapa-siapanya, tapi ini tuh perbuatan salah. Lo tau salah tapi lo diem aja, itu malah lebih salah!

Aku tidak bilang ini sepenuhnya salah penerbit apalagi editor dari buku tersebut kenapa sampe bisa kecolongan, toh mereka sudah memperingatkan hal itu kepada penulis sedari awal, bahkan sebelum penulis tanda tangan kontrak ada point penulis harus bertanggung jawab penuh bahwa tulisan itu adalah hasil karyanya sendiri. Jadi ya ini mah salah penulisnya, tapi merugikan banyak pihak tentunya, penerbit dan editornya juga mau gamau jadi malu, merasa dirugikan dan jadi ngerasa punya tanggung jawab dong ya~

Kemarin malam, di saat abis pulang talkshow, masih dengan ditemani editor dan beberapa penulis lainnya yang masih juga bahas masalah ini, si admin statusmantan ngepm dong. CIAK, AKUH DI PM! Isinya adalah ucapan permintaan maaf bahwa sudah memasukkan tulisanku ke buku mereka, dan berkata bahwa itu adalah ketidaksengajaan karena admin statusmantan ada banyak. Bentar, correct me if i’m wrong, ketidaksengajaan kalo se-kalimat dua kalimat mah yaudah gapapa, tapi kalo satu tulisan penuh? Kalo engga hanya satu tulisan? Itu masih bisa disebut sengaja? Alibinya admin ada banyak? Di akhir chat doi yang masuknya langsung banyak itu, doi bilang kalo menunggu responku, eh sampe skrg chatku ga di-read dong wkwk. Hmm, mari menghela napas saja~

Ah ya, begitu masalah ini kuceritain di igstories banyak yang bilang, “sabar, pahalamu banyak”. Mennn, bukan perkara pahala, dan engga semua hal harus dihadapi dengan cara mendiamkan aja, sabar engga selamanya diam, kan? Ini lebih kepada harus ada yang menghentikan kegiatan seperti ini, biar plagiasi engga semakin merajalela. Yang dirugiin engga cuma yang karyanya dicopas soalnya. Sekarang gini deh, yang karyanya dicopas engga semuanya punya keberanian untuk nyari bukti dan ngasih bukti-bukti itu dan menuntut. Engga kehilangan apa-apa emang, tidak sampai merugikan dalam hal materil kalo diliat, tapi dari moril, ada yang bisa menjamin kalo orang ini akan tetep mau berkarya? Kalo abis dicopas dan tau karyanya dijadikan buku, siapa yang bisa menjamin orang ini akan tetep pede nge-share tulisannya di socmed kepunyaannya? Sedangkan doi juga engga sepede itu untuk ngirim naskahnya ke penerbit. Materil engga dirugiin? Masa iya? Si tukang copas yang membukukan tulisannya ini dapet royalty loh, dapet DP loh, coba kalo si yang dicopas nerbitin buku sendiri atas karyanya, royalty dan DP itu masuk ke koceknya~

Nih ya, ini edukasi sebenernya, untuk siapapun yang merasa karyanya dicopas bahkan sampe dikomersialkan dan lo punya bukti kalo itu karya lo, jangan diem aja, jangan takut, Indonesia punya hukum kok atas hal itu. Lo dirugikan dan lo punya peran besar untuk menghentikan plagiasi.

Janpi pribadi, mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada pembaca, followers dan siapa pun itu yang peduli pada karyaku dan karya orang lain serta bersedia untuk memberitahukan akun-akun yang hobi ngecopas tanpa mencantumkan sumber asli kepada pemilik asli tulisan. Sekali lagi, peran serta pembaca buatku adalah segalanya. Next, aku akan cerita seputar buku “Sebatas Mimpi” yang membuatku semakin peduli dengan dunia kepenulisan~

Salam hangat tapi bukan karena amarah,
Hujan Mimpi

*nb: janpi engga pernah minta tolong untuk reblog postingan, tapi kali ini, mau minta tolong share tulisan ini–entah dengan reblog atau share linknya, terserah, bebas. biar orang lain di luar sana tau, kalo menghargai karya orang lain itu perlu. dan kegiatan copas mencopas apalagi untuk tujuan komersial sangat bisa diperkarakan. makasih banyak kelean :)

YES, HELLO ODA, EXCUSE ME.

I’D LIKE TO KNOW ABOUT THEIR PAST HISTORY, PLEASE!!!

Mencari sahabat, sama seperti mencari cinta,
Jadilah solehah… bukan carilah soleh. InsyaAllah akan datang soleh untuk kita.
Begitulah juga, Jadilah sahabat yang baik, bukan carilah sahabat yang baik. InShaaAllah akan hadir sahabat yang baik-baik.

Jangan pula sesekali melupakan Allah dalam memburu kasih-sayang manusia,
Dengan melupakan kasih Allah, kita pasti gagal merebut kasih manusia.
Yang ada cuma akan menyakitkan dan melukakan kedua-duanya.

Saat melihat kebaikan sahabat… rasailah itu hakikatnya kebaikan Allah.
Tetapi apabila melihat kejahatan atau kelemahan manusia,
Percayalah… itu cara Allah menguji kita..

Jika ingin menjadi insan dan hamba Allah yang lebih baik,
jangan lupa untuk sering “menyemak” semula siapa yang berada di sekeliling kita.
Bukankah Nabi Muhammad saw pernah berpesan, agama seseorang ditentukan juga oleh siapa sahabatnya…?
(HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ahmad)

Tidak mengapa kalau kita tidak mempunyai ramai sahabat, tetapi sedikit itu biarlah yang setia, sayang, tulus dan benar-benar jujur dengan kita yang mahu sama2 meraih syurga Allah.. :’)

Cek Niat dan Tetaplah Berbuat Baik

Siapa yang tahu bahwa kebaikan yang terlihat oleh mata manusia adalah benar, sebuah kebaikan yang tulus ?
Siapa yang dapat memastikan bahwa apa yang tampak dari indera mata itu adalah kebaikan yang tulus ?
Siapa yang bisa menjamin bahwa apa yang nampak itu adalah kebaikan tulus bukan keburukan yang berbungkus label bagus ?

Sejatinya kita itu hanya tahu sebatas apa-apa yang dapat kita jangkau dengan panca indera, tak ada yang tahu apa yang tersembunyi di dalamnya. Namun karena itu, hati kita dilatih untuk selalu berhusnudzan kepada orang lain, hati kita dilatih untuk tidak usil mencari-cari kesalahan dan aib orang lain.

Lihatlah diri kita, berapa banyak kebaikan yang kita lakukan dengan ikhlas, hanya mengharap ridho Allah semata ? Apa betul, setiap kebaikan yang kita lakukan sudah benar tujuannya ? Apa benar, kita tak mengharap pujian dari manusia ?

Kita sendiri tau bukan, bagaimana rapuhnya hati kita, bagaimana mudahnya kita terayu niatan-niatan busuk yang membisiki telinga kita ? Namun, itu semua bukan lantas kita jadikan alasan untuk tidak berbuat baik, untuk tidak menyebarkan kebaikan. Kerjakan saja, lakukan kebaikan itu, sambil terus cek niat kita, jika berbelok perbaharui kembali, terus seperti itu. Berbuat baik lah, lambat laun Allah akan menolong kita untuk senantiasa menjaga niat baik kita.

Jangan lupa, untuk selalu perhatikan diri sendiri, perbanyak koreksi diri, lihat lah keburukan-keburukan apa yang ada pada diri namun Allah telah menutupi. Jangan memandang sinis pada orang lain, jangan sibuk mengoreksi orang lain. Dirimu lebih harus mendapat perhatianmu, sebab nanti yang mempertanggungjawabkan segalanya adalah diri sendiri, bukan orang lain.

Tetaplah berbuat baik, meski seringkali kekhawatiran akan riya atau penyakit hati lainnya datang. Jangan sampai itu semua mengalahkan dirimu untuk berbuat baik. Minta pada Allah untuk selalu menjaga niatan kita.

Bandung, 13 Juni 2017

Persoalan amal bukan tentang ‘sempat atau tidaknya’, melainkan tentang 'menyempatkan atau tidak’. Bukan tentang ada tidaknya kesempatan, melainkan ada tidaknya niat yang kuat pada diri.
—  Ustadz Agus Rohmawan


Salah satu buah ilmu di lingkaran cinta yang mencapai titik romantismenya. Segala puji bagi Allah yg senantiasa mengirim orang-orang baik di sekitar kita. :)
Ramadhan #3 : Orientasi

Dulu sewaktu mahasiswa, barangkali di antara kita pernah ada yang berpikir seperti ini: ikut kegiatan ini itu untuk memperkaya CV. Ikut kepanitian ini dan itu, ikut mengajar di rumbel, dsb. Tujuannya tidak lain untuk memperkaya CV. Mau tidak mau, kita perlu jujur terhadap diri sendiri. Mengapa kita aktif di sana sini saat itu, ada hal-hal lain yang kita kejar dan cari. Pun saya sendiri.

Hingga setelah kita lepas dari dunia perkuliahan. Ada saja hal-hal semacam itu yang kembali terulang. Saat kita terjun di masyarakat, saat kita ikut serta di berbagai kegiatan sosial. Kadang, kita perlu jujur kalau kita tidak setulus dan seikhlas itu. Masih ada hal-hal duniawi yang kita cari dari sana.

Sekarang, urusan seperti itu tampa kita sadari merembet ke urusan-urusan ibadah kita. Dan sungguh, kalau setiap peluh kita selama ini, semangat kita untuk berbuat baik yang selama ini kita orientasikan kepada ibadah, akan sangat absurd ketika kita terjebak pada ukuran materi. Saat kita berbuat sesuatu untuk orang lain, ada di hati kecil kita harap untuk dibayar atau menerima balasan. Saat kita harus menguras tenaga dan pikiran dulu ketika di organisasi, ada di hati kecil kita harap untuk nanti ini semua bisa dicantum dalam CV dan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita.

Niat-niat baik kita yang tadinya kita orientasikan sebagai ibadah. Mulai terbentur dengan pandangan kita pada dunia; bahwa kita butuh materi untuk hidup dan apa yang sedang kita kerjakan tidak memberi apa-apa.

Saya selalu takjub dengan teman-teman saya yang sampai saat ini memiliki nafas panjang terhadap perjuangan yang sejak dulu mereka rayakan. Dan tak peduli pada bagaimana masyarakat sibuk membahas tentang dunia, tentang uang, tentang hidup yang layak dalam standar mereka, dan tentang pandangan bahwa lulus dari kampus ini harus menjadi orang besar, bekerja diperusahaan multinasional, dsb.

Beberapa waktu yang lalu ketika saya diajak untuk berbagi di Dreamdelion. Saya sempat menyampaikan hal ini. Utamanya untuk adik-adik yang masih semester awal perkuliahan. Bahwa setiap hal baik yang sedang dikerjakan saat ini, melalui apapun jalannya, jangan sampai ternodai dengan ukuran-ukuran materi, waktu, tenaga, dan segala sesuatu yang membuat kita menjadi pamrih. Karena sungguh, menjaga nafas panjang dalam berbuat baik, apalagi dengan ide-ide kita semasa kuliah, itu sangat sulit. Apalagi menjaga orientasi kita tetap terjaga. Perkara nanti kita akan memetik buahnya atau tidak, jangan terlalu merisaukannya.

Dan saya mengamati bahwa apa yang kita bentuk sejak kuliah dulu akan membentuk diri kita di masyarakat. Orientasi kita dalam hidup ini akan ada dalam kendali kita. Dulu mungkin kita punya banyak teman yang sama-sama sedang dalam tahap belajar. Kini, kita menyaksikan realita dan harus membuat keputusan kemana orientasi hidup kita.

Akankah nafas perjuangan yang dulu kita hembuskan, masih berhembus hingga kini? Akankah setiap mimpi kebaikan yang dulu lahir dari keresahan kita, masih tumbuh hingga saat ini. Saat kita sudah dihadapkan pada dunia yang tidak seideal dunia kampus. Saat kita harus bertarung antara untuk hidup dan untuk menghidupkan impian kebaikan kita.

Urusan-urusan niat kita sejak kuliah akan diuji. Jangan sampai, ukuran-ukuran kita terhadap materi merasuk dalam niat-niat baik kita dan setiap perjuangan kita yang kita orientasikan untuk ibadah. Tidak hanya ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial. Dan kita paham bahwa bab niat adalah urusan yang sama sekali bukan urusan sepele.

29 Mei 2017 / 3 Ramadhan 1438H | ©kurniawangunadi

“Sshhhh let the captains rest, it’s been such a long day for them.” – someone from either crews, probably.

Here’s your daily dose of pirate alliance fluff. Enjoy and hope you like it <3

Nanti pada waktuNya, semoga kita tidak mempersulit seseorang yang datang dengan niat dan cara yang baik. Semoga hati kita cukup peka untuk mengetahui jawaban setelah meminta petunjuk kepadaNya. Semoga kita tidak lupa mengawali segala hal baik dengan niat yang baik dan menyebut namaNya.
Rapuh.

Judulnya dah galau ala orang yang lagi bertepuk sebelah tangan belum? Kayak siapa? Kayak kamu bukan? Wkwkwk

Dulu, Ibuk pernah berpesan satu kali, “Dek, kalau ada waktu luang, sempatkanlah datang ke pengajian.”
Aku jawab sekenanya “Iya…”

Padahal dalam hati, ngapain ke kajian. Yang ke pengajian itu kan ibu-ibu rumah tangga. Nanti ajalah, kalau udah jadi ibu-ibu.

Mbak No, setelah nikah, pernah aku tanya, “Lagi apa kau?”
“Lagi di pengajian” katanya.

Aku sempet mikir, orang-orang yang ke pengajian itu orang-orang yang ga asik. Buat yang kerudungnya gede-gede doang. Buat yang udah gamisan. Yang udah jadi ibu-ibu. Berat. Kalau masih muda sih gausahlah ya.
Apalagi pernah ada pengalaman dikasih tahu sesuatu “Itu kan haram!” dengan nada yang agak tinggi oleh seseorang yang cara berpakaiannya punya ilmu agama yang cukup baik. Aku jadi takut dan malah makin menjauh.

Tapi ternyata Allah menjebak hambaNya yang ngeyel ini ke satu pengajian. Rutin pula.

Berawal dari iseng dan buat ngisi waktu, aku dapet broadcast tentang kajian rutin. Akhirnya aku datang, sendirian. Kajian itu bakal diadakan rutin tiap Sabtu. Errr…nama kelompok kajiannya AISHAH. Akademi Ibunda dan Istri Shalihah. Jadi isi kajiannya tentang seputar rumah tangga gitu deh. Hehe. Iseng.

Karena namanya Istri dan Ibunda, kebanyakan yang datang adalah yang sudah berkeluarga. Cuma ada empat yang belum menikah, salah satunya aku. Dan ternyata mereka butuh panitia. Jadilah yang hadir hari itu, yang belum menikah diminta menjadi pengurus kajian. Errr…aku…mau ga mau ikutan.

Nah, bener sih, temenku yang jadi pengurus lainnya ukhti-ukhti gitu, ada yang pakai niqab juga bahkan. Tapi ternyata mereka asyique semua tuh anaknya. Dan aku, merasa dirangkul sekali oleh mereka. Mereka pastikan aku merasa bahwa “kita sama-sama belajar”, padahal ilmu agama mereka jauuuuuuh diatasku.

Tapi aku masih “rapuh”. Niat awalku kan karena iseng, ngisi waktu, dapet temen baru, dan itu semua aku dapat, tapi ilmunya engga wakaka duh, jangan ditirulah yang kayak aku ini.

Akhirnya niat aku perbarui. Datang ke kajian, untuk cari ilmunya.

Tapi aku masih “rapuh”. Satu persatu teman yang biasanya ngajak aku ke pengajian pindah ke luar Jogja. Aku sendirian.

Yaudah, gapapa, aku mulai ajak beberapa temanku yang lain. Kata mereka, “Nanti aku denger dari kamu ajalah.”
Atau ketika aku mencari teman untuk belajar tahsin, ada yang bilang, “Ngapain? Allah tu maklum kalik. Kan kita bukan orang Arab, jadi gapapa kalau kita baca Quran ga bener-bener amat. Dah dapet pahalanya juga.”

Dan aku yang “rapuh” ini cuma bisa diam.

Yaudah, gapapa. Buat aku dulu aja.

Tapi ternyata “sendirian” terasa lebih berat. Aku masih terlalu “rapuh” sehingga masih memikirkan apa yang orang lain katakan.

Pernah suatu saat, aku bilang sama Mbak No. Kan kalau kita melakukan sesuatu yang kita gak tau kalau itu gak boleh gapapa (Duh sumpah ini alesan orang males.) Kata Mbak No, “Kau mau dak tau terus? Kalau kau mau dak tau terus ya dakpapa. Gitu aja terus.”

Teringat lagi apa kata Hana Adha, “Nun, Allah tu baik kali sama kita. Semua dikasih loh ke kita. Tapi kita ni kadang cuma melakukan ibadah yang diiming-imingi aja. Masa belajar aja kita dak mau Nun? Padahal semua bisa dipelajari.”

Tapi ternyata orang “rapuh” kayak aku masih terus butuh teman yang mengingatkan. Dengan lembut. Karena rawan malah akan berbalik arah, apalagi kalau dikit-dikit dibilang haram. Ini itu haram. Kan yang tadinya mau belajar jadi merasa “ah ga asyique ah”. Boleh kan pelan-pelan? Jadi, kalian yang punya cukup ilmu untuk dibagikan, bagikanlah dengan lembut. Sesungguhnya orang-orang kayak aku ini ingin sekali belajar. Tapi terlalu takut dan malu. Malu dicemeeh “ciyeeeeehh hijraaaaahhhhh” seakan-akan belajar agama menjadi hal yang terlalu “eksklusif” membuat orang membuat batas sendiri.

Btw, aku salut sekali sama pemuda pemudi yang “nongkrong"nya di masjid. Salut sama orang yang segala perbuatan dan perilakunya "karena Allah”. Doakan aku menyusul.