ngeblog

anonymous asked:

Sharing mbak.. Lebih milih wanita sarjana yg jadi ibu rumah tangga atau wanita pekerja? Alasannya apa?

Saya berusaha tidak terjebak pada dikotomi-dikotomi peran semacam itu.

Saya sendiri saat ini masih kuliah, ngurus rumah tangga berdua sama suami, sambil kerja sebagai penulis konten untuk seorang tokoh masyarakat, promo buku Happiness Laboratory, juga jualan teh Thailand tiga kali dalam seminggu, sisanya saya tukang ngeblog. I don’t fit in that dichotomy.

Yang saya tahu, peran-peran itu di mata saya sebatas kulit, sesuatu yang tampak di luar saja. Esensinya, dengan peran itu, ibu rumah tangga, atau ibu bekerja, atau ibu bekerja dari rumah, mampu ngga kita ngasih ‘sesuatu’ buat orang lain.

Jadi ibu rumah tangga itu hebat dan mulia, kalau dengannya kita jadi bisa ngedidik anak2 yang shalih shalihah, ngurus A-Z semua kebutuhan keluarga, jadi istri yang menyenangkan, dengan ikhlas. Tapi bisa terjadi sebaliknya? Ya bisa-bisa aja.

Jadi ibu bekerja itu keren dan mulia, kalau niatnya bantu keluarga, sambil tetep bisa adil dalam membuat prioritas antara kerjaan dan keluarga, sambil tetep bisa jadi istri yang taat ke suami. Tapi bisa terjadi sebaliknya? Bisa-bisa aja.

Dua-duanya bukan pilihan mudah. Bukan pilihan enak.

Yang menurut saya kurang pas, ketika ibu rumah tangga dan ibu bekerja masing-masing saling menjatuhkan, atau sama2 menyombongkan diri.

“Kami ibu rumah tangga, kami lebih dari kamu”

“Kami ibu bekerja, kami lebih dari kamu.”

Menurutku lebih bijak kalau memandang dua peran ini dengan biasa-biasa saja. Toh, yang menjalani peran ini tetaplah manusia biasa. Bukan malaikat.

Ngga perlu klaim sana sini bahwa Ibu rumah tangga adalah pilihan terideal buat SEMUA orang, dan seolah-olah hidup pasti baik-baik saja kalau kita milih jadi Ibu rumah tangga. Katakan saja itu pilihan terbaik untuk diri sendiri. Faktanya, ada juga ibu rumah tangga yang ngga menjalani peran dengan bertanggungjawab, anak dimarahi terus, suami ngga 'dilayani’ sebagaimana mestinya, selingkuh di saat suami pergi.

Ngga perlu klaim sana sini bahwa Ibu bekerja adalah pilihan yang paling baik dan seolah-olah SEMUA ibu bekerja itu bisa tetap seimbang antara kantor dan rumah, selalu happy karena punya uang sendiri, ngga keteteran dalam membesarkan anak. Katakan saja klaim itu atas nama diri sendiri. Faktanya, yang anaknya terabaikan oleh ibu dan ayahnya karena keduanya bekerja ada juga kan, yang suaminya ngga ridho karena istri lebih mementingkan kerjaan daripada keluarganya ada juga.

Jadi, saya memilih jadi ibu yang fleksibel saja. Sekarang anak masih kecil, ya sudah nikmati saja hari-hari saya habis untuk membesarkan anak. Sambil berusaha buat berkontribusi juga buat orang lain. Kalau nanti anak sudah besar dan lebih mandiri, ngga menutup kemungkinan saya kerja atau buka bisnis yang lebih besar.


Catatannya, tetap, hidup kita terbatasi oleh tanggung jawab. Berbeda dengan anak dan remaja, orang dewasa mesti menjalani apapun perannya dengan bertanggung jawab. Jadi ibu rumah tangga atau jadi ibu bekerja mah gampang, yang sulit itu pas bagian bertanggung jawabnya. Kita kenali saja diri kita masing-masing, ukur saja kemampuan diri kita sendiri, mana yang kira2 sesuai dengan tujuan hidup kita, mana yang kira2 bisa kita pertanggungjawabkan. Lalu jalani dengan sebaik-baiknya :D :D

Tentang Plagiasi

Karyamu diambil tanpa sepengetahuanmu lalu didaku itu karya dia? Adalah hal yang wajar.

Ya, wajar karena manusia adalah peniru yang ulung. Sejak kecil kita telah menirukan hal-hal yang ada di sekitar dan dari orang-orang sekitar. Sejak itu, kita membudaya dan jadi seperti sekarang, sikap kita, pandangan kita, cara berpakaian kita, dan lain sebagainya.

Ada tindakan turunan meniru yang lebih ekstrem, plagiasi. Seperti yang kita tahu, plagiasi adalah mencaplok ide, karya, dan inovasi orang lain lantas diakui sebagai hasil proses si plagiat. Ini bukan hal baru, kok.

Ketika akhir-akhir ini muncul respon dari teman-teman, yang mengeluhkan, karya mereka diplagiat oleh teman lain, saya cuma merenung panjang. Kita berada dalam dunia yang saling terhubung. Kita membuat sebuah karya lantas mengunggahnya ke dunia maya (tumblr) dan bisa diakses semua orang, bahkan dari tempat jauh (sejauh mantan gebetan yang menghindarimu), itulah kita saat ini.

Saya yakin kita semua di sini ingin karya kita dibaca banyak orang; ingin dipuji dan diberi “love” dan direblog; ingin di-ask sama followers; dan keinginan lainnya. Maka, kita pun berlomba-lomba mengunggah karya semenarik mungkin, 24 jam kalo perlu. Itulah kita.

Lalu tiba-tiba karya kita diposting di tempat lain oleh akun yang tidak kita kenal. Respons kita? Protes dan menyebarluaskan bahwa kita terkena plagiasi. Ya ini reaksi yang wajar.

Tapi, sebentar, apa tujuan kita membuat karya di sini? Sekadar main-main atau serius ingin ngeblog dan jadi penulis? Saya sendiri juga seperti itu, tapi saya tidak akan ambil pusing atas plagiasi. “Mereka bisa mengambil karya kita, tapi tidak akan bisa mengambil ide-ide kita yang masih tersimpan di diri kita,” saya ucapkan ini dalam diskusi di KITA Regional Sumatera.

Oleh karena itu, saya tidak pernah mengunggah karya puisi atau cerpen yang belum pernah diterbitkan media mana pun di tumblr saya. Sekadar menghindari pusingnya memikirkan karya yang diplagiasi orang lain. :)

Puasa Sosial media. Kamu bisa lho ngga pake facebook sejak 2013, bisa ngga pake bbm atau line dan cuma pake whatsapp, kamu bisa ngga tertarik sama path karena merasa kaya orang asing disana, kamu pada akhirnya bisa ninggalin twitter, meski ngga bisa untuk ngga ngeblog :D
— 

Nah, tinggal kurang kurangin aja curhat di instagram. Bisa yaa ?? Kumohon.

Dear : maya.

Random awesome 😂😂😂

Something More

Selasa kemarin, saya kedatangan tamu spesial.

5 anak kelas 5 SD dari Mentari School: Rumi, Syaina, Dafa, dan dua kawannya.

Mereka bercerita bahwa mereka akan menggelar pameran tentang berbagai jenis pekerjaan di sekolahnya. Semua siswa dibagi dalam kelompok, dan setiap kelompok mendapatkan tugas untuk mewawancarai orang-orang sesuai pekerjaannya.

Kelompok mereka mendapatkan tugas untuk mewawancara Blogger dan Vlogger.

Melalui serangkaian jaringan sana sini, saya blogger yang kena tembak untuk jadi sasaran wawancara mereka. Saat pertama kali dihubungi dan mendengar mereka punya tugas untuk wawancara blogger, hal pertama yang terlintas di kepala saya, saya ngapain ya waktu kelas lima?

Rasanya kerjaan saya cuma main bola dan ga betah di kelas menunggu waktu main bola. Sekarang, anak anak ini punya PR yang buat saya keren luar biasa.

Mereka diantar oleh ibunya Rumi, dan kemudian ditinggal untuk melakukan wawancara mandiri dengan saya. Layaknya anak SD pada umumnya, mereka langsung kasak kusuk buka buku catatan berisi daftar pertanyaan yang akan diajukan untuk saya. Lalu salah satu dari mereka mulai bertanya,

Can we do it in English?

Saya cengap sebentar, lalu mengangguk, “If you guys are more comfortable with that, sure”. Saya kemudian baru sadar kalau Mentari School itu sekolah internasional.

Mereka pun memulai dengan beberapa pertanyaan dasar yang terdengar sangat template, tapi saya sangat kagum karena dilakukan oleh anak kelas lima. Pertanyaannya berputar di sekitar what is blog, why do you blog, dan how do you start, pertanyaan sederhana yang ternyata lumayan membuat saya berpikir. Saya jawab satu per satu lalu mereka sibuk mencatat dengan pensil. Canggihnya, salah satu dari mereka tidak mencatat, tapi menyodorkan iPhone nya untuk merekam. Iya, iPhone.

“So where do you blog?”

“Tumblr. You guys know it?”

“Yes, kind of instagram and twitter, right?”

“Social media, yes”

“What’s the difference? Is it better?”

Saya tersenyum sebentar, lalu membuka hape saya dan menunjukkan aplikasi Tumblr.

“This is Tumblr Dashboard. You can try post anything”

Saya lalu membiarkan mereka mencoba main Tumblr. Mereka keasikan memainkan tombol post yang memunculkan 7 icon postingan secara popout.

“You can literally post anything so easily, and have your beautiful blog without doing anything. Tumblr make everything for you”

Anak anak itu mengangguk, lalu salah satu dari mereka bertanya.

“What can I see in Tumblr?”

Saya terdiam sebentar, lalu menjawab. “Well, anything. What do you want to see?”

“Hmm lego?”

“Of course”. Saya lalu mencoba membuat postingan GIF dan mengetikkan lego. Lalu muncul ribuan GIF lego.

Saya coba scroll ke bawah, dan ketika hasilnya ada terus menerus, yang lain mulai ikutan.

“Try Spongebob!”

“How about naruto?”

“Frozen?”

Saya mengetik semuanya. And Tumblr just never let me down.

Mereka semakin asik mencoba berbagai hal di Tumblr, sampai saya harus mengembalikan mereka ke daftar pertanyaan.

“Okay guys, any other question?”

Mereka kembali melihat catatan, lalu melemparkan satu pertanyaan terakhir.

“This is the last one. What do you get from your blog? From your Tumblr?”

Saya terdiam sejenak, lalu mengingat banyak hal yang saya dapatkan selama 5 tahun ngeblog di Tumblr.

“I get a lot of things. At first, it was just me expressing myself. Post things I like, write about stuffs I’m curious about, tell stories about things around me.

Then, I got a lot of new friends. Everywhere I go, I felt like someone from Tumblr can welcome me in the city.

I am connected with people who have similar interests. Real people whom I really meet, who share their real stories.

I have people listen to my stories.

I got supports in helping others. 

I got advices, fresh ideas, and new inspiration.

I got excited to explore my creativity. 

At first, Tumblr is just a canvas, where you express yourself and tell your stories. But when you do it right, being honest with who you really are, it becomes something more”

.

.

.

“It becomes a home”

anonymous asked:

Assalamu Alaikum Wr Wb Teh. Mau tanya dong Teh *ga dijawab juga ndakpapa*, penting ga sih teh menyiapkan dan menuliskan rencana hidup? Kalo emang penting, kok saya rasanya susah ya menentukan apa yang disukai. Mohon bantuannya Teh Urfa

Waalaikumussalaam wr wb.

Penting. Tapi ada yg lebih penting dari rencana, yaitu tujuan utama. The ultimate goal.

Kesulitan dalam merencanakan hidup mungkin berawal dari kesulitan menemukan/membuat tujuan hidup. Contoh klisenya, Anda bakal susah merencanakan mau kuliah di mana kalau belum tahu tujuan kuliah Anda apa, apakah tujuan kuliah nyambung dengan tujuan hidup Anda, dst.

Saya sering nemu cerita di biografi2 tokoh. Misalnya cerita Pak Dahlan Iskan di bukunya (lupa judulnya). Beliau cerita bahwa beliau termasuk yg menikmati hidup sebagaimana adanya, atau bahasa beliau, “Mengalir.” Alias nggak terlalu saklek merencanakan ini itu. Tapi kok bisa sukses ya? Nah itu karena beliau punya tujuan hidup yang jelas. Tujuan itu yg memandu perjalanannya.

Bukan berarti nggak perlu pake rencana. Tapi, intisarinya adalah, rencana itu memandu, tapi rencana tanpa tujuan bisa menyesatkan dan mengaburkan mana yang penting dan mana yang tidak penting dalam hidup.

Tujuan itu, menurut saya, bisa ditemukan setelah kita sering menyelam ke dalam diri dan, menurut saya lagi, akan lebih mudah mengetahui tujuan kita kalau kita yakin bahwa Allah nggak menciptakan kita tanpa alasan. Pasti ada misinya.

***

Mengenali apa yang diri kita sukai (passion) menurut saya adalah chapter penting untuk memahami ultimate goal apa yang ingin kita capai. Beberapa tips soktau saya untuk menemukan apa yang kita sukai :

1. Ikuti rasa penasaranmu

Kalau punya ketertarikan sama beberapa bidang, just try it. Coba aja. Eksplorasi setiap bidang, bisa dengan membaca, ngobrol sama orang yang sudah bergelut di bidang tersebut, atau melibatkan secara langsung dalam aktivitas yg berkaitan dengan bidang tsb. Lalu evaluasi, bidang apa saja yang bikin Anda betah berlama-lama? Apa itu bikin Anda kegirangan dan berkata “Ini saya banget!” Atau tidak? Beberapa orang passionate di beberapa bidang. Ada juga yang fokus di satu bidang. Tiap orang berbeda-beda.

2. Perhatikan baik-baik orang-orang seperti apa yang kamu idolakan, siapa mereka, bidang apa yang mereka geluti

Siapa idola kita bisa merepresentasikan apa yang kita sukai, ingin jadi seperti apa kita.

3. Jangan nyerah

Klise, tapi bener. 

Perkiraan saya, umur Anda baru memasuki fase dewasa awal (Maaf ya kalau salah), dan kalau benar, ini saat yang tepat untuk mencoba melakukan banyak hal. Sebagai ilustrasi aja. Saya pernah nyoba ngajar anak SD Bahasa Inggris secara volunteer satu semester, pernah ngajar jurnalistik anak SMP, pernah aktif jadi tukang desain dan dokumentasi di berbagai kepanitiaan dari mulai yang remeh temeh sampai yang skala universitas, pernah juga jadi ketua redaksi majalah kampus, pernah juga bikin social project dlm bidang perempuan dan keluarga, jadi pengurus masjid juga, selain itu saya juga seneng ngeblog dan nulis buku, saya juga seneng belajar kajian psikologi Islam dan psikologi positif. Tapi sekarang saya menemukan yang bener-bener passion saya, yaitu menulis buku dan belajar Psikologi Islam dan Psikologi Positif. Ya pada akhirnya saya tau nggak semua bidang yang pernah saya coba itu passion saya. tapi kan saya nggak akan tahu kalau saya nggak mencoba apalagi menyerah dalam mencoba. jadi, jangan nyerah ya :)

***

Setelah mengenali passion, evaluasi lagi. Apakah passion itu bisa menghasilkan income? Apakah passion itu berpeluang membuat Anda memberi manfaat buat orang lain? Kalau dua-duanya “Ya,” nah itulah yang disebut purpose of life. Berbahagialah yang sudah menemukannya.

Mungkin diagram berikut bisa membantu :


Jadi, izinkan saya bertanya balik, “Apakah Anda sudah menentukan tujuan besarnya?”

gambar dari sini

#Ceritakan15Lagumu

Ayo Ikut Ceritakan Lagumu!

Proyek #Ceritakan15Lagumu adalah program menulis berdasarkan lagu. Tujuan dari #Ceritakan15Lagumu adalah menggairahan kegiatan menulis dan ngeblog sekaligus ajang silaturahmi bagi para pengguna tumblr. #Ceritakan15Lagumu bersifat non komersil dan membuka partisipasi seluas-luasnya bagi siapa saja yang ingin ikut serta.  Siapa saja dapat mengikuti proyek ini dengan ketentuan sebagai berikut:

1.     Berkomitmen untuk membuat tulisan yang terinspirasi dari sebuah lagu setiap dua hari sekali sepanjang bulan Desember 2015. Tulisan harus diposting di tumblr masing-masing sesuai jadwal posting.

2.    Tulisan bisa fiksi dan non fiksi serta tidak dibatasi panjang-pendeknya. Masing-masing tulisan bisa berkaitan satu sama lain atau tidak. Kamu juga bisa membuat tulisan yang ditujukan untuk kekasih atau temanmu.

3.     Posting tulisan tersebut di tumblrmu, boleh mention aku, boleh tidak.

4.     Jadwal posting adalah setiap dua hari sekali, setiap tanggal genap. Tanggal 2, 4, 6, 8, sampai 30.

5.    Di akhir tulisanmu sertakan teks: Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #Ceritakan15Lagumu

Nah, selamat bercerita dengan lagu-lagu. Senandungkan kisah tentangmu.

Salam