nerka

Perasaanmu sudah jauh, langkahmu tidak.
— 

Quote by Alberta Shendy

Terima kasih untuk Shendy yang berhasil membuat saya berkontemplasi pagi ini karena tulisannya tersebut. Sekaligus menyentak pikiran saya tentang sesuatu. Perasaan dan pikiran manusia selalu melangkah lebih jauh dari langkah kakinya.

Pikiran menerawang hingga ke masa depan juga ke masa lalu, perasaan menerka-nerka bagaimana kabar hati milik orang lain. Di dalam dirinya ada kekhawatiran sekaligus harapan yang terhimpun menjadi tumpukan tulisan, syair, lagu, sampai doa-doa panjang sepanjang malam.

Apa kabar pikiran manusia yang jauh. Tidakkah ia tersesat? Apa kabar perasaan manusia yang jauh? Apakah ia baik-baik saja?

Yang aku tahu, sedikit demi sedikit langkah berusaha mengejar perasaan dan pikiran itu. Berusaha sejajar. Berusaha mewujudkan. Mungkin tidak hari ini, tapi aku paham bahwa langkah itu terus berjalan sampai bertemu waktu.

Waktu yang dibuat dalam batas yang tidak bisa ditebak kapannya, hanya aku tahu bahwa waktu sedang menunggu langkahku sampai padanya. Itulah waktu yang tepat, waktu yang tepat untuk mewujudkan perasaan. Pikiran ini menjaga langkahku tetap berjalan, menjaga perasaanku tetap aman.

Terima kasih sudah membawaku sejauh ini. Kamu. Bagaimana kalau aku menjadikanmu sebagai tujuan?

Rumah, 12 Juni 2015 | ©kurniawangunadi

Asing

Dulu diantara kita hanyalah orang asing
Hanya saling tahu nama dari bilik laman di layar komputer
Mencari tahu
Menerka-nerka seperti apakah gerangan sosok di jauh sana

Dulu diantara kita tidak ada saling sapa
hanya diam-diam saja membaca baris kata
Tidak tahu cara memulai padahal ingin sekali menyapa
Mungkin sekedar menyatakan, halo salam kenal
atau menyatakan kekaguman

Dulu diantara kita tidak pernah ada pertemuan
terpaut oleh jarak dan rentang waktu
Jika pada suatu hari kita berpapasan di tengah jalan
aku tidak yakin jika kamu mengenalku

Itu dulu kan?
Seandainya setiap pertemuan antar dua orang manusia kita rekam sebagai sebuah cerita. Lalu kita berikan ke setiap orang. Mungkin di dunia ini tidak akan ada pertemuan yang serupa satu dengan yang lain.

Sebab itu, aku tahu meski aku hanya punya satu cara untuk memulai dan begitu khawatir ketika cara itu gagal. Tuhan memiliki cara yang tidak terhingga. Dulu, diantara kita hanyalah orang asing. Itu dulu kan?

Temanggung, 3 Maret 2014 | ©kurniawangunadi

Mau dibawa kemana keluarga kita ?

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita? Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin. Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan. Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan"

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya : 1. Terbebas dari siksa api neraka (At tahrim : 6) 2. Masuk surga sekeluarga (ath thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai 'rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (al ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin

Oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Sumber : grup FIM Club 4 Pendidikan Parenting

Semoga di tiap kau peluk dia, kau selalu ingat aku. Peluknya akan terasa hambar. Di tiap tulisanku tentang masa lalu, kau tersiksa setengah mati karena dikecam pikiran sendiri. Menerka-nerka apakah tulisanku masih untukmu atau orang lain.