nerka

Jeśli kiedyś będziesz potrzebował nerki, nie ma sprawy. Jeżeli będziesz potrzebował kawałka wątroby, no też czemu nie, ale kiedy zapragniesz serca.. dotrze do ciebie, że to jedyne serce, jej serce już nie bije.
Tulisan : Merasa Tahu

Kita seringkali merasa tahu tentang banyak hal. Menjawab semua pertanyaan yang datang dengan jawaban yang sebenarnya hanya kita kira-kira. Padahal kita belum pernah mengalaminya sama sekali.

Dan ini saya menginsafi. Seperti perkara pernikahan. Dulu sebelum menikah, saya menulis begitu banyak hal tentang berkeluarga, menjawab pertanyaan tentang hubungan antara suami dan istri, bagaimana membahagiakan pasangan, dan sebagainya. Dan terus terang, segala jawaban atau pikiran itu lahir dari imajinasi saya tentang berumah tangga dan buku yang saya baca.

Kini, selepas menikah saya mengerti bahwa dulu saya hanya “merasa tahu” tapi kosong. Seperti bagaimana membahagiakan pasangan. Bagaimana menyikapi kekecewaan. Bagaimana berkompromi. Bagaimana menyatukan visi.

Bahkan seperti hal-hal sebelum menikah; bagaimana menentukan pasangan yang tepat, bagaimana mencari keyakinan terhadap seseorang, dsb.

Pada akhirnya saya paham, kalau dulu saya hanya merasa tahu. Dan saya malu. Karena ilmu tentang segala hal itu benar-benar baru saya pelajari nyaris seluruhnya ketika saya menikah. Untuk itulah dulu saya sangat sedikit membalas/menjawab pertanyaan teman-teman terkait hubungan rumah tangga/persiapan pernikahan ketika saya belum menikah. Kalaupun ada yang saya jawab, hampir tidak pernah saya mempublikasikannya di sini.

Karena satu hal. Bisa jadi jawaban itu adalah hanya berdasar pada perasaan saya, imajinasi saya, atau hanya karena saya ingin menjawabnya tanpa saya memiliki ilmunya sama sekali. Dan ketika itu dijadikan sebagai sebuah kebenaran oleh teman-teman, itu kemudian menjadi cara berpikir dan perilaku teman-teman. Menjawab sesuatu tanpa ilmu itu berbahaya sekali. Dan saya memegang teguh prinsip itu.

Kita mungkin sedang menerka-nerka definisi kecantikan dan ketampanan. Sedang mendefinisikan saleh/salehah seperti apa. Sedang meraba-raba hati yang luas dan sempit itu seperti apa. Mungkin ada yang sedang dalam fase itu, fase dimana diantara kita belum mengalami tapi sudah berandai-andai. Menerka dengan imajinasi.

Belajarlah ilmunya dari orang-orang yang telah melampaui semua masa itu. Belajarlah dari orang-orang yang telah mengalaminya, carilah definisi itu dengan cara-cara terbaik yang kamu bisa selain membayangkannya. Carilah jawaban itu di balik bilik-bilik buku yang memang layak untuk dijadikan sumber ilmu.

Karena apa yang kita bayangkan sebelum menjalaninya, dan apa yang akan terjadi setelah menjalaninya bisa jadi berbeda sepenuhnya. Dan jangan sampai kamu tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang berbeda dengan apa yang kamu harap dan bayangkan selama ini. Ingat, memanjangkan angan-angan itu tidak baik. Dan jangan kamu menjadikan angan-angan itu sebagai kebenaran padahal kefanaan.

Yogyakarta, 23 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Perempuan Pembenci Enigma Lelaki

“Bila yang kau tawarkan adalah ketidakpastian, pergi saja.
Waktuku terlalu berharga untuk diajak bermain dengan cinta.”

-

Sejak kau datang pertama kali, aku sudah mengatakan bahwa aku bukan tipikal perempuan yang bisa kau ajak ke sana ke mari tanpa kejelasan.

Aku bukan tipikal perempuan yang senang kau ajak bersenang-senang, meski kau hadiahi ribuan kemewahan.

Aku pun bukan jenis perempuan yang suka dipamerkan sebagai ‘teman jalan’, dan hanya akan kauhubungi saat kau kesepian dan butuh kawan berkencan.

Aku bukan perempuan jenis itu, yang mungkin belakangan sering kau temui di sekitarmu.

Aku perempuan yang tahu diri.

Aku perempuan yang tahu harganya bernilai tinggi, maka aku tak sudi siapapun memberi nilai rendah.

Aku perempuan yang tahu bagaimana mencintai orang tuanya, maka aku menjaga kepercayaan mereka.

Aku jenis perempuan, yang dengannya kau tak bisa macam-macam.

Maka bila memang berniat serius bersamaku, jangan memberi teka-teki.

: Aku tak suka enigma ataupun menerka-nerka.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 9 Juni 2017

anonymous asked:

Assalaamu'alaikum. Pak Herri, bagaimana yang harus dilakukan seorang perempuan bila sedang jatuh cinta ? Barangkali ada kisah inspiratif yg bisa Pak Herri bagi agar menjadi pelajaran bagi para perempuan untuk menyikapi perasaannya..

Bila Perempuan Jatuh Cinta

Waalaikumsalam wr wb. Semenjak saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya perempuan jatuh cinta, saya tidak bisa menjawab apa-apa. Saya pun tidak bisa menerka-nerka bagaimana suasana hati perempuan saat ia jatuh cinta. Tapi, kalau kamu minta pendapat saya secara umum, mungkin saya bisa memberikan pengalaman.

Jika kamu jatuh cinta:

1) Pastikan kamu jatuh di tempat yang tepat. Sekalipun rasanya sakit, kamu bisa menikmatinya sebagai sebuah pelajaran. Dan tak akan menyia-nyiakan. Di poin utama ini, banyak mereka yang menjatuhkan dirinya ke dalam cinta yang salah dan tak berdaya-guna. Alih-alih menambah kebermanfaatan malah jatuh ke dalam bencana. 

2) Tegaskan ke dirimu bahwa yang namanya perasaan itu tidak ada limitnya. Ia bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan benar-benar tak peduli. Jangan biarkan terjebak ke dalam dua kutub ekstrim ini. Sebab itu, jaga perasaan agar berada di pertengahan; yang sedang-sedang saja. Jangan berlebihan. Ini kan pesan Rasulullah. Pesan sederhana yang kadang kita selalu melupakan. 

3) Cinta itu tidak melulu tentang perasaan ke lawan jenis. Cinta juga bekerja dalam persahabatan, kemanusiaan, pekerjaan, masa depan, dsb. Saya lebih senang jika banyak dari kita jatuh cinta pada sesuatu yang selain membawa manfaat untuk diri sendiri, juga untuk orang lain.

Seorang perempuan jatuh cinta pada buku sehingga ia menulis banyak hal perihal kehidupan. Seorang perempuan jatuh cinta pada traveling, sehingga ia menjelajah banyak tempat dan berbagi kisah mengharukan. Seorang perempuan jatuh cinta pada aktivitas kemanusiaan, sehingga ia rela menghabiskan waktu menjadi relawan di daerah-daerah rawan. Seorang perempuan jatuh cinta pada sejarah, agama, atau bahkan filsafat, sehingga ia belajar menjadi seorang pemikir dan penceramah hebat.

Ah, andai saja kita sadar bahwa ketika perempuan jatuh cinta pada ini semua, sejarah dunia mungkin akan berbeda. 

Masih Kamu

Kamu tahu? Aku masih membenci diriku yang tidak bisa biasa saja ketika mendengar namamu disebut olehnya. Aku masih tidak bisa biasa saja ketika tahu kamu sedang dekat dengan siapa.

Aku masih mengusahakanmu pada Tuhan.

Setengah hatiku memupuk harapan, semesta akan menyatukan. Setengah hati lagi mencoba merelakan, menerima yang ingin masuk walaupun tak ku sambut dengan baik.

Aku tak pandai membohongi hati.

Tidak susah mencintaimu, yang susah adalah aku tidak bisa membaca hatimu. Tidak susah mencintaimu, yang susah adalah menerka-nerka apakah ada aku di sana.

Aku hanya punya doa.

DIMULAI DARI

Kamis kemarin, saya sedang duduk di selasar masjid Al-lahtiif Bandung, menunggu kang Yoga, salah seorang anggota komunitas pemuda hijrah untuk berbicara tentang urusan video.

Setibanya kang Yoga, kami berbicara banyak hal, mulai dari dunia perfilman, branding, dan banyak hal. Salah satu yang seru, adalah mendengar cerita Hijrahnya kang Yoga yang dulunya adalah seorang pembuat video-video mudharat, tapi kini beliau membuat video-video untuk dakwah. Nampaknya akan ada tulisan khusus tentang kang yoga ini, karena kisahnya begitu luar biasa.

Tulisan kali ini membahas pertanyaan yang membuat saya cukup tercengang.

Y : Kang choqi, kang choqi udah nikah?
C : Belum kang.
Y : Oh gituh, mau dikenalin?
C : Engga dulu kang, nampaknya kalau sekarang.
Y : Oh gituh.
(diam sejenak)
Y : Kang choqi, nikahnya mau pake pacaran?
C : Wah, engga kang, masa pake pacaran atuh.
Y : Mantap kang. Bagus. inget kang, jangan sampe pacaran pokoknya mah. Inget. Itu kan gak boleh. Bagaimana mungkin, menginginkan pernikahan sakinah mawaddah warahmah, tapi dimulai dari kemudharatan.

Ya, hati saya tanpa perlu bertanya, langsung menyetujui pernyataan dari kang Yoga tersebut.

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “sakinah”, yang damai, yang tenang, yang aman, tapi dimulai dari cara yang Allah murkai?

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “mawaddah”, yang penuh rasa cinta, tapi dimulai dari cara yang tidak Allah cintai?

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “Wa Rahmah”, yang penuh rahmat Allah, tapi dimulai dari cara yang tidak dirahmati Allah?

Apa mungkin? Entahlah, saya hanya manusia, apa guna saya menerka-nerka, karena pada akhirnya, Allah lah yang berhak menentukan segalanya.

Semoga kami tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi godaan syaitan syaitan yang cantik, godaan syaitan syaitan yang tampan, agar senantiasa menjadi single yang bisa mendapatkan pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.


DIMULAI DARI
Bandung, 7 April 2017

Jika kamu tidak berani memberi kepastian, lepaskan. Jika kamu belum siap dan ingin dipertahankan, diskusikan.
—  Jangan biarkan seseorang berada di situasi yang tidak pasti, dan jangan biarkan seseorang menerka-nerka apa yang sedang kamu sembunyikan.
Seseorang yang benar-benar tulus dan yang hanya seadanya baik itu pasti terasa sekali perbedaannya. Intuisi selalu berjalan dengan baik tapi tetap berbaik sangka atas segala sesuatu itu perlu. Tidak usah menerka-nerka isi kepala orang lain, jika pun isi kepalanya sesuai dengan intuisimu. Tetaplah berprasangka baik.
Kau yang Kusemogakan

Masih mencari sketsa terbaik dalam pena, menggambar suatu rasa yang tak terjama.

Cerita yang kupaksa berakhir walau tanpa akhir yang bahagia.

Bahkan setiap kebahagiaan yang kudapat, hanya sekedar singgah layaknya pembunuh waktu yang teramat kejam.

Kau yang kusemogakan ada, melambailah keluar, walau harapan sudah kuletakan jauh diluar jalur.Tetap masih dalam sketsa, berupa goresan tinta dalam fakta, masih kumenerka-nerka batas kesetiaanmu.

Tanpa skenario, kau hunus tajam kebahagiaan dengan dentuman detik, melewatkan langkahnya tanpa mengira jarak yang konstan.

Aku hanya tersesat, terperangkap dalam remang-remang lampu malam, terus kupaksakan berjalan tanpa tujuan.

Yang setiap arahnya sengaja kubutakan dalam gelap, dan kusemogakan tak tersampaikan rinduku padamu.

@badutcerdas

Jum'at, 30

Kita tidak pernah menduga kalau akan saling menjadi titik pemberhentian. Aku berhenti dari lamanya mencari, kamu berhenti dari lamanya menunggu, dan kita sama-sama berhenti dari menerka-nerka masa depan yang tentu dulu sering kita risaukan.
— 

Danny Dzul Fikri

Dan kita akan menemukan pemberhentian masing-masing.

Jangan buat perempuan menerka-nerka soal rasa. Jangan buat perempuan penasaran dengan sikapmu yang tak biasa. Jangan buat perempuan jatuh cinta bila kau hanya ingin main-main dengannya.
Aku tak suka sakit hati. Aku tak suka air mata. Aku tak suka kehilangan. Aku tak suka rindu yang tak berujung temu. Aku tak suka bayangan semu. Aku tak suka menerka-nerka. Sialnya, menyukaimu penyebab dari semuanya.

Aku sangat kesepian malam ini. Tetapi takkan kulakukan apapun. Tentu saja, menunggu bukan hak mutlak seorang wanita bukan? Haha. Aku rasa lelakipun kadang ingin merasakan bagaimana menunggu ketika ia sedang lelah memburu. Aku takkan melakukan apa-apa, selain hanya memperpanjang nafasku pada dinginnya malam.

….

Yakinkah kau akan takdirNya yang telah dituliskan? Coba hitung, sudah berapa tahun kita mendamba dalam harap yang belum kunjung dipertemukan. Aku curiga, apakah dulu sebelum lahir ke dunia, kita sempat bertemu dan berjanji untuk saling bertemu kembali di bumi? Tapi entahlah, kita hanyalah jiwa-jiwa amnesia yang ditiupkan Tuhan ke dalam raga manusia. Lalu, kita hanya berusaha untuk membuka salah satu rahasiaNya, yaitu saling menemukan dalam sukacita.

Hanya saja, menyebut namamu sekarang aku masih menerka-nerka. Banyak soalan yang terlanjur hinggap di kepala, sehingga belum ada lagi yang membuat detak jantung ini terasa tak sama. Bagaimanapun terlahir dengan amnesia, aku percaya bahwa bila bertemu denganmu maka aku tak pernah merasa terlalu asing ; setidaknya aku percaya, rasa-rasanya kita pernah bertemu di suatu waktu, pun aku dapat membatin kalau kita seperti sudah kenal begitu lama.

…..

Ah, sudahlah. Maafkan lamunanku yang kadang melantur kemana-kemana.

Aku sekarang kesepian. Inginku menunggu lebih lama, tapi aku sadar kalau menunggu bukan tugasku, kan? Peran utamaku adalah mencari dan menghitung segala kemungkinan untuk menemukanmu. Sabarlah, aku hanya istirahat sebentar, selagi masih ada waktu maka aku berjanji akan terus melangkah menujumu.

Aku tak sedang bersama siapa-siapa. Aku merasa, hanya punya beberapa nama yang dapat kuhubungi malam ini, tetapi hanya satu nama yang entah kenapa begitu cepat terlintas seperti sapuan angin yang membawa kabar rindu. Menusuk kedalam, seperti mengerami harap dalam diam.

Bila akhirnya nama yang ingin kuhubungi itu milikmu, apakah kau yang ternyata selama ini aku cari?

….

Kau Yang Begitu Mewah

Beraninya kusangkutkan rasa di dekat dinding hatimu yang penuh tanya, sedang dilain itu kamu terus berusaha menerka-nerka batas kesetiaannya ( bukan aku ).

Kau yang tercipta begitu mewah oleh sang penyelenggara, yang tak kusangka-sangka mampu merontokkan rasa, yang aku sendiri masih tak kuasa berharap agar kau hirau padaku.

Bahkan sampai ku mencoba untuk berpura-pura lari dari sorot tajam matamu, kau terus mengikutiku dengan senyum manismu.

Sampai tak terasa, anganku sudah melambung jauh diatas awan, tapi sekali lagi kau begitu mewah untukku, dan aku merasa tak pantas untuk segalamu.

@badutcerdas

Minggu, 9

Entah bagaimana bisa, seorang kau menghentikan kekhawatiranku yang suka menerka-nerka apa yang akan terjadi dimasa depan manti.
—  Bandung, 12 April 2017
F.A