nerka

Perasaanmu sudah jauh, langkahmu tidak.
— 

Quote by Alberta Shendy

Terima kasih untuk Shendy yang berhasil membuat saya berkontemplasi pagi ini karena tulisannya tersebut. Sekaligus menyentak pikiran saya tentang sesuatu. Perasaan dan pikiran manusia selalu melangkah lebih jauh dari langkah kakinya.

Pikiran menerawang hingga ke masa depan juga ke masa lalu, perasaan menerka-nerka bagaimana kabar hati milik orang lain. Di dalam dirinya ada kekhawatiran sekaligus harapan yang terhimpun menjadi tumpukan tulisan, syair, lagu, sampai doa-doa panjang sepanjang malam.

Apa kabar pikiran manusia yang jauh. Tidakkah ia tersesat? Apa kabar perasaan manusia yang jauh? Apakah ia baik-baik saja?

Yang aku tahu, sedikit demi sedikit langkah berusaha mengejar perasaan dan pikiran itu. Berusaha sejajar. Berusaha mewujudkan. Mungkin tidak hari ini, tapi aku paham bahwa langkah itu terus berjalan sampai bertemu waktu.

Waktu yang dibuat dalam batas yang tidak bisa ditebak kapannya, hanya aku tahu bahwa waktu sedang menunggu langkahku sampai padanya. Itulah waktu yang tepat, waktu yang tepat untuk mewujudkan perasaan. Pikiran ini menjaga langkahku tetap berjalan, menjaga perasaanku tetap aman.

Terima kasih sudah membawaku sejauh ini. Kamu. Bagaimana kalau aku menjadikanmu sebagai tujuan?

Rumah, 12 Juni 2015 | ©kurniawangunadi

arah

“Lovers don’t finally meet somewhere. They’re in each other all along”

Sesampainya di rumah sepulang bepergian, ada kiriman paket yang enggak saya kenali asal muasalnya. Rasa-rasanya, saya enggak beli barang apapun lewat online shop. Waktu tau siapa pengirimnya, barulah saya ngeh kalau paket itu mungkin memuat berita gembira dari seorang sahabat nun jauh di sana.

Beberapa hari sebelumnya, memang @kurniawangunadi sempet nanyain alamat saya untuk ia kirimi undangan. Tanpa perlu menerka-nerka, isi dari amplop coklat yang saya terima pastilah secarik invitasi pernikahannya. Begitu segel selotipnya selesai disobek, saya ngeliat kantong kain berwarna putih gading dengan tulisan hitam bersambung yang tercetak di permukaannya.

Ngeliat lima kata yang tertera di bagian wajah kantong, saya langsung mengaminkan harapnya untuk diijabahkan kepada dua sejoli yang namanya tertulis di situ. Aji Nur Afifatul Hasna. Kurniawan Gunadi. Turut ditambahkan juga doa di dalam hati, “Semoga enggak sebatas tumbuh, tapi juga lestari. Aamiin”. Waktu narik isi kantong, ternyata yang keluar adalah buku yang penampakannya lagi sering muncul di linimasa Tumblr.

Gunadi sa ae nih. Tau aja saya penasaran sama buku barunya. Saya kaget waktu ngebuka halaman awal buku yang ternyata memang memuat undangan pernikahan Gunadi dan @ajinurafifah. Unik. Seumur hidup, baru kali ini saya dikirimi undangan 102 halaman. Ya, undangan ini berbonus karya dari calon mempelai dengan peruntukan sesuai tajuk di bagian sampul: kenang-kenangan.

Saya pernah ngeliat dua orang pencinta musik yang menghadiahkan lagu buatan sendiri sebagai cinderamata untuk tamu acara pernikahan mereka. Kalaulah sebuah karya tulis dijadikan cinderamata pernikahan, pastilah sejoli yang akan menikah adalah calon orang tua yang amat mencintai ilmu. Kekagetan sebelumnya berubah menjadi rasa syukur. Alhamdulillah, akhirnya Gunadi melabuhkan hati dan menambatkan komitmennya juga setelah sekian lama “melaut” seorang diri di samudera perenungan yang luas.

Enggak butuh waktu lama untuk menuntaskan bacaan yang ringan, mengalir sekaligus sarat makna ini. Lebih dari sekedar buah pikiran, Menentukan Arah adalah bentuk kepedulian dan keterbukaan Gunadi-Apik untuk membagi pemahaman tentang pernikahan - sesuatu yang dipandang abstrak sama banyak anak muda.

Satu diantara sekian banyak kalimat menarik ada di halaman 23 yang bunyinya, “Pernikahan bagi kami adalah ajang kolaborasi yang paling tinggi”. Sesuai dengan pengalaman yang baru saya jalani setelah menikah, enggak ada kesepakatan yang lebih baik antara sepasang suami-istri selain menempatkan rumah tangga sebagai arena kolaborasi. Disebut kolaborasi karena udah semestinya pihak-pihak yang terlibat memberikan nilai tambah paling spesial untuk perjalanan panjang yang akan dijalani bersama di masa depan.

Sebelum tiga hari ke depan dipersatukan lewat akad yang mendebarkan, wujud nyata dari kolaborasi telah mereka tunjukkan dengan baik lewat buku ini. Mereka berbagi peran untuk menyuguhkan hakikat pernikahan dalam banyak makna: menunggu, pencarian, sepakat, perayaan, pasangan, keluarga, anak, harta dan rumah. Mereka berbagi peran untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa pernikahan udah seharusnya enggak membatasi semangat kebermanfaatan untuk sesama melainkan memperhebat geloranya.

Saya cukup kenal Gunadi tapi belum mengenal Apik selain lewat tulisan-tulisannya di buku ini. Salam kenal ya, Apik. Saya percaya kalau Apik adalah perempuan yang juga istimewa aja karena Gunadi adalah seorang lelaki yang insya Allah istimewa. Bukankah sudah menjadi ketentuan-Nya kalau seseorang akan dipertemukan dengan jodoh yang setara dalam kepantasannya? Maka, dua orang yang berjodoh enggak kebetulan dipertemukan-Nya pada waktu dan tempat tertentu. Memang sejak jauh hari mereka telah berjalan beriringan dengan ikhtiar masing-masing dalam titian takdir.

Sayangnya, saya enggak bisa hadir di momen sakral mereka dan lagi-lagi cuma bisa melangitkan doa sederhana berikutnya. Barakallahulaka wa baraka’alaika wa jama’a bainakuma fii khair. Mudah-mudahan Allah memberkahi kalian, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan. Terima kasih atas cinderamata yang bernas ini ya Gun, Pik. Informasi lebih lanjut tentang Menentukan Arah bisa diliat di tautan ini.

Arah telah ditentukan, bekal tuntas dipersiapkan. Giliran kalian telah tiba untuk menjalankan amanah dengan sepenuh-penuh keyakinan dan keberanian.

Cerpen : Skenario

Kita tidak pernah saling kenal sampai pada saat kita sama-sama bertanya, “kamu siapa?”. Diikuti rentetan pertanyaan lain yang membuat kita saling mengenal.

Kita tidak pernah bertemu sampai pada suatu saat kita menyapa, “assalamu'alaykum” dan balasnya. Diikuti beberapa waktu untuk mendiskusikan barang sesuatu yang penting bagi kita.

Tidak satupun waktu dalam hidup kita pernah bersisian selama lebih dari 20 tahun. Lalu tiba-tiba arah hidup menggerakkan langkahnya menjadi berdekatan. Setiap pertemuan di dunia ini telah melalui sebuah skenario besar Sang Pencipta.

Ada banyak pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang terjadi dalam akhir-akhir ini. Mengapa hidup berputar lebih cepat dari rencana yang telah kita buat masing-masing. Seolah-olah tiba-tiba kita dilempar pada sebuah fase dimana kita telah merancangkan lebih jauh dari hari ini. Tidak sekarang.

Tuhan sedang mencandai kita. Menampakkan diri-Nya dalam sebuah skenario besar yang membuat kita menerka-nerka maksudnya. Membuat kita tersenyum dan sedikit khawatir. Tapi keyakinan kita kepada-Nya mengalahkan banyak hal. Bahwa hidup kita berjalan di sebuah jalan yang ternyata sama sekali bukan kuasa kita. Ada Yang Maha Kuasa diatas rencana-rencana yang telah kita buat. Tuhan benar-benar sedang mencandai kita.

Bandung, 19 September 2014 | ©kurniawangunadi

Semoga di tiap kau peluk dia, kau selalu ingat aku. Peluknya akan terasa hambar. Di tiap tulisanku tentang masa lalu, kau tersiksa setengah mati karena dikecam pikiran sendiri. Menerka-nerka apakah tulisanku masih untukmu atau orang lain.
Mau dibawa kemana keluarga kita ?

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita? Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul. Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin. Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.

Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya. Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan. Tidak saling menyalahkan. Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.

Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan"

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya : 1. Terbebas dari siksa api neraka (At tahrim : 6) 2. Masuk surga sekeluarga (ath thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai 'rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (al ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga. Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin

Oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Sumber : grup FIM Club 4 Pendidikan Parenting