nerka

Jeśli kiedyś będziesz potrzebował nerki, nie ma sprawy. Jeżeli będziesz potrzebował kawałka wątroby, no też czemu nie, ale kiedy zapragniesz serca.. dotrze do ciebie, że to jedyne serce, jej serce już nie bije.
Genggamanmu

Kamu hanya bisa mengenggam sesuatu sesuai ukuran kepalan tanganmu, tak pernah lebih. Kalau memaksakan, tentu ia akan lepas dari tanganmu. Ukuran genggaman tanganmu berbeda dengan milik orang lain. Untuk itu, takaran atas segala sesuatu, berbeda setiap orang. Dan membandingkan antara diri kita dengan orang lain, tidak akan pernah memberikanmu jawaban yang memuaskan.

PemberianNya terukur dalam takaran kebijaksanaan yang sulit kamu pahami dan seringnya baru dipahami belakangan.

Setiap kejadian, setiap rezeki, segala sesuatu yang ada di hidup kita adalah takaran yang terbaik untuk diri kita, kita sajalah yang sering salah memahami maksudNya. Kita yang sering suka menerka-nerka, menghubung-hubungkan kejadian yang satu dengan yang lain sebagai pembenaran atas asumsi kita. Kita sering merasa ada ketidakadilan, padahal kita sendiri yang tidak adil pada diri sendiri karena membanding-bandingkan.

Apa yang ditakdirkan menjadi milikmu tidak akan pernah menjadi milik yang lain. Hanya saja, seberapa sering kita merelakan apa yang kita genggam untuk diberikan kepada yang lain. Bukankah kepemilikan yang hakiki itu ketika kita membelanjakan rezeki itu di jalanNya? Bukan yang terus menerus kita genggam erat.

©kurniawangunadi

Perempuan Pembenci Enigma Lelaki

“Bila yang kau tawarkan adalah ketidakpastian, pergi saja.
Waktuku terlalu berharga untuk diajak bermain dengan cinta.”

-

Sejak kau datang pertama kali, aku sudah mengatakan bahwa aku bukan tipikal perempuan yang bisa kau ajak ke sana ke mari tanpa kejelasan.

Aku bukan tipikal perempuan yang senang kau ajak bersenang-senang, meski kau hadiahi ribuan kemewahan.

Aku pun bukan jenis perempuan yang suka dipamerkan sebagai ‘teman jalan’, dan hanya akan kauhubungi saat kau kesepian dan butuh kawan berkencan.

Aku bukan perempuan jenis itu, yang mungkin belakangan sering kau temui di sekitarmu.

Aku perempuan yang tahu diri.

Aku perempuan yang tahu harganya bernilai tinggi, maka aku tak sudi siapapun memberi nilai rendah.

Aku perempuan yang tahu bagaimana mencintai orang tuanya, maka aku menjaga kepercayaan mereka.

Aku jenis perempuan, yang dengannya kau tak bisa macam-macam.

Maka bila memang berniat serius bersamaku, jangan memberi teka-teki.

: Aku tak suka enigma ataupun menerka-nerka.

-

© Tia Setiawati | Palembang, 9 Juni 2017

Aku Menepi,

Terimakasih telah datang menyapaku, mengisi setiap ruang kosong di sela nafasku.

Terimakasih atas segala garis senyum saat itu, beberapa tawa dan bahagia mungkin akan sangat sulit kulupa.

Terimakasih untuk waktu selama ini, meski sampai sekarang pun aku masih menerk-nerka batas kesetiaanmu.

Terimakasih kau telah datang menyapa menemuiku, melihat kondisiku, mengunjungi beberapa risau masalahku.

Terimakasih akan semua yang perah kita lewati bersama, walau sebenarnya semua itu hanya membuang-buang waktumu dengan sia-sia.

Perihal segala kata yang pernah kuucap, lupakanlah, aku takkan menganggapnya sepenting dulu.

“ Berbahagialah, aku tak akan menghiraukannya lagi.
Mungkin aku yang terlalu bernafsu menjemputmu, mengabaikan beberapa sisi kelemahanku, yang itu semua telah mengacaukan kita. ”

@badutcerdas
Aku Meragu, Kau Mengharapkanku

Selamat pagi, Nona. Selamat mengenang. Bukankah itu yang kamu inginkan? Menerbitkan harapan di dadaku sebelum akhirnya ragu itu hadir; sebenarnya aku atau kamu yang takingin maju?

Selamat, Tuan. Tak ada pagi untukku, sama halnya tak terbesit pasti untukmu. Menggantungkanmu, mungkin kesalahanku. Namun bertahan selama ini, barang tentu kekhilafanmu. Jika begini aku yang takingin maju, atau kau yang terbelenggu?

Puan, aku telah memberi segalanya untukmu; untuk segara rasa yang sama-sama kita alirkan di dalam dada. Bertahan atau melepaskan bukan sebuah pilihan. Kita ialah sepasang manusia yang telah ditakdirkan, katamu.

Kau percaya seorang aku berucap takdir? Bahkan kita berpisah atau berbahagiapun tak bisa kutakar bagaimana akhirnya. Kalau saja kau dengar aku berkata mengenai takdir, percayalah Tuan, itu hanyalah bisa-bisanya aku membesarkan hatimu.

Lalu, bagaimana perihal perjalanan yang sama-sama kita sepakati? Apakah harus gugur satu-satu sampai kamu sadar ada satu hal yang hilang darimu: rindu?

Kita tak pernah benar-benar sampai pada kata sepakat. Aku meragu, kamu mengharapkanku. Detik selanjutnya, kita hanya melangkah seolah satu tuju.

Mungkin memang benar, apa yang kulalui selama ini ialah koridor sepi; yang kupikir kamu di sampingku. Benar, Puan, kita telah menyepakatinya dan kini kamu menghapus semua itu dengan melupa.

Sudah kusampaikan sejak awal; bertahanlah dengan orang yang ingin memperjuangkan keberadaanmu. Dan sayangnya aku belum sampai pada tahap itu. Kutahu, sebenarnya kau tahu. Namun kau memilihi (berpura-pura) tak tahu.

Karena aku tahu, detik akan mengubahmu; dari patah satu-satu menjadi utuh. Aku percaya, untukmu ialah memperjuangkan langkah. Di balik semua itu, ternyata kamu  meminta detik bergerak menjauhiku; menghapus jejak kenangan kita yang terekam sebagai prasasti

Aku tak pernah berani mendahului rencana Semesta. Tak bisa aku percaya diri bahwa kau yang diciptakan-Nya untukku. Sama halnya tak bisa aku melawan bahwa kau bukanlah titik hentiku. Hanya saja kini aku tengah abu-abu; menerka-nerka akankah kamu ataukah selain kamu.

Menerka, katamu. Menunggu, itu aku. Entah sampai kapan kamu mau aku bertahan di langkahku yang kelu; serupa bibir di dini hari. Aku ingin maju.

Sampai kau bosan, jengah, dan menyerah. Tetapi, jika kau yakin bahwa akulah rumah, jangan mau kalah! Menangkan aku, kelak kau bukan hanya menjadi juara satu, namun juga satu-satunya.

Tolong, Puan. Jangan terbitkan harapan apa pun lagi. Jangan kamu katakan yakin, sementara kamu masih meragu antara aku dan seseorang yang lain. Aku tidak butuh harapan, lebih daripada itu; kepastian. Bila memang tidak untukku, aku akan berbalik dan tak memanggil namamu dalam doaku lagi.

Terkadang aku berpikir, yang meragu bukan hanya aku. Tapi juga kamu. Lihat kini, maju atau mundur saja kamu melihat gerak-gerikku. Bukankah jika benar ingin menujuku, kamu akan tetap memaksakan langkahmu; bukan sekadar mengayun-ayunkannya kemudian bertanya-tanya haruskah mengambil atau menahan langkah?

Sepertinya, keraguan itu hadir itu di dada kita, bukan salah satunya. Entah apa yang takdir inginkan; pada akhirnya langkah kita memang sama-sama beku dan kelu. Keraguan itu datang menjeda hubungan kita. Mungkin, langkah yang tepat, kita harus bisa memastikan saat ini: mengubur kenangan atau maju?

Tak kita ikuti saja alur Semesta membawa? Jika kelak terpisah, ikhlas di kantung celana kita masing-masing cukup untuk meredam luka.

Bila itu maumu, baiklah. Mungkin, akan kulabuhkan sujud di sepertiga malamku untuk waktu yang lebih lama. Mungkin di antara dingin malam, Semesta menyelipkan jawaban itu. Entah itu kamu. Atau bukan. Semoga itu kamu.



Sebuah kolaborasi antara @ariqyraihan​ dan @aksarannyta




Jakarta — Bandung | #KolaborasiAgustus edisi 11

22 Agustus 2017

anonymous asked:

Assalaamu'alaikum. Pak Herri, bagaimana yang harus dilakukan seorang perempuan bila sedang jatuh cinta ? Barangkali ada kisah inspiratif yg bisa Pak Herri bagi agar menjadi pelajaran bagi para perempuan untuk menyikapi perasaannya..

Bila Perempuan Jatuh Cinta

Waalaikumsalam wr wb. Semenjak saya tidak pernah merasakan bagaimana rasanya perempuan jatuh cinta, saya tidak bisa menjawab apa-apa. Saya pun tidak bisa menerka-nerka bagaimana suasana hati perempuan saat ia jatuh cinta. Tapi, kalau kamu minta pendapat saya secara umum, mungkin saya bisa memberikan pengalaman.

Jika kamu jatuh cinta:

1) Pastikan kamu jatuh di tempat yang tepat. Sekalipun rasanya sakit, kamu bisa menikmatinya sebagai sebuah pelajaran. Dan tak akan menyia-nyiakan. Di poin utama ini, banyak mereka yang menjatuhkan dirinya ke dalam cinta yang salah dan tak berdaya-guna. Alih-alih menambah kebermanfaatan malah jatuh ke dalam bencana. 

2) Tegaskan ke dirimu bahwa yang namanya perasaan itu tidak ada limitnya. Ia bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan benar-benar tak peduli. Jangan biarkan terjebak ke dalam dua kutub ekstrim ini. Sebab itu, jaga perasaan agar berada di pertengahan; yang sedang-sedang saja. Jangan berlebihan. Ini kan pesan Rasulullah. Pesan sederhana yang kadang kita selalu melupakan. 

3) Cinta itu tidak melulu tentang perasaan ke lawan jenis. Cinta juga bekerja dalam persahabatan, kemanusiaan, pekerjaan, masa depan, dsb. Saya lebih senang jika banyak dari kita jatuh cinta pada sesuatu yang selain membawa manfaat untuk diri sendiri, juga untuk orang lain.

Seorang perempuan jatuh cinta pada buku sehingga ia menulis banyak hal perihal kehidupan. Seorang perempuan jatuh cinta pada traveling, sehingga ia menjelajah banyak tempat dan berbagi kisah mengharukan. Seorang perempuan jatuh cinta pada aktivitas kemanusiaan, sehingga ia rela menghabiskan waktu menjadi relawan di daerah-daerah rawan. Seorang perempuan jatuh cinta pada sejarah, agama, atau bahkan filsafat, sehingga ia belajar menjadi seorang pemikir dan penceramah hebat.

Ah, andai saja kita sadar bahwa ketika perempuan jatuh cinta pada ini semua, sejarah dunia mungkin akan berbeda. 

Terka

Kita mungkin menerka-nerka tentang apa yang dipikirkan oleh ayah dari seorang perempuan yang sedang kita sukai terhadap kita. Barangkali, tebak-tebakan itu baru akan dimengerti saat nanti kita sendiri yang menjadi orang tua untuk anak perempuan kita sendiri. Paling tidak, hal-hal yang kita alami saat ini akan menjadi bagian yang amat berharga dalam membentuk diri kita saat menjadi orang tua nanti.

Saat kita tahu bagaimana bentuk perasaan cinta orang tua terhadap anaknya. Bagaimana bentuk kecemburuan ayah, bagaimana rasanya khawatir terhadap anak perempuan yang dirantau. Juga, bagaimana posesifnya seorang ayah saat anak perempuannya mulai membicarakan tentang laki-laki yang ia sukai.

Anak-anak itu tumbuh seperti rerumputan, meluas, menutupi seluruh permukaan hidup kita. Tidak tumbang diterpa badai. Selalu tumbuh dimana-mana.

Perasaan-perasaan yang kita terka, akan kita rasakan suatu hari nanti.

Yogyakarta, 2 November 2017

Coba sini

Aku tak bisa menerka-nerka. Sebab aku bukan orang yang dapat mengetahui segalanya. Yang aku tahu sekarang, kamu sedang dalam keadaan terluka. Sibuk menyeka tangis yang berada diujung mata.

Namun. Kamu tak juga menceritakan semua lara. Kamu diam. Dan membuat hatimu sendiri menjadi lebam.

Sungguh. Aku tak bisa menerka-nerka. Aku hanya manusia biasa yang berharap kamu sadar; Bahwa kamu punya tempat untuk melampiaskan semua luka yang menjalar.

Dan itu aku.

Coba sini dulu. Duduk di sisiku. Kan kusediakan pelukan paling hangat yang belum pernah kamu tahu.


— Arief Aumar Purwanto

Aku ini manusia. Bukan malaikat yang bisa membaca hatimu, mencatatnya dalam buku catatan, lalu mempelajari apa yang kau inginkan.

— Jadi, jika kau menyimpan sesuatu dalam hatimu, ungkapkan kepadaku. Biar aku mengerti, tak cuma menerka-nerka kemudian salah paham.

Masih Kamu

Kamu tahu? Aku masih membenci diriku yang tidak bisa biasa saja ketika mendengar namamu disebut olehnya. Aku masih tidak bisa biasa saja ketika tahu kamu sedang dekat dengan siapa.

Aku masih mengusahakanmu pada Tuhan.

Setengah hatiku memupuk harapan, semesta akan menyatukan. Setengah hati lagi mencoba merelakan, menerima yang ingin masuk walaupun tak ku sambut dengan baik.

Aku tak pandai membohongi hati.

Tidak susah mencintaimu, yang susah adalah aku tidak bisa membaca hatimu. Tidak susah mencintaimu, yang susah adalah menerka-nerka apakah ada aku di sana.

Aku hanya punya doa.

DIMULAI DARI

Kamis kemarin, saya sedang duduk di selasar masjid Al-lahtiif Bandung, menunggu kang Yoga, salah seorang anggota komunitas pemuda hijrah untuk berbicara tentang urusan video.

Setibanya kang Yoga, kami berbicara banyak hal, mulai dari dunia perfilman, branding, dan banyak hal. Salah satu yang seru, adalah mendengar cerita Hijrahnya kang Yoga yang dulunya adalah seorang pembuat video-video mudharat, tapi kini beliau membuat video-video untuk dakwah. Nampaknya akan ada tulisan khusus tentang kang yoga ini, karena kisahnya begitu luar biasa.

Tulisan kali ini membahas pertanyaan yang membuat saya cukup tercengang.

Y : Kang choqi, kang choqi udah nikah?
C : Belum kang.
Y : Oh gituh, mau dikenalin?
C : Engga dulu kang, nampaknya kalau sekarang.
Y : Oh gituh.
(diam sejenak)
Y : Kang choqi, nikahnya mau pake pacaran?
C : Wah, engga kang, masa pake pacaran atuh.
Y : Mantap kang. Bagus. inget kang, jangan sampe pacaran pokoknya mah. Inget. Itu kan gak boleh. Bagaimana mungkin, menginginkan pernikahan sakinah mawaddah warahmah, tapi dimulai dari kemudharatan.

Ya, hati saya tanpa perlu bertanya, langsung menyetujui pernyataan dari kang Yoga tersebut.

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “sakinah”, yang damai, yang tenang, yang aman, tapi dimulai dari cara yang Allah murkai?

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “mawaddah”, yang penuh rasa cinta, tapi dimulai dari cara yang tidak Allah cintai?

Apa mungkin, kita bisa mendapatkan hubungan yang “Wa Rahmah”, yang penuh rahmat Allah, tapi dimulai dari cara yang tidak dirahmati Allah?

Apa mungkin? Entahlah, saya hanya manusia, apa guna saya menerka-nerka, karena pada akhirnya, Allah lah yang berhak menentukan segalanya.

Semoga kami tetap diberikan kekuatan untuk menghadapi godaan syaitan syaitan yang cantik, godaan syaitan syaitan yang tampan, agar senantiasa menjadi single yang bisa mendapatkan pernikahan yang sakinah, mawaddah, warahmah.


DIMULAI DARI
Bandung, 7 April 2017

Tulisan : Merasa Tahu

Kita seringkali merasa tahu tentang banyak hal. Menjawab semua pertanyaan yang datang dengan jawaban yang sebenarnya hanya kita kira-kira. Padahal kita belum pernah mengalaminya sama sekali.

Dan ini saya menginsafi. Seperti perkara pernikahan. Dulu sebelum menikah, saya menulis begitu banyak hal tentang berkeluarga, menjawab pertanyaan tentang hubungan antara suami dan istri, bagaimana membahagiakan pasangan, dan sebagainya. Dan terus terang, segala jawaban atau pikiran itu lahir dari imajinasi saya tentang berumah tangga dan buku yang saya baca.

Kini, selepas menikah saya mengerti bahwa dulu saya hanya “merasa tahu” tapi kosong. Seperti bagaimana membahagiakan pasangan. Bagaimana menyikapi kekecewaan. Bagaimana berkompromi. Bagaimana menyatukan visi.

Bahkan seperti hal-hal sebelum menikah; bagaimana menentukan pasangan yang tepat, bagaimana mencari keyakinan terhadap seseorang, dsb.

Pada akhirnya saya paham, kalau dulu saya hanya merasa tahu. Dan saya malu. Karena ilmu tentang segala hal itu benar-benar baru saya pelajari nyaris seluruhnya ketika saya menikah. Untuk itulah dulu saya sangat sedikit membalas/menjawab pertanyaan teman-teman terkait hubungan rumah tangga/persiapan pernikahan ketika saya belum menikah. Kalaupun ada yang saya jawab, hampir tidak pernah saya mempublikasikannya di sini.

Karena satu hal. Bisa jadi jawaban itu adalah hanya berdasar pada perasaan saya, imajinasi saya, atau hanya karena saya ingin menjawabnya tanpa saya memiliki ilmunya sama sekali. Dan ketika itu dijadikan sebagai sebuah kebenaran oleh teman-teman, itu kemudian menjadi cara berpikir dan perilaku teman-teman. Menjawab sesuatu tanpa ilmu itu berbahaya sekali. Dan saya memegang teguh prinsip itu.

Kita mungkin sedang menerka-nerka definisi kecantikan dan ketampanan. Sedang mendefinisikan saleh/salehah seperti apa. Sedang meraba-raba hati yang luas dan sempit itu seperti apa. Mungkin ada yang sedang dalam fase itu, fase dimana diantara kita belum mengalami tapi sudah berandai-andai. Menerka dengan imajinasi.

Belajarlah ilmunya dari orang-orang yang telah melampaui semua masa itu. Belajarlah dari orang-orang yang telah mengalaminya, carilah definisi itu dengan cara-cara terbaik yang kamu bisa selain membayangkannya. Carilah jawaban itu di balik bilik-bilik buku yang memang layak untuk dijadikan sumber ilmu.

Karena apa yang kita bayangkan sebelum menjalaninya, dan apa yang akan terjadi setelah menjalaninya bisa jadi berbeda sepenuhnya. Dan jangan sampai kamu tidak siap untuk menghadapi kenyataan yang berbeda dengan apa yang kamu harap dan bayangkan selama ini. Ingat, memanjangkan angan-angan itu tidak baik. Dan jangan kamu menjadikan angan-angan itu sebagai kebenaran padahal kefanaan.

Yogyakarta, 23 Mei 2017 | ©kurniawangunadi

Jika kamu tidak berani memberi kepastian, lepaskan. Jika kamu belum siap dan ingin dipertahankan, diskusikan.
—  Jangan biarkan seseorang berada di situasi yang tidak pasti, dan jangan biarkan seseorang menerka-nerka apa yang sedang kamu sembunyikan.
Menunggu

Menunggu memang menggelisahkan, serasa banyak waktu yang akan terbuang. Tapi itu juga yang akan mengajarkanmu kelapangan dari pengorbanan.

Menunggu memang akan membuatmu terus menerka-nerka, apakah semua akan berjalan baik-baik saja? Sesuai dengan harapan? atau bahkan kembali berakhir dengan kekecewaan?

Bagaimanapun lelahnya, kita hanya perlu melewati fase menunggu dengan kesabaran. Setelah segala yang terbaik telah kita berikan. Jika sesuai harap, setelah menunggu akan membahagiakan. Jika tidak, untuk kesekian kalinya, ia akan kembali mendewasakan. 

Jangan lari saat menunggu.

Seseorang yang benar-benar tulus dan yang hanya seadanya baik itu pasti terasa sekali perbedaannya. Intuisi selalu berjalan dengan baik tapi tetap berbaik sangka atas segala sesuatu itu perlu. Tidak usah menerka-nerka isi kepala orang lain, jika pun isi kepalanya sesuai dengan intuisimu. Tetaplah berprasangka baik.