nerka

Jeśli kiedyś będziesz potrzebował nerki, nie ma sprawy. Jeżeli będziesz potrzebował kawałka wątroby, no też czemu nie, ale kiedy zapragniesz serca.. dotrze do ciebie, że to jedyne serce, jej serce już nie bije.
Jika kamu tidak berani memberi kepastian, lepaskan. Jika kamu belum siap dan ingin dipertahankan, diskusikan.
—  Jangan biarkan seseorang berada di situasi yang tidak pasti, dan jangan biarkan seseorang menerka-nerka apa yang sedang kamu sembunyikan.

Aku sangat kesepian malam ini. Tetapi takkan kulakukan apapun. Tentu saja, menunggu bukan hak mutlak seorang wanita bukan? Haha. Aku rasa lelakipun kadang ingin merasakan bagaimana menunggu ketika ia sedang lelah memburu. Aku takkan melakukan apa-apa, selain hanya memperpanjang nafasku pada dinginnya malam.

….

Yakinkah kau akan takdirNya yang telah dituliskan? Coba hitung, sudah berapa tahun kita mendamba dalam harap yang belum kunjung dipertemukan. Aku curiga, apakah dulu sebelum lahir ke dunia, kita sempat bertemu dan berjanji untuk saling bertemu kembali di bumi? Tapi entahlah, kita hanyalah jiwa-jiwa amnesia yang ditiupkan Tuhan ke dalam raga manusia. Lalu, kita hanya berusaha untuk membuka salah satu rahasiaNya, yaitu saling menemukan dalam sukacita.

Hanya saja, menyebut namamu sekarang aku masih menerka-nerka. Banyak soalan yang terlanjur hinggap di kepala, sehingga belum ada lagi yang membuat detak jantung ini terasa tak sama. Bagaimanapun terlahir dengan amnesia, aku percaya bahwa bila bertemu denganmu maka aku tak pernah merasa terlalu asing ; setidaknya aku percaya, rasa-rasanya kita pernah bertemu di suatu waktu, pun aku dapat membatin kalau kita seperti sudah kenal begitu lama.

…..

Ah, sudahlah. Maafkan lamunanku yang kadang melantur kemana-kemana.

Aku sekarang kesepian. Inginku menunggu lebih lama, tapi aku sadar kalau menunggu bukan tugasku, kan? Peran utamaku adalah mencari dan menghitung segala kemungkinan untuk menemukanmu. Sabarlah, aku hanya istirahat sebentar, selagi masih ada waktu maka aku berjanji akan terus melangkah menujumu.

Aku tak sedang bersama siapa-siapa. Aku merasa, hanya punya beberapa nama yang dapat kuhubungi malam ini, tetapi hanya satu nama yang entah kenapa begitu cepat terlintas seperti sapuan angin yang membawa kabar rindu. Menusuk kedalam, seperti mengerami harap dalam diam.

Bila akhirnya nama yang ingin kuhubungi itu milikmu, apakah kau yang ternyata selama ini aku cari?

….

Aku tak suka sakit hati. Aku tak suka air mata. Aku tak suka kehilangan. Aku tak suka rindu yang tak berujung temu. Aku tak suka bayangan semu. Aku tak suka menerka-nerka. Sialnya, menyukaimu penyebab dari semuanya.
Kalau Nanti Itu Aku

Kalau nanti itu aku, mungkin kamu akan sesekali menyendiri.
Menerka-nerka kenapa kita bisa menempuh semuanya sambil membawa begitu banyak beda.
Kenapa perempuan riang ceria harus ditemani laki-laki yang seringkali diam tiba-tiba.
Kenapa perempuan dengan ilmu eksak dikepalanya bisa menjadi teman sejalan untuk laki-laki yang lebih senang berkarya dengan tangannya.

Dan pada akhirnya, bersama atau tidak. Bukan karena perbedaan atau kemiripan, semua hanya karena tujuan yang sejalan.

Danny Dzul Fikri - Kalau Nanti Itu Aku

Rindu Mencarimu

Biasanya pagiku sibuk mencarimu
Setengah berlari dengan menerka-nerka
Kadang juga menyerah dan berjanji
Siang saja selepas rehat

Lalu siang nyatanya tak sempat
Hingga aku dapatkan teror ancaman
Ahhh, aku masih mengelak
Berjanji sore sebelum kita bercakap panjang

Cakap itu mulai digemakan
Padahal aku masih mencarimu
Sembari riuh membahas satu kata di sana
Pencarian untuk hari selanjutnya
Manfaat apa yang akan ku sampaikan?

Hingga akhir riuh itu terlelap sunyi
Aku masih mencari
Tekad yang kuat untuk bersepakat
Menemukanmu setiap hari
Memberikannya kepada yang mau
Hingga aku tak usah jauh mencari yang lain
Aku bisa berbagi
Walau tak banyak

Saat ini, aku kehilangan pola
Sudah lama aku tak mencarimu
Kumohon jangan pergi terlalu jauh
Aku ingin bersepakat lagi, denganmu
Biar ku bisa tetap berjuang
Mencarimu dalam makna
Berbagi manfaat lewatmu
Bolehkah kita bersepakat lagi?


Bandung, 20 Maret 2017 | ashriati | Tebar Manfaat Lewat Aksara

Berkunjung Ke Dada Ibu

Aku ingin pulang dan tersesat di dalam dada ibu. Menerka-nerka isi kepalanya segala hal sedang ditimbang agar rencana tak mudah tumbang begitu saja. Menerjang badai dalam lautan tenang dadanya.

Aku ingin pulang ke rumah menghirup aroma bumbu dari dapurnya. Terong balado, daging rendang atau keperihan tentang masa lalu. Sejak setia tidak lagi menjadi kata kerja bagi ayah, ibu tak pernah lagi memasak di rumah. Ibu memasak mimpi-mimpinya di dapur negeri tetangga.

Aku hidup di antara orang-orang yang gemar menyakiti dirinya sendiri. Sejak kata sejahtera telah lama dihapus Negara, aku lebih banyak memikirkan diri sendiri. Ketika aku bersedih dan tak ada satu orang yang rela ingin berbagi, aku ingin sekali memeluk ibu. Tetapi tangan dan angan-anganku tak sanggup menjangkaunya.

Aku ingin sekali mengadu kepada ibu. Tentang kepedihan hidup, orang-orang yang tak ingin tahu perasaanku dan ketakutan-ketakutan hari esok. Mengadu layaknya anak kecil yang merengek kepada ibunya karena diganggu oleh teman sekolahnya. Sayangnya pelajaran tentang bertahan hidup tak pernah kutemui di sekolah mana pun. 

Sungguh aku ingin mengenalkan kekasihku kepadamu, Ibu. Namun setelah kepergiannya tak ada lagi yang tersisa kecuali rasa sakit yang sulit dicabut. Hanya itu yang bisa kuceritakan kepadamu.

Aku adalah satu-satunya anak durhaka yang tidak tahu cara mengucapkan maaf dan terima kasih kepada ibu. Aku menuliskan puisi ini untuk ibu. Di setiap kalimat hanya berisi tentang aku dan ibu. Meskipun tak pernah kukatakan langsung kepadamu, percayalah di antara keduanya terselip kata cinta.

Jakarta, 2015

Semoga di tiap kau peluk dia, kau selalu ingat aku. Peluknya akan terasa hambar. Di tiap tulisanku tentang masa lalu, kau tersiksa setengah mati karena dikecam pikiran sendiri. Menerka-nerka apakah tulisanku masih untukmu atau orang lain.
Katakan Saja

Aku tidak tau apa yang ada dalam pikiranmu ketika melihat keadaanku saat ini.

Kau mencoba acuh, tapi tidak dengan pikiranmu. Yang terus mempertanyakan ada apa dengan ku dan menerka nerka apa yang sedang terjadi.

“Kamu kenapa?” ,pertanyaan yg mungkin sejak awal ingin kau lontarkan, tapi enggan untuk ambil pusing.

Aku bungkam, memilih diam tenggelam bersama gejolak rasa saat itu. Entah. Aku pun tidak tau. Tapi itu bukan jawaban.

Ketahuilah, aku menangis. Tidak dengan alasan pasti. Aku hanya ingin menangis. Meluapkan segala rasa yang tidak tau harus kusebut apa.
Tapi kau tidak menyukainya.
Kau tidak bisa menerima dan aku tidak mampu menjelaskannya.
Kita harus bagaimana?

Aku mencoba memahami setiap ketegangan yang terjadi di antara kita.
Aku mencoba menenangkan diri untuk tidak larut dalam emosi sementara.
Aku mencoba untuk tidak memberatkanmu dengan harus memahami setiap perubahan suasana hatiku.

Tengoklah aku sejenak, dekap aku dengan hangat, sampaikan ketenangan.

Hanya itu …

Tulisan: Pasrah

“Takdir bukan kuasa kita. Masa depan diluar jangkauan kita. Tapi menjaga semangat dan harapan-harapan yang baik adalah pilihan kita.”

-Fikratus Sofa Muzakkiya-

Ada hal-hal yang diluar kuasa kita, ia adalah takdir. Seperti tentang siapa jodoh kita, yang mana rezeki kita, atau kapan kita akan meninggal menghadapNya.

Dalam kehidupan, kita pasti akan dihadapkan pada persoalan takdir kita yang dengan indah sudah dalam skenarioNya. Entah episode takdir itu menyenangkan untuk kita ataupun menyedihkan untuk kita, kita tidak bisa menolaknya.

Kita boleh jadi menerka-nerka takdir yang indah, tak ada salahnya. Namun, yang harus kita yakini bahwa ujian kehidupan itu akan ada, dan akan selalu ada. Entah dalam suka entah dalam duka.

Dan jika ujian untuk takdir kita setidak bahagia episode yang kita inginkan. Bersabarlah. Sebab, sungguh Allah Swt. senang bersama orang-orang yang sabar.

Dan berdoalah, semoga kesulitan ujian yang tengah, sedang dan telah kita hadapi menjadi penggugur dosa kita.

“Tidak ada satu pun musibah (cobaan) yang menimpa seorang mukmin walaupun berupa duri, melainkan dengannya Allah akan mencatat untuknya satu kebaikan atau menghapus satu kesalahannya.” (HR. Muslim)

Dan marilah kita memohon perlindunganNya saja, agar kita dikuatkan, agar kita dimudahkan, agar kita disabarkan. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut:

“Mintalah perlindungan kepada Allah dari cobaan yang menyulitkan, kesengsaraan yang menderitakan, takdir yang buruk dan cacian musuh.” (HR. Bukhari)

Bismillah, semoga apa-apa yang hilang dari kita menjadi tabungan kita diakhirat. Sebab sungguh semua yang kita miliki hanya titipanNya.

Tetaplah berhusnudzan sama Allah SWT. Pasrahkan kepadaNya segala takdir yang terjadi dalam kehidupan kita. Jagalah harapan-harapan baik kita, semoga harapan-harapan baik dan doa kita di Aamiinkan juga oleh semesta…

Bogor, 21 Januari 2016

Fikratus Sofa Muzakkiya

Jika kau merasa lelah, berhentilah sejenak
Jika kau merasa bosan, pergilah mencari hiburan
Jika kau merasa jenuh, katakanlah
Tanpa perlu kau tutupi
Tanpa perlu kau sembunyikan
Tanpa perlu kau rahasiakan
Dan mungkin tak perlu mengarang

Bukan tak percaya, mungkin jika kau katakan yang sebenarnya aku tak perlu menunggumu hingga larut
Tak perlu khawatir dengan keadaanmu
Tak perlu menerka-nerka apa yang sedang kau lakukan

Mungkin aku memang selalu menyusahkanmu
Selalu menjadi bebanmu
Selalu mengganggumu saat kau ingin sendiri

Cukup katakan padaku apa pun yang ingin kau katakan
Jangan biarkan sesuatu yang buruk terlintas dipikiranku
Yang pada akhirnya menghadirkan air mata

Pa, aku masih ingat hari dimana untuk pertama kalinya aku bercerita kepadamu bahwa ada seorang lelaki yang sedang mencoba mendekatiku; dekat lebih dari sekedar teman. Sesaat itu juga raut mukamu berubah datar tanpa ekspresi. Untuk beberapa menit kau hanya diam. Aku mencoba menerka-nerka apa maksud ekspresimu itu. Aku melihat matamu memancarkan sinar yang aneh. Sinar kebingungan, kebahagiaan dan juga kesedihan. Sangat terlihat kesedihan di matamu.
Kemudian kau berkata, “jangan mudah percaya dengan omongan lelaki”. Kau hanya mengatakan satu kalimat tersebut dan pada saat itu aku sedikit kecewa kepadamu karena kau terlihat tidak senang ada lelaki yang menyukaiku. Namun, hari ini aku baru sadar maksud kalimat dan semua ekspresimu pada saat itu.
Kau takut gadis kecilmu disakiti lelaki.
Kau takut ada lelaki lain yang aku cintai selain dirimu.
Kau takut perhatianku beralih kepadanya.
Kau takut aku lebih memilih kencan bersamanya daripada bersamamu; seperti yang sering kita lakukan.
Kau takut dengan semua itu.

Pa, aku juga masih ingat hari dimana aku lebih memilih pulang bersama teman-temanku daripada dijemput oleh mu. Suaramu bergetar saat mengtakan “ oke”. Aku tak tau bahwa pada saat itu kau sedih. Aku tak tahu bahwa pada saat itu kau kecewa. Hari ini, aku baru menyadari bahwa kau sedih dan sekaligus bahagia menyadari gadis kecilmu telah beranjak dewasa. Gadis kecilmu telah bisa melakukan banyak hal tanpa bantuanmu. Gadis kecilmu kini telah memiliki dunianya sendiri bersama teman-temannya.

Pa, maaf saat beranjak dewasa aku mulai mengabaikanmu.
Pa, andai saja aku bisa kembali ke waktu itu aku akan memilih selalu bersamamu. Aku akan berusaha menikmati setiap detik yang berharga itu bersamamu. Aku akan memilih pulang bersamamu daripada teman-temanku. Aku akan lebih memfokuskan diriku kepadamu.

Pa, aku sedang sakit. Mungkin sakit ini adalah cambukkan untukku agar merindukan dan memikirkanmu. Karena saat sedang sibuk dengan kuliah dan pekerjaan, aku sering melupakanmu.

Pa, selamat malam dan selamat beristirahat dengan tenang ya:))

*setidaknya dengan menulis bisa membuatku sedikit lebih tenang.

Bertamu

Aku duduk di bangku taman yang reot

Tepat arah jarum jam 12 aku menatapmu diam-diam

Betah berlama-lama, rela tak berkedip beberapa kali

Sesekali kudapati kau menoleh tepat ke arah jam 6

Buru-buru kupalingkan wajah, sembari (pura-pura) menulis apapun di buku harian

Di lain kesempatan, aku mendengar kabar malam ini kau akan tampil di pentas sastra

Aku menebak-nebak, kali ini apa yang akan kau tampilkan?

Sajak? Prosa? Puisi? Dongeng? Semuanya pernah ku lihat

Hasilnya aku selalu suka, terlebih aku memang telah lama jatuh cinta pada apapun yang melekat padamu

Aku belum menemukan alasan untuk berani bertamu ke rumah mu

Selama ini, mendengar kabar apapun tentang mu, sudah cukup membuat hati ini tenang

Berpapasan sembari memasang wajah kepura-puraan memang menyiksa

Tetapi, entah kenapa setelah itu ada lega yang hadir

Aku belum menemukan alasan untuk berani bertamu ke rumah mu

Menerka-nerka pertanyaan apa yang akan ayahmu sampaikan padaku

Masih terus ku susun dan kusiapkan jawaban sebisa dan semampuku

Setidaknya, fitrah lelaki adalah yakin dan meyakinkan

Tekad ini terus kubangun, niat dan prinsip pun terus kujaga

Aku sadar, ada dinding yang kokoh sebagai batasan antara kita

Caraku mengungkapkan cinta berbeda dengan kebanyakan orang

Aku tak suka cara-cara mereka, datang bertamu dan melamarmu itulah sebaik-baiknya bukti cinta

Hingga sampai masanya aku akan datang perdana untuk bertamu

Menyatakan maksud baik sesuai yang diatur syariat

Tunggu aku datang bertamu, ya!  


Bandung, 22 Maret 2017 | dindinbahtiar | Tebar Manfaat Lewat Aksara.