negarae

anonymous asked:

Dea....tadi aku lihat videonya Dedy Corbuzier sama ustadz Wijayanto yang ngomongin kafir. Well kalo denger jawabannya bapak ustadz, diplomatis banget sih. Aku pengen dapet penjelasan dari kamu. Soalnya kamu biasanya bisa jelasin dengan gamblang banget dengan bahasa yang enak. Kalau misal agamaku katholik, kamu nyebut aku kafir apa ahli kitab? Sebenernya pengen tanya via japri. Tapi lebih suka via tumblr biar kamu jawabnya bisa panjang hoho. Happy ramadhan btw 😊 Awal juli aku di Sby. Ayok ngopi

Haloo mas anon yang tidak anon ~XD sorry baru sempet jawab pertanyaan ini. Sampe diingetin via WA :p

Jawaban pertanyaan ini panjang kali lebar. Saya butuh suasana tenang biar ga keliru.

Jadi begini mas……

yang pertama, mas harus tau bahwa istilah kafir itu ada bukan untuk blasphemy atau bullying. Tapi karena sekarang banyak orang yang menggunakan istilah tersebut untuk kepentingan masing-masing, kata kafir itu jadinya berasosiasi dengan kebencian dan makian.

Jadi kalau kita bahas istilah kafir di tulisan ini, mas harus ngerubah persepsi terlebih dahulu untuk menempatkan istilah ini di posisi yang netral. 

Yang kedua, kalo mas baca terjemahan Al Qur’an dan menemukan ayat-ayat yang menyuruh kami memerangi kafir, mas perlu tahu kalo ayat itu turun berkenaan dengan kafir yang memerangi ummat Islam. Jadi nggak semua kafir harus diperangi. Perkara ini, saya bahas lagi di paragraf selanjutnya.

Nah….kafir dari segi bahasa artinya tertutup. Kalau secara istilah artinya adalah orang yang hati dan akalnya tertutup sehingga tidak bisa menerima kebenaran Islam. Dalam islam itu ada konsep rukun Islam dan rukun iman. Kalau salah satu rukun islam tidak kami tunaikan, Islam kami tidak sempurna tapi kami tidak masuk golongan kafir. Kalo salah satu rukun iman tidak dipenuhi, kami bisa langsung masuk golongan kafir. Simpelnya seperti itu.

Rukun islam pertama itu syahadat yang mempersaksikan bahwa Allah itu Tuhan kami dan Muhammad itu Rasulullah. Kalau kami bersyahadat, otomatis kami sudah memenuhi dua rukun iman yaitu iman kepada Allah dan iman kepada Rasulullah. Konsekuensinya, kami harus menunaikan satu rukun iman lagi yaitu iman kepada Kitab Allah (Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an) dimana Al Qur’an mendefinisikan kafir seperti yang saya sebutkan di atas.

Salah satu ayatnya bisa di cek di sini QS 5:17

Itu yang mendefinisikan Al Qur’an, bukan saya. Jadi saya nggak bisa mengganti definisinya. Dan saya harus percaya definisi ini sebagai konsekuensi karena saya memilih Islam.

Memang dalam Al Qur’an ada banyak ayat yang bicara bahwa orang kafir masuk neraka. Dan lagi-lagi ini wilayah believe. Percaya atau tidak, kami yang muslim diwajibkan percaya. Yang non muslim, sama sekali nggak diikat dengan Al Qur’an. Jadi nggak perlu terprovokasi dengan ayat ini.

Di awal tadi, saya kan nyebut kalo kafir itu bukan dibuat untuk blasphemy atau bullying. Ini label yang digunakan untuk kepentingan yang lebih luas. Contohnya….negara Islam itu kenal konsep zakat dan jizyah. Zakat dibebankan kepada penduduk muslim, jizyah dibebankan kepada kafir (atau kalo mas belom nyaman dengan istilah ini, selanjutnya tak sebut non muslim). Dimana besaran zakat itu jauh lebih besar daripada jizyah.

Kami mengenal dua jenis non muslim. Yang pertama kafir harbi yaitu orang non muslim yang memerangi kami. Yang kedua adalah kafir dzimmi atau ahlu dzimmah, yaitu non muslim yang tidak memerangi islam.

Dalam hal berhubungan antar sesama manusia, hak ahlu dzimmah ini sama dengan sesama muslim. Mereka berhak dijenguk kalau sakit, berhak ditolong bila terjebak dalam kesulitan, berhak dijamin keamanannya saat beribadah, berhak dapat jaminan sosial kalau berada di negeri muslim dan seterusnya. Kecuali dalam hal warisan, pernikahan dan kepemimpinan negara. Kami tidak diizinkan menikah dengan non muslim. Non muslim juga tidak berhak dapat warisan dari orang muslim. Tapi dalam islam kan ada konsep hibah (pemberian), harta orang yang meninggal itu boleh dikasih ke orang lain maksimal 1/3 baru habis itu dibagi ke ahli waris. Nah orang non muslim, biasanya dapat jatah dari yang1/3 bagian tadi. Biar bisa sama-sama legowo.

Nah masalah kepemimpinan kenapa tidak diizinkan? Pemimpin itu harus mengerti seluruh hak dan kewajiban rakyatnya. Dalam islam itu agama bukan sekedar jadi tatacara ritual ibadah, dia juga mengatur kehidupan yang lebih luas. Dikhawatirkan kalau pemimpinnya non muslim, nanti hak dan kewajiban rakyat tidak terpenuhi dengan baik. Tapi non muslim tetap berhak dimintai pendapat dalam hal bernegara karena negara Islam itu mengayomi seluruh manusia, bukan yang muslim aja.

Trus gini, masalah kepemimpinan tadi itu berlaku di negeri yang udah menerapkan syariat Islam aja. Kami nggak diizinkan untuk memaksakan masalah pemimpin ini ke negeri yang tidak didasari syari’at Islam. Di Indonesia, orang non muslim berhak mencalonkan diri. Dan kami sebagai muslim berhak untuk tidak memilih dengan reason “tidak diizinkan oleh agama”, undang-undang nya dijamin pasal 29 UUD 1945. 

Kalau sampai kejadian yang terpilih itu non muslim, tidak ada perintah dalam Alqur’an agar kami memerangi pemimpin tersebut. Karena yang terpenting adalah kami sudah berusaha menjalankan Islam semaksimal yang kami bisa.

Perlu mas tahu, Islam tidak menyuruh kami untuk berperang hanya karena agama yang berbeda. Kami hanya disuruh berperang bila ada kedzaliman yang ditebarkan. Itupun ada tahap-tahapnya. Hal ini bisa dibaca dibuku ustadz Salim A Fillah yang judulnya Lapis-lapis keberkahan dalam bab Atap Naungan Islam. Hanya saja, kebetulan ada banyak kisah tentang orang yang kafir sekaligus dzalim dan seringkali yang disorot cuma kafirnya doang. Bukan zalimnya. Tentang ini, coba baca kisah tentang Khosrou (Persia), Vlad Dracul (Turki Ottoman), atau Perang ‘Ain Jalut.

Pada prakteknya dalam kaitan hubungan politik muslim dan non muslim, di Dinasti Abbasiyah ada banyak ilmuwan dan politikus yang non muslim dan sangat dihormati. Mas juga bisa baca kisah tentang masjid Umar sebagai contoh toleransi yang diajarkan. I can’t write those stories here. It’s too long. Mending mas baca sendiri.

Kalau kafir harbi, memang harus diperangi untuk menghilangkan kerusakan yang lebih besar. Logikanya kan sama kayak Indonesia yang memerangi Belanda zaman penjajahan. Perang itu sesuatu yang kita benci namun dalam kondisi tertentu, kita memang harus berperang.

Dalam Al Baqoroh (lupa ayatnya), ada lafadz Laa ikraaha fid din. artinya tidak ada paksaan dalam beragama. It means kami tidak boleh memaksakan keyakinan kami ke orang lain. Kalau yang demikian saja nggak boleh, apalagi berperang tanpa sebab.

Jadi saya berharap phobia terhadap Islam bisa berkurang dengan penjelasan ini.

Apakah mas bisa saya sebut Ahli Kitab?

Sebelumnya kan saya bilang kalo salah satu rukun iman adalah beriman kepada kitab Allah. Kitab itu ada empat yaitu Taurat, Injil, Zabur, Al Qur’an. Dimana keempat-empatnya mengajarkan tauhid (beriman kepada Allah).

Injil yang kami imani berbeda dengan injil yang mas percayai. Taurat yang kami imani juga berbeda dengan taurat yang diimani orang Yahudi. Ahli kitab adalah orang-orang yang percaya dengan Injil dan Taurat kami yang artinya mereka juga percaya tentang kenabian Muhammad SAW, percaya bahwa Tuhan mereka adalah Allah. Bukan yang lain. Itu artinya, ketika Ahli kitab itu bertemu dengan Rasulullah, mereka otomatis akan berislam dan langsung menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup mereka. Karena dalam kitab mereka, diberitahukan bahwa Muhammad adalah penyempurna risalah.

Ahli kitab yang disebutkan dalam Al Qur’an itu sudah tidak ada hari ini. Mereka ada di era antara masa Nabi Isa AS sampai Nabi Muhammad SAW. Kalau mas pengen tau profilnya Ahli Kitab, mas bisa cari dengan keyword Waraqah bin Naufal. Beliau masih family dengan Khadijah isteri Rasulullah.

Di penjelasan ini nggak ada yang ditutupi, dan saya berusaha ngasih gambaran utuh sejauh yang saya tau. Dan saya ngejawab, Insya Allah bukan buat nyenengin kamu hehe. Kalau memang ada yang terlewat, mungkin saya yang khilaf.

Endingnya, saya harus nyebut mas apa? Kriterianya Insya Allah sudah sangat gamblang untuk disimpulkan sendiri. Mustahil ada orang yang muslim sekaligus kafir. Tapi manner yang diajarkan Al Qur’an terhadap orang kafir itu tidak seseram yang kamu bayangkan meskipun juga tidak seindah yang kamu harapkan.

Banyak yang berharap kami mengganti kriteria dalam memilih pemimpin. Tapi lagi-lagi, Al qur’an ada untuk kami jalankan. Tidak ada tawar menawar dalam hal ini.

Happy dapat THR, happy cuti bersama :p

Anak-Anak Subuh

Ada anak lelaki yang hampir setiap subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah Ayahnya. Meniru semua gerakan Ayahnya, si Ayah sholat sunnah ia ikut, begitu seterusnya.

Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut Ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping Ayahnya mengikuti Ayahnya sholat sunnah sebelum subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga Ayahnya selesai sholat, ternyata ia tertidur sambil sujud.

Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah Ayahnya, namun pada saat sholat subuh tak berapa lama setelah takbir dan Imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga sholat subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu Ayahnya selesai.

Ada pula Ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Di gendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang Ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun.

Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada Ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa Ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid.

Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini.

Selama masih ada orang tua, terutama para Ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya sholat subuh berjamaah di masjid, akan kokohlah barisan pejuang agama Allah. Negara pun akan selamat.

Khawatir lah bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jamaah subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?

Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang Aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat Aceh adalah, Teuku Umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu subuh.

Mereka yang bangun subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.

Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk sholat berjamaah subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh raga dan jiwanya.

Tak perlu khawatir, bila subuh saja bisa dikuasai, kelak masa depan bisa digenggam. @bayugawtama

anonymous asked:

Kak, temenku muslim. Akhir2 ini dia sering mempertanyakan kebenaran agama Islam. Aku bingung ngejawabnya gitu kak. Dia bilang kan kita islam juga turun temurun. Kemudian dia bilang jg "untukku agamaku, untukmu agamamu", berarti Allah jg bilang kalau agama itu lebih dr satu kan bukan islam doang? Dia cerita juga kalau kayak2 pastur yg bs sembuhin org sakit itu dpt kuasa drmn? Atau ada buku mengenai pertanyaan2 begini ga kak? Aku takut temenku ini nantinya mudah kegoda agama lain kak :(

lanjutan) Tapi dia percaya kalau islam agama yg benar. Tapi kata dia, semua agama pasti berpikir agamanya yg benar jg kan? Gitu katanya. Dia kayaknya gampang goyah gitu kak

Wow, pertanyaan yang sangat dalam. Saya jawab tapi mungkin agak panjang karena menyeluruh, karena kalau dijawab setengah-setengah, akan kurang baik, siapkan 3 menit untuk baca ini. Dan semoga ini juga menjadi hidayah, baik bagi anon, maupun semua muslim di jagat tumblr

BAGAIMANA MEMASTIKAN ISLAM ITU BENAR?

Apakah 2 + 2 = 4? Jawabannya iya, benar. Kenapa? Ya, karena kita paham akan dasar ilmunya, bahwa 1 + 1 = 2.

Tapi apakah benar kalau turunan pertama dari ƒ(x) = 3x2 + 4 adalah 6x? Tentu tidak semudah pertanyaan diatas, karena kita harus memahami dulu dasar dari ilmu tersebut.

Sama halnya dengan memastikan islam sebagai agama yang benar, apakah kita sudah memelajari tentang islam itu sendiri? Indonesia adalah negara islam, tapi berapa banyak orang yang terlahir sebagai agama islam, belajar tentang agamanya sendiri?

Banyak dari kita yang ragu akan kebenaran islam, karena kita tidak memelajari seluk beluk tentang islam, dan alasan bahwa islam diturunkan oleh Allah untuk menyempurnakan agama yang sebelumnya telah turun.

Banyak dari kita tahu nama Tuhan kita Allah, tapi tidak banyak yang bergantung padanya. Banyak dari kita tahu nama Rasul kita Muhammad SAW, tapi tidak banyak yang tahu perjuangannya menyampaikan islam. Banyak dari kita tahu kita diperintahkan shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, tapi tidak banyak yang mengetahui makna di dalamnya. Kurangnya pemahaman kita terhadap agama kita sendiri lah, yang membuat kita justru memertanyakan kebenaran islam.

Maka sebelum memastikan sesuatu itu benar atau salah, kita harus mengetahui hal tersebut sebenar-benarnya dari sumber-sumber terpercaya. Karena banyak orang yang menjalani islam sebagai agama yang sudah “terlanjur” diberi oleh orangtua, bukan sebagai agama yang benar.

Maka, saran saya pertama, agar tidak goyah terhadap islam, pelajarilah seluk beluk tentang agama islam, agama kita sendiri.

Salah satu cara terbaik yang hingga kini membuat saya meyakini bahwa islam adalah agama yang paling sempurna adalah dengan memelajari sejarah lahirnya islam dari sirah nabawiyah (kisah kehidupan nabi). Dari sini, kita belajar bagaimana islam turun, kenapa sebuah ayat bisa turun, dan bagaimana islam diterapkan.

Sudahkah teman-teman juga belajar islam?

SEDIKIT SEJARAH YAHUDI, NASRANI, DAN ISLAM

Berikut saya share sedikit, hal yang saya dapatkan dari kajian ust. Khalid basalamah yang saya ikuti, sehingga bisa memberi penjelasan, tapi untuk detailnya, silahkan bisa mengikuti kajian lebih lanjut (nanti saya share link mp3 nya agar bisa didownload).

Setiap Nabi itu diperintahkan Allah untuk mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, karena mereka berada di dalam kesesatan, diantaranya adalah menyembah berhala, patung-patung atau bahkan manusia, padahal Allah lah yang memberikan segala nikmat di dunia, sedangkan Allah tidak suka kepada orang-orang yang syirik.

Berikut saya share peristiwa secara singkat, dari munculnya ajaran Nabi Ibrahim hingga ditutupnya ajaran nabi-nabi oleh agama islam.

Nabi Ibrahim a.s. diutus oleh Allah untuk membenarkan kaumnya yang sesat, karena pada zaman tersebut, Namrud, raja orang-orang tersebut, menyebut dirinya tuhan, sehingga menyuruh orang-orang untuk menyembah dirinya. Singkat cerita, Nabi Ibrahim menghentikan Namrud, dan membuat orang-orang akhirnya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim a.s., yakni menyembah Allah dan juga melaksanakan syariat haji, seperti tawaf, qurban, dsb.

Selepas meninggalnya Nabi Ibrahim a.s., maka kaumnya kembali menyembah berhala. Dan ini ternyata sudah menjadi sebuah kebiasaan, tatkala sebuah kaum ditinggalkan Nabi mereka, maka mereka kembali sesat karena tidak ada tempat untuk bertanya.

Lalu, Allah mengutus Nabi Musa a.s , membawa kitab taurat, untuk membenarkan orang yang telah melenceng dari ajaran nabi Ibrahim a.s.

Pernah suatu ketika, Nabi Musa a.s. meninggalkan kaumnya selama 40 hari untuk menerima taurat dari Allah SWT, namun ketika kembali dari penerimaan taurat tersebut, Nabi Musa a.s. mendapati kaumnya yang sebelumnya sudah menyembah Allah, kini menyembah patung sapi. Ketika ditanya oleh Nabi Musa a.s., maka jawabannya “Karena kau tidak ada, dan kami merasa ini benar”. Lantas Nabi Musa a.s. memerintahkan kaumnya untuk bertaubat sehingga kaumnya diberi nama yahudi yang artinya Taubat. Dan sejarah Nabi Musa a.s. ini juga menjadi alasan turunnya surat al-Baqarah (sapi betina). Lantas, sepeninggalan Nabi Musa a.s., kaumnya kembali melenceng dan kembali menyembah berhala.

Lalu, Allah mengutus Nabi Isa a.s., dengan kitab injil, untuk membenarkan kaum yahudi yang sudah melenceng dari ajaran yahudi yang sebenarnya. Dan kala itu, yahudi yang menolak injil juga disebut kafir, karena tidak mau beriman kepada Allah SWT, tapi lebih memilih menyembah berhala.

Nasrani sendiri memiliki arti penolong, karena Nabi Isa bertanya dan meminta kepada kaumnya untuk menjadi penolong agama Allah SWT (kembali menegakkan orang-orang yang melenceng).

Namun, ketika Nabi Isa a.s. diangkat oleh Allah, banyak kaumnya yang melenceng dari ajarannya dan menjadikan Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan.

Maka, untuk kembali meluruskan yang telah menyimpang, Allah menurunkan agama Islam melalui Nabi Muhammad SAW. Untuk kembali meluruskan, bahwa tuhan yang harus disembah adalah Allah SWT, bukan patung, bukan berhala, bukan orang yang mengaku-ngaku sebagai raja. Itu kenapa, Allah SWT menyebutkan bahwa islam adalah agama yang menyempurnakan ajaran sebelumnya, karena memang agama sebelumnya juga benar, namun banyak orang yang melenceng, sehingga kembali diluruskan dengan adanya Qur’an.

Dan bagaimana perjalanan Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat menegakkan kembali islam, menjadi pelajaran besar bagi saya dan membuat saya yakin, bahwa jika kita memang menginginkan syurga, maka kita harus mengikuti ajaran islam. Dengan mengikuti islam, maka kita juga sudah menjalankan Nasrani yang benar yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s., juga yahudi yang benar yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s., dan juga ajaran yang dibawa nabi-nabi sebelumnya untuk menyembah Allah SWT.

Ya, memang agama dari Allah itu tidak hanya Islam, dan turunnya agama itu untuk membenarkan kaum yang melenceng dari agama-agama yang telah turun sebelumnya.

 —

TENTANG “UNTUKKU AGAMAKU, UNTUKMU AGAMAMU”

Terkait memahami sebuah ayat, penting sekali untuk memahami “sebab” turunnya ayat, sehingga paham konteks dari ayat tersebut dan bukan lahir dari tafsiran sendiri.

Ayat di atas adalah penggalan dari Al-Kafirun, singkatnya, ayat ini turun ketika Nabi Muhammad dipaksa untuk menyembah berhala, padahal saat itu sudah ada perintah untuk menyembah Allah SWT.

Orang kafir Quraisy meminta nabi Muhammad SAW menyembah berhala selama 1 hari, lantas mereka bergantian menyembah Allah selama 1 hari, lalu Nabi menolak. Kafir itu terus menego sampai akhirnya berkata “Cukup katakan bahwa tuhan kami (berhala) itu ada, dan kami akan menyembah Allah seumur hidup kami”

Maka kala itu, Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu dari Allah, dan beliau ucapkan kepada kafir tersebut “aku takkan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu takkan menyembah apa yang aku sembah. Untukku agamaku, untukmu agamamu” sebagai penegasan, bahwa seorang muslim yang baik, tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT, sebagaimanapun orang kafir menggodanya, dan ayat tersebut bukan sebagai pernyataan bahwa agama lain benar sehingga penyembahan berhala tersebut dianggap benar.


TENTANG PASTUR SEMBUHIN ORANG SAKIT

Ini bukan pendapat saya, tapi ini saya dapatkan dari Ust. Mathius, atau dikenal KH. Syarif Hidayat, mantan jendral misionaris Indonesia yang kini menjadi mualaf, dan kebetulan juga teman dekat ibu saya sehingga saya sering mengobrol.

Beliau bilang kalau itu memang kegiatan yang dibuat oleh teman-teman misionaris, untuk membuat orang percaya.

PEMAHAMAMAN “SEMUA AGAMA ITU SAMA”

Kalau ada orang yang bilang “Gapapa kok nganut agama lain, semua agama juga sama kok, bisa masuk syurga” maka orang islam adalah orang yang paling bodoh.

Kenapa juga kita harus cape-cape solat 5 waktu, berpakaian ada aturannya, harus sedekah, harus ngaji, gak boleh minum dan makan yang haram, terus harus haji, banyak larangan dan perintah? Mending pindah ke agama yang ibadahnya gak berat, pakai baju boleh buka-bukaan, gausah bangun subuh atau tahajud, bebas minum dan makan, pokoknya bebas deh, toh sama-sama masuk syurga. Bener ga? Tapi nyatanya engga kan? Apalagi jika kita belajar tentang kenapa islam turun, maka kita akan paham.

Karena pemahaman “gapapa kok semua agama sama” itu adalah pemikiran orang liberal, agar orang bisa nyantai dan gak perlu belajar islam dan bisa mudah berpindah ke agama lain. 

SEBAGAI PENUTUP

Sekali lagi, saya hanya mengingatkan dengan tulisan ini, agar kita semua mau belajar mendalami agama kita sendiri. Sejarah sudah menjelaskan, tatkala suatu kaum ditinggalkan Nabinya, maka mereka akan melenceng. Tak hanya yahudi, nasrani, bahkan kita umat muslim pun banyak yang melenceng. Bukankah banyak yang berdalih jihad tapi melakukan bom bunuh diri? Apakah jika Nabi Muhammad SAW hidup sekarang, hal tersebut diperintahkan? ya, kita perlu belajar, agar tidak melenceng.

Karena bisa jadi, mualaf yang baru masuk dari agama lain justru lebih mencintai islam, karena mereka memelajari agama islam secara keseluruhan, sedang kita hanya menjalani secara seadanya karena kita mendapatkan agama ini bukan karena hidayah, melainkan mendapatkan agama ini dari orangtua kita.

Dan tulisan diatas bertujuan bukan untuk menyerang agama lain, bukan untuk bilang “agama islam paling benar” karena agama bukanlah untuk dibanding-bandingkan, tapi tulisan ini mengajak teman-teman untuk lebih memahami tentang agama islam, agama penutup, agama penutup yang menyempurnakan agama sebelumnya, agama yang membawa kita kepada syurga, tempat sebaik-baik kembali.

— 

Tentu tulisan diatas hanya sebagian, silahkan teman-teman bisa mengikuti kajian lanjutan, bisa di youtube dsb, juga membaca berbagai sumber lainnya.

wallahua’lam bisshawab. Jika ada yang salah, mari saling mengingatkan.

Semoga bermanfaat, punten panjang banget. Semoga berkenan. Silahkan share untuk mengingatkan teman-teman lainnya.

Terima kasih

Israel: Indonesia Itu Brengsek!

Mungkin bagi Israel, khususnya Benjamin Netanyahu, Indonesia adalah negara brengsek yang bikin susah dan tidak jelas maunya apa. Sempat memberikan harapan palsu kepada Israel dengan gestur “pembukaan hubungan diplomatis” beberapa tahun belakangan, namun tetap saja persoalan sepele pesawat kenegaraan Israel yang mau menumpang lewat 3-4 jam di langit Indonesia tidak dikasih izin. Sehingga pesawat delegasi PM Israel ini harus mutar jauh ke atas lalu ke bawah. Ini bukti pemerintah Indonesia serius dengan sikap polugrinya terhadap isu Palestina. Kita harus mengapresiasi Pak Jokowi serta Bu Menlu yang tetap konsisten terhadap dukungan Indonesia.

Yang paling membuat saya sedikit tertawa satir di dalam berita ini adalah kalimat terakhirnya yang menyatakan: Normalisasi hubungan Indonesia dan Israel bisa saja terjadi, tapi hanya setelah rakyat Palestina mendapatkan kemerdekaan. Ngeselin ga sih, Indonesia? Kemarin memberikan harapan normalisasi, giliran Israel menaruh harapan, dijawabnya seperti itu. Ini seperti main-main.

Well, Indonesia akan tetap menjadi Indonesia. Semenjak negara ini berdiri, sikap rakyat dan pemerintahnya selalu sama. Urusan Palestina, bukan semata-mata urusan bangsa Palestina saja. Tapi juga rakyat Indonesia.

Source: klik.

Roket

“Dek, tau Tesla ngga?”

“Tela?”

“-.-”

“wkwkwkwkwkwk. tau tau Mas.” Padahal aku taunya Tesla nama penemu, ternyata maksudnya Mas nama perusahaan.

“Perusahaan teknologi di Amerika itu lho. Kamu suka baca berita teknologi nggak sih?”

“Engga, kalau berita artis aku suka.” jangan ditiru, aku sudah belajar mengurangi hahahaha.

“Hadehhh. Jadi Tesla itu sekarang lagi neliti gimana caranya bikin roket yang ketika dia sudah meluncur bisa mendarat tapi mendaratnya jalan mundur.”

“Wih! Bisa ya!”

“Keren kan? Dia juga bikin mobil yang bisa self-driving. Kamu tinggal tidur dia sudah sampe rumah.”

“Woaaaa!”

“Mereka mikir sudah sampai kesitu ya dek. Negara kita belom.”

“Negara kita masih bingung buat fitnah-fitnah dan berita hoax mas.”

Dari percakapan barusan, aku jadi mikir, soal pemanfaatan waktu dan semangat kita untuk menuntut ilmu. Kerasa jauh banget dari kata maksimal. Udah dibuat apa aja waktu kita? Udah beramal apa aja?

Ah, pemuda-pemudi di negara lain sudah pada keren-keren dengan karyanya. Tapi masa iya kita nyalahin negara, semuanya kan berangkat dari masing-masing individu.

Waktu beda sama roket, meski sama melesatnya. Waktu nggak bisa jalan mundur, nggak bisa kembali. Yang ada harus lebih bijak memanfaatkan.

Disaat kita nggak bisa move on, mendramatisir perasaan, atau membiru gegara sakit hati, pemuda di belahan dunia lain sedang memburu ilmu pengetahuan dan tekonologi.

Disaat kita empat tahun lamanya nungguin seseorang, yang lain ternyata menggunakan waktu empat tahun yang sama buat bikin start up.

Disaat kita sedang sibuk berperang melawan kemalasan, para pemuda lain bahkan sudah andil berperang dalam medan tempur sebenarnya. Menempa fisik dan mental mereka.

Disaat kita sibuk menggunjing satu sama lain, pemuda-pemudi produktif sibuk mengguncang langit dengan doa dan ide-ide mereka.

Tidak bergeser kaki kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ditanya tentang empat perkara, tentang umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana dia amalkan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan dan tentang tubuhnya bagaimana dia memanfaatkanya.” (HR. at-Tirmidzi)

Semoga kita selalu diberi kekuatan untuk memanfaatkan waktu dan mencari ilmu dengan baik.

Nanti.

Kita tak tahu berapa lama kita hidup di dunia.
Tuhan tak pula nyuruh kita melulu diam dipojokan rumah, berdoa padaNya.
Teringat pesan kawan, yang mengingatkan bahwa masih banyak keindahan di bawah lautan.
Terngiang cerita kawan, indahnya bumi dari dataran tinggi, bahkan ketika tertutup awan.
Masih banyak keinginan mengunjungi negara seberang.
Masih banyak angan-angan menjelajahi bagian dunia bak petualang.

Ternyata kita (errr aku sih) yang membatasi diri sendiri.
Alasan keuangan.
Perhitungan waktu luang.
Izin dari orang-orang tersayang.

Alasan terlalu jauh, terlalu tinggi, terlalu bahaya, ketakutan lainnya yang dimulai dengan kata “terlalu” lainnya.

Ketika yang lain sibuk mengumpulkan memori bersama para kawan, bolehlah aku diizinkan untuk merasakannya bersama orang tersayang nanti ya, Tuhan?

Bukan sekarang.
Nanti saja kalau sudah ada teman halal.
Jangan pas sendiri.
Nanti saja kalau sudah ada sang pendamping hati.

Berdua saja.
Menikmati indahnya bawah lautan.
Mengagumi bumi dari ketinggian.
Hingga yang terlalu jauh, menjadi dekat pada kenangan.
Hingga yang dikira terlalu tinggi, ternyata tak seberapa ketika kami sampai pada puncaknya.
Hingga yang terlalu bahaya pun terasa aman ketika bersamanya.

Boleh ya, Tuhan?
Ya?

“Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.” (QS. Al-Baqarah: 114)

Kalau ada aparat yang main baku pukul kepada mahasiswa yang demo saja saya protes keras. Apalagi ini, orang mau shalat di masjidnya sendiri dihalang-tendangi.

Yang paling bikin saya geram, ini terjadi di tempat suci ketiga Ummat Islam setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tempat yang dulu jadi tempat bertolaknya nabi dari bumi menuju sidratul muntaha. Sudah begitu, ini dilakukan oleh aparat penjajah, dan penjajahan ini eksis di tengah-tengah dunia yang gemar sekali bicara freedom dan human rights. What the….

What is this? Ini apa namanya kalau bukan penjajahan yang biadab dan tak beradab sama sekali?

Pertama, dari sisi kemanusiaan ini sama sekali tak ada manusiawinya. Bahkan akses dari luar saja ditutup. Dulu pernah sekira tahun 2010 ada misi kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang membawa bantuan dari seluruh dunia dihadang oleh Israel. Salah satu relawan asal Indonesia gugur ditembak tentara zionis.

Kedua, dari sisi keimanan ini pantas dilaknat oleh ummat Islam sedunia. Bayangkan, ini adalah masjid yang menjadi bagian dari akidah dan memiliki nilai historikal bagi ummat Islam. Ini masjid yang jika seseorang shalat di dalamnya akan diampuni dosa-dosanya. Bagaimana bisa memasuki dan shalat di dalamnya dilarang? Bagaimana jika kemudian dialihfungsikan bukan lagi sebagai masjid tempat ibadah Ummat Islam?

“Urusin dulu negerimu, Pik. Baru urusin negeri orang.”

Iya, secara bangsa itu bukan bangsa saya.

Tapi secara kemanusiaan, yang ditindas disana itu manusia. Bukan kucing! Ada yang jahat sama kucing saja saya marah.

Tapi secara keyakinan, itu tanah suci dan masjid Ummat Islam. Nggak ada larangan dalam konstitusi negara kita untuk turut membela kemerdekaan bangsa lain. Bahkan pandangan politik luar negeri kita adalah politik bebas aktif. Bahkan preambule UUD 1945 jelas mengatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Masa kita melarang apa yang dibolehkan (diperintahkan) negara kita sendiri.

Well, jangan risaukan tulisan saya ini.

Risaukan saja kemanusiaan kita yang bergeming saat saudara kita ditindas.

Risaukan saja keimanan dan peran kita yang lagi-lagi kalah dengan Umar dan Shalahuddin yang pernah memerdekakan Palestina.

Risaukan saja apa hujjah kita di hari akhir kelak jika ditanya sudah berbuat apa untuk kebebasan Baitul Maqdis dan kemerdekaan saudara-saudara kita di sana.

— Taufik Aulia
Menguasai Dunia? Kuasai Fitrah

Islam, yang saya pahami, adalah agama yang tidak hanya komprehensif, tapi juga fleksibel, realistis, dan klop dengan fitrah manusia.

Salah satu contohnya—ini terkenal sekali, bisa kita lihat dalam shahih bukhari. Ada tiga orang datang menemui istri-istri Nabi, menanyakan perihal ibadah Rasulullah.

Setelah itu, karena saking bersemangatnya, salah satu dari mereka berkata, “Aku akan mendirikan shalat sepanjang malam.”

Salah satu yang lainnya berkata, “Aku akan berpuasa sepanjang hidupku dan tak akan pernah berbuka.”

Satu orang terakhir berkata, “Aku tidak akan mempergauli perempuan dan tidak akan menikah.”

Kabar ini sampai ke telinga Rasulullah, hingga Rasul menemui mereka dan berkata, “Apakah kalian orang-orang yang mengatakan hal itu? Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian, tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku melaksanakan shalat dan aku tidur, dan aku menikah.”

Sangat manusiawi, sangat realistis, bukan? Tentu masih banyak contoh lain yang dapat kita temukan, namun semoga poinnya sudah tertangkap.

Islam Menguasai Dunia?

Sebagai muslim yang secara aktif mempelajari Islam, kemungkinan besar kita sudah sering mendengar gagasan bahwa akan datang suatu masa di mana dunia ini diliputi kembali oleh cahaya Islam, entah dalam bentuk kekhilafahan dalam arti sistem politik, atau kekhilafahan dalam makna yang lebih luas (misalnya, aliansi negara-negara Islam), atau dalam bentuk “penguasaan” lainnya.

Dalam logika saya, jika ummat Islam ingin menjadi sang “soko guru peradaban dunia”, salah satu syarat penting yang harus dijaga adalah karakteristik Islam yang fleksibel, realistis, dan sesuai dengan fitrah manusia tadi.

Jangankan manusia, binatang yang mendapatkan pemaksaan, yang diperlakukan secara berlawanan dengan fitrahnya, pasti akan berontak (coba tangkap seekor ikan, keluarkan dari air, ia tidak akan diam sehingga lemas lalu mati).

Kalaupun akhirnya binatang tersebut menyerah, fitrahnya menjadi terpangkas (Pandji Pragiwaksono pernah cerita, temannya memelihara bayi beruang. Setelah beruang sudah cukup dewasa dan dilepaskan ke alam, dalam selang waktu yang tak terlalu jauh sang beruang ditemukan mati, diduga karena tidak mampu bertahan hidup). 

Peradaban macam apa yang mau kita hadirkan, jika kita berkuasa dengan pemaksaan atas realitas dan fitrah manusia? Mereka yang terkuasai pasti akan melakukan perlawanan terus menerus, menjadi perang tak berkesudahan. Apakah itu wujud agama rahmat bagi semesta alam?

Pemaksaan Atas Fitrah 

Ada banyak realitas dan fitrah manusia yang barangkali sering kita remehkan, kita tekan, kita paksakan.

Misalnya, soal hiburan. Sejujurnya, saya pernah begitu judgemental terhadap teman-teman yang–di mata saya, mengisi hidupnya hanya dengan bersenang-senang. “Hedonisme”, “Maksiat”, “Tak punya visi”, adalah beberapa label saya terhadap mereka.

Saat itu saya gagal melihat realitas bahwa manusia memang memiliki fitrah untuk selalu mencari kesenangan-kebahagiaan, yang mungkin pada setiap orang berbeda kadarnya sebab berkombinasi dengan kompleksitas hidupnya.

Saat itu saya gagal memahami bahwa saya tidak bisa memaksakan standar saya terhadap mereka. Mungkin mereka tidak mengenal Islam sebaik saya, mungkin mereka anak-anak yang broken home, dan mungkin-mungkin lainnya, yang menyebabkan kebutuhan mereka akan bersenang-senang jauh lebih kuat daripada saya.

Namun, coba sekarang tengok @PemudaHijrah. Lihat betapa membludaknya kajian-kajian mereka. Lihat siapa orang-orang yang hadir dalam majelis-majelis mereka. Lihat betapa kerennya event mereka. Teman-teman yang dulu saya cap sebagai kerumunan hedonis, ternyata banyak yang menjadi bagian dari mereka. Mungkin diantaranya karena mereka merasa fitrah mereka, realitas mereka, bisa terakomodasi bersama komunitas Pemuda Hijrah–tentu sebagai bagian dari kehendak dan hidayah dari Allah.

Astaghfirullah, betapa bodohnya saya, betapa jahatnya penghakiman saya.

Jalan Hidayah Itu Banyak

Kita memerlukan sebanyak-banyaknya cara untuk membuat manusia merasakan sendiri nikmat-indah-kerennya cahaya Islam. Perkataan kita semata tidak akan cukup. Apalagi tidak semua orang begitu diperdengarkan ayat Al-Quran langsung menangis seperti Umar bin Khatthab.

Mungkin diantara kita ada yang pertama kali mendapatkan hidayahnya lewat lagu produksi Awakening Records. Mungkin juga ada yang berhijab karena pada mulanya tertarik dengan gaya fashion seorang hijaber. Bahkan mungkin ada yang terpantik mendalami shirah karena menonton film Lord of the Rings (konon beberapa scene perang dalam film ini mirip dengan penggambaran scene perang pada zaman Rasul). Mengapa tidak mungkin?

Masih banyak kemungkinan jalan hidayah lain yang mungkin tidak bisa kita bayangkan saat ini, karena terbatasnya cakrawala berpikir kita, karena sempitnya pergaulan kita, karena sedikitnya referensi kita. Jika kita menyadari dan mengakui hal ini, maka semoga kita bisa mengurangi kebiasaan kita dalam menghakimi sesuatu.

Petualangan Menjelajahi Fitrah

Karena saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah, maka saya meyakini pula bahwa upaya mengeksplorasi dan memahami fitrah adalah sesuatu yang penting.

Dari sanalah barangkali kita mampu melihat betapa luasnya jalan hidayah Allah, lalu kita bisa memahami bahwa kita pun bisa punya peran sebagai agen hidayah Allah dengan apa yang kita bisa; bahwa tidak hanya yang hafal Al-Quran yang bisa berdakwah; tidak hanya yang berlajar ilmu syar’i yang bisa membangun ummat terbaik; bahkan keberadaan para penghafal Quran dan para ‘ulama syar’i saja mungkin tidak memadai jika kita ingin mewujudkan Islam sebagai soko guru peradaban dunia.

Kita perlu menyediakan alternatif yang lebih baik atas semua realitas dan fitrah yang eksis di muka bumi. Film Hollywood? Drama Korea? Industri Gaming? Musik? Apapun, semuanya, perlu kita siapkan alternatif yang lebih baik, yang bisa menjawab realitas dan fitrah.

Maka, dengan Islam sebagai pemandu, mari menjelajahi fitrah kita masing-masing, menjadi sebaik-baik diri kita dengan segala keunggulan uniknya.

Selamat berpetualang!

Freeday: Perlukah Masa Lalu Datang Kembali?

Ketika malam minggu kamu cuma tidur-tiduran, tapi di sana mantanmu sedang bobo bersama pacar barunya be like..

                                                       ===

.

Berbeda dengan hari-hari biasanya, kali ini sepulang kelas pemrograman di kampus, gue nggak langsung pulang ke rumah. Gue malah nyempatin mampir dulu ke kostan temen gue, sebut saja Ciko. Belakangan ini kostan Ciko selalu gue sambangi lantaran di antara seluruh kostan kepunyaan temen yang lain, Ciko adalah salah satu orang yang paling beduit untuk nyewa kostan dengan ruangan cukup gede. Segede tempat sholat akhwat di Masjid Istiqlal.

Ketika teman-teman gue yang lain ngekost hanya sekitar 500-800 ribu sebulan, Ciko beda sendiri, mentang-mentang bapaknya punya toko bumi dan bangunan, dia berani ngambil kostan yang harganya 1,3 sebulan. Kamar mandi di dalem, tapi tidurnya di luar.

Maka dari itu gue paling demen mampir di kostan temen gue yang satu itu. Selain karena kamernya paling besar, alasan lain yang buat gue sering mampir adalah karena kostan ciko ini kostan campur. Mantep banget kalau lagi nongkrong depan pintu terus ada cewek-cewek sliweran dari kamar sebelah dengan celana gemes dan tangtop pergi ke gerbang sambil nenteng mangkok buat nyegat mamang bubur.

Kalau gini caranya, gue abis lulus kuliah jadi tukang bubur daerah kampus aja deh. Tiap hari bisa liat paha. Paha ayam maksudnya.

Ayam kampus :((((

Siang ini gue memilih untuk tidur-tiduran di kasurnya Ciko sementara dia asik nongkrong di depan tv buat mantengin FTV dengan judul Pacarku Mantan Copet Cantik. Untuk membunuh waktu, tak lupa gue sesekali memainkan gitar klasik kepunyaan Ciko dan menyanyikan lagu-lagu gereja kepunyaannya. Ciko tidak keberatan ketika gue melakukan itu.

Namun tiba-tiba, gitar-gitaran gue ini terhenti.
Ciko pun langsung menengok ke belakang.

“Napa lu berhenti dah? Gue lagi menghayati nih.”

Gue menatap pelan ke arah Ciko dengan tatapan ketakutkan.

“Wuih kenapa lu? Dapet hidayah buat pindah agama?” Tanya Ciko lagi.

Gue geleng-geleng, “Mantan gue ngajak ketemu, Cik.”

JLEGAR!
Seketika itu juga langit mendung. Petir menyambar-nyambar. Temen-temen kostan Ciko yang pahanya kemana-mana itu langsung meluk gue.

Terkadang, masa lalu itu brengseknya kebangetan. Setelah dia melukai dengan cara pergi dan membiarkan kita sendirian kesakitan untuk mengingat hal-hal bahagia yang terasa seperti luka, ia juga sering kembali di saat-saat kita sudah bahagia atau di saat kita sudah mampu untuk hidup tanpanya.

Lalu dengan sapaannya yang sedikit itu, ia meruntuhkan semua tembok-tembok tinggi yang telah kita bangun sebelumnya. Benih harapan yang sudah dikubur begitu dalam tiba-tiba menunjukkan tunas baru, tunas yang sering kita namakan dengan,

“Harapan bahwa ternyata dia masih cinta sama gue.”

Bahaya banget.

Kenapa gue sebut bahaya? Karena selain dia akan menarikmu kembali ke tempat-tempat yang seharusnya sudah kau tinggalkan itu, dia juga akan membuatmu kembali mengingat hal-hal yang sebenarnya selama ini sudah tidak begitu nyeri jika kau ingat.

Maka inilah beberapa teknik-teknik ala @mbeeer dalam menghadapi serangan mantan yang ngajak balikan lagi.

.

                                                          ===

.

QUESTION AND ANSWER

Sebut saja dia Sebastian, atau kerap dipanggil Sebats oleh teman-temannya. Seorang pria yang cukup tampan dengan brewok nempel di sekujur tubuh termasuk di selangkangan. Sebastian ini selain pandai mengaji dan membaca arab gundul, doi juga piawai sekali dalam bermain alat musik, terutama piano dan juga ketipung. Kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik seperti ini tidak ia dapatkan begitu saja. Percaya atau tidak, kemampuan Sebastian dalam bermain alat musik ini ia dapatkan dari seorang wanita yang pernah mengisi hidupnya.

Bagaimana bisa?

Sebut saja dia Mia. Gadis yang bercita-cita menjadi aktris pemeran Srimulat ini digadai-gadai menjadi latar belakang kenapa Sebastian jadi menyukai Musik. Entah semesta sedang merencanakan apa, namun di suatu ketika, Mia dipertemukan dengan Sebastian. Mia yang saat itu sedang gundah karena tak kunjung menemukan lelaki yang tepat dan Sebastian yang sedang menjalin hubungan tanpa status dengan sabun kecrotan di kamar mandi itu, pada akhirnya menjadi alasan kenapa mereka berdua bisa jatuh cinta di saat yang bersamaan.

Hidup mereka bahagia. Mia yang berprofesi sebagai aktris ini menasihati Sebastian bahwa musik adalah esensi dari sebuah kehidupan. Maka dari itu Mia mengajarkan Sebastian untuk bermain musik. Dengan kemampuan membimbing Mia dan juga rasa cinta Sebastian yang begitu besar, pada akhirnya Sebastian dengan mudahnya terjun ke dunia yang baru baginya; Musik.

Namun seumpama lirik yang tak rampung, musik yang fals, dan nada yang salah komposisi. Bahtera rumah tangga Sebastian dan Mia tidak berjalan baik. Mereka harus dipisahkan oleh keadaan. Mia tiba-tiba pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak tanda tanya di kepala Sebastian.

Selain mabuk-mabukan dengan cara naik angkot tapi madep ke belakang, Sebastian juga melarikan diri dari galaunya dengan bermain musik lebih giat. Menurut Sebastian, hanya dengan cara inilah dia mampu mengingat Mia dalam bentuk Nada.

Beberapa tahun telah berlalu. Hingga tiba-tiba datang suatu saat ketika Sebastian sedang bermain musik di sebuah orchestra Dangdut Dorong di depan RW 03, Sebastian tak sengaja melihat Mia ada di sana. Di antara para ibu-ibu berdaster, bapak-bapak singletan doang, anak-anak bau matahari, dan tukang sayur, Mia sedang berdiri menatap Sebastian yang saat itu sedang bermain Rebana dan Ketipung bersama teman-teman Akapelanya yang membawakan lagu Alif-Bata-Sajimha karya Wali Band.

Ketika Sebastian sudah mulai bisa melupakan Mia, tiba-tiba Mia hadir kembali dalam hidupnya. Membuat segala pertanyaan yang sebenarnya sudah diikhlaskan oleh Sebastian tiba-tiba menyeruak lagi ke permukaan. Membuat kakinya goyah lagi di hadapan cinta yang membuat dirinya terjun ke dunia yang ia sukai.

Kisah Sebastian di atas itu kerap terjadi di kehidupan ABG di Negara Berkembang. Ketika kita sudah mampu melangkah, sudah lupa, sudah tidak terlalu sakit lagi dalam mengingat, tiba-tiba sang masa lalu datang untuk menawarkan sebuah jawaban.

Kita yang tadinya sudah tidak berharap lagi tiba-tiba menjadi was-was, kita yang bahkan sudah tidak butuh jawaban atas kepergiannya dulu itu menjadi penasaran lagi hanya karena merasa bahwa ada kesempatan untuk mendapatkan jawaban.

Q&A atau Question and Answer; Adalah suatu keadaan di mana kita dipisahkan oleh keadaan, oleh suatu ketidak-adilan sehingga ada begitu banyak tanda tanya di kepala. Kepergiannya membuat tanda tanya itu tidak terjawab, terbengkalai. Mau bertanya tapi takut disangka masih ngarep, mau bertanya tapi ternyata dia sudah punya pasangan yang baru, atau juga mau bertanya tapi tidak ada akses yang memungkinkan untuk berbicara dengannya.

Kemudian kau menyerah, berusaha menelan mentah-mentah semua tanda tanya. Menguburkannya jauh-jauh di dalam dada. Mencoba Ikhlas bahwa pertanyaan atas kepergiannya itu tidak akan terjawab untuk selamanya. Lalu kau mulai belajar menerima keadaan itu. Namun ketika kau sudah mampu menerima, tiba-tiba masa lalumu dengan brengseknya datang lagi. Memberikan sebuah harap bahwa jawaban yang selama ini kau cari itu mampu ia berikan.

Pertanyaan-pertanyaan yang kau kubur dalam-dalam dulu itu tiba-tiba menumbuhkan tunas.

Pertemuan seperti gue anggap sebagai sebuah keadaan paradox.
Boleh dilakukan, tapi lebih baik tidak.

Boleh dilakukan jika kau sudah yakin tidak akan baper lagi ketika berbicara dengannya. Tidak akan baper lagi atas semua jawabannya. Atau lebih baik tidak; Karena buktinya tanpa jawabannya itu pun kau sudah pernah bisa bertahan dan melanjutkan hidup dengan bahagia, kan?

Gue sarankan hati-hati dengan pertemuan yang seperti ini.
Sangat menggoda dan penuh tipu daya.

Kaya tengtop awkarin waktu naik kuda.

.

                                                           ===

.

PENASARAN

Ekspresi gue pas doi ngajak balikan.

 .

Bukan, gue bukan mau ngomongin setan. Penasaran di sini dalam arti kamu masih ingin meluruskan apa yang dulu sempat terbengkalai.

Sebut saja, Harambe. Seorang cowok nggak ganteng-ganteng amat yang sudah khatam Iqro 6 tapi ada aja cewek cakep yang nyantol sama dirinya. Sikapnya yang baik dan menyamankan ini membuat seorang wanita, Sebut saja Sanbe, jadi jatuh cinta.

Padahal kala itu Sanbe tengah patah hati berat. Ia baru saja putus dari hubungannya kemarin dengan seorang cowok brengsek. Sanbe hanya dimanfaatkan, tubuhnya dieskploitasi kaya saham Freepot. Sanbe disuruh jadi Manusia Silver untuk membuktikan cintanya, padahal mantan Sanbe hanya menginginkan uang hasil mengemisnya itu saja.

Patah hati yang begitu berat lantaran kulitnya menjadi warna abu-abu membuat Sanbe enggan masuk ke dalam suatu hubungan terlebih dahulu. Namun meski begitu, Harambe tetap mencintai Sanbe. Ia menyamankan Sanbe, menyembuhkan Sanbe dari segala luka yang padahal bukan disebabkan oleh Harambe.

Namun ketika Sanbe sudah mampu untuk jatuh cinta lagi, Harambe ditinggalkan begitu saja. Harambe tidak dipilih padahal selalu ada. Tidak dijadikan pilihan padahal selalu menomer-satukan Sanbe. Harambe dipaksa pergi dengan cara digantikan oleh orang lain.

Brengsek sekali.

Lalu beberapa tahun kemudian ketika Harambe sudah mengikhlaskan Sanbe dan memilih Fitnes sebagai pelampiasan patah hatinya, Sanbe datang lagi. Sanbe tertarik dengan otot-otot perut Harambe yang seperti tahu berjumlah 6 biji itu.

Dan bodohnya, Harambe tanpa pikir panjang langsung menerima Sanbe kembali tanpa mengingat bahwa dulu Sanbe pernah meninggalkan Harambe lebih dari satu kali. Ketika teman-teman Fitnes Harambe bertanya apa alasan Harambe kembali kepada masa lalunya, sambil menggoyang-goyangkan otot dadanya, Harambe menjawab dengan nada berat bak barbel,

“Aku masih penasaran sama dia.”

Yak!

Menurut gue, masih penasaran ini juga termasuk salah satu cara menengok masa lalu yang cukup berbahaya. Hubungan yang sudah usai sebelum dimulai, atau juga hubungan yang hampir berhasil tapi keburu selesai itu, kerap menjadi rasa penasaran di dalam dada. Hingga kemudian ketika masa lalu datang menawarkan proposal untuk kembali lagi, itu terasa seperti sebuah angin segar yang menghilangkan dahaga rasa penasarannya selama ini.

Karena rasa penasaran itu mampu membunuh syaraf logika.

Baiknya pertemuan ini dihindarkan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah tetaplah Fitness dan putuskan menjadi Gay. Aman.

Paling banter juga resikonya pantat lu bolong.

.

                                                          ===

.


MASIH CINTA

Aelah kagak usah gue jelasin lagi yang begini mah. Bikin kesel aja.


.

                                                              ===

.


WALKIE TALKIE

Wa cape mz..

.

Walkie Talkie adalah pertemuan yang dilaksanakan hanya untuk bercengkrama. Ingat, bercengkrama, bukan bersenggama. Tolong dibedakan ya Ukhti Ikhwan. Jangan sampai salah ucap, nanti kamu dimarahin ustad Hainan.

Baiknya teknik Walkie Talkie ini dilakukan hanya ketika kamu sudah cukup dewasa untuk menerima sebuah pendapat dan penjelasan dari sisi masa lalumu. Karena bisa dibilang teknik Walkie Talkie ini adalah gabungan dari ketiga teknik di atas. Ada pertanyaan yang belum di jawab, rasa penasaran untuk menuntaskan, juga ada sedikit rasa masih cinta. Maka apabila kamu belum cukup dewasa untuk sebuah pertemuan yang seperti ini, baiknya jangan dilakukan. Karena jika tidak, kamu akan jatuh dua kali di lubang yang sama.

Sebuah hubungan antara dua hati manusia kerap berakhir tanpa disangka-sangka dan tanpa direncakan sebelumnya. Tentu kedua belah pihak akan terluka juga, namun yang saat itu sedang sayang-sayangnya lah yang akan paling terluka. Selain meninggalkan banyak tanya, rasa penasaran karena masih cinta pun kerap melekat kuat-kuat di dalam dada.

Berbulan-bulan berlalu, bertahun-tahun berlalu, tetap rasa itu masih ada. Mungkin tidak membesar, tapi akan tetap ada. Membuatmu jadi merasa benci pada yang meninggalkan karena membuatmu tersiksa sendirian. Karena bagimu, ada beberapa luka yang tidak mungkin sembuh bahkan dalam hitungan tahun.

Lantas tanpa kau sangka-sangka sebelumnya, masa lalumu itu kembali. Menawarkan sebuah penjelasan. Sontak rasa yang melekat di dalam dadamu itu tiba-tiba membesar kembali. Membuatmu dengan mantap untuk bertemu dengannya.

Walkie Talkie adalah pertemuan untuk mendengarkan pendapat dari pihak yang meninggalkan. Karena terkadang orang-orang yang meninggalkan juga merasa bahwa merekalah yang disuruh pergi. Bahkan mungkin orang yang meninggalkan ini akan bilang bahwa sejatinya dialah yang tersakiti di perpisahan kalian yang kemarin itu.

Oleh sebab itu, seperti yang gue bicarakan di awal, jika lo belum dewasa untuk menerima pendapat dari sisi pandang masa lalu lo, baiknya pertemuan ini jangan dilakukan. Setelah bertahun-tahun rasa penasaran itu melekat lalu kemudian kau mendapatkan jawaban, namun jawabannya malah menuduh bahwa kamulah pihak yang salah, sontak pasti kau akan merasa begitu emosi atau bahkan hingga menjadi benci.

Kau yang selama ini tersiksa. Kau yang selama ini terluka sendirian. Ternyata di matanya, adalah kau yang bersalah. Tak ayal pertemuan ini malah mengubah apa rasa cinta menjadi rasa benci. Tiba-tiba seluruh perasaanmu, kekagumanmu, cintamu itu luluh lantah dan digantikan dengan rasa jijik serta benci.

Atau bahasa lainnya adalah Ilfeel.

Namun, bisa juga kebalikannya. Bisa jadi pertemuan ini malah menyembuhkan dan betul-betul menjawab seluruh pertanyaan yang mengganjal di hatimu selama ini. Mungkin apa yang akan ia jelaskan benar-benar membawa kalian ke sebuah jalan tengah. Ke penyelesaian yang begitu damai tanpa banyak helaan napas.

Bahkan, itu bisa membawamu kembali menjalin hubungan dengannya.

Baik buruknya, itu tergantung kedewasaan setiap orang yang hendak melakukan teknik Walkie Talkie ini. Tapi menurut gue, yang telah lalu itu biarlah berlalu. New is always better.

Mengutip salah satu lirik dari lagu mas Kodaline,

‘cause we don’t, we don’t need to talk about this now
Yeah, we’ve been down that road before
That was then and this is now

The crowds in my heart they’ve been calling out your name
Now it just don’t feel the same
Guess it’s over, yeah, we’re done

.

                                                             ===

.

Nah gaes,

Itulah ketiga teknik penting yang perlu diketahui ketika masa lalu datang kembali untuk menawarkan sebuah kerja sama ulang. Dia datang seperti ulangan Remedial, menawarkan dirimu kesempatan yang baru untuk memulai semuanya dari awal lagi.

Tapi untuk siapapun yang sudah membiarkan waktu berharganya hilang begitu saja karena membaca tulisan nggak penting ini, baiknya ingatlah kata-kata gue ini,


Setelah kau gagal dan terus gagal, masa depan memang akan terlihat begitu menakutkan dan asing. Tapi kau tidak bisa berlari kembali ke masa lalu hanya karena merasa masa lalu itu terasa lebih familiar untukmu. Ya, masa lalu memang terlihat lebih menggoda, tapi itu tetaplah sebuah kesalahan.

Because new Is always better.

Perjuangan Millennial

Perut kenyang. Lingkungan aman. Akses informasi mudah. Cukup sudah semua faktor pendukung produktivitas masyarakat (bermodal dan) berpendidikan.

Tapi, semua akan berbeda bila kita melihat ke sudut-sudut kota dan desa-desa yang masih menjadi bahagian kehidupan modern bernama negara. Pendidikan terbatas. Keahlian terbatas. Tenaga terbatas karena angkatan muda sudah beralih mata pencaharian. Dan tentu saja modal terbatas.

Lucunya, dari kedua jenis kehidupan itu, baik berpendidikan maupun tidak, yang paling diuntungkan adalah kapital yang menjunjung tinggi produktivitas itu sendiri.

Dengan ijazah, pengalaman dan jam kerja, seorang pegawai digaji sekian, untung terbesar ada di siapa? Pemilik perusahaan. Dengan keahlian dan keringat, seorang buruh dibayar sepersekian, yang untung siapa? Pemilik perusahaan. Begitu juga petani padi, penderes karet, dan penyadap nira. Keuntungan terbesar ada di mata rantai distribusi yang berlapis serta tentu saya pemilik perusahaan.

Kapital dengan sistemnya yang sudah terbangun dan pintar sudah selayaknya dibayar mahal. Lucunya, yang menanggung mahalnya sistem kapital bukan konsumen, melainkan petani bahan baku.

Belum lagi generasi millennial yang tidak sempat melihat rantai proses makanan sampai ke mulut mereka, proses sebuah gawai sampai di tangan mereka, dan bagaimana supir taksi online bisa mengantarkan mereka ke tujuan mereka. Ada petani yang ‘dipinteri’ tengkulak, ada sumberdaya alam yang dieksploitasi dan dibeli murah oleh perusahaan, ada keterbatasan pilihan bagi para tukang ojek karena mudahnya akses finansial untuk mengkredit kendaraan motor, dan hal kecil yang seharusnya memancing desah panjang orang yang mengetahui.

Tapi, apa yang bisa kita perbuat dalam keadaan mapan pangan, sandang, papan dan keamanan ini?

Saya coba bikin butir-butir perlawanan yang mungkin relevan dalam kondisi ini dan mungkin akan saya kembangkan lebih lanjut di lain kesempatan.
1. Meninggalkan makanan kemasan/buatan pabrik.
2. Kembali ke pasar tradisional yang becek
3. Menghemat makanan dalam kuantitas dan jenis.
4. Meninggalkan perusahaan-perusahaan milik asing, pindah ke instansi pemerintah & perusahaan negara/anak bangsa
5. Mengubah gaya hidup sederhana
6. Meninggalkan segala bentuk pinjaman
7. Mengurangi waktu di mal, perbanyak waktu di rumah bersama keluarga
8. Menulis
9. Menutup sosial media
10. Bersosialisasi dengan masyarakat (neighborhood)
11. Membaca buku dan mengajarkannya lewat kelas atau sesederhana menulis review/sarinya.

Menarik sekali jika kita sebagai orang terdidik bisa berhenti sejenak dari rutinitas dan memikirkan, apa saya bisa membantu memperkecil ketimpangan dan melawan langgengnya hegemoni kapitalisme?

anonymous asked:

Din, menurutmu tujuan menikah itu apa?

Mau jawab buat ibadah, nanti klise. Mau jawab biar ena ena yang halal, nanti mesum.

Tergantung mau dilihat dari sisi mana? Agama, sosial? Obyektif, pribadi? Masa kini, masa kuno?

Kalau agama sudah jelas, bisa lah dipelajari di buku - buku tentang pernikahan.

Kalau menurut saya pribadi, menikah itu tujuannya selain memberikan rasa tenang (karena sudah diberi jalan untuk menuntaskan kebutuhan baik lahir maupun batin yang membuat gelisah semasa jofisa - jomblo fisabilillah), juga sebagai bahtera untuk menuju tujuan hidup (kalau sudah punya).

Kalau tujuan hidupnya tidak berlandaskan agama (Islam misalnya), itulah mengapa ada yang ngeyel menikah dengan non-muslim (yang seperti ini silahkan dicek bagaimana aturannya).

Kalau tujuanmu menikah agar dapat punya organisasi kecil yang mendukung kegiatan sosialmu, maka kamu tanpa sadar juga akan mencari pasangan yang suka kegiatan sosial atau minimal mendukung.

Di zaman dulu, menikah juga untuk merekatkan silaturahim dalam rangka perjuangan, seperti yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Di zaman kerajaan, pernikahan bertujuan untuk menghindari permusuhan dan merekatkan hubungan politik antar kedua negara, seperti yang sering dilakukan Majapahit dulu.

Yang jelas, menikah seharusnya memiliki tujuan lebih besar daripada menuntaskan kegalauan dan kegelisahan, atau karena cinta semata. Pernikahan itu kan ibadah, banyak kebaikan di dalamnya. Jadi sayang banget kalo cuma dipake buat ena ena sendiri, kudu dijadikan sarana untuk membagi kebaikan buat orang lain.

“Lapar” dikalangan kita sudah berubah fungsi jadi kode tersembunyi buat makan bareng.
Dan “lapar” adalah suatu hal biasa yang kita semua tahu solusinya apa, yaitu makan.

“Lapar” kita tidak lebih dari karena bingung mau makan apa. Terlalu sibuk, lupa makan, kemudian lapar. Mau makan keluar, tapi hujan. Mau makan, tapi jauh.

Hujan bisa diterjang, jarak bisa ditempuh.

Tapi kalau “lapar” karena memang tidak ada yang bisa dijadikan sumber makanan seperti di Somalia bagaimana?

Somalia jaraknya jauh sekali dari tempatku menulis ini, atau tempatmu membaca ini.
Kita semua tahu bagaimana rasanya lapar, tapi tidak semua dari kita paham bagaimana rasanya kelaparan.

Kenapa tiba-tiba Somalia?
Karena “lapar"nya mereka sudah mencekam, tak sedikit yang meninggal karena kelaparan.
Kekeringan dan sulit air bersih melanda sebagai cobaan.
Para Ibu mendekap anaknya, berharap cukup dengan pelukan. Anak-anak menangis bukan karena berebut mainan, tapi karena kelaparan.

Dan kita?

Masih menyisakan makanan dengan alasan “sudah terlalu kenyang”

Miris ketika Indonesia merupakan salah satu negara yang suka buang-buang makanan, terhitung dari jumlah makanan yang tersisa kemudian terbuang, sementara di bagian lain Bumi ini kelaparan, mengharapkan untuk makan, pun tak berharap sampai kenyang.

Semoga tidak ada obrolan di kepala kalian tentang buat apa memikirkan Somalia sedangkan di beberapa daerah di Indonesia juga merasakan hal yang sama. Semoga tidak ada pikiran acuh tak acuh tentang jauhnya Somalia sedangkan yang dekat saja mengalami hal yang sama.
Ini bukan tentang disini atau disana, ini tentang diri kita sendiri.

Bukankah Rasulullah saw bilang bahwa Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan?

Rezeki bukan hanya dicari, tapi juga dibagi. Kalau bisa, bantu. Atau setidaknya, habiskan makanan yang ada di piringmu.

-Hana kepada Hana.

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Membawa Perdamaian

Di acara Islamic Development Bank di Jeddah kemarin, saya ketemu dengan banyak teman-teman dari berbagai negara.

Mulai dari Mesir, Turki, Inggris, Amerika, Jepang, India, Arab Saudi, Palestina, Suriname, Nigeria, hingga negara kecil di pasifik seperti Guam.

Dan setiap saya kenalan dan menyebut Indonesia, hampir semuanya mengenal negara kita.

Yang paling standar, kalo mereka pernah ke Indonesia atau punya teman di sini, mereka akan bilang,

“Apa kabar?”

Dan kemudian beragam pujian tentang negara kita.

“Ah Indonesia, beautiful country!”

“Jannah! Paradise of the world”

“Friendly people, I miss Indonesia!”

Tak ketinggalan, beragam kekaguman mereka tentang Indonesia sebagai salah satu negara dengan muslim terbanyak di dunia.

Mereka mengagumi ekonomi kita yang bertumbuh pesat. Perkembangan negara kita di hampir semua industri. Dan pengakuan mereka tentang Indonesia sebagai salah satu kekuatan baru ekonomi Asia, bahkan dunia.

Tapi yang lebih banyak lagi, adalah rasa iri dan kekaguman mereka tentang Islam di Indonesia.

“Saya kagum sekali, Indonesia adalah negara dengan penduduk yang sangat banyak, tapi negaranya sangat damai. Tidak ada konflik, tidak ada perang”
Saya tersenyum.

“You know what, Iqbal? Saya iri sekali, di Indonesia punya banyak agama selain Islam. Tapi kalian bisa hidup berdampingan, saling menjaga satu sama lain. That’s beautiful, I hope that happen in my country too”

Hati saya mengembang. 

“Saya pernah bikin studi tentang negara-negara Islam di dunia. Salah satu kesimpulan saya, Indonesia adalah salah satu pilar terpenting Islam di dunia”, kata seorang teman dari Arab Saudi. “Kalau Indonesia damai, maka negara lain akan mencontoh Islam yang sebenarnya”

Saya tersenyum bangga.

Lalu beberapa detik kemudian, saya malu sendiri. Saya teringat beragam konflik yang belakangan membuat kita terpecah belah.

Berbeda pandangan, lalu saling berteriak, saling menuduh, bahkan saling membenci satu sama lain.

Dan terus berlanjut, entah hingga kapan. Rasanya kita jadi mudah sekali disulut, semua perbedaan jadi alasan permusuhan.

Padahal saya percaya, Islam di Indonesia yang sesungguhnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh teman-teman kita di luar sana.

Saya tidak menutup mata bahwa ada sebagian orang Islam yang tidak menjalankan Islam sebagaimana mestinya, lalu melakukan tindakan-tindakan yang membuat orang membenci kita.

Tapi itu bukan Islam yang sesungguhnya.

Islam yang sesungguhnya adalah agama yang damai.

Yang salamnya adalah doa kebaikan untuk orang lain.

Yang hari rayanya membawa berkah untuk semua.

Yang muamalahnya selalu berbagi dan mengasihi.

Ketika membayangkan Islam yang rahmatan lil alamin seperti ini, saya bergetar sendiri.

Ramadhan sudah datang.

Ayolah kita hentikan semua kebencian.

Perbanyak kebaikan.

Dan tunjukkan Islam yang sebenarnya:

Bagian besar dari keragaman Indonesia yang membawa perdamaian.

¿Y si miraras a tu alrededor sin juzgar?
¿Y si te pararas a pensar que lo que para ti es un muro infranqueable para otro puede ser la mayor de las oportunidades?
¿Y si te negaras a decir que no cuando quieres decir sí?
¿No crees que todo sería más sencillo?
Wajah Sendu Ksatria Arab

Beberapa hari lalu, beberapa negara Arab memutuskan untuk memboikot Qatar dan mengucilkannya dari segala lini. Pesawat-pesawatnya dilarang terbang di atas wilayah mereka, channel Aljazeera diputus salurannya secara tiba-tiba. Warga Qatar pun diberi waktu berbelas hari untuk pulang ke negerinya, yang tak ada jaminan untuk bisa datang lagi ke negeri tetangga.

Semua itu hanya karena Qatar membela apa yang semestinya dibela. Menolak apa yang seharusnya ditolak. Membantu siapa yang seharusnya dibantu dan memusuhi siapa yang layak dimusuhi sebab keonarannya. Karena ketegasan itu, dia dikucilkan.

Dan selanjutnya saya mengenang Mesir, tanah air kedua yang telah melukis hidup kami. Selalu disayangkan perannya di era ini tidaklah semegah perannya di masa lalu. Kelaliman terlanjur merajalela dan rakyat sendiri dikebiri kebebasannya. Tentara-tantara congkak disebar dengan senapan laras panjang menggenapi pemandangan jalan. Dan untuk Qatar, tentu Mesir mengambil momentumnya; keras memboikotnya.

11 hari di Indonesia juga, kami memberi informasi pada teman-teman di sini tentang Palestina. Mau tidak mau akhirnya, kami ungkapkan apa yang terjadi pada dunia Arab dan betapa harapan Palestina kini terpikul di pundak Turki, Indonesia dan Malaysia saja. Mesir menenggelamkan terowongan penyalur makanan ke Gaza dengan air laut mediterania, pelit juga membuka gerbang Rafah yang merupakan satu-satunya gerbang darat antara Gaza dan dunia luar.

Pada para ksatria Arab, kami ingin bertanya; jikalau memang dulu engkau sekalian telah berjasa, apakah ada akhir dari sebuah pengorbanan? Jika memang dulu kalian adalah pejuang, apakah sebuah kebaikan memiliki akhir?

Dalam kesenduan wajahmu, kami di timur jauh menantang zaman, memanjangkan nafas memikul tanggungjawabmu. Jika memang kau di garda depan berpaling, maka kami di baris belakang akan mengambil peran.

@edgarhamas

Yang Sedikit

1. Orang alim (pintar) itu banyak, tapi yang mengamalkan ilmunya, itu yang sedikit. Dan yang lebih sedikit lagi adalah orang yang ikhlas.
2. Orang yang pandai berbicara itu banyak, tapi yang jujur dalam bercakap itu sedikit.
3. Orang yang mencintai itu banyak, tapi yang benar-benar tulus dalam mencintai itu sedikit.
4. Orang yang elok fisik itu banyak, tapi yang elok batin itu teramat sedikit.
5. Banyak sekali orang yang sungguh-sungguh mengobati penyakit badan, tapi sangat sedikit yang serius mengobati penyakit hati.
6. Di negeri ini, orang super kaya itu banyak, tapi yang dermawan itu sedikit.
7. Banyak sekali orang yang tersenyum ketika dipuji, tapi sedikit sekali orang yang tetap tersenyum tulus ketika dicaci.
8. Banyak orang yang ingin selalu dimengerti, tapi sedikit sekali orang yang mau belajar mengerti orang lain.
9. Orang yang badannya kuat dan kekar itu banyak, tapi sedikit sekali yang kuat hati dan kesabarannya.
10. Banyak orang yang kuat sekali ibadahnya, tapi teramat sedikit yang khusyuk di dalamnya.
11. Di negara kita ini, tiap tahunnya banyak sekali orang yang pergi menunaikan ibadah haji, tapi sedikit sekali orang yang makbul (diterima) dalam hajinya.
12. Yang memiliki pangkat dan kekuasaan itu banyak, tapi yang rendah hati itu sedikit.
13. Orang yang miskin itu banyak tak terbilang, tapi yang tetap sabar dan bersyukur itu sedikit.
14. Banyak sekali orang yang melaksanakan shalat, tapi sedikit sekali yang istiqomah (konsisten) berjamaah.
15. Orang cerdas di Indonesia ini banyak sekali, tapi yang bijak itu teramat sedikit.
16. Orang tua yang rajin ibadah itu banyak dan sudah seharusnya, tetapi alangkah sedikitnya anak muda yang giat beribadah.
17. Banyak sekali orang yang sanggup membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan serupa, tapi sedikit sekali orang yang mampu berbuat baik kepada orang yang membenci dan memusuhinya.
18. Kalau orang yang sudah tua mampu menorehkan sejarah, ini umum dan banyak terjadi, tetapi jika anak muda yang sanggup menorehkannya, ini baru luar biasa dan sedikit.
19. Orang yang bertobat itu terlampau banyak, tapi yang benar-benar bertobat (taubatan nasuha) itu sedikit dan jarang.
20. Orang yang mampu melaksanakan berbagai amalan-amalan shaleh itu banyak, tapi yang mampu menahan diri dari segala macam kemaksiatan itu yang sedikit.
21. Orang yang kaya raya dan gemar bersedekah itu banyak, orang yang tidak kaya namun senang berbagi itu yang sedikit.
22. Orang yang mengajarkan orang lain dengan perkataan dan nasehat itu banyak, tapi orang hang mengajarkan dengan contoh dan keteladanan jtu teramat sedikit dan sulit dijumpai.
23. Banyak sekali orang yang mempunyai angan-angan dan impian besar, tapi sedikit sekali orang yang mau mewujudkannya dengan tindakan.

—  Jadilah orang yang ‘sedikit’ tapi bermakna. Bukan menjadi manusia pada kebanyakan. Lawanlah arus dalam hal berlomba-lomba dalam kebaikan.

anonymous asked:

Assalamualaikum mbak apik :") Selamat hari rayaaa, semoga segalanya semakin membaik :')) mbak saya mau tanya, bagaimana bentuk pemantasan diri yang dapat dilakukn siswi SMA? :') Bentuk pemantasan yang juga dapat menjadi benteng untuk dirinya dari ujian perasaan sebelum waktunya? Makasiii mbak,

Wa'alaikumussalam. Aamin Ya Raaabbb. Semoga kita semakin takwa ya!

Saya juga pernah diuji dengan hal yang sama sewaktu SMA. Dan saya rasa hampir semua juga diuji dengan suka-sukaan jaman SMA, serempak, kaya try out nasional wkwk. Karena pas SMA itu masa puber-pubernya, masa lucu-lucunya. Aha, malah curhat XD

Karena saya sudah melewati masa itu, ada sedikit curhatan serta tips dan tricks supaya kamu melewati ujian dengan nilai yang lebih baik daripada saya :“”“)

Jadi pada jaman dahulu kala….
saya punya banyak sticky notes di kamar saya. Buat pengingat. Saya tulis begini, salah satunya, besar-besar:

"Boleh pacaran/berdua-duaan asal Allah nggak lihat. Nggak malu kamu sama Allah?”

haha, alhamdulillah saya belum pernah mojok dan menempuh cara untuk mencapai relationship goals ala anak SMA jaman sekarang, semoga kamu juga. Jadi kalau mau aneh-aneh saya inget lagi sticky notes saya tadi. Biarinlah cupu nggak punya pacar. Buktikan kekerenanmu dengan prestasi dan karya yang lain, okeee? Termasuk prestasi menjaga hati yang akan kamu petik hasilnya nanti, beeeertahun tahun kemudian.

Kalau keluarga kamu support dan nggak setuju pacaran-pacaran, malah lebih baik lagi dan harus banyak bersyukur. Alhamdulillah ayah saya selalu berpesan sama saya; “kalau kamu ketahuan pacaran, ayah nikahkan hari itu juga! Tapi sebelumnya, ayah kerek dulu di tiang bendera!”. Galak kan ayah saya? Memang.

Saran saya nih…

1. Buatlah komitmen yang kamu sepakati sendiri, jadikan prinsip, pegang erat-erat meski balon hijau meletus. Kalau perlu umumkan, biar ada yang mengingatkan.

2. Cari dan ciptakan lingkungan pertemanan yang kondusif. Kalau temen-temen kamu banyak yang nggak lolos ujian perasaan, berguru sama yang strong. Cukup dengerin curhatan mereka aja, jangan ikut-ikutan. Percayalah, drama SMA itu kebanyakan nggak berakhir di pelaminan. Drama di SMA sebagian besar terlihat manis sebabnya negara api belum menyerang. Banyak mudharatnya, jadi jangan berlarut. kalau sudah terlanjur, langsung balik arah dan lakukan poin ketiga.

3. Karena suka sama seseorang menghasilkan energi yang besar, alihkan energi itu ke hal-hal yang bermanfaat: pengembangan diri, ikut ekskul, banyak baca buku, banyak baca-baca tulisan motivasi dari orang yang berprinsip serupa, berkarya, belajar yang rajin meski banyak remidi wkwkwk, dan masih banyak aktivitas seru yang lain ketimbang kita suka-sukaan. Jangan biarkan kita nggak punya kesibukan positif. Jangan yaaaa, nanti disibukkan sama yang nggak baik soalnya. Kata guru agama saya dulu, kalau lagi suka sama orang tulis aja. Jangan dilampiaskan ke perbuatan. Saya ikutinlah saran beliau, ternyata…menulis adalah bentuk healing.

4. Unfollow akun-akun yang jadi kompor. Ndak baik nak. wkwkwk. Baik yang berkiblat ke relationship goalsnya geng awkarin atau seleb-seleb yang aku nggak tau siapa aja namanya karena nggak punya TV #curhatlagi maupun akun-akun yang mengatasnamakan akun dakwah tapi ya gitu deh, jadi kompor. Melenakan, mengekspose enak-enaknya doang nikah (utamanya muda). Untung jaman saya nggak ada tuh instagram, ada ding cuma nggak hits, lebih hits nonton pertandingan futsal antarangkatan atau jadi anak OSIS/MPK haha. Follow akun-akun yang punya positive vibes aja yaaa.

5. Dekatkan diri sama Allah. Perbanyak amalan sunnah. Doain aja kalau suka sama seseorang, doain yang baik-baik untuk dia. Jangan buru-buru berdoa supaya dijodohkan yaaaa :“) Karena perjalanan masih panjang. Yang utama, berdoa dan mintalah sama Allah supaya dibantu menguatkan hati.

Sebaik-baiknya upaya memantaskan diri, adalah upaya memantaskan diri untuk Allah. Bukan untuk makhluk. Niatkan menjadi perempuan sholehah karena mencari ridha Allah, bukan untuk mendapatkan laki-laki sholeh.

Ingat pesan tante-tante ini ya. Meski banyak curhatnya, tante doakan kamu bisa lolos ujian perasaan.