negarae

Islam itu timbul di Mekah. Susahnya Nabi Muhammad SAW membawa Islam kepada kita dan kita sambut Islam itu di negara ini.

Tetapi, hari ini Islam itu berpecah. Banyak pihak mencipta Islam baru. Mereka membawa nama Islam atas perjuangan mereka.

Ketahuilah, dari 73 puak yang berpecah itu. Hanya satu jalan yang betul iaitu perjuangan Islam yang menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah itu sebagai pegangan.

Dear, dik Tikcil

Anggap saja aku ini adalah kekasih yang pernah kau peluk tanpa ragu. Namum entah mengapa engkau tiba-tiba saja menghindar, padahal negara Api belum ada rencana menyerang.

Ah, pada intinya, ijinkan aku untuk #ngedatepuisi sama dik Tikcil di #februarimerona. Dan jika berkenan, aku harap kamu mau membaca larik-larik kalimat yang sebenarnya untuk “Kamu” yang kurindukan.


Aku Terjatuh

Ada yang terjatuh, serupa hujan rindu. ia mengalir pada anak-anak ingatan yang mulai gersang, tak lagi menjelma airmata sebab mengering bersama musim yang digugurkan:
serupa itulah aku mencintaimu yang garing.

Dik, Februari kembali merona namun ia masih menyisakan perit gigil yang menjerit. Seperti hangat yang terabaikan, atau justru seperti aku yang diam-diam kaudiamkan.

Barangkali, kita tak pernah dengan sengaja menabur benih-benih rindu, menyemainya dalam pot-pot cemburu, yang kelak tumbuh mekar mewangi sekalipun berduri, atau kita tak lebih dari mimpi-mimpi yang sebenarnya kerap menanggung gelisahnya sendiri. Meski imajiku mulai merayu–mengajakmu bercengkrama di antara rerimbun bait-bait paling sunyi.

Kadangkala, aku ingin berlari mencarimu, kemudian menghadiahi ciuman pada leher-leher resahmu, menyeduh kecupan di rebah dadamu yang patah, atau meniduri apa-apa yang tak semestinya kita sebut saling menyakiti.

Sementara, reput-reput ini kembali membeli retak: serupa musim-musim gelisah, beberapa sisa resah yang menggigilkan, atau justru rasa yang tak lagi kauhiraukan.

Dik, jika kelak kau kembali setuju, jalan pulang begitu mudahnya kautemukan, atau jika aku harus menjemputmu kembali berikanlah beberap kedip di salah satu kelopak matamu. Agar aku pun tak memberi ragu pada langkahku untuk memelukmu.


Bekasi, 2016

dik Tikcil, dengan tidak mengurangi rasa rinduku hormatku, aku ucapkan terima kasih.

cc: @kelaspuisi, dan adinda @rintikkecil

ask-c-i-e-l:

The young aristocrat visibly bristled when he heard the blond’s voice coming from behind him. Trying his utmost to maintain a serene expression, he slowly turned.

“Good afternoon.” Ciel greeted coldly, smoothing the front of his blazer.

“…Let me guess why you are here. You have found yourself to be inexplicably bored and decided that socializing with me would be the smartest, least risky remedy to that. I am so lucky, then. Give me one good reason as to why I should let you even so much as stand there.” 

“Afternoon~” Alois giggled, happy to be annoying the younger earl. “Wow, Ciel. You do indeed know me so well. I’m flattered." A bloody thanks to you, damn brat. "Because if you don’t, then I will kill you. Either that, or take advantage of you. Just like what happened to you on ‘That Day’, correct?” He chuckled darkly, wanting to break that firm wall around his heart. To see the Earl Phantomhive cry. Oh, how so wonderful that would be. 

Untuk yang sudah Menyempurnakan Agamanya.

Mari sama-sama belajar menjadi yang terbaik bagi pasangan kita yang bukan hanya saling mencintai. Tapi juga saling menuntun menuju Redha Illahi Rabbi.

Jadilahlah teman hidup yang bukan hanya menggembirakan tapi juga menenangkan. Bukan hanya sekadar menegur kesilapan tapi juga menunjukkan jalan.

Bukan sekadar mencintai tetapi juga menghormati, bukan sekadar mengimpikan syurga tetapi juga Sama-sama berusaha menggapai Redha Allah s.w.t

Jadilah seseorang yang jika menegur tidak sampai menghina. Jika mendidik tidak sampai memaki. Jika meminta tidak sampai memaksa. Dan jika memberi tidak pernah mengungkit

Semoga dengan cinta pada Isteri/Suami dapat mendekatkan kita pada Syurga Illahi. Wallahhu Ta'ala A'lam.

#thedaiegraphy #abuhanifah #dakwahituseni #harinidahingatmati #muhasabah #muhasabahdiri #my_genggua #ikutcarakita #igersmalaysia #tribulasi365hari (at Taman Bunga Negara Seksyen 27 Shah Alam)

Sesama Jenis

Per 1 Januari 2015, tercatat ada 18 negara yang undang-undangnya telah melegalkan perkawinan sesama jenis. Dan akan menyusul belasan negara lain. Trend dukungan atas perkawinan sesama jenis terus bertambah.

Silahkan tanya ke politisi negeri ini, apakah mereka akan melegalkan perkawinan sesama jenis di Indonesia? Sekarang sih saya yakin jawabannya: TIDAK. Tapi 20-30 tahun lagi, tergantung situasinya. Jika itu membuat mereka terpilih, akan banyak politisi yang bersedia menyetujuinya. Saya tidak berlebihan. Itu rasional sekali. Silahkan cek di negara2 lain. Tahun 1950, tidak ada satupun negara yang melegalkan perkawinan ini, tapi dunia berubah sangat cepat, kelompok pendukung kebebasan semakin besar, kelompok yang tidak peduli, i dont care semakin banyak, sistem demokrasi mempercepat legalisasi perkawinan sesama jenis. Sah. Atas nama kebebasan.

Semua agama melarang perkawinan sesama jenis. Tapi demokrasi tidak mengenal kitab suci. Kalian tahu, bahkan homo kelas berat, masih santai pergi ke gereja, ke tempat2 ibadah. Mereka hanya mengenal suara terbanyak. Saya kasih contoh, Brazil, Mei 2011 mereka melegalkan perkawinan sesama jenis. Apakah orang Brazil tidak beragama? 90% penduduk mereka beragama, lantas apakah tidak ada di sana yang keberatan dengan legalisasi ini? Jawabannya sederhana: mayoritas tutup mata. I dont care. Urus saja masing2. Saya tidak mau recok. kamu jangan rese. Yang sesama cowok mau ciuman di tempat umum pun, bodo amat. Toh, mereka tidak mengganggu saya.

Dulu, Brazil itu sangat religius. Lantas kenapa sekarang jadi berubah sekali? Bagaimana mungkin politisi mereka meloloskan UU itu? Apakah rakyatnya tidak keberatan. Itulah kemenangan besar paham kebebasan. Mereka masuk lewat tontonan, bacaan, menumpang lewat kehidupan glamor para pesohor. Masyarakat dibiasakan melihat sesuatu yang sebenarnya mengikis kehadiran agama. Awalnya jengah, lama-lama terbiasa, untuk kemudian apa salahnya? Di sisi lain, eksistensi agama dipertanyakan. Tuh lihat, toh yang beragama juga bejat, tuh lihat, mereka juga menjijikkan. Fobia agama dibentuk secara sistematis, dimulai dari pemeluknya sendiri, untuk kemudian, orang2 dalam posisi gamang, mulai mengangguk, benar juga. Orang2 jadi malas mendengarkan nasehat agama, buat apa? Urus sajalah urusan masing2.

Rumus ini berlaku sama di seluruh dunia. Apapun agamanya. Bahkan termasuk dalam kasus, tidak ada agama di suatu tempat, hanya ada nilai-nilai luhur–yang pasti juga akan melarang pernikahan sesama jenis. Fasenya sama persis. Strateginya juga sama. Dekatkan mereka dengan materialisme dunia, jauhkan mereka dari nilai-nilai luhur. Gunakan teknologi untuk mempercepat prosesnya. Internet misalnya, itu efektif sekali menyebarkan berita, propaganda, dsbgnya.

Apakah Indonesia juga akan begitu?

Silahkan tunggu 20-30 tahun lagi. Jika tidak ada yang membangun benteng2 pemahaman bagi generasi berikutnya, tidak ada yang membangun pertahanan tangguh, malah sibuk saling sikut berkuasa, sibuk berebut urusan dunia, sibuk dengan urusan duniawinya, 20-30 tahun lagi, kita akan menyaksikan pasangan cowok bermesraan di tempat2 umum. Tetangga sebelah rumah kita adalah pasangan sesama jenis, dan mereka dilindungi oleh UU, karena sudah dilegalkan. Ketika masa itu tiba, kalian bisa kembali mengeduk catatan ini.

Pedulilah, hidup ini bukan cuma urusan pribadi masing-masing. Hidup ini tentang saling menjaga, saling menasehati, saling meluruskan. Pedulilah, Kawan, ikut menyebarkan pemahaman baik, lindungi keluarga, teman, remaja, dan semua orang yang bisa kita beritahu agar menjauhi prilaku melanggar aturan agama, nilai2 kesusilaan.

oleh Darwis Tere Liye

diteruskan oleh:
1. @rifkihidayat

Cc @asaindonesia
J14 à 16 - KL puis Taman Negara

Lundi, un aurevoir de plus et pour moi c’est journée visite du reste de KL. Un énième temple chinois, les tours Petronas vues de près, ça c’est fait, le parc derrière qui ressemble à un mini central parc ou je m’autorise un petit roupillon, les malls environnants parce que Kuala est une ville pour faire du shopping (même si je n’en ferai pas), le Merdeka Square qui effectivement est bien joli, la pluie une fois de plus, un petit resto par-ci, un petit resto par-là et ma dernière journée à Kuala Lumpur passe très vite. 

—————————————————————————————————-

Mardi, départ pour le plus vieux parc naturel de Malaisie, Taman Negara. Au premier stop à Jerantut, un jeune homme prénommé Andrew saute sur les quelques touristes que nous sommes et nous propose un bus pour Kuala Tahan la ville principale du parc pour 5 ringgits ce qui reviendrait moins cher que le bus public (7), on accepte donc et on part avec lui jusqu’à son agence… Là un autre prend le relais et propose tout un tas d’activités et le transport donc sauf qu’il me dit c’est 5 ringgits plus 35 pour le bateau… Ah oui mais non, le bateau c’est 3h, le bus c’est 1h30 et peu cher, pour moi y’a pas de bateau désolé. Je rattrape donc le petit Andrew qui me ramène bien gentiment à la station de bus. Son job est de d’attendre les bus avec les touristes et de faire la navette donc il se fait plutôt chier. Il est très cool et me choppe le billet pour le bus public, me conseille un restaurant qui s’avérera très bon, me dit d’aller faire mes courses chez un grossiste où les prix sont deux fois moins chers que dans le commerce (je remplis mon sac à craquer de merdes à manger) et m’explique comment ça marche au parc. Il me partage sa connexion wifi, je lui file des euros parce qu’il fait la collection de monnaies étrangères puis arrive un autre jeune homme qui s’avère être magicien, jusqu’à l’arrivée du bus, il nous fera des petits tours de passe passe, bien sympa également. Du coup de belles rencontres pour commencer la journée.

Arrivé à Kuala Tahan, je me dégote une guesthouse pas trop mal sur le papier dans un dortoir avec une allemande et une espagnole, ça me rappelle les Cameron Higlands, c’était la même, on change pas une équipe qui gagne. Sous un lit, une chatte avec ses petits chatons, trop mignons mais ça pue la pisse ! Et sur les murs et un peu de partout dans la chambre, des fourmis, des fourmis et des fourmis.

Le soir, je pars me faire une nocturne dans la jungle. Que dire, on commence par aller voir un Tapir apprivoisé qui appartient à un hôtel grand luxe, les gens prennent photos sur photos avec le flash + des selfies pour certains, comme d’hab je suis ravi ! On continue donc cette pseudo ballade dans la jungle, on voit des insectes, un scorpion (le truc le + cool), des pitits serpents et c’est à peu près tout. Le guide par contre était bien compétant et avait vraiment le don pour nous trouver les petites bêtes dans le noir le plus complet. Plutôt déçu de cette nocturne mais c’est pas bien grave, au moins je sais à quoi m’attendre dans le parc si je suis les parcours à touristes.

—————————————————————————————————-

Le lendemain, mes compères changent de guesthouse et je m’en vais donc me faire un petit trek à la solo dans cette énorme jungle parce que c’est quand même bien grand, il faut le dire. J’avais voulu de base faire un trek de 7j/6nuits dans le parc, seul trek qui à mon avis valait vraiment le coup; Le hic, c’est que personne, pas un seul autre touriste n’a envie de faire ce satané trek ! Forcément, les guides te vendent ça comme un truc archi difficile où 10 personnes sur 100 arrivent au bout, faut prendre toute la nourriture et la flotte avec soi d’un coup, dodo dehors, temps de merde, des rivières à traverser, 27 petits monts à gravir et à redescendre… … … Je trouvais ça chouette mais j’étais le seul et le pire c’est que j’ai croisé deux groupes revenant de ce trek qui n’avaient pas l’air costauds mais que des locaux, à croire qu’ils veulent pas que les occidentaux le fassent.

Sur cette petite plainte, je continue. Je vais donc me balader et choisis le trek le plus long à faire, 7h aller, 7h retour, je prends la route et tombe très vite sur un panneau disant qu’à partir de là, il vaut mieux prendre un guide… Bah oui, je vais faire demi-tour, retraverser la rivière et demander au gars de m’accompagner… Bougre d’imbécile ! Je continue et là plus de chemin notable, tu te démerdes et tu cherches les petits carrés jaunes, seule indication visible. Je tombe sur un village Orang Asli (normalement tu payes pour aller les voir), pas de quoi casser trois pattes à un canard, ils parlent anglais et sont habillés comme vous et moi (village traditionnel mon cul !) et peu de temps après, plus d’indication… Je cherche à gauche, à droite, tout droit, je ne trouve rien, je tente de traverser la rivière via une pente bien boueuse et glissante, là je m’accroche un bras à une branche avec des épines, le second, une jambe et je me boite lamentablement dans la boue en ayant bien mal faut l’avouer. Du coup je me dis, on va pas faire le con, demi-tour et on trouvera une autre route à explorer; Sauf que je retrouve pas mon chemin et je fais une espèce de boucle où je m’enfonce bien profond dans la jungle jusqu’à tomber sur un autre village (décidément je suis chanceux) où les gars m’indiquent bien gentiment  la route. J’arrive enfin à destination, le temps de papoter avec un anglais fan d’oiseaux et qui espère bien en voir quelques-uns (le parc est connu pour en abriter un sacré nombre d’espèces différentes), de faire la “Canopee Walk” (attrape-touriste) qui consiste à traverser 7 ponts suspendus à 10-15 mètres de haut et je tombe sur Katerine, l’allemande du dortoir. Elle me dit qu’Alva (l’espagnole) est rentrée parce qu’elle a une phobie des sangsues (ici y’en a plein mais plein) et on décide donc de continuer notre route ensemble. On ne sait pas trop où on va, on commence par un premier point, puis un second, on voit qu’on a encore le temps alors on continue puis vers 3h, on se dit, ok dans 15 minutes si on tombe pas sur le point “9“ on rentre. Sauf qu’on tombe pas sur celui-ci mais sur un panneau indiquant 2,5km point “12“, destination qu’on voulait atteindre au départ si on avait le temps. On se dépêche en espérant trouver un bateau à l’arrivée. On transpire comme des sales, on pue, on a plus d’eau et on se fait attaquer par les sangsues toutes les trente secondes, résultat on trouve ce fameux point “12“ où il n’y a absolument rien à voir, la cabane est détruite MAIS on trouve un bateau ! On est content, on a pas envie de se retaper 3h de route dans l’autre sens. Les gars dorment, font semblant de pas nous écouter, je jette des pierres (pas des cailloux, des pierres), Katerine siffle, crie à l’aide et au bout de quinze minutes, les gars bougent leurs culs et viennent vers nous. Sauf que ces guignols nous demandent 160 ringgits pour rentrer à Kuala, la bonne blague, on repart dépité, il est environ 4h, on a pas trop le temps de se lamenter, il fait vite nuit dans le coin. On prend nos deux paires de jambes et on file à vitesse grand V vers Kuala Tahan. Chapeau à la miss qui a bien suivi en tout cas :) Finalement on mettra deux heures et à l’arrivée on s’offrira une bonne (Heineken) bière bien méritée. On se rejoindra après la douche obligatoire avec Alva pour le repas qui fera un peu la discussion toute seule et heureusement qu’elle était là parce qu’on dormait sur place… Puis je filerai faire dodo avec les chats et les fourmis :)

Membebaskan Diri dari Jet Lag

Semoga langit memanglah sama dimana saja. Paling tidak sama dalam satu negara. Sehingga kau leluasa tamasya kemana kau suka, bersama siapa saja, asal ia tak merepotkanmu. Karena itu porsiku. 

Bagaimana udara di sana? Semoga segar dengan segala usaha pohon-pohonnya agar yang kau hirup adalah udara yang baik bagi tubuhmu. Apa cuaca Februari membuatmu berpikir ulang untuk mengatakan kota itu panas! Sbab aku selalu mengatakannya teduh. Kita selalu berdebat panjang dan diakhirnya tanda seru mengisi ruang kosong ditenggorokan. Kita marah satu sama lain. Saling hardik. Sesaat sayang hilang, seperti tak pernah berkenalan. Yang selalu kusesalkan ialah kau tak pernah bertanya alasan dibalik pendapatku. Tentang teduh di kota itu. Pun aku tak pernah berniat menjelaskan tanpa diminta.

Tapi di surat ini kukatakan alasannya:
Matamu ada di sana, tempat pulang paling menyenangkan. Tatapanmu serupa pelukan di malam gigil. Dan kita ada di sana, berdua. Bagiku tak ada alasan untuk berkomentar bahwa kota itu panas!


Sayangnya perasaanmu belum sampai kesana. Belum menikmati kedamaian atas suka cita kebersamaan yang bisa kita reguk setiap habis ashar. Kau tak pernah berpikir bahwa kehadiran seseorang di salah satu tempat bisa mengubah tempat itu jadi lebih baik bagi yang lain. Mungkin itu membuatmu yakin lalu mengambil langkah lain pada liburan kali ini. Kau tak pulang. Tak ada perjalanan. Tak ada pergantian foto tanda kau di bandara. Tak ada doa di sosial media yang berujar agar kau selamat.


Yah, tapi siapa yang bakal peduli pada aku yang sibuk menungguimu. Lalu masuklah Februari, aku menuliskan kekecewaanku. Mengapa kau lebih takut jet lag dibanding takut tak bertemu aku?

#MenteriAgraria dan #TataRuang (#ATR)/#Kepala #BadanPertanahanNasional, #FerryMursyidanBaldan menyerahkan #sertifikatrumah #korban #lumpur yang tinggal di #PerumKahuripan #NirwanaVillage (#KNV) #Sidoarjo. Pemberian tersebut diserahkan secara #simbolis kepada 10 #warga #korbanlumpur #Lapindo. “#Rumah adalah #surga. Apanya yang surga jika warga belum mendapatkan #sertifikattanah rumah. Maka dari itu #Negara #hadir dalam hal ini,” ungkap @Ferrymbaldan di #Perum KNV Sidoarjo. Rabu, (20/01/2016). Menurutnya, jika #seorang menahan sertifikat rumah itu #hukum nya #berdosa. Untuk itu BPN #berkomitmen memberikan #manfaattanah sebagai #ruanghidup. “Membiarkan tanah bertahun-tahun merupakan dosa bagi kami. Kalau sudah #dosa ngapain jadi BPN?,” tanya Ferry.

Dirinya berharap semoga sertifikat yang diberikan BPN kepada warga korban lumpur Lapindo itu tersebut bisa bermanfaat. Sehingga warga korban lumpur Lapindo yang tinggal di Perum KNV Sidoarjo bisa merasa nyaman

http://www.kabarpas.com/menteri-agraria-serahkan-sertifikat-rumah-untuk-korban-lumpur-lapindo/ (di Lumpur Lapindo-porong Sidoarjo)

Buku fisik pertama yang dibeli dari Amazon, Quran Made Easy. Jadi ceritanya bunda @scientiafifah ingin mengajarkan baca Quran secara rutin ke putri Ibu Kontrakan kami. Setelah cari-cari informasi, metode dan referensi yang paling cocok untuk anak-anak di negara barat adalah buku ini. Semoga dimudahkan dan diberkahi niat dan usaha kebaikannya, mohon doa juga semoga hingga waktu kami menetap berakhir, putri Ibu kontrakan sudah bisa baca Quran :) (at Alameda Beach, California)

A Date
  • A:Kenapa lo dari tadi mukanya asem banget kaya jeruk purut.
  • B:Bete gue, seharian ini gue belum dihubungin sama doi. Udah sore nih.
  • A:Elah, lo sebegitunya sih. Mana tau dia lagi sibuk, lagi ada perlu, ada tugas negara, boker, atau apalah. Hidup diakan bukan cuma seputar lo juga keleus.
  • B:alah. Kalo buat nonton naruto ada waktu. Buat nanyain gue kabarnya gimana di sini aja boro-boro inget dia. Tai.
  • A:Hahahaa, hellow. Kenapa lo bisa sebegini heboh sik? Kenapa lo nuntut dia untuk ngehubungin lo setiap hari? Sedangkan-gue yakin-hari ini lo belum ngontak bonyok lo. Lo ga marah tuh ketika emak lo ga nelpon seminggu, bahkan lo ga ambil pusing buat sms sekedar nanyain,'mak, kabarnya gimana mak?', pernah engga? Lah ini, anak bujang orang yang belum jelas lo akan hidup sama dia lo begituin. Heran ya. Posesif psycho tau ga sik. Dan lagian kenapa ga lo duluan yang nge line? Tanya dia lagi ngapain sampe lupa belum berinteraksi sama lo hari ini. Bukan bikin rusuh depan gue.
  • B:ogah gue nge line duluan.
  • A:anjir, tai. Ga paham lagi gue.
  • B:gue mau putus aja deh. Mau nyari alasan yang tepat dulu.
  • A:set dah. Serah lu dah, serah.
  • Serius, ada banyak hal yang ga gue paham dari sebuah hubungan what we named by 'pacaran'. Kenapa lo musti nuntut anak orang sms lo tiap hari-paling engga sekali-buat sekedar ngasi kabar-kalo engga lo ngambek, ngancam putus. Kenapa lo bisa seposesif itu sama anak orang, sedang ke orang tua, lo masa bodo taikuda. Herannya lagi, lo bisa so(k) cool di depan doi, padahal di rumah aja lo masi dijitakin emak karena kolor bekas pake berserakan ampe kolong tempat tidur. Lo ga pernah ambil pusing tuh ketika ortu belum makan, pernah engga lo nanya ke bonyok,'mak, pak, udah makan belum? Mak, pak hari ini gue pulangnya sorean, ada kegiatan eksul di skolah', lo ga pernah ambil pusing kan? Bodo amat udah makan apa belum, bodo amat gue pulang telat atau cepet, hell yeah. sedang, lo ngelapor 24/7 ke anak orang. psycho si kalo gue sebut mah.
  • Bukan berarti gue soksok an suci atau apalah itu, but seriously, gue udah gemes banget ngeliat yang kaya gini. Yang pas ultah doi matimatian buat beli kado, sedangkan ultah bonyok aja boroboro kasi hadiah, inget aja kaga. dan anehnya, itu hadiah lo beli pakek keringet ortu, kulit badak apa ya? Yang ditolongin doi bawa tas berat lo makasi dengan merdunya, yang dibawain akua gelas abis basketan terima kasinya sampe kemanamana, pernah ga lo bilang makasi ke bonyok untuk hal sepele kaya gitu?
  • Yakin lo bakalan selamalamanya sama doi? Yakin lo endingnya bakalan sama dia? Helloow, yang nikah aja-udah sah di mata agama dan negara-bisa cerai, pisah. Nah ini, yang ngiket apa toh? Ntar kalo putus gimana coba? Ga cape tuh ngedelete foto di instagram bareng doi? Ga cape tuh jari ngapusin semua tweet, mentionan, path, status yang berbau sama doi? Putus, terus nangis nyampe bermalam-malam, merasa disakiti, dikhianati. Ya elo nya juga berani kan maen api. Lo udah tau jatoh itu sakit, lah kenapa masi jatoh dengan begonya? Terus nanti pas sholat lo bawa-bawa perkara ini di hadapan Tuhan, said like,'ya Allah, kenapa aku terus disakiti? Aku cape ya Allah.', kayanya lo musti kumuran dulu pake kuah tumis semalem biar sadar.
  • Jadi yang gagal paham itu siapa? Gue?
  • Jadi yang bego siapa? Gue?
  • Tauk ah. Selamat minggu aja. Kalo ada yang kesinggung, ya mau gimana lagi. But first, let's be smart gaes -______-
  • Salam.