nanti dulu

Kalau lagi capek, jangan sok dikuat-kuatin. Jujur aja sama Allah, minta tolong, sebelumnya minta maaf dulu, nanti Allah puk puk pas sujud. Allah selalu ada, kitanya yang sibuk kemana-mana. Ya kan ? Masuk aja udaaaah, di luar dingin, malang lagi sendu, di dalem pas duduk nanti dipeluk sama Allah :’)

Istighfar yang banyak, syukurnya juga, Allahu Akbar. Apa yang Allah gabisa ? Ga ada.

InsyaAllah semuanya baik baik aja. Ada Allah.

Tiba-tiba.

Semoga kali ini, kedatanganmu yang tiba-tiba, tidak berakhir dengan perpisahan yang tiba-tiba pula.

Cukup dengan semua ke-tiba-tiba-an yang ada di hidupku.

Tolong beri aba-aba ya. Aba-aba yang jelas. Jangan sekedar kode yang bahkan aku gak bisa ngerti kata “dia” itu ditujukan untuk siapa.

Setelah ini mungkin ada tulisan-tulisan baru tentangmu, tapi nanti ya. Aku pikirkan dulu nama samarannya.

Hana kepada penggemar barunya.

AHAHAHAHA

Serius Butuh Liburan?

Hallo, teman-teman! Selamat liburan bagi yang merayakannya, ya! Bagi yang merayakannya? Iya, soalnya ternyata banyak juga diantara teman-teman saya yang belum bisa liburan panjang karena masih mengurusi beberapa pekerjaan dan deadline, termasuk saya. Tidak masalah, sekarang berjuang dulu, liburan nanti juga ada waktunya. Ya kan?

Soal liburan, beberapa kali saya pernah merasa liburan saya gagal total karena kelegaan dan kebahagiaan pasca liburan ternyata tidak bisa saya rasakan. Lho, mengapa bisa begitu? Sebab, 

ternyata apa yang saya butuhkan bukan liburan, tapi menyelesaikan kewajiban.

Waktu tingkat akhir dulu, saya pernah merasa stress dan pusing mengurusi skripsi. Lalu, dengan impulsifnya saya memesan tiket untuk pergi ke rumah saudara saya di Tasikmalaya. Sejak masih di rumah, saya sudah terbayang-bayang seperti apa suasana nanti disana: memancing ikan, pergi ke sawah dan mendapatkan best view desa hanya dengan berjalan ke belakang rumah. Pasti segar dan mencerahkan! Iya, saya mendapatkan itu semua ketika disana. Tapi, saya menangis di perjalanan pulang karena teringat skripsi dan bimbingan yang mau tidak mau tetap harus saya kerjakan.

Saat sudah bekerja, suatu hari saya merasa benar-benar penat karena pekerjaan dan situasi kantor. Setiap kali sedang berada di meja kerja, saya selalu membayangkan tidur siang di rumah, makan siang dengan masakan Ibu, baca buku sampai malam, atau bahkan tidur siang dengan membuka jendela-jendela kamar agar udara sejuk dari pepohonan di belakang rumah bisa masuk. Saya pun izin untuk tidak masuk kantor. Saya tinggalkan semua pekerjaan, termasuk mematikan ponsel seharian. Tapi ternyata, hati saya tetap tidak tenang karena saya mengambil shortcut untuk kebahagiaan sebelum saya benar-benar menyelesaikan kewajiban.

Hal serupa hampir terjadi kemarin saat saya dan teman-teman sedang berkutat dengan deadline di kantor. Sambil memandangi desain presentasi yang belum selesai, tiba-tiba saya berkata, “Temans, keluar dulu sebentar, yuk! Moana atau Bulan Terbelah kayaknya oke banget buat refreshing. Setelah nonton kita balik lagi ke kantor.” Semua teman-teman yang saat itu sama lelahnya langsung sumringah, seperti mendapat angin segar, “Ayoooo! 14.50 aja gimana? Ini mumpung Pasteur belum macet. Sekarang minimal desain kelar dulu deh.” Kami pun kembali bekerja. Tapi, sekitar jam 13.45 ternyata saya berubah pikiran, “Eh tapi, kalau kita nonton sekarang pasti gak enak, soalnya pasti gak tenang karena ini banyak banget yang belum selesai. Setelah finishing dan kirim aja gimana?” Ternyata semua teman sependapat, kami pun menunda pergi ke bioskop.

First thing first, yuk! Sebelum liburan, bertanyalah dulu pada hatimu, apakah kamu benar-benar sedang butuh liburan? Atau, apakah ternyata yang kamu butuhkan adalah menyelesaikan dulu kewajiban? 

Kelegaan tidak selalu muncul dari liburan, sebab kelegaan yang sebenarnya itu akan hadir saat kita sudah menyelesaikan apa-apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab kita.

Selamat menyelesaikan kewajiban. Selamat liburan dengan tenang bagi yang sudah menyelesaikannya! ;)

Kalau kangen saya bisa tahan sampai beberapa hari, beberapa bulan, sampai puluhan tahun. Pernah. Dan tabah. Tapi kalau cemburu,


… nanti dulu.

Biasanya saya lari dari orang itu. Gak sanggup. Butuh waktu dan tenaga szzzzuperrr untuk kembali terlibat dengannya. Kalau perasaan saya kuat, saya pertimbangkan untuk perjuangkan hubungan itu. Jika tidak, saya mundur.


Gak kuat.


Kalau suka sama saya, jangan bikin saya cemburu, ya, Mas. Kecuali kita udah kawin 17tahun. Dan saya udah melahirkan 3anak kita.

Ketika pulang dinas malam, ekspektasi selama perjalanan pulang adalah sampai rumah mandi lalu tidur (makan kapan-kapan). Tapi ketika sampai rumah dan duduk dulu sebentar, tesentuh hangatnya bantal dan guling, rencana berubah menjadi tidur aja dulu mandinya nanti (dan makannya tetap kapan-kapan kalo lapar banget aja) 😂😂😂
—  Elsa yang baru pulang dinas malam + lembur dari sore
Kalau Ujian Turun

Kita ini, diberi ujian kecil sedikit saja, langsung merasa menjadi orang paling susah di dunia ini, merasa paling menderita, merasa paling perlu diberi kemudahan.

Tidak ada manusia di dunia ini yang menginginkan musibah, pun Allah tidak ingin memberikan musibah secara cuma-cuma kepada umat-Nya yang sungguh Dia cinta.

Tidak pernah ada orang yang selalu tabah, selalu ada lemahnya. Saat itu juga, berserahlah sepenuhnya kepada Allah.

Apapun bentuk ujiannya, hadapi saja. Hadapi dengan cara-caramu. Meski harus berlari jungkir balik, meski harus berkali-kali menghapus air mata, meski harus berpeluh-peluh untuk bangkit kembali, lakukanlah hingga selesai. Hingga suatu saat nanti, akan teringat bahwa dulu sempat bersusah payah, dan kita akan mengingatnya dengan sedikit tertawa.

Hadapilah, Allah punya berbagai macam cara untuk membuatmu bahagia. Dan hadiah itu, tidak selamanya dibungkus dengan indah. Namun, mau dibungkus seperti apapun, hadiah akan tetap indah, bukan? Cukup ingat saja janji Allah.

Bukan Allah tidak tahu betapa remuknya hatimu. Bukan Allah tidak peduli dengan kesedihan dan kekecewaanmu. Tapi karena Allah tahu kamu mampu.

Tidak perlu berlebihan meminta perhatian kepada-Nya. Karena Dia selalu menyayangimu, akan selalu menyayangimu, lebih dari yang kamu inginkan.

Jogja, 22 Januari 2016 | Seto Wibowo

katamatahariku  asked:

Assalamu'alaikum kak tia, manurut kak tia kalau kita dekat sama lawan jenis dari 2th tapi tak kunjung diberi kepastian enaknya diapain kak? Sementara kita pernah menemaninya melewati masa-masa sulitnya. Dia pernah menyuruh untuk menunggunya hingga masa depannya terwujud. Jika kita memilih meninggalkan, apakah dia akan menyesali telah menyiakan keberadaan kita?

Waalaikumsalam, @katamatahariku
Lho, jadi kamu pergi hanya supaya dia menyesal? Memang penting membuatnya menyesal? Kupikir lebih penting menyelamatkan diri sendiri.

Restart dulu logikamu. Nanti kirim surat lagi kalau sudah bisa diajak mikir. 😊

Waktu
  • Setelah sekian lama ga berhasil nyambung buat komunikasi sama Mama, tadi pas maghrib ditelpon. Tapi pas banget azan maghrib.
  • Saya: Ma, nanti ya, Ammar maghrib dulu.
  • Mama: Oh iya nak, maghrib dulu aja.
  • Setelah maghrib saya telpon balik.
  • Mama: Gantian nak, di sini mama isya dulu.
  • Saya: Oh iya ma, isya dulu aja.
youtube

awal cerita yang selalu bahagia
adalah skenario yang ditawarkan cinta
namun hanya Tuhan yang tau kemana
perjalanan ini kan bermuara nantinya

kita sedang bahagia
jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya
tenang aku di sini selama kau di sisi
aku bejanji tak ke mana mana

mungkin saja esok mungkin saja lusa
mungkin saja dunia sekejap jadi berbeda
perasaan dan segenap cinta yang kau
dan yang aku punya

kan tetap sama

masa depan yang aku inginkan
adalah membahagiakanmu
mulai hari ini

bagai bulan dan bintang kita takkan terpisahkan
kita trus bersama warna kita selalu terang itu jadi pegangan
janganlah pikirkan masa depan yang jauh
tujuan masih jauh nikmatilah saat ini
tawa bahagia kita bersatu kan kupegang tanganmu serta pelukkanku
cerita nanti biar nanti syukuri ini dulu

kita sedang bahagia
jangan buang waktu menerka-nerka akhirnya
tenang aku di sini, selama kau di sisi
aku bejanji mulai hari ini hingga tua nanti

tak kemana mana


Well engga pernah ada yang tahu mana awal cerita yang sebenarnya dan akhir sebuah cerita akan seperti apa nantinya. Aku terlalu lelah menerka apalagi mendengar beragam celoteh mereka. Aku sedang bahagia, aku sedang ingin menikmati segalanya, sedang mensyukuri segalanya. Itu saja boleh ya?

Aku berusaha mengubur rasa ini. Bukan karena aku tidak suka, melainkan aku tidak mau tersiksa jika suatu saat nanti kita tidak sedekat dulu lagi karena salah satu dari kita telah mengetahui perasaan masing-masing. Kehilanganmu, aku masih belum mampu.

Wahai hati, jangan biarkan rasa itu membuatmu terburu-buru. Jaga dulu ia sampai datang dia yang sedalam itu menyayangimu.

Bukankah selama ini standar tinggi yang diyakini itu membuatmu rela bersusah payah menjaga diri?

Perjuangan memantaskan diri membuatmu layak dihadiahi pasangan yang apik memperlakukan pun mendampingi.

Bersabarlah

Kamu tidak layak berhenti pada dia yang tak bisa menghargai, menggombal tak berarti. Terlebih hanya karena alasan butuh mengisi hati.

Tolong bersabarlah dulu.

Sampai nanti datang ia yang bersungguh-sungguh, memuliakanmu

Sebenar-benarnya datang untuk berjanji setia, menyangimu sedalam itu

Sebab kamu layak disayangi sedalam itu. Tak ada alasan yang layak jadi pembenaran untuk menurunkan standarmu.

—  Nendra Rengganis

Jika nanti kau datang padaku, apa aku masih mampu mencintaimu seberani dulu.?

Jika nanti kau pergi dan datang seorang yang baru, apa aku masih mau mencintainya seberani dulu.?

Di antara hikmah mengapa khitbah sebaiknya dirahasiakan adalah untuk menjaga kehormatan dan perasaan pihak perempuan beserta keluarga besarnya, jikalau ternyata Allaah berkehendak lain atas rencana sakral itu.

Jadi plis, tolong, perhatikan adab ini, terlebih jika kita termasuk yang konon kabarnya “sudah ngaji”, biar kita tidak menjadi sebab orang lain berbuat sebagaimana kita, padahal belum tentu yang kita perbuat itu tepat.

Sungguh, menikah itu ujian kesabaran. Dulu dinanti-nanti, bahkan mungkin sampai bebanjiran air mata, begitu sudah hampir deal, masih tetap diminta bersabar menanti pula. Sabar dalam menahan diri untuk tidak mengobral kabar bahagia sampai betul datangnya hari H, plus (yang terpenting) menahan diri dari chit-chat dan interaksi tidak penting dengan si dia, tanpa melalui perantara atau walinya.

Dan lagi plis, tolong juga, karena khitbah dan prosesi menuju hari H itu sebaiknya dirahasiakan, maka baiknya kita pun tidak memberondong teman kita yang mau jadi manten itu dengan investigasi, “Hayooo, lagi proses yaaa…”

Apalagi, “Hayooo, kapan nikaaah?” Eleuh, ya mana kita tau. Soal itu biar jadi urusan dan kewenangan Allaah, kita mah iyain aja kalau memang sudah waktunya. Tunggu aja undangan dan kabar bahagianya. Kan gitu. Yegak. *mukebijak*

Yang jelas, investigasi model-model gini kayaknya ga perlu lah ya dijawab, palagi ditanggepin serius. Cukup berikan senyuman kita yang paling lebar. Gini nih contohnya :)))))))

Akhir kata, tulisan ini kunasehatkan pertama kali pada diriku sendiri. Mudah-mudahan tidak lupa. Mudah-mudahan bermanfaat.

Bagi teman-teman yang sedang berproses, semoga Allaah mudahkan dan berkahi langkahnya. Bagi yang hingga hari ini hilal belum juga tampak, tidak perlu terburu-buru menggenapkan tanggal, sebab pernikahan tidak sama dengan sidang itsbat.

Doakan saja, mudah-mudahan Allaah meridhai masa lajangnya, dan jika segera menikah adalah jalan terbaik baginya, semoga Allaah menyegerakan kebaikan itu untuknya.

Best regards,

nina ( @laninalathifa )

💋💕 Terimakasih Nina selalu diingatkan dengan tulisan tulisan yang super wiw banget, jazakillahu khairan wa barakallaufiikum ❤️

Cerpen : Orang Baik

Kata bapak pemulung sampah yang sering lewat depan rumah, orang baik adalah orang yang membuang sampah sembarangnya dan memilah antara organik dan anorganik. Kata bapak tukang becak langganan ibu, orang baik adalah orang yang mau naik becaknya karena susah nyari yang mau naik becak lagi, sudah pada punya motor.

Kata tetangga sebelah, orang baik adalah orang yang tidak menggunjing tetangga yang lain. Kata tukang sayur langganan ibu, orang baik adalah orang yang mau membeli sayurannya dan syukur-syukur bayar lebih.

Kata abang tukang angkot, orang baik adalah orang yang bayar ongkos angkotnya gak kurang dan gak ngotot udah pas padahal masih kurang. Kata bu guru, orang baik adalah orang yang di kelas seksama menyimak pelajarannya. Kata pak dosen, orang baik adalah orang yang di kelas aktif dan IP-nya tinggi.

Kata teman, orang baik adalah orang yang setia kawan dan rajin nraktir. Kata imam masjid, orang baik adalah orang yang rajin shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Kata sahabat, orang baik adalah orang yang nanti masuk surga, masih nanti karena harus mati dulu kalau mau masuk surga katanya. Kata ibumu, orang baik adalah orang yang punya masa depan cerah dan baik agamanya. Kata ayahmu, orang baik itu yang tidak menyakiti putri tercintanya dan bisa membahagiakannya. Kata kamu, orang baik itu….

Jawaban itu tertahan di langit-langit. Membuat penasaran.


Rumah, 18 April 2015 | ©kurniawangunadi


?

Pintu Langit

Ada yang terlalu sibuk mengejar urusan dunia
Padahal akhirat adalah tempat kita kekal didalamnya
Ada yang lebih takut kepada atasan di kantornya
Daripada DIA Sang pemilik alam semesta dan seisinya

Banyak yang datang kerja selalu tepat waktu
Sedang ketika adzan berkumandang, bilangnya “nanti dulu”
Banyak yang lalai untuk menjaga sholat diawal waktu
Sedang Izrail sudah mondar mandir menunggu
Menanti perintah dari-Nya untuk mencabut nyawamu

Wahai manusia, yang menjadi anak cucu hawa
Tak sadarkah kau, bahwa setiap malam DIA selalu ada
Datang kepadamu disepertiga malam untuk bersua
Selalu setia mendengar keluh kesah dan setiap doa

Tak tahukah kau? Bahwa kala itu adalah waktu yang istimewa
Bahkan bila dikonversikan, melebihi nilai dari dunia seisinya
Kamu mau apapun, tinggal ucap dan minta saja
Ceritakan semua keinginan dan niat baikmu kepada-Nya
Karena pada saat itu, pintu-pintu langit mulai terbuka

Selamat bercerita.
Semoga DIA mengabulkan segalanya.
Segala angan dan asamu di masa depan sana.


Dari salah satu ibukota istimewa indonesia
©Masewin, 18 desember 2015 | 21.21 WIB
@karenapuisiituindah