n73

the ‘first words your soulmate says to you is tattooed on your body’ soulmate au is cute n all but its essentially receiving information from the future…there is no way the government wouldnt use this to their advantage by having everyone greet each other with military info and war secrets like imagine a baby being born and having “osama bin laden is at 34°10′9.51″N73°14′32.78″E” tattooed on their forehead

The Way I Lose Her: Hujan di Bulan Oktober

Ada berjuta cara keadaan mencoba memisahkan kita. Tapi mengertilah itu bukan salahmu, bukan juga salahku. Mungkin semua rencana yang kita buat tentang masa depan tak berjalan semestinya. Tapi aku tak pernah sedikitpun ragu walau masih samar-samar. Aku percaya kita. Aku percaya akanmu dan akanku.

                                                                ===

.

Sedikit gerimis kini mulai mengguyur Bandung sore ini. Bulan Oktober tampaknya telah menampakkan jati diri yang sesungguhnya. Bulan penuh dengan kenangan, bulan penuh dengan kebetulan-kebetulan yang menyenangkan, bulan penuh dengan penyesalan, dan bulan penuh dengan genangn air hujan yang turun seperti rindu, teratur namun tak punya arti.

Gue saat itu masih diam di pekarangan depan sambil memegang HP, menatap lurus ke arah jalanan yang mulai basah karena tetesan air hujan. Mencium aroma tanah yang terhempas terbang di udara. Gerimis yang tak begitu besar, tapi cukup untuk bisa membasahi tanah. Sama seperti perasaan gue saat ini, tindakan yang tidak begitu besar, tapi ternyata menjadi awal dari segala cerita baru di pertengahan semester kelas satu.

Gue tekan Dial Number di HP Nokia N73 warna merah kesayangan gue itu. Nama kak Ai muncul di sana. Setelah menunggu 10 detik, telepon gue pada akhirnya diangkat.

“Ya, Dimas?” Ucap suara di ujung sana tanpa menyapa sama sekali.

“Kak, Dimas boleh ke sana?” Jawab gue sambil terus memandang kosong ke arah mobil yang berlalu lalang di depan mata.

“Hehehe..” Kak Ai terdengar terkekeh di ujung telepon, “Aku tunggu ya.” Tambahnya lagi sebelum mengakhiri percakapan singkat di telepon sore ini.

Tepat setelah pembicaraan itu berakhir, entah kenapa tiba-tiba jantung gue jadi berdegup kencang tidak seperti biasanya. Gue mendadak jadi grogi setengah mati. Mirip kaya orang mau sidang wisuda. Gue berkeringat dingin seperti Anang Hermansyah yang mengetahui kalau Krisdayanti selingkuh sama Raul Lemos.

“Woi, ngapain lo selonjoran di tanah begitu?” Tiba-tiba dari dalam rumah, Ikhsan muncul.

“Deg-degan gue, Nyet.”

“Lha ngapa? Ngehamilin anak orang?” Tanyanya polos.

“Gue kadang nggak habis pikir sama otak lo. Isinya selangkangan mulu.”

“Lah wajar, namanya juga cowok. Cowok itu pada dasarnya semuanya mesum, hanya saja gue ini termasuk cowok jujur. Tidak seperti mereka yang pura-pura nggak mesum.” Ucap Ikhsan yang lalu duduk selonjoran juga di sebelah gue.

“Lo ngapain keluar?” Tanya gue heran.

“Mau ke rumah Tasya.”

“Terus si Bobby?”

“Bobby mau Pijat plus-plus.”

“Ah serius, Njing!”

“Dia mau nyamperin pacarnya yang SMP katanya. Elo sendiri gimana? Jadi ke rumah si Rambo?” Tanya Ikhsan.

“Iya kayaknya, nunggu gerimis beres deh.”

“Sip kalau gitu. Gue harap lo berdua bisa baikan lagi. Setidaknya kalau bukan jadi pacar, ya jadi temen tapi grepe-grepe lah. Biar kita seneng-seneng lagi di kelas.”

“…”

“Dah ah gue caw yak, tuh Bobby juga udah siap-siap nyalain mobil.” Kata Ikhsan.

“Oke deh. Sukses, Nyet!” Kata gue yang kemudian bangkit dan berjalan ke arah pagar rumah.

“Harusnya kita berdua yang bilang gitu. Sukses, Dim. Bawa pulang lagi seseorang yang seharusnya jadi rumah lo dari dulu itu.”Kata Ikhsan sebelum memakai helm.

Gue hanya tersenyum mendengar kalimat bijak barusan keluar dari mulut teman gue yang brengseknya minta ampun itu. Ikhsan menyalakan motor lalu kemudian pergi entah kemana, begitu juga Bobby yang menepuk pundak gue sebentar lalu memutar-balikan mobilnya dan pergi jauh meninggalkan rumah gue.

.

                                                      ===

.

Setelah mandi dan berganti pakaian, gue pergi ke halaman luar untuk memastikan apakah Bandung sore ini masih hujan atau tidak. Tampaknya gerimis sudah tidak terlalu besar, tidak mau menunggu terlalu lama, gue langsung menyalakan motor dan memacunya sekencang yang gue bisa. Selama perjalanan menuju rumah Ipeh, pikiran gue kosong tidak memikirkan apa-apa. Rasa grogi yang sedari tadi menjalar di kepala kini perlahan menghilang. Gue tampaknya sudah siap dengan segala konsekuensi yang bakal terjadi ketika nanti gue bertemu Ipeh. Setidaknya kalau ada apa-apa, kak Ai dan mbak Afi pasti membantu gue. Pikir gue saat itu.

Selang 30 menit setelah sempat ribut sama ibu-ibu yang naik matic pake sein kanan tapi beloknya ke kiri, kini gue sudah memasuki komplek yang mempunyai kisah panjang sekali di hati gue. Rumah nomer 30A, gue inget sekali sampai sekarang bentuk rumahnya. Karena gerimis sudah semakin besar, tanpa mau membuang waktu lebih lama lagi gue langsung membuka gerbang dan memasukkan motor ke pekarangan rumah Ipeh.

Sweater biru dongker kesayangan gue sedikit basah mengingat tadi gerimis kembali turun cukup besar selama perjalanan. Ketika gue sedang mencoba mengeringkan sweater, tiba-tiba dari pintu rumah muncul kak Ai dengan pakaian yang cukup minim seperti biasanya. Bener-bener rejeki deh yang jadi pacar kak Ai tuh, tiap hari buka puasa mulu. Pahanya udah mirip tajil, seger.

“Udah lama datangnya?” Tanya kak Ai sambil mencoba memakai sendal.

“Baru kok, kak.” Jawab gue. “Ngomong-ngomong Dimas hari ini harus gimana?” Tanya gue dengan perasaan kaku.

“Loh kok nanya aku, hahaha kamu kenapa sih. Kaya ketemu siapa aja. Sana masuk. Aku mau nunggu seseorang dulu. Di dalem ada mbak Afi kok.” Ucap kak Ai yang lalu bergegas pergi ke luar gerbang.

Gue menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dulu. Padahal hari ini cuma ketemu Ipeh doang, kenapa rasanya jadi deg-deg-an banget! Sialan! Gue menyumpahi diri sendiri yang nggak bisa berhenti bergetar karena tegang.

Gue ketuk pintu rumah Ipeh, tidak ada yang menanggapi. Gue ucapkan salam sekali, nggak ada sahutan. Ah nekat dah, tanpa pikir panjang gue langsung masuk aja nyelonong ke dalem rumah. Rumah besar gini kalau kosong serem juga ya ternyata. Mana di luar lagi mendung banget lagi, jadi aja suasananya remang-remang gini.

“Spada…” Gue mencoba menyapa lagi dengan logat modern biar nggak malu-maluin.

“Iya bentar..” Ucap suara yang gue kenal.

“Eh, Dimas. Gih masuk dulu, Ifa udah nunggu tuh di ruang tengah.” Kata mbak Afi yang sore itu pakaiannya sudah rapih sekali.

Eh? Nunggu? Jadi Ipeh udah tahu gue bakal dateng? Aduh kok jadi tegang gini ya. Gue membalas ucapan mbak Afi barusan dengan senyum doang lalu perlahan berjalan menuju ruang tengah seperti yang sudah diperintahkan sebelumnya. Dari lorong menuju ruang tengah, gue bisa melihat ada Ipeh yang lagi duduk di sofa menghadap ke arah tivi. Dia terlihat sedang duduk menangkupkan kakinya tanpa bergerak sama sekali.

Gue berjalan pelan menghampirinya dari belakang hingga kini gue ada di sampingnya. Ipeh melihat ke arah gue sebentar, matanya sembab sekali seperti habis dihajar Mike Tyson. Kantong matanya gelayotan kaya pak SBY. Rambut pendeknya yang lepek karena terkena air mata sesekali menutupi mata kecilnya itu.

“Ngg.. di sini kosong?” Tanya gue sambil nunjuk ke arah sofa yang sedang ia duduki.

Aduh begok! Ngapain juga gue nanya begituan, udah tahu kaga ada siapa-siapa di sana lha pake acara nanya segala. Dipikir ini lagi di angkot apa?! Ya Tuhan Ya Karim! Gue nggak bisa mikir jernih kalau gini caranya.

Ipeh hanya terdiam dan tetap fokus melihat ke arah tivi. Karena tidak ada jawaban, gue mengambil inisiatif untuk duduk tanpa meminta persetujuan lagi seperti sebelumnya. Gue duduk agak jauh dari Ipeh, walaupun kita duduk di satu sofa yang sama, jarak kita benar-benar terasa jauh. Ujung ke ujung. Kita terdiam cukup lama. Di luar rumah gue sempat mendengar ada beberapa kali bunyi gledek menandakan akan ada hujan turun sebentar lagi. Sesekali sambil masih terdiam, gue mengusap-usapkan lengan sweater gue yang masih sedikit basah lantaran kena gerimis tadi.

‘Ini mbak Afi sama kak Ai kemana sih?!’ Batin gue dalam hati.

Suasananya Awkward banget antara gue dan Ipeh sore ini. Gue bisa mendengar ada dera napas Ipeh yang tidak beraturan karena menahan tangis. Ingin rasanya gue bisa bicara dengan tenang kepada Ipeh seperti dulu kala, tapi rasa-rasanya untuk melihat ke arahnya-pun gue nggak sanggup. Ipeh terlihat tidak tenang sama sekali, dia beberapa kali berganti posisi tapi masih tetap di tempat yang sama. Kini gue beranikan diri untuk menengok ke arahnya. Melihat seseorang cewek mungil yang gue sayang itu lagi merengkut menangkupkan kedua kakinya di ujung sofa.

Gue memandangnya cukup lama hingga kemudian Ipeh tersadar lalu melirik ke arah gue. Tepat ketika melihat ke arah kedua bola matanya, semua rasa grogi, tegang, kaku yang gue rasakan tadi mendadak hilang. Kita saling bertatapan lama tanpa ada satupun yang membuka percakapan. Gue melihat ada air mata menumpuk di pinggir bola matanya, tanda bagaimana kerasnya hati seorang anak perempuan sedang berjuang melawan rasa sakit yang ia buat sendiri di dalam kepala.

“Peh.. Kam…”

Baru saja gue mau memulai bicara, tiba-tiba kita berdua dikejutkan dengan kedatangan kak Ai yang terburu-buru naik ke lantai dua. Begitu juga dengan mbak Afi yang telah berdandan rapih lalu mengambil kunci mobil yang tergeletak di samping tivi.

“Ai! Cepetan ganti bajunya!” Ucap mbak Afi sambil melihat ke arah jam tangannya.

Gue yang saat itu tidak tahu menahu ada apa di antara keluarga cemara ini cuma bisa diem doang. Gue melirik ke arah Ipeh, dan Ipeh hanya membalas tatapan gue begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Selang 5 menit, kak Ai turun dengan pakaian yang lebih formal. Mereka berdua berbicara sebentar lalu kemudian menghampiri kita berdua.

“Kita ada acara dulu, penting.” Kata mbak Afi tergesa-gesa, “Aku ada ospek jurusan di kampus, terus sayangnya Ai juga ada acara sama pacarnya. Nah Dimas, Ifa, titip rumah sebentar ya. Kita nggak lama kok.” Tambahnya lagi.

“Ifa, Ayah sama Ibu dateng jam 8an kalau nggak macet pas pulang kantor. Kamu jaga rumah dulu ya. Jangan bikin onar kaya tadi lagi. Inget! Udah cukup nangisnya! Kalau ada apa-apa bilang ke Dimas.” Kata mbak Afi sambil berdiri di depan Ipeh. Ipeh cuma diam saja dengan posisi yang sama—menangkupkan kedua kakinya.

“Dimas!” Tiba-tiba mbak Afi melihat ke arah gue.

“Ngg.. i..iya kak?”

“Jagain Ifa. Untung kamu datang sekarang. Kalau ada apa-apa langsung telepon salah satu dari kita berdua ya. Kalau mau nginep, nginep aja sekalian, tadi aku udah bilang sama Ayah. Lagian Ayah juga kebetulan udah kenal kamu. Kalau laper, ada makanan di meja makan. Mau pesen Pizza juga silakan, Ifa udah ditinggalin uang. Ifa! Dimas jangan lupa dikasih makan!” Tukas mbak Afi lagi.

Kita berdua yang pada dasarnya cuma anak SMA kelas satu itu hanya bisa manggut-manggut saja tanpa bisa membantah sama sekali. Karena merasa sudah menjadi tanggung jawab gue sebagai seorang cowok, gue mengantarkan kak Ai dan mbak Afi pergi ke luar rumah. Begitu mereka tidak terlihat lagi di depan gerbang, gue tutup gerbang dan sedikit mendongak ke atas. Langit bandung sore ini gelap sekali. Gue coba nyalakan lampu teras agar rumah ini tidak terlihat menyeramkan.

Gue duduk kembali di sofa depan televisi. Karena pada dasarnya keluarga Ipeh ini isinya orang kaya semua, televisi rumah Ipeh ini juga ternyata sudah difasilitasi dengan antena parabola yang pada zaman gue saat itu langka banget untuk bisa ditemukan di rumah-rumah biasa. Sehingga tak ayal televisi Ipeh ini channelnya lebih banyak ketimbang televisi kepunyaan gue di rumah. Layarnya pun nggak tanggung-tanggung gede banget udah kaya lagi garap layar tancep di kelurahan. Tapi yang bikin gue heran adalah acara televisinya bener-bener nggak jelas semua. Gue lupa dulu itu channel apa yang lagi ditonton Ipeh, tapi di sana gue inget ada orang lagi mengunjungi perternakan kucing dan sebagainya. Ini apa kaga ada tontonan yang lebih berbobot apa?! Tanpa pikir panjang gue ambil remote televisi yang ada di atas meja dan mulai memindahkan channelnya. Gue yang saat itu belum pernah megang remote tivi seribet ini cuma bisa asal pencet hingga pada akhirnya channel yang gue pencet muterin satu serial televisi orang Amerika yang dari tahun 2005 sampai 2015 masih belum tamat-tamat. Supernatural.

Awalnya sih gue lihat ini acara kayaknya rame, hingga pada akhirnya gue sadar kalau ternyata film yang lagi gue tonton ini film horror. Ipeh yang dari tadi diam pun mau tidak mau jadi harus ikut nonton film horor juga; yang gue tahu dia paling nggak suka banget sama hal-hal serem. Kita masih terdiam saat itu. Sesekali sambil nonton gue iseng ngemilin makanan yang tergeletak di atas meja. Gue itu tipe orang yang nggak ekspresif kalau lagi nonton film. Biasanya cuma duduk doang nonton, mau itu film horor kek, film lucu kek, gue cuma diem aja. Paling banter ya kaget dikit atau senyum-senyum dikit kalau ada adegan yang lucu. Nah sedangkan Ipeh beda. Nih anak emang pada dasarnya cewek sih ya jadi ekspresif banget kalau lagi nonton.

Adegan di film yang lagi kita tonton berdua ketika waktu telah menjelang maghrib itu kini mulai memasuki ke adegan yang agak serem-serem. Sesekali gue lihat Ipeh grasak-grusuk menundukkan muka nggak mau melihat ke arah televisi. Terus sering juga gue lihat dia mau mendekat ke arah gue karena takut tapi berkali-kali tidak jadi lantaran gengsi. Karena saat itu gue merasa haus, gue berdiri dari sofa lalu berencana berjalan menuju dapur.

“Mau kemana!” Tiba-tiba Ipeh yang dari tadi diem langsung angkat bicara ketika gue hendak pergi ke arah dapur.

“Haus.” Jawab gue singkat.

“Nggak! Duduk!” Ucap Ipeh lagi.

“….”

Akhirnya gue kembali duduk sesuai yang diperintahkan Ipeh. Lah ini kenapa gue nurut ya?! Tapi lama-lama gue melirik ke arah Ipeh tampaknya Ipeh makin ketakutan, beberapa kali ada adegan yang kaget-kaget gitu, Ipeh teriak kecil tapi tetep ditahan sebisa mungkin. Nih anak pada dasarnya polos atau bego sih? Kalau nggak suka sama yang serem yang tinggal merem aja, lha ini malah terus aja nonton. Iseng punya iseng, ketika adegan lagi dalam suasana mencekam, muncul niatan di benak gue buat ngejailin nih anak. Oke sip! Gue tarik napas dalam-dalam, gue tahan….

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!” Mendadak gue teriak sekuat tenaga sehingga Ipeh yang lagi serius nonton tivi langsung terkejut bukan main sambil teriak dan loncat ke arah gue.

“BHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAK!!!!” Gue ketawa ngakak ketika melihat Ipeh kaget sampe loncat dari kursinya terus nimpa gue. Makanan yang lagi gue pangku berhamburan ke lantai. Sedangkan Ipeh masih saja teriak sambil meluk gue.

Selang 10 detik dan Ipeh mulai mengetahui kalau ternyata gue hanya iseng doang, Ipeh langsung melepaskan pelukannya dan mulai mukulin gue dengan ganas. Sedangkan gue cuma bisa melindungi kepala gue sambil terus ketawa nggak karuan.

“Nggak lucu! Nggak lucu! Nggak lucu kambing galing!!!!” Ipeh menghajar gue pakai bantal yang ada di sofa sambil menangis.

“Hahahaha ampun, Peh. Ampuuuunn..”

Setelah puas menghajar gue, Ipeh langsung kembali ke posisi awalnya memeluk kaki di ujung sofa. Tapi sekarang beda, gue mendatangi Ipeh dan duduk di sebelahnya. Merangkul kepalanya agar tenggelam di dada gue lalu memeluk pinggangnya erat. Ipeh masih terlihat bete sambil sesenggukkan menahan tangis. Gue usap kepalanya hingga lambat laun Ipeh merelakan dirinya untuk rebah di pelukan gue. Kini ipeh memeluk lengan gue erat lantaran masih ketakutan.

“Ganti filmnya ganti..” Ucap Ipeh pelan sekali sambil merengek.

Gue tidak menjawab, gue hanya tersenyum sambil tetap memeluknya tanpa mengganti film yang sedang kita tonton saat itu. Secara perlahan, tembok besar yang dibangun di antara kedua belah hati kita berdua itu perlahan runtuh. Tembok yang membuat kita enggan saling berbicara dan saling menyapa itu kini perlahan-lahan mulai menghilang dari dalam dada. Ipeh yang masih tenggelam di pelukan gue mulai berani berbicara sekali-sekali. Dan gue juga entah kenapa mulai bisa menjawab semua ucapannya tanpa merasa kaku seperti dulu lagi.

Ini adalah kali pertama di mana gue bisa merasakan kenyamanan berbicara dengan Ipeh sama seperti kenyamanan dulu ketika kita masih dekat.

“Malu sama otot, nonton film ginian doang aja takut.” Sindir gue sambil masih tetap merangkulnya.

“Emangnya kamu! Mentang-mentang lahir dari keris jadi doyannya nonton beginian!” Balas Ipeh.

“Enak aja. Gue haus nih! Mau minum dulu!”

“Nggak boleh! Enggaaaaak!” Bantah Ipeh sambil memeluk tangan gue erat.

“Manja.”

“Biarin.”

“Lagian filmnya udah abis tuh! Udah iklan, nggak serem lagi kok.”

“Nggak mau!” Rengek Ipeh.

“Iya deh iya. 5 menit lagi yaa..”

“Hehehe..” Ipeh tertawa kecil sambil ndusel-nduselin kepalanya ke lengan gue.

Saat itu entah Tuhan lagi berkehendak apa, tapi waktu terasa berjalan begitu lambat. Suara tivi yang dari tadi memenuhi ruangan tengah terasa tidak menganggu kami berdua yang masih sama-sama dekat dalam satu pelukan hangat. Hujan besar di luar rumah membuat pelukan kami kian erat. Seakan saat ini kami memeluk untuk tidak terpisah lagi. Seakan memeluk untuk memperbaiki semua yang telah hancur selama ini. Televisi di depan kita menjadi saksi bagaimana peluk singkat terasa begitu luar biasa menyembuhkan; menyembuhkan hati, menyembuhkan cerita.

“Mbe..” Tiba-tiba Ipeh memecah lamunan gue.

“Iya, Peh?”

“Udah 5 menit loh.” Ucapnya.

“Ngg.. nambah 5 menit lagi boleh?” Tanya gue.

“Boleh banget!”

“Hahaha dasar..” Gue mengecup kepalanya.

Kini tangan gue memeluk pinggangnya erat dan Ipeh terlelap jatuh di dada lalu mengkalungkan jari jemarinya di atas jari jemari tangan kiri gue. Jika Tuhan berkata kejujuran adalah perihal pengakuan, maka peluk hangat beserta jari-jemari yang saling mengisi satu sama lain saat ini adalah pengakuan terjujur kita berdua atas sebuah rasa yang sama pada status yang tak bisa bersama.

Keadaan di antara kita berdua tiap detik makin mencairkan segala gunung es yang ada di dalam hati masing-masing. Kita tertawa, bercengkrama, bercerita tentang sekolah, hingga cerita ngalor ngidul nggak jelas sama sekali. Benar kata bokap gue, jika orang di samping kita memang orang yang tepat, keheningan sehening apapun akan terasa begitu ramai.

Karena benar-benar kehausan, akhirnya gue lepaskan pelukan gue itu dan beranjak pergi ke dispenser yang ada di dapur rumah Ipeh. Dan yang bikin lucu adalah, kemanapun gue pergi, Ipeh selalu ngikutin gue dari belakang kaya anak kucing sambil menarik-narik hoodie sweater gue.

“Mbe mau makan apa? Aku buatin.” Kata Ipeh sambil membuka kulkas.

“Apa aja asal kenyang.”

“Nasi goreng mau?”

“Nggak ah seret.”

“Indomie deh kalau gitu.”

“Udah sering.”

“Nugget?”

“Tenggorokan gue nerima makanan kaya gitu.”

“YA TERUS MAU LO APA?!?!”

“Hahaha apa aja deh.”

“Yaudah salad aja ya! Deal!”

“Ih, Peh! Apa kenyangnya kalau makan salad coba?! Makan apa kek gitu yang bikin kenyang. Pesen Pizza gih, tadi kan mbak Afi bilang kita boleh pesen Pizza.”

“Nggak ah kasihan hujan gede gitu mamang delivernya kalau nganter Pizza.”

“Yaudah lagian gue udah kenyang makan cemilan tadi di meja.” Jawab gue sambil berlalu pergi.

“Mbe mbe mbe mbe~”

“Apa?”

“Coba ini deh coba ini, gue baru beli kemarin.”

“Apaan nih?”

“Udah diem aja, aaaa…” Ipeh menyodorkan sebatang chiki-chikian ke mulut gue sehingga mau tidak mau gue mangap kaya orok baru belajar nelen.

“Enak nggak?” Tanya Ipeh.

“Enak kok. Apaan itu?”

“Makanan anjing.”

“WOEK!!! SERIUS OI!!” Gue kalang kabut mencoba mengeluarkan benda yang baru aja gue telen tadi.

“Enggak kok enggak, itu cemilan Ayah. Emang enak katanya. Jangan dimuntahin ih!” Ipeh menutup mulut gue dengan tangannya.

“Mbe mbe mbe mbe..”

“Apa lagi?”

“Nugget mau ya? Aku masakin.” Ipeh mulai merengek lagi sambil terus narik-narik hoodie sweater gue sampe gue kecekek bukan main.

“Iya gih. Gue tunggu di ruang tengah yaa..”

“IH TEMENIN!!!”

“YA ALLAH IPEH MASA MASAK DOANG MINTA DITEMENIN!!!”

“NGGAK MAU POKOKNYA TEMENIN!!”

“…”Akhirnya mau tidak mau gue diem di samping Ipeh ketika dia mulai asik dengan aktivitas masak-memasaknya.

“Ini salad kaga dimakan?” Tanya gue ketika mendapati ada seonggok salad menggiurkan di taruh di atas keramik dapur.

“Dimakan lah.”

“Wuih, enak loh..” Ucap gue sambil mencicipi salad buatan Ipeh.

“Ih mau dong mau.. aaaa…” Ipeh membuka mulutnya meminta gue untuk menyuapinya.

“Ya Tuhan gue kaya lagi punya anak bayi.”

“Bawel!” Bentak Ipeh.

Saat itu entah apa yang sedang merasuki Ipeh sehingga dia benar-benar menjadi Ipeh yang manja banget, sama seperti Ipeh yang dulu waktu gue diajak makan malam bersama keluarganya di salah satu Cafe di Dago Atas. Tapi saat itu juga entah apa yang sedang merasuki gue sehingga gue senang sekali memanjakan Ipeh seperti ini. Tidak ada kesal ataupun keberatan sama sekali. Berkali-kali Ipeh meminta gue untuk tetap dekat demgannya ketika gue hendak pergi, padahal dia tidak tahu kalau saat itu tak terbesit sedikitpun di benak gue untuk mau jauh dari Ipeh.

Setelah Nuggetnya matang, kita duduk kembali di depan televisi dan menonton film yang lain. Selama makan, Ipeh tidak henti-hentinya cerewet seperti biasanya dan gue tidak henti-hentinya tersenyum melihat tingkah lakunya. Kita benar-benar sudah tidak peduli siapa kita saat itu, apa status kita sekarang, selama kita bisa dekat, tak satupun dari kita gengsi untuk mau mendekat. Jalan ke dapur saja kita bergandengan tangan tanpa ada rasa awkward sama sekali. Sesekali gue menyuapi Ipeh, dan sesekali Ipeh mengacak-acak rambut gue, semuanya kita lakukan selayaknya kita adalah dua pasang orang paling bahagia di dunia. Saat ini rasa-rasanya jauh hanya beberapa centimeter saja kita tidak rela.

Mungkin jauh di dalam lubuk hati kita masing-masing, kesempatan untuk bisa dekat seperti ini itu seperti oasis di padang pasir. Hujan di musim kemarau. Sebuah kebahagiaan dari lamanya rasa sakit yang kita sama-sama derita, dan kita berdua tidak mau untuk melewatkannya barang satu detikpun.

Setelah makan sore selesai, kita berdua pergi ke dapur untuk membereskan seluruh hasil masak-masakan yang Ipeh lakukan barusan. Ketika gue sedang asik mencuci piring, Ipeh tiba-tiba menggandeng tangan gue.

“Mbe..” Ipeh melihat serius ke arah gue.

“Hmm?”

.

.

.

                                                                 Bersambung

Previous Story: Here