mutulism

so,,,, i just hit 1k ?? and i honestly never thought my blog would have this many lol . i started almost 3 years ago and i have met so many lovely people , and i would just like to thank them all !!

Keep reading

Female Genital Mutilation

Just wanted to touch base on fgm again. I talked about it some in the early days of this blog (shoutout to you if you remember it) but I haven’t since then. I still think it is absolutely disgusting. And to properly address it we have to look at who is doing it. Majority of it is being done by Muslims. I have nothing against Muslims or Islam as a religion. But this is absolutely disgusting and no feminist is willing to fight it because they try to make the argument again and again that Islam is a religion of peace.

It may have been a religion of peace in the Quran but those days are gone. You cannot support Islam anymore without support horrible treatment of women in the Middle East.

Here is my whole message; feminists, if you want to do something decent with your pathetic agenda, start by solving real women issues. Not your trivial ines like manspreading and mansplaining.

Lagi-lagi Logika

Gila gila, sedap ya judulnya, “Lagi-lagi Logika”! Lagi-lagi logika bikin gokil *nah yang ini maksa* *yaudah ya lanjut*

Di perjalanan menuju Bandung, saya nonton video Ust. Nouman Ali Khan yang judulnya “Does God Permit Critical Thinking?” Lagi-lagi saya diajak mikir! Masih pagi loh padahal *lhaa emang kalo pagi nggak boleh mikir?!*

Videonya tonton sendiri aja ya, nih link-nya ikilho. Intinya dibilang kalo Islam itu mengajak umatnya agar berpikir kritis, bahkan awal-awal mengemban amanah menyebarkan agama tauhid, Nabi Ibrahim AS pun sangat kritis. Beliau bertanya langsung kepada Allah – LANGSUNG KEPADA ALLAH – hal-hal yang mengusik hatinya semisal bagaimana ada kehidupan dan kematian, agar mendapatkan kepuasan hati melalui jawaban tersebut. Beliau tentu saja tidak menyangsikan kuasa Allah. Sama sekali nggak!

Kita yang merupakan keturunan Nabi Ibrahim AS dituntut untuk selalu kritis dalam beragama, bukan terima jadi sehingga hanya menganggap apa yang kita lakukan itu sebagai ritual yang dilakukan turun-temurun, tanpa tau nilai-nilai di balik itu (EH JADI KAYAK TULISAN DEK AFI YA. Eh maafin capslock-nya masih nyala). Di sini nih yang bikin saya mikir, “Lho bukannya kita diperintahkan untuk berprinsip, ‘sami'na wa atho'na (saya mendengar dan saya taat)? Berarti kita kayak nggak usah mikirin alasan lagi dong, tinggal taat aja? Tapi ini disuruh kritis kok. Loh eh loh eh.” Iya, saya bingung. Beneran bingung.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, “Nah terus kalo harus kritis, sebatas apa kita boleh kritis?” Karena saya takuuut, takut kelewat kritis yang nantinya malah melampaui batas seperti malah mempertanyakan keberadaan Allah dan menyangsikan seperti halnya orang-orang yang kemudian memilih untuk menjadi atheist, duh naudzubillahi min dzalik. Baik-baik sama logika, harus hati-hatiii banget sama pikiran sendiri.

Terus saya jadi keingetan lagi. Di Al-Qur'an kan banyak banget disebut “ulul albab” yang artinya orang-orang yang berpikir. Al-Qur'an pun diturunkan sebagai pedoman bagi orang-orang yang berpikir toh, bukan orang yang terima-terima aja. Di sisi lain, “sami'na wa atho'na” pun merupakan kalam Allah yang terhimpun di QS. An-Nuur:51. Nah nah pasti inline kan harusnya. Nggak mungkin isi Al-Qur'an itu kontradiktif. Lagi-lagi kita dituntut untuk mempergunakan logika untuk mencari benang merah dari satu ayat ke ayat lain tanpa membuatnya kontradiktif. Eh iya, tapi dalam memahami Al-Qur'an, kita sama sekali nggak disarankan menggunakan logika sendiri, melainkan logika orang lain yang ilmunya mumpuni. Jadi kalo nemu ayat yang kita nggak paham terjemahannya, jangan sekali-sekali mereka-reka maknanya. Tanya! Tanya ke orang yang kualitas ilmunya terjaga. Bukan tanya Google (ini nasehat buat diri sendiri juga). Dan atas nama keimanan yang kita punya, kita pun harus yakin bahwa isi Al-Qur'an itu benar, tiada keraguan di dalamnya kayak yang dibilang di muqaddimmahnya (QS. Al-Baqarah: 2).

Jadi, saat bingung-bingung sama “sami'na wa atho'na” dan himbauan kritis itu, saya malah mikir, “Duh ini mah ilmu gue yang masih cetek sampe belom tau benang merah di antara dua hal yang gue bingungin ini”. Makanya tercetus di benak saya untuk menuliskan ini. Barangkali ada yang tau jawabannya. Atau malah nanti saya di masa depan yang sudah lebih berilmu (aamiin) bisa menjawabnya. Yang penting tercatat dulu. Tapi kalo menurut hipotesis saya yang ilmunya masih ala kadarnya ini, kita dituntut untuk proporsional. Maksudnya, bisa menggunakan logika pada tempatnya sehingga tau kapan harus kritis dan kapan harus berhenti kritis dan lebih mengepankan keimanan kita sebagai jawaban atas pertanyaan yang mengusik (sebagai bentuk dari penerapan prinsip sami'na wa atho'na itu tadi).

Ambil contoh deh biar nggak ngawang. Misal saya dihadapkan dengan tim flat Earth yang bersikukuh bahwa bumi itu datar. Sebagai muslim yang dihimbau untuk kritis, sikap pertama saya harus mempertanyakan itu dulu dong, nggak langsung nelan bulat-bulat, tabayyun dulu (ini masih harus terus dilatih nih, kadang terbersit rasa malas buat bertabayyun, astaghfirullaaah T.T). Terus setelah tau faktanya, baru lah saya bisa menyanggah anggapan tim flat Earth tersebut dengan ilmu-ilmu yang sudah dipelajari. Eh tapi contohnya kurang kompleks ya. Bentar, mikir dulu (tuh kan, apa-apa juga pake mikir, yang artinya logikanya dipake, huehehehe).

Loncat ke contoh lain aja ya. Misal gini, saya terlahir sebagai muslim, alhamdulillah. Dari ajaran orang tua, saya dikasihtau kalo saya nggak boleh makan babi, katanya agama kita melarang untuk makan itu. Oke, saya nurut. Tapi seiring dengan bertambahnya kedewasaan yang artinya akalnya pun ikut berkembang selagi dikasih stimulus, saya pun berpikir, “Eh kenapa ya makan babi nggak boleh?”

Jawaban pertama karena haram. Pertanyaan berikutnya, “Kenapa kok haram ya?” Jawaban selanjutnya karena lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya.

Timbul pertanyaan lanjutan, “Kenapa banyak mudharat ya?”

“Iya, soalnya di dalamnya bakteri jahat di dalam babi dan sifat buruk babi bisa menular bagi yang memakannya.”

“Terus kenapa dong babi diciptakan?”

“Bukan buat makanan, Batu!”

Wkwkwk, maafin kalo ngasih contohnya begini amat. Tapi intinya, saat dihadapkan dengan sesuatu, kita harus kritis dan kalo bisa menerapkan 5 Whys (gali terus sampai ke akar permasalahan melalui 5 pertanyaan beruntun), biar ala-ala researcher gitu. Eh alasannya bukan itu. Tapi biar kita terbiasa berpikir kritis dan bisa menjawab tantangan berupa pertanyaan yang ada, biar kita terus mengeksplor keilmuan – ilmu apa pun! Nah tapi mesti diingat nih, di saat pertanyaan-pertanyaan kita malah meluncur terlalu jauh bak bola salju dan mengarahkan kita ke rasa suudzan kepada Allah, di situ kita harus berhenti dan ingat-ingat lagi “sami'na wa atho'na”. Saya dengar dan saya taat. Saya patuh pada perintah-Nya dan patuh untuk meninggalkan larangan-Nya, karena saya beragama Islam. Dan Islam itu artinya menyerah (menyerahkan diri hanya kepada Allah). Saya begitu karena saya beriman kepada Allah. Berbekal keimanan itu, kita tau kapan harus kritis dan kapan harus ngerem.

Nah! Dari sini saya jadi nemu jawaban sendiri. Wakakakka, alhamdulillaaaah. Jadi, hubungan antara logika untuk berpikir kritis dengan “sami'na wa atho'na” itu ialah semacam gas dan rem! Kalo logika itu gas untuk kita mengeksplor ilmu yang belum kita tau, “sami'na wa atho'na” itu sebagai rem supaya kita nggak kebablasan menggunakan logika kita yang menggiring kita untuk berpikir yang bukan-bukan kepada Allah. MasyaAllah. Ini monolog terpanjang yang saya tulis kayaknya. Nanya sendiri, jawab sendiri. Dan jawabannya pun baru ditemukan seiring dengan jempol kanan dan telunjuk kiri yang asyik tap dance di atas keyboard handphone. Alhamdulillaaah. Ingat yaaa, kita harus banyak-banyak berdoa minta ke Allah supaya bisa mempergunakan logika dengan baik, supaya utilitasnya selalu di jalan yang diridhai Allah. Aamiin.

Semoga bermanfaat walau diajak ngalor-ngidul dulu – maafkan keterbatasan otak yang kadang nggak runut ini, mihihihihiii~

Bandung, 22 Juli 2017


Mutul yang masih belom nyampe rumah

nekalas  asked:

smuchi is an irl friend of an alois double i was mutulals w/ two years ago who unfollowed me for blocking their bestfriend bc they thought asexuals were opressed, if i do remeber correctly

thats honey @vampretty whom @seroquel recognized immediately i have to credit her

Bahagia: Definisi ala Medsos

Hidup itu sederhana. Pun dengan bahagia. Tapi terkadang pikiran kita yang rumit mendefinisikan kebahagiaan. Padahal sesederhana dengan bersyukur aja lho. Tapi dasar manusia nggak pernah puas, kayaknya nggak ada tantangan kalo hidupnya gitu-gitu aja. Jadi lah kita seringkali terpancing untuk mencari definisi lain akan kebahagiaan. “Gue bahagia kalo udah begini begini begini.” Dan akhirnya, kita melihat kehidupan orang lain sebagai patokan kebahagiaan.

Terlebih di usia produktif yang lagi serba bergejolak ini, rasanya sisi kompetitifnya susah dibendung. Nggak akan cukup kalo belum melebihi pencapaian si anu, misalnya. Di sisi lain, ada bagusnya sih, selama pencapaian itu positif semisal mencari ilmu setinggi-tingginya, atau beramal shaleh sebanyak-banyaknya, nggak masyalah. Malah positif kan.

Tapi kalo pencapaian itu berupa #relationshipgoals, #lifegoals, #siblinggoals, dan goals lain berbentuk hashtag yang ada di medsos, rasanya hampa. Ini subjektif menurut saya sih, yang merasa apa yang disuguhkan di medsos itu fana. Dunia aja udah fana, lha apalagi medsos yang cuma miniatur dunia. Wkwk.

Sebagai pemerhati pola, saya suka memprojeksikan pola-pola yang saya tangkap tersebut, ke dalam otak. Dalam hal medsos, yang saya tangkap, pola penyebab kebahagiaan yang modusnya paling tinggi (kalo nggak mau dibilang mainstream), kira-kira seperti ini:

  1. Banyak traveling ke tempat baru
  2. Banyak makan enak di cafe lucu
  3. Menikah muda dan dikelilingi bridesmaid kece yang sebelumnya mengadakan bridal shower super asyik
  4. Punya anak yang lucu dan pintar
  5. Mendapatkan beasiswa sekolah di luar negeri
  6. Menghadiri event yang kece, misalnya acara musik, festival ini, festival anu, olahraga bareng, dll
  7. Berhasil foto OOTD
  8. Dst

Itu yang berhasil saya kerucutkan hingga bisa ditarik garis besarnya bahwa itulah kebahagiaan yang umum dimunculkan di medsos – kalo ada yang nggak kesebut, berarti saya lupa, atau memang luput dari perhatian saya, hehehe. Hal ini pun berlaku di medsos saya lho, wkwkwk. Nggak dipungkiri, saya pun generasi milenial yang sering latah ikut-ikutan apa yang lagi musim. Tapi belakangan saya mikir, “Duh, kalo gini mah, di mana letak keunikan saya. Di mana state of the arts-nya?!” Kekekeke.

Dan yang nggak kalah penting (tapi ganggu – wk!), saya sering merasa rumput tetangga lebih hijau setelah melihat medsosnya. Jadi di otak berkecamuk deh pikiran-pikiran rumit. Saya mohon maaf ya kalo ternyata isi medsos saya yang malah begitu. Masih latihan buat mengontrol nih. Syulit. Apalagi saya bukan tipe orang yang cool. Ehehehe excuse, lau! Karena pikiran-pikiran rumit itu, akhirnya malah lupa mensyukuri hal-hal yang ada di depan mata. Hasilnya jadi lupa bahagia karena fokus bahwa bahagia itu adalah produk, bukan prosesnya. Duh duh duh.

Sedikit cerita, kemarin seorang teman bercerita banyak hal tentang liburannya. Karena teman dekat, saya iseng nyeletuk,

“Asyik bener lo, lagi menikmati hidup banget kayaknyaaa..”

“Ahaha, iya nih. Tapi, Tuuul, kebanyakan liburan malah bikin gue hampa sesudahnya. Kayak timpang gitu loh bedanya selama lagi liburan dan sehari-hari.”

“Bahahaha, paradoks gitu ya. Setelah rame-rame jadi sepi lagi.”

“Iya, Tuuul!”

I can feel you!”

Yak. Jadi contoh-contoh kebahagiaan yang didefinisikan oleh medsos itu semu. Sifatnya sementara aja. Setelah berhasil direngkuh, malah menciptakan paradoks, mungkin karena saat mencapainya dilakukan dengan menggebu-gebu. Semua energi ditransformasikan menjadi antusiasme di awal. Begitu selesai, energinya berkurang secara eksponensial. Ahahaahaha~ It’s perfectly rhymed, btw!

Jadi, sewajarnya aja dalam menyikapi kebahagiaan ber-hashtag itu, karena sungguh dia itu fana. Sedangkan, kebahagiaan yang hakiki, yang nggak fana, yaitu saat hati kita penuh. Dan kepenuhan hati nggak akan bisa dicapai kalo hati kita dipenuhi oleh hal selain Yang Menciptakannya. Alih-alih mengejar kebahagiaan yang sifatnya sementara, lebih baik kita mengejar ridha-Nya. Coba deh kita renungin lagi seberapa bahagia kita lewat pertanyaan-pertanyaan turunan ini.

  • Udah bersyukur belum hari ini?
  • Udah menerapkan keikhlasan di setiap tindak-tanduk yang dilakukan belum? (Biasanya kalo ikhlas nggak bakal bilang-bilang sih, cukup diri sendiri dan Allah aja yang tau)
  • Udah lurusin niat belum?

Kalo semuanya bisa kita jawab “udah”, insyaAllah kebahagiaan akan mudah dekat dengan kita. Yuk ah, semoga kita bisa selalu bahagia setiap harinya tanpa terpaku pada definisi yang tercipta karena modus tipe kebahagiaan (temennya mean dan median, bukan modus yang satunya) yang muncul di medsos. Bismillah. Biidznillah.


Bandung, 20 Agustus 2017

Mutul yang masih terus belajar

cheaters dont get teaters (boobs)

ma bf calum cheated on me the day befour today n i broke up wit him he at ma door rn i answer it n he cryin mad tears fam n i invite him in cause it raining obvioulsy he sit for a sec n i dont want him here so i say “whats up man” to establesh both mutul respect n dominence he look at me n say “i didnt mean to i luh you bitch” i tear up n kiss him hard as a rock n den i realise wat im doin n pull back but then i think i nead closur so i pull his pants down n blow him like the whistle he is n den he cum n i stand up and go upstairs he come try to cuddle but i kno bettr so i tell him to leave n he do cause he respec me i wil always luv dat ass tho so i spank him on he way out he cry harder n i move on like tha bad bitchh i be

Mutualism Between Ants and Aphids

Aphids suck the sugar-rich fluids from their host plants. The aphids then excrete equally large quantities of waste, called honeydew, which is high in sugar content. Where there’s sugar, there’s bound to be ants.  

(Cut short from Ask.com)

More insect photographs from me @http://www.flickr.com/photos/fujinliow/

anonymous asked:

Because that one ass blurry pic will make headlines until they drop the next single or at least for a few days. I swear if they didn't do this stuff it would look more believable.

The all “Briana didn’t attend any show in the USA (and we are not talking about 1-2 shows, but something like +20) but she flew from LA to London to see One Direction performing at the O2 arena (where no one saw her except for a mutul of Simon and Jay). HAVE I GOT SOME KIND OF SIGN OF MY FOREHEAD SAYING “I’M DUMB AF”? No? Are you sure? Because 1DHQ has been treated me as unicellular organism for 5 years now.