muslim poster

3

Invocations for the beginning of the prayer

“اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَ بْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وّالْمَاءِ وَالْبَرَدِ”.

O Allah , separate me from my sins as You have separated the East from the West. O Allah, cleanse me of my transgressions as the white garment is cleansed of stains . O Allah , wash away my sins with ice and water and frost.

Reference:

Al-Bukhari 1/181, Muslim 1/419. 

The Marriage Proposal: How to Make The Decision Easier

Dalam perjalanan menuju halal, kita temukan laki-laki cenderung menjemput dan perempuan menerima. Tapi keduanya tak lepas dari satu keharusan, yaitu memilih. Bagaimana seorang laki-laki bisa mantap menentukan gadis sebagai pilihannya, pun bagaimana sebagai perempuan meraba rasa “sakan” untuk menerima atau menolak. Tentu bukan pilihan yang mudah. Setidaknya ada beberapa kiat bagaimana membuat keputusan itu mudah, semoga. 

1. Pahami Niat dan Ber-istikharahlah 

Pintalah dalam keadaan sadar, tulus, dan serius. Maksudnya seperti apa? Ketika kita melihat diri telah siap, maka kita dalam keadaan sadar meminta Allah tuk hadirkan seseorang. Bukan karena bosan hidup atau hendak lari dari sebuah permasalahan. Sejatinya kita sadar, kita siap akan amanah-amanah lebih besar setelah pernikahan.

Dengan demikian kita bisa lebih tulus dan serius meminta kepada Allah. Lintasan pikiran manusia saja Allah mengetahui, maka bagaimana pahamnya Ia mendengar hamba-Nya yang benar-benar berharap.Yakinlah tak ada kata menyesal jika kita melibatkan Allah di setiap keputusan urusan hidup kita. 

2. Mengajukan Pertanyaan Cerdas 

Tanyakan bagaimana hak dan kewajiban masing-masing pasangan. Hal-hal apa yang bisa membuatnya marah dan kecewa serta bagaimana mengatasinya. Dari sini kita akan mudah memahami bagaimana calon pasangan kita memandang pembagian tugas di keluarga kelak. Apakah sejalan dengan yang kita pahami? Jika tidak, bagaimana menyelaraskannya? Kita juga bisa sedikit mengenal bagaimana ia mengontrol emosinya melalui pertanyaan tadi. 

Tidak hanya soal pribadi. Kita juga perlu menanyakan perihal pendidikan dan pola asuh anak. Bukan membahas terlalu jauh. Tapi dari sini kita juga terbantu mengenal calon pasangan kita. Secara umum saja. Setidaknya bagaimana masing-masing kita mengenal peran sebagai orang tua kelak. 

Selain pertanyaan di atas, kita boleh menanyakan hal-hal lain yang dengan melalui jawabannya, kita cukup yakin meraba apakah dia orang yang Allah kirimkan sebagai jawaban doa-doa selama ini? 

3. Menjaga Ketaqwaan di Setiap Langkah 

Bagaimana bisa menuai berkah jika menjemputnya saja kita tak menjaga nilai-nilai ketaqwaan. Apa sih, ketaqwaan itu? Dari sekian banyak penjelasan, pada intinya taqwa ialah ketika seorang muslim takut akan murka Allah. Lalu dengan cara apa ia menjaga dirinya? Ittibaa'u awaamirihi wa ijtinaabu nawaahiihi, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 

Apa hubungannya dengan memudahkan kita menentukan keputusan? Jika Allah ridho akan perbuatan-perbuatan (mengikuti perintah dan menjauhi larangan-Nya), lantas apa mustahil Ia mencintai kita? Bahkan jika kita datang membawa tumpukan dosa Allah masih cinta sebab taubat kita. 

Ketika kita berusaha tuk membatasi komunikasi, bersikap baik meminta izin kepada orang tua atau wali, belajar hal-hal baru mempersiapkan pribadi lebih baik lagi, menjaga diri dari kelalaian-kelalaian meski sesaat, terus mendekat kepada Allah dan melibatkan-Nya. 
Selamat memaksimalkan ketaqwaan! 

4. Jangan Memaksakan Diri

Someone can be perfect, but is not perfect for you. Sebagai manusia, kita tidak salah menentukan kriteria pasangan hidup. Justru dengan adanya kriteria bisa membantu kita mengupayakan memilih yang baik. Tapi terkadang kriteria itu menjadi harapan atau bahkan delusi. Tak sedikit kita yang patah hati, malah minder ketika harapan tak bersambut kenyataan. Maka kita perlu kembali meyakini bahwa seseorang bisa saja kita anggap sempurna, tapi dia tak sempurna untuk kita. 

Lalu muncul pertanyaan apa kita tidak sempurna (dalam maksud lain: baik), sehingga kita tak disandingkan dengan yang menurut kita baik? Kualitas baik-buruk Allahu a'lam, Allah yang bisa nilai itu. Jika memang mutlak baik dengan baik serta buruk dengan buruk maka tak ada kisah tauladan Asiyah bersanding Fir'aun dan Nuh juga Luth yang diuji pasangan hidup tak berbakti. Sedangkan maksud pesan baik dengan baik dan buruk bertemu buruk adalah satu targhib (motivasi) tuk terus berupaya menjaga diri dalam kebaikan. 

Selain dari itu, tidak memaksakan juga berarti mencukupkan apa-apa yang kita rasa. If you don’t feel comfortable or attracted to him, that’s a good enough reason to reject. Memang, perasaan  tidak nyaman atau tertariknya kita bukan kemudian menjadi standar dia bukan pasangan kita. Kita perlu berdiskusi dengan hati, orang-orang terpercaya, dan tentu menguatkan musyawarah dengan Allah. Namun jangan memaksakan diri. 

Sebagian kita mungkin merasa tidak enak menolak. Apalagi sebagai perempuan. Lalu kita memaksa menerima ketidaktertarikan itu dengan alasan tak boleh menolak pria baik. Wah, padahal salah satu pesan Nabi tuk menerima tawaran pernikahan adalah baik agamanya dan kita suka dengan kepribadiannya. Anjuran tidak menolak orang baik pun bukan ditujukan pada kita, melainkan untuk wali kita. 

Semoga kita memiliki hati-hati yang stabil tuk meraba keputusan, ya. :)

5. Gunakan Waktu-waktu Ini untuk Lebih Mendekatkan Diri ke Allah 

Sebagaimana poin pertama dan ketiga. Kita tak bisa melalui hari-hari ini tanpa petunjuk Allah. Pernikahan bukan urusan ringan yang cukup diikhtiarkan dengan fisik atau perasaan belaka. Tapi kesiapan spiritual, intelektual, finansial, mental, sosial, menjadi setumpuk yang kita tahu, dalam perjanjiannya saja mengguncang Arsy langit. Ini urusan berat. 

Maka begitu naif jika di masa-masa menentukan keputusan kita malah lalai dan jauh dari Allah. Jika demikian, mungkin kita perlu kembali menanyakan sebenarnya apa tujuan menikah. 

6. Senantiasa Memperbarui Niat 

Menyambung poin sebelumnya, perihal menjaga niat agar tetap-semakin baik. Di awal kita sudah menyinggung pembicaraan niat ini. Hanya saja hati tercipta dengan sifatnya yang mudah berbalik. Mungkin di tengah jalan keinginan menikah kita menjelajah ke mana-mana. Maka terus memperbarui niat semoga menjadi penjaga yang menguatkan. 

Jika sebelumnya kita cukup memiliki tujuan menikah agar menjaga kesucian, tambah niatnya. Rancang capaian yang lebih luas. 

Berkolaborasi tuk memaksimalkan manfaat bagi sekitar, menambah silaturrahim, menjadi perkembangan peradaban, dan tentunya tujuan ibadah dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. 

Sebaliknya ketika di perjalanan kita melirik pernikahan sebagai ajang memewahkan acara, menaikkan gengsi, atau kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu, tepis segera lirikan itu. Perbarui kembali niat-niat kita. Semoga kesenantiasaan menjaga tujuan baik menikah semakin melapangkan hati dan pandangan kita tuk menentukan keputusan terbaik. 

Demikian enam poin kiat mudah membuat keputusan. Poin-poin di atas berinduk dari satu poster Productive Muslim yang kemudian penulis kembangkan penjabarannya. I hope this will give you clarity. Semoga catatan seadanya ini cukup mencerahkan ya. Yang sesuai moga menginspirasi dan yang tidak sesuai moga tak bermasalah. :D 

Best gratitude! :)

|| Jakarta, 120817 

Day 6 of #BlackFuturesMonth celebrates the Black Muslim community. This powerful poster was created by @snkhalifa.

The accompanying article was written by Miski Noor and can be read here: http://www.huffingtonpost.com/entry/black-muslim-futures-matter_us_589894fde4b09bd304bc5291

“My whole life is emblematic of what Black Muslims face in America on a daily basis: Erasure.”

#BlackLivesMatter

All these people on twitter saying that I didn’t hand out the muslims against hate posters… first of all I literally handed 400-500 of them until the racist that was the guard stopped me. Secondly, if some people didn’t look at me like I was some sort of alien disturbing their time in queue and/or completely ignored me, I would’ve probably given out more. Me and my friends spent time and money on these so don’t come to me saying that what we said was all bullshit, it would make no sense for me to lie about all of this. Many people apparently saw posters on the floor before entering the venue so… the only thing I can say is that I’m disappointed. It’s sad that you don’t care enough about poc/muslims, because to be completely honest, that’s what it was down to. We too, as the bumblebee project, were trying to bring a message in remembrance of the victims of the attack + an anti hate message.

That being said, I really really really hope somebody else can organise something for a show in the future and actually succeed in doing so.