mukae

Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali,maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan
—  Tere Liye

Pada hari Jumaat juga, Allah s.w.t mengutus para malaikat turun ke muka bumi. Di tangan mereka terdapat kalam emas dan kertas-kertas daripada perak, mereka juga berdiri dan menunggu di pintu-pintu masjid bagi mencatat nama-nama mereka yang hadir ke masjid dan mendirikan Solat Jumaat.

Apabila telah sempurna dan selesai Solat Jumaat, mereka kembali ke Araysh untuk menyembahkan hasil catatannya kepada Allah s.w.t dengan berkata: “Wahai Tuhan kami, kami telah catatkan nama mereka yang masuk masjid dan menunaikan Jumaat.”

Allah s.w.t berfirman: “Wahai MalaikatKu, demi kemuliaan dan kebesaranKu, sesungguhnya Aku telah ampunkan mereka, tidak berdosa sedikit pun.”

Wallahhu Ta'ala A'lam.

#thedaiegraphy #salamjumaat #abuhanifah #dakwahmudah

Beneran, Lelaki Ada yang Begini Lho

Dalam sebuah percakapan, seorang sahabat mengeluhkan kriteria istri idaman beberapa laki-laki yang pernah berproses (taaruf) dengannya. Baik laki-laki yang menurutnya anak masjid, maupun laki-laki yang menurutnya masih awam ilmu agamanya. (Maaf, saya tidak suka menggunakan kata ‘ikhwan’ untuk membedakan. Bagi saya, mereka semua ikhwan. Terserah orang mau bilang apa).

Kriteria yang membuat kami sama-sama bergidik ngeri adalah ini : mencari wanita yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan tetap.

Aih aih, setahu saya, kriteria ini pantas dituliskan oleh seorang wanita untuk lelaki idamannya. Sepantas ketika seorang lelaki menuliskan kriteria cantik dan menarik secara fisik yang dia idamkan pada sang calon istri.

Belakangan, kata si sahabat, kriteria istri idaman ‘punya pekerjaan dan penghasilan tetap’ ini merupakan trend di kalangan banyak lelaki. Baik yang awam ilmu agama maupun yang terlihat alim sekalipun.

Saya menutup muka. Saya mengernyitkan dahi. Tidak mengerti apa yang terjadi. Tidak tahu juga alasan mengapa laki-laki itu menulis demikian. Ya bebas sih Din, kan itu suka-suka mereka cari istri, kenapa lo yang ribut? Kata saya menegur diri sendiri.

saya dan sahabat adalah perempuan mandiri, kalau tidak mau disebut beringas. Tentu saja kriteria itu bisa kami penuhi jika ada lelaki yang mengajukan syarat itu. Jadi, jangan dipikir bahwa keheranan dan keberatan kami adalah karena kami tidak bisa melakukannya. Sungguh tidak.

Tentu saja, ketika suami membutuhkan bantuan finansial, kami dengan senang hati akan membantu, menyedekahinya. Tidak ada rasa keberatan. Tetapi, ketika itu dijadikan syarat untuk menjadi istrinya, rasanya kok aneh ya. Rasanya malah tidak ingin bersuamikan orang seperti itu.

Ini saya yang salah ilmu atau bagaimana ya, bahwa lelaki adalah pemegang tanggung jawab nafkah keluarga? Jika Islam saja tidak mewajibkan perempuan mencari nafkah bahkan hanya menghukumi mubah, mengapa manusia menjadikan itu kriteria wajib? Aneh sih bagi saya.

Karenanya, bagi saya pribadi, di satu sisi manis sekali sih kalau suami saya (nanti) menghendaki saya berhenti bekerja dan sebagai bentuk tanggung jawabnya dia yang berusaha mencari nafkah. 

Meskipun saya yakin bahwa saya tidak akan begitu saja bersedia berhenti bekerja, tapi it’s really nice if you know your husband want you stop work and focus on your family.

Yaaa, asal gak posesif lalu istrinya dikunci dalam rumah aja sih. :D


*Tambahan : di notes ada yang berpendapat bahwa ini adalah persiapan ketika si istri ditinggal suami. Ok, kalau begitu alasannya sih saya sepakat. Tapi bagi saya pribadi, kemandirian finansial seorang perempuan dapat dilatih oleh suaminya. Jika istrinya belum bisa mencari uang, suami dapat mendidiknya agar bersiap-siap ketika ditinggal pergi suami. Dan penghasilan serta pekerjaan pun tidak perlu tetap. Saya juga percaya sih, rezeki sudah dijamin sama Allah. Selama  si istri adalah perempuan terdidik untuk tegar, baik oleh orang tua, lingkungan, maupun suaminya, dia akan bisa survive sewaktu-waktu ketika harus berdiri sendiri.