mufti zimbabwe

kapasitas dan ikhlas. (muhasabah ramadan 1436 h)

Ibu-ibu: “Ibu mah nggak kayak yang soleh-soleh. Ibadahnya biasa aja..”

Ai: “Bu. Dengan ibu mau bertahan setelah disiksa sekian lama sama keluarga ibu, itu ladang amal Ibu. Nggak kalah hebatnya kok dengan yang ibadahnya luar biasa…”


Begitu dialog antara Ai, teman seperdangdutan saya, dan seorang ibu yang disiksa oleh keluarganya sekian lama. Entah suami entah siapa, saya lupa. Spesifiknya disiksa seperti apa, saya juga khilaf.

Mojang asal Subang yang satu ini bekerja di shelter perlindungan perempuan dan anak. Hari-harinya diisi oleh keluhan luar biasa dari istri yang disiksa suami, bocah belia yang dilecehkan secara seksual, korban perdagangan manusia, dan lain sebagainya.

Sebagai perempuan yang beraktivitas di masjid kampus, saya bagai tinggal di menara gading. Lingkungan cukup kondusif. Bahasa-bahasa kotor teramat jarang berkeliaran di sini.

Maka, kisah-kisah yang biasa Ai bagikan membuat jiwa saya terbelalak. Pada akhirnya, hati ini hanya baru bisa membatin: “Dunia Tak Seindah Masjid Salman”. Hehe.

Sebagai perempuan yang beraktivitas di masjid kampus pula, tentu standar ideal “saleh” terbingkai secara tak sadar dalam otak.

Saya—si anak metal masuk masjid–  sempat dibuat minder oleh Akang-akang dan Teteh-teteh yang hafalannya banyak, tahu banyak dalil-dalil, suara bacaan qurannya merdu, khazanah pengetahuan Islamnya luas, ibadah sunah nafilahnya rajin, dan lain sebagainya.

Saking insecure-nya—saya pun mencoba ‘mengakselerasikan’ diri. Saya ikut program tahfizh. Saya coba mengaji satu juz perhari. Saya coba qiyamul lail rutin. Saya baca tafsir. Bahkan saya sempat terpikir—apa gue nyiapin diri buat kuliah di Timur Tengah ya jadi ustazah? Hehe.

Walhasil, bukannya tambah baik, yang ada saya tumbang. Akselerasi yang saya lakukan bukannya mempercepat, atau bahkan melambat, tapi malah terhenti.

Anaknya terlalu banyak mau, namun apa daya kapasitas tak memadai. Belum lagi, ada salah niat dalam hati: supaya dilihat tidak kalah saleh oleh yang lain.

Di Ramadan kali ini, sunatullah yang sama berulang. Saya pasang banyak target, namun hasilnya tak begitu memukau. Akhir Ramadan pun cenderung kering. Phew.

Uniknya, saya diingatkan oleh Bang Adriano Rusfi soal “target yang memfokus”. Dalam wawancaranya dengan salah satu rekan Salman Media, alangkah lebih baik jika dari Ramadan ke Ramadan kita membuat tema tersendiri.

Seperti “Ramadan 1436 H Tidak Tidur Setelah Subuh”, atau “Ramadan 1437 H, Nulis Satu Puisi Per Hari”, dan sebagainya. Intinya, tiap Ramadan milikilah tema yang fokus. Bertahaplah sesuai kemampuan kita, begitu sarannya.

Kembali lagi pada soal Ai dan ibu yang disiksa, saya kembali diingatkan oleh ayat Al-Baqarah ayat 286. “Allah menguji setiap orang sesuai dengan kemampuannya…”

Kemudian ada lagi hadist yang sudah cukup terngiang di kuping, namun seringkali saya abai. ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

Kemudian ulama besar Zimbabwe, Mufti Menk, bilang begini “There are people who might not appear to be the best of Muslims, but their struggle to gain the love of their Maker is far greater than those who may appear to be the best of Muslims.”

Terkadang, yang nampak memang jauh lebih mentereng dibanding perjuangan di baliknya. Kapasitas masing-masing untuk berjuang tentu memiliki kemampuan berbeda-beda.

Namun, karena penilaian manusia cenderung memerhatikan pada yang nampak—alhasil kita pun sering mengabaikan apa yang dinamakan kapasitas.

Contoh saja—misal saya merasa lebih saleh ketimbang tetangga saya tidak pernah salat rawatib setelah salat. Padahal—kapasitasnya sedang fokus digunakan agar salat fardlunya rutin dahulu.

Belum lagi si tetangga saya itu harus bekerja untuk menanggung beban lima orang anak. Dan kecintaannya melakukan itu atas dasar mencari ridha Allah—jauh lebih besar dibanding saya.

Atau—saya ingin buru-buru bisa hapal tiga juz dalam satu tahun seperti teteh yang itu tuh. Tapi nyatanya itu hanya hawa nafsu ingin tergesa-gesa—tanpa teliti memerhatikan kapasitas saya. Atau karena malu dilihat cemen oleh yang lain.

Atau justru saya malah melemahkan kapasitas saya, misal dengan tidak mau menghafal Alquran sama sekali.

Teringat pula kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad SAW yang mulia. Tentang bagaimana Rasulullah menjamin seorang Arab Badui masuk surga—hanya karena ia rutin memaafkan saudara sesama muslim tiap malam sebelum tidur. Sesederhana itu.

Ada pula ‘Amr bin Ash—yang up-and-down perjalanan hidupnya doyan saya bagikan pada teman. Ia mengajarkan kepada saya bagaimana tidak berputus asa atau tidak minder untuk kembali berislam—seburuk apapun kondisi kita.

Bagaimana tidak? Sudah tergolong sebagai sahabat yang ‘telat’ masuk Islam, punya anak yang ibadahnya jauh lebih banyak secara kuantitas (Abdullah bin Amr bin Ash), pernah berstrategi dengan Muawiyah bin Abu Sufyan untuk menyerang Ali bin Abi Thalib (padahal sudah masuk Islam) karena tergiur kekuasaan di Mesir, dan sebagainya.

Namun, di akhir hayatnya— sembari bersimbah air mata– masih sempat ia mengucap laa ilaha ilallah. Kepada yang menghadiri sakaratul mautnya, ia pun membeberkan kisah hidup up-and-down-nya itu.

Masya Allah. Dialah Allah, yang maha mengetahui kapasitas tiap-tiap hamba. Allah mengetahui keikhlasan masing-masing hamba. Baik si ibu yang mengaku disiksa keluarganya, Akang-akang dan Teteh-teteh master hafal quran, dan tak terkecuali saya.

Ya Allah, ya Rabb, ya Rahim, jadikanlah kami adalah hambaMu, yang selalu menyambut ayat-ayat (isyarat-isyarat) kebenaran dari-Mu, bagaimana pun kondisi kami.

Jangan biarkan kami berputus asa untuk memperbaharui keislaman kami– walau kapasitas kami tak seberapa, walau kami telah sekian jauh tergelincir merasuki jurang jahiliyah.

Tumbuhkanlah kecintaan yang begitu mendalam kepada-Mu di hati kami sepanjang waktu– sehingga amal saleh sederhana yang kami lakukan bernilai begitu berharga di mataMu.

Aamiin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1346 H
Taqaballallahu Minna Wa Minkum.

Mohon maaf atas segala khilaf, jikalau berkenan.
Mohon japri saya jika diri ini ada hutang, baik lahir maupun batin. :)




*Foto-foto kejepret tangan sendiri.
Ilustrasi juga.