mereda!

Aku rindu (kita).
— 

Pada percakapan-percakapan yang entah apa lalu menunda kantuk hingga tak sadar jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Mencari-cari topik agar percakapan tak berhenti secara percuma demi mereda rindu yang tak kunjung usai.


Aku rindu kita.

khotrunnada  asked:

Kaka gmn cara mereda rasa cemburu? *bukan dalam soal kekasih aja*

orang beda-beda ya dalam mengatasi rasa cemburu. kalo aku ya gampang aja. ngomong dalem hati “sabar. sabar. sabar”. walaupun rasa cemburunya gaselalu teratasi, paling ngga ya udah berusaha buat ngga cemburu.

The Turning Point (Part I)

( @tunnel-hydra-fr it begins!)

General Lore pings: @tackysnaps @fr-lutielle @cityofinoue @fr-owlistuff @shadowdrac-rising @tacticianlyra-fr @mirrorseveryday @thewindbloom @magikarprising @arctic-rising @gardenweyr @frxemriss @moon-eye-dragon and tagging @lady-innocence for someone making an appearance~)

Note–if you want to be removed/added to my General Lore pinglist, just shoot me a message!

++++++++++++

Ryn woke with a start.

It was night, as his den was completely dark. And, as per usual, it was empty. Since Cynfair disappeared with Mereda, his den had always been empty. The only things there to keep him company were haphazard stacks of books and scrolls for his reading pleasure. He had some perks, being the clan’s librarian and all.

But something woke him up…and it bothered him enough to get up off of his bed and look around. His antennae quivered, as did his crest. He felt something…that’s what woke him up. It wasn’t a sound, or anything else…but a feeling. Being a Skydancer, he’d been able to sense emotions from everyone around him anyways, though he managed to become numb to it, unless someone’s emotions spiked to a ridiculous degree. But this…this was something different.

For the feeling that woke him up was of utter regret, guilt, and a longing for forgiveness.

Keep reading

kecewa
—  Aku enggan menyapa bukan berarti aku betah berlama-lama tak menghubungimu. Hanya saja, sudah habis segala rasa. Sudah tak lagi ada kesempatan. Pupus, sirna, bahkan lenyap sudah segala pengharapan. Kau tahu penyebabnya ? Ada janji yang dengan mudahnya kau lupakan. Aku tidak butuh maaf, sama sekali tidak. Setiap kita memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan. Dan aku, bukan seseorang yang ingin terus menerus menyalahkan sikap maupun keadaan. Aku diam ketika segala janji terpatahkan, tapi sayagnya dibalik diamku ada segelintir rasa yang enggan mereda. Hasilnya, bisa kau lihat sendiri pada perubahan sikapku. Jadi, bisa tidak usah berjanji apa-apa padaku ?

Menulis bukan untuk membuat orang lain suka, melainkan membuat beban atau segala pikiran yang tak sempat dibicarakan dapat tertuntaskan. Meski berbeda media, meski belum tentu sampai kepadanya. Setidaknya gundahmu mereda.

The Turning Point (part II)

(General Lore pings: @tunnel-hydra-fr @cityofinoue @tackysnaps @fr-lutielle @fr-owlistuff @shadowdrac-rising @tacticianlyra-fr @mirrorseveryday @thewindbloom @magikarprising @arctic-rising @gardenweyr @frxemriss @moon-eye-dragon @gainstrive the boy you gave me awhile back has a big part again!)

If you’d like to be added/removed from the pinglist, just shoot me a message!

- - - - - - - - - - -

“Cynfair has returned, and has been captured.” started Yomigami, reading through his report, “He did sustain injuries from the clan’s guard, Azhi, but is recovering under Jay’s and Maelgwyn’s care. Mereda has yet to be found, but she has not come for Cynfair, leading to the conclusion that she no longer cares for him…or they broke up, before Cynfair came back to the clan.”

The Imperial looked up at the other dragons that were gathered. After Cynfair had returned a few nights ago, the clan was bustling with activity and rumors. Wanting to set things straight, Khan called a meeting…which was why they were all there.

“Jay, how goes Cynfair’s treatment?” asked Yomigami, looking over at the Imperial.

Keep reading

Larik Pendek Dalam Doa

Ah…, sajak ini, mengingatkanku pada aroma parfummu yang meruap pada tiap sudut sunyiku.
dan jika malam ini ada detik waktu yang ingin bicara tentang masa lalu, itu pasti dari detak jantungmu.

Sedang di luar sana, hujan belum juga mereda;
seperti luka yang dibiarkan kesepian tanpa cinta, hingga wajah kita membeku dalam duka.

Serang, 5 Januari 2017
__________
Selamat memejamkan mata, selamat bercinta dalam Doa.

Some more facts about Malachias here:

  • He’s the clan’s bounty hunter, but he mostly operates on his own schedule. If it’ll benefit him, he’ll take the job. Right now, his main task is finding Mereda, and bringing her location back to the clan.
  • His Gembond glows in the dark, like the Fungi in the Tangled Wood.
  • He also has the ability to travel through Shadows. He can melt into them, and so long as there’s shadows in a place, he can travel from one shadow to the other, allowing himself to remain completely hidden. Though sometimes his glowing Gembond gives him away, though that’s happened very rarely.
  • He’s under constant watch from Anput, who claims that it was Malachias that brought Heolstor and the Shade to the clan, during the huge attack. He vehemently denies it, saying he was just traveling through the Shadows as normal, and Heolstor spotted him. For once, he didn’t provoke anyone.
  • Despite this, Anput wants him punished somehow, and constantly keeps an eye on the Mirror.
  • He’s frienemies with Fysher. He constantly makes fun of her mercenary job, and in return she makes fun of his bounty hunter job. The two are always bickering with one another.
  • He’s also always seen with a collar and a chain around his neck. He refuses to talk about it, and it’s a risk bringing it up around him.
  • His personality is similar to Hades from the Hercules movie. Y’know. This guy

Originally posted by tenaage-slut

He also has a cool headshot from @gainstrive!

With certain clan events happening, it’s his time to shine!

Memanggil

Bersaksilah langit ke atas linangan air mata itu. Jatuhnya ke pipi sedetik hujan bertemu bumi. Perihnya jatuh tenggelam ke dalam lubuk hatinya melihat perginya insan yang ia kagumi dalam diam, sayangi dalam diam, teladani dalam diam.

Kini mencipta jarak di antaranya. Mendayu melankolis dalam batas sepi, mencoret beberapa bait kata hanya untuk secercah pusi, sampai sesekali bersenandung lirih di bawah cahaya rembulan demi mereda rindu.

Karena ia, cuma seorang perempuan. Yang hanya bisa menanak rindunya dengan hal-hal sederhana dan sepi. Habis tempat untuk memendam rindunya selain perasaan diri sendiri yang telah rapuh tercabik semalam.

Karena ia, cuma seorang perempuan. Yang hanya bisa menangis tanpa punya alasan apa-apa lagi. Entah alasan untuk mengembalikan yang seharusnya pergi, atau alasan untuk menahan air matanya yang terlanjur basah di merah pipinya.

Karena ia, cuma seorang perempuan. Bukan bidadari. Kini ia bersimpuh dan bangkit. Demi Dia, yang ia panggil — Tuhan.

Jogja, 2 Juli 2016 | Seto Wibowo

PERHATIAN!
Jika kamu merindukan seseorang, jangan sekali-kali kamu membaca ulang percakapan lamamu dengannya, jangan sekali-kali kamu melihat galeri foto dan video narsisnya ataupun foto dan video kedekatanmu dengannya, juga jangan sekali-kali kamu mendengarkan kembali rekaman suaranya. Karena barusaja aku melakukannya, dengan harapan rindu ini mereda. Namun pada akhirnya rindu ini malah semakin menggila, dan aku kewalahan dibuatnya.
Hati-hati Menciptakan Rindu

Rindu kadang berbahaya. Ia bisa saja meneduhkan, tapi bisa saja membuatmu sekejap basah kuyup seketika. Ia pun dapat menghangatkan, tapi bisa saja membuatmu seketika menggigil dikoyak sepi.

Tidak ada rindu yang lebih indah selain rindu yang telah terobati. Jika tidak, ia akan menjelma menjadi sembilu, mengiris-iris perih perasaan hingga rindu itu mereda. Karena rindu adalah persoalan menahan perih, hingga obatnya datang membasuh.

Rindu kadang berbahaya. Ia akan selalu melekat, meski kita tidak sedang mengingatnya pun ia akan tetap terbaca di hati, selamanya.

Maka, berhati-hatilah dalam menciptakan rindu. Terutama laki-laki. Karena perempuan begitu mudah hanyut oleh perasaan mereka sendiri tanpa mengira-ngira. Jangan sampai membuatnya sakit menahan rindu, akibat kehilangan tempat untuk mengadu rindunya.

Karena rindu, sulit untuk dihapus.

Bogor, 28 Juni 2016 | Seto Wibowo

Lima atau Sepuluh Tahun Mendatang

Entah lima atau sepuluh tahun lagi, di malam pertengkaran panjang dengan istrimu, kau mungkin akan mengingatku. Tentu saja kita telah lama menjadi sebuah sejarah. Kita tak lebih dari dua pemeran utama sebuah cerita singkat di masa lalu.

Di lima atau sepuluh tahun lagi, mungkin namaku akan melintas di ingatanmu. Dan itu membuat pertanyaan beranak-pinak di kepalamu yang sedikit mulai botak. Kau mulai membayangkan bagaimana rupaku saat ini, kau mulai menebak-nebak mimpi apa saja yang telah kuraih dan di kota mana kini aku tinggal.

Di lima atau sepuluh tahun lagi, ingatanmu mungkin akan bergulir ke beberapa waktu silam. Gambaran tentang aku dan kau yang tengah jatuh cinta membuatmu menarik nafas panjang. Kau tidak sadar bibirmu menarik senyum kecil. Dan seketika saja emosi karena pertengkaranmu sedikit mereda.

Di lima atau sepuluh tahun lagi, aku yang entah ada di mana, bersuami atau masih sendiri mungkin juga akan mengingatmu kembali. Menyusuri tiap ingatan yang mungkin sedikit kusesali dan diam-diam kuharap tak pernah diakhiri, entahlah.

Akhirnya kau menyadari bahwa kau tak ingin istrimu menjadi hanya sebuah cerita yang akan kau ingat di lima atau sepuluh tahun lagi. Dengan ego yang kau telan bulat-bulat, bibirmu akan mengucap maaf terlebih dahulu.

Aku telah memberimu pelajaran.

Dan ingatlah, aku mungkin masih akan mengingatmu di lima atau sepuluh tahun mendatang.

Puisi: Aku Bukan Kamu, Tapi...

Aku sih bukan-kamu
Jadi jangan samakan aku dengan catatan-sederhana yang kamu buat itu
Jika kamu punya sebuah-cerita cinta, aku hanya punya coretanbiasa
Bukan, bukan coretangaje, juga bukan coretandona,
Ini coretan yang sangat biasa tapi menyimpan sejutamakna

Aku sih bukan-kamu
Yang lebih suka tersenyum-melihat-langit senjadikotatua
Aku malah lebih suka mengharappelangi setelah hujanderas mereda turunnya
hujanmimpi yang ku harap si nonapelangi akan muncul setelahnya

Aku sih bukan-kamu
Seorang pengamatlangit yang menunggu dengan lekat semburat-langit-sore
Aku hanya pengagumsemesta yang setiap harinya menunggu dedaunanembunpagi
Aku hanya seseorang pengagum aroma petrikordipagihari

Aku sih bukan-kamu, tapi…
Jika kamu penyukasenja, dan aku perinduhujan
Barangkali kita bisa bertemu di hujanwaktusenja
Agar bisa kita nikmati bersama indahnya aura pelangi-senja
Hanya berdua, ini duniakitasaja

Boleh kan?!

29 September 2015
Bukan Kamu

cc: tumbloggerkita karenapuisiituindah