merampas

Titian Takdir Penuh Kasih

Kita sering mengalami saat hal-hal yang kita impikan sejak lama masih belum saja tampak seperti segera terwujud, kemudian kita berpikir Allah tidak akan pernah mengabulkan permintaan kita.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar sabar, untuk belajar bagaimana mengerti akan istimewanya sebuah impian.

Sebab, dalam impian yang tak jadi, ada penantian yang kadang terasa berkepanjangan, ada pendirian yang harus selalu diteguhan, serta ada keputusasaan yang selalu ditunda.

Kita sering mendapati usaha-usaha yang telah lama kita perjuangkan tidak selalu membuahkan hasil yang kita harapkan sejak awal kita niatkan dalam hati, kemudian kita berpikir Allah tidak pernah adil memperlakukan hamba-Nya.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar ikhtiar, untuk belajar bagaimana memahami akan hebatnya sebuah kerja keras.

Sebab, dalam hasil yang mengecewakan, ada pahit yang ditelan bulat-bulat sendirian, ada kepedihan yang disembunyikan dalam-dalam, serta ada peluh yang terjatuh tanpa tersadar.

Kita sering kehilangan sesuatu yang kita jaga sepenuhnya, bahkan seseorang yang begitu kita sayang, dan saat kita kehilangannya, kemudian kita berpikir Allah begitu kejam merampas kebahagiaan kita.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Lebih dari itu, Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar ikhlas, untuk belajar bagaimana mengerti akan berharganya keberadaan sesuatu, bahkan kehadiran seseorang saat ia masih ada.

Sebab, dalam kehilangan yang menyedihkan, ada kesedihan yang ditimbun terlalu lama, ada hati yang berubah merunduk setiap harinya, serta ada air mata yang menetes tiap malamnya.

Kalau saja kita memandang tiap-tiap yang menimpa kita sebagai ujian, kita bisa saja memilih berpikir bahwa Allah nyatanya melihat kita jauh lebih kuat dari yang lain.

Maka mungkin benar, hanya mereka yang begitu dekat kepada-Nya yang mampu merasakan, bahkan menerima dengan lapang pada apa- apa yang terjatuh di pundaknya.

Barangkali kita memang tidak perlu cemas, sebab Allah selalu menyisipkan kekuatan pada setiap langkah dalam titian takdir yang telah ditetapkan.

Bogor, 13 Mei 2017 | Seto Wibowo

Dulu, setiap puasa selalu menyempatkan buka puasa bareng setiap tahun, minimal sekali. Semakin hari berlalu, kesibukan dan tantangan hidup. Jarak dan pekerjaan semakin banyak. Rantau jauh dan hari-hari merampas banyak hal. Kadang, kita tetap harus saling tersenyum, meski tidak lagi sempat berbuka puasa bersama. Setidaknya, persahabatan selalu ada, selalu berkabar, meski tak lagi bertemu muka. Ia bertemu dalam jiwa.

–boycandra

Sampaikan

Bisakah kau menyampaikan salam kepada lelaki yang selalu terlihat mempesona dihadapan para perempuan yang mendahulukan perasaannya ketimbang imannya itu?

Bisakah kau menyampaikan salam kepada lelaki itu?

Lelaki yang selama ini berhasil menyita waktu-waktuku, hari-hariku. Lelaki yang berhasil membuat riuh kepalaku. Lelaki yang dengan biadabnya merampas hatiku.

Bisakah? Bisakah kau menyampaikan salam kepada lelaki itu?

Yang memberi atau tidak memberi, ia selalu juara pertama menjadi yang paling utama menumbuhkan semangat-semangat. Melahirkan kupu-kupu rindu yang terbang elok pada taman hati. Yang telah menjadi kenangan-kenangan abadi pada setiap musim–setiap waktu.

Bisakah kau menyampaikan salam kepada lelaki itu?

Yang tatapan-tatapan sejuk kedua bola matanya telah berhasil menembus relung hati terdalam, yang senyumnya terlalu indah untuk dinikmati, yang menciptakan ruang resah dan gelisah tanpa harus melakukan apapun kecuali hanya dengan mengingatnya saja.

Bisakah kau menyampaikan salam kepada lelaki itu?

Yang canda recehnya masih menyisa, yang kebaikan-kebaikannya masih melekat dalam ingat, yang langkah-langkahnya menujuku masih menjadi harap-harap semu.

Sampaikan salamku bersama deret kalimat-kalimat ini.

Tanyakan: bisakah ia dengan seluruh hati meluruhkan cinta-cinta, juga rindu-rindu yang belum sampai pintunya? 

Sampaikan: tolong untuk tinggalkan aku jauh-jauh. Untuk aku yang ingin menyibukkan diri mencari ilmu. Sebab kata guruku, mencari ilmu tak akan ada kebaikan-kebaikan didalamnya jika masih diwarnai dengan rayuan-rayuan fana dan wawangian-wewangian cinta yang belum sampai pada waktunya.

milik

“The world is a vehicle for you. If you drive it, it will deliver you to your destination. If it drives you, you will be destroyed”

Ada kalimat menarik dari buku terakhir yang saya khatamkan. Bunyinya, “Kita merindukan sosok semacam Abdurrahman bin Auf maupun Ustman bin Affan radhiyallahu‘anhuma yang kaya raya. Tetapi mereka bukanlah orang yang haus harta dan sangat bersyahwat terhadap dunia. Mereka kaya sebagai akibat, bukan tujuan”

Bukan tujuan. Ya, baris penutup memuat pelajaran tersirat agar kita menjemput rejeki dengan sebaik-baik niat dan cara. Nyatanya, kita tau segelintir orang yang dikendalikan obsesinya untuk menjadikan kekayaan sebagai tujuan akhir dan menghalalkan segala cara demi mencapainya. Yang penting kaya. Titik. Merampas hak orang lain, menipu konsumen atau merusak lingkungan dianggap sebagai “biaya” tak kasat mata yang memang harus dikeluarkan. Tujuan yang mereka buat, tuntas mematikan rasa, meniadakan etika dan membutakan mata.

Sebaliknya, pikiran selayaknya dua sosok mulia yang namanya tertulis di awal, berisi anggapan bahwa kekayaan adalah tambahan bekal untuk perbuatan-perbuatan baik berikutnya. Urusan rejeki enggak gampang bikin mereka baper karena memang kadarnya udah ditakar dan enggak mungkin tertukar. Penambahannya enggak membuat jumawa, pengurangannya juga enggak membuat nestapa. Kepunyaan atau ketidakpunyaan enggak bikin si empunya ngerasa harus memperlihatkannya ke khalayak.

Kalau Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah bilang, “When there is money in your hand and not in your heart, it will not harm you even if it is a lot; and when it is in your heart, it will harm you even if there is none in your hands”.

Jadi jangan heran kalau ngeliat pekerja keras yang karakternya apik, sederhana dan enggak kemaruk. Mungkin, rejeki atas kecermatan mereka datang dalam bentuk kesehatan, keselamatan, kelancaran atau ketenteraman. Kalau kata sahabat saya, gaji dan rejeki itu dua hal yang berbeda. Gaji dijemput dengan kerja, rejeki dijemput dengan takwa. Untung, tanggung jawab atas perkara menghidupi-hidup melampaui usia kita di dunia. Dengannya, kita punya pengingat jangka panjang setiap kali berurusan sama pendapatan.

Betapa meruginya mereka yang memperkaya diri lewat cara-cara yang penuh pelanggaran. Tujuan untuk sebatas berharta melimpah mungkin tercapai. Tapi, akan ada dahaga yang enggak pernah tercukupi pada diri mereka karena gersangnya keyakinan. Ketenteraman yang didamba-damba enggak kunjung datang dan mereka terus terjebak dalam ketidakcukupan yang tak berujung. Sungguh betapa sayangnya hasil yang diperoleh dari mengorbankan kesementaraan untuk sebuah keabadian.

Tapi, bukan berarti bertujuan jadi kaya itu salah. Tentu enggak salah kalau kelebihan itu bisa jadi kendaraan untuk kita meneruskan dan menghidupkan lebih banyak kebaikan. Urusan utamanya bukan semata-mata jadi kaya, tapi juga melaju dengan berbekal ilmu dan iman supaya enggak ada hak yang terlanggar dari langkah yang dipijak. Kalau kekayaan datang sebagai akibat atas saldo kebiasaan baik, maka tentu ia bersebab dari amal-amal yang hasan.

Cermati kewajiban-kewajiban, karena di baliknya ada hak yang enggak boleh luput ditunaikan. Cermati tahapan-tahapan, karena nilai sebuah ketercapaian juga bergantung pada pelaksanaan.

Dengan menempatkan tujuan lebih jauh dari kesementaraan, kekayaan bisa menjadi akibat. Maka, dari mana datangnya setiap akibat baik kalau bukan dari-Nya? Di balik kerendahan hati mereka yang kaya karena akibat, biasanya turut hadir kesederhanaan untuk mengambil bekal secukupnya dan menggunakanya demi sebaik-baik alasan aja. Dalam hati mereka, bersemayam keyakinan bahwa dari setiap peser harta yang dipunya akan dipertanyakan dengan cara apa ia terkumpul dan kemana ia pergi.

Jangan sekali-kali merampas isi kepala orang lain. Hargai apa yang Ia tuliskan, hargai apa yang kau kutip. Media sosial tumblr ini menyedian fitur reblog yang cukup santun untuk mengutip tulisan orang lain, tidak menyediakan fitur copy paste.

Anak kesayangan papa days ( @jendelamerahjambu)

Selamat berulang waktu.
Tangismu pecah 19 tahun lalu. Suaramu merampas segala keheningan ayah ibumu. Segala harapan tumbuh, suatu kebahagiaan yang tak pernah terukur dan terukir sebelumnya. Kini, perempuan mungil itu tumbuh dewasa. Semoga mendewasa dengan sopan santun, penuh empati dan rasa menghargai. Semoga bakti dan prestasimu mampu menjawab doa-doa kedua orang tuamu. Tangismu adalah tangis mereka, tawamu adalah tawa mereka. Berikanlah yang terbaik, selagi keduanya masih bisa melihatmu. ( @ibnufir )

Pada 19 tahun silam, pecah tangismu pertama kali yang diiringi tangis haru ayah dan ibumu. Rasa-rasanya baru saja kemarin ayahmu mengumandangkan adzan di telingamu. Hari ini, 19 tahun berlalu. Telah cantik parasmu disertai santun akhlakmu. Selamat menempuh usia yang baru. Semoga setiap langkahmu senantiasa diiringi berkah. Setiap doa diijabah oleh-Nya. Setiap cita menjelma nyata. Semoga kebaikan dan kebahagiaan tak henti menghampiri. Dijauhkan dari segala ketidak baikan. Semoga rencanamu senantiasa sesuai dengan rencana-Nya yang sama baiknya. ( @rizadwi )

19 mungkin hanyalah angka, namun lihat makna itu. Bahwa Tuhan masih mengizinkanmu tuk menjalani hidup dengan segala kesempatan yang bisa kaudapat. Bahwa kaujuga hebat, akan segala hal yang mampu kaulalui, hingga angka itu maju kehitungan selanjutnya, selamat menikmati bertambahnya angka dalam usia. Semoga kebaikkan, kebahagiaan selalu menyertai tiap langkahmu. ( @risnasanbe )

Selamat hari lilin 👻
Apa ini, jangan mengharap puisi
Aku tidak pernah ahli.
Bagaimana dengan doa yang mengudara.?
Semoga setiap harimu selalu bahagia
Semoga diberikan oleh Allah semua yang terbaik untukmu
Semoga 19tahun yang berlalu dapat dijadikan pelajaran diwaktu selanjutnya
Tetaplah menjadi wanita, tetaplah menjadi seorang anak untuk papa dan mama, dan tetaplah menjadi kamu.
Sekian dan terima pelukan 👻 ( @biashujan )

Hari ini genap 19 tahun sudah usia anak kesayangan papa. Semoga hari ini menjadi pertanda bahwa kamu telah dan harus mulai beranjak dewasa. Sebab 19 tahun bukan apa-apa jika kamu tak ma(mp)u memaknainya. Apa yang kamu lakukan sekarang tentu sebuah cerminan dari kamu dimasa lalu dan kamu yang akan datang. Maka janganlah terlena dengan sebuah perayaan sebab itu artinya jatah hidupmu di dunia telah berkurang. Pun tak usah bersedih lantaran kehilangan jatah usia bukanlah hal yang merugikan. Bisa jadi itu adalah cara Dia mempersempit kesempatanmu untuk menjadi sebab yang tidak baik bagi orang lain. Dan bersyukurlah sekuat tenaga karena kamu pernah menjadi sebab baik bagi mereka di sekitarmu. Bersabarlah menanti kebaikan itu pulang padamu. ( @duatigadesember )

Dear anak kesayangan papa … Selamat bertambah usia. Semoga tidak hanya menjadi kesayangan papa tapi juga kesayangan (si)apa pun yang mengenalmu.
Kita tahu, 19 tahun bukan waktu yang singkat untuk mengenal pun merasakan berbagai perayaan hidup, maka jadikanlah itu sebagai pedoman untuk langkahmu selanjutnya.
Berbahagialah kamu atas hidupmu,
Berterimakasihlah pada malaikat yang kau sebut mama dan papa,
Bermanfaatlah untuk (si)apa pun,
Jadilah manusia yang tak pernah luput dari rasa syukur ….
Selamat 19tahun usiamu
Bersama ini kulangitkan doa baik serta peluk untukmu. Semoga Tuhan lantas menyampaikannya kepadamu. ( @gelangkaret )

Aulia Nurkarima Jais, doa luar biasa yang dihaturkan oleh kedua malaikatmu. Kala itu, tangis pertamamu menjelma menjadi sebentuk rasa syukur paling luar biasa untuk mereka. Semesta bergembira, menyambut kehadiranmu yang suci tanpa cela. Kini, tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Anak gadis yang dilabeli “kesayangan papa” telah bertambah dewasa. Bilangan prima ke-8, ya … 19 adalah angka yang melambangkan usiamu sekarang. Selamat mendewasa, kutitipkan salam dan asa yang kurapal lewat doa, semoga kamu selalu dilingkupi bahagia. Semoga ribuan hari yang lalu dapat kamu jadikan pengalaman berkesan, dan jutaan hari selanjutnya menjadi sebaik-baik harapan. Barakallah fii umrik, Ulil 😚 ( @hujankopisenja )

Selamat ulang tahun Aulia. Semoga indahnya kota Malang menjadikan doaku media. Bahwa meski usiamu sudah tak lagi belia, hatimu kan terus lebih indah dari dahlia. I wish you all the best. God bless. ( @tutyevelina.blogspot.com)

Rumpun Aksara, 11 April 2017

Melalui Retinamu

Masih terekam sangat jelas di ingatanku, betapa malam itu begitu hebatnya mengoyak perasaan. Semua terlihat sayu. Anak tangga, batu kerikil, kursi taman itu. Semua seolah mengasihaniku, semesta menjadi saksi atas hancurnya aku. Ya, ini masih tentang kepergianmu.

Kau bilang, kapasitas kita hanyalah mampu berencana. Selebihnya, tangan Tuhan yang mengambil alih. Kau bilang, hak kita hanyalah mencoba, hasil akhir Tuhan yang punya kuasa. Bahkan mereka-reka pun tak ada guna, katamu. Bagaimana bisa hanya sebatas itu? Kita pernah bahagia bersama, maka naifkah jika aku beranggapan rindu yang lancang ini hanya kita yang mampu menuntaskan?

Kita sudah berencana, kita sudah mencoba. Lalu apa? Menerima hasil akhir; mendengar kenyataan dari bibir manismu bahwa terus bersama akan menambah luka di relung hati kita? Berkali-kali kau berkata, kau cinta tapi tak akan bisa.

Lalu, harus berkali-kali pula aku berjanji untuk menyerah? Membohongi hatiku sendiri bahwa aku berhenti mencintaimu padahal kenyataannya rindu itu selalu memberi tahu kemana arahku harus kembali menjatuhkan harapan; kamu?

Kita tidak lagi bersama dalam satu waktu, namun kau masih saja berkeliaran di sekitarku. Metamorfosa—kau menjelma nyata melalui kabarmu, senyuman bahagiamu bersama seorang yang lain, apa-apa yang kau lakukan sesaat setelah matamu dibangunkan matahari di waktu pagi hingga matamu tersapa malam dan mulai merebahkan lelah pada mimpi-mimpi. Lalu, kini siapa yang tak tahu diri? Metamorfosamu atau rinduku yang tak pernah mau mengerti?

Kenapa kau masih disini? Kau takut kehilangan penggemar, begitu?

Katamu, aku harus berjalan melanjutkan hidup. Berusaha merelakanmu sebisa yang aku mampu. Sedangkan kau tau kelemahanku. Kau merampas habis semua kemampuanku untuk tetap berdiri, berjalan tanpa pengganti. Lalu,bagaimana jika mencintaimu pun hingga kini masih menjadi bagian dari alur hidup dan tetap mengalir di setiap detik aku bernafas? Bahkan telinga-telinga itu, mata-mata itu sudah bosan mendengar dan melihatku terus bercerita—coletahan tentangmu yang bagi mereka membuatku terlihat begitu bodoh karena rela membuat luka di hatiku sendiri.

Dulu, melihatmu adalah satu alasanku pada semesta mengapa aku harus  bahagia. seolah tidak akan terganti. Seolah kamu pertama—satu-satunya. Mengetahui kabarmu adalah salah satu caraku untuk tersenyum dan mengatakan pada semesta bahwa ini alasanku beberapa waktu terakhir mencoba merayu Tuhan. Memberanikan diri bertaruh dengan waktu dan keadaan meski sudah terlalu banyak pertanda akan hadirnya luka. Namun, semesta jauh lebih pintar dari yang kukira. Aku lupa, sepertinya aku terlalu besar kepala untuk bisa merasa memilikimu. Aku lupa jika semesta lebih punya kendali, aku lupa jika Tuhan sangat mampu berencana dengan semesta untuk makhluk di kolong langitNya. Semua terbalik, hampa tak ada sisa bahagia. Melihatmu lagi kini kurasa seperti mencabik luka yang belum sepenuhnya sembuh sempurna, metamorfosamu itu sungguh tak punya aturan untuk berlomba-lomba berkeliaran terekam retina mataku, Tuan! Ini lebih dari sekedar sakit, menerima bahagiamu, melihat senyum manismu di duniamu tanpa menyertakan aku.

Kau tau, mata adalah asisten kedua manusia selain hati untuk menjalankan tugasnya; jujur dan terbuka. Namun kini, aku tak berani menatap matamu terlalu lama. Aku tau tangisku ada disana, maka izinkan aku untuk menunduk menyembunyikan luka. Aku tak tau, siapa yang harus kupercaya. Emosiku yang berlomba-lomba ingin didengarkan atau tatapan matamu. Entah mengapa, kurasa retina matamu gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Ada rasa tak percaya atas apa yang ada pada kedua bola matamu itu. Bola mata yang sempat kucinta tatapannya, yang selalu aku percaya ketika kata-kata manismu mengekor dibelakangnya. Entah mengapa, retinamu kini seolah tak tega melihatku terajam sedemikian kerasnya, seolah ia ingin menutup apa yang sebenarnya terjadi agar aku tak jatuh lebih parah lagi. Inikah karena hatiku tertutup oleh luka hingga aku tak mampu berpikir jernih seperti sedia kala, atau memang tak ada kejujuran disana—pada kedua retina hitammu? Kau harus mengerti bahwa mempercayai kenyataan itu sakit, tuan. Memahami keadaan dan keputusan semesta itu tak semudah engkau menjalankan kaki pada hati yang baru.

Jika kau bahagia dengan apa yang kau pilih, kenapa kau masih ada disini? Kenapa kabarmu masih kau biarkan masuk pada duniaku? Kenapa kau biarkan aku untuk ikut mengetahui apa yang harusnya tak kuketahui? Inikah caramu mencintai seorang yang mencitaimu? Membuatku mati hingga aku punah—tersesat tanpa arah, hingga aku hancur, lebur mengecil menjadi debu?


Ya, mau tak mau harus kuakui..

Kau menang, kita kalah…

Lebih Dari Patah Hati

Ternyata, ada yang lebih menyakitkan dari sebuah patah hati, lebih menguras perasaan, menghilangkan selera makan seharian, dan lebih kejam merampas harapan-harapan. Ialah pengabaian.

Patah hati hanya akan menguatkanmu, membuatmu bisa menghargai cinta yang kamu percaya begitu sejati nantinya. Bersyukurlah untuk kepatahan hati.

Sebab, ketika ada seseorang yang siap mendengar jawaban, menunggu hatinya untuk dipatahkan. Waktu justru lebih memilih membiarkannya tergantung dalam setiap pertanyaan-pertanyaan yang bergeliat di batinnya, dalam penantiannya yang begitu setia. Kukuh cintanya yang membuatnya begitu setia menanti. Cintanya begitu kuat, sayangnya ia terabaikan.

Ini urusan hati, tidak pernah bisa disalahkan, termasuk patah hati.

Siapapun di luar sana yang baru saja merasakan patah hati. Percayalah, semakin hatimu patah berkeping-keping, akan semakin besar kemampuanmu memuliakan cinta yang sedang disiapkan Allah.

Namun, jika nanti cintamu terabaikan, maka lepaskanlah. Ia bukan cintamu. Sebab, cinta akan selalu jadi jawaban, tak pernah salah memilih, lahir dari nurani, dan akan selalu menuntun pada cintamu yang sejati.

Terlepas dari siapa yang membuatmu setia menunggu, cinta tidak akan memintamu untuk bertahan.

Sebab barangkali, cinta telah memberikan jawabannya melalui pengabaian.

Maka, beruntung sekali mereka yang belum pernah merasa diabaikan.

Bogor, 25 September 2016 | Seto Wibowo

Aku tidak pernah memaksamu untuk tinggal. Kamu yang memilih untuk membersamaiku. Terasa lucu kalau sekarang kamu berteriak kepada dunia seolah akulah yang merampas warna-warni semestamu.
Takjil #10 : Kisah AQJ

Bersama beberapa kawan satu organisasi, kami menjalankan ibadah shalat tarawih di dekat kampus. Tepatnya di Masjid RSJ. Kebetulan kampus kami dekat dengan Rumah Sakit Jiwa.

Seorang penceramah berkisah tentang sosok Abdul Qadir Jaelani. Dimana kala itu, ia masih belia. Abdul Qadir Jaelani ikut serta dalam rombongan ke Baghdad.

Sebelum berangkat, sang ibu menyelipkan uang beberapa dirham (cukup banyak untuk waktu itu) di bawah ketiak bajunya, serta menjahitnya. Sang ibu berpesan sederhana, “Berkatalah dan ungkapkan yang benar kepada siapapun. Jujur.”

Kemudian Ia berangkat bersama rombongan. Ditengah perjalanan, rombongan dihadang oleh sekelompok perampok. Yang kemudian merampas semua barang rombongan. Satu per satu disweeping.

Tiba giliran Abdul Qadir Jaelani. Ia ditanya, “Apa yang kamu bawa anak kecil?”
“Uang beberapa dirham yang dijahitkan oleh ibuku di bawah ketiak.” jawabnya.
Sang perampok tidak percaya kemudian meninggalkannya.

Singkat cerita rombongan kembali berjalan. Namun, sekelompok perampok tadi kembali dan menuju Abdul Qadir Jaelani. Mereka kemudian menggeledah apa yang Abdul Qadir Jaelani sampaikan tadi.

Lalu bertanya, “Kenapa kamu berkata bahwa kamu membawa uang sedangkan rombongan lain saja menyembunyikannya dengan hati-hati?”

“Aku dipesankan oleh ibuku demikian. Untuk kemudian berkata benar dan jujur kepada siapapun.”

Seketika perampok menangis dan mengembalikan segala macam barang yang dirampoknya.

Kemudian, Sang Penceramah menutup ceramahnya. Lalu melanjutkan shalat tarawih.

Sekitar pukul 19.45 shalat tarawih usai. Jamaah bubar dan kembali ke rutinitas masing-masing.

Menjawab Pertanyaan Sendiri

Menurut teori Maslow, jenjang kebutuhan manusia itu dimulai dari fisiologi, rasa aman, sosial, pengakuan, dan aktualisasi diri. Menurutnya terpenuhi dulu jenjang terbawah, yaitu kebutuhan fisiologi, maka untuk memenuhi kebutuhan berikutnya akan lebih mudah, hingga pencapaian terakhir yaitu aktualisasi diri.

Saya setuju.

Tapi saya sempat bertanya-tanya;

  • Lalu kebahagiaan akan saya dapatkan ketika saya berhasil memenuhi jenjang kebutuhan yang mana? Karena yang saya lihat di luar sana, ada yang terpenuhi  kebutuhan fisiknya, sudah bisa mengecap bahagia. Namun, di lain sisi ada yang sudah mendapatkan pengakuan dari sekitar, contoh pejabat, baginya masih saja ada yang kurang padahal segalanya sudah ia miliki, tidak dengan kebahagiaan. 

Kebingungan saya berikutnya;

  • Kata kebanyakan orang untuk berbahagia itu sungguh sangat sederhana. Apa benar? Bagaimana dengan mereka yang menghabiskan uang sekian juta, sedangkan sebelumnya bekerja keras sampai lembur berbulan-bulan hanya untuk ke luar negeri agar terpenuhi keinginan hingga mendapatkan kebahagiaan?  Bagaimana dengan mereka yang rela memendam rasa bertahun-tahun, menunggu seseorang kembali hingga tuntas satu windu, atau mereka yang rela tersakiti setiap hari asal tetap berada di sisi orang yang mereka cintai, hanya untuk menanti dan mempertahankan kebahagiaan yang akan dan sudah ia miliki? Bukankah usahanya tidak lagi bisa dikatakan sederhana?


Beberapa lama saya endapkan pertanyaan-pertanyaan acak saya yang sedikit mengusik itu tadi, saya berdiskusi dengan saya lain yang ada di dalam diri saya. Sampai suatu ketika, saya mendapatkan suatu kesimpulan yang saya tarik sendiri;


  • Kebahagiaan itu bisa kita dapatkan kapan saja, di posisi apa saja. Bisa setelah terpenuhi semua jenjang kebutuhan, di saat kita berusaha memenuhi semuanya, bahkan belum terpenuhi apa-apa. Bagaimana bisa? Bersyukur. Sebab berbahagia dan bersyukur  itu membentuk satu rute berulang; bahagia karena bersyukur, dan bersyukur karena bahagia. Tak terpisahkan. Dan jika kini, terlepas dari kebutuhan apa saja yang sudah berhasil kita capai, masih saja belum bahagia, karena mungkin kita luput mensyukuri apa yang sudah dimiliki.


  • Sebenarnya, menurut saya bahagia itu tidak pernah sederhana. Mereka yang beranggapan begitu hanya tidak sadar saja, bahwa bahagia sudah berhasil mereka sederhanakan dari yang awalnya begitu rumit. Baik dengan syukur atau penerimaan.


Yaaa, kurang lebih begitulah bahagia menurut saya. Sekarang saya tahu kalau saya merasa saya kok tidak bahagia, berarti karena saya kurang bersyukur dan menerima keadaan.

Akhir kata, selamat berbahagia kita semua! Raup lebih banyak hari ke hari, jangan mencuri terlebih merampas kebahagiaan orang lain. Ciptakan sendiri, karena kita selalu memiliki tenaga untuk membahagiakan diri sendiri.

Dari Kejauhan

Aku pernah melihatmu dari kejauhan, begitu bercahaya dan meneduhkan, mengagumkan. Apa yang terpikir dalam nalar adalah tentang kemampuan juga ketidakmampuan milikku untuk mendatangimu, agar aku tidak perlu melihatmu dari kejauhan. Aku berhasil, segala yang kupikirkan tentang ketidakmampuan terenyahkan, aku bisa melihatmu dari dekat.
Lalu yang terjadi, tidak bisa terprediksi seperti yang biasa kulakukan. Aku terlalu tenang malah kesenangan bisa melihatmu dari dekat, tidak berpikir sampai ke tahap: kamu bisa menjauh lagi, sampai akhirnya itu terjadi. Begitu saja, tanpa peringatan seperti yang terdengar sebelum bencana menghampiri, ini tidak.
Selanjutnya hampir aku tidak merasa apapun, ya, hampir. Kemudian sangat adalah ketika aku melihatmu lagi dari kejauhan, aku merasa segalanya, sangat. Begitu melesak ke dalam ulu hati, sampai sesak padahal aku sedang merampas oksigen dari manusia di sekitarku. Mungkin mudah saja caramu untuk membunuhku, hadir saja di hadapanku, dari kejauhan, tidak usah berkata apapun, kamu bisa membuat seseorang kehabisan nafas. Begitu hebat.
Aku tidak peduli, itu yang ingin aku lakukan, itu yang sedang aku coba lakukan. Berjalanlah di depanku, menarilah di depanku, aku mencoba untuk tidak peduli. Meskipun menggapai dan merengkuh adalah aksi yang ingin kulakukan, tetap saja, keinginan yang lebih besar adalah mencoba untuk tidak peduli.
Tetap, tetaplah seperti itu, berlakulah seperti itu. Jangan sampai, sesak yang kurasakan, mengganggumu.

Kamu begitu gemar memelihara suatu yang kusebut duka.
Padahal sudah kubilang, hidupmu terlalu berharga untuk sekedar merawat sang duka.

Namun tetap saja.
Kamu tetap bersikeras mempertahankan.
Mana pernah kamu perdulikan aku yang selalu memperdulikanmu?

Tapi tak apa. Aku maklum. Aku terima.

Aku akan tetap menjadi pendengar setiamu tanpa bosan.
Meski kamu juga tanpa bosan menceritakan lagi dan lagi perihal dukamu itu.

Tapi, sayang.
Dunia ini sangat adil.
Akan datang waktu aku harus merampas dukamu.
Lalu mengubahnya menjadi suka.
Ya, aku.
Aku yang melakukannya.

—  Waraslah~
hah...

Berlenterakan sunyi membiru.. hening merampas detik penuh tanya.. Ingin berceloteh ria bersama sosokmu, Menangis sembari berteduh dari reruntuhan air hujan.. Mengadu malu-malu pada semilir angin yang mulai ribut.. Buatkan aku susu coklat kesukaanmu, Dan kembali menghangatkan lantai kotak-kotak yang semakin dingin.. Krik, Dengar aku.. Aku sedang sedih. Dan aku ingin hanya kau yang tau kenapa…

Sajak Melankolia

/1/

Malam itu ingin kuhentikan waktu: Aku tak akan menahan jatuh gerimis, kau tahu aku tak mampu. Kubiarkan hujan membasahi melankolia bisu di akhir musim penantian - yang memenjarakan pertemuan, membelokkan sunyi; pada pagutan rindu, juga debar dada - menuju dunia tanpa bahasa; pelukan kita, di sela-sela resah yang menari bersama waktu.


/2/

Malam itu gerimis pecah dari sepuisi rindu yang memar. Lengkingmu, gemetar yang beku. Risaumu, musim yang tak denyar. Lengang yang terlalu jauh untuk direngkuh; ruang paling terang. Pandanganku begitu luput. Wajahmu begitu kabut. Seperti itulah aku kalut, dalam bejana yang menghimpun rahasia; tentang kita dan cinta. Sepiku bertaut haru, terpelanting di hadapan waktu. Mungkin pertemuan; hanyalah pedih yang kita didih.


/3/

Tiba-tiba, tanpa aba-aba, bisik suaramu bertamu di telingaku. Sambil tergelak, mataku merampas wajah itu. Isak dan teriak, fasih memukul dinding kamar, menyelusup ke pori-pori udara; menciptakan kamu. Mataku, menyisakan bayanganmu. Ia tak lagi ada di kepala, tubuhmu terhempas di depanku; memelukku, namun tertahan di bingkai kaca; menghabisi waras yang kusisakan sedikit di awal sajak ini. Di luar jendela kamar, kulihat seeokor burung hantu berbicara kepada ranting pohon jambu.


/4/

Ada yang telah dicuri bulan, ranting-ranting kenangan dalam bingkaimu, pilu yang berulangkali memanggil aku. Di sebelah redup yang menyapukan harum rindu. “Apakah ada yang lebih nanar dari mata yang terus bermimpi?” Aku ingin sekujur terang datang sebelum pagi. Sebab angan bertambah bebal, menghimpun rasa yang kian nganga mengurai lara kita; yang terserak, yang berjarak. Sementara di ambang sajakmu, aku berdiri. Mengamati larik-larik sapa yang menyulurkan cahaya. Aku ada, akan dan selalu semi di antara kata. “Bisa kau rasa?”

narasibulanmerah & rintikkecil

Mei – Juli, 2015

tentang tantangan

Alkisah, seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit.

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya.

Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.

Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif.

Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

 Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan.

Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan.

Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

Prof. Rhenald Kasali

Sumber : grup FIM Club Pendidikan Parenting

Aku Tak Bisa Menjadi Kamu, Bisakah Kamu Gantikan Aku?
— 

Beri tahu aku, bagaimana caranya untuk bisa sekuat kamu. Biar aku bisa memeluk sedihmu, lalu membuatmu sedih tanpa lembut sejuk pelukanku.

Beri tahu aku, bagaimana caranya untuk bisa setangguh kamu. Biar aku bisa menggenggam seluruhmu, lalu lenyap segenap kamu tanpa genggamanku.

Beri tahu aku, bagaimana caranya untuk bisa sehebat kamu. Biar aku bisa memberi detak pada jantungmu, lalu merampas nyawamu untuk hidupku.

Beri tahu aku, bagaimana caranya untuk bisa setega kamu. Biar aku bisa bahagia dengan menanam luka di kamu, lalu mengubur sisa bahagiamu di gelakku.

Kalah

Mentari telah ranum, ketika peluh masih mengulum bait-bait kata yang masih takut bercantum.

Di wajahku senyum berkelukur, lantaran penghuni kepala semakin tak akur–mendebatkan rasa yang taazur.

Aku mencintaimu, seperti burung kenari yang mencintai pagi–kicaunya merayakan kepergian malam.

Tapi hanya saja, caraku mencintai yang sedikit berbeda; Tanpa kicauan. Tanpa ungkapan. Tanpa perayaan. Hanya diam, bersembunyi di balik dinding umpatan.

Terlebih, ketika bahumu dirangkul lengan yang menjanjikan kenyamanan, yang kubisa hanya menghujat diri, dan menelan kebodohan yang kusajikan, di waktu penyesalan.

Hingga selalu saja lahir, satu demi satu kata yang kubenci. Sampai saat ini, aku telah kehabisan kata dan dibuat bisu oleh rasa.

Meski raga tak habis upaya, namun durma berelegi di telinga–merampas keperawanan cara-caraku yang selalu sederhana.

Aku kalah.

PEREMPUAN…

Jangan menjadi perempuan yg sengaja melukai hati perempuan lain.
Jangan menjadi perempuan yang merampas kebahagiaan perempuan lain.

Keadilan ALLAH jangan dicuba-cuba…