merah bata

Jatuh Cinta Sendirian

Ada suara bising yang menyeruak dari dalam dada, serupa gemuruh yang sedari tadi mengiring kelabu cakrawala. Sepasang bola mata dari raga yang sama mulai meneteskan gerimis, membasahi sajak-sajak tanpa tuan yang tergores di lembar usang dengan ornamen gambar hati pada sudutnya. Dari baris aksara yang tertera, ada sebuah kata yang diperlakukan berbeda. Cinta; makhluk bernyawa yang menjadi bagian dari himpunan bernamakan rasa. Yang apabila jatuh maka akan ada sebagian yang ikut lumpuh, yaitu logika.

Cinta kini sedang memeluk mesra sebuah jiwa, yang terdiam mematung ditemani aroma arabika dari sebuah cangkir melamin berwarna merah bata. Lidah yang kelu mengeluarkan sebuah mantra lirih, membahasakan bahwa ada sebuah nama yang diam-diam dirapalkan. Seolah merayu, bahkan meratap pada Sang Maha agar segala harap dapat terijabah. Agar semesta mau berbaik hati menggerakkan nurani seseorang lain di ujung sana untuk meretas tali rindu yang kian meranggas.

Nihil; kata inilah yang mungkin mampu mewakili daerah hasil pemetaan dari grafik garis-garis asa. Mendefinisikan bahwa cinta antara dua anak manusia kali ini memiliki aksioma hubungan implikasi. Di mana cinta hanya bergerak menuju satu arah, tidak berlaku sebaliknya. Dari kejauhan tersaji kenyataan yang menghantam, bahwa seseorang di seberang sana telah jauh melangkah bahagia dengan sosok pilihan. Sementara pemilik jiwa di sini, sedang dibanjiri bulir hujan yang menyapu muara isak kala senja, menikmati betapa sesaknya jatuh cinta sendirian.

Imaji, 1 Mei 2017

Tulisan : Everything Shall Pass

Aku sedang mengamati rumah yang masih berbentuk tumpukan batu bata merah dan adonan semen itu. Rumah yang sedianya memiliki ruang tamu kecil ini akan aku jadikan lebih filosofis. Beberapa hari yang lalu aku sedang mempersiapkan sebuah typografi dalam bahasa arab dan bahasa inggris sebagai terjemahannya.

Di salah satu dinding akan ku buat grafitynya, bertuliskan “Everything shall pass” dengan bahasa arab diatasnya dan tulisan kecil dalam bahasa Inggris. Kelak kalimat itu akan menjadi kalimat paling baik menurutku untuk menjadi pengingat setiap kali aku membuka pintu rumah.

Bahwa di luar rumah sana ada kebahagiaan dan juga ada kekecewaan. Aku berharap ketika pulang ke rumah dan membacanya, berdiri di depannya, membacanya dengan lebih tenang. Aku akan percaya bahwa semua itu pasti akan berlalu. Agar aku menjadi seorang yang bila bahagia tidak terlalu berlebihan, karena semua itu pasti berlalu. Pun bila sedih, tidak berlebihan karena semua itu akan berlalu juga.

Bila kelak rumah ini tidak lagi dihuni sendiri, tentu saja dengan istri dan anak-anak. Bila kami sedang bertengkar, tidak berlama-lama karena semua itu pasti berlalu. Karena ada kehidupan berikutnya yang harus segera disiapkan, tidak berlama-lama dalam kondisi terpuruk. Segala sesuatu akan terlewati. Siap-tidak siap. Segala sesuatu yang sedang terjadi dalam hidup ini akan berlalu. Tidak ada yang benar-benar abadi kecuali amalan-amalan baik.

Harta yang ku kumpulkan banyak-banyak ini pun akan berlalu begitu saja bila tidak aku amalkan dengan baik. Bila nanti aku dan keluarga memiliki limpahan kebahagiaan, kami tidak terlalu berlebihan mengungkapkannya dihadapan orang banyak agar tidak menyakiti hati mereka yang mungkin tidak seberuntung keluarga kami.

Everything shall pass. Bahkan orang-orang yang paling ku cintai pun pada akhirnya akan pergi. Tidak bisa benar-benar mengabadikannya dalam hidup ini. Aku harus selalu siap pada kehilangan, selalu siap pada segala sesuatu yang menjadi titipan ini diambil lagi oleh pemiliknya.

Konsep gambar itu aku bentang di depan rumah yang belum jadi ini. Kelak rumah ini akan memberi banyak arti bagi siapapun yang tinggal dan berkunjung di dalamnya. Rumah ini akan menjadi tempat ilmu pengetahuan singgah dan tinggal. Rumah ini akan menjadi pintu rejeki untuk banyak orang, tidak hanya keluargaku. Rumah ini akan menjadi tempat berteduh para malaikat.

Aku tidak pernah membayangkan lagi rumah seperti apa yang akan ku bangun, ternyata membangun isi rumah jauh lebih penting daripada membangun rumah secara fisik. Rumah yang berisi buku-buku, lantunan kitab suci al-Quran, shalat berjamaah, dan diskusi-diskusi ilmu. Aku akan membangun isi rumah ini dengan perencanaan yang lebih baik mulai hari ini.

Aku menggulung konsep grafity itu dan memasukkannya lagi ke dalam tas. Aku berbalik, menatap langit, dan melangkah pasti untuk kembali mencarimu.

Rumah, 27 Maret 2015 | ©kurniawangunadi