mentengpulo

Tabur Bunga Izinkan Restu

Kemarin jelas jadi bagian yang bisa dibilang adalah sesuatu yang jarang aku lakukan bersama lawan jenis. Menuju destinasi makam alm.Papaku. Baru ada seorang gadis waktu itu bernama Dewi, dan hubungan kami adalah yang terlama dalam sejarahku merajut asa bersama seorang gadis.

Enam tahun telah berlalu, sekarang seorang wanita lah yang mendampingiku kesana. Saling mengingatkan untuk perencanaan kesana akhirnya siang kemarin kami bertemu di Matraman. Menenteng sebuah helm, sandal tertinggal miliknya, dan juga jaket yang terisi sarung tangan akhirnya kami bergegas setelah dia sampai di parkiran sevel Matraman.

Perjalanan kali ini sangat sejuk, Jakarta juga sedang berlibur walau tak pernah tertidur. Seiring perjalanan itu, kami memang sangat kaku dalam perjalanan. Perlahan dia memasukan tangannya ke dalam jaket yang ku kenakan untuk bisa berpegangan menjagaku. Maklum saja diriku masih belum bisa menaiki kendaraan secara pribadi sebenarnya, tetap saja seorang yang bandel untuk itu.

Akhirnya kami tiba di Menteng Pulo,

Memarkir kendaraan, lalu membeli air mawar dan bunga untuk hiasi tanah peristirahatan si Papa. Sambil mencari makam Papa, aku berjalan bersamanya dengan melihat-lihat nisan-nisan yang terhampar serta sekompi pasukan untuk pembersih makam pun mengikuti kami sambil bertanya “Siapa mas namanya? Sini kita bantuin cari” lalu aku cuma tersenyum menanggapinya. Dirinya lalu bilang “Bis minta cariin aja” aku cuma menoleh berucap “Ya kali gue sampe lupa makam Papa gue sendiri, malu banget”. Agak terlewat beberapa meter, akhirnya aku temukan nisan Papa yang bertumpuk dengan 4 saudaranya.

“ABU HASAN  BIN HAMDANI
LAHIR   : 26-3-1958
WAFAT : 31-1-2007″

Terduduk di samping nisannya, aku pun mulai mencabuti rumput liar yang tertanam dengan sendirinya di makam Papa, kemudian dirinya juga ikut membantu mencabuti rumput di makam Papaku. Sekompi pasukan pembersih juga ikut mencabuti lalu dengan beberapa Rupiah pun jadi penghargaan untuk sumbangsih ikut membantu bersihkan tempat peristirahatan Papa.

“Ogut dateng lagi nih Pah, sekarang ogut dateng bawa seseorang. Ogut dan dia belom pacaran sih, masih dalam tahap pendekatan. Yah…entah entar jadi atau engga? Yang penting ogut ingin minta izin restu Papa disini. Wira dan Mama dirumah bae’ kok Pah dan sekarang si Wira lagi jalanin hobi yang sama kayak Papa yaitu naek gunung, kalo ogut sendiri mah gak di izinin sama Mama karena sakit hahahaha. Mungkin nanti bareng dia ogut bisa naek gunung kali.”

 Sambil menatap ke dirinya yang kaku serta melihat makam Papaku. 

“Oh iya pah ogut masih bertahan kerja di online shop, ngga seperti pekerjaan sebelumnya yang 4 bulan berenti, 3 bulan berenti, banyak cerita yang ogut alamin emang di 2014 ke 2015. Dan nanti tanggal 14 ini ogut kemari lagi kok sama Mama, Wira, Kakak, sama cucu Papa juga tuh si Bintang dan Langit. Walau Papa belom sempet ngegendong mereka, tapi seenggaknya besok bisa liat mereka lari-larian. Hahahaha”

Kemudian aku mengambil air mawar lalu membuka kemasannya. Dan mulai menyirami dari ujung kepala batu nisan hingga ke ujung kaki makam, begitupun dirinya turut membasuhkan air mawar dari kaki menuju ke kepala makam. Kami menaburkan bunga bersama siang itu, entah apa yang ada di benak dirinya. Apakah dia juga meminta izin juga ke almarhum? Entahlah. Hatinya belum menjadi milikku sepenuhnya memang, tapi niatan tulusnya untuk dulu mau menyambangi dan meminta restu dari Papaku sudah aku wujudkan walau sekarang aku yang meminta untuk itu.

Tidak berselang lama, lalu kami pamit dari pemakaman Papa. Berjalan sambil melihat apa yang terjadi kelak setelah ini. Yang pasti masa depan yang akan ingin ku lihat, bukan masa lalu yang terus ingin ku ratap.